Work Text:
Pagi itu datang dengan sangat sopan, menyelinap di antara celah gorden tanpa suara.
Martin baru saja menarik diri dari alam bawah sadar ketika ia merasakan sepasang mata sudah tertuju padanya.
Dalam jarak yang begitu dekat, Juhoon sedang berbaring miring, menatapnya, disertai senyum kecil di bibirnya.
Martin mengerjap, berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi.
Begitu kesadarannya utuh dan menyadari sosok yang ada di depannya, senyum Martin ikut merekah lebar.
Tanpa aba-aba, Martin memajukan wajahnya, mendaratkan kecupan lembut di kening Juhoon.
Juhoon terkekeh, suaranya serak khas bangun tidur. "Belum sikat gigi udah main cium aja."
Martin hanya nyengir, matanya masih setengah terpejam namun tangannya sudah mencari pinggang Juhoon. "Habisnya kamu, aku bangun udah dilihatin kayak gitu. Kenapa sayang?"
Bukannya menjawab, senyum Juhoon malah makin lebar hingga matanya membentuk bulan sabit yang cantik. "Happy birthday, sayang."
Martin terdiam sejenak, berusaha mencerna hal barusan.
Tak lama ia tertawa kecil, "sekarang tanggal 20, ya?"
"Iya! Ini hari kamu," sahut Juhoon meyakinkan.
Martin menggeleng pelan, masih dengan senyum yang tak kunjung luntur. Ia kembali mengecup kening Juhoon, kali ini lebih lama. "Makasih sayangku."
Juhoon menatapnya dalam, lalu berucap santai. "Bolos kerja ya, hari ini."
Itu adalah titah.
Martin menaikkan alis, mencoba menggoda. "Kenapa tuh? Kok suruh aku bolos? Nanti kalau bos aku marah gimana?"
"Ya izin dulu sana! Pokoknya bolos, ya? Ya? Ya?" Juhoon merengek kecil, menggoyangkan bahu Martin.
Martin menghela napas, pura-pura kalah dalam negosiasi yang sebenarnya sudah ia menangkan sejak awal. "Iya... nanti aku izin." Ia terdiam sejenak, menatap Juhoon penuh selidik. "Memangnya mau ngapain sih?"
Wajah Juhoon langsung cerah benderang. "Aku sudah siapkan one fine day buat kita. To celebrate your birthday!"
"Oh ya? Kapan kamu siapkan? Kok aku gak tau?"
Juhoon mendengus gemas, jarinya mencubit hidung Martin. "Ya gak tau lah! Namanya juga surprise, makanya baru aku kasih tahu sekarang!"
Tawa Martin pecah. Ia mengangguk pasrah. "Yaudah iya."
"Oke deh! Sekarang kamu mandi ya, aku mau siapkan sarapan. Habis itu kita berangkat."
"Siap sayangku."
Martin pun beranjak, tetapi Juhoon menahan lengannya lagi sebentar. "Oh ya, habis mandi, ganti bajunya pakai yang sudah aku siapkan nanti ya. Aku mau kita couplean hari ini."
Martin hanya bisa tersenyum lembut. "Iya sayangku."
Dan setelahnya pun Martin beranjak menuju kamar mandi.
Tak lama, ia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih lembap.
Perlahan langkahnya otomatis tertuntun menuju dapur.
Di sana, Juhoon sedang sibuk di depan kompor, membelakanginya.
Tanpa suara, Martin mendekat, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Juhoon. Ia menyandarkan dagunya di bahu sang kekasih, menghirup aroma masakan dan aroma Juhoon yang menenangkan.
Tanpa ragu, Martin mulai menghujani pipi Juhoon dengan kecupan beruntun.
"Apasih, geli!" protes Juhoon, meski nadanya sama sekali tidak menunjukkan rasa keberatan.
Martin justru makin menjadi, ia berbisik di sela kecupannya, "Kamu lucu banget, sayang. Rasanya aku mau sarapan kamu aja. Kamu mirip roti ini, rasanya mau aku hap."
Juhoon menggeleng-geleng, menahan tawa yang hampir meledak. "Gombal terus."
Ia mematikan kompor dan mulai menata piring. "Nih, sarapannya udah jadi. Makan dulu, gantian aku yang siap-siap."
Martin menurut, duduk di kursi makan sambil memperhatikan punggung Juhoon yang menjauh.
Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, sesuatu yang sederhana, namun terasa sangat penuh.
Sambil menyuap makanannya, ia membuka ponsel. Notifikasi dari orang tuanya bermunculan, ucapan, doa, dan harapan-harapan baik.
"Beneran ulang tahun ternyata hari ini..." gumamnya pelan, tersenyum pada layar ponselnya.
Dan ketika Juhoon akhirnya keluar dari kamar, Martin yang sedang menunggu di ruang tengah langsung terpaku. Ia menatap Juhoon dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah sedang berusaha memotret setiap detail penampilan kekasihnya ke dalam memori permanen.
"Cantik sayang," puji Martin tulus.
Juhoon meringis malu, pipinya merona. "Iih... yang harusnya banyak dipuji itu yang lagi ulang tahun. Kenapa aku terus yang dipuji sih?"
Martin mengedikkan bahu santai. "Ya kan fakta. Kamu memang cantik."
Juhoon hanya bisa menggeleng pasrah, meski hatinya bersorak. "Udah ah, yuk jalan!"
Dan saat sampai di parkiran apartment mereka, Juhoon dengan penuh percaya diri menyambar kunci mobil dari tangan Martin. "Hari ini biar aku yang nyetir," katanya tegas. "Karena ini hari spesial kamu, i will treat you like a prince."
Martin tertawa kecil, tidak membantah, dan langsung duduk manis di kursi penumpang.
Dan hari itu pun berjalan seperti mimpi yang sengaja diperlambat.
Mereka memulai dengan sebuah kafe kecil yang tenang.
Menikmati roti panggang dan kopi yang terasa berkali-kali lipat lebih nikmat karena bumbunya adalah tawa ringan.
Kemudian siang harinya, mereka mampir ke toko-toko unik yang ada disebuah jalanan terkenal dikota mereka, melihat pernak-pernik, baju, furniture, dan sebagainya
Di sore hari mereka duduk di sebuah taman, berbagi minuman dingin sambil bertukar cerita-cerita kecil yang mungkin terdengar sepele bagi orang lain, tapi terasa sangat berarti di antara mereka berdua.
Dan saat malam tiba, Juhoon membawa Martin ke sebuah sudut kota yang lebih tenang.
Sebuah restoran dengan pencahayaan temaram, di mana aroma vanila dan kayu manis samar-samar menyapa indra penciuman mereka.
Meja mereka terletak di dekat jendela besar yang memperlihatkan kerlip lampu kota.
Mereka menikmati sesi makan malam ini dengan obrolan ringan yang tidak ada habisnya.
Kemudian saat makanan utama hampir habis, Juhoon meletakkan garpunya. Ia menopang dagu, menatap Martin yang tampak sangat tampan di bawah siraman lampu kuning hangat.
"Sayang," panggilnya pelan.
Martin mendongak, menyeka sudut bibirnya dengan tisu. "Kenapa sayang?"
Juhoon terdiam sejenak, jarinya memainkan pinggiran gelas kaca di depannya. "Selamat ulang tahun sayangku. Aku harap hari ini kamu senang ya bisa pergi jalan sama aku. Maaf kalau belum sempurna..."
Martin tersenyum, tangannya terulur di atas meja untuk menggenggam tangan Juhoon. Jarinya mengusap punggung tangan kekasihnya dengan ibu jari. "Aku senang banget sayang. Sangat senang."
"Beneran?" Juhoon menatap tepat ke mata Martin. "Aku takut sedikit... Karena biasanya yang seperti ini itu kamu. Selalu buat aku merasa disayang dengan ngelakuin banyak hal bersama. Makanya hari ini, aku mau kamu yang ngerasain yang biasa kamu beri ke aku."
Martin menarik napas dalam, merasakan sesak yang nyaman di dadanya. "Sayang, dengerin aku. Kamu nggak perlu siapin apa-apa buat bikin aku merasa disayang. Kamu hadir dihidupku aja, itu udah jadi hadiah paling indah buat aku sayang."
Mata Juhoon sedikit berkaca-kaca, tapi ia tertawa kecil untuk mengalihkan suasana. "Tuh kan, gombal lagi."
Juhoon terdiam sejenak, lalu melanjutkan kalimatnya.
"Terima kasih sudah lahir ya sayang. Aku bahagia sekali bisa menemani kamu selama ini. Semoga kamu selalu sehat. Semoga kamu bahagia sama aku. Terima kasih udah milih buat jalan sama aku."
Tepat saat itu, lampu di sekitar mereka sedikit meredup. Seorang pelayan datang membawa sebuah kue kecil dengan satu lilin yang apinya menari kecil.
Di atas piring putih itu, tertulis rapi “Happy birthday to the one who holds my heart. I love you my dear Martin.”
Juhoon menatap Martin dengan binar yang lebih terang dari api lilin itu sendiri.
"Tiup lilinya sayang. Make a wish yang banyak buat dirimu."
Martin memejamkan mata.
Semoga kita selamanya.
Fuuu...
Lilin padam, dan musik di latar belakang berubah menjadi melodi yang sangat lembut, seolah ikut merayakan janji di antara mereka.
Obrolan mereka pelan-pelan berpindah dari meja makan ke perjalanan pulang.
Lampu-lampu jalan di balik jendela mobil seolah menjadi saksi bisu betapa hangatnya hati mereka malam itu.
Dan suasana hangat itu mereka bawa terus sampai ke depan pintu, menutup perjalanan panjang hari ini dengan tenang
Setelah membersihkan diri, mereka duduk bersantai di ruang tengah, berbagi sisa kue yang dibawa pulang tadi. Menggunakan sendok yang sama, mereka menyuap sisa kebahagiaan itu sambil sesekali tertawa kecil.
Martin menatap Juhoon lama sekali. "Terima kasih banyak ya sayang buat hari ini." Suaranya berat, penuh ketulusan. "It was... super happy."
Juhoon tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Martin. "Makasih juga. Karena kamu selalu kasih aku alasan buat bahagia, aku juga mau lakukan hal yang sama."
Martin menarik Juhoon ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah takut sosok itu akan hilang. "Selalu sayang. Aku akan selalu bahagia kalau sama kamu."
Juhoon mendongak dalam dekapan itu, menemukan tatapan Martin yang begitu memuja.
Perlahan, Martin menunduk, menghapus jarak yang tersisa di antara mereka.
Tautan itu datang dengan lembut, tanpa terburu-buru.
Juhoon memejamkan mata, tangannya meremas pelan kaus di bahu Martin, sementara Martin menyesap rasa manis dan kehangatan Juhoon.
Tidak ada gairah yang menuntut, hanya ada rasa syukur yang meluap-luap akan satu sama lain.
Dan saat tautan itu terlepas, Martin menyatukan kening mereka sejenak, membiarkan napas mereka kembali teratur dalam keheningan yang nyaman.
Malam itu berakhir dengan tenang.
Mereka berbaring berdampingan, saling memeluk, membiarkan detak jantung satu sama lain menjadi pengantar tidur.
Dunia di luar sana seolah menghilang, menyisakan mereka berdua dalam sebuah ruang rasa cukup yang sempurna.
