Actions

Work Header

𝓓𝓾𝓪 𝓐𝓻𝓴𝓪 𝓢𝓪𝓽𝓾 𝓝𝓪𝓫𝓪𝓼𝓽𝓪𝓵𝓪☀️🌟

Chapter 2: Two Pairs Of Silvers; Part I

Summary:

Dua pasang perak bertemu,
Cerita dibalik hujan,
Ego seorang .- .-. ... .. .--. .- .-. .. ...
Tragedi yang ternyata menjadi berkah bagi sang Surya

Notes:

Warning: OOC, Mention Suicide, Kidnapping, Character Death
Sekali lagi, karakter PANDAVVA, Aya Aulya dan Niskala Naia bukan milik saya. Hanya Ocs yang murni milik saya🙏

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

Arjuna tengah sibuk dengan tumpukan berkas berkas di meja kerjanya ketika Manya, kucingnya datang dan mendusel-duselkan tubuhnya di kaki Arjuna sambil mendengkur manja. Arjuna hanya terkekeh kecil sebelum meletakkan pekerjaannya dan mengangkat Manya ke pangkuannya dan mengelus kucingnya itu.

 

“Manya laper? Kok tumben manja gini, hm?” Arjuna menciumi wajah berbulu Manya yang wangi shampoo kucing ber-aroma strawberry.

 

Manya hanya mengeong manja pada babu nya, menyukai perhatian yang diberikan padanya. Pilihan nya untuk menjadikan manusia ini sebagai babu nya memang tidak salah, apalagi kelakuan si babu nya ini bisa dibilang mirip dengan bangsa nya dan si babu itu juga gampang dibujuk.

 

“Hmm… yaudah, ayo.”

 

Arjuna menggendong Manya menuju dapur. Toh, dia juga udah kepengen sei sapi kesukaannya itu.

Sesampainya di dapur, Arjuna langsung membukakan sekaleng wet food untuk Manya sementara dirinya menghangatkan sei sapi yang diberikan Sadewa tadi malam, tahu aja si bartender soal makanannya itu. Namun, baru saja Ia selesai menghangatkan makanannya, tiba-tiba langit yang awalnya cerah sejak pagi itu berubah seketika menjadi gelap dengan petir yang menggelegar.

 

*JEDERRR!*

 

“GAH BATRE ABC!”

Jantung Arjuna hampir saja melompat keluar ketika petir keras menyambar, Manya yang awalnya menikmati makanannya pun ikut melompat terkejut karena petir yang menyambar keras itu.

 

Arjuna mengernyit melihat cuaca yang mendadak berubah drastis itu. Sepertinya akan hujan deras, mungkin badai. Dia membuka hp-nya dan mengirimkan pesan pada adiknya, menanyakan apakah dirinya membawa payung saat berangkat tadi. Aya hanya membalas dengan emoji jempol, tapi setidaknya Arjuna bisa sedikit tenang melihat balasan adiknya.

 

“Petirnya ganas banget…” Gumamnya sambil memandangi cuaca dan memakan makan siang yang terlalu terlambat itu.

 

“Mas Luce mesti suka nih, badai-badai gini.”

 

Di saat hujan badai begini, memori tentang seniornya yang selalu memandangi langit ketika hujan atau badai tiba dengan petir-petir yang menggelegar, terputar kembali dalam pikirannya. Pemandangan yang biasanya membuat orang-orang ketakutan atau waspada dan khawatir, hanya dipandangi seniornya dengan tenang, seolah-olah petir yang menyambar itu tidak membuatnya takut ataupun terkejut sama sekali.

 

────୨ৎ────

 

“Mas Onyx.”

 

Arjuna memanggil sang arsiparis yang sedang beristirahat dari shift nya itu sambil menuangkan teh yang baru saja dia buat. Dia baru saja kembali dari misinya yang seharusnya baru selesai dua hari lagi. Mungkin keberuntungan sedang berada di pihak nya sehingga misinya kali ini berakhir lebih cepat.

