Chapter Text
Hari itu dimulai tidak seperti biasanya. Gojo mendapatkan dapur masih hening dan tidak ada apapun di meja. Biasanya saat dia bangun, roti dan kopi sudah tertata di meja makan. Aneh. Apakah Nanami belum bangun?
Pemuda berambut putih itu mencoba memeriksa Nanami yang masih belum bangun dari mimpinya. Adik kelasnya itu tidur dengan kening yang sedikit berkerut dan wajah kemerahan.
Gojo mencoba meletakkan telapak tangannya di dahi Nanami dan benar saja. Dahi pemuda berambut pirang itu lebih panas dari suhu normal.
Belum sempat beranjak dari posisinya, Gojo mendengar suara langkah kaki kecil yang mendekati mereka.
Menengok, Gojo memberikan isyarat agar Megumi dan Yuuji tidak berisik agar tidak mengganggu tidur Nanami.
Gojo melambaikan tangan, meminta mereka untuk mendekat.
“Nanamin sakit. Kalian nanti sama Toge, Yuuta, dan yang lain ya?” Gojo menggunakan suara setengah berbisik, berharap mereka juga melakukan hal yang sama.
“Nanamin sakit? Uji rawat.” Anak berambut merah muda itu berusaha untuk menghampiri Nanami yang langsung saja dicegat oleh Gojo. Pemuda itu menggendong Yuuji sambil mengusap punggungnya pelan.
“Uji main sama Gumi sama yang lain dulu ya? Nanamin kan bobo terus nanti kalian bosen. Nanti pas kalian pulang pasti Nanamin udah sembuh.”
Megumi menatap Nanami dengan tatapan sedih sebelum beralih menatap teman merah mudanya itu.
“Ayo, Uji. Gumi mau main sama Uji.”
Gojo tersenyum sebelum mencium pipi kedua anak itu. Buru-buru dia menelpon Yuuta dan menyuruh dia datang untuk menjemput Yuuji dan Megumi.
“Uji sama Gumi gak boleh nakal ya. Kalo ada apa-apa, atau kangen, minta tolong Kak Yuuta buat telepon kesini. Oke?”
Yuuji dan Megumi hanya mengangguk dalam diam. Mereka terlihat tidak bersemangat dan sesekali menatap Nanami khawatir.
Gojo menurunkan Yuuji dari gendongannya begitu bel berbunyi. Dia pergi menemui Yuuta dan Toge, lalu menjelaskan situasi mereka. Kedua muridnya hanya mengangguk dan menerima peralatan yang dibutuhkan untuk Yuuji dan Megumi.
“Nanti gue hubungin lagi ya? Harusnya sih nanti sore atau malem Nanami udah mendingan jadi Yuuji sama Megumi bisa kalian bawa pulang. Ini kartu unlimited, pake aja pokoknya buat jajan kalian.”
Gojo menyerahkan kartu berwarna hitam yang awalnya ditolak oleh Yuuta sebelum diambil dengan cepat oleh Toge. “Shake, shake.” Ucap pemuda itu sambil mengacungkan ibu jarinya.
Gojo memeluk Yuuji dan Megumi sebelum mengucapkan selamat tinggal pada mereka semua. Setelah melihat mereka masuk kedalam mobil yang dikendarai Ijichi, Gojo bergegas masuk untuk melihat keadaan Nanami.
“Nanami, bangun dulu yuk. Makan terus minum obat. Itu ada roti yang kemaren gue beli.” Nanami hanya mengerang kecil dengan mata yang masih tertutup.
“Nanamiiii. Kentooo. Ayo bangun dulu jangan kayak bocah.” Gojo menepuk-nepuk pelan pipi Nanami yang kemerahan karena demam. Tepukan itu membuat Nanami mau tidak mau membuka matanya.
Mata pemuda berambut pirang itu terlihat berair. Pandangannya juga tidak fokus menatap Gojo.
“Mau tidur.” Ucap Nanami dengan nada yang sedikit kenanak-kanakan. Sontak hal itu membuat special grade sorcerer itu kaget. Ternyata seorang Nanami Kento yang selalu dewasa dan terlihat kaku setiap saat akan seperti anak kecil ketika sakit.
Gojo hanya bisa menahan tawanya. Benar-benar lucu adik kelasnya ini.
“Iya tidur tapi makan dulu, minum obat, terus baru boleh tidur.”
Nanami tidak menjawab. Dia hanya menarik tangan Gojo dan meletakkan telapak tangan pemuda berambut putih itu di pipinya.
‘Dingin’ pikirnya. Dia tidak terlalu memikirkan apa yang dilakukannya. Dia hanya tau bahwa tubuh Gojo terasa dingin saat menempel di tubuhnya yang terasa seperti terbakar.
Gojo menggigit bibirnya. Dia tentu saja tidak ingin memanfaatkan keadaan Nanami yang sedang sakit, tapi ini adalah momen langka yang tidak bisa dia lewatkan.
Setelah mengusap-usap pipi dan rambut Nanami dan merasa pemuda itu kembali tertidur, Gojo pergi mengambil roti yang sudah dia beli kemarin dan beberapa obat yang akan diberikan kepada Nanami.
Begitu dia kembali, Nanami sudah terduduk di kasur dengan muka yang agak ditekuk.
Gojo menaruh obat-obatan dan roti di meja nakas dan duduk di samping Nanami.
“Kenapa?”
Nanami menyandarkan kepalanya di bahu pemilik limitless itu. “Kemana?”
Yang ditanya hanya bisa menahan senyumnya. “Ambil roti sama obat.”
Nanami hanya bergumam tidak jelas. Matanya tertutup, dan Gojo tau tidak lama lagi Nanami pasti akan tertidur jika dibiarkan.
Gojo meraih roti dan mendekatkan roti itu ke dekat mulut Nanami. Tak disangka pemuda berambut pirang itu membuka mulutnya dengan masih mempertahankan posisi yang sama dan mulai mengunyah roti tersebut.
“Jadi begini ya kalo Nanami Kento lagi sakit? Manjanya minta ampun.” Lagi-lagi Nanami hanya menggumam, tidak sedikitpun mengubah posisinya.
Setelah memastikan Nanami memakan habis rotinya, Gojo memberikan obat yang langsung diminum oleh adik kelasnya itu.
Baru saja pemuda berambut putih itu ingin bangkit dari duduknya untuk membiarkan Nanami beristirahat tapi tangannya ditahan oleh Nanami.
“Disini. Tidur.” Gojo mengangkat sebelah alisnya, menatap lekat-lekat pemuda di depannya. Nanami itu keras kepala. Meskipun sedang demam tinggi pasti dia tidak akan kembali tidur jika Gojo tidak mengikuti kemauannya.
Gojo menghela napas. Inikah yang dirasakan orang-orang ketika berhadapan dengannya?
“Oke. Tapi nanti gue foto lo pas lagi tidur ya. Jangan nyesel kalo udah sehat.”
Nanami hanya mengangguk dan mengisyaratkan agar Gojo tidur di sebelahnya.
Gojo mengambil posisi di samping Nanami. Terlentang menatap langit-langit kamar. Di sampingnya, Nanami berusaha sebisa mungkin menempel ke tubuh Gojo.
Pemilik six eyes itu merasakan panas tubuh Nanami sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Dia melirik jam yang ada di meja nakas. Waktu baru menunjukkan pukul 11.00. Ini akan menjadi hari yang panjang.
.
.
.
.
.
Gojo terbangun dengan sedikit tersentak kaget. Dia tidak berencana untuk benar-benar tidur tapi sepertinya ruangan yang sunyi dan juga redup membuatnya tanpa sadar tertidur.
Dia melirik ke arah Nanami yang sekarang sedang memeluknya. Dia bisa merasakan demam yang dirasakan adik kelasnya itu sudah agak turun. Mungkin nanti malam dia bisa meminta Yuuta dan teman-temannya untuk mengantar Yuuji dan Megumi pulang karena jujur saja dia tidak terlalu yakin jika anak-anak itu bisa mengurus Yuuji dan Megumi jika mereka menginap tanpa Nanami maupun dirinya.
Gojo mengambil ponsel dari saku celananya. Dia melihat ada beberapa chat yang masuk dari Yuuta. Isinya kurang lebih hanya mengatakan bahwa mereka baik-baik saja dan beberapa foto Yuuji dan Megumi. Syukurlah. Setidaknya dia bisa fokus mengurus Nanami tanpa perlu mengkhawatirkan anak-anak.
Dia memesan beberapa makanan untuk dirinya dan Kento karna tentu saja dia tidak bisa memasak. Setelah dia mengecek siapa saja yang mungkin menghubunginya dan dengan sengaja mengabaikan chat dari Yaga, dia mematikan ponselnya dan fokus pada pemuda di sampingnya.
Coklat bertabrakan dengan biru saat Nanami membuka mata. Gojo tersenyum. “Morning, sleeping beauty.” Berharap Nanami membalas seperti biasa yang menandakan pemuda itu sudah lebih sehat, tapi tidak. Tidak ada balasan dari Nanami selain mengencangkan pelukannya pada Gojo.
”Woy, kayaknya lo gak suka sama gue deh. Kenapa jadi clingy gini?” Bukannya Gojo tidak suka dengan perlakuan Nanami yang seperti ini, tapi tentu saja dia bingung. Adik kelasnya itu tidak suka denganya kan?
”Nggak.” Jawaban Nanami membuat Gojo mengerutkan keningnya. “Nggak apa? Nggak suka?”
”Gak pernah bilang gak suka.” Oh-ho. Bukan hanya lebih manja, Nanami saat sakit juga tidak memakai bahasa kelewat formal dan kaku seperti biasanya.
”Jadi, suka?” Gojo bertanya dengan nada bercanda seperti biasa, tapi sedikit banyak dia penasaran ingin mengetahui perasaan Nanami yang sebenarnya.
Nanami tidak menjawab, hanya membenamkan wajahnya di tubuh Gojo. Hening menyelimuti mereka sebelum Gojo akhirnya angkat bicara.
”Gue anggap itu iya ya. Awas lo kalo udah sembuh nanti gue puter rekaman dari cctv.”
Nanami masih diam, tapi yang Gojo tidak tau adalah ada sebuah senyum yang terulas di wajah pemuda berambut pirang itu.
Suka? Ya. Sepertinya Nanami memang menyukai Gojo Satoru.
