Actions

Work Header

Selamat Malam, Moscow

Summary:

Perang telah usai, tapi Eleanor Lancaster-Clarke tak bergembira begitu saja. Di tengah euforia kemenangan, ia justru harus bepergian ke berbagai tempat untuk mencari rahasia yang disembunyikan.

Perjalanannya kali ini membawanya menuju Uni Soviet. Dan mempertemukannya dengan pria misterius yang menemaninya menyusuri jalanan Moskow untuk semalam.

Notes:

Although this story is part of a longer series, you can still read it as a standalone. Karena series nya sendiri belum selesai dibuat.

Warning! It has a lot of typos since there's no beta reader. And i had insomnia when i wrote this.

Saran dan kritik diterima, but please be kinder. My precious heart is made of glass.

Work Text:

Musim dingin Moskow tak sesuai yang Eleanor Lancaster-Clarke kira. Tak seperti di London, angin di sini terasa kering dan menusuk hingga ke tulang, membuat Eleanor mengeratkan jaket yang dipakainya.

Lagi pun Eleanor tak mempersiapkan perjalanan ini dengan baik. Dirinya datang hanya bermodalkan tekad dan harapan akan terungkapnya apa yang ia cari. Karena itu pulalah sekarang ia sedang berdiri di depan Kremlin. Memandangi benteng merah tersebut dengan intens sambil sesekali menunduk untuk mencatat sesuatu di buku catatannya.

"Esensia utama Uni Soviet," gumamnya sembari fokus menulis di buku catatannya. Ia lanjut menulis, dengan kursif cantik dan goresan-goresan tegas. "Benteng utama pertahanan Soviet, The Giant Polar Bear."

Eleanor kembali mendongakkan kepalanya dan menatap Kremlin serta orang-orang yang berlalu-lalang.

Apakah title itu dilebih-lebihkan atau benar adanya? Pertanyaan dan rasa penasaran hinggap di pikiran Eleanor. Habisnya walaupun sudah sering mendengar desas-desus tentang pria yang digadang-gadang menjadi mimpi buruk medan perang itu, sampai sekarang Eleanor tetap tidak memiliki kesempatan untuk bertemu langsung dengannya. Hal ini membuat Eleanor mau tak mau penasaran akan Esensia kesayangan Uni Soviet tersebut. Dan tak lupa juga bertanya-tanya apakah dia akan menjadi halangan bagi tujuan Eleanor, atau justru sekutu?

Tengah tenggelam dalam pikirannya, Eleanor tanpa sadar berjalan mundur — berusaha mencari posisi yang bagus agar ia bisa melihat Kremlin lebih baik. Ia tidak menyadari bahwa ada bayangan besar yang berdiri di belakangnya.

Dan tanpa aba-aba, tubuhnya menabrak sesuatu — atau seseorang? — dibelakangnya. Tabrakan tersebut membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Buku catatan di tangannya terlepas dan jatuh ke tanah bersalju di bawahnya.

"Oh—"

Sebelum tubuhnya terjatuh dan menghantam tumpukan salju dingin, sebuah tangan besar yang terasa dingin menangkap sikutnya — membantunya kembali pada keseimbangannya.

"Hati-hati," ucap si pemilik tangan dengan suara yang dalam dan sedikit serak. Yang entah kenapa membuat Eleanor merasakan rasa lelah mendalam darinya.

Dengan penasaran — dan sedikit rasa malu, Eleanor mendongak.

Yang ia lihat selanjutnya adalah senja. Senja yang sangat cantik yang terpatri di iris pria tersebut.

Ini adalah kali pertama Eleanor melihat seseorang dengan iris secantik ini. Belum lagi orang-orang dengan iris ungu sangat langka di dunia ini. Hal itu menambah keterkejutan yang dirasakan Eleanor.

Terlarut — dan terpesona — dalam pikirannya, Eleanor tidak sadar bahwa sedari tadi dirinya tengah menatap pria tersebut dengan intens — membuat si pemilik iris ungu berdiri canggung tak nyaman.

"Ehem!"

"Ah—!" Suara si pria berhasil membawa Eleanor kembali sadar akan sekitarnya. Kini ia bisa merasakan wajahnya memanas dan memerah dengan malu.

Berniat untuk setidaknya menyelamatkan sedikit harga dirinya — yang ia ragukan masih ada, Eleanor berusaha mengklarifikasi akan perbuatannya.

"Maaf. Aku tadi tidak sengaja sedang melamun, jadi— "

Sebelum ia sempat menyelesaikan perkataannya, pria dihadapannya sudah terlebih dahulu berlutut dan mengambil buku catatan Eleanor yang sedari tadi tergeletak di tumpukan salju — terlupakan oleh pemiliknya hingga pinggiran buku catatan tersebut sudah terlihat basah.

"Tidak apa-apa. Lain kali lebih berhati-hati lagi. Kamu beruntung yang kamu tabrak itu aku, bukan orang lain," ucapnya sembari mengembalikan buku catatan yang ia pegang ke pemilik aslinya.

Saat mengambil buku catatan itulah Eleanor baru memperhatikan dengan seksama perawakan dari si iris ungu.

Pria di hadapannya sangat tinggi. Bahkan salah satu yang tertinggi yang pernah ia jumpai. Dan bisa dilihat pria tersebut memakai pakaian tebal. Atau mungkin memang tubuhnya yang besar?

Eleanor tidak yakin. Tapi yang pasti, yang paling menarik perhatian dari pria ini adalah wajahnya.

Ia memiliki wajah yang rupawan. Sangat bahkan. Bisa dibilang ia lebih rupawan dari James dan pria-pria rupawan lainnya yang dirinya temui.

Kali ini giliran mata pria itu yang menatap intens Eleanor dan menganalisa nya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Kamu bukan dari sini."

"Apa yang membuatmu sangat yakin akan hal itu?" Tanya Eleanor, sembari ia merapikan mantelnya dan beberapa barang yang ia bawa.

"Aksenmu. Caramu berpakaian juga. Hanya orang asing dan turis yang akan berpakaian seperti itu di cuaca seperti ini. Ditambah kamu yang berdiri dan menatap Kremlin dengan aneh." Pria itu memasukan tangan ke dalam saku mantelnya sembari menatap orang-orang yang berlalu-lalang. "Sebenarnya tidak juga. Itu cuma firasatku saja tentangmu. Tapi aku benar 'kan?"

Ia kembali mengarahkan pandangannya kepada Eleanor.

Mendengarnya Eleanor hanya bisa tersenyum. "Aku tidak menyangka kalau kamu tipe orang yang banyak bicara. Dan apa kamu selalu sejujur ini dengan orang yang belum kamu kenal?"

"Hanya kepada orang yang tidak akan aku temui lagi."

Eleanor mengangkat salah satu alisnya keheranan. "Kenapa kamu sangat yakin akan hal itu?"

Pria itu mengangkat bahu.

"Bukannya memang begitu? Diantara dunia yang padat ini, menurutmu hal apa dan keajaiban apa yang dibutuhkan agar dua orang asing bisa bertemu? Darimana kamu yakin kita berdua akan bertemu lagi? Bahwa jalan takdir kita akan sampai pada titik temu untuk yang kedua kalinya?"

Eleanor tidak menjawab. Dirinya tidak tahu kalimat apa yang pas untuk dikeluarkan agar bisa memberikan kepuasan pada pertanyaan pria tersebut.

Karena itulah yang ia lakukan selanjutnya adalah mengulurkan tangannya.

"Aku Eleanor," katanya tiba-tiba.

Entah kenapa ia tidak mau untuk memberitahukan nama belakangnya. Mungkin karena perkataan si iris senja yang sangat yakin kalau mereka berdua tidak akan bertemu lagi? Atau mungkin karena pertemuan mereka yang terasa seperti mimpi malam pertengahan musim panas? Entahlah. Yang pasti untuk kali ini Eleanor tidak ingin dipanggil dengan nama belakangnya dan embel-embel yang panjang itu. Ia ingin agar pria didepannya memandang dirinya sebagai Eleanor semata.

