Chapter Text
Spesial gift for Helen ♡ (@Moonday_Leen on twitter)
Bertaruh setinggi angka yang bisa ia pasang, merupakan kesenangan tersendiri ketika hasil yang didapat serupa dengan prediksi. Melakukan taruhan serta menjalankan berbagai rencana menuju tujuan: pun merupakan komponen dalam kesenangan mengetes keberuntungan. Memilih salah satu tujuan paling mustahil, namun dengan hasil yang menggiurkan: sangat patut Aventurine coba.
Perkenalkan, sang pemimpin yang mengalahkan jajaran calon ketua OSIS pada pemungutan suara terdemokrasi seantero sekolah; Aventurine. Semua orang tidak menduga, ia berdiri sebagai pemenang, mengalahkan Ratio dan Gepard dalam selisih tipis. Akan menjadi seperti apa program yang ia jalankan? Tenang, semua hal yang menguntungkan berbagai pihak sudah dipegang wakilnya: Topaz.
Simpan dahulu perihal si legendaris yang memenangkan kursi kepemimpinan: satu hal yang belum ia genggam kendati berbagai hal telah ia coba; ialah perhatian Caelus.
Sepak terjangnya selama mengejar Caelus, antara lain; (1). Sengaja membuat perangkap berupa terjebak di ruang tataboga, namun yang terlaksana bukanlah kisah romansa, melainkan Caelus melakukan eksperimen memasak berbagai kudapan sampai esok harinya mereka berdua dihukum, (2). Dengan frontal mengajak Caelus berkencan, namun ditolak mentah karena Caelus harus mengikuti kelas tambahan. (3). Sebagai seorang kakak kelas yang baik lagi mapan, Aventurine mentraktir Caelus makan di kafetaria. Namun, si siswa yang sering disamakan dengan rakun itu malah membawa banyak orang untuk makan bersama; alhasil, kafetaria pun penuh sesak mirip tempat pembagian sembako, dan Aventurine tidak memiliki momentum berduaan dengan Caelus. Sejauh ini, baru tiga peristiwa krusial tadi yang mengindentifikasi betapa sialnya nasib Aventurine terhadap Caelus.
Ia tidak mengakui ia suka, Aventurine hanya mengaku tertarik pada Caelus. Mengejar hal-hal yang diinginkan sampai dapat, merupakan ambisinya yang terdalam. Respons Caelus jika ia dekati selalu bervariatif meski dalam satu makna yang sama; curiga, kaget, takut serta waspada.
Aventurine menjaga sikapnya agar tidak begitu terbuka pada Caelus, setidaknya sampai Valentine nanti. Ya! Valentine! Satu bulan setelah diangkat sebagai ketua OSIS, Aventurine berfokus agar mendapat momen romantis bersama si adik kelas.
"Selamat sore, Caelus. Hendak pergi pulang, hm?" Aventurine menyelinap masuk ke belakang Caelus: saat lelaki itu tengah meraih sepatu luar ruangan.
"Woah—" Caelus dibuat terkejut karenanya: sepatu di tangan turut terjatuh. "Aventurine ... senpai. Iya, begitulah." Buru-buru sang adik kelas berbalik ke belakang, menghadap pada si senior.
Aventurine terhibur oleh respons Caelus. "Apa hanya padaku ekspresimu selalu hidup begitu?" Tawa jenaka yang khas menjadi melodi pelengkap pertemuan mereka.
"Aku ini kaget, Senpai." Caelus tidak paham jalan pikiran pria pirang di hadapan.
"Heee, kagetmu berbeda dari anak yang lain. Membuatku semangat~"
Caelus memberikan ekspresi paling datar yang pernah ada, kemudian anak itu pamit sembari memungut sepatu; dan memasangnya di luar sana setelah jauh dari Aventurine.
Aventurine lanjut tertawa; berupa kekehan rendah yang amat terhibur. Untuk saat ini, si pirang akan bersabar pada sedikit interaksi. Tunggu sampai valentine tiba!
°°°
Stelle menggebrak meja belajar Caelus, dimana di sana si adik tengah mencatat salinan tugas dari buku si kakak.
