Chapter Text
Sena itu magnet. Di koridor sekolah, namanya selalu terdengar—entah dipanggil guru karena kelewat supel, atau disapa gerombolan siswa lain yang ingin mengajaknya nongkrong. Tapi, semua nyalinya itu mendadak menguap setiap kali ia melewati meja paling pojok di perpustakaan.
Di sana ada Keano. Laki-laki yang selalu bersembunyi di balik buku-buku tebal dan kacamata berbingkai hitam persegi panjang yang modelnya sangat... jadul. Tipikal kacamata yang sering diejek teman-temannya sebagai kacamata wibu atau kacamata cupu.
Tapi bagi Sena, kacamata itu adalah masalah besar bagi kesehatan jantungnya.
Sore itu, perpustakaan sudah sepi. Sena sengaja berlama-lama, pura-pura mencari referensi tugas yang sebenarnya sudah selesai ia kerjakan dua hari lalu. Dari balik rak buku, ia mengintip Keano yang sedang serius mencatat entah apa ia juga tidak tau. Cahaya matahari sore masuk dari celah jendela, memantul di kacamata hitam itu, membuat garis rahang Keano terlihat jauh lebih tajam dari biasanya.
"Duh, kenapa sih dia harus seseksi itu cuma dengan benerin posisi kacamata?" bisik Sena frustrasi pada dirinya sendiri.
Sena menarik napas panjang, mencoba menata detak jantungnya yang mendadak balapan. Dia sudah biasa menghadapi ratusan orang di lapangan basket atau saat nongkrong di kantin, tapi kenapa hanya untuk menyapa laki-laki di depannya ini rasanya lebih berat daripada soal ujian nasional? Dengan langkah yang dibuat-buat santai—padahal lututnya agak lemas—ia mendekat dan menarik kursi kosong di depan Keano.
"Woi, Kean. Belom balik?"
Keano mendongak. Di balik kacamata bingkai hitamnya yang khas, matanya yang tenang menatap Sena datar. Ada jeda beberapa detik sampai akhirnya Keano sedikit mengerutkan dahi, seolah sedang memproses kenapa cowok paling supel satu angkatan ini mendadak duduk di depannya. Keano tentu tahu siapa Sena; siapa yang tidak kenal Sena? Meski bukan tipe anak nakal yang hobi cari masalah, Sena itu punya karisma yang bikin dia selalu jadi pusat perhatian.
"Belum. Masih tanggung, sedikit lagi," jawab Keano singkat, suaranya rendah dan stabil. "Kamu sendiri? Tumben masuk perpus jam segini."
"Anu... ini, lagi mau nyari... referensi sejarah," jawab Sena asal, sambil meletakkan buku biologi yang tadi dia ambil tanpa melihat sampulnya.
Keano melirik buku di tangan Sena, lalu kembali menatap Sena. Ia tidak tertawa atau mengejek, hanya mengulurkan tangan, sedikit menurunkan kacamatanya ke ujung hidung, dan menatap Sena langsung melewati atas lensa.
"Itu buku biologi kelas sebelas, Sen. Sejarah ada di rak sebelah kanan," ucap Keano pelan.
Sena merasa wajahnya langsung panas hebat. Mampus. Benar-benar memalukan. "Eh? Oh, iya! Maksud gue... referensi tambahan buat... ekosistem? Iya, bab ekosistem!"
Keano terdiam sejenak. Keheningan itu terasa sangat lama sampai sebuah senyum tipis—sangat tipis dan hanya muncul di satu sudut bibir—terukir di sana. Ia kembali menaikkan posisi kacamatanya menggunakan jari tengah, sebuah gerakan sederhana yang entah kenapa di mata Sena terlihat sangat seksi dan maskulin secara bersamaan. Sena menelan ludah; Keano yang sedang serius belajar begini benar-benar merusak fokusnya.
"Sena," panggil Keano, kali ini nadanya sedikit lebih lunak.
"Y-ya?"
Keano sedikit menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu tawa kecil lolos dari bibirnya. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa tulus yang membuat matanya yang tajam itu menyipit manis. "Belajar ekosistem di rak sejarah, ya? Baru tahu ada kurikulum baru kayak gitu," godanya pelan.
Dunia Sena rasanya berhenti berputar. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat segalanya dengan jelas; surai hitam Keano yang sedikit berantakan, alis tebal yang membingkai matanya, hidung mancungnya, hingga detail kecil yang selama ini hanya bisa Sena bayangkan dari jauh—tahi lalat manis di pipi kiri dan satu lagi yang tersembunyi di atas alis kanan.
