Work Text:
Sudah setahun, setahun ia menyimpan kesedihannya, mencoba menguburnya dalam-dalam. Tak mau kesedihan itu diketahui orang lain, ia sudah berusaha sangat keras. Namun memang yang namanya menyimpan perasaan adalah hal yang sulit. Mau seberapa keras pun ia mencoba, perasaan itu selalu muncul ketika melihatnya.
“Hanzo…”
Ia dapat melihat bagaimana pria itu memandangnya, baginya itu adalah tatapan nanar. Kini dirinya sedang menyapukan handuk basah ke seluruh tubuh pria yang sedang terduduk di atas ranjang itu. Melihat cairan hitam terus membasahi tubuhnya benar-benar membuatnya tak tega. Kini seorang Hayabusa telah jatuh dan terpaksa membuang kehidupannya begitu saja. Seiring dengan hilangnya semangat hidupnya, dirinya sendiri tak tahu kemana lenyapnya.
Penyakit aneh yang sedang menyerang setengah populasi di bumi menggerogoti tubuhnya. Cairan berwarna kehitaman terus-terusan keluar dari sebagian kulit di punggung, lengan dan pelipisnya. Entah bagaimana bisa, sampai saat inipun jutaan orang lainnya juga sedang mengidap penyakit yang tak diketahui asal usul ataupun penyebabnya itu. Namun memang, segelintir orang lainnya tidak, seperti Hanzo. Dirinya tak tahu seberapa menyakitkannya penyakit yang dinamakan Mavros itu. Bisa jadi sangat perih dan menyakitkan dan Hayabusa selalu tidak mau menceritakan apapun padanya. Bagaimana rasanya. Membuatnya tak bisa memahaminya lebih jauh, membatasi batasan analisanya.
Penyakit itu menghapus senyuman di wajahnya, menghapusnya dan tak membiarkannya kembali.
Sekarang dirinya menumpu tubuh Hayabusa yang condong kearahnya. Mengusap punggungnya yang dipenuhi bercak kehitaman dengan handuk basah. Membuat kehitaman itu pudar dalam sesaat. Dia dapat merasakan nafas tersenggal dari tubuh pria itu.
“Aku sudah tak bisa menggajimu, kau boleh pergi.” Suaranya kecil dan lirih. Membuat matanya melebar dan dirinya menghentikan sementara aktivitas mengusap punggung Hayabusa. Ia dapat melihat pria itu berusaha menarik tubuhnya dari pegangannya. Membuat Hanzo tertegun sepenuhnya dengan sikap Hayabusa yang begitu tiba-tiba. Air mukanya begitu nanar, seperti pasrah dengan takdir yang sudah menantinya. Membuat hatinya seperti teriris ketika memandangnya. Mau bagaimanapun pria yang sedang rusak itu adalah pria yang ia cintai. Dulu Hayabusa memang orang yang memberinya pekerjaan dan mereka bersama setelah beberapa tahun. Sebelum semua kekacauan ini terjadi.
“Tidak. Aku tidak akan pergi.” Balasnya dengan nada sedikit melonjak. Ia sendiri sedang mencoba menahan gelombang emosional yang sebentar lagi akan menyapunya, tenggelam dalam rasa.
“Kau bisa memulai hidup yang baru, Hanzo. Yang tentunya lebih baik dari hanya sekadar merawat orang yang sedang menunggu ajalnya ini, yang bahkan tak mampu untuk memberimu apapun lagi...”
Hanzo selalu benci saat-saat ini. Ketika Hayabusa mulai berkhayal bahwa malaikat maut sudah menunggunya di sudut matanya. Dia sungguh benci, sampai-sampai darahnya mulai mendesir cepat, mendidih.
“Semua ini demi kebahagiaanmu. Kumohon pergilah, perbaiki hidupmu sendiri, Hanzo ...”
