Actions

Work Header

Tell Me What is Love

Summary:

Berbeda dengan sahabat sekaligus teman serumahnya yang sudah memiliki banyak mantan dan akan memiliki pacar baru, kehidupan percintaan Yushi benar-benar nol besar. Sebagai sahabat yang sudah hafal Yushi luar dalam, Riku berusaha mencarikan Yushi seseorang yang sekiranya akan membuat sahabatnya memahami dan merasakan cinta yang tidak platonis.

Notes:

Halo, it's been a while sejak aku nulis daengyut. Akhir-akhir ini mereka berlayar kencang sekali jadi aku termotivasi buat merealisasi draft yang udah lama mengendap. Tapi aku kali ini bikin yutti dan iku jadi cewek karena mereka secantik itu gais. Mohon maaf ya kalau ada yang tidak berkenan 🥺😔🙏

Ini pertama kalinya aku nulis dengan tema non-fantasi (biasanya nulis yang fantasi gitu kayak daengyut yang a/b/o kemarin), jadi aku agak grogi mau membagikan ini ke kalian semua. Anyway, selamat menikmati!

(See the end of the work for more notes.)

Chapter Text

Perkuliahan di minggu-minggu akhir jelas membuat hampir semua mahasiswa sakit kepala. Tugas yang menggunung, kuis yang akan segera datang, laporan dan praktikum yang tak kunjung selesai. Oh, yang terakhir dicoret saja karena jurusan Yushi tidak mengenal praktikum. Itulah sebabnya Yushi jelas terheran-heran karena Riku, sahabat sekaligus housemate nya, tampak lebih bahagia daripada Yushi di Senin yang cerah ini. Padahal Yushi tahu gadis kelahiran Juni itu harus menghadapi dua praktikum sekaligus.

 

"Senyum dong, Cantik," tegur Riku begitu mereka masuk ke mobil untuk berangkat ke kampus. Riasan Riku sangat on point. Rambutnya juga tertata rapi. Sangat berbeda dengan Yushi yang mengenakan pakaian standar kuliah yang nyaman karena agendanya hari ini hanya kerja kelompok di perpustakaan sampai matahari terbenam. Yushi sih percaya saja kalau Riku bilang hendak berangkat kencan alih-alih masuk ke laboratorium untuk praktikum entah yang keberapa semester ini. 

 

"Aku turun di depan Rektorat saja ya, nanti lanjut jalan ke perpustakaan" ujar Yushi begitu Riku melajukan mobil merah kebanggaan. Sejak masih sekolah, Riku selalu kebagian tugas mengemudi lantaran Yushi belum bisa mengendarai kendaraan bermotor apapun. Sudah belajar, kok. Cuma masih sangat sering menabrak di bahu jalan saat latihan. Belum lagi kemampuan gadis itu dalam navigasi hampir minus meskipun menggunakan maps sekalipun. Yushi sudah pasrah. Akhirnya selama kuliah, gadis itu selalu ikut mobil Riku atau memesan ojek online. 

 

"Semangat kerja kelompoknya, Cii! Aku duluan ya," pamit Riku penuh semangat setelah Yushi turun di drop point gedung rektorat kampus mereka. Energi Riku hari ini benar-benar luar biasa. Sudah bersama hampir delapan tahun, Yushi paham kalau energi yang meluap itu terjadi lantaran sahabatnya sedang jatuh cinta. 

 

Semalam di antara gerakan menulis laporan praktikum dan suara ketikan di keyboard laptop, Riku bercerita mengenai seorang kakak tingkat yang sudah dua bulan ini mendekatinya. Riku bilang sepertinya mereka akan segera meresmikan hubungan. Yushi setia mendengarkan, lengkap dengan wajah ekspresifnya. Ia sesekali melempar pertanyaan mengenai sosok kakak tingkat calon pacar sahabatnya. 

 

Nama kakak tingkat itu Oh Sion. Yushi cukup mengenal si kating dari kegiatan relawan menanam mangrove yang diikutinya di awal semester kemarin lantaran calon kekasih sahabatnya itu menjadi ketua panitia. Dari latar belakangnya, Yushi yakin Sion ini orang baik yang bisa membuat Riku bahagia. Ia sungguh-sungguh berdoa semoga hubungan sahabatnya kali ini akan bertahan lama. Dan kalaupun harus berpisah, Yushi berdoa agar perpisahan itu tidak menimbulkan luka yang teramat parah.

 

Hampir sepanjang hari Yushi menghabiskan waktunya di perpustakaan kampus bersama delapan teman sekelompoknya. Di sela-sela kesibukan dan diskusi, sesekali mereka bermain monopoli bersama melalui laptop masing-masing. Matahari sudah hampir terbenam saat kesembilan mahasiswa itu memutuskan untuk pulang. Yushi menolak dengan sopan tawaran tumpangan dari salah satu teman yang menawarkan, berkata bahwa ia ingin pergi berbelanja kebutuhan bulanan. Mumpung masih di luar. 

 

Dengan ojek online seperti biasa, gadis itu sampai di supermarket langganannya dan Riku. Di urutan akhir belanjaan, Yushi memilih dengan sangat serius bermacam-macam es krim untuk cemilan tengah malam. Gadis kelahiran April itu sampai di unit apartemen dua kamar yang ia tinggali tepat pukul tujuh. Ditemani iringan lagu EXO dari album-album lama, Yushi membereskan belanjaan, memasak, makan malam, lalu membersihkan diri. Sembari menunggu Riku pulang, ia duduk di ruang tamu dengan laptop di pangkuan, melanjutkan laporan studio yang belum selesai.

 

“Ucii, aku pulang!” seru Riku masih dengan semangat yang sama dengan tadi pagi, padahal saat Yushi melirik jam di sudut kanan layar laptop, tinggal satu jam lagi sebelum hari berganti. Yushi meletakkan laptopnya di meja, berjalan bersama Riku masuk ke dapur yang menjadi satu dengan ruang makan. Ingin memakan es krim sambil menemani Riku makan malam. Tolong jangan ditiru. Mahasiswa teknik di akhir minggu perkuliahan memang seperti jam tidur dan makannya berantakan sekali. Masih bisa mengikuti semua rangkaian perkuliahan sampai akhir saja sudah syukur. 

 

“Ciii, kamu mau nggak ikut aku ketemu Kak Sion? Kita main bareng setelah semester ini selesai.”

 

Tawaran itu membuat Yushi berhenti menyendok es krim matcha kesukaan. Keduanya lantas bertemu pandang.

 

“Nggak mau kalo cuma bertiga. Jadi nyamuk aku yang ada,” protes Yushi memutus kontak mata, lanjut menyantap es krim yang sudah berkurang separuh. Mata Riku berbinar seakan-akan sudah tau sahabatnya akan menjawab seperti apa. Yang berarti, Riku juga sudah memikirkan jalan keluarnya.

 

“Temannya Kak Sion nanti ikut juga! Kebetulan temanku di jurusan juga, sih. Jadi nanti nggak cuma bertiga, tapi berempat! Mau ya? Ya? Ya? Uci mau yaaaaa?”

 

Riku itu kalau sudah ingin sesuatu akan sangat keras kepala, sanggup melakukan apapun untuk meraih yang diinginkannya. Yushi sudah kelewat paham. Jadi, dia hanya berdehem sebelum mengiyakan. 

 

“Oke.”

 

Satu bulan kemudian, setelah semua beban tugas semester empatnya selesai, Yushi mendapati dirinya duduk di hadapan dua pemuda dengan tinggi yang hampir sama. Pemuda dengan mata besar dan bulu mata lentik nan cantik yang duduk berhadapan dengan Riku adalah Sion, kekasih baru sahabatnya sejak satu minggu yang lalu. Lalu pemuda berkacamata dengan leher jenjang yang duduk di hadapan Yushi adalah Jaehee, teman SMA Sion sekaligus teman satu jurusan Riku.

 

Setelah basa-basi perkenalan dan makan siang—Yushi mendapat informasi bahwa Jaehee dan Sion berumur dua tahun lebih tua darinya dan Riku, mereka berempat berjalan-jalan di sekitar pusat perbelanjaan. Meskipun Sion dan Riku adalah pasangan baru, di pertemuan pertama mereka kali ini, Yushi tidak ingin berbagi Riku dengan siapapun. Lengannya terus melingkari milik Riku seakan mencari perlindungan dari orang-orang baru. Riku tidak mengeluh, sangat paham arti di balik perilakunya. Bukti bahwa persahabatan delapan tahun mereka bukan bualan semata. 

 

Mengakhiri agenda main mereka hari itu sebelum malam datang, Riku menyeret semua orang untuk menonton film. Saat memesan tiket, kursi yang mereka inginkan hanya tersisa empat dan terpisah masing-masing dua. Kali ini, Yushi mengalah dan memberikan kursi di sebelah Riku pada Sion, sehingga gadis itu duduk bersebelahan dengan Jaehee di ujung. Di pertengahan film, Jaehee pergi ke toilet sebentar. Adegan di layar sedang seru-serunya saat ponsel Yushi bergetar berkali-kali di dalam tas. Panggilan dari ketua kelompoknya beserta belasan pesan belum terbaca. Matanya membelalak, bergegas keluar ruangan untuk mengangkat panggilan.

 

“Kok bisa?” tanya Yushi putus asa setelah temannya menjelaskan situasi yang ada. Tadi pagi sebelum berangkat kemari, Yushi sudah memastikan laporan kelompoknya rapi dan siap dikumpulkan. Tiba-tiba, ketua kelompoknya mengatakan ada bagian yang harus dikerjakan ulang dan penanggung jawabnya tidak bisa dihubungi. 

 

“Aku juga agak kesusahan kalau ngerjain sekarang, Kei. Lagi di luar dan nggak bawa laptop juga. Yang lain ada yang bisa nggak?” Yushi terus berjalan keluar agar dapat berbicara dengan lebih leluasa.

 

“Pada nggak bisa dihubungi semua. Please, bantuin ya? Gabisa selesai kalau aku sendirian yang ngerjain.”

 

Yushi marah, kesal, hampir menangis saat mengiyakan permintaan temannya. Seharusnya itu bukan tugasnya. Bagiannya sudah selesai semua. Tetapi ia juga sadar kalau tadi lebih teliti, bagian yang salah itu bisa perbaiki lebih awal. Bukannya satu jam sebelum tenggat waktu tiba seperti ini. Dan yang paling penting, kalau sampai tugas besar yang ini telat dikumpulkan, satu kelompok bisa-bisa harus mengulang mata kuliah ini semester depan. Semua gara-gara satu orang yang tidak bertanggung jawab.

 

Menahan matanya yang berkaca-kaca, Yushi memutar otak mencari jalan keluar. Ia tidak membawa laptop, hanya ada ponsel sedangkan itu saja tidak cukup. Seingatnya tadi, Riku juga hanya membawa tas kecil seperti dirinya. Ia juga tidak mungkin pulang sekarang. Jalanan pasti macet dan tenggat waktu semakin dekat. Yushi mulai terisak pelan. Tangannya dengan cepat mencari warung internet terdekat di ponselnya, berharap dapat menyewa komputer sebentar. 

 

“Yushi? Kenapa?” panggilan penuh kekhawatiran itu menyapa rungu si gadis yang masih berdiri kebingungan. Air matanya tumpah semakin deras saat Jaehee mendekat. Lega karena merasa dapat meminta bantuan, Yushi secara tidak sadar meraih lengan bawah Jaehee.

 

“Jaehee bawa laptop tidak? Kalau bawa boleh aku pinjam sekarang? Tenggat waktu tugasku kurang dari satu jam,” Yushi bertanya tergesa dan menjelaskan kondisinya. Gadis itu hampir memeluk Jaehee saking leganya saat si pemuda menganggukkan kepala.

 

“Ada di mobil. Aku ambilkan atau…?”

 

“Aku boleh ikut? Sekalian mengerjakan di mobil? Aku butuh semua waktu yang tersisa,” pinta Yushi dengan suara seraknya. Tanpa membantah, Jaehee membimbing Yushi ke basement. Pusat perbelanjaan itu begitu besar hingga perjalanan terasa sangat panjang. Kalau saja ia harus berjalan sendirian, Yushi pasti sudah tersesat memutari semua lantai. Gadis itu berjalan gelisah, dengan ketat menghitung setiap detik yang tersisa.

 

“Sebentar lagi sampai,” Jaehee mengumumkan berusaha menenangkan. Yushi meringis dalam hati. Kalau saja kesopanannya dihilangkan, ia akan meminta Jaehee berlari agar mereka dapat segera sampai. Untungnya, Jaehee tidak berbohong saat berkata mereka sudah dekat. Mobil listrik putih milik Jaehee ada tepat di dekat pintu yang mereka lewati. Yushi menghela nafas lega saat ikut masuk ke dalam, menerima laptop yang sudah dinyalakan oleh pemiliknya.

 

“Hotspotnya sudah menyala, bisa langsung tersambung,” Jaehee dengan baik hati membantu Yushi lagi. Gadis itu melempar senyum penuh terima kasih. Sayangnya, lokasi mereka yang ada di basement membuat jaringan internet tidak begitu lancar. Jaehee menyadari kesulitan yang dialami Yushi, segera menyalakan mesin mobil.

 

“Kita mau ke mana?” tanya Yushi tidak mengerti, masih menggigit jari karena lembar kerja kelompoknya tidak juga termuat. 

 

“Keluar dari sini supaya internetnya lancar,” Jaehee fokus memutar kemudi, cukup tergesa melajukan mobil sebelum sadar bahwa ia sedang membawa anak orang sehingga mengemudi dengan lebih berhati-hati.

 

“Eh, tapi di luar macet pasti macet,” Yushi sekarang benar-benar menoleh untuk menatap wajah penuh tekad pemuda di sampingnya.

 

“Gapapa, Yushi. Nanti aku cari tempat parkir di dekat sini yang sinyal internetnya lancar. Kamu fokus mengerjakan saja, ya? Urusan mengemudi serahkan padaku,” Jaehee sekali lagi menenangkan Yushi, memberi gadis itu senyum teduh yang entah mengapa sangat efektif membuat detak jantungnya yang gaduh menjadi lebih tenang.

 

Tersisa 40 menit waktu yang Yushi punya saat jaringan internetnya stabil. Gadis itu meminta izin kepada Jaehee untuk menerima panggilan dari ketua kelompoknya guna berkoordinasi mengenai laporan yang harus mereka selamatkan. Seperti yang Yushi katakan sebelumnya, jalanan penuh dan mobil Jaehee hampir tidak bergerak sedikitpun. Yushi merasa tersentuh di sela-sela fokusnya menginterpretasikan hasil analisis yang dikirimkan temannya. Pemuda yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu rela terjebak macet demi dirinya.

 

“Kei ini di aku lemot banget internetnya. Di kamu gimana? Bisa diunduh?”

 

“Bisaaaa! Duh tiga menit lagiiii!”

 

“Siapin classroomnya dulu, Kei!” Yushi ikut berseru panik. 

 

“Nama file sesuai formatnya di chat. Salin dari situ aja!”

 

“Oke!”

 

Kurang dua menit dari batas waktu pengumpulan. Yushi sudah berkeringat dingin. Badannya terasa pegal karena duduk tegak sedari tadi. Di sampingnya, Jaehee tampak ikut menahan napas sambil sibuk mencari jalan menuju cafe terdekat. Jalanan semakin macet di luar sebab bertepatan dengan orang-orang baru pulang dari tempat kerja. 

 

“Oke done! Terima kasih, Ciii. Maaf banget ya ngerepotin.”

 

“Okee. Maaf juga ya, Keii. Aku kurang teliti tadi ngecek ulangnyaa,” sesal Yushi dibantah ketua kelompoknya. 

 

“Nooo. Bukan salah kamu, ih. Kalau si kating itu teliti mah nggak bakal kayak gini. Udah yaa. Aku udah mau boarding inii. Sekali lagi terima kasih, Ciii.”

 

“Terima kasih kembali. Safe flight, Kei. Selamat liburan.”

 

“Hahaha, lucunyaa. Selamat liburan juga, Uci Imut.”

 

Yushi menghela nafas penuh rasa lega setelah panggilan telepon terputus. Anehnya, Jaehee juga ikut melakukan hal yang sama di sebelahnya. Yushi menoleh, ikut tertawa kecil seiring dengan kekehan dari pemuda yang masih setia memegang roda kemudi. 

 

“Terima kasih, Jaehee. Kalau nggak ada kamu kayaknya aku harus ngulang matkul neraka ini semester depan,” ujar Yushi sembari menutup semua lembar kerja di laptop pinjaman, lantas memasukannya kembali ke dalam tas.

 

“Aku ikut deg-degan tau. Keinget tugasku sendiri kemarin malam. Selamat sudah menyelesaikan semester empatnya. Ini memang baru dikumpulkan hari ini, ya?”  

 

Mobil yang dikendarai Jaehee tampak sedang menuju sebuah cafe yang cukup sepi di kanan jalan. Mengingat kerja kerasnya satu jam terakhir, Yushi sudah bertekad membeli cheesecake dan minuman kesukaan.

 

“Iya. Tadi pagi sudah aku cek lagi kan buat mastiin semuanya lengkap dan selesai. Sekalian drafting. Tapi ternyata ketua kelompokku lihat ada satu bagian yang salah input data jadi harus dikerjain ulang. Mana yang ngerjain bagian itu hilang, ih. Yang lain juga gaada yang ngerespon katanya,” jawab Yushi begitu panjang karena sekalian mengeluarkan uneg-uneg yang sudah ditahan selama mengerjakan laporan.

 

“Ya ampun, kamu sudah kerja keras sekali hari ini. Harus diberi apresiasi. Bills on me, ya!”

 

Yushi sudah menolak berulang kali tetapi Jaehee tampaknya seseorang dengan pendirian seteguh karang. Maka, sambil membalas pesan dari Riku yang menanyakan lokasinya saat ini, Yushi duduk manis menunggu Jaehee memesankan minuman dan kue yang ia inginkan. 

 

Balasan dari Riku datang sesaat kemudian, mengatakan bahwa ia dan Sion akan menyusul ke tempatnya dan Jaehee berada. Yushi sempat melarang. Ia berniat langsung pulang setelah menghabiskan makanannya. 

 

Berarti kamu nanti pulangnya diantar Jaehee? Nggak sama aku dan Kak Sion? Jaehee nggak mungkin biarin kamu pulang naik ojol, kalau kamu mau tau.

 

Sial. Riku memang benar-benar sahabatnya.

 

Setelahnya, Yushi dan Jaehee menghabiskan hampir satu jam mengobrol sebelum Riku dan Sion datang. Ajaibnya, Yushi merasa ia bisa dengan mudah mengikuti alur bicara pemuda di depannya. Setiap topik yang dibawa Jaehee terasa menarik dan Yushi begitu antusias mendengarkan semua kalimat yang terucap dari teman satu jurusan sahabatnya. Dan yang paling penting, Jaehee dapat membuat Yushi yang terkenal irit bicara menjadi lebih terbuka. Belum ada satu hari mereka berkenalan, Jaehee sudah mengetahui nama dan wajah adik laki-lakinya.

 

Yushi sampai sempat berpikir bahwa ia akan baik-baik saja seandainya Jaehee bersikeras mengantarnya pulang seperti kata Riku.

 

“Yushii!” tubuh si gadis April dipeluk tanpa aba-aba dari belakang. Dari suara dan aroma parfumnya, Yushi tahu pasti pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah Riku. Heran. Sahabatnya itu memiliki kekuatan super, ya? Bagaimana bisa ia datang tepat setelah Yushi menyebut namanya di kepala?

 

“Udah dibilangin sejak awal si kating tidak jelas itu nggak usah dimasukin ke kelompok kalian. Jadinya kayak gini, kan? Kamu tuh terlalu baik hati.”

 

Oh. Tentu saja hal pertama yang dilakukan sahabatnya adalah mengomel mengenai akar masalah kesusahannya hari ini. Riku tahu cerita saat kating itu memohon kepada Yushi agar dipertimbangkan bergabung di kelompoknya. Yushi tidak memiliki kuasa, tentu saja. Tetapi ia berdiskusi panjang lebar dengan ketua kelompoknya agar si kating diberi kesempatan terakhir. Belum lagi, semester ini adalah kesempatan terakhir mahasiswa tua itu mengejar mata kuliah ini. 

 

“Dia udah ngerjain, Iku. Tapi kurang teliti jadi salah input data. Di akhir doang, kok. Selebihnya aman-aman aja.”

 

“Tuh! Kamu belain dia. Kalau jelas salah gitu jangan dibela,” Riku masih saja galak meskipun Yushi sudah menyuap sahabatnya itu dengan sepotong cheesecake. 

 

Yushi manyun, matanya mulai berkaca-kaca. “Tapi kakak itu niat, Iku. Dia kalau mau kelas pamitan dulu ke Bundanya minta doa, tau. Temanku yang bilang begitu. Aku mana tega?”

 

Riku terdiam, jelas merasa bersalah saat beranjak memeluk Yushi dari samping. Si April menggeliat tidak mau. Malu dilihat oleh Sion dan Jaehee. Hal itu membuat Riku ikutan manyun. 

 

“Kamu nggak mau pesen? Tadi aku lihat ada pudding yang kamu suka kalo nggak salah,” Yushi berusaha mengalihkan topik dan berhasil. Riku segera menyeret Sion ke kasir untuk memilih menu. Rasa lega karena terbebas dari suasana tidak enak itu Yushi limpahkan dengan menyeruput banyak-banyak milk tea yang tinggal separuh. Ternyata Yushi kehausan sejak tadi.

 

“Mau aku pesankan minum lagi?” suara ramah Jaehee menginterupsi, lengkap dengan senyum manisnya. Yushi tanpa sadar mengangguk lalu segera menggeleng setelah sadar dengan refleksnya. Gawat. Kenapa jadi salah tingkah begini?

 

“Maaf, maksudnya nggak usah. Terima kasih yaa. Aku titip air putih saja ke Riku. Permisi.”

 

Setelah memberitahu pesanannya pada sang sahabat, Yushi berbelok menuju toilet. Ia baru sadar bekas air matanya tadi masih membekas di wajah. Ew jeleknya. Jaehee kenapa tidak memberitahu ya? Yushi merasa rasa malunya semakin besar. Buru-buru gadis itu merapikan riasannya agar bekas air mata itu tertutupi untuk sementara. 

 

Saat Yushi kembali, meja yang ia tempati sudah ramai lagi oleh celotehan Riku dan Jaehee. Keduanya sedang membahas mengenai tempat kerja praktek untuk semester depan, juga berencana untuk menjadi satu tim bersama tiga teman lain. Yushi menyimak seluk beluk jurusan Riku dan Jaehee yang sangat berbeda dengan jurusannya sendiri. Ribet sekali. Ia mendengarkan saja sudah pusing sendiri.

 

“Kalau Yushi kerja prakteknya di mana?” Jaehee melempar tanya dengan suara manisnya.

 

Ya ampun. Yushi merinding sendiri. Kenapa semua yang ada di Jaehee terasa sangat ramah, hangat, sekaligus manis? Mungkin itulah yang membuat pemuda ini sangat mudah bergaul dengan orang lain? Yushi bisa melihat bahwa Jaehee adalah sosok yang sangat bisa diandalkan juga. Magnet manusia. Semua orang seolah-olah tertarik hanya dengan keberadaannya di satu ruangan yang sama. Termasuk Yushi.

 

“Ehmm…biasanya di konsultan atau pemerintahan,” Yushi menjawab sedikit terbata-bata, masih terkejut dengan pertanyaan Jaehee yang tiba-tiba.

 

“Oh iya? Dinas atau kementerian gitu ya? Berkelompok juga?”

 

“Kalau kementerian jarang karena agak susah tembusnya. Di jurusanku per instansi, baik dinas maupun konsultan, itu maksimal 5 mahasiswa dan wajib beda bidang. Jadi ya kalau nyari yang dekat kampus pastinya rebutan sama satu angkatan.”

 

Jaehee mengangguk paham. Terdapat jeda yang cukup panjang sampai Riku dan Sion memulai percakapan lain. Yushi merasa kikuk, hampir ingin meminta maaf dan pamit pulang. Jemarinya meraih ujung gaun Riku, memberi kode singkat bahwa ia sudah ingin pergi. Tanpa kata, Riku mengambil ponsel untuk mengirim pesan kepada sahabatnya. 

 

Bentar ya habisin puding dulu

 

Yushi merasa lega karena Riku peka dan tidak menghakimi. Kak Sion dan Jaehee orang-orang baik dan ramah. Bahkan Jaehee tadi sudah membantu Yushi. Keinginan si April ini bukan perihal tidak nyaman, tetapi karena ia merasa energinya sudah terkuras habis. Ia ingin segera berbaring nyaman di kasurnya yang baru diganti sprei tadi pagi. Lagipula sudah cukup lama ia dan Jaehee mengobrol sebelum Riku menyusul. Hampir satu jam lamanya. Jadi tidak apa-apa kan kalau Yushi ingin segera pulang? 

 

Riku benar-benar menepati ucapannya. Dengan alasan mau mengambil laundry, ia menyudahi pertemuan hari ini. Sebelum melipir ke mobil Kak Sion, Yushi berdiri menghadap Jaehee untuk berterima kasih sekali lagi. 

 

“Jaehee, terima kasih tadi sudah dibantu. Kapan-kapan giliran aku yang traktir ya,” Yushi berucap ramah dibalas kekehan ringan dari lawan bicaranya. 

