Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-09-02
Words:
1,734
Chapters:
1/1
Kudos:
21
Bookmarks:
1
Hits:
300

Lucky

Summary:

Aku heran, mengapa orang-orang selalu mengukur kebahagiaan dari materi?

Work Text:

Semua berawal dari ketika aku menerima pinangan seorang laki-laki sederhana, jarang tersenyum dan selalu memasang wajah serius. Orang-orang yang tidak mengenalnya pasti menganggap bahwa dia bukan orang yang ramah. Tapi menurutku dia baik, tampan, gagah, dewasa dan yang paling penting - aku selalu merasa nyaman bersamanya. Yeah... aku mencintainya. Kupikir cinta tak selalu butuh alasan bukan? Aku tak pernah punya jawaban yang memuaskan setiap kali teman-teman maupun tetanggaku menanyakan kenapa aku memilih lelaki biasa seperti dia. Dan malah meninggalkan Crocodile, mantanku yang seorang konglomerat muda. CEO Baroque Work, perusahaan tambang minyak yang mempunyai jaringan di timur tengah.

Di hari pernikahanku, ketika Aku berjalan di atas karpet merah yang membelah barisan kursi tamu undangan menuju Altar sembari memeluk lengan kiri ayahku -Nico Kuzan, aku dapat mendengar bisikan para tamu. Sebagian memuji kecantikanku dalam balutan gaun putih, sebagian lagi bertanya-tanya tentang keseriusanku lebih memilih laki-laki yang sedang berdiri mematung di depan altar ketimbang mantanku yang kaya raya.

Aku hanya tersipu ketika Roronoa Zoro, laki-laki yang menungguku di altar menatapku seakan tak berkedip. Ia terlihat sangat tampan dalam setelan jas hitam dan rambut hijaunya yang di tata rapi. Aku mengeratkan pelukanku di lengan Ayah dan berbisik di telinganya. "Lihat ayah, calon menantumu sangat tampan."

Ayahku tersenyum. Ia melirikku melalui bahunya sembari mengusap tanganku dengan tangan kanannya. "Hem... pilihanmu luar biasa." tanggapnya.

Mendengar respon ayah, aku beralih memandang ibuku- Nico Olvia. Ia juga sedang melihat kearahku dengan senyuman haru. Terlepas dari apapun kata orang lain, aku sangat bersyukur orang tuaku tak pernah meragukan pilihanku ini.

Beberapa bulan setelah pernikahan, aku masih mendengar bisik-bisik dari teman dan tetanggaku. Kata mereka, Zoro- seorang pelatih kendo di dojo dengan penghasilan yang tidak tetap, sangat beruntung mendapatkanku - seorang wanita cantik, cerdas dan memiliki karier cemerlang. Sebenarnya, aku cukup geram dengan itu. Mengapa mereka tidak bisa melihat betapa bahagianya aku menjalani kehidupan rumah tangga bersamanya. Namun, aku memilih mengabaikannya. Suatu saat mereka akan mengerti.

Aku benar-benar bahagia menikah dengan Zoro. Dia selalu berlaku lembut kepadaku. Dia selalu berusaha menjadi suami yang baik untukku. Dia tidak pernah absen untuk mengantar dan menjemputku di tempat kerja menggunakan motor bebek kesayangannya. Mungkin itu yang membuat teman-temanku semakin menganggapku turun kelas. Dari mobil mewah ke motor bebek. Aku heran, mengapa orang-orang selalu mengukur kebahagian dari materi?

Zoro selalu berusaha keras untuk memenuhi kebutuhanku. Siang hari, dia melatih anak-anak di dojo. sedangkan malam hari, dia bekerja sebagai bartender di bar pusat kota. Ia memiliki harga diri yang sangat tinggi sebagai seorang suami. Ia tak pernah membiarkanku menggunakan uangku untuk kebutuhan rumah tangga kami. Aku mengerti, dan sangat hati-hati menjaga harga dirinya.

Kami hanya memiliki sedikit waktu untuk bersama. Oleh karena itu, aku berusaha terjaga di jam-jam Zoro pulang kerja. Hanya untuk sekedar menyambutnya pulang, membuatkan segelas teh hangat dan duduk dipangkuannya. Saling bertukar cerita tentang kegiatan hari-hari kami, hingga aku tertidur dipangkuannya.

Dua tahun menikah, kami di karuniai seorang putri kecil. Kami memberinya nama HANA. Persis seperti namanya, ia adalah gadis kecil yang cantik bagai bunga.

Hana tumbuh dengan baik. Ia sangat dekat dengan papanya. Ia menyukai dongeng tentang putri dan pangeran. Ia mempersentasikan diri sebagai seorang putri, dan papanya sebagai gambaran seorang pangeran. Mama setuju, Sayang. Papamu adalah pangeran tampan yang baik dan bijak di kerajaan keluarga kita.