"Hei! Tulisanku jadi melenceng begini!" Caelus segera merespons Stelle dengan mengangkat kepala disertai ujaran protes.
"Adikku, kita harus jualan." Jika Stelle sudah memakai embel-embel 'adikku', niscaya sesuatu yang serius sedang terjadi.
Caelus mengerutkan dahi dengan hati berdebar: mau ngapain lagi kakaknya kali ini? Sebelumnya Stelle berbuat begitu demi bolos bareng atau melakukan pekerjaan sampingan di kafe maid.
Stelle mengangkat ponselnya, menunjuk pada benda ekslusif yang semua gamer sejati harus punya: Nintendo, yang lagi turun harga! Jemari Stelle menggeser layar, memperbesar salah satu judul gim legendaris yang tengah kena potongan harga hingga 50%! Diskon khusus bulan kasih sayang! Mereka berdua sangat mengagumi si game perintis dari segala jenis RPG itu.
"WOAAAH?!" Caelus bangkit, menjerit kegirangan menatap label diskon yang tumben sekali terpajang!
"Lihat? Kita harus jualan!" Stelle paham euforia tersebut. Ia mengangguk kuat-kuat sembari menahan haru.
"Stelle, kita 'kan punya tabungan bekas kerja sampingan waktu itu. Pasti cukup!"
Wajah Stelle yang memang dari sananya sudah tanpa ekspresi, kini dilingkupi perasaan sedih yang tidak ada bedanya: hanya bertambah kehadiran alis melengkung ke bawah saja.
"Memang banyak. Tapi tidak cukup. Kita perlu lebih banyak lagi."
"Yah ...." Euforia yang sempat berdentuman di hati Caelus, surut seketika.
"Tenang, Adikku! Kita akan jualan!" Stelle menaruh ponsel, kemudian bersedekap penuh semangat.
Sang adik pun kembali semangat.
"Kita akan sibuk selama awal bulan ini: kita akan buka jasa custom cokelat Valentine!"
Caelus menyambut ide si kakak dengan cengiran seorang gamer: tampak tertantang!
Yah, keduanya sudah menari di atas telapak tangan Aventurine, kendati momen Nintendo diskon memang terjadi secara alami. Aventurine melihat lebih dulu perihal game, kemudian memberitahukan Stelle beserta keuntungan dari membuat bisnis cokelat. Ah ya, Stelle amat cerdik, ia tahu kalau Aventurine tengah menanamkan sebuah sugesti, meski ia tidak tahu tujuannya untuk apa. Beberapa kali Stelle menolak, kerja paruh waktu atau jadi tukang pukul jauh lebih berduit! Di sinilah jabatan ketua OSIS, Aventurine pakai dengan jitu.
"Aku akan bantu mempromosikan jasamu. Kebetulan, di pihak OSIS, kami menyediakan fasilitas bagi siswa-siswi yang tertarik berniaga. Kamu akan dibantu memperluas pasar, dan kami hanya akan menerima biaya pendaftaran saja sebagai bentuk kemurahan hati~" Aventurine kala itu tersenyum seumpama seringai. "Oh kami hanya diberikan masa percobaan dua bulan oleh pembina OSIS, jika ingin merasakan berniaga yang menjamin masuknya uang lebih cepat; aku sarankan, kamu tidak menolak penawaran satu ini."
Stelle tidak memahami secara keseluruhan, namun terdengar begitu bergaya dibantu dari belakang oleh kaum elit: membuatnya jatuh ke dalam permainan! Seringaian Aventurine kian melebar. Dengan ini, pion serta taruhan sudah ia simpan di tempat yang pas. Apakah rencana kali ini berbuah manis? Atau sepahit sebelumnya? Kita lihat saja!
°°°
Aventurine bergerak laksana embusan angin; perlahan, menyejukkan serta tak terlihat tengah menggeser pion ke langkah berikutnya. Ya! Ia memesan kepada Stelle ketika orderan toko niaga gadis itu masih menghandle beberapa pesanan.
"Mau pesan juga? Silakan tulis di sini." Stelle memberikan formulir pemesanan. Aventurine mengisinya dengan sengat teliti, kemudian menyerahkan formulir tersebut pada sang gadis.
