Actions

Work Header

Fotomu di Galeriku

Summary:

Namun bukan Jaemin namanya kalau tidak melakukan hal aneh bin ajaib. Bukannya memotret para sahabat itu malah ia dengan imutnya, berpose dengan jari telunjuk yang menekan pipinya yang menggembung, mengabadikan dirinya sendiri di HP Renjun.

“Mas, bukan mas-nya yang selfie, fotoin kita!”

“Oh bilang dong yang jelas.”

Chapter 1: Jatuh Suka

Notes:

Direkomendasikan untuk membaca chapter ini sambil mendengarkan Tulus - Jatuh Suka

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

Ramai riuh memenuhi gedung resepsi. Alunan lagu romantis klasik menemani Renjun menyantap semangkuk kecil soto, setelah tadi satu porsi sate ayam dan lontong habis dibabatnya. Ia lirik arloji yang melingkar di pergelangan tanan kirinya. Waktu menunjukkan pukul setengah tiga sore. Sudah dua puluh tujuh menit Renjun masuk dan berbaur dalam keramaian ini. Hampir setengah jam! Tau gitu gue berangkat belakangan, batin Renjun.

Teman-teman yang berjanji bertemu di lokasi acara tak kunjung terlihat batang hidungnya. Sempat berpikir untuk Renjun tinggal saja dan terpaksa membatalkan rencana yang sudah mereka susun setelah ini. Bersamaan dengan pembukaan kafe baru milik kakak sepupu Chenle, adik kelasnya semasa SMA dulu, Renjun dan teman-temannya (termasuk Chenle) berencana mendatangi kafe tersebut. Sebagai penglaris, kata Chenle. Apa iya kedatangan mereka bisa se-berpengaruh itu?

Tapi kembali lagi, bukan itu intinya! Renjun mengambil ponsel yang sedari tadi terbengkalai di kursi sebelah ia duduk. Membuka kembali ruang obrolan bersama teman-temannya. OTW sudah dari tiga puluh lima menit yang lalu. Menurut Renjun seharusnya perjalanan dari tempat mereka ke gedung acara tidak memakan waktu selama itu. Tapi nyatanya sampai saat ini ia sendirian di tengah orang-orang ini.

Tidak benar-benar sendiri. Renjun sempat bertemu beberapa kenalan yang terlihat familiar. Kebetulan ini kan resepsi pernikahan kakak kelas SMA Renjun, jadi ada satu dua wajah yang tidak asing. Sempat basa-basi juga dengan beberapa guru SMA-nya. Yeri, kakak kelasnya yang satu ini memang dulunya siswi populer dan berprestasi. Jadi tidak heran ia mengundang para guru dan staf sekolah untuk ikut berbahagia.

“WOY!” Kendati suasana sekitar sangat ramai, Renjun yang sedang memainkan ponselnya tetap saja terkejut ketika seseorang berteriak di depannya. “Sendirian aja, Kak!”

Renjun sudah berdiri dan siap melayangkan tinju kecilnya ke arah orang tersebut, namun ditahannya mengingat dia sedang berada di acara yang penuh dengan kehangatan dan kebahagiaan ini. Tidak mungkin ia merusaknya dengan pertengkaran karena hal sepele. Lagipula Renjun tidak akan menang karena dia sendirian sedangkan teman-temannya berempat. “Kan gara-gara kalian molor juga gue jadi sendirian!”

“Maaf, Ren. Nunggu ni anak satu lama banget dandannya.” Jawab Haechan menunjuk Ningning. Yang ditunjuk hanya tersenyum dengan bangganya dan tanpa rasa bersalah, memamerkan riasan yang ia kerjakan cukup lama yang menyebabkan terlambat dari waktu yang dijanjikan.

“Beneran? Bukan lo yang pacaran muter-muter dulu sama Hina?” Tuduh Renjun dengan nada bercanda.

“Ya elah, bro. Kalo jadi jomblo bikin lo selalu berpikiran negatif terhadap pasangan yang sedang berbahagia, mending buruan cari pasangan juga.” Renjun mendapat ceramah dari Haechan dan tinju ringan dari Hina.

“Canda pacaran. Bosen banget gue. Untung prasmanannya banyak, jadi gue bisa nunggu sambil icip macem-macem.” Cerocos Renjun sambil menunjukkan gelas, piring dan mangkok bekas icip-icipnya tadi.  “Udah salaman belum sama kak Yeri sama kak Mark?”

“Udah tadi sebelum nyamperin lo, Kak. Btw, ternyata gue tau kak Mark! Kita sering ketemu di lapangan basket di GOR, terus tanding bareng. Anjir, sempit banget dunia!” Chenle menjelaskannya dengan semangat karena secara tidak langsung berkaitan dengan hobinya bermain basket.

“Ren, tadi pas salaman sama kak Yeri, dia pesen suruh nyampein ke lo. Katanya lo suruh nyumbang lagu-” Kata Haechan.

“Emang iya?” Potong Ningning.

“Iya, dia pesennya sama gue. Lo nggak denger aja, Ning.”

“Masih inget aja sih dia. Becandaan jaman SMA juga.” Gumam Renjun geli mengingat kembali momen semasa SMA.

 

Renjun baru saja turun dari panggung sembari memegang dadanya kuat. Jantungnya masih saja berdegup kencang padahal penampilannya sudah usai dan diakhiri dengan tapukan riuh serta sorak sorai penonton. Renjun sudah tidak peduli apakah dia akan menang atau tidak, yang terpenting adalah gilirannya sudah ia lalui dan ia sudah mencoba memberikan penampilan yang terbaik. Sisanya ia serahkan pada keputusan juri.

“Bagus banget sih suaranya.” Suara salah seorang panitia pensi mengalihkan perhatiannya. Renjun mengenalnya, Yeri. “Bisa kali suatu saat lo nyanyi di nikahan gue hahaha.” Goda Yeri.

“Hahaha bisa kak, boleh banget. Request aja lagunya ntar gue nyanyiin.”

 

Tak menyangka Yeri masih mengingatnya. Waktu itu mereka sama-sama tahu kalau itu hanya candaan belaka. Tapi sekarang, kalau mau serius juga tidak apa-apa. Renjun tidak masalah. Toh itu bukan sesuatu yang berat untuk dilakukan. Menyanyi bagi Renjun itu bukan perkara yang sulit. Anggap saja sebagai hadiah pernikahan darinya untuk Yeri.

Sayangnya Yeri tidak menyebutkan lagu apa yang ingin ia dengar. Jadi berdasarkan saran dari temen-temannya Renjun memilih lagu yang cocok diperdengarkan di hari yang bahagia ini. Setelah mencocokkan nada dengan pemain band, alunan gitar akustik dan keyboard mulai terdengar.

 

Sungguh ku tidak memiliki daya

Di depan harummu

Sungguh terkunci kata yang tertata

Di depan ragamu

 

Menyadari suara yang tidak asing di pendengarannya menggema di dalam ruangan, Yeri mengalihkan perhatiannya yang semula penuh kepada Mark di sampingnya ke arah live band berada. Benar saja, di sana pemuda berambut merah muda sedang bernyanyi, mengabulkan permintaannya. Yeri menunjuk ke arah Renjun dan membisikkan sesuatu pada Mark. Mark mengangguk-angguk tanda mengerti.

 

Ini semua bukan salahmu

Punya magis perekat yang sekuat itu

Dari lahir sudah begitu

Maafkan

Aku jatuh suka

 

Suara Renjun mengalun indah dan merdu. Senyumnya terlihat manis di sela-sela nyanyiannya. Layaknya lirik lagu yang ia senandungkan, beberapa undangan seperti tersihir oleh suaranya sampai menghentikan kegiatan mereka sementara untuk memperhatikan penampilannya. Banyak pasang mata dan telinga memfokuskan perhatiannya kepada Renjun. Termasuk seseorang yang sedari tadi sibuk mengabadikan setiap momen yang terjadi di acara ini. Fokusnya kini juga berganti pada Renjun. Ia bidik dan ia simpan gambaran Renjun yang sedang bernyanyi di sana. Tak sadar senyumnya mengembang dibalik kamera. Penampilan Renjun memang semenarik itu.

Acara terus berlanjut sampai sesi pelemparan buket bunga. Salah satu prosesi yang diyakini bisa membuat siapapun yang bisa menangkap buket bunga yang dilempar pengantin untuk bisa segera menyusul menikah. Banyak dari para undangan yang hadir sudah berkumpul di tengah area kosong yang sudah disiapkan. Dari atas pelaminan Yeri dan Mark telah menggenggam sebuket bunga di tangan mereka. Menunggu aba-aba dari pembawa acara.

Tidak seperti keempat temannya yang lain, Renjun hanya melihat jalannya sesi tersebut dari belakang area pelemparan bunga. Bertahan tidak mau ikut meski sudah dipaksa dengan alasan yang bervariasi.