Aku ingat ketika aku mengajak Zoro untuk menghadiri acara reuni SMAku. Aku bersyukur dan turut senang melihat teman-temanku telah sukses dilihat dari cara mereka berpenampilan dan deretan kendaran mewah yang terparkir di depan gedung pertemuan. Aku sama sekali tak merasa minder atau rendah diri ketika memakai mobil bekas Toyota Corolla 2008. Aku ingat betapa bahagianya Zoro bisa membeli mobil itu. Katanya, dia bisa mengantarku kerja tanpa takut hujan maupun panas.

Sebagaimana mestinya, aku dan teman-temanku saling menanyakan kabar masing-masing setelah belasan tahun tidak bertemu. Aku geram ketika mereka mengabaikan Zoro setelah tahu bahwa dia hanya seorang pelatih di dojo. Mereka membanggakan suami-suami mereka yang seorang pengusaha sukses. Sungguh itu membuatku muak!. Ingin rasanya aku mencakar wajah teman di depanku ketika dia terang-terangan meremehkan Zoro.

Aku tidak betah berlama-lama di situasi itu. Aku memutuskan untuk segera pulang. "Kenapa pulang? Acaranya belum di mulai lho." Tanya Zoro ketika kami sudah berada di luar gedung. "Hm.. pokoknya aku mau pulang". Rengekku persis seperti anak kecil yang sedang tantrum. Ia hanya mengerutkan kening melihat tingkahku yang tak biasa. Ia menghela napas dan mengacak-acak rambutku kemudian menuruti permintaanku. Kami berjalan ke parkiran dengan jari-jari tangan kami yang saling terjalin.

Ketika di parkiran, kami bertemu dengan Crocodile. Aku selalu ketakutan ketika melihat dia. Saat itu, aku hanya menunduk dan meremas genggaman tangan suamiku. Zoro pun balas meremas tanganku seakan berkata "tenang, ada aku di sini".

Kami berpapasan tanpa berniat saling menyapa, namun Crocodile mengucapkan beberapa kata setelah berada di belakang kami. "Wow... kamu masih saja sexy, Robin. Aku masih bisa menerimamu jika kau ingin kembali padaku." Katanya.

Meskipun aku tidak melihatnya namun aku bisa membayangkan dia berkata dengan wajah yang menjijikkan.

Zoro menghentikan langkahnya setelah mendengar apa yang di katakan Crocodile. Sebelum aku dapat berpikir apa yang akan di lakukannya, ia sudah memutar badan dan memberikan bogeman mentah di wajah buaya itu. Sebenarnya aku puas melihat itu. Namun, aku harus menghentikan Zoro sebelum dia mengotori tangannya dengan menanggapi kelakuan Crocodile. Aku menyeretnya masuk ke mobil dan segera pergi dari tempat itu.

Itu adalah kali kedua Zoro menghajar Crocodile. Pertama adalah ketika Crocodile menyeretku ke sebuah gang sempit. Ia memarahiku habis-habisan karena aku tak memakai baju sexy yang ia belikan ketika berkumpul dengan teman-temannya. Aku tak mengerti mengapa lelaki buaya itu tak cemburu ketika teman-temannya memberikan tatapan menjijikan terhadapku. Saat itu Zoro menyelamatkanku. Ia memberikan satu pukulan di wajah Crocodile dan membawaku menjauh dari buaya itu.

"Kenapa kau menghentikanku, Robin. Dia pantas mendapatkannya." Zoro terus ngomel sepanjang perjalanan pulang.

Setelah sudah berjalan jauh, aku menghentikan mobil dan mencium pipi Zoro. "Terima kasih." Kataku dengan senyum nyengir. "Aku tak mau suamiku menjadi pembunuh."

Zoro hanya menghela napas. Ia menyentuh pipiku dan memberikan kecupan manis di bibirku. "Aku mencintaimu, Robin." -bisiknya. "Aku tahu." Jawabku.

Lihat! Aku ingin orang-orang yang bertanya-tanya mengapa aku lebih memilih Zoro daripada Crocodile melihat ini. Zoro memperlakukanku dengan lembut, sangat berbeda dengan Crocodile.

💜

Suatu hari Zoro sedang tidak enak badan, dia tidak bisa mengantarku pergi kerja ataupun mengantar Hana ke sekolah. Dia juga tidak mengijinkanku menyetir mobil sendirian sehingga aku dan Hana harus pergi menggunakan Taksi.

Waktu itu Hana masih duduk di bangku TK. Sekolahnya tidak jauh dari rumah. Jadi, aku menurunkan Hana di sekolahnya dan sekedar menyapa gurunya kemudian kembali melanjutkan perjalanan ke kantor.

Setelah itu, aku tidak ingat apa lagi yang terjadi.

Yang aku ingat, Aku terbangun dengan berbagai alat kesehatan menempel di tubuhku. Pemandangan pertama yang aku lihat adalah seorang pria kurus dengan rambut hijau yang acak-acakan serta kumis dan jenggot yang tak terawat. Dia menangis dan berkali-kali mengucap syukur. Dia memeluk dan menciumi wajahku. Ah~ sepertinya aku tertidur cukup lama.

Zoro, apakah itu kamu? Apa yang terjadi denganmu? Apa kau tak makan dengan benar selama aku tidur?