"Orderanku terakhir saja ya, Stelle-chan. Pastikan jangan terlambat~ nanti bonus dariku tak akan cair jika terlambat. Sampai jumpa~" Aventurine beranjak pergi tanpa menunggu komentar Stelle.
Jelas terlihat, mimik muka Stelle berganti warna; dari yang semula tenang, ke ekspresi terheran-heran. "Yang benar saja dia ingin memesan cokelat dengan kriteria seribet ini—Oh?" ungkapan protes Stelle surut seketika: saat menyadari nominal yang terpatri dalam formulir. "Hm, good job, Caelus. Dia harus mau melakukan ini semua demi Nintendo!"
Memang apa yang sebenarnya ditulis Aventurine? Intinya serba Caelus; cokelat buatan Caelus, yang mencetaknya Caelus, yang menghias Caelus, yang membungkus Caelus, dan nanti harus diantarkan oleh Caelus sendiri sore hari pada perayaan Valentine. Sebut saja Aventurine, terlalu bersemangat kali ini.
.
.
.
Terhitung lancar, segala persiapan Aventurine; termasuk menggiring pion serta hadiah utama ke tempat pribadi paling nyaman. Namun, pada hari-H, hari valentine: Aventurine yakini, ia tidak akan sempat menikmati Caelus di ruang ketua OSIS. Ia tidak mengira, program niaga akan sesukses ini, padahal ia mengusulkan program tersebut hanya demi menjerat Caelus. Si pria pirang menghela napas sepanjang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Jadwalnya begitu sesak di hari kasih sayang, demi mengontrol suksesi para pelaku niaga yang membentangkan sayap mereka sampai ke lingkungan sekolah lain.
Topaz menyadari ekspresi lesuh sang ketua, lantas ia mendekat sembari mengejek. "Oho? Ada yang kena batunya, nih. Bagaimana program kerjamu kali ini, Ketua? Sukses besar, bukan? Dengan ini, orang-orang yang kehasut buat memilihmu tidak akan menyesal."
Aventurine mendengus sebal pada guyonan Topaz. "Cepat selesaikan ini, aku juga punya kehidupan!" Dan memilih bergerak cepat demi menuntaskan sisa pekerjaan.
Janji yang tertulis dalam formulir pendaftaran ialah jam tiga sore. Aventurine menyelesaikan pekerjaannya sebagai ketua OSIS pada pukul lima sore. Semua jajaran elit OSIS memilih langsung pulang setelah mengobrol perihal hari ini di depan gerbang, sedang Aventurine masuk ke lingkungan kelas dan berjalan gontai menuju ruangan pribadi.
Sembari tersenyum getir, Aventurine menghela napas. "Apa yang kulakukan? Dia pasti sudah pulang, yang akan kutemui nanti cuma satu kotak cokelat: pesananku, pasti. Seperti biasa, Caelus susah kuraih." Ketua OSIS memejamkan mata, senyum miring hanya membuat perasaannya kian terluka.
Pintu digeser, Aventurine memasuki singgahsananya yang tidak jauh berbeda dengan ruangan ekskul lain. Ia terkejut mendapati Caelus tengah tertidur sembari memeluk kotak cokelat berbentuk hati pada salah satu tempat duduk: yang kesemua mejanya disusun melingkar mirip meja konferensi.
"E-eh?" Sepasang manik merah muda dengan netra unik di dalamnya; melebar. "Caelus?" Ia melangkah mendekat, berlutut satu kaki untuk mengintip ekspresi damai si adik kelas. "Dia ... menungguku? Oh, bonus. Dia pasti menunggu demi bonus." Entah bagaimana, kali ini rencananya berjalan lancar, eh? Kendati demi uang, Aventurine senang, sampai rona merah samar-samar menyapu pipi; dia merasa bahagia.
Caelus terbangun setelah ditatap cukup lama, kemudian ia duduk tegap bersama wajah yang memerah malu. "Se-Senpai! Sudah kuduga, kamu belum selesai dengan urusanmu. Ah, ini pesanan. Aku datang sendiri buat nganterin sesuai titahmu, lho!"