“Ayo Kak!” Ningning yang mengajaknya pertama kali.

“Apaan? Gue nggak ada calonnya.”

“Emang gue ada? Seru-seruan aja kak!” Chenle terkekeh menimpali.

“Siapa tau abis ini lo dapat jodoh, Ren!” Haechan ikut memberi motivasi. Renjun menggeleng sembari tangannya bergerak seperti mengusir teman-temannya.

Hitungan mundur sudah diteriakkan. Dengan senyum penuh kebahagiaan pengantin baru itu melemparkan buket bunganya. Buket terlempar sangat kuat. Melayang di atas para undangan yang berseru sambil kedua tangan mereka terangkat mencoba meraih buket tersebut.

Siapa yang menduga buket bunga akan terlempar cukup jauh, lebih jauh bahkan sampai melewati area yang diperkirakan? Siapa pula yang menduga buket bunga tersebut melandai dan menabrak tepat di dada seorang Huang Renjun? Tidak ada! Bukan Mark dan Yeri; bukan juga Ningning, apalagi Renjun sendiri.

Namun itu tidak menghentikan tepuk tangan dan sorak sorai dari siapapun yang hadir di sana pada saat itu. Ningning yang kebetulan merekam momen itu dari awal, berlari menghampiri Renjun yang terdiam kebingungan. Disusul Haechan, Hina dan Chenle.

“Kak, selamat kak! Yeeeyy!” Chenle mengangkat satu lengan Renjun yang bebas.

“Ren, nikah Ren! Hahaha.” Hina ikut berseru di sampingnya.

Bibir Renjun menggumamkan ‘Gue?’ dengan ekspresi masih penuh tanda tanya. Yang mana mengundang tawa teman-temannya. Yeri yang menyaksikan dari jauh mengacungkan dua ibu jarinya untuk Renjun. Mark bersiul dengan nyaring, menambah riuh dan tepuk tangan orang-orang.

Baru setelah beberapa menit berlalu, Renjun tersadar kalau dia menjadi pusat perhatian saat ini. Ia menutup wajahnya yang malu dengan buket bunga yang tidak sengaja ia dapatkan tadi. Namun sedetik kemudian memutuskan untuk ikut dalam keseruan yang sedang berlangsung, Renjun refleks mengangkat dan melambaikan tangannya. Melemparkan kissbye kepada para undangan yang masih menaruh perhatian padanya. Sedikit membungkukkan badannya sebagai ucapan terima kasih karena telah memberinya ucapan selamat atas buket bunganya.

Sepertinya Renjun harus menyiapkan mentalnya untuk beberapa minggu ke depan karena ia tahu teman-temannya tidak akan tinggal diam soal apa yang terjadi barusan.

 

Setelah puas menikmati suasana resepsi dan merasakan berbagai jenis hidangan yang disajikan, tiba waktunya untuk mereka pulang. Berjalan menuju pelaminan, mereka menghampiri Mark dan Yeri. Memanjatkan satu dua harapan untuk pengantin baru itu lalu berpamitan.

“Foto dulu yuk foto! Jaem, foto yang bagus ya, temen-temen gue nih.” Ajak Yeri. Fotografer yang dipanggil Jaem di depan mereka sudah siap dengan kameranya.

“Siap ya, satu dua ti-“ Cekrek! Suara shutter berbunyi tepat setelah fotografer memberi aba-aba. “Sekarang gaya bebas.”

Masing-masing bergaya dengan pose andalannya. Chenle mengacungkan ibu jari di depan dadanya. Pose ala bapak-bapak kalau kata Ningning. Ningning sendiri membuat bentuk hati dengan ibu jari dan jari telunjuknya, ala-ala idol Korea.

Renjun mengeluarkan ponselnya dan menyerahkan pada fotografer pengantin. “Mas tolong foto pake HP saya.”

“Oh ini masnya yang tadi dapet buket bunga ya?” Tanya fotografer saat menerima ponsel Renjun dan sempat memperhatikan pemiliknya sekilas.

Pertanyaan yang dilontarkan fotografer itu sontak membuat teman-teman Renjun tertawa terbahak-bahak. Ujian mental resmi dimulai, batin Renjun. “Udah, udah ayo pose lagi!”

Namun bukan Jaemin namanya kalau tidak melakukan hal aneh bin ajaib. Bukannya memotret para sahabat itu malah ia dengan imutnya, berpose dengan jari telunjuk yang menekan pipinya yang menggembung, mengabadikan dirinya sendiri di HP Renjun.

