Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-03-22
Words:
2,330
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
30
Hits:
885

Selimut Hangat

Summary:

Dia melewatinya rasa sakit itu setiap malam, bahkan aku yang tidak merasakan mulai merasa sakit untuknya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Angin malam menerbangkan rambut coklat madu miliknya. Kepul putih keluar dari bibir yang mulai bergetar, dengan gigi yang bergemelatuk dia mengeratkan pakaian longgar tipis ditubuhnya. Dia berharap ada sedikit rasa hangat tersisa.

Naasnya dia masih merasa dingin, ayunan yang ia tempati juga tidak membuatnya merasa nyaman, namun lebih baik daripada harus duduk di tanah bersalju. Ia kembali memandang langit yang terlihat terang malam ini. Malam ini bulan purnama terlihat begitu terang, seolah ikut menemani, ditengah rasa linglungnya. Malam ini begitu dingin dan dalam kesendiriannya dia tidak ingat siapa dirinya, hanya namanya, Donghyuck. Pertanyaan dimana rumahnya, dan kenapa dia ada disini terasa buram diingatannya. Ia ingat bahwa dia harus menunggu seseorang, namun selain itu seolah air membasuh tinta, hanya lembaran kosong yang bisa Donghyuck ingat.

Rasanya benar-benar kosong. Tidak terlintas siapapun dibenaknya untuk ia mintai tolong. Purnama juga taman inilah yang terasa akrab. Tempat ini begitu akrab dan menenangkan seolah menyimpan begitu banyak kenangan yang tidak ia ketaui, seolah dia merasa emosinya terkumpul kuat dengan hanya berada di taman tua ini, senang, sedih, marah dan beragam emosi yang tidak bisa Donghyuck pastikan terus memenuhi isi kepalanya yang kosong, dia merasa senang disini tapi entah kenapa malam dingin kali ini beribu kali lebih menyakitkan, membuatnya tidak nyaman untuk berlama disini.

Akhirnya setelah lama menatap langit, mata coklat gelapnya turun, bulan purnama diatas tertutup awan tebal, sepertinya tidak mau lagi menemaninya. Dia kembali sendirian.

“Permisi?”

Suara itu memecah kesunyian. Membawa si surai coklat untuk melihat siapa yang datang. Sosok lain yang lebih jangkung dengan kaos putih, juga senyum tipis di wajah pucat karena dinginnya malam itu. Perawakannya terlihat kuat dan kokoh, namun entah kenapa pundaknya terlihat turun, terlihat letih dan begitu lesu.

“Dari tadi saya melihat kamu disini, saya penasaran, kamu sedang menunggu seseorang?” Tanya lelaki itu.

Yang ditanya mengangguk, entah dorongan apa dia menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang seolah terpatri di otaknya.

“Iya, saya sedang menunggu seseorang, ia bilang untuk menunggunya disini, tapi sampai sekarang dia tidak kunjung datang,” suaranya memelan diakhir, bersamaan dengan lelaki itu semakin mendekat kearahnya.

“Kalau begitu boleh saya ikut duduk?” Setelah anggukan kecil, pria dengan rambut hitam legam itu duduk di ayunan lain.

“Sebelumnya, perkenalkan nama saya Jeno, saya teringat seseorang ketika saya liat kamu nunggu disini sendirian,” Tatapan yang lebih kecil mengarah ke Jeno, dia terlihat tertarik.

“Siapa?”

“Kekasih saya,” Ujar Jeno, kemudian dia melirik kearah manusia disampingnya. Melihat dia menggigil tapi tidak mengatakan apapun, dirinya menghela nafas.

“Dia orang yang manis, sedikit pendiam tapi jika dia nyaman dia akan selalu banyak bicara, walau setelah bertahun-tahun pacaran dia masih susah mengutarakan perasaannya, dia juga orang yang keras kepala, kadang terlalu ambisius, tapi dia juga orang yang peka dan mementingkan orang lain oleh karena itu banyak yang menyayanginya karena dia terkadang terlalu baik, terlalu baik sampai saya khawatir, lagipula dia kekasih saya tidak mungkin aku membiarkannya dimanfaatkan orang lain,” 

“Kamu pasti sangat menyukainya?” celetuk Donghyuck. Jeno tertawa kecil.

“Apakah sangat terlihat?” Donghyuck mengangguk memberi jawaban, membuat tawa Jeno membesar.

“Sayang, hari ini kita sedang bertengkar, akhir-akhir ini saya terlalu sibuk dengan pekerjaan saya dan mengabaikannya, malam ini dia keluar dari rumah kami, dan saya pergi keluar untuk mencarinya, ingin meminta maaf, tapi kamu lebih dulu mencuri perhatiaan saya, sendirian dan menggigil kedinginan di taman tua ini,”

Kriet

Jeno menggiring tubuhnya, membuat ayunannya juga ikut bergerak ke kanan. Dan setelah merasa tubuhnya cukup dekat dengan yang lain, dia membuka lipatan selimut rajut yang ia bawa.

“Boleh saya pakaikan?” Pertanyaan Jeno membuat lelaki bersurai coklat sedikit terhenyak.

Netranya termangu sejenak, menatap tubuhnya yang dibungkus selimut rajut tebal. Rasanya hangat, begitu hangat seolah dia ingin lebih lama menggenggam selimut ini. Kelembutan rajutannya membuatnya nyaman, seolah lama dia pernah memilikinya.

“Bagaimana? Apakah terasa hangat?” Anggukan kecil Donghyuck berikan, membuat yang lain ikut tersenyum dia sedikit menggeser ayunannya lagi.

“Kekasihmu pasti beruntung, kamu begitu baik, bahkan kepada seseorang yang asing dan baru kamu temui, terima kasih,” Bisikan Donghyuck membuat Jeno menoleh, senyuman tipis Jeno berikan, walau kedua matanya tidak ikut terangkat.

Donghyuck sendiri mencoba mengira siapa kekasih dari lelaki baik hati disamping. Sampai akhirnya dia ingat ucapan Jeno yang berniat menemui kekasihnya malam ini.

Eh, bukankah kamu sedang mencari kekasihmu yang kabur? Pergilah, jangan khawatirkan aku, takutnya kekasihmu terlalu lama menunggumu seperti aku,” Keduanya saling bertatap, ada jeda sekilas sebelum Jeno terlihat menggaruk belakang kepalanya dan berdehem.

“Kita berjanji untuk bertemu disini juga,”

“Benarkah? Kebetulan sekali,” Mata Donghyuck terlihat sedikit berbinar.

“Kalau begitu, ayo menunggu dia bersama, aku akan menemanimu,” Untuk pertama kalinya Donghyuck tersenyum menanggapi Jeno.

Bersamaan dengan awan gelap yang bergerak pergi, mengeluarkan sinar purnama secara perlahan. Namun, Donghyuck tidak lebih peduli soal itu, dia tidak sendirian lagi, ia mendapatkan teman baru disini. Jeno akhirnya bisa melihat lebih jelas wajah Donghyuck. Begitupun si surai coklat, dia kembali termangu dengan wajah rupawan lelaki yang duduk disampingnya. Mata hitam itu sewarna dengan dalamnya jurang paling curam, seolah tidak berujung, apalagi dengan kulit putih pucat yang seolah memperdalam warna hitam itu. Membuat Donghyuck seolah terhipnotis untuk terus memandang gelapnya netra Jeno. Ada begitu banyak cerita yang bisa Donghyuck rasakan dari senyum tipis dan raut wajahnya. Membuat mau tak mau Donghyuck mempunyai keinginan untuk menyentuhnya. Apalagi ketika alis tebal itu menurun dan mengkerut seolah menandakan ketidak sukaan atas sesuatu.

“Wajahmu dingin,” Ujar Donghyuck.

Jeno hanya mengerutkan alisnya semakin dalam, bibirnya bergetar ingin mengatakan sesuatu. Pada akhirnya dia juga ikut menggenggam tangan yang menyentuh wajahnya.

“Tanganmu terlalu dingin,” Kali ini Jeno menggigit pipi bagian dalamnya. Rasanya ada sesak menyakitkan.

“Lupakan soal aku, kulitmu lebih dingin dan kamu mulai pucat, itu tidak terlihat baik, kemari, lebih dekat, kita bisa berbagi selimut,” Donghyuck berusaha menyampirkan selimut rajut di sisi lain pundak Jeno. Agar lelaki berambut hitam itu ikut merasakan kehangatan yang ia rasakan.

