Work Text:
13 Maret 2025
Hampir tujuh belas jam penerbangan internasional dari Bucharest ke Jakarta—dengan satu kali transit empat jam setengah jam di Doha, dilanjutkan satu jam penerbangan domestik ke kota kelahirannya seharusnya sudah lebih dari cukup untuk membuat Soonyoung lelah. Nyatanya yang ada di pikiran pemuda itu pertama kali setelah mengguyur tubuhnya dengan air hangat dan menyesap segelas teh manis hangat adalah meminjam kunci motor milik Ibunya—yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh sang Ibu saat melihat kondisi putranya yang lebih mirip mayat hidup. Kantung mata hitamnya menggantung dan arah omongan yang terlontar dari mulutnya lebih mirip seperti orang mabuk.
“Pesen online aja, le. Sama aja kok rasanya. Mau Ibu yang pesenin? Kalo mau nunggu sorean, nanti takbeliin yang lebih enak.”
“Nggak mau, orang aku maunya makan sambil liat jembatan, kok.”
“Nanti aja sorean dianter sama Bapak. Ngantuk gitu kalo nabrak terus masuk rumah sakit piye? Sekarang istirahat dulu, itu kamarmu dah taknyalain AC-nya.”
Mendengar kata AC dinyalakan di siang hari bolong begini, bahkan Ibunya sendiri yang memiliki inisiatif menyalakan tentu saja membuat Soonyoung berpikir ulang. Kapan lagi tawaran menarik ini keluar dari mulut sang Ibu. Soonyoung berjalan mengambil sebotol es teh dingin dari dalam kulkas, kemudian masuk ke kamarnya yang sekarang jauh lebih mirip seperti gudang.
Onggokan barang-barang entah milik siapa, tumpukan buku-buku kuliah hingga umum, majalah bekas yang sudah diikat rapi, baju-baju lama yang tidak terpakai, serta lemari berisi koleksi tupperware milik Ibunya yang entah mengapa sekarang berada di kamar itu. Selebihnya masih sama seperti terakhir kali ia pakai. Kasur single di dekat jendela, sebuah meja belajar yang dibelikan ayahnya saat ia masih SMP, sebuah lemari kayu dengan cermin yang penuh dengan stiker band dan acara saat ia masih kuliah, serta sebuah rak buku tinggi yang penuh dengan koleksinya dulu.
Umurnya sudah hampir dua puluh delapan tahun ini, tapi dengan bibir yang ditekuk lucu dan rambut bercat ash grey yang kondisinya seperti sarang burung gagak serta kaos oversize berwarna merah muda bergambar tokoh film kartun dari Studio Ghibli membuat Kwon Soonyoung jauh lebih mirip anak baru lulus SMA. Setengah bersungut-sungut ia memindahkan tumpukan baju yang sepertinya baru disetrika dari ujung kasur ke ‘paseman’ di atas meja belajar lalu berguling di kasur dengan sprei yang ia yakin pasti baru diganti. Wanginya masih sama seperti saat ia masih menempati kamar ini dulu. Bau wangi samar yang bersih dari softener bayi warna putih hipoalergenik yang digunakan Ibunya sejak ia masih kecil. Menurut Ibunya, dulu kulitnya gampang gatal kalau ganti softener. Lebih murah pakai softener bayi daripada harus bawa berobat ke dokter kulit.
Kapan terakhir kali ia benar-benar menempati kamar ini? Sepertinya sudah lama. Sejak ia bekerja di ibukota, tiap kali pulang kampung setahun sekali seringnya ia menggelar kasur di depan televisi atau menumpang di kamar kakaknya karena seringnya pendingin ruangan di kamar yang ini tidak menyala. Masa kuliahnya lebih banyak dihabiskan di rumah kos yang sebenarnya letaknya tidak lebih dari lima belas kilo meter dari rumahnya, tapi dengan segala alasan (baik nyata maupun dibuat-buat) agar ia bisa merasakan apa yang orang-orang bilang akhirnya lepas dari orangtua. Meskipun sebenarnya ia masih pulang seminggu atau dua minggu sekali.
Foto-foto pada pigura yang menggantung di tembok hampir semuanya masih sama. Deretan gambar yang menceritakan perjalanannya ketika remaja kebanyakan dari masa SMP dan SMA—hasil jepretan dari kamera digital milik mendiang ayahnya, kemudian foto-foto dari jaman kuliahnya dengan kualitas gambar yang sudah lebih baik. Ia ingat sebagian besarnya diambil dari kamera SLR milik Junhui yang bahkan sang empunya tidak tahu cara menggunakannya dengan benar. Deretan foto polaroid dan sebuah kotak besi berukuran sedang tergeletak paling atas di meja belajarnya, yang ia tahu persis apa isinya.
Soonyoung berdiri dari tempat tidurnya kemudian memasukkan kotak besi itu ke dalam kopernya. Mungkin sudah saatnya benda itu kembali ke pemilik aslinya. Tidak sekarang. Tapi setidaknya dalam waktu dekat setelah semua keberaniannya terkumpul.
Rencananya untuk makan nasi goreng di seberang jembatan tentu saja buyar karena yang ada Soonyoung harus menyerah pada rasa lelah dan jetlagnya. Hampir dua puluh jam perjalanan di udara dibalas dengan tidur hampir dua belas jam. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang keesokan harinya ketika ia terbangun oleh aroma sambal teri yang dibuat sang Ibu. Hari liburnya masih tersisa empat hari lagi sebelum penerbangannya ke timur untuk urusan project sampingannya. Urusan nasi goreng masih bisa menunggu nanti. Atau kalau perlu seperti yang Ibunya bilang kemarin—pesan lewat ojol saja.
Soonyoung tidak tahu persis apa yang ia cari di sini. Rasa nasi goreng babat yang tersaji pada piring beralas daun di depannya sebenarnya enak. Tapi yaudah enak biasa aja, bukan yang enak banget sampe mau mati gitu. Apalagi dengan harga yang hampir menyentuh angka empat puluh ribu rupiah rasanya bisa masuk itungan overprice. Kalau kata Ibunya lebih enakan nasgor babat iso yang jualan deket taman perumahan pagi-pagi. Kalau yang sekarang lagi dimakan Soonyoung sih nasgor turis, kemahalan, cuma menang nama. Gitu katanya.
“Pak, mau nambah air es.”
Soonyoung mengangkat tangannya lalu menyodorkan gelas kaca besarnya yang sekarang sudah kosong, hanya tersisa beberapa butir es batu di dasarnya. Udara kota ini di pergantian hari dari siang ke sore panasnya minta ampun, berasa masuk panci dimsum yang sedang dikukus. Soonyoung mulai menyendok nasi gorengnya yang mengepul panas, sesekali mengunyah pelan menikmati aroma smoky dari campuran babat, rempah, dan kecap manis yang sengaja dituang di ujung wajan sebelum mengenai nasi. Pilihannya untuk makan di sini sebenarnya salah, tempat seterkenal ini sama sekali tidak bisa membuatnya memeroleh ketenangan seperti yang ia inginkan. Solusi paling masuk akalnya, ia memilih duduk di meja paling luar sambil memandangi jembatan dan kendaraan yang ramai melintas.
Tempat ini sebenarnya termasuk satu dari beberapa tempat ‘keramat’ yang seharusnya tidak ia kunjungi jika ia masih waras. Terlalu banyak kenangan di sini. Tapi sejak kembalinya Jihoon ke kehidupannya, lalu closure mengambang setelah kejadian di Hari Valentine, Soonyoung sudah memastikan kalau dirinya termasuk dalam golongan orang-orang masokis kelas berat. Entah sampai kapan, entah untuk apa. Toh hubungan mereka sekarang nggak lagi sama. Panggilan yang tadinya aku-kamu juga sudah secara alami berganti jadi lu-gue.
Sedikit sentimentil kalau diingat lagi, masih ada kata ‘sayang’ tersemat pada pesan teks yang Jihoon kirimkan di hari terakhir mereka bersama beberapa tahun silam. Yang jejaknya masih ada karena Jihoon tidak pernah mengganti nomornya dan Soonyoung tidak pernah mengarsipkan ruang chat pribadinya dengan Jihoon. Orang gila mana yang memblokir kontak seseorang tapi masih menyematkan ruang chatnya paling atas. Dua tahun lamanya. Dan ia dengan percaya diri mengatakan kalau ia baik-baik saja saat Jihoon muncul di depannya pagi hari di minggu pertama Januari. Mengomentari pilihan kopi decafnya hari itu, lalu beberapa hari kemudian membelikan kapsul kopi untuk stok pantry yang semuanya jelas-jelas sesuai dengan seleranya.
Ketika Soonyoung menceritakan keresahannya ini pada Wonwoo, yang ada pemuda itu malah menyambutnya dengan gelak tawa dan komentar bernada mengejek.
“Lu dua tahun masih yearning kayak gini, padahal Jihoon aja udah pernah pacaran lagi abis lu putusin. Kasian amat?”
Mantan yang dimaksud Wonwoo adalah orang yang sama yang mengirimkan buket bunga dan beberapa gelas kopi pada huru-hara mereka di Hari Valentine. Erik namanya. Pemuda keturunan Jerman-Jepang itu adalah mantan rekan satu tim Jihoon saat masih bekerja menjadi vice coach di sebuah tim e-sports Eropa Barat.
Soonyoung bertemu dengan Erik pada hari keduanya berada di Bucharest. Entah bagaimana pemuda itu mengenalinya kemudian menariknya untuk pergi ke luar saat mereka selesai sarapan di restoran hotel. Erik itu orang baik, tidak menyebalkan seperti yang ada di pikirannya selama ini. Hanya sedikit iseng saja atau mungkin banyak. Yang jelas, kalau saat itu Soonyoung yang berada di posisi Jihoon, ia juga tidak akan menolak jika ada seseorang seperhatian itu mendekatinya. Yang membuatnya secara sengaja atau tidak membandingkan dengan dirinya sendiri. Empat tahun—hampir lima yang ia habiskan bersama dengan Jihoon. Apakah ia sudah cukup perhatian? Apakah ia benar-benar egois seperti yang Junhui bilang setelah mengetahui penyebab ia dan Jihoon putus dua tahun yang lalu.