Hanzo yang sudah geram, merasakan dirinya akan meledak, “Berhenti, Hayabusa. Tolong berhenti bicara.” Ia meletakkan kedua tangannya di kedua bahu pria itu, lama kelamaan genggaman itu berubah menjadi cengkraman. Membuat si pemilik tubuh membalas tatapan matanya yang tajam namun agak terlihat jelas kalau dirinya juga sedang menahan gejolak emosi yang beragam secara bersamaan. Amarah, sedih, pasrah, emosi yang semakin memenuhi sanubarinya membuatnya tak bisa lagi menyembunyikannya dengan pintar. Terjadi luapan-luapan, yang selama ini hanya ia pendam, tampaknya Hanzo akan mengeluarkan semuanya.
“Bahagia? Kau pikir dengan meninggalkanmu aku akan bahagia?” Sebelah tangannya menjalar ke leher pria itu. Hanzo sudah tidak peduli lagi dengan tangannya yang dibasahi cairan kehitaman yang masih keluar dari kulit leher dan pelipisnya, yang kini mengenai sebagian wajahnya, menciptakan aliran kecil yang membelah pipinya. Ia membuat kepala itu mendongak, memaksanya membalas tatapannya. Hanzo semakin tak kuasa untuk menatap manik kebiruan yang tampaknya kosong, dibutakan kegelapan, telah kehilangan harapan. Tatapan mata Hayabusa terasa hampa, seperti tidak ada jiwa yang hidup di raga itu.
“Menurutmu bagaimana aku bisa disini, Hayabusa? Apa otakmu itu berpikir bahwa aku disini karena uang?!” Hanzo berusaha untuk tetap tenang, namun tidak bisa. Gelombang emosi yang kuat sedang menyerang batinnya. Dia sudah muak.
“Aku memang pegawaimu, dulu. Tapi aku berada disini bukan karena hal itu, Hayabusa. Aku hanya ingin berada di sampingmu, apakah itu terlalu sulit untuk dilakukan?”
“Bisakah kau berhenti bersikap seolah-olah kau akan mati, besok?! Atau berhenti bersikap pasrah dengan keadaan? Sudah setahun! Biasanya aku hanya membiarkanmu, tapi kali ini aku sudah muak, Hayabusa.”
“Aku percaya. Aku percaya bahwa suatu hari kau akan sembuh dan kembali menjadi Hayabusa yang kukenal. Dan aku akan menunggu saat itu, selama apapun. Tidak akan ada yang meninggalkanmu dan tidak akan ada yang pergi dari sini. Dan kau tidak akan mati besok, paham?”
Napasnya terengah-engah sehabis menumpahkan segalanya, yang selama ini dia simpan di dalam batin. Beberapa kali suaranya bergetar di antara menahan tangis dan menahan amarah untuk tidak menghancurkan sesuatu. Entah bagaimana bisa, tapi dia merasa sedikit lega.
“Aku tahu kau akan mengatakannya. Terima kasih, Hanzo.” Ia dapat melihat senyuman itu mulai mengembang di mulut Hayabusa. Senyuman yang sudah lama hilang, kini kembali. Senyuman di wajahnya yang pucat, namun rasanya sama. Membuat debaran di tubuhnya terdengar semakin keras, kehangatan itu telah kembali memenuhi ruang hatinya. Dia tertegun, masih belum menyadari apa yang Hayabusa katakan barusan, yang menyebabkan senyumannya mengembang.
Tentu saja otaknya mengirimkan sinyal bingung kepadanya.
Dia dapat melihat Hayabusa bergerak dari duduknya, mencondongkan tubuhnya ke arah meja yang terdapat di samping ranjang.
“Menikahlah denganku, Hanzo.”
“Sebagai tanda janji bahwa kau tidak akan pernah meninggalkanku. Menemaniku dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit. Sampai maut memisahkan.”
Matanya berbinar melihat Hayabusa menyodorkannya sebuah cincin tidak berkotak, cincin yang cukup sederhana, tidak ada berlian atau batu permata lainnya dan sama sekali tidak ada kesan mewah. Namun sanggup membuatnya meneteskan air mata tanpa disadarinya. Hayabusa mengulas senyuman yang terkesan lirih.
“Tentu saja.... Tentu saja...”
“Tentu saja aku akan menikah denganmu, bodoh. Kenapa kau malah melamarku disaat seperti ini?” Sekali lagi ia melihat senyuman yang diulas pria itu, senyuman yang sampai membuat matanya menyipit. Tangannya bergerak perlahan untuk meraih sebelah tangan Hanzo. Untuk memasukkan cincin itu di jari manisnya.
Tanpa apapun lagi ia menerjang Hayabusa dengan lengannya. Mendekap pria itu erat seperti tak akan pernah membiarkannya pergi. Entah kenapa tapi dirinya tak bisa menahan deras air matanya. Gelombang emosi itu menerjangnya begitu kuat, membuatnya hanyut. Namun emosi itu bukanlah sesuatu yang buruk. Dia membenamkan wajahnya di bahu pria itu.
“Aku tidak pernah melihatmu menangis sebelumnya, Hanzo.” Dia dapat mendengar kekehan kecil Hayabusa, yang entah kenapa membuat gejolak di dalam tubuhnya. Rasanya mendebarkan dan melegakan dapat mendengar pria itu kembali terkekeh. Walaupun memang tujuannya adalah mengejek dirinya, tapi dia rela dan tak masalah. Saat ini dia hanya ingin memeluk Hayabusa sambil menangis sepuasnya.
“Rasanya asing, tapi aku menyukainya. Kau terlihat sangat manis.” Sepertinya lama-lama kekehan Hayabusa akan menjadi candu baginya. Karena dia sedang merindukan sosok itu. Sosok Hayabusa yang bahagia dengan hidupnya dan tampaknya kini keadaan mulai membaik diantara mereka. Sepertinya kini Hayabusa sedang berusaha untuk menanggalkan kegelapan yang menggelayuti jiwanya dan menyadari bahwa Hanzo adalah orang yang bisa menariknya keluar dari kegelapan itu. Rasa putus asa itu, kini digantikan oleh secercah harapan.
“Berisik.”
-//-
Rasa-rasanya baru kemarin ia melihat sosok itu tertidur dengan nyenyak di sampingnya, fakta yang terjadi sekarang adalah bagian setengah ranjangnya itu telah kosong, meninggalkan jejak-jejak dingin dan kesepian. Hanzo memandang langit-langit kamar mereka, yang ada hanyalah lampu gantung yang sudah tak pernah dinyalakan lagi. Airmatanya telah kering sehingga menangis saja rasanya begitu menyakitkan. Ia meringkuk sambil memeluk selimutnya yang terasa dingin. Sambil berusaha membaui jejak-jejak aroma tubuhnya yang sebentar lagi juga akan hilang sepenuhnya.
Suaminya itu telah pergi, bahkan tanpa mengatakan apapun. Dia belum mengatakan apapun apalagi ucapan selamat tinggal.
Hanzo merasakan seluruh dunianya runtuh, yang ada hanyalah kelam. Semuanya menjadi sangat berat baginya, bahkan urusan makan pun menjadi tak selera. Debu sudah menumpuk di segala sudut ruangan. Yang dilakukannya berhari-hari hanyalah menangis sampai dirinya tertidur dan sebagian waktunya yang lain digunakan untuk mengenang segala memori yang ditinggalkannya. Memori yang sudah tak akan pernah terjadi lagi.
Dia yang melihat secara langsung bagaimana tubuh itu mulai hilang dalam bara api dan akhirnya menjadi abu.