Seperti mengetahui niatan Eleanor, pria itu membalas uluran tangannya.

"Ivan," balasnya.

---

Entah bagaimana, tanpa persetujuan siapapun — atau mungkin telepati secara tak langsung antar keduanya — mereka mulai berjalan bersama menyusuri jalanan Moskow yang diselimuti salju putih. Dengan Eleanor di sisi kiri dan Ivan di sisi kanan.

Keduanya berjalan cukup berjauhan. Membuat siapapun yang melihat tidak akan mengira kalau mereka sedang bersama.

"Kamu sedang mencari sesuatu, 'kan?" Pertanyaan retoris dikeluarkan Ivan.

"Kamu juga."

Ia tidak menyangkal. "Apa yang kamu cari?"

"Kebenaran."

Mendengar itu Ivan melambatkan langkahnya. "Tentang apa?"

Eleanor berhenti berjalan. Dirinya menatap gedung-gedung tinggi di kejauhan, dan kemudian ia mendongak — menatap hamparan langit berbintang di atasnya.

"Semuanya," ucapnya pelan.

"Aku ingin menyingkap tabir yang menutup kebenaran dari orang-orang. Mungkin akan menyakitkan. Tapi aku tidak ingin orang-orang tak bersalah tidak mengetahui kebenaran dibalik penderitaan mereka, sementara yang bersalah bisa lari dari tanggung jawab mereka tanpa diadili dengan layak."

Ivan diam untuk waktu yang lama. Lalu ia berkata, "Kamu tidak akan menemukannya."

Eleanor kembali menundukkan kepalanya, menatap pria dihadapannya.

"Orang-orang yang bertanggungjawab itu adalah orang-orang yang berbahaya. Kalau kamu tetap memaksa untuk mencari kebenaran, yang ada kamu akan disingkirkan. Dibuat menghilang dari pandangan masyarakat hingga kamu benar-benar dilupakan."

Mendengar itu Eleanor tersenyum lembut.

"Mungkin," ucapnya sambil mulai berjalan kembali. "Tapi aku akan tetap mencoba."

"Kenapa?"

"Karena tidak ada orang lain yang akan melakukannya. Jadi aku hanya bisa berpegang teguh pada keinginanku sambil tetap berusaha."

Ivan ikut berjalan, kali ini tepat di samping Eleanor. Salju mulai turun lagi dari langit — jatuh perlahan ke tanah, ke tempat paling dalam yang bisa mereka raih, dan beberapa jatuh ke tubuh Ivan dan Eleanor.

"Aku tahu perasaan itu," kata Ivan tiba-tiba.

"Perasaan apa?"

"Bersikeras untuk berusaha walaupun tau hasilnya sia-sia."

Mereka akhirnya berhenti di sebuah jembatan kecil di atas sungai yang membeku.

Di kejauhan, terlihat temaram lampu perkotaan yang mengintip dari celah-celah bilik apartemen — seolah-olah berusaha sebisa mungkin untuk menjaga keluarga yang hidup di dalam tetap hangat dengan cahayanya.

"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Eleanor.

"Kamu sudah bertanya."

"Sesuatu yang lain."

Ivan mengangguk.

"Apa kamu..." Eleanor memilih kata-katanya dengan hati-hati, seolah-olah takut menyakiti hati pria di sampingnya. "Pernah memiliki sesuatu yang kamu sesali?"

Ivan hanya mendengus kecil sembari tetap menatap lampu-lampu perkotaan di kejauhan.

"Semua orang di dunia ini pasti memiliki hal yang mereka sesali."

Terjadi hening yang cukup lama. Eleanor tak kunjung mengutarakan balasannya. Ia hanya memandang ke depan dengan tak fokus, seolah-olah sedang mencari hal yang tak kasat mata.

"Apa kamu tidak pernah berpikir untuk sekali saja kembali ke masa lalu untuk merubah hal-hal yang kamu sesali?" Tanyanya.

Ivan kemudian menyenderkan tubuhnya ke pembatas jembatan.

"Tidak. Aku bukan seseorang yang tinggal di masa lalu. Bagiku bisa tetap hidup sampai saat ini saja sudah cukup. Biarlah hal-hal yang aku sesali menjadi pelajaran bagiku kedepannya."

"Kamu punya pemikiran yang menarik," ucap Eleanor sambil terkekeh pelan.

"Ucap seseorang yang sangat keras kepala dengan keinginannya," balas Ivan

---

Mereka berjalan kembali ke pusat kota dengan diam.

Salju tebal dan jalanan sepi membuat keheningan diantara mereka semakin dalam.

Ketika keduanya sampai di persimpangan jalan, Ivan berhenti.

"Aku harus pergi ke arah sana," katanya sambil menunjuk ke arah kiri.

"Aku juga harus ke kanan," kata Eleanor.

Mereka berdiri di tengah salju, dua orang asing yang menghabiskan satu malam bersama — membuka diri dan menunjukkan sisi paling mentah dari diri mereka, tanpa pernah benar-benar saling mengenal satu sama lain.

"Kalau semua ini selesai..." Ivan memulai.

Eleanor menatapnya penasaran, bertanya-tanya apa yang Ivan lontarkan selanjutnya.

Ivan menelan ludah sebelum kemudian membuka mulutnya untuk lanjut berbicara, "Kamu mau ke mana?"

Pertanyaan itu menggantung di udara dingin, di antara butiran-butiran salju yang turun kian tebal. Eleanor memikirkannya. Memikirkan tentang kebenaran yang ia cari dan yang mungkin tak akan ia temukan. Tentang James yang masih menunggu kepastian darinya di Amerika. Tentang kehidupannya sedari ia kecil.

"Tempat di mana orang-orang bisa hidup tanpa kekhawatiran. Di mana kebenaran tidak perlu disembunyikan. Di tempat itu, mungkin aku bisa lebih bahagia," katanya akhirnya.

Ivan kembali mendengus. Bukan bermaksud mengejek, tapi lebih seperti pengakuan akan sesuatu yang lucu dalam cara yang menyedihkan.

"Tempat seperti itu tidak ada," katanya.

"Aku tahu," senyum Eleanor. "Karena itu aku harus tetap mencarinya."

Ivan menatap Eleanor dengan lama. Kemudian ia melakukan hal yang membuat Eleanor sedikit terkejut: ia terkekeh kecil, hampir tidak terdengar. Dengan seringai kecil, dirinya menatap Eleanor seraya berkata, "Kamu aneh."

"Kamu juga," balas Eleanor seraya menampilkan senyum di wajahnya.

Si lawan bicara mengalihkan pandangannya, menatap persimpangan tempat mereka akan berpisah. Kemudian ia berkata, "Aku tidak akan mengingat ini, kamu tahu." Kepalanya menunduk, ia menjatuhkan pandangannya ke salju yang ia pijaki. "Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku bukan seseorang yang tinggal di masa lalu."

Eleanor mengangguk.

"Aku juga tidak akan mengingatnya," katanya.

Bohong.

Ia tahu ia akan mengingatnya.

Tapi ia berkata demikian, semata-mata hanya agar pria ini — Ivan, hanya Ivan — tidak merasa sendirian.

"Selamat malam, Eleanor."

"Selamat malam, Ivan."

Keduanya pergi ke arah berlawanan. Eleanor berbalik ke kanan, sementara Ivan berbalik ke kiri.

Salju terus turun dengan lebat, menutupi jejak kaki mereka dalam hitungan menit.

Mungkin pertemuan ini akan terlupakan. Menjadi memori usang di relung-relung pojokan memori mereka, yang suatu hari nanti akan mereka ingat kembali — namun dengan wajah dan nama yang terlupakan oleh waktu.

Namun, lampu-lampu perkotaan, jembatan, persimpangan jalan Moskow dan butiran salju yang jatuh, telah menjadi saksi mereka. Saksi akan dua manusia yang cukup beruntung karena muncul di waktu yang bersamaan, di tempat yang sama, yang kemudian di pertemukan oleh takdir untuk semalam saja.

Hingga akhirnya mereka tidak pernah bertemu lagi.

Series this work belongs to: