Actions

Work Header

Tell Me What is Love

Chapter 2

Notes:

Alurnya di chapter ini super slow dan mungkin boring...tapi semoga bisa dinikmati ya! Happy reading!

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

Menurut live loc yang dikirimkan Jaehee tadi subuh, pemuda itu akan sampai di rumah Yushi kurang dari 15 menit lagi. Lebih cepat dari perkiraan mereka kemarin. Yushi sudah siap. Barang-barangnya sudah ada di ruang tamu. Ia tinggal memakai jaket dan sepatu sebelum berangkat. Papa, Bunda, dan Sakuya juga sudah bangun. Mereka berempat sekarang sedang duduk di ruang tengah menikmati teh hangat sambil menonton kartun. 

 

“Beneran nih nggak mau bawa apa-apa, Kak? Anggur deh buat nyemil di mobil. Browniesnya juga jangan lupa dibawa ya nanti Riku nyariin,” Bunda mengatakan semua itu dengan tangan yang cekatan memasukkan semua barang-barang yang dimaksud ke dalam totebag belanjaan minggu kemarin. Yushi pun heran kapan Bunda pergi ke dapur. Mungkin saat Yushi fokus membalas pesan Jaehee kali ya.

 

“Bilangin Jaehee juga nanti Kak jangan keseringan main HP waktu nyetir. Bahaya tau.” Kalau yang ini jelas Papa, sejak tadi mengomel tidak jelas setelah tahu Jaehee mengirim pesan ke Yushi dalam kondisi mengemudi. 

 

“Iya, Pa. Ini katanya lagi lampu merah kok jadi nggak pas mobilnya jalan,” Yushi sekali lagi menjelaskan kondisi si teman. Gadis itu jadi agak khawatir Jaehee bakal trauma karena mendapat banyak wejangan dari Papa. Tapi dia jauh lebih khawatir lagi kalau tidak bisa bertingkah normal di depan si pemuda. Semalam setelah mematikan lampu kamar, Yushi tetap terjaga hingga pukul 2. Waktu tidur yang sangat singkat itu sekarang membuat si gadis merasa sedikit tidak enak badan. 

 

Seakan mengerti dengan tingkah laku kakaknya tidak berusaha menyembunyikan gelisah, Sakuya yang nemplok di kanan Yushi sambil mengunyah anggur ikut-ikutan bersuara untuk mengalihkan perhatian si sulung. “Saku jangan lupa dibawain oleh-oleh ya. Roti khas sana kan enak-enak semua. Mauuu…”

 

Berhasil. Yushi tertawa gemas. Adiknya ini suka sekali makan roti. Padahal Bunda selalu membuatkan beragam kue dan roti untuk adiknya makan, tapi si bungsu tidak pernah bosan. Gadis itu mencubit pelan pipi gembil adiknya, membuahkan protes yang membuat Yushi semakin gemas. Dipeluknya erat Sakuya sampai di adik menggerutu kesal. Yushi hanya tidak tahu kalau di dalam hati, Sakuya senang karena kakaknya kembali tertawa. Yang berarti moodnya sudah lebih bagus daripada tadi. 

 

Yushi kembali mengecek ponselnya dan ternyata Jaehee sudah berada di perempatan dekat rumah. Tinggal beberapa ratus meter lagi. Dengan suara agak bergetar, Yushi mengumumkan kepada orang tuanya. Mereka sekeluarga bergegas menyambut sang tamu di depan rumah. Yushi sudah bilang Jaehee hanya akan pamitan sebentar setelah itu mereka akan langsung berangkat. Takut kesiangan. 

 

Mobil putih Jaehee muncul di depan gerbang tepat saat Yushi dan keluarga keluar dari pintu utama. Gadis itu tersenyum gugup, hampir berlarian untuk menjemput sang pemuda agar bisa bertemu dengan keluarganya. Rambut hitam panjangnya yang diikat kuda bergoyang pelan seiring dengan gerakan sang empu. Yushi menyapa dengan suara tergagap saat Jaehee sudah turun dari mobil.

 

“Se..selamat pagi, Jaehee. Gimana tadi di jalan?”

 

“Selamat pagi juga, Yushi. Aman kok. Lancar. Lagi agak sepi karena masih pagi. Oh, itu Sakuya?” Jaehee membalas ramah. Senyum manisnya menghiasi wajah. 

 

Yushi mengangguk kecil, mengajak Jaehee untuk menyapa keluarganya. Jaehee dengan senyum sopan nan menawan menyalami Papa, Bunda, dan juga Sakuya yang tampak terpesona dengan tubuh tinggi sang pemuda. Suara Jaehee juga seramah wajahnya, meminta maaf dengan setulus hati karena berkunjung pagi-pagi begini.

 

“Saya Jaehee, Paman, Tante. Teman satu jurusannya Riku dan baru kenal Yushi satu bulan yang lalu. Mohon maaf karena berkunjung pagi buta begini,” Jaehee tersenyum hingga matanya membentuk bulan sabit. Menggemaskan sekali. Yushi merasa bibirnya bergetar saat senyum kecil memaksa terbit di wajahnya. Ia gugup sekali. Sakuya sampai harus menggandeng tangannya diam-diam. 

 

“Salam kenal ya, Jaehee. Tidak masalah lho. Mataharinya sudah muncul begini kok. Kami yang minta maaf karena Yushi harus merepotkan Jaehee,” Bunda membalas dengan keramahan yang sama. 

 

“Waduh, tidak masalah kok Tante. Kebetulan memang satu arah jadi sekalian saja. Saya senang bisa membantu.”

 

Percakapan Jaehee dan orang tuanya berjalan lebih lancar dari yang ia kira. Tentu saja semua ini karena keterampilan luar biasa yang dimiliki sang pemuda dalam berbicara. Perbincangan berjalan mulus sampai waktunya Papa memberikan nasihat-nasihatnya.

 

Kepala keluarga Tokuno itu mengulangi beberapa wejangan yang sudah Yushi sampaikan ke Jaehee via chat. Wajah santai Jaehee segera berubah sedikit kaku, mendengarkan dengan sungguh-sungguh setiap wejangan yang ditujukan agar keduanya selamat hingga tujuan.

 

“Siap, Paman. Saya janji akan berhati-hati, tidak menyalakan radio terlalu keras, tidak membuka ponsel saat mobil sedang melaju,” ucap Jaehee selayaknya prajurit yang membuat laporan kepada komandannya. Yushi meringis dan bersiap memecah suasana yang tiba-tiba mencekam kalau saja Sakuya tidak tertawa. Tawa itu menular hingga Papa menepuk bahu Jaehee pelan seakan mengirim tanda perdamaian. 

 

“Oke, terima kasih banyak ya, Jaehee. Ayo Papa bantu masukin barang Yushi ke bagasi.”

 

Papa sudah mau mengangkat koper kecil milik Yushi saat Jaehee mendahului, “Saya saja gapapa, Paman. Permisi.”

 

Sekali angkut, satu koper, satu ransel, dan dua tas jinjing berhasil masuk ke dalam bagasi. Yushi yang masih memproses segala kejadian di depan mata hanya berkontribusi meletakkan topi pantai dan totebag berisi makanan di kursi tengah. Setelah itu, keduanya berpamitan untuk segera berangkat. Kesempatan itulah yang dipakai Jaehee untuk memberikan oleh-oleh kepada Sakuya.

 

“Dimakan ya, Saku. Ini khas kotanya Kakak.”

 

Sakuya jelas-jelas terpukau dan hanya bisa mengangguk dengan senyum lebar. Sedangkan kedua orang tuanya tersenyum geli. Yushi sendiri melongo tidak percaya. Dapat pencerahan dari mana teman barunya bisa mengambil hati keluarganya semudah itu.

 

“Kami pergi dulu. Mari Paman, Tante, Adik,” Jaehee berpamitan untuk terakhir kali sembari bersalaman. Yushi menyusul kemudian lalu ikut naik ke dalam mobil. Setelah memasang seat belt, kaca mobil diturunkan untuk memberi salam lagi kemudian mobil putih itu melaju menuju tempat tujuan.

 

Begitu mobil yang mereka tumpangi sudah masuk ke jalan raya, Yushi segera menyampaikan hal yang sejak tadi tertahan di lidahnya. “Jaehee, maaf tadi Papa malah ngomelin kamu. Semoga kamu nggak trauma ya.”

 

Jaehee jelas tampak terkejut dengan kalimat yang keluar dari mulut si gadis. Pemuda gemini itu terkekeh sembari menggelengkan kepala tidak setuju. “Santai saja, Yushi. Normal kok. Namanya juga orang tua pasti banyak khawatirnya.”

 

Yushi hanya bisa tertawa kikuk, memilih untuk menyambungkan bluetooth mobil ke ponselnya untuk memutar musik. Kemarin Riku sudah mengundang mereka untuk memasukkan lagu ke dalam playlist khusus ini. Bahkan Riku juga membuat grup untuk mereka berempat. Jadi sekarang Yushi mengirim foto ke grup sebagai laporan bahwa ia dan Jaehee sudah di jalan. Balasan dari Riku diterima lima menit kemudian. Fotonya sih mereka masih mengisi bahan bakar. Hal itu membuat Yushi melirik indikator di balik roda kemudi. 

 

Oh masih penuh. 

 

Mobil itu hening untuk sesaat. Yushi bingung harus menyampaikan keinginannya untuk mampir ke rest area dengan cara apa selain mengisi bahan bakar. Ke toilet? Bukan alasan yang disukai Yushi. Kalau jujur ingin membeli camilan, Yushi merasa tidak enak sendiri, khawatir kalau Jaehee bukan tipe orang yang makan pagi. 

 

Sebetulnya Yushi bisa memakan anggur atau biskuit yang dibawakan Bunda saja untuk makan paginya. Tapi jujur saja Yushi selalu sangat menanti kesempatan mampir di rest area apabila melakukan perjalanan panjang seperti ini. Juga ia ingin makan sesuatu yang hangat dan mungkin kopi untuk meringankan sakit kepala karena kurang tidur tadi malam.

 

“Kamu semalam jadinya tidur jam berapa?” Jaehee memecah hening begitu mereka berhenti di lampu merah. Pihak yang ditanya mengerang pelan seakan baru saja tertangkap basah. Kenapa Jaehee tampak seperti bisa membaca pikirannya? Ia tahu itu tidak mungkin dan Jaehee hanya basa-basi. Tapi Yushi tidak bisa menahan diri untuk mengakui kesalahan.

 

“Jam 2 pagi….” lirihnya kecil takut dimarahi. Sebagai seseorang yang jurusan kuliahnya juga mempelajari advokasi, Yushi merutuki kemampuannya dalam berbicara dan membela diri. Dia selalu takut apapun yang keluar dari mulutnya seperti beberapa detik lalu akan membuat orang lain salah paham atau sakit hati. Dalam hal ini, Yushi khawatir Jaehee menganggapnya tidak sopan karena tadi malam secara tidak langsung menyuruh si pemuda tidur untuk mengakhiri percakapan padahal di akhir dia sendiri yang tidak bisa tidur.

 

“Hah?” suara Jaehee terdengar seperti tidak percaya.

 

“Maaf. Aku gatau kenapa semalam nggak bisa tidur….” lanjut si gadis terburu-buru membuat Jaehee semakin bingung. Tuhkan. Yushi merutuki mulutnya sendiri.

 

“Oh, pantas wajahmu terlihat agak pucat. Kalau mau tidur dulu gapapa loh. Masih dua jam lagi perjalanannya. Nanti kalau sudah sampai aku bangunkan.”

 

Yushi sama sekali tidak menyangka Jaehee akan mengatakan hal itu. Masih ramah dan baik hati seperti pertama kali mereka bertemu. Tapi Yushi dengan hati-hati menolak. Pertama karena keluarganya memiliki kebiasaan untuk selalu menemani siapapun yang sedang mengemudi agar tidak mengantuk. Kedua karena Yushi tahu kebiasaannya yang tidak akan bisa tidur meskipun sangat mengantuk apabila berada di tempat asing bersama orang yang tidak ia percaya. Rasanya selalu was-was. Kecuali jika perjalanannya di atas 6 jam baru ia akan tertidur meski sebentar.

 

“Tidur saja gapapa, Yushi. Aku semalam cukup tidur kok, minum kopi juga tadi sebelum berangkat. Jadi tidak akan mengantuk meskipun melek sendirian,” Jaehee sekali lagi menawarkan membuat Yushi tergiur. Kalaupun tidak bisa terlelap, setidaknya ia bisa mengistirahatkan matanya. Dengan begitu Yushi mengangguk pelan, dihadiahi senyum penuh pengertian Jaehee.

 

“Kalau butuh apa-apa bangunin aja ya Jaehee,” pinta Yushi sebelum ia menurunkan sandaran kursi. Jaehee mengiyakan dengan sabar.

 

Yushi mulai menutup mata dalam keadaan masih memikirkan nasib waktu sarapannya yang akan tiba sekitar satu jam lagi. Ia tahu alarmnya akan berbunyi sebagai pengingat jam makan yang tidak boleh terlambat kalau tidak mau maagnya kumat. Karena merasa tidak ingin merepotkan Jaehee, ia sudah memutuskan menu sarapannya nanti adalah anggur yang dibawakan Bunda.

 

Setelah selesai dengan kecamuk pikirannya sendiri, Yushi merilekskan badan. Rasanya sangat nyaman. Entah karena kursi yang empuk, wewangian lembut dari mobil, cara Jaehee mengemudi yang entah kenapa terasa aman, ataupun memang Yushi sudah sangat mengantuk, gadis itu akhirnya terlelap. 

 

Satu jam kemudian saat alarmnya berbunyi, Yushi segera terbangun sejak dering pertama. Saat membuka mata, mobil mereka sudah terparkir rapi di rest area. Jaehee mengalihkan perhatian dari ponselnya untuk menyapa Yushi yang baru kembali dari lelap. 

 

“Tadi Riku menelpon katanya kamu disuruh sarapan dulu,” adalah kalimat yang keluar dari mulut Jaehee setelah sapaan selamat paginya yang kedua hari ini. Yushi yang masih mengumpulkan nyawa mengerjap bingung. Jaehee tertawa kecil melihatnya. Ia mengambil botol air mineral yang masih tersegel di kursi tengah, membukakan tutupnya, lalu menyerahkan kepada Yushi untuk diminum.

 

“Terima kasih,” ujar Yushi sambil meminta tutup botol yang masih Jaehee pegang. Setelah kesadarannya kembali, ia menatap bingung ke arah luar.

 

“Kamu mau mengisi bahan bakar?”

 

Jaehee jelas terkekeh. Mobilnya kan mobil listrik. Platnya berwarna biru. Kesadaran itu membuat Yushi melongo, lantas menyembunyikan wajah di balik telapak tangan. Malu. Sejak masuk mobil tadi Yushi sudah melihat indikator untuk memeriksa bahan bakar tapi tidak sadar kalau mobil Jaehee menggunakan baterai. Sial. Untung saja dia tidak betulan harus menanyakan kapan mereka akan berbelok ke rest area untuk mengisi bahan bakar. Memang kadang jalan berpikirnya yang terlalu panjang inilah yang menyelamatkan Yushi dari keadaan tidak menyenangkan.