 

“Waduh jadi enak. Aku senang lho bisa membantu. Semoga tugasnya dapat nilai bagus ya. Kabari aja kalau butuh bantuan lagi,” ucap si pemuda ringan tanpa tahu beban yang dirasakan Yushi di dalam hati. Beban akan rasa terima kasih yang besar, keinginan untuk meminta maaf, dan kekaguman yang tidak bisa ditahan. Yushi hanya mampu mengangguk sebelum betulan berpamitan dan berlari kecil untuk masuk ke mobil Kak Sion. 

 

“Hati-hati ya!” Kak Sion menyapa untuk yang terakhir kalinya sebelum dua mobil itu kembali bergabung dengan keramaian jalan. Perjalanan hampir satu jam itu dilalui dengan hening. Yushi tertidur di kursi belakang. Jadi Riku mengecilkan volume radio lalu mulai bergosip dengan pacarnya sepanjang perjalanan. Sesekali Riku melirik Yushi untuk memastikan teman serumahnya itu masih terlelap. Dengan bisikan pelan, Riku dan Sion menyepakati satu rencana besar. 



 



𐦍༘⋆





Liburan kuliah sebelum menginjak semester lima Yushi habiskan di rumah dan jalan-jalan singkat di sekitar tempat tinggal bersama adiknya yang baru menginjak bangku SMP. Ia juga belajar mengendarai mobil lagi dengan bimbingan Papa, hanya untuk kembali menyerah setelah membuat bemper belakang mobil lecet. 

 

“Yaudah deh, Kak. Kamu naik ojol aja daripada membahayakan diri sendiri dan orang lain di jalan,” ujar Papa setelah Yushi turun dari mobil. Gadis itu tertawa miris namun segera tersenyum lebar saat Papa memeluknya erat. 

 

“Besok si Adek berangkat jam berapa, Kak?” Bunda bertanya dari dapur, tampak sedang menyiapkan kue kering untuk Sakuya bawa sebagai bekal perjalanan besok. Si sulung segera bergabung di sana, mencuci tangan lalu ikut membantu menuang adonan ke dalam loyang.

 

“Jam 6 pagi rombongannya sudah berangkat, Bun. Biar sampai di pantainya nggak kesiangan. Jadi Sakuya harus berangkat ke sekolah sebelum jam setengah enam.”

 

Yushi menjawab tanpa ragu karena ia sendiri yang menyiapkan barang-barang dan keperluan Sakuya. Ia juga yang memastikan jadwal keberangkatan kepada wali kelas si bungsu. Yushi melakukan itu semua karena merasa sangat bosan tidak memiliki kegiatan apa-apa. Beruntung akhir bulan nanti ada jadwal menjadi relawan di pantai untuk menanam mangrove. 

 

Selain itu? Yushi mengikuti beberapa kursus online, membantu Bunda membuat kue dan biskuit, merajut, membaca buku, dan banyak kegiatan khas mahasiswa yang menghabiskan liburan di rumah. 

 

Setelah loyang-loyang itu masuk ke dalam oven, Yushi berpamitan ke kamar untuk menjawab telepon dari Riku. “Aku ke kamar dulu ya, Bun. Tadi Riku bilang ada yang mau diomongin.”

 

Panggilan dari sahabatnya itu datang tepat waktu, sesuai dengan jadwal yang sudah diberikan Riku. 

 

Jam 11 aku telepon yaa. Ini masih di jalan. 

 

Begitu kira-kira pesan Riku tadi pagi. 

 

“Ciiii, kamu di mana?” suara Riku dari seberang telepon terdengar samar seakan empunya sedang ada di tempat berangin. Memang benar. Riku kan sedang liburan ke pantai.

 

“Ya di rumah. Mau ke mana lagi?”

 

Tawa Riku terdengar renyah, seakan menertawakan pertanyaannya sendiri. Yushi menunggu dengan sabar hal penting yang mau disampaikan Riku sampai-sampai harus melalui telepon seperti ini. Biasanya sih hal yang penting dan harus diomongkan secara langsung biar tidak salah paham.

 

“Jadi gini, aku dan Kak Sion rencananya mau liburan dua hari dua malam gitu, Cii. Kamu mau ikut nggak? Nanti ada Jaehee juga kok. Nginepnya di villa punya Kak Sion.”

 

Hal pertama yang terlintas di otak Yushi adalah rasa heran lantaran Riku dan Kak Sion suka sekali liburan sampai-sampai merencanakan liburan untuk entah keberapa kalinya sekarang. Kedua adalah mengapa mereka selalu mengajak Yushi dan Jaehee dalam agenda mereka? Yushi paham mengapa Riku mengajak orang lain karena orang tua si Juni cukup protektif kalau soal keluar hingga menginap seperti ini. Sudah pasti tidak akan diizinkan kalau cuma berdua dengan pacarnya saja. Masalahnya adalah kenapa personilnya tetap mereka berempat?

 

“Ciiii?” panggil Riku lagi sambil merengek karena Yushi tidak kunjung merespon.

 

“Iyaa. Denger kok. Kapan dan di mana dulu nih? Aku izin ke Papa dan Bunda dulu.”

 

“Asiik. Ke JTP yaa. Mingdep hehe. Kita lihat hewan-hewan lucuu sama main wahana. Villa Kak Sion nggak jauh dari sana. Rencananya mau main ke pantai juga nyari seafood kalau sempet.”

 

Bagus. Yushi tertarik. Dia belum pernah pergi ke tempat wisata yang satu itu sebelumnya. “Oke. Aku ikut.”

 

Yushi bisa mendengar seruan senang Riku dan suara Sion yang entah mengatakan apa. Setelah itu terdengar pula suara tarikan napas panjang sahabatnya. Ada apa ini? Yushi was-was karena Riku tampak sedang menyiapkan diri untuk melempar pertanyaan paling sulit untuk Yushi.

 

“Berhubung searah, kamu berangkatnya ikut mobil Jaehee mau? Aku berangkatnya bareng Kak Sion dari apart kita.”

 

Yushi bisa membayangkan Riku mengucap pertanyaan itu sambil menggigit jari, lalu Kak Sion akan menegur pacarnya dengan halus. Alias otak Yushi seakan menolak untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan Riku. Diamnya Yushi pasti membuat Riku cemas sekaligus paham dengan apa yang sedang dirasakan si April saat ini. 

 

“Dijemputnya di rumah. Nanti aku bilang ke Jaehee buat pamitan ke Papa dan Bunda. Gimana?” tambah Riku penuh harap. 

 

Yushi menutup mata sembari menarik nafas pelan. Jaehee pemuda yang baik. Yushi sudah pernah menerima pertolongan Jaehee yang sangat murah hati mempermudahnya saat merevisi laporan semester kemarin. Apa yang membuat Yushi ragu? Karena tak kunjung menemukan sumber keraguannya, Yushi memutuskan bahwa perasaannya saat ini hanyalah sebuah fatamorgana. Alias tidak nyata.

 

“Iya, boleh. Aku minta kontaknya Jaehee ya biar bisa shareloc ke dia.”

 

“Okeii, terima kasih Uci sayang. Aku janji kamu nggak bakal nyesel udah ngeiyain liburan ini.”

 

“Iyaaa…” Yushi menjawab pasrah. Sekelebat niat untuk membatalkan persetujuan muncul dengan seenaknya. Tapi Yushi tidak mau! Dia tidak ingin plin-plan dengan pilihannya sendiri. Riku pasti juga sudah mewanti-wanti kebiasaan jelek sahabatnya yang satu itu. Maka gadis Juni itu mengirimkan excel berisi detail itinerary selama liburan dua hari. 

 

Luas biasa. Ternyata rencana liburannya sudah dipikirkan matang-matang sejak lama. Yushi hanya perlu mengiyakan dan tidak perlu memusingkan apa-apa. Melihat adanya agenda bersepeda di kebun raya menambah minat si April. Niatnya untuk membatalkan janji akhirnya terhempas. Yushi mendadak tidak sabar berangkat liburan.



𐦍༘⋆

 

Barang-barang sudah dipacking dan dimasukkan ke dalam koper kecil. Alat make up dan perintilan lain dimasukkan ke dalam tas jinjing. Uang cash mulai dari pecahan besar sampai kecil juga sudah tersedia di dompet. Peralatan elektronik ada di ransel. Yushi berdiri di tengah kamar, mengabsen barang-barang bawaannya untuk liburan supaya tidak ada yang tertinggal. 

 

Betul juga. Topi pantainya belum masuk. Yushi keluar dari kamar untuk mencari topi yang seingatnya dipinjam Bunda satu bulan yang lalu. Wanita berambut panjang yang duduk di sofa ruang tengah bersama Papa itu mendongak saat putrinya memanggil. 

 

“Bundaa, topi pantaiku yang kemarin Bunda pinjam ada di mana?” Yushi sudah bertanya sejak masih menuruni anak tangga.

 

“Ada di kamar, Sayang. Sebentar Bunda cariin.”

 

Sembari menunggu topinya ketemu, Yushi duduk di samping Papa ikut menyimak laporan berita di TV. 

 

“Besok berangkat jam berapa, Sayang?” Papa bertanya, tangannya meraih bahu si anak sulung untuk masuk ke dalam rangkulannya. Yushi mendusal manja, senang bisa merasakan elusan di rambutnya. Ternyata packing barang tadi membuatnya lelah. 

 

“Jaehee bilang datang sekitar jam 6 pagi, Pa. Nanti dia pamitan dulu ke Papa dan Bunda sebelum berangkat.”

 

“Terus dia berangkat dari rumah jam berapa? Jaraknya berapa kilo dari rumah kita?”

 

Yushi pernah punya pertanyaan yang sama dengan Papa, sudah ia tanyakan langsung dengan si topik pembicaraan. Saat itu Jaehee mengirimkan titik lokasi rumahnya. Dari situ Yushi mengecek di maps dan jarak rumah mereka sekitar 45 km. Kalau lewat tol, perjalanan yang harus ditempuh Jaehee sekitar satu jam.

 

“Sekitar satu jam perjalanan, Pa. Itu udah estimasi paling lambat di maps. Kalau berangkatnya pagi harusnya nggak macet ya.”

