Actions

Work Header

Saint's Passage

Summary:

Ivan tidak suka Eleanor menyembunyikan sesuatu darinya. Maka di Saint's Passage, dia melakukan sesuatu untuk membuatnya ingat.

Notes:

Warning: There's maybe a lot of typos or inconsistencies

Ditulis karena kegabutan. So yeah there's no such thing called beta reader. Plus I had insomnia while writing this...

Work Text:

Akhir pekan ini bakal aku habiskan untuk mengerjakan tugas.

Itulah yang awalnya Eleanor Lancaster-Clarke akan lakukan — atau lebih tepatnya rencanakan. Namun nyatanya ia kini malah berada di Gazebo Promenade, duduk di bangku kayu putih yang sudah lusuh oleh angin laut.

Buaian lembut angin laut menerbangkan helaian rambutnya yang ia biarkan terurai. Di hadapannya terhampar pemandangan Pagasetic Gulf yang membentang.

Matahari menggantung rendah di cakrawala, menyulap lautan menjadi emas dan lembayung. Permukaannya berkilauan layaknya bintang — memantulkan cahaya oranye mentari.

Namun pemandangan seindah itupun tak cukup untuk menggugah hati Eleanor. Karena saat ini ia lebih memilih untuk memusatkan seluruh perhatiannya kepada kotak kecil yang dibungkus oleh kertas kado di tangannya.

Hadiah, jelas saja.

Tapi ia tidak merasa senang sama sekali. Dirinya justru memilih untuk memutar-mutar hadiah tersebut seolah mencari sesuatu yang mencurigakan.

Merasa hal itu tak mampu untuk menghilangkan kegundahan hatinya, Eleanor membawa hadiah tersebut kembali ke dekapannya sambil menghela napas pelan. Matanya menatap sendu, mengingat perkataan yang dilontarkan si pemberi hadiah.

Aku baru pulang dari Amerika. Dan aku pikir tidak ada salahnya kalau aku memberi sedikit hadiah buat kamu. Anggap aja sebagai oleh-oleh, ucapnya. Suara James yang keras dan bersemangat masih terngiang-ngiang dalam ingatannya.

Sebenarnya tidak ada alasan bagi Eleanor untuk bimbang. Bagaimanapun cukup wajar untuk dua orang teman membagikan hadiah, kan?

Namun Eleanor tidak cukup bodoh untuk tidak menangkap maksud tersembunyi dari tindakan James. Jelas-jelas James—

Cesssss

Belum sempat menyelesaikan apa yang ia pikirkan, sesuatu yang dingin menyentuh pipi Eleanor.

"Aghh—!"

Dengan refleks Eleanor menolehkan kepalanya sambil memegang pipinya. Dirinya sudah bersiap menghardik siapapun orang yang dengan berani menjahilinya. Namun ia berhenti sebelum mengeluarkan satu katapun saat ia melihat siapa yang berdiri di belakangnya.

Eleanor bisa melihat Ivan Volkov berdiri menjulang sambil tersenyum bangga. Rambut putihnya terbuai angin lembut — terlihat halus. Sinar senja memantul di matanya, menciptakan gradasi indah antara oranye dan ungu.

Di tangannya terdapat dua minuman kaleng dengan rasa berbeda. Yang satu adalah minuman rasa stroberi yang baru saja ia tempelkan pada pipi Eleanor tanpa aba-aba. Sementara yang lainnya merupakan minuman bersoda dengan kemasan berwarna biru.

"Ivan—kamu—" belum sempat Eleanor menyelesaikan perkataannya, Ivan menyodorkan minuman kaleng rasa stroberi kehadapan Eleanor. Eleanor menerimanya dengan ragu.

Tanpa sepatah kata Ivan langsung duduk di sebelah Eleanor.

Ia membuka kaleng minumannya dengan cekatan dan menghabiskannya dalam satu tegukan. Sementara Eleanor masih memandangi minuman rasa stroberi di tangannya.

"Sepi ya..." Adalah kalimat pertama yang Ivan ucapkan.

Eleanor yang mendengarnya hanya bisa mengernyitkan keningnya jengah.

"Makasih udah ngasih tau hal yang benar-benar baru..."

Ivan hanya membalasnya dengan tawa. Mengabaikan balasan sarkastik yang dilemparkan oleh Eleanor.

"Ngomong-ngomong," Ivan menjeda ucapannya, seolah-olah ingin menambah kesan yang membuat penasaran. "Apa itu di pelukan kamu?"

Pertanyaan tersebut sukses membuat Eleanor tersentak. Ia dengan panik segera memindahkan hadiah dari James, berusaha untuk menyembunyikannya dari pandangan Ivan.

"Bukan—bukan apa-apa kok," balasnya kikuk sembari mengalihkan pandangan dan perlahan memasukkan hadiah tersebut kedalam tas yang di bawanya.

Ia tidak tahu mengapa, padahal hadiah tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan Ivan, tapi dirinya tidak mau Ivan mengetahui bahwa hadiah tersebut berasal dari James.

"Hmm...?"

Ivan memiringkan kepalanya sembari mendekatkan wajahnya ke Eleanor. Senyum jahilnya terpampang jelas.

"Yakin?"

Eleanor yang ditatap sedemikian rupa hanya membalas datar.

"Tsk, ini bukan hal penting," katanya sambil memalingkan muka.

Melihat bahwa Eleanor tidak memberikan jawaban yang memuaskan, Ivan langsung memasang wajah sedih — yang jelas sekali dibuat-buat.

"Ellie jahat sekali!"

Ivan langsung menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. "Ellie tega banget nyembunyiin sesuatu dari aku. Ternyata cuma aku yang menganggap kita berdua teman dekat," ucapnya sambil menggoyangkan kedua bahu Eleanor dramatis.

Eleanor yang melihat tingkah laku temannya hanya bisa menghela napas sebelum kemudian menatap dengan jijik.

Dengan muak ia segera menepis kedua tangan Ivan dari bahunya.

"Jangan alay," tuturnya sambil membereskan barang-barangnya. "Ayo pulang. Kalau terus di sini nanti kita bisa telat pulang dan gak dibolehin masuk House."

 


 

Keduanya berjalan beriringan dengan perlahan. Menyusuri jalanan Southern Coast yang yang semakin cantik seiring matahari tenggelam. Pasangan muda-mudi mulai memenuhi area Promenade, menambah suasana malam yang perlahan terasa semakin hidup.

Mereka lanjut berjalan melewati Central Plateau, melihat beberapa murid yang baru menyelesaikan urusannya masing-masing dan baru akan pulang ke House mereka. Keduanya juga bisa melihat anggota Student Discipline Committee — seperti Klaus dan Kaito — yang mulai bersiap-siap untuk melakukan patroli malam.

Perjalanan mereka hanya diisi oleh Ivan yang melontarkan berbagai pertanyaan dan Eleanor yang menjawab seadanya.

Tanpa sadar keduanya sudah sampai di Saint's Passage — jembatan penghubung antara Central Plateau dan Northern Heights — tempat dimana House mereka berada.

Keduanya mulai menapaki jembatan kaca itu. Berjalan menyusurinya dengan perlahan.

Pergantian antara sore dan malam membuat jembatan tersebut memantulkan cahaya yang indah. Seolah-olah memberi kesan magis bahwa keduanya berjalan di atas awan.

Di bawahnya, jauh di dasar Chasm of Lethe, samar-samar terdengar suara sungai yang mengalir deras. Mampu menyeret siapapun orang tidak beruntung yang jatuh ke sana.

Mereka berjalan berdampingan dalam diam.

Angin di Chasm of Lethe bergerak semakin kuat, menerbangkan rambut putih Ivan dan helaian pirang Eleanor yang masih terurai.

Ivan yang kesal karena rambutnya acak-acakan berusaha keras untuk merapikannya — yang tentu saja dibuahi kegagalan. Pandangannya beralih ke Eleanor, penasaran akan apa yang sedang dilakukannya.

Entah candaan Dewi Takdir atau permainan semesta; tepat saat Ivan menoleh, sinar senja menerpa telak wajah Eleanor — menciptakan ilusi optik seolah-olah dirinya bukan dari dunia ini.

Cantik.

Untuk sesaat Ivan kehilangan kata-katanya.

Ia menghela napas — pelan, hampir tidak terdengar.

Ivan memalingkan wajahnya kembali ke depan, pura-pura tidak melihat. Tapi bayangan Eleanor yang tersapu cahaya senja itu sudah terlanjur terpatri di ingatannya.

"Ellie."

"Hmm."

"Kata Pierre," Ivan memulai, "Sofia ngundang kita buat makan-makan di St. Catherine House. Katanya bakal banyak yang ikut. Kamu bakal datang juga?"

Ada jeda di antara mereka. Eleanor tak langsung menjawab. Ia menimang-nimang jawaban apa yang harus ia keluarkan.

"Kalau aku senggang," ucapnya pada akhirnya.

"Kalau Asclepion nggak kebanjiran pasien maksudnya?"

Eleanor hanya mengangkat bahu sambil bergumam kecil.

"Ellie?"

"Apa lagi?"

"Minggu depan," terdapat jeda dalam kalimat Ivan, seolah ia ragu akan melanjutkan atau tidak. "Aku bakal ikut lomba renang."

"Oh? Semoga beruntung."

"Itu saja?!" Ivan memasang ekspresi tidak percaya akan jawaban temannya tersebut.

"Trus aku harus bagaimana? Masa aku harus ikutan renang denganmu sih'?"

Ivan tak menjawab dan memilih untuk melanjutkan perjalanan dalam diam hingga keduanya sampai di persimpangan jembatan.

Eleanor bersiap untuk lurus dan naik menuju St. George House. Ia sudah membuka mulut, bersiap mengucapkan sampai jumpa kepada Ivan.

Namun belum sempat Eleanor mengeluarkan suaranya, Ivan mencium pipi kanan Eleanor.

Ciuman yang cepat dan ringan.

Di saat yang bersamaan Ivan melakukan hal kecil yang tak Eleanor sadari karena ia terlalu terkejut akan apa yang terjadi.

Sebelum Eleanor sempat bereaksi — sebelum jantungnya sempat memutuskan apakah harus berhenti atau meledak — Ivan sudah mundur satu langkah, sembari menampilkan ekspresi yang baru pertama kali Eleanor lihat. Sekilas matanya menampilkan emosi yang tak ia pahami, sebelum kembali ke kondisinya yang sedia kala.

"Lain kali," katanya, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya, "jangan main rahasia-rahasiaan lagi sama aku, ya. Aku gak suka."

Ivan berbalik. Dirinya berbelok ke kiri, turun ke bawah menyusuri jembatan untuk mencapai St. Nicholas House.

Eleanor yang pipinya memerah, memandangi punggung Ivan — yang perlahan-lahan menghilang ditelan kabut — dengan tidak percaya.

Entah berapa lama Eleanor terdiam mematung di tengah jembatan sebelum ia kembali tersadar.

Saat tersadar ia masih bisa merasakan wajahnya menghangat dan ada bekas rona merah muda yang tersisa di pipinya.

Tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang terselipkan di antara daun telinganya.

Dengan perlahan Eleanor mengambilnya untuk melihat bentukan dari benda tersebut.

Di jari-jarinya sekarang terdapat setangkai Heliotrop yang terbuat dari kristal. Ia bisa merasakan bahwa Heliotrop tersebut memancarkan kekuatan Ivan.

Eleanor hanya bisa membelalakkan mata saat melihatnya. Dirinya sudah kehabisan kata-kata untuk mengomentari perilaku temannya tersebut.

Dengan pasrah Eleanor menunduk dan menutupi kedua matanya dengan telapak tangannya, sembari membiarkan poninya terurai dan menutupi sebagian wajahnya.

Ia menunjukkan senyum kecil — senyum tulus.

"Dasar..."

Series this work belongs to: