Work Text:
Jam menunjukkan pukul 9 malam. James yang baru saja selesai mandi menyadari bahwa ponselnya berdering dan pintu kamar kosnya diketuk secara pelan. Sepertinya pacar nya sudah sampai di kosnya. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil, James segera membuka pintu kamar kos dan terlihat Martin berdiri dengan senyum yang menampilkan gigi rapinya sambil mengangkat tinggi-tinggi kantong kresek supermarket yang berisi jajanan.
"Masuk sini." Ujar James. Martin segera masuk ke kamar berukuran 3x4 tersebut dan James segera menutup pintu kamar. Dengan panik Martin memegang tangan James.
"Eh eh kak, dibuka aja ga sih pintunya."
James tertawa lebar melihat raut panik dari kekasih hatinya yang lebih muda 3 tahun itu.
"Katanya mau belajar ngapel yang bener? Gimana sih lu." James tetap menutup pintu kamarnya serta tak lupa menguncinya.
Didorongnya Martin untuk duduk di sofa ukuran kecil yang ada di samping kasur James.
Martin dan James baru saja pacaran selama satu bulan. Martin menembak James setelah melihat James manggung sebagai drummer band kampus di malam keakraban jurusan. James yang pada saat itu tidak memiliki hubungan dengan siapa-siapa karena terkenal memiliki wajah dingin dan sering melamun membuatnya hanya memiliki banyak pengagum tanpa benar-benar serius mendekatinya.
Martin sendiri, yang merupakan laki-laki berumur 18 tahun baru saja masuk kampus yang sama dengan James, langsung jatuh hati melihat penampilan menawan dari kakak tingkatnya tersebut dan mencoba langsung menggunakan kesempatan tersebut untuk menembak.
Bermodalkan nekat dan keberanian yang mungkin dipacu oleh bir yang ikut diminumnya bersama teman-teman seangkatannya itu. Martin segera mengajak James berpacaran.
Bukan berkenalan lebih dahulu, namun langsung mengajaknya berpacaran. James yang baru saja turun dari panggung dan sedang mengambil minum di luar aula yang mereka gunakan untuk malam keakraban menatap seorang bocah dengan tinggi 190 cm yang menghampirinya dan mengajaknya pacaran itu.
Namun karena James gila dan laki-laki di depannya ini tampaknya lebih gila, maka James tertawa lebar dan menyetujui ajakan berpacarannya.
Let’s be fool together.
Dan disinilah mereka sekarang, di ruangan kecil yang menjadi tempat untuk istirahat James. Martin duduk di sofa dan James berdiri sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Martin tampak kikuk dan belum melepaskan kresek belanjaannya yang masih berada dipangkuannya.
"Ck. Bocah, bocah." Ujar James sambil menaik turunkan alisnya menatap Martin. Muka Martin kembali memerah dan dia kembali menunduk sambil menatap kuku jemarinya yang sepertinya lebih menarik yang saat ini di poles cat kuku berwarna hitam.
James segers mengambil kantung belanja yang ada di pangkuan Martin, menaruhnya di kasur dan melebarkan kaki-kaki Martin dan duduk di bawah sofa dan menyandarkan badannya kesofa. "Bantu keringin dong."
"Eh kak jangan duduk dilantai. Duh ini kakak duduk di kursi aja gua berdiri."
"Mantep aja disitu, Tin. Keringin rambut gua tolong." Pinta James.
Mengambil alih handuk dari leher James, Martin perlahan mengusap-usap rambut kekasihnya.
"Lo libur kan besok, Tin?"
"Heem."
"Nginep ya disini."
"Ha? Em anu, gua, anu gabisa--" belum selesai berbicara James berdecak ketiga kalinya.
"Sumpah ga gua apa-apain Tin demi dah. Temenin gua aja disini netflixan. Kalem aja kalem."
Sambil berbicara seperti itu, tangan James sambil mengelus kaki Martin yang mengukungnya dan tak lupa mendongakan kepalanya menghadap ke Martin yang posisinya lebih tinggi karena duduk di sofa.
James ingin menggoda kekasih hatinya yang sangat lugu itu.
"Kak, serius lu gitu banget sama gua sih. Ini gua panik beneran gua pulang aja ya kak maaf maaf maaf maaf maaf maaf."
Martin segera lompat dari duduknya dan berdiri dihadapan James yang masih duduk dilantai. Kedua tangannya diangkat keatas sambil memegang handuk James yang digunakannya tadi.
"Anjir anjir, beneran penakut ini bocah. Duduk lagi, rambut gua belum kering ini. Iya iya ga nginep lu, ntar gua suruh pulang tapi keringin rambut gua dulu. Katanya lu kangen sama gua." James sangat suka menggoda kekasih hatinya ini, sangat menggemaskan melihat muka merah dari pria dengan tinggi 190 cm ini.
Sangat amat tidak cocok tingkah laku, muka, dan postur besarnya jika ternyata Martin adalah pria pemalu.
"Kak James, serius gua bener-bener maaf gua masih pengecut banget. Sorry ya."
"Iya etdah, ga gua cium ga gua pegang ga gua apa-apain. Ngobrol aja kita ngobrol."
Martin tidak kembali duduk di sofa, namun duduk disebelah James, menurutnya tidak sopan untuk kembali duduk diatas sofa, sehingga dia duduk samping-sampingan dengan James sambil menyender juga kesofa. Jarak mereka sekitar 20 cm.
"Sambil nonton ya,"
"Oke kak." James mengambil meja lipat kecilnya dan membuka laptop untuk mencari film yang bisa mereka tonton bersama-sama.
"Guardian of The Galaxy. Is that okay for you babe?" Ujar James sambil menoleh ke Martin.
"Sure, kakak."
"Can you move closer to me?" Tanya James. Martin menggeser duduknya mendekati Kakak Tampan nya. Mereka menonton film tersebut dengan tenang dan beberapa kali mengomentari adegan-adegan yang mereka sukai.
Menjelang pertengahan film, James sadar bahwa tangan Martin perlahan-lahan mendekati tangan James. James tersenyum kecil dan membiarkan Martin melakukan apapun yang diinginkannya, James sangat mengapresiasikan keberanian Martin saat ini.
Maybe they will be closer after two months or three? Afterall, they skip more steps into this relationship, and James is fine with this slow but steady progress that they had right now.