“Bagaimana sudah hangat?” Donghyuck menanyakan itu sambil kembali menyentuh pipi tirus Jeno.

“Kenapa masih dingin? Jeno, mendekatlah, biar kamu juga bisa mengenakan selimut,” Donghyuck kembali menarik selimut yang ada padanya, hingga terlihat Jenolah yang memakai selimut. Jeno sendiri diam membisu, tidak bergeming ketika Donghyuck benar-benar mengenakan selimut rajut seutuhnya pada tubuhnya.

“Jeno,”

Karena tidak mendengar tanggapan, Donghyuck menaruh telapak tangannya dikedua sisi wajah Jeno, membuat surai hitam mendongak dengan paksa.

“Kenapa kamu masih terasa dingin? Kamu harusnya sudah lebih hangat, apa yang terjadi? Apa mungkin karena kamu terlalu lama mencarinya?” Donghyuck memeriksa tiap inchi wajah Jeno, berharap ada tanda-tanda peningkatan suhu.

“Kalau begini lebih baik kamu menunggu kekasihmu di rumah saja, dia pasti akan kembali ke rumah kalian, kenapa kamu menyakiti dirimu seperti ini?”

Panik mulai memenuhi dirinya, membuat hampir terisak karena teman pertamanya semakin terasa dingin. Ia berusaha menggosokkan kedua tangannya, menempelkan pada kedua sisi wajah Jeno, berharap panas yang ia hasilkan akan membantu mengembalikan kehangatannya. Tangannya bergerak kesana kemari, sampai ketika telunjuknya memegang rambut di dekat pelipis Jeno, Donghyuck merasakan cairan aneh yang keluar. Bingung, Donghyuck menarik tangannya, tapi Jeno lebih dulu menghentikan Donghyuck. Membuat yang dicekal bingung.

“Donghyuck, tolong ingat aku,”

Belum sempat Donghyuck menjawab, rasa sakit mendera kepala Donghyuck. Seolah sebuah beton ada di atas kepalanya. Kupingnya berdenging dan membuatnya berlutut ditanah. Gambaran yang berputar cepat seolah seperti kaset rusak terus dimainkan di depan matanya. Seolah sebuah film pendek berisikan dirinya, informasi itu datang silih berganti dengan cepat. Menjawab pertanyaan yang belum terjawab. Kekosongan itu diisi dengan gorekan acak yang mulai terhubung, kecil di hati Donghyuck dia berharap untuk tidak mengingatnya. Nafasnya tersenggal bersamaan dengan air matanya turun tanpa ia minta.

Dirinya adalah Lee Donghyuck, dia lahir dan besar dilingkungan ini dan sekarang rumahnya berada di dekat taman sekitar 15 sampai 20 meter dari taman tua ini. Sedikit lebih dekat dibandingkan rumah masa kecilnya, karena ia pindah kesana sekitar 5 tahun yang lalu. Ia membeli rumah itu bersama kekasihnya. Donghyuck menatap sendu keatas, sebelum dia menciun bau anyir ditangannya. Melihat warna darah yang mulai menghitam ada ditelunjuk jarinya. Dirinya kehilangan keseimbangan dan benar-benar duduk di tanah. Ia menepuk dadanya yang mulai terasa sesak, Air matanya terus jatuh tanpa berhenti, terus berjatuhan seolah luka yang begitu besar menjadi penyebabnya. Tangan gemetar meraih lutut yang lain.

“Jeno...” Panggilan itu membuat yang lain ikut berlutut ditanah. Pelukan erat seolah meminta Donghyuck untuk berhenti sesaat.

“Maaf, Hyuck, tolong maafkan saya,”

“Kenapa kamu yang minta maaf? Harusnya aku, kalau malam itu, jika saja aku tidak memaksa keinginanku, aku, kamu—, kamu tidak akan—”

Suara Donghyuck tercekat, dia tidak berani melanjutkan ucapannya. Dia lebih memilih untuk semakin mengeratkan pelukannya. Isakannya semakin terdengar jelas di kesunyian malam dengan lolongan anjing dari kejauhan.

