Actions

Work Header

Loved by You

Summary:

Martin dan James pergi Concert Date untuk menonton salah satu Band Indonesia kesukaan Martin.

Notes:

Judul dari salah satu lagu yang ada di EP Doves, '25 on Blank Canvas.

I already have this on my draft dan tiba-tiba CORTIS nonton BTS tampil terus jadi kepikiran hmmmmm, saatnya draft concert date marjames dikeluarkan. It's not really the same vibe, but it's kinda the same vibe~~ hohohoho. So, enjoy!!!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Satu bulan yang lalu James mendapatkan ajakan dari kekasih hatinya untuk menonton konser dari salah satu Band Favorit Martin, yaitu Hindia.

Karena jadwal perkuliahan yang sedang tidak terlalu sibuk dan Band James sedang tidak memiliki jadwal untuk manggung, maka James mengiyakan ajakan tersebut.

Meskipun James suka musik dan merupakan pemain drum, namun dia sangat jarang datang ke pertunjukkan atau konser selain konser gratis dari penampilan band-band kampus atau band besar yang memang jauh-jauh datang ke Indonesia. Maka dari itu, konser ini akan menjadi pengalaman pertama James yang masuk kedalam agenda menonton konser untuk berpacaran.

Lagi pula, ini adalah kencan konser pertama James dan Martin selama enam bulan menjalin kasih. Setelah enam bulan berlalu, Martin masih sama seperti bulan pertama pacaran. Skinship yang berani Martin lakukan paling jauh adalah merangkul bahu James saat jalan berdampingan dan mendekap dari samping saat foto box berdua.

Martin menggemaskan, pikir James. Bocah yang baru saja masuk ke usia 19 pada awal tahun itu benar-benar polos. Beberapa kali teman James mengatakan jika pacaran mereka selayaknya teman dekat dan sebaiknya James mencari pasangan baru yang memang menunjukkan kasih selayaknya pasangan normal yang seumuran padanya.

James tak memusingkan omongan beberapa temannya itu. Martin tak pernah memperlakukannya dengan jahat dan dia rasa itu cukup. Jika memang harus diakhiri, sebaiknya ajakan itu datang dari Martin langsung.

Maka dari itu selama dia masih mendapatkan stok snack dari Martin tiap minggunya, ajakan keluar pada sabtu malam, dan juga pesan-pesan singkat yang memujinya tiap saat dia mengirim foto, James pikir, cukup baginya untuk mempertahankan hubungan ini.

Kembali pada situasi saat ini, mereka berdua sedang mengobrol di sore hari terik berbaris di antrean panjang untuk menukar tiket.

“Gimana kak, lagu-lagu Hindia dari EP Doves ini udah semua lu denger kan ya? Gimana menurut lu? What do you want to hear it on live more?”

“Hem, i think, gua suka beberapa lagu dengan beat yang naik turun, tapi gua juga suka permainan gitar elektrik di beberapa lagu-lagu. Saat ini favorit gua kayaknya Kids deh. Lu gimana?”

“Ah, lu suka Kids? Ga heran sih kak, lu suka kucing yaa?”

“Yoi, liriknya raw sama melodinya enak. Kalo lu gimana Tin?” ulang James.

“Gua suka semua lagu. BUT, sebenernya gua lebih suka album lama sih.” jawab Martin sambil mengangguk singkat, nampak seolah berpikir.

“Kenapa?”

No reason. Kayanya karena nothing can beats ‘Lagipula Hidup Akan Berakhir’ Kak.”

James tertawa mendengar jawaban itu, dia sudah pernah mendengar selama lebih dari tiga jam cerita dari Martin mengenai album tersebut saat mereka telponan. Dan ketika beberapa kali salah satu dari lagu tersebut terputar di radio saat mereka sedang berdua Martin pasti sibuk bernyanyi dan setelah itu menjelaskan makna dari lirik lagu yang dibawakan ataupun merincikan trivia tentang lagu tersebut.

What a nerd. ujar James dalam hati, dengan perasaan sayang.

Sure, team hindia cabang Tangerang.” ejek James.

Gelak tawa keluar dari mulut Martin, “Sorry, am i too much kak?”

Never too much, big guy.

Kata-kata singkat yang keluar dari mulut James selalu berkesan bagi Martin. Entah kenapa, kekasihnya sangat pandai dalam bertutur kata untuk menenangkannya. Pesona pria yang lebih matang, pikirnya.

Hal ini membuat Martin dengan berani mengelus rambut kekasihnya singkat.

Setelah masuk kedalam venue, Martin dan James sempat mengambil beberapa foto bersama sebelum konser dimulai. Seakan teringat sesuatu, Martin menunduk dan berbisik kepada James. 

I’m sorry if i become touchy di dalem ya kak.”

“huh?”

It will be crowded, since its your kinda first time. Kayanya gua harus ngerangkul dan lebih touchy dari biasanya.”

I will be more glad if you put your hands on my waist to hold, but kalo belum bisa yaudah gapapa rangkul rangkulan kaya biasa aja.” goda James sambil mengeluarkan senyum kecil yang menunjukkan gigi-gigi rapi.

Muka Martin memerah, kehabisan kata-kata Martin hanya membalas dengan suara kecil, “Hah……..” yang dibalas gelak tawa oleh James.

“Udah ayo, lu mau di depan deket railing atau tengah?” James menarik tangan Martin untuk mengambil posisi yang lebih cocok untuk mereka berdua yang memiliki tinggi rata-rata dari kebanyakan orang disini.

“Belakang aja yuk kak.” pinta Martin.

Konser dimulai dengan band pembuka setelah itu seluruh penonton menyaksikan band yang dinantikan masuk mengambil posisi.

Saat Band Hindia telah mengambil posisi, James menoleh ke Martin. Mata Martin berbinar dan senyum manisnya muncul dengan lebar. Tampan.

Tangan Martin berada di atas bahu James, badan mereka menghentak mengikuti beat lagu. Terkadang James ikut lompat bersama Martin ikut terbawa suasana.

Saat lagu ‘Bayangkan Jika Kita Tidak Menyerah’ dari album sebelumnya berputar. Martin memutar badannya ke arah James, tampak sangat bersemangat. Mereka bernyanyi sambil bertatap-tatapan. Ditengah hentakan dan sorak sorai penonton yang lain didalam lapangan gelap ini, Martin menunduk dan menyatukan kening mereka berusaha mentransfer lirik yang diujar penyanyi kepada kekasihnya dengan gestur yang dengan lembut.

Tantangan apapun dari ayah atau dunia kita hadapi, kita lewati, kita ikuti, kita nikmati.

Bayangkan jika kita tidak menyerah.

What a sappy love statement. pikir James.

Senyum lebar tampil di wajah James, telinganya merah dan tangannya masih berpegang pada kerah baju Martin.

Setelah lagu berpindah, mereka kembali kepada posisi sebelumnya. Lagu-lagu telah dibawakan, konser telah berlangsung selama dua jam lebih.

Suasana semakin romantis berkat lagu terakhir yang dibawakan, yaitu, Everything U Are.

Kembali James rasakan luapan emosi yang didapatnya dari sang kekasih. Malam ini, akan menjadi salah satu malam terindah yang dimiliki oleh James, semenjak dia menjadi kekasih hati Martin.

Harapnya, Martin paham, jika, Everything u Are juga termasuk kedalam lagu favorit James dari album ini, karena lagu ini dapat mengartikan perasaan terima kasih James akan Martin.

Bahwa aku pernah dicintai

With Everything u are

Fully as i am

Merasakan pandangan James yang fokus kepadanya, Martin kembali menolehkan kepalanya mengarah kepada kekasihnya, sambil menundukkan kepalanya, seakan mengerti apa yang muncul dari mata James, Martin berbisik pelan ke James.

Thank you. I Love you.

Saat ini mereka sudah kembali ke dalam mobil, setelah menikmati kurang lebih tiga jam penampilan yang menakjubkan itu, mereka memutuskan untuk menurunkan adrenalin dengan beristirahat di mobil sebelum Martin mengantar kembali kekasihnya.

James meletakkan minum yang sedang dipegangnya, menolehkan badan 90 derajat ke arah Martin, kemudian menatap dalam mata Martin.

You wanna talk about it Martin?

About what?

The one where we are singing Everything U Are. The “i love you part”.

Em, should we?