“Mas, bukan mas-nya yang selfie, fotoin kita!”

“Oh bilang dong yang jelas.”

“Maaf ya guys, si Jaemin ini anaknya emang agak unik.” Canda Mark.

Jadi Jaemin mengarahkan kamera ponsel Renjun ke arah pelaminan. Badannya agak membungkuk dan kakinya memasang kuda-kuda. Yeri menepuk dahi dan Mark menggeleng-gelengkan kepalanya terkekeh, memaklumi keanehan Jaemin. Sedang yang lain berusaha menahan tawa. “Siap ya, satu dua...”

Cukup lama Jaemin tidak bergerak, begitu pun Renjun dan kawan-kawan. Renjun pikir ada masalah dengan ponselnya.

“Nungguin ya?” Pertanyaan Jaemin barusan mengundang protes dari semuanya. Mark hanya tertawa menyaksikan kejahilan temannya, sudah biasa. Hanya saja dia tidak menyangka Jaemin akan jahil juga kepada teman-teman Yeri. “Oke, oke kali ini serius.”

Jadi mereka kembali dengan senyum dan gaya masing-masing. Berdiam diri sampai Jaemin selesai menghitung sampai tiga. “Ganti gaya! Satu dua tiga. Oke udah.”

“Sip, makasih mas.” Jaemin mengangguk dan mengembalikan ponsel tersebut kepada pemiliknya. Tangan mereka tidak sengaja bersentuhan membuat rambut-rambut halus Jaemin meremang.

Setelah itu Renjun, Chenle, Ningning, Haechan dan Hina benar-benar berpamitan kepada Yeri dan Mark.

 

><>< 

 

Sesuai dengan rencana awal, usai menghadiri pesta pernikahan Mark dan Yeri, Chenle mengajak teman-temannya untuk mengunjungi kafe milik kakak sepupunya yang belum lama ini dibuka.

Dekorasi dan interior kafe tersebut mengusung konsep vintage. Dengan pintu berwarna merah tepat di antara dinding kaca besar dengan ruas-ruas besi yang membagi kaca tersebut menjadi beberapa bagian. Terdapat meja panjang yang menempel di dinding kaca tersebut dan kursi tinggi yang berderet di baliknya. Kemudian kursi dan meja kayu terpisah yang ditata dengan apik. Lebih masuk lagi ada area tempat duduk dengan sofa panjang dan meja yang lebih pendek. Lampu-lampu menggantung dengan jarak setiap dua meter. Di beberapa sudut ruangan kafe terdapat pot-pot tanaman dan atau rak buku serta dinding ruangan kafe dengan berbagai lukisan berbingkai.

Chenle mempersilahkan teman-temannya duduk di area sofa. Menyuruh teman-temannya untuk menyamankan diri. Sedangkan dirinya hendak menemui kakak sepupunya terlebih dahulu.

“Kak, kalo mau pesen aja dulu, gue mau ketemu kakak gue dulu!”

“Mbak, gue yang bayar!” Kata Chenle beralih pada seseorang di balik mesin kasir. Ya, pegawai kafe sudah hapal siapa Chenle, karena Chenle juga ikut dalam mempersiapkan pembukaan kafe ini.

Haechan dan Hina duduk bersebelahan, dan duduk di hadapannya Renjun dan Ningning. Keempatnya fokus melihat-lihat buku menu, memutuskan apa yang ingin mereka pesan. Setelah itu salah satu dari mereka memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan mereka. Pesanan sudah dicatat dan mereka tinggal duduk manis menunggu pesanan diantar ke meja mereka.

“Kak Ren, minta fotonya yang tadi dong!” Pinta Ningning disela-sela menunggu pesanan mereka.

“Oke, gue kirim semua ke grup ya.”

Sedang Haechan sibuk menuruti permintaan Hina untuk mengambil beberapa foto di beberapa sudut kafe tersebut, Renjun membuka ponselnya untuk melihat kembali foto mereka tadi dengan pengantin baru, Yeri dan Mark.

“What the-?!” Seru Renjun saat ia menemukan foto seseorang yang jelas-jelas bukan foto dari salah satu teman-temannya melainkan yang kalau ia tidak salah ingat adalah fotorgrafer pernikahan Yeri dan Mark.

“Apaan kak?” Ningning kepo setelah mendengar nada kaget Renjun.

“Lihat nih, dia beneran selfie di HP gue, kirain bercanda doang tadi hahaha.”