“Jeno, kamu disini, kamu datang, kamu menepati janji kamu, aku minta maaf, Jeno, aku minta maaf karena malam itu, aku jahat,

Pundak Jeno terasa basah dengan rapalan maaf yang terus terulang, tapi dia tidak bisa merasakan hembusan hangat lelaki yang ada dipelukannya, membuat dia semakin mengeratkan pelukannya. Ia ikut memejamkan matanya, ada rasa senang karena dia akhirnya bisa memeluk Donghyuck lagi, setidaknya untuk kali ini.

Setidaknya malam ini, dia bisa memeluknya untuk terakhir kali, setidaknya malam ini dia bisa mengusak rambut Donghyuck menenangkannya, setidaknya dia bisa ikut mengucapkan maaf karena sempat mengabaikannya saat itu, setidaknya malam ini dia bisa bersama Donghyuck disaat ia kehilangan ingatannya karena dua tahun lalu. Malam yang menyebabkan Donghyuck sampai seperti ini. Malam dimana keduanya harusnya merayakan hubungan mereka ketiga tahun. Malam dimana Jeno sudah merencanakan untuk memberi kejutan kecil.

Dua tahun lalu Jeno memang terlihat sibuk belakangan, menyebabkan Donghyuck sedikit muram. Di malam purnama itu tepat setelah proyek yang Jeno pegang berhasil disetujui oleh sponsor perusahaan mereka, Donghyuck memaksa Jeno keluar dari rumah. Dan Jeno menyetujuinya, mereka berjanji bertemu di taman tua ini. Perdebatan kecil terjadi ketika Jeno pulang melihat Haechan datang dengan wajah masam, dan menuduh Jeno tengah berselingkuh. Keduanya bertengkar hebat, dan Haechan keluar begitu saja tanpa memperdulikan Jeno yang tengah menggengam kotak beludru.

Karena rasa bersalah Jeno mampir ke salah satu toko, membeli selimut rajut sebagai hadiah permintaan maaf. Ia mengerti bahwa Haechan marah karena dia memang terlihat tidak peduli padanya akhir-akhir ini, salahkan ambisinya untuk membawa Haechan ke hubungan yang lebih serius, dan jelas dia membutuhkan lebih banyak uang untuk itu. Walau begitu langkah Jeno ringan, ia tau walau semarah apapun kekasihnya itu, Haechan akan rela menunggunya di ayunan taman tua itu, entah untuk berapa lamanya itu. Namun, sayang nasib berkata lain. Mobil sedan hitam milik rekan kerja Jeno melaju cepat ke arah lelaki dengan eyesmile itu. Meninggalkan Jeno yang terlentang tak berdaya disudut jalan. Membiarkan Donghyuck disisi lain menunggu tanpa kepastian.

“Jeno, ayo pulang, Renjun pasti bohong, kamu ada disini,” Donghyuck mengeratkan pelukannya. Menahan segala kemungkinan Jeno kabur dari lengannya.

“Donghyuck,” Suara itu lirih di pendengaran Donghyuck. Hembusan dingin asing membuat bulu kuduk Donghyuck berdiri. Tapi, dia masih enggan melepaskan. Enggan menerima fakta lain yang meneriakkan bahwa semua ini ilusi, enggan menerima bahwa dia tidak akan bertemu dengan sosok didekapannya.

“Lepasin saya, ya?”

Gelengan keras Jeno rasakan. Membuatnya semakin merasa sakit, jemarinya mengelus puncak kepala si surai coklat. Perlahan namun pasti usakan itu semakin melemah. Membuat yang diusak ikut merasakan, segera melepas pelukannya dan menatap sendu sosok dihadapannya.

“Donghyuck kamu liat, kan? Waktu saya tidak banyak,”

Dari awal dia tidak punya waktu itu, Jeno mencoba mengusap air mata yang masih mengalir dipipi tirus Donghyuck. Ia merasakan kedutan sakit seolah dirinya masih hidup, ketika menatap wajah yang dulunya gembul dan cerah sekarang terlihat lelah dengan cekungan dalam dan lingkar hitam disekitar matanya.

“Ini bukan salah kamu, Hyuck, kemarahan kamu itu bukan suatu yang salah, malam itu juga bukan salah kamu, kepergian saya bukan salah kamu, lepasin saya, Hyuck,” Usapan kedua Jeno terasa seperti tiupan dipipi tirus Donghyuck. Semakin membuatnya merinding, namun air matanya mengalir begitu derasnya.

“Jangan salahin diri kamu, dan jangan minta maaf, kamu tidak bersalah, mungkin waktu kita belum banyak, mungkin ini memang takdirnya, Hyuck,”

Desir angin malam semakin dingin, Jeno dengan sisa kekuatan rohnya mencoba memasangkan lagi selimut hangat yang aslinya di bawa Donghyuck. Yang dipakaikan selimut masih menatap nanar sosok yang mulai transparan, berkedip redup dan seolah hanya sebuah bayangan. Lagi, hatinya kembali berdetak menyakitkan. Awan gelap kembali menutupi purnama dilangit, sama dengan gerak lambat Jeno yang mendekatkan dirinya ke arah Donghyuck. Seolah mengucapkan perpisahan tepat ketika awan gelap menutupi purnama sekali lagi. Jeno menyematkan ciuman di dahi Donghyuck, Donghyuck menutup matanya tidak lagi kuat melihat kekasihnya menghilang didepannya lagi. Matanya mulai terasa bengkak dan perih, tenggorokkannya terasa sakit hanya untuk mengeluarkan suara.

“Nanti dikehidupan lain, janji kita bertemu, ayo mencintai lebih dari ini, dan saya berjanji untuk lebih dalam mencintaimu,”

Kemudian bisikan itu terbang bersama angin. Air mata Donghyuck mengalir dibalik kelopaknya yang tertutup, yang ia rasa hanya sengatan kecil tidak berarti di dahinya, tapi kenapa jantungnya diremas sedemikian rupa? Bahkan jika ini ilusi, kenapa Jeno tidak mau bersama dengannya lebih lama? Jika memang ilusi, kenapa ia tidak bahagia disini. Ia bahkan belum sempat menyetujui pernyataannya.

Begitu awan gelap itu berlalu, jalanan kembali terang, semuanya kembali seperti sedia kala. Namun, Donghyuck masih duduk meringkuk, menangisi serpihan cahaya yang mulai menghilang. Dirinya kembali sendiri, bersama dengan selimut hangat yang harusnya diberikan sang kekasih.

Sedangkan Renjun, sahabatnya, menatap sosok lelaki itu kaku. Matanya ikut berkaca, padahal ia tidak tau pasti tentang kisah cinta sahabatnya itu. Dia hanya tau keduanya saling mencintai, sebatas itu saja, sangat mencintai hingga membuat Donghyuck menggila sejak kepergian kekasihnya itu.

“Jaemin, aku sudah menemukan Donghyuck, maaf merepotkanmu tengah malam,” Sengau Renjun pada seseorang di telepon. Dia mulai mengontrol nafasnya, ia mencoba menahan tangisnya ketika Donghyuck mulai mencium selimut yang dia bawa.

“Dia di taman itu lagi?” Hanya keterdiaman menjawab pertanyaan Jaemin. Membuat yang di sebrang ikut menghela nafas panjang.

“Dua tahun, tapi dia masih bertahan di lingkarang masa lalu, dan rasanya aku juga akan menggila,”

Renjun terkekeh, dia menyandarkan dirinya di tiang listrik, masih memandang sedih sosok yang dulunya begitu kuat, kini terlihat sangat rapuh.

“Aku juga akan menggila, rasanya hatiku juga merasa sakit karena mereka,”

“Lalu katakan padaku, bukankah Donghyuck meminum obatnya rutin, tapi setiap tahunnya dia akan kembali ketaman itu, di tiap malam itu, dan berdiam diri disana hingga pagi, dan ratapannya selalu membuatku ikut merasa sakit,”

“Mungkin ini akan menjadi yang terakhir kalinya,” Renjun menutup ponselnya tergesa, berlari kearah Haechan yang mulai meraungkan rasa sakitnya.

Notes:

Haii, aku nulis ulang dari oneshoot lamaku di twitter, pairingnya OttoGe dulu. Aku ga ngerubah banyak, jadi mungkin ini kurang sedih:(