 

Sayangnya otaknya cenderung memilih jalan berpikir yang lebih singkat sehingga pertanyaan tidak masuk akal itu tetap keluar dari mulut Yushi.

 

“Tadi alarm pengingat jam makan ya?” Jaehee bertanya untuk meredakan rasa malu Yushi. Si empu kembali mengotak-atik sesuatu di ponsel. Sepertinya pesan dari Riku di grup yang berisi rombongan liburan mereka.

 

“Iya, supaya maagku tidak kambuh” Yushi menjawab lirih. Ia ikut membuka grup dan menghela napas melihat serentetan pesan yang dikirim Riku. Gadis Juni itu mengingatkan Yushi untuk tidak melewatkan jam makan paginya bahkan menyuruh Jaehee untuk berhenti di rest area terlebih dahulu. Oh. Yushi benar-benar mencintai sahabatnya.

 

Tapi pesan Riku di ruang obrolan pribadi mereka membuat Yushi terdiam.

 

Riku: Uciii, kamu betulan tidur di mobil Jaehee? 

 

Benar. Hampir satu jam ia tertidur. Yushi pun heran. Mungkin dia terlalu lelah sampai kebiasaannya untuk selalu was-was di mobil orang tidak lagi berlaku untuk sekarang. Lamunannya dipecah Jaehee ketika sang pemuda mengetuk jendela mobil sekaligus membukakan pintu untuknya. Hah? Sejak kapan Jaehee turun?

 

“Katanya mau sarapan? Ayo turun kita beli dulu,” ajaknya. Jaehee masih menahan daun pintu, menunggu Yushi turun. Meskipun bingung, si April akhirnya mengambil ponsel lalu bergegas turun dari mobil. Entah refleks atau apa Yushi tidak paham, tapi tangan Jaehee sigap melindungi kepala Yushi agar tidak terbentur atap mobil. Hal yang benar-benar akan terjadi kalau Jaehee tidak meletakkan tangannya di sana karena Yushi masih sedikit linglung.

 

“Bisa jalan, kan?” Jaehee bertanya khawatir, kembali memastikan seakan-akan Yushi adalah anak kecil yang baru belajar melangkah. Yah itu hanya hiperbola pikiran Yushi karena sedikit kesal. Jaehee tidak mungkin betulan berpikir seperti itu. Tapi Yushi juga agak paham alasan kekhawatiran si pemuda karena penampilannya setelah bangun tidur memang seperti mayat berjalan. 

 

“Bisa, Jaehee. Ayo. Kamu mau beli apa?” Yushi berjalan dengan menyeret sepatu, masih merasa lemas setelah bangun tidur. 

 

“Lihat-lihat dulu sih.”

 

Yushi mengangguk, hanya menatap heran sambil melirihkan terima kasih saat Jaehee membukakan pintu dan mempersilakannya untuk masuk terlebih dahulu. Kalau kata Riku basic manner laki-laki. Hanya saja Yushi yang lebih sering berinteraksi dengan kelompok yang didominasi perempuan jarang melihat hal itu di depan mata kepala sendiri.

 

Ah itu mah karena teman-teman cowokmu yang nggak bisa memperlakukan cewek dengan baik, ujar Riku saat Yushi bercerita mengenai teman-temannya. Yushi merasa dia tidak bisa menilai. Mungkin ia dan teman-temannya hanya terlalu mandiri. Maklum, ada 4 orang yang merupakan anak pertama dalam keluarga.

 

Tidak ingin memakan waktu lama untuk memilih menu sarapan, Yushi langsung membeli onigiri yang segera dipanaskan di microwave oleh petugas di balik kasir. Setelahnya Yushi langsung duduk di kursi dan memakan menu sarapannya secara perlahan. Minimal 30 kali kunyahan. Yushi menghitung sampai 40. Saat onigirinya sudah mulai habis, Jaehee menyusul duduk di sebelahnya dengan satu porsi mie instan, satu sosis, dua onigiri, dan satu botol air mineral.

 

“Loh sudah selesai?” Jaehee bertanya heran melihat Yushi sudah tidak membawa apa-apa di tangan. Si pemuda juga tampak agak malu dengan jumlah makanan yang dibawa, lantas mengulurkan satu onigiri ke arah Yushi. Untuk pertama kalinya sejak kedatangan Jaehee di rumahnya tadi pagi, Yushi tertawa lepas. Lucu sekali.

 

“Aku makannya sedikit tapi sering, Jae. Nanti aku lanjut makan atau ngemil lagi di mobil,” jawab Yushi sambil berdiri. Dia mau membeli sesuatu untuk dimakan nanti. 

 

“Silakan di makan, aku mau hunting cemilan dulu,” pamit Yushi membuat Jaehee tertawa.

 

Yushi kembali setelah sekitar 15 menit. Ia kesulitan memutuskan di depan lemari pendingin berisi berbagai macam minuman. Akhirnya ia tidak mengambil minuman karena teringat dengan botol air mineral yang diberikan Jaehee di mobil. Saat Yushi kembali ke kursi, Jaehee sudah hampir selesai dengan acara makannya. 

 

“Maaf ya aku makannya banyak,” ujar Jaehee malu-malu kembali mengundang senyum geli di bibir Yushi.

 

“Ah, bukan apa-apa. Aku biasanya kalau makan siang porsinya juga besar. Nanti kita adu siapa makan paling banyak,” ujar Yushi sombong meskipun dia sendiri tahu kemungkinannya menang lebih kecil. Tapi ternyata selorohnya itu berhasil membuat Jaehee tertawa keras. 

 

“Iya, deh. Percaya yang makan banyak tapi badannya tetap kecil.”

 

Bibir Yushi langsung turun. Cemberut. Ini Jaehee baru menyebutnya kurus, ya?

 

“Eh, bukan gitu maksudnya…” 

 

Yushi melengos. Bukan ngambek. Dia hanya tidak bisa menahan tawa lebih lama karena wajah Jaehee saat merasa bersalah sangat menggemaskan. Matanya bulat dan berbinar seperti anak anjing yang dimarahi.

 

Mereka kembali ke dalam mobil setelah Yushi berhasil mendapatkan segelas kopi. Ia baru ingat tadi kalau ia butuh kafein. Tapi siapa yang tahu kalau minuman panas itu sama sekali tidak tersentuh setelah mobil berjalan? Tidak lain tidak bukan karena Yushi kembali terlelap di kursinya. Jaehee hanya bisa tertawa pelan. 

 

“Seperti bayi. Habis makan langsung tidur lagi.”

 

Mereka akhirnya tiba di villa milik Sion tepat pukul 9 pagi. Mobil hitam teman sekelas Jaehee sewaktu SMA itu sudah terparkir. Tak lama, Riku dan Sion keluar dari dalam seakan memang sedang menunggu kedatangan. Jaehee mematikan mesin lalu membangunkan Yushi. 

 

“Yushi, bangun. Sudah sampai.”

 

Hanya butuh sentuhan lembut di bahu untuk membangunkan si gadis April. Yushi masih mengerjap saat Riku membuka pintu mobil, menarik sahabatnya itu untuk segera turun.

 

“Kamu semalem begadang ya?” tuduh Riku tepat sasaran. Yushi tidak menjawab, hanya mengerang sambil memeluk Riku untuk meletakkan kepalanya di bahu sempit si gadis Juni. Riku tertawa gemas. Tidak jadi mengomel. 

 

“Cepat cuci muka sana. Itu kopimu juga diminum dulu biar nggak ngantuk lagi. Dikit aja tapi kalo kebanyakan nanti asam lambung. Habis itu kita langsung berangkat.”

 

Yushi menurut, hanya mengikuti ke mana Riku menyeretnya. Sedangkan di belakang, Sion dan Jaehee membawakan barang-barang Yushi ke dalam lalu duduk di ruang tamu menunggu Yushi dan Riku siap. 

 

“Ayo berangkat!” Riku berseru heboh diikuti Yushi yang sudah tampak lebih segar. 

 

“Tadi Uci kamu kasih makan apa Je sampe anaknya ngantuk gini?” cecar Riku jelas berniat bercanda. Jaehee mengangkat kedua tangan, gestur bahwa dia tidak bersalah. 

 

“Makan onigiri sebiji doang anaknya. Namanya juga masih ngantuk ya wajar kalau tidur. Ya, kan, Ci?”

 

Yushi tertawa kecil, mengangguk. Riku malah semakin curiga. Benar-benar tidak biasanya Yushi tertidur di perjalanan singkat di mobil orang. Tapi itu bisa dibahas nanti. Ada hewan-hewan lucu yang sedang menunggu mereka untuk berkunjung. 

 

Kali ini mereka menggunakan mobil Sion dengan Riku duduk di kursi penumpang depan. Sementara Yushi dan Jaehee di kursi belakang. Perjalannya singkat. Hanya sekitar 15 menit karena hanya perlu turun dan memutar sedikit. Pun dari villa tadi, wahana-wahana dari lokasi wisata yang akan mereka kunjungi juga sudah terlihat. 

 

“Nanti kita foto bareng ular ya, Ci?” tawar Riku sukses membuat Yushi bergedik ngeri. 

 

“Gamauu. Kamu aja. Aku nggak mau lihat ular.”

 

Riku tentu tahu Yushi geli terhadap hewan yang melata. Tapi kejahilan Riku yang ternyata sebelas dua belas dengan Sion itu nyata adanya. 

 

“Yaudah kalo gitu kamu ditinggal di kandang monyet aja. Kemarin tuh ada tau monyet terkecil di dunia. Kayak kamu kan. Keciiil.”

 

Riku tertawa puas melihat wajah Yushi yang terlihat sangat terganggu dengan seloroh temannya. Malah membuat ketagihan. 

 

“Kalau nggak gitu di kandang panda merah, deh. Hihihi Yushi pandaaaa.”

 

Yushi memilih untuk tidak menanggapi meskipun bisa terlihat jelas bahwa wajahnya memerah malu. Ia mengedarkan pandangan ke luar jendela, pura-pura sibuk melihat pemandangan di luar. Saat mobil sudah terparkir, Riku tiba-tiba menyidak isi tas Yushi. 

 

“Obat sama camilan bawa kan? Air putih?” Yushi meraih tas selempangnya dan mengeluarkan semua benda yang Riku sebut. Gadis berkulit kecoklatan itu mengangguk senang.

 

“Nanti waktu aku beli tiket onigirinya dimakan dulu.”

 

“Iyaaa,” jawab Yushi patuh. Sebagai anak sulung tentu dia senang dimanjakan sahabatnya seperti ini. Maklum, secara umur Riku memang lebih tua beberapa bulan dari Yushi. 

 

Menunggu Riku dan Sion pergi membeli tiket, Yushi dan Jaehee duduk di pelataran depan taman bermain yang dihiasi dengan banyak patung hewan lucu nan besar. Yushi mengunyah makanannya pelan sambil memperhatikan orang-orang yang sekelompok siswa sekolah yang antri untuk berfoto bersama patung gajah yang teramat besar. 

 

“Kamu mau foto di sana, Yushi?” Jaehee menyela heningnya Yushi. 

 

“Mau. Tapi masih antri sekali,” Yushi menjawab muram. Jaehee mengangguk paham, menawarkan akan menjadi tukang foto Yushi nanti setelah antrian lebih sepi. Mungkin sebelum pulang. 

 

“Ayo ke dekat pintu masuk. Riku sudah di sana tapi masih ke toilet sebentar,” Sion datang membawa empat gelang tiket di tangan, membagikannya satu-satu ke semua orang. 

 

“Nanti petugasnya yang masangin ya. Nggak perlu dipasang sendiri. Ayo,” lanjut yang paling tua di antara mereka bertiga, melangkah menuju pintu masuk yang cukup ramai oleh orang berwisata meskipun sekarang masih hari kerja. 

 

“Yushi sudah pernah ke sini sebelumnya?” Sion kembali bertanya selagi mereka duduk di beton bawah pohon untuk menunggu Riku. Yushi menggeleng. 

 

“Aku baru tahu kalau ada hotelnya juga. Enak ya kalau ada pengunjung luar kota habis main seharian terus nginep di sini aja. Jadi lebih mudah nggak perlu bingung transportasinya,” gumam Yushi mengingat kembali mata kuliah pariwisata yang diambil di semester lalu. 

 

“Kamu mau nginep di situ?” seloroh Sion asal sambil tertawa kecil. 

 

“Sendirian? Nggak mauu. Kasihan Riku juga sendirian.”

 

“Hahaha, siapa tau mau. Btw dulu orang tuaku honey moonnya di sini loh. Kayak katamu habis main seharian nginepnya di hotel itu. Dulu sebelum mereka bangun villa tempat kita menginap,” Sion dan segala TMI-nya mengisi percakapan mereka. Yushi terpukau. Jaehee jelas sudah terbiasa.

 

“Oiya? Wow asik banget nggak perlu capek-capek. Orang tua Kak Sion ada yang asli sini?”

 

“Haha, enggak. Tapi mereka pertama kali ketemu di kota ini waktu ada acara kampus gitu. Padahal mereka satu fakultas. Akhirnya setelah menikah mereka pengen nostalgia pertemuan pertama jadinya honey moon di sini,” jelas Sion bersemangat, lengkap dengan matanya yang berbinar bahagia. Yushi tersenyum. Ia bisa merasakan betapa Sion menyayangi orang tuanya.

 

“Manis sekaliii,” Yushi memuji yang entah mengapa membuat pipi dan telinga Sion memerah.

 

“Sifat mereka juga nurun ke Sion tau Ci,” kali ini Jaehee yang menimpali. “Kamu tau kan seromantis apa Sion waktu nembak Riku?”

 

Kali ini Yushi tertawa lebar. Tentu ia ingat sekali dengan segala detail yang diceritakan Riku setelah pulang dari kencan yang kesekian di sela-sela praktikum dan ujian. Meskipun Yushi sendiri berpikir bahwa waktu yang dipilih agak tidak tepat, tapi melihat kebahagiaan Riku dan semangat membara sahabatnya menyelesaikan perkuliahan setelah itu membuat Yushi mengapresiasi segala upaya Sion. Mereka memang pasangan yang serasi sekali. Segala sesuatu yang mereka lakukan benar-benar sejalan dan saling melengkapi.

 

“Ngomongin apa tuh?” Riku sudah kembali, bertanya-tanya apa gerangan yang membuat ketiga teman liburannya ini tertawa. 

 

“Itu lho, Princess, orangtuaku honey moon di sini,” Sion menjelaskan. Wajah Riku langsung berubah lebih ceria dan jahil. Yushi jelas paham sahabatnya akan melakukan apa. Dari pada ia harus melihat adegan dewasa, gadis yang mengenakan cardigan biru itu memilih untuk melipir menuju pintu masuk. Jaehee menyusul di belakang.

 

“”Kenapa?” tanya Jaehee heran saat mereka mengantri untuk masuk. Yushi mengedikkan bahu. Bukannya Yushi tidak suka dengan afeksi yang Riku berikan kepada Sion. Ia hanya merasa adegan itu terlalu dewasa untuknya. Makanya, Yushi tidak bisa mengatakan hal itu kepada Jaehee karena takut diejek.

 

Hewan pertama yang mereka temui setelah melewati pintu masuk tidak lain dan tidak bukan adalah monyet. Beragam jenis monyet. Riku memekik senang, menarik lengan Sion untuk memfoto semua jenis monyet yang ada. Yushi menjaga jarak agak jauh dari pasangan itu agar tidak diejek mirip monyet lagi. Rambutnya sekarang kan sudah tidak pirang kecoklatan. Dan tentu saja, Jaehee setia berjalan di samping Yushi.

 

Ternyata berjalan bersama Jaehee di kebun binatang ini merupakan keputusan yang tepat. Pemuda itu sudah seperti guide tour pribadi Yushi, menjelaskan segala sesuatu baik yang ada di papan informasi atau dari informasi yang ia dapatkan dari tempat lain. Jaehee juga tidak tanggung-tanggung, membuka ponsel untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaan Yushi. 

 

Saat mereka masuk ke segmen satwa air dan masuk ke dalam aquarium raksasa, Jaehee segera menjadi fotografer dadakan Yushi. Tidak henti pemuda itu mengarahkan Yushi untuk bergaya kesana kemarin sampai gadis itu cemberut meminta berhenti. Akhirnya giliran Yushi yang menjadi tukang foto. 

 

Di mana Sion dan Riku? Jelas sudah berada di dunia mereka sendiri. Yushi tidak masalah karena berbagai macam satwa ini benar-benar menarik perhatiannya. Apalagi dengan penjelasan super rinci dari Jaehee, semua menjadi lebih menyenangkan. Setidaknya sampai tiba saatnya mereka masuk ke segmen reptil. Yushi menolak untuk masuk, memilih untuk menunggu di luar selagi tiga temannya melihat berbagai macam ular. 

 

Sambil menunggu, Yushi memakan anggur yang dibawakan Bunda tadi pagi karena alarm jam makannya sudah berbunyi lagi. Setelah Riku dan dua pemuda tadi kembali, Yushi benar-benar bersyukur memilih menunggu di luar saat mendengar apa saja yang mereka lakukan di dalam sana.

 

“Cii lihat ini. Kami bertiga berfoto sama ular!”

 

Yushi menolak untuk melihat, juga menolak untuk dekat-dekat dengan mereka bertiga karena merasa geli dengan kemungkinan bekas ular di badan maupun pakaian. Riku tersenyum jahil, segera merangkul Yushi erat sampai si April mengerang keras. Hampir berteriak meminta tolong.

 

“Riku geliiii! Aku pulang aja deh kalau gini.”

 

“Iya-iya. Maaf Uci. Tadi aku pakai jaketnya My Prince kok waktu foto sama ularnya. Tuh jaketnya ada di dalam tas. Kamu sih nggak mau lihat fotonya.”

 

Yushi merengut manja. Nah. Kalau sudah seperti manja begini berarti sudah waktunya memberi kucing kecil ini makanan. Riku sudah hafal di luar kepala. Maka tujuan mereka selanjutnya adalah kafetaria. Seperti janjinya kepada Jaehee tadi pagi, Yushi betulan mengambil porsi besar. Dalam artian satu porsi ayam goreng, satu porsi bakso, dan sate ayam. Semua hanya untuk berakhir dimakan berdua dengan Riku karena sahabatnya itu khawatir perut Yushi begah dan mereka harus pulang lebih awal.

 

Setelah makan siang, Riku dan Sion melipir entah ke mana. Saat Yushi kembali dari restroom, pasangan kekasih itu sudah tidak ada. Kalau kata Jaehee sih sudah lanjut ke tempat lain karena mereka berdua menghindari wahana permainan karena Sion takut ketinggian. 

 

“Payah,” Yushi berucap pelan yang ternyata didengar oleh Jaehee. Pemuda itu tertawa puas sekali. Yushi menyeringai kecil seakan-akan tadi tidak menghindari ular dan kawan-kawan reptilnya.

 

Memasuki bagian wahana permainan yang penuh dengan suara teriakan orang-orang, Yushi dan Jaehee memilih untuk naik wahana bernama Tsunami. Yushi sebenarnya juga takut, tapi rasa penasarannya lebih tinggi. Jadi ia mengekor Jaehee untuk mengantri.

 

“Santai saja. Nanti nggak usah nahan teriak. Teriak aja sepuasnya. Kalau ditahan perutnya malah nggak enak nanti,” sebagai yang sudah berpengalaman, Jaehee mewanti-wanti. Yushi hanya mengangguk paham. Bersama tiga pengunjung lain, keduanya akhirnya mendapatkan giliran.

 

Yushi memilih duduk di dekat Jaehee. Takut kalau sendirian. Begitu wahana mulai beroperasi, Yushi merasa isi perutnya akan keluar setiap kali wahana itu diputar 360 derajat. Untungnya kepala mereka selalu di atas. Yushi berteriak kencang, tidak bisa menahan suaranya untuk tidak keluar seperti niat awal. Di sampingnya, Jaehee juga melakukan hal yang sama. Sekitar tiga menit kemudian, wahana berhenti dan Yushi merasa badannya lemas sekali. 

 

“Bisa berdiri, Ci?” meskipun terlihat sama lemasnya akibat diputar dan dibanting ke sana kemari, Jaehee masih berusaha memastikan kondisi Yushi. Si April mengangguk namun kesulitan saat berdiri. Melihat itu, Jaehee mengulurkan tangannya untuk membantu.

 

“Mau nyoba yang lain lagi?”

 

Yushi menggeleng. Dia mau duduk dulu. Tiba-tiba Riku dan Sion datang menghampiri tempat duduk keduanya yang berada di dekat wahana bombom car. Usut punya usut, keduanya sudah mengantri lebih dari lima kali sampai harus dihentikan oleh petugas agar bisa memberi kesempatan kepada pengunjung lain. 

 

“Kok bisa sih,” Yushi mengomel tidak percaya. Untung saja dia tidak ikut. Rasanya Yushi akan memecat Riku sebagai sahabatnya kalau Yushi ikut dipermalukan seperti itu. 

 

Tapi Sion dan Riku memang pasangan yang serasi. Hal konyol seperti itu malah membuat keduanya tersenyum bahagia. Yushi mendesah pelan. Terserah mereka saja lah selama tidak merugikan orang lain. Yushi pasti akan ikut berbahagia untuk sahabatnya.

 

“Habis ini ke mana lagi?” Yushi bertanya penasaran. Memang masih banyak sekali hal yang belum mereka nikmati dengan benar. Tapi Yushi sudah merasa capek dan ingin pulang kalau boleh jujur. Sinyal itu ditangkap dengan sangat baik oleh Riku.

 

“Naik perahu habis itu masuk museum terus pulang!”

 

Yushi mengangguk puas, kembali menyuap pisang goreng yang tadi dibelikan Jaehee. Sayangnya potongan terakhir segera masuk ke dalam mulut Riku.

 

“Riku….” Yushi memelas karena bagian terbaiknya diambil sang sahabat. Biasanya Riku tidak seperti itu. Pasti kejahilan yang satu ini diadopsi dari Sion kalau melihat dari tawa puas sang kakak tingkat. 

 

“Mau aku belikan lagi, Ci?” 

 

Dan tentu saja Jaehee akan selalu menjadi seseorang yang baik hati. Yushi segera menggeleng. Lagipula dia tidak akan sanggup kalau harus makan satu porsi pisang goreng lagi.

 

“Yaudah ayok!”

 

Antrian panjang perahu membuat keempat mahasiswa itu langsung pergi ke arah museum hewan. Setidaknya mereka berempat memiliki sedikit kesamaan mengenai kesabaran mengantri. Melihat bangunan museum yang sangat megah dengan pilar pilar besar membuat Yushi penasaran. Ia mengetuk pilar itu untuk mengetahui keasliannya. Suara nyaring yang menandakan adanya rongga udara di dalam membuat Yushi menaikkan alis.

 

“Eh, bukan beton ya ternyata,” celetuk Yushi membuat Jaehee tertarik. 

 

“Iya, Ci. Nggak full beton sebesar itu. Cuma pajangan aja biar ada kesan mewahnya. Lagian bangunan satu lantai gini juga nggak butuh pilar sebesar itu,” jelas Jaehee membuat Yushi manggut-manggut paham. Dia juga sudah menduga tadi. Tak disangka dugaannya tepat sasaran.

 

Sepanjang berada di dalam museum, Jaehee kembali menjadi fotografer dadakan. Kali ini mereka berempat juga menyempatkan diri berfoto bersama di depan monumen museum yang berisi berbagai macam replika hewan dengan ukuran yang sangat besar.

 

“Ini ukuran patung gajahnya sesuai sama ukuran yang asli atau dibuat lebih besar ya?” tanya Yushi entah kepada siapa karena Riku dan Sion sudah melipir entah ke mana. Untungnya Jaehee sejak awal selalu berada di sisi Yushi. Jadilah pemuda itu yang menanggapi.

 

“Kalau dibandingkan dengan gajah asli yang ada di luar tadi sepertinya ini lebih besar.”

 

Meski tidak terlalu menjawab pertanyaannya tadi, Yushi tetap mengangguk puas karena celetukannya betulan direspon oleh Jaehee. Tiba-tiba gadis itu mengingat patung gajah raksasa yang ada di depan. Ia menoleh dengan cepat sampai membuat Jaehee kaget dan khawatir.

 

“Kenapa, Ci? Ada yang sakit? Ada yang ketinggalan?”

 

Oh. Perhatian sekali. Yushi merasa perutnya tergelitik geli. Dengan malu-malu Yushi menggeleng. “Bukan. Tadi katanya mau foto di depan patung gajah jadi, kan?”

 

Sekarang giliran Jaehee yang tertegun meski hanya sepersekian detik. 

 

Menurut Jaehee, Yushi bukan mirip dengan kucing, monyet, ataupun panda merah seperti kata Riku. Menurut Jaehee, Yushi seperti kupu-kupu yang mengepakkan sayap cantiknya dengan malu-malu.

Notes:

Ini terinspirasi dari suatu tempat wisata di Jatim tapi nggak aku sebut namanya biar imajinasi pembaca bisa lebih bebas hehe. Menurut kalian siapa fell first dan fell harder di antara mereka?

Notes:

Wdyt gais? 🥺