Chapter Text
Jari-jemari Sena masih menari lincah di atas controller, matanya terpaku pada layar yang penuh kilatan cahaya. Begitu kata "VICTORY!" menyala terang menandakan kemenangan telak, Sena langsung bersorak kecil dengan senyum kemenangan yang merekah lebar. Sebagai selebrasi spontan, ia menoleh ke arah Keano yang tampak tenang menikmati film melalui tablet di pangkuannya.
Tanpa peringatan, Sena condong mendekat dan mendaratkan satu kecupan singkat di pipi laki-lakinya. Sentuhan bibir hangat yang mampir sesaat di kulit itu sukses membuat fokus Keano buyar. Matanya membelalak, sama sekali tidak menyangka akan mendapat hadiah manis dari pacar tengilnya yang baru saja menang war.
Namun, kejutan itu hanya bertahan sekejap. Keano menutup tabletnya, membiarkan senyum geli tersungging di sudut bibir. Tanpa ragu, ia membalas serangan itu dengan memiringkan kepala, menyambar bibir Sena sebelum si pelaku sempat menarik diri.
Sena sontak terkesiap. Rona merah langsung menjalar hebat ke seluruh wajahnya, jauh lebih panas daripada rasa senang saat memenangkan game tadi. Jantungnya berdebar kencang, perasaannya campur aduk antara malu dan terbuai. Ia sempat mencoba menarik diri, tapi lengan kokoh Keano sudah lebih dulu melingkar protektif di pinggangnya, mengunci posisi mereka agar ia bisa memperdalam ciuman itu.
Suasana di antara mereka semakin lekat. Keano menguasai keadaan dengan lembut namun dominan, menyesap bibir atas dan bawah Sena bergantian hingga napas keduanya mulai memburu. Saat pelukan di pinggang itu sedikit melonggar demi memberi Sena ruang untuk meraup oksigen, Sena hanya bisa terdiam dengan dada naik-turun, bertanya-tanya dalam hati apa yang akan terjadi selanjutnya.
Alih-alih menjauh, Keano justru menatapnya intens dengan mata yang sedikit menggelap. Tangannya bergerak ke depan dada, perlahan menarik ritsleting jaket navy yang ia kenakan. Jaket tebal itu terlepas, jatuh begitu saja ke lantai dan menyisakan kaus tipis yang membungkus tubuhnya.
Sena hanya bisa menelan ludah, terpaku pada tatapan Keano yang seolah mengunci seluruh gerakannya. Dengan lembut, Keano membelai surai cokelat gelap keemasan Sena yang sedikit berantakan, merapikannya dengan penuh perasaan. Jari-jemarinya kemudian turun, menyusuri garis rahang hingga mendarat di tengkuk Sena. Dengan satu tarikan pelan namun pasti, Keano membawa Sena kembali padanya, menyatukan mereka dalam ciuman yang jauh lebih dalam dan menuntut dari sebelumnya.
Ciuman dalam yang tadinya menuntut itu perlahan melunak, berubah menjadi lumatan-lumatan kecil yang jauh lebih santai dan penuh perasaan. Keano melepaskan tautan bibir mereka dengan suara kecupan pelan yang tertinggal, namun ia tidak membiarkan Sena pergi jauh. Hanya sejengkal jarak yang tersisa, cukup bagi keduanya untuk saling merasakan hembusan napas yang masih berantakan.
Keano terkekeh rendah, suara beratnya bergetar di depan wajah Sena. Ia mulai menghujani wajah pacarnya itu dengan kecupan-kecupan manja. Dimulai dari kening yang lama, lalu turun ke kedua kelopak mata Sena yang terpejam rapat. Sena hanya bisa meremas pelan kaus Keano, menikmati setiap sentuhan yang mampir di kulitnya.
"Gemes banget, sih," gumam Keano pelan.
Ia berpindah mencium ujung hidung Sena, lalu ke pipi kanan dan kiri secara bergantian. Setiap kali bibir Keano mendarat dengan bunyi cup yang nyaring, Sena refleks tertawa kecil. Tawa yang awalnya malu-malu itu lama-lama pecah menjadi tawa lepas saat Keano mulai menciumi leher dan bawah telinganya dengan sengaja.
"Keano, ampun.. Geli ah, udah gak!" Sena berusaha menghindar sambil tertawa sampai bahunya terguncang, tapi pelukan Keano di pinggangnya justru semakin erat, menariknya sampai benar-benar jatuh ke pelukan laki-laki itu.
Keano ikut tertawa, suara tawanya menyatu dengan tawa Sena yang memenuhi ruangan. Ia menyandarkan dahinya di dahi Sena, membiarkan ujung hidung mereka bersentuhan. Tangannya yang hangat kembali menangkup pipi Sena, ibu jarinya mengusap rona merah yang belum juga hilang.
"Sen," panggil Keano lembut. Suaranya mendadak berubah jadi tulus banget, bikin Sena otomatis diam dan menatap matanya. "Aku sayang banget sama kamu. Banget."
Sena yang biasanya tengil mendadak kelu, hatinya kerasa hangat sampai ke tulang. "Tiba-tiba banget?"
"Ya habisnya gimana? Kamu di depan mata, ketawa kayak tadi... rasanya duniaku langsung penuh," Keano tersenyum, jenis senyum tulus yang bikin matanya ikut menyipit. "Kadang aku mikir, aku pasti pernah nyelamatin satu galaksi apa satu kerajaan kali ya di kehidupan sebelumnya sampai bisa dapetin kamu sekarang."
"Gombal! Mana ada jadi pahlawan segala," Sena memukul pelan dada Keano, tapi tangannya malah berakhir melingkar di leher laki-laki itu.
"Nggak gombal, Sayang. Serius," Keano kembali mengecup singkat bibir Sena, kali ini hanya kecupan ringan sebagai tanda sayang. "Buat aku, kamu tuh semuanya. Mau aku secapek apa juga, pengennya langsung ke kamu, jadi gajadi capek. You're the only person who can make me feel like the luckiest guy just by calling my name.”
Sena menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Keano, nggak kuat denger rentetan kalimat manis itu. "Buaya! Udah ah males, cosplay vicky prasetyo kamu!"
"Beda sayang. Itu cemen, aku ga cemen soalnya setia sama kamu," bisik Keano cengegesan sambil mengelus rambut cokelat keemasan Sena, lalu kembali mencium puncak kepalanya dengan penuh perasaan. "I love you, Sena. Selalu."
Keano mendekap tubuh Sena erat-erat, seolah ingin memastikan tidak ada satu celah pun di antara mereka. "Ya ya ya, oke siap buaya mulut manis."
Sena memejamkan mata, merasakan detak jantung Keano yang tenang di telinganya. Di ruang tengah yang hanya diterangi cahaya remang dari layar TV yang terlupakan.
"I love you more, Kean," sahut Sena pelan, akhirnya membalas pernyataan cinta itu sebelum ia benar-benar tenggelam dalam kenyamanan pelukan laki-lakinya.
