Work Text:
“Tuan muda… ?”
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam ketika tiba-tiba pintu apartemennya diketuk secara tidak manusiawi. Ketukannya cukup keras, sampai dirinya mengira bahwa ada gempa bumi atau apalah. Dirinya yang sebenarnya masih setengah sadar masih pula mengenakan piyamanya. Dia memutuskan untuk membuka pintu sembari mengambil ancang-ancang kalau-kalau ternyata ada orang jahat yang berniat untuk melakukan tindak kriminal di depan pintu apartemennya. Namun yang berdiri di depan pintunya bukanlah orang jahat yang diekspektasikan. Hanyalah seorang pria yang mengenakan sweater putih dan celana hitam. Pria dengan gerai kemerahannya sudah tak beraturan, sedang melukiskan senyum manis padanya.
Tentu saja kemunculannya bagai hantu, sama-sama mengejutkannya.
“Ad-Ada apa, Tuan?” Hayabusa sama sekali tak menyangka yang muncul ternyata adalah atasannya, Hanzo.
“Aku kesepian. Biarkan aku bermalam disini.”
Matanya memindai sosok yang masih melukiskan senyum padanya. Dia baru menemukan bahwa pria itu ternyata membawa sebuah bantal bersarung putih di sebelah tangannya. Ya, hanya itu yang ia bawa beserta tubuh dan jiwanya.
Tentu saja ia terkejut setengah mati ketika bosnya mengatakan hal itu lalu secara semena-mena dan sepihak, segera masuk ke dalam apartemennya tanpa izinnya terlebih dahulu. Dia tak bisa menghentikannya begitu saja. Dirinya masih terlalu syok dan berusaha memahami keadaan yang sulit dipahami ini. Selain itu keadaan apartemennya saat ini tidak bisa dibilang bagus. Walaupun tidak ada sampah yang berserakan atau seprai yang jatuh ke lantai, tapi terlihat beberapa lembaran kertas dokumen yang bertebaran di lantai kamarnya dan juga terlihatnya tumpukan pakaian kotor di sudut ruangan yang cukup membuat malu.
Selanjutnya ia dapat melihat pria itu langsung saja membanting dirinya di atas ranjang miliknya. Meninggalkannya yang masih terpaku di depan pintu.
“Ayolah, aku hanya bosan untuk tidur di rumahku. Lagipula sekali-kali aku ingin tahu bagaimana kehidupan personal asisten pribadiku.”
Hanzo membaringkan diri sembari melipat lengannya ke belakang kepalanya, untuk menempatkan nya di kepala tempat tidur milik Hayabusa. Sementara itu si pemilik ranjang hanya menatapnya dengan tatapan heran dan bingung.
“Kemari.” Pria itu menepuk ruang kosong di sampingnya. Mau tak mau ia pun menurutinya. Ia duduk di pinggir ranjangnya, masih mengamati pria yang semena-mena di apartemennya itu.
“Tak usah merasa asing dan formal begitu, kau sedang tidak dalam jam kerja.” Hanzo mengulas senyumannya kembali, berusaha mencairkan suasana di antara mereka yang sedari tadi diselimuti aura kebingungan dan keheranan Hayabusa. “Anggap saja aku sebagai sahabat SMA mu yang sedang menginap.”
Ya, walaupun secara teknis ia tidak pernah sekolah sampai SMA, karena dia sudah ditakdirkan menjadi pegawai di perusahaan yang dipimpin oleh ayah dari Hanzo sejak usianya masih belia. Mungkin dulu ia pernah mempunyai teman main, tapi jujur sudah lama sekali ia putus kontak dengan semua temannya. Terlebih lagi perusahaan menuntutnya layaknya mata-mata dengan tidak menjalin relasi dengan siapapun.
Sahabat, huh?
“Sebelum aku datang apa yang sedang kau lakukan?” Rasanya Hayabusa agak sedikit jengkel mendengarnya, apakah Hanzo tak menyadari bahwa ia sudah memakai piyama? Dan pukul berapa ini? Entahlah, rasanya hanya sedikit tidak adil jika satu-satunya waktu yang bisa ia gunakan untuk beristirahat harus diinterupsi oleh bosnya sendiri. Dia sudah menghabiskan dua pertiga waktunya untuk mengurus kehidupan Hanzo sehari-hari sebagai asisten pribadi dan sekarang Hanzo kembali mengambil waktunya dengan paksa?