Caelus menyapanya, menunggunya, mempresentasikan dirinya demi Aventurine? Sang Ketua OSIS bangkit perlahan. Tampaknya sapuan hangat di pipi semakin tercetak jelas. Ia lantas menggeser kursi dan duduk bersebelahan dengan Caelus; adik kelas yang selalu membuatnya penasaran lagi terhibur.
Aventurine menyaksikan kotak hati yang dibawa Caelus. "Hm Hm! Sesuai dengan pesananku. Bisnis kalian berdua memang yang terbaik, sangat relevan dengan bonus yang akan kalian terima." Ketua OSIS merogoh saku, namun Caelus menahan tangannya.
"Tidak usah! Jangan memberikan lebih banyak dari seharusnya. Ini, happy valentine, Senpai!" Caelus dengan perangai polos nan baik, menyodorkan kotak hati berukuran sedang.
"Bukannya kamu menunggu demi bonus?" Aventurine terheran di tempat. Ekspresi yang selalu terlihat cengengesan, kini berubah terheran-heran.
Caelus menggeleng. "Aku menunggumu datang, sebab mau bilang makasih juga. Berkat pesananmu, aku dan Stelle akhirnya bisa beli Nintendo!"
"Aduh, manisnya. Aku hanya membeli apa yang ingin kubeli, kok. Sini kutambah bonus kalian!" Rasa gemas yang menyerang sanubari, memberikan Aventurine tenaga tambah untuk lanjut meraih nominal uang.
"Aku tak mau menerimanya! Aku datang bukan demi uang, aku mau berterima kasih padamu, dan juga ... maaf sudah salah sangka." Pada pedanan kalimat yang terakhir, Caelus memalingkan muka sebentar.
"Salah sangka?" Aventurine sedari tadi tersenyum: menahan gemas.
Caelus mengangguk, kembali menatap netra lawan bicara. "Aku pikir selama ini kamu mendatangiku sebab mau menjahili, ternyata aku salah. Senpai membantuku! Waktu itu, waktu terjebak di ruangan masak. Aku kaget, kita 'kan beda angkatan, kok Senpai bisa ada di sana."—Aventurine tampak tersentak sebentar, sebab kala itu dia memang mirip penguntit, dan ia sadari itu—"Ternyata, Senpai datang untuk membantuku latihan bikin dessert, ya? Sampai ikut kena hukum lagi. Berkat terkurung waktu itu, nilai praktik keterampilan memasakmu naik, lho! Lebih baik dari sebelumnya, dan aku senang."
Aventurine terpana di tempat. Selain dari pemahaman Caelus yang diluar strateginya, ia baru tahu Caelus bisa banyak omong seperti ini.
"Lalu, waktu remedial, aku terpuruk sekali, Senpai datang untuk ngajak bolos. Senang rasanya, tapi aku tahu aku harus menyelesaikan remedial dulu! Walau setelah itu, aku tidak tahu bagaimana cara mengajak Senpai main, ahaha." Caelus mengakhiri kisah yang kedua dengan tawa canggung dan garukan pipi.
Aventurine menahan senyuman, agar tidak terpatri lebih lebar dari ini.
"Masih ada lagi, kamu mentraktir orang-orang di kantin. Sungguh baik!" Caelus melebarkan senyuman yang tampak lebih natural. "Dan yang terakhir, kamu sampai repot-repot memaksa Stelle ikutan proyek OSIS. Apalagi Stelle bilang yang memberitahu soal diskonan Nintendo itu Senpai! I-ini sudah terlalu banyak. Kenapa kamu sebaik itu padaku?" Netra kuning cerah Caelus menatap Aventurine serta menunggu jawaban dengan patuh.
Ah, sial! Wajah Aventurine memerah total sekarang! Dia tidak pernah punya niat semulia itu, hanya karena penasaran, ia berbuat sejauh ini. Alhasil kini, Ketua OSIS memalingkan wajah ke samping dan menutup setengahnya menggunakan punggung tangan. Tidak, tidak ada suara yang keluar setelah melewati beberapa menit. Meski begitu, Caelus tetap setia menunggu.
Aventurine merasa begitu malu sekarang. Namun, waktu terus berjalan, dan ia harus memberikan respons. Tangan lantas diturunkan, wajah pun turut menunduk. "Boleh ... aku meminta pelukan?" Kenapa dia malah mengeluarkan kata-kata seperti ini?! Aventurine merutuk, ia sudah kalah telak, dan terlalu malu untuk mengakui bahwa ia selama ini mempermainkan Caelus.
Pikiran Caelus memang melebihi nalar siapapun, plus sangat polos. Ia merentangkan tangan sembari berujar, "Kemari!"
Aventurine terkejut mendengar seruan tersebut, namun ia memilih berhambur ke pelukan Caelus tanpa perlu mengangkat wajah. Pelukan Aventurine pada Caelus amatlah erat, sampai wajahnya tenggelam di ceruk leher Caelus. Si adik kelas hanya terkekeh geli, kemudian menepuk-nepuk rambut pirang Aventurine. "Hari ini begitu melelahkan, ya? Tidak apa-apa, Senpai, kamu sudah berjuang!"
Ah, berhenti, jangan buat Aventurine lebih memanas dari ini. "Ya ampun, kamu memang selalu membuatku terpana." Setelah berbisik demikian, Aventurine memberikan kecupan di leher Caelus.
Caelus memekik kaget; suara jenis rendah yang enak didengar. Dengan terpaksa, Caelus melepaskan pelukan dan mendorong pundak Aventurine. "A-apa yang kamu lakukan?!"
Aventurine menyeringai, cara memandangnya begitu nakal. "Maaf, harummu membuatku tergugah."
"Aku tetap tak paham dirimu!" Caelus melepas cengkeraman pada bahu Aventurine, kemudian menaruh paksa kotak cokelat ke dalam pelukan Aventurine.
"Ahahaha! Ayolah, teman, jangan marah. Suruh siapa seharum itu sore-sore."
"Aku memang seharum apa, sih? Aku tidak pakai parfum aneh, ya!" Caelus tampak bersiap untuk pergi. Sepertinya ia melupakan pertanyaannya tadi.
"Hei, aku tidak bisa makan cokelat ini sendirian." Aventurine membuka kotak berisi banyak potongan cokelat ukuran mini. "Berkenan menghabiskan ini bersama?" Lanjutnya dengan senyuman mengajak yang tercetak ramah.
Caelus berpikir sejenak, dan duduk kembali setelah menghela napas. "Kenapa beli, kalau aku juga yang harus makan?"
"Pertanyaan yang bagus~ aku butuh teman mengobrol sekarang. Tidak ada siapa-siapa di sini, bukan? Oh, dan tadi kamu bertanya kenapa aku melakukan semua hal yang sudah kamu sebut itu, ya? Hmm, sederhana saja." Aventurine menjelaskan sembari mengangkat satu cokelat hati dengan taburan keju kering sebagai hiasan. "Aku ingin memiliki teman." Dan berpaling memandang Caelus sembari tersenyum kecil. "Apa ini cukup menjawab pertanyaanmu?"
Rasa kesal Caelus soal kecupan tadi, sirna. Ia mengambil cokelat dari dalam kotak; sebuah hati dengan warna merah muda—alias dilapisi selai stroberi. "Kukira alasannya lebih aneh, ternyata sederhana. Kalau begitu, ayo. Kita berteman, Aventurine-senpai!" Caelus melahap cokelat di tangan dan kembali memberikan senyuman.
Mereka berdua memilih memperbincangkan perihal game baru yang hendak dibeli Caelus dan Stelle. Aventurine nyaman selama mendengar segala kisah Caelus mengenai dunia RPG. Aventurine tidak memusingkan isi topik, ia betah menyaksikan bagaimana guratan senyum tertahan dan berkembang lebih hidup di wajah Caelus acapkali membahas game: menambah rasa gemas di dada.
Ah, gawat, rasa gemas ini masih terus bertahan; meski keduanya berpisah dikarenakan waktu yang semakin larut.
"Senpai, kapan-kapan, kita main bareng, yuk!"
Aventurine mengangguk saat keduanya berpisah di halte bus. "Apapun, apapun untukmu, my friend."
to be continue