“Mana-mana coba liat!” Ningning merebut ponsel dari tangan Renjun. Memperhatikan foto yang terpampang di layar ponsel Renjun. Zoom in, zoom out. Tidak tahu apa yang dia cari. Lalu gelak tawa nyaringnya ikut menggema di dalam kafe. Seketika membuat mereka menjadi pusat perhatian. Membuat Hina dan Haechan kembali ke tempat duduk mereka. Ingin tahu apa yang membuat Ningning tertawa sekeras itu.

“Apa sih?!” Seru Hina.

“Ini kak, liat deh!” Balas Ningning sambil menunjukkan layar ponsel milik Renjun kepada Hina dan Haechan di sampingnya yang juga merasa penasaran.

“Lah ini bukannya fotografer temennya kak Mark yang fotoin kita tadi?” Haechan masih mengingatnya.

“Iya! Aneh banget. Sempet-sempetnya foto di HP gue.”

“Suka kali sama lo, Ren! Modus itu.” Celetuk Haechan.

“Ngaco banget!”

Renjun mengambil kembali gawainya dari genggaman Ningning. Kembali pada tujuan awalnya untuk mengirim foto-foto mereka ke grup obrolan mereka. Setelahnya ia perhatikan lagi foto si fotografer aneh yang tersimpan di galerinya. Ia terkekeh dan menggelengkan kepalanya geli. Waktu Mark bilang dia agak unik, Renjun tidak mengira akan seunik ini. Kemudian ia sentuh logo tong sampah di pojok kanan bawah layar gawainya. Menekan kotak bertuliskan Yes yang muncul setelahnya.

“Loh kak! Kok dihapus fotonya?” Seru Ningning di sebelahnya yang ternyata diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan Renjun.

“Ya apa pentingnya buat gue? Temen aja bukan, kenal juga ngga.”

“Seenggaknya kirim dulu kek fotonya ke gue.”

“Ngga sopan tau nyebarin foto orang tanpa sepengetahuan orang itu.”

“Dih! Gatekeeping ya lo kak, ngga seru! Mentang-mentang masnya cakep, disimpen sendiri.”

“Astaga Ningsih, ngga gue simpen! Gue hap-“

Datang sambil membawa pesanan teman-temannya, Chenle menyela, “Baru gue tinggal bentar, udah berantem aja kalian! Ini lagi ngga nengahin malah pacaran terus.”

“Berantem anak SD, ntar juga selesai sendiri, Le.” Jawab Haechan asal.

“Ngga berantem, bercanda aja sih. Kan gue sayang sama Ningsih.”

“Ningning, kak!”

“Emang berantemin apa sih? Gue ketinggalan apa?” Tanya Chenle ingin tahu.

“Lo inget ngga kak tadi fotografer pernikahannya Kak Yeri?” Ningning balas bertanya. Chenle mengangguk tanda bahwa dia mengingatnya. “Sempet-sempetnya dia selfie di HP-nya Kak Renjun hahahaha! Kata Kak Haechan itu dia lagi modus sama Kak Renjun hahahaha!” Lanjut Ningning disusul kembali dengan tawanya yang menggelegar. Tak mau kalah, Chenle ikut mengeluarkan tawanya yang lebih keras dan melengking. Orang-orang menyebutnya tawa lumba-lumba.

“Asik, bentar lagi ada yang ngga jomblo lagi!” Secepat kilat Chenle bergabung dengan kubu penggoda Renjun bersama teman-temannya yang lain.

“Oh iya tadi lo juga dapet buket bunga kan ya? Tanda-tanda nih!” Hina yang sedari tadi lebih sering mendengarkan sekarang ikut menambahi.

“Renjun taken!” Tiba-tiba Haechan berseru dan mengangkat gelas es kopinya! Seperti memiliki satu pemikiran yang sama dengan Haechan, ketiga temannya yang lain turut mengangkat gelas minumannya dan turut merayakan—mengejek Renjun lebih tepatnya.

Renjun sudah menduga teman-temannya tidak akan cepat lupa dengan insiden sore tadi. Sekarang ditambah soal fotografer aneh itu. Rasanya Renjun ingin pergi saja dari sini bersama rasa malunya.

Notes:

Terima kasih yang sudah baca sampai akhir chapter! Cerita ini akan dilanjutkan, tapi pelan-pelan. (TMI: Bagian yang mas-mas fotografer selfie di HP itu kejadian nyata haha kejadian sama temen aku, sisanya aku tambah-tambahin sendiri hehe)