“Tidur.” Balasnya singkat, seperti malas menanggapinya.
“Kalau begitu silakan lanjutkan tidurmu,”
“Ehh, tapi sebelum itu apakah kau bisa lakukan satu hal untukku?”
“Apa?” Hayabusa sudah mulai terbiasa berbicara dengan nada nonformal padanya karena tak dapat dipungkiri bahwa usia mereka yang tak berbeda jauh menjadikan mereka seperti teman saja.
“Bisakah kau nyanyikan sesuatu untukku? Besok hari Ibu dan... Tiba-tiba aku merindukan ibuku.”
“M-menyanyikan sesuatu?” Hayabusa menatapnya dengan kernyitan di dahi. Tentu saja permintaan ini termasuk aneh baginya. Walaupun perkataan nonformal sudah biasa diantara mereka, tetapi tetap saja Hayabusa masih merasa agak asing dengan perlakuan-perlakuan personal lainnya, seperti hal ini.
“Ya... Dulu ibuku sering menyanyikan sesuatu sebelum tidur. Dan kenyataan bahwa besok hari ibu membuatku sedikit ... emosional. Kumohon, Hayabusa. Kau bisa kan?” Hanzo memasang wajah memelasnya, termasuk sangat jarang dilakukan olehnya. Bahkan dia tak ingat kapan terakhir kali Tuan Muda itu memohon padanya dengan wajah memelas. Ya, dia tahu bahwa Hanzo memang kehilangan ibunya disaat dia masih sangat muda, sebenarnya bernasib sama dengannya yang harus memutus kontak dengan ibunya agar bisa bekerja pada perusahaan yang didirikan oleh ayah Hanzo. Pada dasarnya mereka adalah sama dan kenyataan itu yang baru disadarinya.
“Jadi itu alasan kau datang kesini?”
“Ya begitulah.”
“Kenapa tak coba meminta pada yang lain? Entahlah, maksudku kenapa aku? Apa aku terlihat seperti orang yang bisa bernyanyi?”
“Siapa lagi? Yang dekat denganku hanya kamu! Maksudku... Aku hanya tak ingin meminta hal seperti ini dengan orang lain.. Lagipula selama ini kau yang terus berada di sampingku. Aku sudah nyaman bersamamu.”
Hayabusa menatap Hanzo yang masih memasang wajah memelasnya. Ada secuil rasa tak tega, pria itu benar-benar terlihat seperti sedang membutuhkan seseorang untuk diajak bicara. Memang benar, selama ini ia sepertinya tak pernah melihatnya membicarakan hal personal pada orang lain.
Akhirnya Hayabusa mengembuskan napas panjang, “Akan kucoba.” Dari wajahnya sih terlihat bahwa sebenarnya dia tak ingin melakukannya. Tetapi dengan adanya paksaan dicampur perasaan tak tega.
“Benarkah? Terima kasih, Haya.”
Matanya berbinar setelah ia mengiyakan permintaannya. Baginya, saat ini Hanzo benar-benar bersikap manja seperti seorang anak-anak pada ibunya. Sebenarnya ia ingin memaklumi, tapi ia tak mengerti kenapa Hanzo harus memanja-manja dengan dirinya, yang nyatanya hanyalah sebatas asisten pribadinya. Hubungan mereka selama ini didominasi oleh hubungan formal tentang pekerjaan, rasanya aneh saja. Dan satu lagi, kenyataan bahwa sebenarnya mereka berada di usia yang sama membuatnya semakin aneh, ditambah lagi keduanya sama-sama merupakan seorang laki-laki dewasa. Rasanya tingkahnya jadi kekanakan. Tetapi saat ini Hayabusa ingin memaklumi hal itu.
Hanzo terlihat sangat senang dan dia langsung membanting kepalanya di paha Hayabusa. Tentu saja membuat si pemilik sangat terkejut dan melebarkan matanya.
“Ibuku selalu bernyanyi untukku sambil mengusap kepalaku yang berada dipangkuannya, kau tak keberatan melakukan hal yang sama kan?”
