Actions

Work Header

Kalah Bertaruh

Summary:

Cinta antara Kim Dokja dan Han Sooyoung terekam dalam lima babak: sebuah tarian yang tak kunjung selesai, hormat kepada angin, seperti takdir kita yang tulis, menangis di jalan pulang, dan, selesai. Dari lagu-lagu episode Nadin Amizah; kalah-bertaruh.

Notes:

Untuk pengalaman membaca lebih bagus sila putar lagu dari episode ‘kalah bertaruh’ oleh Nadin Amizah.

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Sakitmu,

Chapter Text

/1/ sebuah tarian yang tak kunjung selesai

Kim Dokja pasti telah lama merancang segala detail buat melamar Han Sooyoung. Momen romantis mereka sempurna. Malam tersebut gugus bintang ursa mayor tengah bersinar terang bak turut didukung antariksa. Rooftop apartemen keduanya disulap dari penampungan perabotan tak layak guna menjadi ala tempat syuting genre picisan cinta: meja bertaplak putih, dua kursi kayu, lima belas lilin meleleh, aroma terapi nuansa buku klasik dan vas berisi delapan mawar merah segar. Semua ditata rapi seakan membingkai altar. Hati Kim Dokja degupnya seramai ingar-bingar.

Ia tidak langsung mengajak Han Sooyoung singgah di sana. Alunan melodi favorit terdengar dari belakang. Mengalun sopan, menyusup pelan-pelan, menyelinap ke gendang pendengaran mereka yang tangannya sedang bertautan. Kim Dokja membawa Han Sooyoung dalam tarian. Satu, dua, langkah kaki ke depan dan belakang. Tiga, empat, beralihnya posisi kesepuluh jemari. Lima, pelukan. Tidak ada irama khusus. Nihil pula gerakan indah. Hanya ada keduanya saat Kim Dokja menunjukkan cincin—tanpa kotak beludru apapun—lantas menyodorkannya. Ia berbisik tepat di samping cuping telinga, "Menikahlah denganku."

Momen haru seharusnya ada. Sungguh tiada terduga jawaban Han Sooyoung justru berupa, "Aku tidak yakin kehendak kamu sebenar-benarnya begitu."

Seperti sebuah tarian yang tak kunjung selesai.
Walau lagu tak lagi terdengar: sudah lama ...
kau tak rela.

"Kim Dokja," panggilnya. Mereka tetap memaksa tubuh bergerak membentuk pola-pola abstrak yang tak dimengerti siapapun. Melangkah, maju mundur, kanan kiri, depan belakang tidak henti-henti. Hati masih enggan usai menari padahal sudah lama pupus melodi. Han Sooyoung mendengar nama kasihnya sekali lagi yang entah bagaimana jauh tidak dapat dikenali. Wajah yang ia sayang diraba sebentar. Masih tidak diketemukannya mata Kim Dokja dulu: menatapnya lembut penuh hangat; sekarang asing. Tidak tahu kemana dan di mana.

Kenapa tetap menari bila lagu sudah lama berhenti? Mengapa terus melanjutkan hidup jika hati sudah mati? Bagaimana Kim Dokja dan Han Sooyoung masih mempertahankan jenjang hubungan kalau perasaan antarkasih sudah jauh pergi?

Kadang aku bertanya:
untuk apa masih saja ...
keras paksa apa yang sudah mati dari lama?