Work Text:
“Apa kamu punya banyak uang?”
Pertanyaan itu datang di hari yang cukup kering dengan sapuan sepia sejak pagi hingga petang. Rentetan kalimat berakhir tanda tanya yang seolah sanggup mendiamkan orang bijak mana pun. Terlebih untuk pertanyaan yang muncul dari mulut seorang anak kecil dengan tinggi kurang dari 130 dengan selera makan yang terlalu buruk. Sedikit orang akan menganggap hati padinya sudah ternodai nafsu orang dewasa, sementara kebanyakan orang hanya akan menganggap itu sebuah pertanyaan tanpa arti untuk dihempas kemudian tanpa jawaban. Padahal pertanyaan itu tidak sama sekali menjebak, tidak ada niat buruk dari tiap kalimatnya, juga terlalu lugas untuk dianggap tengah menyembunyikan sesuatu.
Barangkali Kuroo bukan seseorang yang bijak. Pertanyaan itu tidak bertempat di satu pun dari dua sisi yang saling memunggung. Ia hanya diam menggantung di tempat yang sama sampai yang berkuasa selesai dengan seleksinya. Namun, si berkuasa berpikir tiga hari lebih lambat dari orang bijak.
Di laci meja kerja yang kayunya tak tampak termakan usia, Kuroo menyimpan informasi umum mengenai seorang anak di antara berkas-berkas sehubungan dengan voli. Nama Kozume Kenma tertera dengan foto 3×4 tanpa kurva satu senti pun menghiasi bibirnya. Usianya 9 tahun, Kuroo tidak terlalu mengerti apakah Kozume adalah nama keluarganya, atau seluruh anak di panti itu memiliki nama Kozume. Bagian terpentingnya, ia tidak terusik meski Kuroo memanggilnya dengan nama depan di hari pertama pertemuan mereka.
Pemilik panti mengatakan Kenma adalah anak yang paling cerdas di antara saudara-saudaranya. Sebagai gantinya, ia memiliki kemampuan komunikasi yang buruk. Tidak cakap berbicara di depan banyak orang yang tidak bisa ia lihat satu per satu matanya, juga payah menjawab pertanyaan untuk dijelaskan kepada khayalak ramai. Kegemarannya hanya membaca buku bergambar, tidak jarang menambahkan catatan di beberapa sisi kendati yang dibaca hanya buku cerita anak biasa. Ia cepat belajar pada hal yang digemari, ia menyukai visual dan sesuatu yang berwarna-warni, juga memiliki keahlian berdiam diri di kamarnya dalam waktu yang lama. Terlebih ia hanya makan ketika diminta, seolah perutnya baru merasa lapar saat seseorang akhirnya menyinggung.
Makan malam terbaik yang pernah Kuroo rasakan dalam umur karirnya yang masih terbilang cekak terjadi saat kemenangan tim voli Jepang di Vietnam SEA Games. Saat itu dihadiri seluruh pemain dan anggota asosiasi hingga nyaris satu resto dikuasai atmosfer manusia yang familiar dengan lapangan dan cekam kemenangan. Akaashi pernah mengatakan sesuatu tentang kebahagiaan yang baru bisa dikatakan kebahagiaan jika saat-saat itu seluruh aturan tentang waktu sudah tidak lagi berlaku. Baru Kuroo benar memaknainya ketika seluruh kesenangan mereka berlarut hingga nyaris tengah malam. Tidak ada yang bahkan repot memeriksa telepon mereka untuk menengok jam. Semua orang sibuk dengan euforia yang memenuhi langit-langit kayu resto.
Butuh waktu hingga 2 tahun untuk Kuroo mengalami masa-masa mendebarkan itu. Selama ini fakta bahwa Jepang memiliki tim voli yang kuat adalah hal yang dipercayainya, namun gelar itu bukan berarti mereka akan selalu menang di setiap turnamen. Ada kalanya tim teronggok di rumah sendiri, atau negara lain yang menyerahkan kesediaan hadir untuk menendang orang-orang kebanggaan Jepang dari lapangan mereka berdiri. Itu bukanlah hal yang harus disesali, sebab tanpa hari-hari itu, kemenangan di perempat tahun tidak akan berarti segalanya.
Di ujung meja, terbalut jersey cadangan di balik jaket Nippon Ryujin, harta karun terbaik tim nasional voli Jepang. Menghabiskan waktu-waktu terbaiknya dan tenggelam dalam percakapan ceroboh dengan teman sepenanggungan. Dari senyum tanggung yang terbit dari bibir, pemuda itu terlihat sudah bebas dari trauma masa lalu buruknya. Masa di mana ia tidak lebih dari seorang diktator kendati bakatnya yang menakuti tim voli di seluruh benua patut diberi apresiasi seluas samudra.
Kuroo dulunya tergabung dengan tim voli sejak sekolah dasar hingga sekolah akhir. “Mantan atlet voli” seperti peraturan tidak tertulis untuk diakui sebagai bagian dari JVA, namun bukan berarti sebuah keharusan. Asalkan mengenal voli dengan bobot yang mumpuni, siapa pun bisa mengemban tanggungjawab yang sama dengannya. Sebagai orang yang pernah mengenal letihnya bertanding dengan sejumlah orang yang sama di balik net, Kuroo mengerti bagaimana rasanya begitu haus akan perkembangan. Ia seorang middle blocker yang disegani junior, mereka yang mempercayai dirinya sebagai seorang senior yang menyimpan banyak teknik rahasia dari regangan tangannya untuk membalikkan bola. Seorang Kuroo Tetsuro, manusia biasa dan memiliki kekurangan hanya akan merasa termotivasi dengan kalimat peneguh semacam itu.
Maka ketika Kageyama Tobio mengungkapkan keinginannya untuk membentangkan karir hingga ke luar negeri, Kuroo lebih dari kata paham. Keinginan setinggi itu untuk atlet kebanggaan Jepang bukanlah hal yang muluk-muluk, melainkan hal wajar yang harus diberi dorongan sebanyak mungkin. Ia bertaruh kesempatan itu akan jatuh kepadanya tanpa gentar sedikit pun.
“Latihan hari ini aku agak kurang fokus kak, boleh kasih motivasi?”
Benar adanya jika seseorang dalam keadaan menyetir, perhatiannya tidak harus terpaku pada roda kemudi. Banyak lansekap di balik pembatas jalan yang sungkan untuk dilewatkan. Kuroo tidak menyesal telah mengenal salah satu pemain dari Higashiyama High yang kemampuan mengumpannya mencuri perhatian orang-orang di seluruh stadion tempat SpringTournament digelar. Bukan porsinya untuk semena-mena mengundang anak itu dalam pelatihan tim nasional, namun kemampuan sebaik itu cukup menggugah rekan JVA menjanjikan masa depan untuknya.
Semakin tinggi sebuah pohon, semakin ia mejauh dari tanah kelahirannya. Tepat setelah Japan Olympic usai digelar, Kageyama Tobio meninggalkan Jepang untuk Italia. Hal itu juga menandai selebrasi kemenangan Jepang sebagai tuan rumah. Hadiah yang sepadan untuk pemuda di awal 20 yang telah banyak berdedikasi untuk negara.
Sulit untuk diakui, namun Kuroo Tetsuro nyaris tidak pernah menikmati dirinya sejak menekuni profesi sebagai bagian dari Japan Volleyball Association. Tiap-tiap tahun baru hanya berarti turnamen dan olimpiade baru, di mana turun lapangan dan melacak sendiri aset-aset baru bukanlah sebuah pilihan. Melainkan Kuroo merasa tidak akan puas dengan kinerjanya jika sekali saja melewatkan jiwa-jiwa berbakat itu dari gulir matanya. Mereka patut mendapatkan tempat, mereka patut membangun dan dibangun potensi.
Gelenyar suasana selepas turnamen nasional adalah perpaduan lengket, risau, berisik, dan otentik. Kendatipun bermandikan debu dan deru napas liar atlet yang beradu, Kuroo tidak pernah terpikir bahwa undangan onsen adalah hal yang sangat dibutuhkannya saat ini.
Sugawara Koushi dengan senyum abadinya menawarkan pemandian air panas, dibalut dengan niat promosi terselubung. Saudaranya yang baru membuka onsen memberikan dua pelayanan cuma-cuma sebab baru saja bertempat di kota. Bisa diumpamakan menembak dua burung dengan satu batu, selain Sugawara Koushi dan koneksinya bak jaring laba-laba, para atlet asuhan JVA juga akan dengan senang hati meramaikan onsen mereka.
“Masih sering kontak sama Kageyama?”
Jarang ada yang mengangkat topik mengenai Kageyama Tobio di luar jam pertemuan, di mana berarti tidak ada yang perlu mengkhawatirkan pemuda itu ketika kakinya telah meninggalkan Jepang. Setelah menjadi tanggungjawab dan roda gigi untuk tim Italia, ketika berhadapan dengan tim nasional Jepang di masa depan, Kageyama Tobio bukan lagi seseorang yang disoraki dalam bahasa ibunya. Seluruh pendapatnya bukan lagi hal yang bisa dimengerti pemuda Jepang, dan sarapannya tidak lagi natto dan semangkuk nasi.
Tobio ibaratnya berada di semesta yang sama, namun dunia yang sedikit berbeda. Pemuda itu layak disebut produk berhasil dari seorang anak yang dibesarkan oleh voli. Kecakapannya membawa ia ke belahan bumi lain, merangkak meski nantinya ia bukan siapa-siapa di negara orang. Dengan keberadaan fakta itu, juga Sugawara dan insting tajamnya berterus terang membawa nama Tobio dalam obrolan mereka di tengah kegiatan menikmati onsen, pria itu jelas sekali ingin memancing Kuroo untuk mengakui bahwa dirinya berduka.
“Kamu keliatan kaya “Ayah” buat dia, wajar kalo sedih.”
Tobio adalah atlet pertama yang nomornya Kuroo simpan di kontak ponsel. Mereka tidak berbincang setiap hari, namun Tobio yang terlihat tidak gemar berbasa-basi di dunia nyata, sesungguhnya menulis banyak paragraf tentang bagaimana latihannya berlalu setiap hari. Pesan itu tidak datang tiap waktu, namun pasti datang setidaknya di penghujung minggu. Tiap kali membaca deret panjang yang terkadang salah, Kuroo merasa seperti menyimak keseharian sembrono seorang murid sekolahan yang suka mampir ke berbagai tempat dan tidak kunjung pulang ke rumah. Jujur dan manis. Sayangnya, kebiasaan itu terhenti ketika banyak tim voli nasional lain mulai berdatangan. Sebagai lelaki dengan pengalaman serupa, Kuroo memahami ketakutan Tobio saat itu. Lambat laun kotak saran Tobio bukan lagi seorang anggota JVA divisi promosi, namun orang-orang yang mendapat kesempatan berdiri di lapangan yang sama dengan dirinya.
Di pertengahan musim gugurnya daun, Sendai Frogs menghiasi highlight teratas website Japan V. League. Menghampar hijau di tengah warna laras sepanjang jalan. Pemain andalannya, Kyotani Kentaro tampak paling mendominasi dalam deretan pemain terbaik divisi 2. Prestasinya melejit sejak servis beruntun yang membunuh kesempatan Fujitsu Kawasaki mencetak break point, ditambah penampilan nyentriknya yang bak anjing liar menggaet banyak perhatian pecinta olahraga voli.
Sendai Frogs terbilang sudah lama diantisipasi melihat jajaran pemainnya yang menjanjikan. Baru di paruh pertama tahun Kerbau Logam, kemenangan sepenuhnya berada di tangan Sendai Frogs tidak lagi menjadi hal yang mengejutkan, namun patut dirayakan mengingat mereka menghabiskan waktu dan tenaga untuk tempat yang sepadan.