Hayabusa masih melemparkan ekspresi seribu pertanyaan sembari melihat Hanzo yang masih tersenyum manis sembari menjadikan pahanya sebagai bantal. Runtuh juga pencitraan Hanzo yang selalu mencoba mempertahankan wibawa dan harga dirinya di depan publik. Tentu saja Hanzo merupakan orang yang cukup terkenal karena merupakan ahli waris perusahaan besar. Selama ini Hanzo menjaga citranya sebagai pria yang serius karena memang selama ini ayahnya yang selalu menuntutnya untuk menjaga sikap, mengingat satu saja tingkah kekanak-kanakan yang terekam kamera, maka hal itu tentu akan membuat malu satu perusahaan. Namun sekarang, pencitraan itu telah runtuh setidaknya dihadapan Hayabusa.
Hanzo memiringkan tubuhnya, memunggungi Hayabusa. Ia memejamkan matanya, hatinya yang tadi merasa gelisah perlahan berubah tenang. Kini sebuah tangan mulai mengusap gerai merahnya seperti menyisirnya dengan perlahan-lahan. Samar samar ia mulai mendengar melodi, yang lama-lama semakin terdengar. Suaranya yang lembut, benar-benar menenangkan hatinya. Dia selalu tahu bahwa Hayabusa memang dapat bernyanyi, walaupun pria itu tak pernah melakukannya langsung di depannya. Sebenarnya pernah, saat dia menarik Hayabusa langsung ke tempat karaoke sepulang jam kerjanya habis. Awalnya Hayabusa tentu menolak ajakannya mentah-mentah, tetapi akhirnya mau ikut dengannya bersenang-senang sambil mabuk di tempat karaoke.
Sebuah melodi, dia tak mengenal lagu yang dinyanyikan Hayabusa, terdengar menggunakan bahasa yang asing, mungkin merupakan lagu yang berasal dari masa lalunya. Bisa jadi merupakan lagu yang bermakna baginya. Tapi walaupun Hanzo tak mengenali lirik ataupun melodinya, dia menikmatinya, entahlah, namun memang terdengar indah di telinganya. Temponya mendayu-dayu, terkesan seperti lagu klasik. Walaupun banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan, sementara ini Hanzo hanya ingin membiarkan dirinya terlelap ditemani suara lembut Hayabusa dan juga belaian halus di kepalanya.
“Hanzo?”
Setelah beberapa lama, Hayabusa dapat mendengar dengkuran halus dari tubuh itu. Deru nafasnya terdengar teratur dan tenang. Sepertinya Hanzo benar-benar tertidur di pangkuannya dan hal itu ternyata tidak membutuhkan waktu yang lama. Sebegitukah Hanzo membutuhkan seseorang untuk menyanyi sembari mengusap kepalanya dengan lembut?
Tak ada jawaban dari tuan muda itu. Dia jadi khawatir kalau-kalau dia akan menghabiskan sisa malamnya dengan keadaan seperti ini. Bagaimana dia bisa melanjutkan tidurnya dengan posisi seperti ini, hah?
Ia mencondongkan tubuhnya untuk mengamati wajah yang damai itu. Hanzo terlihat sangat tenang dalam tidurnya dan timbul perasaan aneh dibenaknya. Pria itu pasti sudah atau sedang melewati banyak kesulitan, Hayabusa memahami jikalau pasti Hanzo merasa tertekan dan dirinya ingin selalu bisa membantunya sebagaimana yang ia mampu. Mereka sudah menghabiskan waktu bersama-sama dalam ikatan yang formal. Dapat melihat Hanzo yang menanggalkan batasan hubungan formal dengannya itu membuatnya merasa itu adalah suatu hal yang bagus. Harusnya mereka bisa mempunyai hubungan lebih dari sekadar rekan kerja, harusnya.
Ia dapat melihat sebelah tangan Hanzo bergerak, menggenggam pergelangan tangannya yang sedari tadi mengusap kepalanya. Membuat Hayabusa melebarkan matanya, tidak menyangka bahwa ternyata Hanzo masih belum sepenuhnya terlelap.
“Aku memilikimu, kan?” Hanzo tiba-tiba menelentangkan tubuhnya, sembari membuka matanya yang sedari tadi terpejam. Langsung menatapnya lurus. Dia dapat langsung melihat wajah Hayabusa.
“Sebagai asisten mu?” Tangannya masih menggenggam pergelangan tangan Hayabusa. Lalu Hanzo menariknya, mencoba membuat Hayabusa semakin membungkuk menghadapnya. Membuat wajahnya dengan wajah Hayabusa kini hanya terpaut beberapa mili centi saja.
“Kalau sebagai teman hidup, boleh?”
-///-