 

“Oke. Bilang ke Jaehee malam ini jangan tidur lambat. Mau nyetir jauh itu harus istirahat yang cukup biar fokus waktu di jalan,” Papa mewanti-wanti dengan wajah dan ekspresi super serius. Yushi mengangguk, betulan berniat menyampaikan pesan Papa kepada Jaehee nanti. 

 

“Sayang, ini topinya. Besok serius nih nggak mau Bunda bawain bekal aja?” 

 

Topi pantai besar yang mampu melindungi seluruh kulit wajah dari sinar matahari itu kini berpindah ke tangan Yushi. Ini salah satu hadiah ulang tahun dari Riku tiga tahun yang lalu— si gadis Juni memberi Yushi 5 hadiah berbeda. Karena sangat cantik dan dan cukup jarang ada kesempatan untuk memakainya, Yushi ingin sekali membawa topi itu besok. 

 

“Iya, Bun. Nggak usah. Kami nanti mampir sarapan di rest area saja. Biar kerasa vibes liburannya.”

 

Bunda tertawa, geleng-geleng kepala. “Yaudah iya. Jangan telat makan lho, Kak. Obatnya dibawa dan jangan lupa diminum. Nanti kalau asam lambungmu naik waktu liburan malah repot.”

 

“Iya, Buun. Udah ya. Aku mau ke atas lagi beresin barang bawaan terus mau tidur. Selamat malam, Papa. Selamat malam, Bunda. Tidur nyenyak yaa.”

 

Bergantian, Yushi mencium pipi kedua orangtuanya. Papa protes saat Yushi berkilah sewaktu pria kepala 5 itu ingin mencium balik putrinya. Si anak sulung tertawa jahil, buru-buru melipir ke lantai dua lagi. Sebelum kembali ke kamarnya sendiri, ia masuk ke kamar adiknya yang tumben sudah sangat sepi. Ternyata Sakuya sudah terlelap dengan ponsel yang masih menyala. Kebiasaan. Ponsel itu Yushi ambil lalu ditaruh di atas meja belajar. 

 

“Good night, Adek.”

 

Setelah masuk ke dalam kamarnya sendiri, Yushi menaruh topinya asal di atas tumpukan tas dan koper. Barang sebesar itu tidak mungkin Yushi jejalkan ke dalam tas. Nanti bentuknya jadi jelek. Ia pun membuka ruang chatnya dengan Jaehee, jemari lentik itu mengetik dengan cekatan pesan yang disampaikan Papa tadi. Balasan diterima tidak lama kemudian. 

 

Ya ampun. Kenapa selalu fast respon sih? Memangnya pemuda itu tidak punya kerjaan dan selalu membuka ponsel ya? Yushi heran. Salah satu teman kelompoknya di jurusan pernah bilang pesan dari orang itu jangan dibalas terlalu cepat. Minimal 5 menit setelahnya. Alasannya ya karena biar tidak dikira fast respon. Alasan yang menurut Yushi aneh tapi cukup masuk akal setelah Yushi merasakan sendiri betapa cepatnya Jaehee membalas pesan.

 

Aku terharu Papa mu memberi nasihat seperti itu. Jangan khawatir. Ini sudah mau selesai beres-beres dan habis ini tidur. Kamu gimana?

 

Karena malas mengetik panjang, Yushi refleks mengarahkan kamera ponselnya ke arah barang-barang yang akan ia bawa besok dan mengirimkan hasilnya kepada Jaehee. 

 

Topinya cantik dan lucu sekalii

Kenapa barang-barangnya tidak dimasukkan ke dalam koper besar saja?

 

Yushi mengerang. Pertama karena salah tingkat sebab topinya dipuji. Kedua karena kenapa malah panjang begini?! Mereka kan harus segera istirahat supaya besok tidak bangun kesiangan.

 

Biar gampang kalau nyari barang. Kalau dijadiin satu harus ngerogoh gitu kalau nyari perintilan

 

Btw, katanya udah mau istirahat? 

 

Tanpa menunggu balasan, Yushi menaruh ponselnya ke kasur lalu masuk ke kamar mandi untuk cuci muka, gosok gigi, dan memulai ritual perawatan wajah. Notifikasi pesan masuk Yushi abaikan selama beberapa menit. Sekitar 20 menit sejak pesan terakhir yang Yushi kirimkan ke Jaehee, gadis itu baru kembali membuka ponselnya.

 

Betul juga. Lebih mudah kalau mau mencari barang yaa

 

Hehehe maaf…aku salfok sama foto yang kamu kirim

 

Oh kamu udah mau tidur ya?

 

Kalau gitu aku juga mau beberes dulu. Last chat di aku saja. Good night, Yushi 

 

Empat bubble pesan dari Jaehee ia pandangi lamat-lamat selama beberapa saat. Bingung mau membalas apa karena Jaehee sendiri yang melarang, akhirnya Yushi hanya memberi reaksi jempol pada pesan terakhir.

 

Sebelum berbaring di tempat tidur, Yushi mengirim foto selfie ke nomor Riku lengkap dengan pesan agar jangan tidur terlalu larut. Melihat pesannya yang hanya centang satu, Yushi menyimpulkan sahabatnya itu sudah berkelana di pulau kasur. Si gadis April meletakkan ponselnya di meja belajar, mematikan lampu kamar, lalu beranjak masuk ke dalam selimutnya yang hangat dan nyaman.