Wajah ganteng itu sedang tertawa, dan Sena merasa otaknya korslet seketika. Pipinya memanas hebat, tapi kali ini bukan karena malu. Laki-laki di depannya ini terlalu... menggugah selera.
Bukannya duduk tenang di seberang meja, Sena justru bangkit. Langkahnya mantap saat ia mengitari meja dan berhenti tepat di samping kursi Keano. Tanpa aba-aba, Sena menunduk. Tangan kanannya bertumpu pada punggung kursi Keano, sementara tangan kirinya menekan permukaan meja, praktis mengurung tubuh Keano di antara lengannya.
Aroma parfum Sena yang segar bercampur bau buku tua langsung menyerbu indra penciuman Keano. Sebelum Keano sempat bertanya, Sena sudah memajukan wajahnya. Bukan dengan tangan, tapi dengan gigi depannya, Sena menjepit bagian tengah bingkai kacamata Keano—tepat di bridge hidungnya—lalu menariknya pelan hingga benda itu terlepas dari wajah sang empunya.
Sena melepaskan jepitan giginya pada kacamata itu, membiarkannya menggantung sejenak di udara sebelum ia berbisik dengan suara serak yang sangat dekat dengan telinga Keano.
“Ambil,” ucap Sena cepat, napasnya memburu mengenai kulit leher Keano.
Keano yang masih syok dengan perilaku impulsif Sena hanya bisa menurut seperti terhipnotis. Ia meraih kacamatanya dari tangan Sena dengan gerakan kaku. Namun, belum sempat Keano memakai kembali kacamatanya atau sekadar mengatur napas, Sena sudah menerjang.
Bibir Sena menghantam bibir Keano dengan kasar. Tidak ada kelembutan, tidak ada teknik—hanya ada keinginan menggebu yang tumpah ruah. Sena melumat bibir itu secara sembarangan, memaksakan tautan yang berantakan namun penuh gairah. Ia mencium Keano seolah-olah dunia akan berakhir besok, membiarkan lidahnya mencoba mencari celah untuk masuk, sementara tangannya yang tadi di punggung kursi kini beralih mencengkeram rahang Keano, memastikan laki-laki itu tidak bisa berpaling sedikit pun dari serangan nekatnya.
Keano mematung, pulpen di tangannya jatuh entah ke mana. Kepalanya mendadak kosong. Harusnya ia mendorong Sena, atau setidaknya bertanya apa-apaan maksud dari serangan tiba-tiba ini. Namun, anehnya, tubuhnya justru terasa lemas dan kehilangan tenaga untuk melawan. Keano merasa tidak masalah—atau mungkin, jauh di dalam lubuk hatinya, ia memang menginginkan hal ini terjadi sejak lama.
Ia bisa merasakan betapa kaku dan anehnya ciuman Sena. Laki-laki yang biasanya terlihat sangat berpengalaman dalam pergaulan itu ternyata payah dalam hal mencium. Sena hanya tahu cara menekan dan melumat secara sembarangan, seperti anak kecil yang sedang berebut permen. Tapi justru kekakuan itulah yang membuat Keano merasa sesuatu di dadanya meledak.
Keano memutuskan untuk berhenti menjadi penonton.
Dengan satu gerakan mantap, ia meletakkan kacamatanya asal di atas meja. Tangannya yang besar kini beralih ke pinggang Sena, menarik tubuh yang sedang mengukungnya itu untuk duduk sepenuhnya di atas pangkuannya.
Sena tersentak, suaranya tertahan di tenggorokan saat ia merasa posisinya berubah drastis. Ia yang tadi merasa dominan, kini justru berakhir duduk manis di pangkuan Keano dengan tangan laki-laki kacamata itu merengkuh pinggangnya sangat erat, seolah tak membiarkan ada celah sedikit pun di antara mereka.
Pangutan kasar itu terlepas saat Keano sedikit menarik kepalanya ke belakang. Sena mengerjapkan mata, napasnya memburu dan wajahnya sudah separuh hangus karena rona merah. Ia baru saja akan memprotes kenapa Keano menghentikannya, namun kalimatnya tertahan saat melihat tatapan Keano yang kini tidak lagi datar, melainkan dalam dan sedikit gelap.
”Kok langsung udah?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Keano. Suaranya rendah, sedikit serak, dan terdengar sangat polos sekaligus menggoda. Ia menatap Sena tepat di mata, sementara ibu jarinya mengusap lembut bibir bawahnya sendiri yang baru saja dihisapi dan dilumat habis-habisan oleh Sena hingga tampak sedikit bengkak.
Sena mendadak kehilangan kata-kata. Keberaniannya yang tadi setinggi gunung mendadak menciut jadi sebutir debu. Melihat bibir Keano yang merah dan basah karena ulahnya sendiri, ditambah posisi mereka yang kini sangat intim, membuat jantung Sena berdebar dua kali lebih kencang dari sebelumnya.
"K-lo... lo nggak marah?" tanya Sena terbata, suaranya hampir hilang.
Keano tidak menjawab dengan kata-kata. Sebelah tangannya yang bebas kini merayap naik, mencengkeram tengkuk Sena pelan, sementara tangan lainnya menarik pinggang Sena makin rapat sampai tidak ada lagi udara yang bisa lewat di antara mereka. Senyum tipis yang tadinya hanya muncul di sudut bibir, kini melebar menjadi seringai yang manis namun terasa sangat berbahaya di mata Sena.
"Oh, harusnya aku marah aja, ya?" bisik Keano, suaranya rendah dan serak, tepat di depan bibir Sena yang masih sedikit terbuka.
Sena hanya bisa mematung, tangannya yang tadi mencengkeram rahang Keano kini perlahan turun, meremas bahu seragam Keano karena kakinya mendadak terasa seperti jeli. Tatapan Keano yang biasanya tersembunyi di balik lensa kacamata itu sekarang menguncinya tanpa ampun.
"Kenapa diam? Tadi kayaknya berani banget," goda Keano lagi. Ia sedikit memiringkan kepala, mendekatkan hidungnya ke hidung Sena sampai mereka bersentuhan. "Coba cium ulang. Tapi yang bener, jangan cuma digigit."
Sena menelan ludah susah payah. Tantangan dari Keano itu seperti bensin yang dilempar ke api. Harga diri "si paling supel" miliknya merasa tertantang, tapi tatapan tajam Keano benar-benar melumpuhkan logikanya.
"Lo... lo nantangin?" balas Sena dengan suara yang bergetar hebat, mencoba mengembalikan sisa-sisa keberaniannya yang sudah tercecer di lantai perpustakaan.
"Bukan nantangin," jawab Keano lembut, jempolnya mengusap sudut bibir Sena yang sedikit basah akibat ulahnya sendiri.
Bukannya menjawab lebih lanjut, Keano justru mulai menghujani wajah Sena dengan kecupan-kecupan singkat. Dimulai dari pipi kanan, lalu pindah ke pipi kiri, dan berakhir di pelipis. Setiap kali bibir Keano menyentuh kulitnya, Sena merasa ada aliran listrik yang bikin sarafnya korslet. Laki-laki yang dicium itu benar-benar sudah tidak waras; wajahnya panas bukan main, jantungnya berdegup sampai ke telinga. Benar-benar salting abis.
"Hah, apasih! Udah ah, minggir!" Sena mencoba berontak, suaranya naik satu oktav karena panik.
Ia frustrasi. Bukan cuma sama kelakuan Keano yang mendadak jadi selembut mentega, tapi lebih ke kelakuannya sendiri. Kesadaran Sena baru pulih sepenuhnya dan ia baru sadar betapa gilanya aksinya tadi—gigit kacamata orang dan nyosor sembarangan. Rasanya ia ingin kabur saja dari sana, lari sejauh mungkin sebelum ia kembali kesurupan gara-gara diciumi Keano. Sekali lagi, diciumi Keano pendiem yang ternyata mematikan.
Sena mencoba bangkit dari pangkuan itu, tapi tenaga Keano bukan tandingan buat kakinya yang sudah lemas.
"Mau ke mana? Aku belum jadi marah, ulangin dulu ciumnya," cegah Keano cepat.
Tangannya bergerak lembut namun pasti, menarik dagu Sena pelan ke bawah, memaksa bibir Sena agar sedikit terbuka. Sebelum Sena sempat melayangkan protes, Keano sudah kembali menutup jarak. Berbeda jauh dari serangan kasar dan berantakan milik Sena tadi, ciuman Keano kali ini jauh lebih teratur.
Keano menyesap bibir Sena dengan ritme yang tenang, sangat nyaman, dan jujur saja—kalau Sena boleh memberikan review di dalam kepalanya—ciuman ini rasanya berkali-kali lipat lebih enak. Keano seolah menuntunnya, memberikan lumatan-lumatan kecil yang penuh perasaan, membuat Sena yang tadinya ingin kabur malah berakhir luluh lagi, tangannya kini meremas bahu seragam Keano untuk mencari tumpuan.
Tautan bibir itu semakin dalam, membawa keduanya ke dalam pusaran emosi yang jauh lebih pekat. Keano tidak lagi hanya menuntun; ia mulai menuntut, menyesap bibir Sena dengan ritme yang membuat pasokan oksigen di paru-paru Sena menipis. Tubuh Sena benar-benar lemas, tenaganya seolah tersedot habis hingga ia harus bersandar sepenuhnya pada dada bidang Keano.
Dalam sela-sela lumatan yang semakin intim itu, sebuah lenguhan kecil lolos begitu saja dari tenggorokan Sena. Suara rendah yang tertahan itu mendadak menjadi alarm bagi Keano. Ia sedikit tersentak, kesadarannya kembali ditarik ke realita bahwa mereka masih berada di perpustakaan sekolah—tempat yang kapan saja bisa dilewati penjaga atau siswa lain yang terlambat pulang.
Perlahan, Keano menyudahi ciuman panas itu, menutupnya dengan serangkaian kecupan kecil yang lembut di bibir Sena yang kini sudah merah merona. Sang pelaku utama, Sena, benar-benar kehilangan muka. Keberaniannya yang tadi meledak-ledak kini menguap tak bersisa, berganti dengan rasa malu yang luar biasa hebat. Tanpa sanggup menatap mata Keano, Sena langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher laki-laki itu, menghirup aroma sabun dan samar bau buku yang menenangkan.
Hening sejenak. Hanya suara detak jantung mereka yang masih balapan yang terdengar di pojokan rak buku itu. Sampai akhirnya, sebuah suara berat memecah keheningan.
“Ini... kita mau pacaran?”
Sena tersentak hebat di pundak Keano. Kepalanya langsung mendongak dengan raut wajah yang benar-benar shock. Matanya membelalak menatap Keano yang kini sedang membetulkan posisi kacamatanya yang sempat miring, tapi wajah laki-laki itu tetap terlihat tenang—meski telinganya masih semerah cabai.
Sena merasa dunianya terbalik. Padahal di sini dia yang naksir duluan sampai hampir gila, dia yang mencuri pandang selama berbulan-bulan, dan dia juga yang tadi dengan tidak tahu malunya nyosor sembarangan sampai menggigit kacamata orang. Harusnya dia yang menanyakan itu, kan? Kenapa malah korban yang menembaknya duluan dengan nada seenteng itu?
"K-kean? Lo... lo serius?" Sena terbata, suaranya masih serak.
Keano menatapnya dalam, tangannya yang masih melingkar di pinggang Sena sedikit meremas pelan seragam laki-laki itu. Tatapannya yang tadi intens perlahan meredup, menyisakan gurat canggung yang jarang sekali ia perlihatkan di sekolah.
"Aku kira kamu mau pacaran," ujar Keano, nadanya mendadak terdengar sedikit lesu. Ia menurunkan pandangannya, menatap dasi Sena yang agak miring akibat pergulatan mereka tadi. "Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba kamu cium aku kayak tadi. Aku pikir—"
"Iya! Udah, iya pacaran!" potong Sena cepat.
Sena tidak tahan lagi melihat wajah Keano yang mendadak lesu begitu. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, memotong spekulasi Keano yang belum selesai. Jantung Sena rasanya mau lompat keluar karena kesenangan, tapi gengsinya sebagai cowok populer langsung buru-buru mengambil alih kendali wajahnya.
"Nggak usah manyun, jir. Sok imut lagi, nggak cocok sama muka lo," ucap Sena lagi, berusaha menutupi rasa senangnya yang sudah meluap-luap dengan omelan sok galak, padahal rona merah di pipinya sama sekali tidak bisa diajak kompromi.
Mendengar jawaban super ngegas dari Sena, Keano mendongak. Sudut bibirnya yang tadi turun kini perlahan terangkat lagi, membentuk senyuman tipis yang kali ini terlihat sangat lega.
"Beneran?" tanya Keano memastikan, sengaja mendekatkan wajahnya lagi untuk menggoda pacar barunya.
"Iya, ah. Dua kali gue bilang iya, nih," Sena mendengus, tangannya refleks mencubit pelan lengan Keano untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang makin brutal. "Lagian... lo pikir gue random banget apa nyosor kalo gue nggak naksir?"
Keano terkekeh rendah, suara tawa yang bakal jadi favorite Sena abis ini. Ia membawa Sena kembali ke dalam pelukannya, mendekap tubuh supel itu erat-erat di atas pangkuannya tanpa peduli lagi kalau mereka masih di dalam perpustakaan sekolah.