Soonyoung benar-benar tidak paham lagi. Harusnya sekarang urusan cinta-cintaan bukanlah prioritasnya. Nyatanya tiap kali Jihoon mulai mengirim sesuatu yang ia terjemahkan sebagai mixed signals, rasa sakit itu kembali terbuka. Pun kebersamaan mereka di Bucharest yang bisa dibilang sedikit memberikannya harapan baru. Jihoon yang tiba-tiba memberikannya sebuah steamdeck keluaran terbaru setelah mereka tiba di hotel. Kamarnya yang tiba-tiba ditukar dengan Jihoon dengan alasan pemuda itu tidak terbiasa sekamar dengan Junhui yang merokok—yang jelas-jelas Soonyoung yakin itu hanya alasan saja. Bagaimana mungkin ia tidak berharap lebih?
Soonyoung meraba sakunya. Kotak beludru berisi gelang berantai perak yang ia pesantepat sebelum kepergian Jihoon, masih ada di sana. Benda yang sama yang urung ia berikan pada Jihoon dua tahun lalu dan urung juga ia berikan kemarin lusa karena ia memilih langsung pulang ke kota ini. Yang kemudian ia sesali ribuan kali.
Percakapan di grup chat tim mereka pagi ini diawali dengan Mingyu yang sudah kembali dan kontrak Jihoon yang sudah diakhiri. Bukan karena mereka hanya mendapat tempat ke-7 di turnamen terakhir lalu. Bukan. Urutan segitu sudah lebih dari cukup. Itu yang bosnya katakan. Alasan pribadi katanya, dan ketika Soonyoung memberanikan diri menanyakannya pada ruang chat pribadi, pesannya tak berhasil terkirim sampai detik ini.
Gerimis mulai turun membasahi aspal yang semula terbakar panasnya matahari. Aroma khasnya mengingatkan Soonyoung tentang masa lalu. Saat ia dan Jihoon makan nasi goreng di tempat yang sama, berboncengan naik motor matic tua milik Soonyoung yang joknya menurut Jihoon mirip tatakan pijat refleksi, bedanya bukan di telapak kaki tapi di pantat.
Tugu batu berbentuk lingkaran yang berdiri di depannya sekarang, dulunya masih berupa tiang pancang. Tempat yang ia kunjungi terakhir kali bersama Jihoon di kota ini.
“Ini proyekan apa lagi deh? Kayak nggak habis proyekan ngga penting di sini. Ngabisin anggaran aja.”
“Empat tahun kuliah di sini masa kamu ngga tahu sih ini tuh titik nol-nya? Bukannya aku dukung pemborosan, Ji. Tapi ya adalah dikit alesannya buat dibangun.”
Ucapannya itu kemudian disambut Jihoon yang manggut-manggut aja lalu fokus lagi menghabiskan nasi gorengnya.
Soonyoung menangkupkan sendok dan garpunya di atas nasi gorengnya yang masih sisa setengah. Nafsu makannya sudah benar-benar hilang sekarang. Jalanan di sekitarnya mulai dipenuhi orang-orang yang berbondong-bondong pulang kerja. Ramai. Namun, otaknya sekarang jauh lebih ramai dengan pikirannya sendiri.
Apakah hubungannya dengan Jihoon ke depan akan berakhir sama seperti lingkaran besar yang ada di seberangnya? Tidak memiliki ujung yang pasti? Soonyoung mengeratkan genggaman tangannya pada kotak beludru di sakunya, sebelum melepaskannya dan membuka layar ponselnya yang menunjukkan sebuah notifikasi surel baru.
Penerbangannya esok sore mundur tiga jam yang artinya ia tidak akan sempat mengejar connecting flightnya. Ia meneruskan surel itu pada rekannya sekaligus menanyakan alternatif jadwal connecting flight baru yang paling memungkinkan. Tangannya secara tak sadar menggulir pada ruang pesannya dengan Jihoon. Pesannya pagi tadi sudah terkirim dan dibaca beberapa saat yang lalu, namun tak ada balasan apapun yang tertulis dari seberang sana. Sepertinya kemungkinan hubungan mereka akan berakhir tidak jelas akan terulang lagi kali ini. Mungkin?
Kata orang jangan menyimpan seseorang pada aroma, makanan, lagu, tempat, atau benda mati lainnya. Sayangnya perkataan orang yang dulu Soonyoung anggap mirip seperti mitos itu seperti menikam balik padanya. Ia secara tidak sadar terus menyimpan Jihoon dan segala kenangan mereka hampir di semua hal itu.
Langkah Soonyoung ke tempat ia memarkirkan motor miliknya terasa berat. Sejauh apapun ia berlari dan mengubah arah tujuannya, pada akhirnya langkahnya seperti berputar dan berujung kembali ke tempat yang sama.
Titik nol.
