Work Text:
Langit mendung ada sejak pagi tadi iringi suasana sekolah jadi terasa lebih tenang ketimbang hari-hari lain. Dan menurut Maeda Riku, cuaca seperti ini nggak cocok buat dirinya hanya berdiam diri di kelas berkutat dengan angka dan simbol perhitungan.
Riku baru saja kembali dari makan siangnya sebelum dia memutuskan pergi meninggalkan kelas lagi untuk mengonsumsi sebuah dua buah adiksi yang menurut Riku lebih sesuai untuk dilakukan di suasana abu senyap ini. Kalau memang matahari enggak mau menghangatkan siang ini, maka biarkan Riku mencari kehangatannya sendiri di bangku belakang gudang sekolah.
Ckrek!
“Ahh monyet.”
Riku mendesah kesal saat baru setengah batang rokoknya terbakar, dirinya mendengar suara shutter kamera; Riku tahu persis kamera tersebut mengarah pada dirinya.
Mata Riku nyalang pada ketua osis sekaligus teman kelas yang menjadi sumber suara dari shutter kamera ponsel yang dia dengar tadi. Namanya Oh Sion, omong-omong. Ini kali ketiga Riku tertangkap basah membolos kelas dan merokok oleh Sion. Tiap lihat sosoknya, Riku selalu berpikir bahwa Sion itu menyebalkan karena entah bagaimana selalu ada dan mencampuri urusan “kenakalan remaja”nya Riku, juga baru-baru ini berpikir kalau Sion itu nggak lebih dari seorang munafik setiap dirinya memainkan peran siswa teladan di sekolah. Selain karena ketua osis dan nggak pernah turun dari peringkat tiga, Sion itu nggak ada apa-apanya.
Riku telah menegaskan bahwa dia total tak acuh kalau dia mau dilaporkan dengan bukti foto yang sudah ada, toh dia saat ini bolos kelas pun diketahui guru yang bertanggung jawab; Riku keluar kelas persis saat gurunya masuk. Lagipula guru-gurunya enggak pernah peduli soal Riku. Di kepala mereka, Riku cuma anak kelas dua belas nakal yang selalu terlambat dan terlihat selalu miliki memar hasil dari pertengkarannya dengan siswa sekolah lain di luar sana. Kenyataannya bukan begitu. Tapi Riku nggak akan buang-buang waktu untuk menjelaskan dirinya sendiri pada orang-orang dewasa yang sudah menilai dirinya tanpa pernah mau mendengar atau cari tahu. Pun Riku sama nggak pedulinya dengan gurunya selama dia enggak dikeluarkan dari sekolah.
Tetapi Oh Sion yang menyandang gelar kesayangan guru-guru itu enggak pernah sepemikiran dengan gurunya soal Riku.
Oh Sion bukan siapa-siapanya Riku, sih. Tapi sesuatu dalam dirinya teguh pada tekadnya untuk menghentikan adiksi Riku pada nikotin. Seakan tak puas dengan bukti foto dari jauh, Sion mendekat ke bangku yang Riku duduki. Duduk di sebelah pelaku persis dengan menengadahkan satu tangan, meminta barang bukti sebuah kotak berisikan benda adiktif yang mungkin nanti jadi yang selanjutnya dihisap Riku setelah setengah batang di tangan kanannya saat ini habis.
Riku mengeluarkan kotak yang tersisa dua batang di dalamnya. Dengan lincah tangan kirinya bergerak sendiri untuk membuka, mengambil satu untuk disodorkan pada lelaki di depannya, dan menutup lagi kotaknya sebelum dia masukkan kembali ke saku celana seragamnya.
“Nih, kalau mau minta bilang aja kali.”
Asap rokok mengiringi ujaran Riku pada Sion, tangan kanannya mengetuk-ngetuk menjatuhkan abu seusai ia hisap sekali sebelum berbicara tadi. Tangan kirinya menyodorkan yang baru saja dia ambil pada Sion dengan mata menatap Sion malas.
Yang ada di bayangan Riku tadi adalah Sion akan betulan mengambil sebatang yang Riku tawarkan karena Riku sendiri tahu Sion juga merokok di luar sekolah; minggu lalu Riku lihat Sion merokok di indoor smoking room suatu kafe lumayan jauh dari sekolah ditemani buku-bukunya. Atau kemungkinan terburuknya, Sion akan betulan mengambil paksa kotak rokok karena dia sudah mengetahui tempat Riku meletakkannya dan melaporkannya pada BK.
Sion diam sejenak. Bolak-balik matanya melihat ke wajah Riku dan tangan kanannya yang mengapit sisa rokoknya yang menggantung di sandaran bangku. Diamnya Sion sempat buat Riku khawatir kalau-kalau kali ini Sion benar-benar akan laporkan dirinya lagi, jatah toleransi ketahuan merokoknya sudah habis dan dia bisa kena suspend kali ini. Tak lama setelahnya mata Sion terfiksasi pada tangan kanannya.
“Mau yang itu aja.” Dagunya menunjuk pada yang ada di sela jari telunjuk dan jari tengahnya.
Ada bekas merah muda samar pada yang rokok yang tiga hisap lagi tersisa puntungnya. Pewarna bibir yang biasa orang-orang sebut dengan lip tint yang digunakan Riku tergambar apik di puntung rokoknya setiap dia mulai menghisap tembakau. Sion baru tahu soal itu saat minggu lalu Riku tiba-tiba menghampirinya di tengah kegiatan belajar mandirinya jauh dari sekolah dan merokok persis di sebelahnya. Sejak itu Sion enggak heran lagi bagaimana selama ini bibir Riku bisa terlihat jadi yang paling cantik dan memikat matanya di antara teman kelasnya yang lain—atau mungkin, paling cantik dari keseluruhan teman yang Sion punya.
Enggak cuma bibir, sih. Dua mata bulat Riku yang sekarang mengerjap kebingungan juga adalah yang paling cantik yang pernah Sion lihat. Sion nggak tahu apakah ada hubungannya antara perasaan bertanggung jawabnya sebagai ketua osis, atau mata cantik Riku yang terkadang, dan sekarang juga, dihias memar di pelipisnya itu yang buat Sion terpikat untuk buat dia merasa selalu mau dan perlu ikut campur urusan Riku.
Yang sudah hampir mencapai puntungnya itu langsung Sion hisap sedetik setelah Riku—masih dengan bingung—serahkan padanya. Sion biarkan keheningan ada di antara keduanya saat Riku lantas membakar sebatang tembakau baru yang dia tawarkan pada Sion tadi.
Dirasa waktunya sudah tepat, Sion menginisiasi percakapan untuk memastikan mengenai apa yang dia lihat pagi ini.
“Gue tadi pagi mau ngajak lo berangkat bareng, kebetulan habis anter nyokap meeting di hotel deket tempat tinggal lo.”
“Kok lu gak bilang dulu ke gue sih, anjing? Berapa kali gue bilang jangan ke rumah?”
“Gue liat, Riku.”
Rahang Riku mengeras, matanya memanas khawatir Sion lihat apa yang selama ini dia simpan sendiri karena dunia nggak perlu tahu dan nggak perlu mengasihani dirinya.
“Liat apaan?”
“Memar lo itu… bukan gara-gara berantem kan?”
“Bukan—maksud gue, iya. Sana lu tanya sama anak sekolah sebelah.”
Mengetahui seorang Oh Sion, Riku seratus persen yakin bahwa Sion tak akan melakukan yang dia suruh. Riku tahu Oh Sion tidak akan buang-buang bahkan sedetik dari waktu di hidupnya untuk hal yang tidak akan mempertahankan rankingnya. Jadi, sekarang Riku juga heran mengapa Sion ada di sini dan mengintrogasinya daripada berada di kelas dan meladeni pertanyaan dari guru matematika mereka. Apapun itu, Riku tidak suka arah pembicaraan yang Sion bawa sekarang.
“I clearly saw how he badly beat you up, Riku. Di depan rumah lo sendiri. Who’s tha—“
“Lupain.”
“Siapa itu, Riku?”
“Gue bilang lupain.”
“Bokap lo?”
“Gue bilang lupain, anjing.” Riku yang sejak tadi menghindari tatapan mata Sion kini rambutnya terayun kasar akibat kepalanya yang menoleh cepat pada Sion, membentak—memohon—pada Sion untuk menghentikan sifat ingin tahunya itu.
Sion menginjak puntung selesai dengan hisapan terakhirnya. Yang ada di tangan Riku dia ambil dengan paksa, dia apit tepat di bagian noda merah di antara kedua bibirnya. Riku hanya bisa memutar malas kedua bola matanya, heran pada Sion yang mau-maunya dua kali menghisap rokok bekasnya. Karena kalau Riku harus jujur, dia nggak suka bekas mulut orang lain.
Kembali Riku masukkan tangannya ke saku dan membuka bungkus rokoknya tadi di depan mata Sion, —
“Ah monyet, gara-gara lu rokok gue abis.”
—yang sebetulnya sisa satu tapi Riku mau dan harus alihkan topik pembicaraan yang Sion bawa. Tetapi sepertinya Riku belum tahu banyak soal Sion yang punya banyak cara pendekatan untuk mendapatkan apa yang dia mau.
“Harus banget ngerokok?” Nada bicara Sion berubah total menjadi dua kali lipat lebih menyebalkan.
“The only way to make me feel better without talking to people.”
“Why not just talk to people then?”
“You’re always alone other than being that with osis shit you’re in, I know you also find people are annoying.”
“That’s true. But unlike you, I still do talk to people.”
“Selain itu, lu juga ngerokok, lu gak ada hak buat nyuruh gue berhenti.”
Riku menyamankan punggung pada sandaran bangku. Memejamkan matanya menikmati sejuk hembusan angin siang menerpa wajahnya. Dia bilang orang-orang menyebalkan tapi dia baru saja menemukan dirinya hampir berbicara pada Sion. Selanjutnya Riku memutuskan untuk tak lagi merespon apapun yang Sion tanyakan padanya.
“Hey.”
Yang Riku hindari lagi-lagi memanggilnya. Malas merespon, Riku hanya buka sedikit matanya untuk melirik pada yang berbicara.
“I know another way to make you feel better, Riku.”
Alis Sion terangkat satu demi mendapat respon dari lawan bicaranya. Ah, Oh Sion dengan muka menyebalkannya itu.
Riku nggak yakin dengan apa yang bisa Sion lakukan. Riku pikir Sion nggak mengenalnya sejauh itu untuk dia tahu mengenai apa-apa yang bisa buat perasaannya membaik.
“What could possibly make me feel better other than cigarettes, huh?”
Tangan kiri Sion terampil menangkup sebelah pipi Riku. Spasi di antara kedua wajah mereka menipis usai Sion selesai dengan rokok terakhirnya yang nasibnya juga berakhir pada injakan kaki Sion.
Wangi bergamot berpadu dengan bau rokok masuk tanpa permisi ke dalam hidung Riku saat pipinya ditangkup dan pergelangan tangan Sion ada tepat di depan hidungnya. Riku harus akui kalau dirinya sendiri nggak suka bau rokok, but to know it smells so unique when it gets mixed with lotion? Perfume? Or whatever Sion’s wearing is waking up his curiosity.
Sehingga di detik berikutnya Riku enggak bisa menemukan dirinya mendorong Sion menjauh saat Sion mempertemukan bibir keduanya. Sion memimpin dengan pelan dan lembut, bibirnya lambat bergerak mengunyah milik Riku. Sialan, seharusnya tadi Riku langsung menjauh karena harga dirinya bisa jatuh kalau-kalau Sion bisa baca gelagatnya yang enggak pernah berciuman—meskipun gerakan canggung Sion buat dia ragu kalau ini bukan pertama kalinya juga buat Sion.
Riku nggak punya panduan dari pengalaman tapi Riku juga nggak bisa biarkan harga dirinya diinjak apalagi oleh Sion. Jadi dia biarkan rasa penasarannya terhadap rasa dan semerbak yang Sion bawa menjadi pemandunya untuk balas ciuman Sion. Kedua tangannya dia bawa ke tengkuk Sion, tempat di mana mungkin lebih banyak parfum—tangannya menekan-nekan agar wanginya menempel yang sengaja atau tidak juga sebabkan ciuman mereka jadi makin dalam.
Kepala Sion dimiringkan persis di sudut yang pas untuk pengecapnya masuk ketika Riku tanpa sengaja buka mulutnya. Lidahnya bertemu rasa yang familiar seperti yang ada di mulutnya sendiri kala bertemu dengan milik Riku. Tempo mereka enggak bisa seirama karena Riku kewalahan. Maka Sion bawa telunjuk dan ibu jarinya untuk memegangi dagu Riku sebagai bantuan.
Sion masih sibuk mengerjai bibir bawahnya namun empunya sudah melemas. Kalau bukan tangannya yang masih di sekitar tengkuk Sion mungkin Riku akan mutlak dinyatakan kalah. Di sisa napasnya Riku berharap Sion segera kehabisan napas duluan agar bukan dirinya pengecut dalam permainan ini.
Tak lama setelahnya benar saja Sion yang lebih dulu menarik diri. Bukan karena kehabisan napas, tetapi dua rintik hujan telah turun tepat di wajahnya. Riku berterima kasih pada semesta, setelah ini Sion akan segera meninggalkannya sebab dia tahu persis bahwa Sion enggak suka seragamnya jadi basah dan berantakan. Terlebih Sion di depannya saat ini sedang merapikan kerahnya semakin memvalidasi opini Riku. Muka Oh Sion kelewat santai untuk seseorang yang indra pengecapnya baru saja menemui setiap sudut dalam mulutnya, menyebalkan.
“If you still refuse to tell me what’s going on in your life…” Sion berdiri sambil tetap menatap Riku yang tidak terlihat akan menyusul Sion untuk berduri dan kembali ke kelas.
“ Fuck off— ”
“… we can try to make you feel better after cotton candy session with no cigarettes involved, next time.”
Punggung Sion telah menghilang dari jangkauan pandang Riku. Mungkin yang punya punggung juga sudah kembali duduk rapi di dalam kelas. Namun di sini, Riku menghirup pergelangan tangannya memastikan apakah wangi Sion tertinggal di sana. Di sini pula Riku ditinggalkan bersama isi kepalanya yang bingung akan perasaan berdebar yang baru saja muncul, perasaan yang baru dia temukan selama hidup tujuh belas tahunnya. Rasanya mirip seperti saat Riku mulai mencoba rokok dan temukan candu.
“Next time, katanya?”
There will be a next time?
Riku sendiri enggak yakin, enggak mau menanti pula sementara desiran di dadanya berkata lain dari akal sehatnya. Or probably, finally, in between his crappy life, Riku has just found his new addiction.