Beberapa saat kemudian ada 3 orang yang masuk ke kamarku. Dua orang di belakang aku tahu, mereka adalah ayah dan ibuku. Namun aku bertanya-tanya siapa gadis yang bersama kedua orang tuaku. Dia cantik dan memiliki rambut panjang. Matanya berkaca-kaca dan berhambur memelukku. Dia memanggilku "mama".

"Hana?" Bisikku. "Iya mah, ini Hana" jawabnya masih terisak dalam pelukanku. Entah berapa lama aku tertidur. Aku tak ingat Hana sudah memiliki rambut panjang yang mencapai pinggangnya.

Setelah itu aku baru menyadari, aku tidak dapat menggerakkan kakiku. Kata dokter, aku lumpuh akibat dari kecelakaan yang aku alami.

Saat itu aku benar-benar syok. Aku hancur. Apa yang akan aku lakukan jika aku tidak bisa berjalan?

Namun Zoro memeluk dan menenangkanku. Dia berjanji untuk selalu menjagaku.

Seminggu berada di rumah, aku hanya memikirkan kakiku. Aku semakin merasa tidak berguna setelah melihat Zoro harus mengurus semua pekerjaan rumah, merawatku dan juga bekerja. Saat itu, aku berpikir lebih baik mati. Itu pasti lebih mudah untuk Zoro.

Aku hampir saja mengiris pergelangan tanganku menggunakan pisau buah jika Zoro tak melihat aksiku waktu itu. Dia langsung merebut pisau itu, sedangkan aku malah memberontak dan berteriak. Jelas kelakuan seseorang yang sedang frustasi.

"ROBIN...!" Teriak Zoro sukses membuatku diam. Dia tak pernah membentakku sebelumnya, dan itu cukup membuatku terkejut. Namun tak berapa lama kemudian ia berlutut di hadapanku dan mengubur wajahnya di pangkuanku. Aku mendengar dia terisak di sana. Sedangkan aku lagi-lagi hanya diam. Melihat Zoro yang selalu baik padaku membuatku semakin terluka.

Setelah menangis cukup lama, ia perlahan mengangkat wajahnya dan menatap wajahku. Masih dengan wajah sendu, dia menangkup kedua pipiku dengan telapak tangannya dan berkata "Robin.. kau tak tahu betapa bahagianya aku ketika melihatmu membuka matamu lagi setelah tertidur sangat lama. Napasmu adalah hidupku, dan senyummu adalah nyawaku. Aku mohon tetaplah hidup. Kau harus membunuhku lebih dulu jika kau ingin mati. Tapi apa kau tak memikirkan Hana?"

Aku hanya menatapnya. Mencoba menyelam kedalam matanya dan mencari setitik kebohongan dari kata-katanya. Sayang.., aku tak menemukannya.

Sejak kejadian itu Zoro selalu berusaha di dekatku. Jika terpaksa pergi, ia harus memastikan tidak ada apapun yang berbahaya di dekatku. Dan jika dia bekerja, dia meminta ibu untuk menjagaku.

Beberapa hari setelah itu, Ibu menceritakan semuanya. Katanya, aku koma selama 3 tahun setelah kecelakaan. Dan selama itu Zoro berusaha keras untuk membuatku tetap hidup. Dokter hampir angkat tangan, namun Zoro terus mendesak untuk memberikan segala perawatan untuk kesembuhanku. Dia tak menyerah selama aku masih bernapas.

Mendengar kenyataan itu membuatku merasa bersalah. Zoro berjuang menjaga nafasku, namun aku malah ingin menyerah.

Aku mencoba menerima keadaanku sendiri dan berusaha untuk mandiri. Zoro sangat mendukungku untuk itu. Dia sering mengajakku berjalan-jalan sekedar keliling komplek. Aku dapat mendengar tetangga berkata betapa beruntungnya aku mempunyai suami yang telaten seperti Zoro. Itu mengingatkanku dengan gosip-gosip yang mereka bisikkan di awal pernikahan kami.

Aku juga merasa Hana menjadi lebih manja kepadaku. Ia sering meminta tolong untuk sekedar disuapi makan, menyisir rambut atau dibacakan dongeng sebelum tidur. Aku tahu, dia sebenarnya bisa melakukannya sendiri. Dia hanya ingin bermanja padaku saja. Dan itu membuatku senang. Aku merasa masih berguna untuknya. Terima kasih, sayang. Terima kasih.

Aku menemukan semangat hidupku kembali. Aku ingin menemani Hana tumbuh.

Dan sekarang. Aku dan Zoro tengah duduk santai di balkon. Kami biasa menghabiskan malam berdua dengan menikmati keindahan langit malam yang bertabur ribuan bintang.

Ah.. tidak. Aku merasa bintang-bintang itu yang sedang menonton kami. Seakan aku sedang menjadi pembicara di atas panggung, dan bintang-bintang itu sebagai audiennya. Aku ingin menyampaikan pada mereka bahwa...

Aku, Nico Robin. Sangat beruntung menjadi istri Roronoa Zoro.

__________________________
Selesai.