Divisi promosi pagi itu riuh. Bukan berarti lingkungannya pernah tenang, bukan juga karena Sendai Frogs yang berada di highlight teratas. Namun karena Kuroo Tetsurou yang berhasil menggaet puluhan sponsor dalam 4 tahun perjalanan karirnya kini menggandeng makhluk mini masuk ke dalam ruang kerjanya.
Bagaimanapun, anak sekecil Kenma tidak akan mengerti nilai digit pertama di akun bank Kuroo. Anak itu juga tidak akan terlalu mengerti barang berharga apa yang bisa ia beli dengan uang sebanyak itu. Jas hitam mungkin akan menyihir bocah biasa untuk menyimpulkan ‘orang yang memiliki banyak uang’ kepada pemakainya. Namun bahkan Kenma mengerti bahwa seorang job seeker juga mengenakan jas hitam dalam pencarian mereka, yang mana bermakna juga bahwa jas hitam bukan tolak ukur seseorang memiliki banyak harta.
Sugawara Koushi yang berada di meja seberang kerap kali mencuri pandang sambil sesekali berbisik dengan salah satu rekan. Senyum familiarnya dipamerkan tiap kali bertemu pandang dengan Kuroo. Seluruh kantor barangkali kebingungan dengan kehadiran bocah asing di tengah-tengah kesibukan mereka, dan Sugawara Koushi menyadari kewajibannya untuk mengatasi hal itu.
Kenma duduk anteng di bangku orang dewasa tempat Kuroo biasa menyisihkan berkas saat mejanya terlalu penuh. Tangannya menggenggam erat permen cokelat yang tak kunjung dimakan. Hanya mata yang menelisik ke sana kemari berusaha mengikuti lalu lalang orang melewati meja di hadapannya. Sesekali melirik Kuroo yang terlihat cukup sibuk dengan laptop dan gawai.
Membawa serta Kenma di jadwal kerja bukan rencana yang ia buat jauh-jauh hari. Kuroo hanya meluangkan sedikit waktu sebelum memulai pekerjaan dengan kunjungan singkat di pagi hari. Dibalut blazer hitam dan kemeja merah maroon, matanya yang senada musim gugur hanya terfokus pada Kenma yang sibuk dengan permainan puzzle kertas di ruang bermain. Ruang bermain itu ramai oleh anak-anak lain, namun Kenma menjauh dari kelompok dan mendirikan dunianya sendiri. Anak itu tidak benar-benar ke luar menemui Kuroo kendati menyadari kehadirannya. Iris pengamatnya hanya melirik sesekali sembari membongkar kembali puzzle kertas tiap kali selesai menyusun. Sifat penyendirinya membuat ia terbiasa tidak mencampuri pembicaraan sampai sungguh terlibat.
Puzzle kertas seketika diabaikan di lantai berkapet detik ketika ibu panti melambaikan tangan memintanya datang. Langkah kecilnya menyusul Kuroo yang menanyakan kabar serta kegiatannya selama satu minggu. Berakhir dengan Kenma menunjukkan seluruh buku favoritnya yang penuh coretan tidak rapi. Kuroo tersenyum simpul, seluruh buku itu adalah dongeng Kyusuke, hanya saja dalam berbagai versi. Selayaknya cerita pendek lain, apa pun versinya, inti dari cerita itu diturunkan sehingga tidak akan terlalu berbeda isinya.
“Apa kamu pekerja keras seperti Kyusuke?”
Keramik ruang bertamu tidak biasanya terasa memberatkan langkah. Suhu pagi itu bahkan lebih hangat dari biasanya. Mungkin kopi hitam yang diteguknya pagi ini tidak direbus dengan baik hingga bergejala melilit pada pusar. Lidahnya kelu oleh sesuatu yang luar biasa, terasa seperti bumi bergejolak membuka jalan benderang untuknya. Kuroo mendadak tahu bagaimana menyelesaikan ujiannya.
