Actions

Work Header

Unpacking Us

Summary:

After being apart, Martin and Juhoon reunite—unpacking distance, longing, and the quiet comfort of being home together.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Bandara itu dipenuhi hiruk-pikuk. Pengumuman kedatangan dan keberangkatan bersahutan, roda koper beradu dengan lantai marmer, dan orang-orang berlalu dengan tujuan masing-masing. Namun bagi Martin, seluruh kebisingan itu seolah meredup menjadi latar semata. Fokusnya hanya satu—pintu kedatangan yang sejak tadi tak lepas dari pandangannya.

Sudah hampir dua bulan ia menunggu hari ini. Dua bulan yang dipenuhi panggilan video, pesan-pesan singkat di sela perbedaan waktu, dan rasa rindu yang disimpan rapi. Juhoon akhirnya pulang, setelah menghabiskan waktu di Jepang mengunjungi orang tuanya yang menetap di sana. Hari ini, jarak itu resmi berakhir.

Begitu sosok yang ia kenal muncul di antara arus penumpang, jantung Martin berdetak lebih cepat. Juhoon melangkah dengan koper di tangan, wajahnya sedikit lelah namun matanya berbinar saat pandangan mereka bertemu. Tak ada aba-aba, tak ada kata—mereka saling mendekat cepat dan langsung berpelukan, erat, seakan ingin menebus waktu yang sempat merenggangkan jarak di antara tubuh mereka.

Martin menunduk, mencium dahi Juhoon, lalu pipinya, hidungnya, dan sudut bibirnya—sebuah rangkaian kecupan singkat namun penuh rasa, seolah memastikan bahwa orang yang ia rindukan benar-benar ada di hadapannya kini. Juhoon terkekeh kecil, tangannya menguat di tubuh Martin.

“Sayang,” Juhoon tertawa pelan sambil menahan bahunya, “orang-orang lihat.”

“Biarin,” jawab Martin singkat. “Aku udah nahan ini dua bulan. I miss you so much, baby.”

Juhoon hanya menghela napas kecil, kembali memeluk Martin lebih erat. “Aku juga, sayang.”

Kemudian perjalanan menuju mobil berlangsung dalam keheningan yang menenangkan, hanya diisi oleh genggaman erat, kecupan kecil pada tangan yang saling bertaut, dan senyum yang lahir dari rasa lega karena akhirnya tak lagi berjauhan.

“Kamu capek?” tanya Martin, begitu keduanya sudah duduk nyaman di dalam mobil.

“Lumayan,” jawab Juhoon jujur. “Tapi lebih capek nahan rindu sama kamu.”

Martin tersenyum. “Mau langsung pulang, atau makan dulu?”

Juhoon berpikir sebentar, lalu matanya berbinar. “Mau makan taichan.”

“Serius?” Martin terkekeh.

“Serius,” kata Juhoon sambil mengangguk mantap. “Aku kangen banget sama taichan selama di sana.”

“Oke, baby. Ayo kita makan taichan.”

Keputusan itu membawa mereka melaju ke tempat langganan mereka—tempat sederhana yang menyimpan banyak kenangan kecil. Mereka memilih untuk makan di dalam mobil, menikmati aroma sate yang hangat dan saus pedas yang khas. Di sela-sela suapan, Martin bertanya tentang Jepang, tentang hari-hari Juhoon di sana.

“Gimana di Jepang?”

Juhoon tertawa. “Kan kita video call setiap hari,” katanya sambil mengunyah. “Aku udah ceritain semuanya.”

“Mana tahu ada yang kelewat,” kata Martin lembut.

Juhoon bersandar santai. “Senang bisa ketemu Papa Mama. Banyak jalan-jalan, yang selalu aku kirim foto-fotonya, terus ketemu keluarganya Mama. Seru semua deh! Eh ada sih yang gak seru di sana... Di sana gak ada kamu!”

Martin terkekeh kecil. “Makanya,” katanya. “Lain kali bawa aku sekalian.”

Juhoon menyenggol lengannya pelan. “Yaudah,” katanya. “Nanti lagi ya?”

Martin tidak membalas, hanya menatap dalam ke Juhoon, senyumnya lembut, seolah ingin menyimpan percakapan itu untuk nanti. Sesaat hening menyelimuti mereka, bukan karena kehabisan kata, melainkan karena tak ada yang perlu dijelaskan.

“Oh iya, aku beliin kamu kado. Banyak banget.” Kata Juhoon kembali mengisi percakapan.

“Sebanyak apa?”

“Banyak sampai kopernya hampir overweight,” Juhoon terkekeh. “Nanti kita buka sama-sama ya.”

Martin mengangguk. “Oke, baby.”

Setelah itu, mereka pulang ke rumah—rumah yang sudah setahun terakhir mereka pilih untuk dihuni bersama.

