Chapter Text
Kaveh side :
"Maaf ya, Kaveh. Aku rasa hubungan kita cukup sampai sini aja." Gadis rupa kembang itu menyuarakan kegelisahannya.
Mata rubi itu membelalak, lalu kemudian terlihat tetesan air menggenang, tidak sampai jatuh. "Aku mohon, Lou. Satu kesempatan lagi. Aku tau aku sering sibuk niggalin kamu. Aku janji sehabis ini aku bakal sering habisin waktu sama kamu."
Kaveh mengepalkan kedua tangannya diatas kepala, seperti berdoa. Selayaknya gadis didepannya adalah tuhannya sendiri.
Nilou menatap iba, ia lembutkan suaranya, menyembunyikan kecewa, "masalahnya bukan di sana aja, Veh." Namun, ia harus tegas untuk kali ini. "Kamu tau sendiri kan ini udah kali keberapa?"
"... Tiga..." Kaveh tidak bisa mengelak, hanya pasrah.
"Iya, udah tiga kali. Aku gabisa nyalahin kamu sepenuhnya juga. Tapi, kamu sering ilang-ilangan tanpa kabar. Aku khawatir loh... Aku sakit hati juga, merasa 'Apa aku doang ya yang sampai kebawa hati gini?' Aku capek, Veh. Kamu ngerti, kan?"
"Maaf.." Tidak ada sedikitpun perlawanan atau alasan. Ia tahu betul ini sebenarnya sudah keterlaluan.
"Aku maafin, kok. Tapi, cukup sampai sini, ya? Aku maaf banget, aku gak sanggup. Aku juga gak mau halang-halangin mimpi kamu. Aku yakin apapun itu, tujuannya pasti mulia." Gadis bermata nilam itu mengucapkan kalimat konsolasi-nya yang terakhir.
"Nilou... Aku- Kamu bukan penghalang. Kamu-"
"Semoga beruntung, Kaveh. Aku tau kamu punya mimpi besar."
"..."
𖤣.𖥧.𖡼.⚘.❀.⚘.𖡼.𖥧.𖤣
"Mohon maaf, mas Kaveh. Tapi, sepertinya anda lebih baik pulang saja."
"Lambad! Apa urusan lo!? Jangan halangin gue!!"
"Mbak Nilou udah berpesan biar mas gak diizinin masuk. Saya juga sudah hafal apa yang bakal mas pesan di dalam."
".."
𖤣.𖥧.𖡼.⚘.❀.⚘.𖡼.𖥧.𖤣
"...................Nilou..........." dilirihkan Kaveh penuh lara. Entah setelah berapa lama ia mematung di depan rumah hingga Kaveh mengetuk pintu, itupun setengah hati.
Terdengar langkah kaki, lalu kunci logam berdecik, lalu daun pintu membuka ke arah dalam. "Baru pulang tengah malam gini. Kemana aja??"
"diam." Kaveh berusaha menarik tangisnya. Tentu saja teman sekamarnya akan memantik (alih-alih meredakan) emosinya.
Tercium bau Padisarah di hidung sang junior. "Oh? ... Sama pacarmu kah?"
Ctek. Sisa kewarasannya sudah putus, dimakan amarah. Kaveh tiba-tiba menutup pintu dengan kasar dan langsung membanting Alhaitham ke lantai. "APA MAKSUDLO ANJING!?!???! DIEM LO KEPARAT!"
"Ha?!..." Pria bermata zamrud langsung kaku, diam di bawah lelaki bermata delima penuh angkara.
"LO GAK TAU!! LO GAK PAHAM!!! LO MENDING DIEM!!"
"......." Alhaitham tidak menjawab. Matanya melirik ke arah lain, mana saja asal bukan ke Kaveh. "Andai Nilou tau sifatmu yang kayak gini" bisiknya.
PLAKK! Satu tamparan mendarat di pipi kiri Alhaitham. Nampak sepercik air mengalir dari kedua mata zamrud itu.
"Mulut lo gabisa ditutup, ya?" Nada yang keluar tidak lagi tinggi, hanya tersisa sindiran tajam.
Alhaitham memberanikan diri. "Emang kenapa?"
Kaveh diam tidak menjawab. Namun, tiba-tiba tangah penuh kapalan itu mencengkram erat leher pria di bawahnya, penuh dendam, penuh murka. "biar lo diem," lirih Kaveh datar.
Alhaitham keringat dingin, panik, tidak percaya senior sekaligus temannya sendiri tega melakukan ini.
Satu tangannya meraih-raih meja, menggenggam apapun yang bisa diambil—teko kesayangannya. Setengah sadar, setengah marah, Alhaitham hantamkan keramik itu ke dahi Kaveh.
Krak.
Bruk.
Lalu hening.
𖤣.𖥧.𖡼.⚘.❀.⚘.𖡼.𖥧.𖤣
Mata rubi Kaveh mulai membuka. Hijau. Asing. Sakit. Pikirannya masih kacau. Kepalanya terasa berat, jadi ia tidak berani bergerak, bahkan untuk menoleh.
"Sudah siuman, tuh." Terdengar suara Mahamatra Cyno. Yah, tapi, mungkin dia ke sini bukan sebagai matra.
Kuping lancip Tignari yang pertama kali terlihat di sudut mata sang pasien. Kemungkinan untuk memonitor keadaan si pria pirang yang masih terbaring di ranjang. "Masih belum sadar kayaknya," komentarnya singkat.
"Kaveh."
Tsk. Suara itu.
Mata sang empu nama langsung melirik, walaupun kepalanya diam. ".." mulutnya membuka ingin berucap sesuatu tapi sepertinya tidak ada yang keluar.
"Pantaslah Nilou putusin kamu. Hari ini dia orang yang paling beruntung, she's just dodged a bullet."