I mean, I do want to ask about it more. It’s the first time i hear it from you.” James menarik pelan tangan Martin, untuk menggenggam jemarinya. “Can i hear it one more time with no one screaming and just the two of us here?

James menuntun tangan Martin ke bibir untuk dikecupnya. Martin terlihat grogi dan merah. James suka melihat wajah Martin yang berubah menjadi merah disebabkan olehnya.

Dua menit berselang, keduanya masih saling bertatap-tatapan tanpa mengeluarkan suara.

“Okay, biar aku yang mulai duluan. Can I use aku for me and kamu for you now? Martin? Martiny?”

Martin mengangguk dengan cepat.

Astaga. Martin merasa sangat cupu. Namun dia masiu belum berani untuk mengeluarkan suaranya.

I like to know that you have become brave enough to say that you love me, before, i wish you’ll say it more in the future. But no pressure.

Okay, kak.”

Jemari Martin masih berada dekat dari bibir kekasihnya, digenggam erat oleh James dan dihujani kecupan-kecupan lama dan ringan.

James menurunkan kembali tangan Martin dan kemudian melepaskannya. Sudah cukup rasanya menggoda kekasih yang lebih muda darinya ini.

Namun ketika James mendongakkan kepala untuk melihat wajah Martin, muka yang biasanya menunjukkan ketidaknyamanan dengan intimasi itu terlihat lebih gelap dari biasanya. Pandangan mata Martin terkunci di bibir kekasihnya yang baru saja mencium lama jemarinya.

I love you.” terdengar dengan lirih dari bibir Martin.

Memahami situasi yang sedang terjadi, James memajukan badannya ke arah samping, ke arah Martin, dilepasnya seatbelt yang telah dipasang di tubuh pria tinggi itu dengan perlahan.

Kemudian dengan lancang James pindah ke bangku kemudi. Duduk dengan gagah di pangkuan Martin dengan perlahan. Dipeluknya leher kekasih hatinya dan mendongakkan kepala Martin dengan memegang rahang dan dagunya.

Mata kekasihnya masih tak lepas dari bibir James. Diikutinya segala pergerakan James dari mulai berpindah sampai tak sadar telah berada diatas pangkunya. Martin segera melingkarkan tangannya ke arah pinggang ramping sang pujangga.

You can kiss me now,” bisik James.

Seperti tersambar petir, Martin segera meraup ranum yang berada di depannya. Satu tangan berada di pinggan dan satu tangan menahan leher pasangannya. Tak butuh paksaan karena sang pemilik tubuh memajukkan badan, menerima dirinya untuk ditarik lebih dalam ke pelukan prianya.

Tautan bibir dilepas setelah Martin mendengar keluhan kekasihnya. Belum sempat Martin menarik leher sang kekasih untuk menjauhkan wajah demi bernafas lebih lega, pria yang lebih tua itu malah mengambil alih dengan cara menarik rahang Martin untuk menyatukan kembali kedua bibir mereka. Gelutan panas kembali terjadi.

Tinnnnnn

Tautan kedua lepas setelah mendengar bunyi klakson mobil dari luar.

Martin melepaskan pelukannya eratnya dari James. Dilihatnya kekasih hatinya sudah acak-acakan. Rambut pendeknya yang berantakan, kaos hitam yang digunakan naik dibagian belakang atas. Bibir merah ber saliva dan mata yang berkaca-kaca akan gairah.

Sebelum mengeluarkan suara, James segera mengecup kembali bibir Martin. Kemudian mendorong dirinya untuk kembali pindah ke bangku penumpang. Dirapikannya sendiri penampilannya dan mengambil kembali air minum sebelumnya untuk diteguk kembali.

“Kak…..” terdengar suara lirih Martin.

“Hm?”

How can you be so calm after,” jeda sejenak, kemudian, “that?”

James memutar bola matanya,

Look so sexy, pikir Martin.

“I’m not calm. Rapiin penampilan kamu ayo kita pulang.”

“Ah, eh, oke……….”

Sungguh malam yang panjang.

Notes:

Terima kasih sudah membaca sampai selesai!!!

Apakah ada yang mau series "And i'd go a thousand miles" ini berlanjut???? hehehehhehe

Series this work belongs to: