Chapter Text
Di antara semua anak di lingkar pertemanan Mas Wuji, aku satu-satunya yang anak bawang. Padahal aku dan Sunyong seumuran. Tapi dia dengan mudahnya menerobos dan menjadi bagiannya.
Dan sebagai anak bawang adalah yang kehadirannya hanya sebagai pelengkap dan figuran—yang tidak pernah dianggap nyata.
Mas Wuji yang berbeda beberapa tahun lebih tua dariku, lebih sering menghabiskan waktu sepulang sekolahnya di luar rumah. Awalnya aku selalu merengek tiap kali ia pergi bermain tanpa mengajakku. Meninggalkanku sendirian di rumah. Menunggu ia dan bunda pulang mengajar.
Di saat keras kepalaku muncul, aku akan diam-diam mengikuti Mas Wuji. Mendapati ia, Kak Cheol dan Sunyong asik bermain PS di rumah Kak Han. Mengamati mereka dari balik tiang bendera tak jauh dari sana.
Mas Wuji tahu itu. Karena tatapan kami sempat bertabrakan. Tapi ia hanya melengos dan lanjut bermain dengan teman-temannya.
Berulang kali begitu. Hingga ia memarahiku karena ia bilang itu mengganggunya. Padahal memaksa ikut bermain pun tidak. Karena setelah ia melengos aku selalu pulang dengan sedih. Bertanya ke bunda, kenapa ia memperlakukanku begitu.
Kata bunda, “Jun, si Mas ga bermaksud jahat kok. Dia begitu karena kamu kan masih terlalu kecil..”
Tetap saja. Aku iri pada Sunyong yang bisa dengan mudah bercanda-canda sama Mas Wuji dan teman-temannya.
Di hari-hari yang cukup capek, seperti di satu hari ada jadwal pelajaran olahraga dan ulangan harian matematika, aku akan benar-benar menyerah pada Mas Wuji. Tidak menyapanya seharian. Tidak ada diam-diam mengikuti aktifitas bermainnya.
Karena di hari itu, sepulang sekolah aku akan terduduk di bawah pohon mangga samping rumah. Kesal dan mengerutkan kening memikirkan kenapa nilai ulanganku mendapat tujuh-puluh, padahal sudah kukerjakan dengan benar dan tidak menyontek. Sedangkan Sunyong mendapat delapan-puluh karena menyontek.
“Nyebelinn…..”
“Siapa yang nyebelin, Jun?”
Aku kaget dan hampir melempar batu-batu yang kujejer barusan. Mendapati Kak Cheol cekikikan dengan tangan memegang dua es krim.
Mengingat dia adalah teman Mas Wuji, aku jadi kesal dan tidak menjawab. Pasti dia lagi nyariin Mas Wuji.
“Kalo nyari Mas Wuji, aku gatau. Dia dicolong wewe kali.”
“Weh, jahat banget. Masa masnya sendiri didoain gitu.” Kak Cheol mendudukkan tubuhnya di sampingku.
“Biarin.”
Ia tiba-tiba menempelkan satu bungkus es krimnya ke pipi kiriku. Membuatku cemberut kesal lagi.
“Ini kamu gamau, Jun?” Kak Cheol menarik lagi es krimnya. “Padahal aku dah beliin khusus buat kamu loh.”
Aku langsung menoleh. Memindai ekspresinya dan es krim coklat yang masih ada di hadapanku.
“Buat aku?” tanyaku mencoba meyakinkan.
Anggukan dari Kak Cheol seketika membuat hariku yang tadi menyebalkan berubah menjadi lebih baik. Kuterima es krim itu dengan tanpa ragu.
Kapan ya terakhir kali Mas Wuji ngasih aku es krim? Argh… orang nyebelin, semoga dia keselek semut item gede pas minum es teh tiap abis olahraga.
“Kamu main bareng nggak?”
“Hah? Boleh?”
“Boleh dong. Yuk?”