Suara televisi yang menjadi suara latar belakang kehidupannya saat ini. Lumayan cukup ampuh untuk meredakan sepi. Selama beberapa hari terakhir yang tampil di televisi adalah siaran berita yang menyiarkan mengenai obat penawar yang sedang dikembangkan untuk penyakit Mavros yang tampaknya sudah mulai membuahkan hasil. Pembawa berita selalu memberitakan hal ini dengan senyum sumringah, seolah-olah umat manusia sudah berhasil untuk bertahan hidup seluruhnya.
Bukankah ini ironi? Kenapa obat penawar yang digembar-gemborkan itu baru ada sekarang? Disaat suaminya telah pergi?!
Hanzo selalu menatap siaran itu dengan tatapan kosong, sampai suatu hari, ia tampaknya sudah tak tahan lagi.
Semua orang yang tersenyum bahagia di depannya harus mati.
-//-
“Lagi-lagi penembakan anonim terjadi di kota selatan.” Seorang wanita pembawa berita akhir-akhir ini menjadi serius. Entah kemana senyum sumringahnya saat membacakan berita terkini. Penembakan sebenarnya bukan perkara asing lagi di dunia yang sudah gila seperti ini. Hampir semua orang bisa melakukannya jika mereka mau. Tetapi hanya segelintir orang yang benar-benar melakukannya seperti dia.
Melihat hasil karyanya dibicarakan di televisi tak serta merta membuatnya bangga seperti seorang psikopat kesetanan haus perhatian. Bagaimana dia bisa membawa dunia gila ini berakhir seperti kenangannya yang mulai pudar?
Dia ingin dunia berakhir. Agar penderitaannya juga selesai. Lenyap, seperti raga suaminya yang tak lagi disisinya.
Lalu kenapa dia tidak menarik pelatuk dengan pistol di kepalanya sendiri?
Bosan dengan televisi, ia segera beranjak keluar. Udara gersang langsung menyambutnya. Dunia seperti benar-benar akan hancur sebentar lagi. Lahan-lahan mulai mengering, tingkat kriminalitas meningkat seiring terjadinya kepanikan akan bahan makanan yang kian langka.
Hanzo menyadari bahwa dia tidak bisa menghabisi semua orang yang bahagia akan ditemukannya penawar dari wabah yang sedang melanda. Ya, hanya itu berita baik yang bisa membuat orang-orang sedikit waras. Setidaknya menahan orang-orang sebentar agar tidak terjadi kekacauan kembali.
Anjing milik tetangga yang biasa menggonggonginya saat dia keluar rumah sekarang pun sudah tiada, membuat hidupnya semakin sepi. Ah iya, dia baru saja ingat bahwa dia yang membolongi tubuh anjing itu beberapa hari lalu, sang pemilik juga pasti sudah menguburkannya.
Keadaan jalanan siang itu masih sama. Orang yang lalu lalang berpakaian tertutup dan mereka semua berjalan dengan hati-hati. Melihat itu malah membuat dirinya berpikir, apa lagi yang ditunggunya dalam hidup?
Dia tidak mungkin menghabisi semua orang, biarkan Tuhan sendiri yang akan melakukannya. Dia bukan malaikat maut. Sebenarnya tindakannya membuat onar dengan menembak beberapa orang kemarin juga sia-sia saja. Semua orang memang akan mati, tetapi beberapa orang membutuhkan bantuan untuk mencapainya.
Tiba-tiba dia menginginkan kematian, lagipula stok makanannya juga akan habis suatu hari nanti. Bukankah lebih baik jika dia segera pergi? Sehingga dia tidak perlu menderita mencari makanan lagi? Mati kelaparan sama sekali tidak epik.
Hari itupun dihabiskan dengan berpikir caranya untuk bertemu kematian. Mengamati truk truk besar yang lalu lalang membuatnya ingin segera menabrakan diri, tetapi ah… cara lain mungkin akan lebih baik.
"Apakah ada kematian yang tidak menyakitkan?"
Bagaimana caranya menjadi abu seperti suaminya? Dia sungguh ingin tahu.
-///-