Setibanya di rumah, Martin menyuruh Juhoon mandi lebih dulu. Ia sendiri masih perlu menyelesaikan beberapa pekerjaan.

Selesai mandi, Juhoon kembali ke kamar. Martin sudah ada di sana, masih duduk dengan fokus yang tersisa pada pekerjaannya. Juhoon mengganti pakaian, melakukan rutinitas perawatan wajahnya, lalu mulai membongkar koper dan tas yang ia bawa. Ketika Martin akhirnya menutup laptopnya, ia ikut duduk bersila di lantai, tepat di samping Juhoon.

“Ini dulu,” kata Juhoon sambil mengeluarkan beberapa kantong belanja. “Buat kamu.”

Martin mengangkat alis. “Langsung buat aku?”

“Iya dong,” Juhoon terkekeh. “Aku belinya sambil mikirin kamu.”

“Yang ini aku pilih karena warnanya kamu banget,” jelas Juhoon sambil mengangkat sebuah pakaian.

“Kalau ini… Aku inget kamu pernah nunjukin dan bilang pengen coba mie ini.”

“Terus ini snack favorit aku selama disana, terus kepikiran kayaknya kamu bakal suka juga deh.”

Satu per satu, Juhoon memperlihatkan barang-barang yang ia beli. Martin hanya memperhatikan, mendengarkan setiap penjelasan kecil dengan senyum yang tak lepas. Dalam hati, ia merasa gemas melihat betapa antusiasnya Juhoon menceritakan setiap detail.

Setelah itu Martin bertanya, “Kalau buat kamu sendiri? Kamu beli apa?”

Juhoon tampak sedikit malu namun bersemangat. “Disana banyak make up yang lucu-lucu.” Tangannya berhenti pada satu benda kecil. “Ini… lipstick. Aku paling suka.”

Ia memperlihatkannya pada Martin. “Lucu, kan? Warnanya bagus banget tau.”

Juhoon memakainya perlahan di bibirnya. Warna pink yang lembut menggantikan pucat yang tersisa dari perjalanan jauh. Martin menatapnya sejenak, lalu tersenyum. “Cantik.”

Juhoon membalas senyum itu, lalu mendekat dan mengecup pipi Martin agak lama. “Ini kenapa aku bilang lucu,” katanya ringan. “Warnanya nempel. Kemarin aku coba di tangan sendiri. Sekarang mau coba ke kamu.”

Martin tertawa kecil. “Lagi.”

Juhoon mengecup pipi sebelahnya. “Gemas. Pacar aku ada dua kissmark!”

Martin mengangkat ponselnya, berkaca lewat kamera, lalu mengambil gambar. “Lucu. Dicium pacar aku.”

Juhoon tersenyum manis. “Kamu mau coba pakai?”

Martin mengangguk. Namun saat Juhoon hendak mengarahkan lipstick itu ke bibirnya, Martin menahan tangannya. Juhoon menatap bingung.

“Gini aja caranya,” ujar Martin pelan.

Ia mengambil lipstick itu dan mengoleskannya kembali ke bibir Juhoon. Juhoon diam, seolah sudah memahami arah dari gerakan itu. Setelah selesai, Martin meraih kedua pipi Juhoon, mendekatkan wajah mereka, lalu menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang hangat.

Juhoon menutup matanya, merasakan kehadiran yang begitu ia rindukan. Lengannya melingkar di leher Martin. Martin menariknya perlahan, mengangkatnya untuk duduk di pangkuannya. Tangannya turun ke pinggang Juhoon, menahan dengan lembut.

Ciuman itu berlangsung tenang, stabil, penuh rasa yang tertahan selama dua bulan terakhir. Mereka bergerak perlahan, saling menyesuaikan, hingga akhirnya Juhoon melepasnya lebih dulu, kehabisan napas. Martin memahami dan memberi jarak, dahi mereka hampir bersentuhan.

“Bibir kamu udah ikut pink juga deh,” kata Juhoon sambil tertawa kecil.

Martin tersenyum, matanya lembut. “I miss you so much, baby.”

“Me too, sayang.”

“Can we continue? I’ve been going crazy hampir dua bulan ini.”

Juhoon melirik koper yang masih terbuka. “Tapi ini masih berantakan.”

“Nanti aja,” jawab Martin sambil berdiri dan menggendong Juhoon. “Let me finish this first.”

Juhoon terkejut lalu tertawa, memeluk leher Martin erat. “Okay, sayang. Do whatever you want.”

“Nantangin,” Martin terkekeh.

Ia membaringkan Juhoon di atas kasur, mengurungnya dengan tubuhnya, dan kembali meraup bibir manis itu. 

Sementara dunia di luar sana perlahan dibiarkan berhenti, memberi ruang hanya untuk mereka berdua, dan rindu yang akhirnya menemukan tempatnya kembali.

Notes:

brainrot gue hampir sebulan kebelakang

find me on twitter @chichochachechu