 

“Lho, misinya udah selesai, Jun? Cepet banget.”

 

Onyxis, salah satu senior agen disana, dengan tugas yang paling langka terlihat di markas, yaitu arsiparis. Si senior satu ini bisa dibilang cukup ramah juga, meski awalnya kelihatan pendiam dan kalem banget, tapi kalo udah deket, beliau ini cukup ramah. Apalagi si senior juga termasuk sedikit senior yang masih muda.

 

Beliau juga paling anti sama orang caper ataupun orang yang ga punya sopan santun, makanya banyak yang segan deket sama beliau, makanya orang-orang bilang si Onyxis itu masih bujang. Arjuna pun, kalo bukan karena senior yang ditugaskan khusus untuk melatih dia, dia juga ga bakal sedeket ini sama si arsiparis itu.

 

“Iya mas. Eh, Mas Luce dimana mas?” tanyanya sambil celingukan mencari senior blonde nya itu.

 

“Luce? Tuh, di jendela.”

 

Onyxis menunjuk ke arah kursi kafetaria markas yang dekat dengan jendela yang langsung menunjukkan pemandangan langit yang menggelap, tanda hujan akan segera turun

 

“Ngapain mas? Kok kayak melamun gitu?”

“Biasa. Dia kan suka begitu kalo hujan, apalagi kalo ada petir,” Onyxis hanya mengangkat bahunya dan menaruh segelas teh hangat di depan Arjuna.

 

“Oh…”

 

Arjuna hanya menatap sang senior dengan tatapan penuh rasa penasaran. Senior Lucius, salah satu agen senior yang seumuran dan seangkatan dengan Onyxis, adalah salah satu dari banyak agen muda yang dengan cepat menjadi panutan semua agen begitu dia menjadi agen. Bisa dibilang, achievement nya dan kontribusinya sangat besar, dengan hanya sedikit error dalam misinya, meski si empu difokuskan dalam misi penyamaran dan pengumpulan informasi.

 

Beliau pun termasuk bujang cantik, makanya semua agen muda mengarahkan rasa iri mereka padanya begitu mereka mengetahui pria cantik nan elegan itu ditugaskan khusus untuk melatih Arjuna. Sebenarnya, Arjuna juga terkejut si senior cantik nan dingin itu ditugaskan untuk melatih dia, sampai sekarang pun dia masih belum memahami alasannya.

 

Tapi, Lucius memang sangat perhatian layaknya orang tua atau sesosok kakak bagi Arjuna selama beberapa tahun melatihnya. Dia juga banyak belajar berbagai hal, termasuk tentang seniornya itu, salah satunya adalah kebiasaan Lucius memandangi petir yang menyambar dan menggelegar dengan tatapan yang bisa dibilang tidak wajar.

“Mas.”


Onyxis yang sedang membaca beberapa dokumen, menoleh begitu merasa dipanggil dan menjawab, “Apa Jun?”

“Boleh tanya sesuatu gak?” ucap Arjuna dengan pelan.

 

Onyxis mengerjapkan matanya, sedikit tertegun pada junior nya yang jarang banget nanya sesuatu sama dia kecuali soal misi.

 

“Tergantung sih... Tapi, yaudah deh. Mau nanya apaan emang?”

“Soal Mas Luce.”

Onyxis terdiam sejenak, meletakkan secangkir teh hangat yang dia minum lalu memberikan senyum kecil yang penuh tekanan. Sesekali terlihat menakutkan ke junior, tidak apa-apa kan?


“Nah, kalo soal dia, aku gabisa sembarang ngasih tau lho, ya?” ucap Onyxis dengan nada mengancam, sedikit menguji junior yang diajar oleh figur adiknya itu. Arjuna hanya mendengus kecil mendengar ucapan Onyxis.

 

“Gapapa mas. Toh, informasi soal aku pun, mas juga ga bisa sembarangan ngasih tahu sebagai arsiparis.”

 

Mendengar jawaban Arjuna, Onyxis terkekeh puas dan menyesap teh hangatnya lagi.

“Heh, itu salah satu alasan aku lumayan suka kamu. Ga banyak komplain atau minta aneh-aneh.”

Arjuna ikut terkekeh kecil, paham betul teman dekat Lucius ini memang arsiparis sekaligus penjaga rahasia terbaik yang pernah dirinya temui. Dia juga tahu bahwa Onyxis lebih memilih mati daripada membocorkan sedikitpun informasi secara sembarangan. Kalo kata Lucius, itu ego seorang arsiparis, yang akan selalu dijunjung tinggi melebihi nyawa mereka sendiri.

 

“Lucius ya… Yah, pasti mau tanya soal kebiasaan Luce yang itu,” Onyxis menunjuk ke arah Lucius yang sedang memandangi petir dengan seksama. Arjuna hanya mengangguk kecil. Onyxis hanya memandangi Lucius beberapa saat sebelum membuka suara dengan pelan dan lembut.

 

“Dulu, jauh sebelum kita menjadi secret agent, kita punya teman dekat. Anggaplah namanya Thundy, okay? Alasan kami memanggilnya Thundy karena, nama aslinya punya arti yang berhubungan dengan petir, dan lucunya, dia lah yang membuat kami cukup menyukai petir, dengan menunjukkan kami beberapa video atau foto bagus yang dia dapatkan. Hah~ dia juga suka mengajak kami hujan-hujanan” Onyxis terkekeh kecil mengenang masa lalunya.

 

“Lucius dan Thundy… Meski mereka tidak memiliki hubungan darah, keduanya benar-benar layaknya adik dan kakak, Thundy sedikit lebih tua dari ku, hanya beberapa bulan. Kalo boleh kubilang, keduanya serupa tapi tak sama, saling melengkapi juga. Haha, mereka bahkan benar-benar lebih mesra daripada hubungan Thundy dengan adik kandungnya itu, mereka emang udah soulmate kayaknya.”

 

Arjuna hanya mendengarkan dengan seksama, sesekali melirik Lucius yang masih duduk termenung memandangi petir-petir yang menyambar. Cerita Onyxis kedengaran nya seperti dongeng, tapi apa benar seniornya itu hanya merindukan temannya ketika bekerja sebagai secret agent seperti dirinya merindukan Aya? Apa rasa rindu itu bisa membuat seniornya itu selalu terlihat seperti orang yang tak mampu mencapai harapannya di langit sana?

 

“Sayang sekali takdir sepertinya memang mencintai tragedi, karena Thundy bunuh diri.”

 

Arjuna nyaris mematahkan lehernya karena menoleh ke Onyxis dengan terlalu cepat, sementara si senior sendiri tampak termenung sendiri.

 

“Aku ga bisa kasih detailnya karena aku juga ga sanggup membuka luka lamaku sendiri, tapi yang penting, ada seseorang yang memaksanya,” gumam si empu bermata ungu gelap itu.

 

“Jadi, alasan mas Luce begitu…”

 

“Iya, dia rindu, kangen banget sama Thundy. Yang bisa meredakan rasa rindunya itu ya, petir2 waktu hujan itu.”

 

Onyxis menghela nafas dan meletakkan cangkirnya yang sudah kosong, memandang yang lebih muda yang sedang meluapkan rasa rindunya pada petir-petir yang menyambar, dengan tatapan sendu.

 

“Jujur, Jun, aku merasa gagal. Aku yang lebih tua dari Luce, tapi dia bisa bangkit lebih dulu. Matahari itu bukannya kehilangan sinar, tapi dia membiarkan padamnya api itu menjadi dingin yang hanya membuatnya semakin bersinar, the brightest star in the dark” gumam nya dengan getir.

 

Arjuna tak tahu harus berkata apa, dia tidak pernah bagus dalam kata-kata. Tapi sang senior itu tiba-tiba terkekeh pelan dan menoleh ke Arjuna.

 

“Juna, janji ke mas, ya? Kamu, harus melindungi apa yang kamu sayangi, yang kamu cintai, lebih baik dari kami, oke? Tapi jangan sampai savior complex, kalo kamu yang pergi, mereka gimana?”



⛧°. ⋆༺☾𖤓༻⋆. °⛧

 

Arjuna memandangi hujan deras dari jendela, merasa sedikit memahami senior pendiam nya itu ketika rasa rindu dan bersalahnya sedikit mereda. Sepertinya, hujan memang obat rindu meski hanya sebentar. Dia menahan air mata yang mulai membasahi matanya agar tidak jatuh karena teringat masa lalu.

 

Beberapa tahun sebelum Arjuna berhenti menjadi secret agent, tepat beberapa hari setelah Lucius memberikan permintaannya, dia mendapat tugas yang bisa dibilang tingkat kemungkinan berhasilnya terlalu kecil. Misi yang cukup sepele sebenarnya, mengumpulkan informasi dari perusahaan yang dirumorkan melakukan eksperimen terlarang yang detailnya disembunyikan.

 

Tak lama setelah misi itu dinyatakan selesai meski sang senior tidak terlihat batang hidungnya, Onyxis yang tampak kacau dan matanya masih sembab, datang menemuinya untuk memberi kabar bahwa Lucius gugur dalam misi. Musuh ternyata sudah mengantisipasi kedatangan Lucius meski mereka tak tahu identitasnya sama sekali. Lucius yang terpojok saat itu, memutuskan menghancurkan seluruh perusahaan dengan segala isinya bersama dirinya saat itu juga. Ledakan itu meluluhlantakan seluruh area perusahaan menjadi lautan api dan debu, oleh karena itu, tak ada tubuh untuk diidentifikasi.

 

Beberapa hari setelah Agen Lucius dilabeli ‘Gugur’, Onyxis mengundurkan diri meski banyak atasan yang memprotes keputusannya. Dia memang pamit pada Arjuna sebelum menghilang dari dunia, tapi setelah saat itu pun, dia tak bisa mengabari Onyxis. Yang tersisa dari kedua senior yang selama ini menemaninya hanyalah liontin dengan motif matahari yang diberikan Lucius tak lama setelah dia mulai terbuka dengannya, tersembunyi dibalik turtleneck merahnya.

 

Di dalam liontin itu pula, tersisa satu-satunya fotonya bersama kedua senior nya itu, foto yang diambil oleh Onyxis setelah mereka bertiga menyelesaikan misi untuk menyelinap ke pesta yang diduga merupakan kedok perdagangan manusia. Ketiganya berada di bar, dengan Lucius memegang sebotol Rum, dirinya yang disuguhi mojito tak beralkohol dan Onyxis dengan segelas Sea Breeze dan kamera di tangannya yang lain, mengambil selfie.

 

‘Semoga mas Onyxis baik-baik aja,’ Arjuna menghela nafas dan segera menyelesaikan makannya.

 

Tiba-tiba, handphonenya berdering dengan keras. Alarm dari handphone Aya. Arjuna segera membuka handphone nya dan mencoba menelpon adiknya itu, merasa sangat gelisah dan sedikit panik. Aya akhirnya mengangkat teleponnya.

 

“K- kak Jun. T- tolongin Aya, ada yang ngikutin dari tadi.”

 

Suara Aya bergetar karena ketakutan, Arjuna bisa mendengar bahwa adiknya itu sepertinya sedang berlari ditengah hujan badai ini. Belum sempat dirinya menjawab, call itu terputus duluan.

“Ck!” Arjuna mendecakkan lidahnya dengan frustasi. Dia dengan segera mengambil kunci mobilnya dan mencari lokasi adiknya dari tracker yang dirinya pasang di ponsel Aya. Dia juga menghubungi kawan-kawannya, menyuruh mereka untuk siaga dan berkumpul di basecamp untuk berjaga-jaga.

 

Arjuna segera menyalakan mesin mobilnya dan meluncur ke arah yang ditunjukkan tracker dari ponselnya.

 

‘Tuhan, tolong jaga Aya. Jangan sampai aku kehilangan keluargaku untuk sekian kalinya.’

 

Arjuna menginjak pedal gas, tidak mempedulikan satupun lampu merah yang menyala di beberapa jalan. Baginya, setiap waktu terlalu penting untuk dibuang-buang, sekian detik dia terlambat, adik semata wayang itu bisa saja mengalami hal yang sangat buruk.

 

Lokasi tracker itu berhenti di ujung gang sempit di samping dermaga kargo yang terbengkalai, dekat arah sekolah Aya. Arjuna langsung berlari keluar dari mobilnya, tidak mempedulikan hujan deras yang mengguyur-nya. Dipikirannya hanya ada keadaan adiknya.

 

Begitu dia sampai di titik yang dipancarkan tracker, yang dia temukan hanyalah ponsel Aya yang retak di jalan dan payungnya yang tersangkut di tempat sampah.

“Sial!” Arjuna memukul kargo di sampingnya, melepaskan rasa frustasi karena terlambat.

 

‘Drrrttt... drrrttt…’

 

Ponselnya ia biarkan bergetar untuk beberapa detik sebelum akhirnya mengangkatnya.

“Jun? Gimana? Aya aman?”

 

Suara Nakula menyadarkan mantan secret agent itu dari luapan emosinya, si empu hanya menghela nafas kesal sebelum akhirnya menjawab.

 

“Gue kecolongan.”

 

“...”

 

“Balik ke basecamp dulu, Arjuna. Kita bahas bareng-bareng, kita semua udah kumpul disini.”

 

Kali ini, si bartender pemilik bar Di Antara yang berbicara. Suaranya tegas namun menenangkan untuk pikiran si ladder yang sudah kacau balau.

 

“Iya, balik dulu mas. Ini kan masih badai juga,” bujuk anggota termuda keduanya yang bongsor itu.

 

“Iya, iya. Gue otw dulu. Kalian anteng disitu,” Arjuna mendengus sebelum mematikan ponselnya.

 

Arjuna terdiam termenung sejenak sebelum akhirnya mengambil ponsel adiknya yang tergores layarnya dan payung yang sudah rusak karena angin itu, lalu menuju mobilnya. Ia segera menyalakan mesin mobilnya dan mengendarainya kearah bar Di Antara.


‘Tuhan, tolong jagalah Aya. Mas Luce, kumohon, tolong jaga adikku dari sana,’ Arjuna terus terusan berdoa pada Tuhan, memohon pada arwah Lucius agar menjaga adik semata wayangnya. Tolong jangan ambil satu-satunya keluarga yang tersisa, Tuhan... Cukuplah Ia kehilangan kedua orang tuanya dan seniornya itu, jangan ambil adiknya juga.

 

 

~𝓽𝓸 𝓫𝓮 𝓬𝓸𝓷𝓽𝓲𝓷𝓾𝓮𝓭

Notes:

Yey~ Chapter 1 selesai~ Semoga kalian suka!

Mohon maaf atas kesalahan tulisan ataupun ceritanya, menerima kritik dan saran di kolom komentar🙏

Notes:

Jadiii, tolong maafkan kalo ada kesalahan dalam penulisannya atau alur ceritanya, saya udah lama banget ga nulis 🙏

Ini AU, jadi Headcanonnya saya, karakter Pandavva bukan milik saya, hanya Ocs

Series this work belongs to: