Actions

Work Header

In Een Kopje Koffie – Dalam Secangkir Kopi

Chapter 2: Cangkir Kedua : Koninkrijk der Nederlanden

Summary:

Antara Nederlandsche Indië, kopi dan Koninkrijk der Nederlanden : dalam endapan hitam itu tak cuma ada cinta dan benci—ada imaji mimpi buruk, nasionalisme dan konspirasi. -END

Notes:

And here we go~

Chapter dua siap memanjakan Anda dengan puisi bertebaran dan footnotes yang gak kalah banyak dari chapter satunya. =w=

Selamat membaca!

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

1835

Aroma secangkir kopi itu membuatnya yang tadinya berada di ambang alam bawah sadar karena laporan pajak dari Borneo kembali terjaga. Tak hanya aroma biji kopi disangrai hingga hitam kelam yang menggelitik saraf-saraf sensorinya, namun juga cengkeh, jahe, daun salam dan kapulaga yang sebelumnya sudah digiling berbarengan hingga halus. Khas.

"Ned? Bagaimana kalau kau istirahat dulu? Sudah kubuatkan kopi dan ada klapertaart juga."

Tawaran yang takkan sanggup ia tolak. Apalagi jika datangnya dari Indië-nya terkasih.

Ia mengangguk, tersenyum—senyum yang hanya ia peruntukkan pada pemuda berambut ikal sekelam malam dan bermanik sewarna jati itudan menyuruh Indië masuk ke ruangan kerjanya. Pemuda yang baru setinggi dadanya itu balas tersenyum, lembut nan meneduhkan, dan masuk.

Namun, baru separuh perjalanan melintasi ruangan luas yang di dalamnya berjejal rak-rak menjulang berisi beragam buku dari berbagai masa itu, pemuda itu mendadak limbung. Talam dengan cawan dan piring di atasnya jatuh berdentingan ke lantai.

"Indië!"

Cairan hitam itu terlupakan dan membasahi karpet Tunis nan mahal. Bila biasanya sifat luar biasa hematnya akan langsung bereaksi kala melihat vandalisme akan propertinya sepeti ini, kali ini ia sama sekali tak peduli. Si mata jati yang mendadak jatuh tersungkur jauh lebih mengkhawatirkan baginya kini.

"Indië!"

Pemuda itu mencengkeram dadanya. Berteriak sekuatnya hingga bergema ke seluruh penjuru kediaman mereka. Menggumamkan kata 'sakit' bak mantra. Bernapas dengan terbata-bata. Mengerutkan tubuhnya begitu rupa. Dan memejamkan mata dengan ekspresi kesakitan tiada tara.

"INDIË!"

Lagi? Indië-nya kena serangan lagi? Astaga, kenapa semakin sering sekarang? Apa karena rakyat dari perinsanan di hadapannya kini makin... tersiksa? Apa yang sebenarnya dilakukan si Van Den Bosch laknat itu, hah? Cultuur Stelsel(1) itu tak harusnya membebaniIndië sebegininya!

"INDIË! INDIË!"

.

tak kusangka, tak kukira, sungguh

bahwa biji merah yang berubah hitam di gelasku

akan menjadi awal dari semua lukamu

yang sampai dua abad ke depan pun masih ngilu

.

Hetalia Axis Powers ©Hidekazu Himaruya


Max Havelaar of de Koffieveilingen der Nederlandse Handelsmaatschappi  ©Eduard Douwes Dekker

.

Untuk IHAFEST Agustus 2012 dan Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia ke-67,

juga Peringatan 150 Tahun Penerbitan Max Havelaar yang terlupakan di Nusantara

.

IN EEN KOPJE KOFFIE – DALAM SECANGKIR KOPI


Cangkir Kedua :  Koninkrijk der Nederlanden

.

Tak pernah kutahu

Tak pernah kumau

Dari segala yang ada di dunia...

... kenapa harus kau?

Kenapa harus kita?

Kenapa harus ada konspirasi, benci—juga cinta tak bertepi

dalam secangkir kopi racikanmu saban pagi?

.

Maret 1913

Seratus tahun lalu, ia sedang berjuang. Mati-matian membela kebebasan, harga diri dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan negaranya—jiwa dan raganya—dari genggaman si cebol Napoleon Bonaparte-nya si mesum Perancis. Dan kini, hampir genap seabad berlalu, ia hendak merayakan seabad independensinya di tanah koloninya. Sungguh, betapa manisnya hidup. Dan tentu akan lebih sempurna andai segala usaha menentang pemerintahannya di tanah Khatulistiwa ini tidak ada.

Sejak setengah dasawarsa silam, ada-ada saja usaha para inlander muda ini untuk membangkitkan jiwa nasionalisme sesamanya—meski baginya itu hanya terasa seperti usaha mengobarkan pemberontakan yang bersifat akademis nan sporadis. Dari terbentuknya Budi Utomo, Indische Vereeniging, Sarekat Dagang Islam, Indische Partij yang radikal itu hingga berdirinya beragam usaha penerbitan:Poetri Hindia, surat kabar Al-Munir, majalah Het Tijdschrifc dan surat kabar De Expres(2)—astaga, dia tidak heran kalau lama-lama rambut pirang tembaga jabrik sebentuk tulip kesayangannya berubah rona menjadi sewarna awan yang berarak di langit sana. Pemberontakan kedaerahan bisa saja ia padamkan dengan mudah—tergantung situasi dan kondisi, ia bisa selesaikan dalam hitungan tahun dengan dana mencapai ratusan ribuan gulden atau hitungan dasawarsa yang alot dan lebih hemat biaya—tapi ini? Demi kelinci kesayangannya yang hanya jinak pada ia, dua adiknya dan Indië, ini sungguh mengesalkan sekali.

Mereka ini seperti jamur di musim penghujan, dicabut satu tumbuh seribu.

Jika sudah begini, ia jadi menyesal telah menggelontorkan ide perihal ethische politiek. Padahal sebenarnya, kebijakan itu disahkan awalnya sebagai usahanya menjaga gengsinya di Eropa sana—tulisan fiktif rakyatnya tertentu tentang hal-hal di balik layar lelang kopi maskapai dagangnya telah mencoreng imej baik-baiknya dan ia harus melakukan sesuatu sebelum dicap sebagai pedofil-sadis-hampir-psikopat oleh rakyatnya sendiri. Namun ternyata kebijakan terkait edukasi itu terlalu berlebihan—meski menurut statistik baru kurang dari 5%(3) anak usia sekolah yang telah mendapat pendidikan formal.

Haah, kalau begini, ia jadi ingin meneguk kopi penuh rempah buatan Indië-nya tersayang—kopi buatan Indië luar biasa lezat dan punya efek menenangkan yang sangat nyaman.

Ngomong-ngomong soal Indië, ada yang aneh dengan pemuda itu. Akhir-akhir ini dia makin sering tak langsung menyambut kedatangannya di kediaman mereka. Reaksinya pun terasa makin berjarak—terlepas dari interaksi mereka di atas ranjang, tentu saja,Indië masih luar biasa sensitif dengan setiap sentuh-belai-kecupnya seperti biasa. Ia sungguh heran, ada apa sebenarnya?

Jangan-jangan...

Ia menggelengkan kepalanya begitu keras. Mencoba mengenyahkan imaji sekilas dalam otaknya yang berlaku bak rayap menggerogoti serat kayu. Itu... itu hal yang paling ingin ia hindari.

Sungguh, dia tak mau Indië tahu, demi apa pun, ia tak mau berbalik dibenci pemuda yang notabene perinsanan Hindia Belanda itu.

—ik ben diep in liefde met jou.(4)

tanpa kutahu, tanpa mungkin kau mau.

"Waluyo!"

Satu seruan dengan desibel satu level lebih tinggi dan kepala babu itu muncul di ruangannya dalam semenit.

"Iya, Meneer?"

"Waar is Indië?"

Babu paruh baya itu tampak tertegun sejenak—hanya sedetik atau dua detik, tak cukup lama untuk ia sadari—sebelum menjawab dengan sikap penuh hormat, "Tuan pergi sejenak, Meneer. Katanya beliau ingin memetik sendiri daun salam untuk kopi Meneer di kebun belakang."

Ia tertegun. Manik hijaunya mencoba mendeteksi kebohongan, menggali kejujuran dari gerak-gerik babunya itu. Tapi nihil.

Kalau begitu mau tak mau ia harus percaya—padahal demi apa pun, ia tak suka dipaksa.

Mengurut pangkal hidungnya, ia melambaikan tangannya—gestur mengusir—dan berujar,"Tack verteld hier.(5)"

"Iya, Meneer."

Tak lama berselang, sesosok Nederlander tinggi besar—anggota pasukan pengawal kediamannya yang baru—memasuki ruang kerjanya.

"Ja, Meneer?"

"Mulai besok, awasi Indië 24 jam sehari—dan jangan sampai dia sadari. Laporkan padaku apa pun yang kau lihat. Kau boleh mengkoordinir tim. Berapa pun jumlahnya, apa pun yang kaubutuhkan—ambil semua. Tapi jangan sampai kau gagal," tajam, tanpa basa-basi, laiknya tebasan pedangnya di tiap peperangan—bagaimana pun juga, dia sang Koninkrijk der Nederlanden yang mempunyai koloni di setiap benua, tidak kalah dari si bajak laut beralis lapis enam atau maniak tomat berkepribadian ganda itu.

"Mengerti?"

"Ja, Meneer."

Satu anggukan takzim, dan ia tahu, ia bisa mengandalkan bawahannya yang satu ini. Bagaimana pun, terkadang orang baru bisa bekerja lebih baik daripada orang lama—lebih-lebih mereka yang sudah merasakan nikmatnya mengecap harta, huh, tak bisa dipercaya.

"Te ontslaan.(6)"

Pengawal itu berlalu dalam diam setelah memberinya penghormatan ala militer. Sementara ia sendiri kembali menekuri dokumen-dokumennya.

Ya, bagaimana pun ia sang kolonialis yang berkuasa, demi apa pun ia tak boleh terlalu mementingkan salah satu koloni—sekali pun ia mencintainya sebagai individu.

kita bukan manusia

tapi kenapa kita diberkahi rasa… bernama cinta?

.

"Welkom(7), Meneer."

"Mana dokumen hari ini?"

Terkesan terburu-buru? Ia memang buru-buru. Silakan panggil ia paranoid. Tapi sekarang ia tak sanggup meninggalkan Indië-nya terlampau lama—lebih dari 48 jam dan ia akan meminta saisnya memacu kuda melebihi kecepatan yang seharusnya. Bagaimana tidak? Laporan pengawalnya yang satu itu tidak pernah lengkap. Selalu ada celah buta 6 sampai 8 jam dalam pengawasan mereka tiap 3 atau 4 hari. Dan Indië bisa ke mana saja dalam kurun waktu itu! Verdamnt!

"Ja. Silakan. Ini laporan pajak dari Residen Bantam, lalu laporan pendapatan dari landrente Batavia, dan ini permohonan izin pengesahan organisasi."

Alis yang menaungi iris zamrud itu naik sebelah, seraya menerima beberapa bendel dokumen yang langsung ia ambil asal salah satunya,"Organisasi?"

"Ja. Politiek partij. National Indische Partij. Anda tentu sudah mendengar tentang mereka, bukan?"

Oh. Itu. Dua orang ex-mahasiswa STOVIA sekaligus anggota awal Boedi Oetomo—salah satunya cucu Sri Paku Alam III—dan cucu penulis novel picisan yang menghancurkan imejnya sekaligus pemilik salah satu usaha penerbitan terbesar di Batavia. Mereka berkolaborasi membentuk partai politik yang menuntut kemerdekaan Hindia Belanda. Yang benar saja, siapa yang akan tidak tahu?

"Nekat sekali mereka mengajukan pengesahan," ujarnya seraya membolak-balik bendel yang ternyata dokumen pengesahan kelompok revolusioner itu.

Ia akui, ia mengagumi keberanian para pemuda ini—meski jujur saja, menurutnya umur E.F.E. Douwes Dekker itu tidak bisa lagi dibilang muda. Namun sayang, ia bukanlah sosok yang cukup baik hati hingga bisa membiarkan namanya dicaci maki setiap pagi dalam surat kabar yang mereka jadikan media propaganda.

Jadi, tidak, ia tidak akan mengesah—

Manik zamrud itu tiba-tiba melebar. Sebuah foto—potret bersama pendiri dan seluruh anggota awal Indische Partij sebagai salah satu persyaratan yang harus dipenuhi dalam pengajuan permohonan izin pengesahan organisasi—hampir remat di genggamannya. Jauh di barisan ketiga, di belakang para pendiri, nyata terlihat wajah yang familiar. Potret di tangannya memang hitam putih tapi dahi itu, hidung itu, bibir itu, wajah itu—

kepalsuan takkan bisa selamanya bertahan

kau mengerti benar, bukan?

Ia menggertakkan gigi. Semua ketakutannya terbukti. Semua paranoianya mewujud nyata.

Dalam potret hitam putih itu, menatap lurus pada mata zamrudnya versi monokromatik manik jati yang selalu dipujinya menawan ketika pemiliknya merasakan ekstasi langit ketujuh di atas ranjang mereka.

"Indië..."

.

Rembulan tengah mengintip dari jendela, kala sosok itu tengah meletakkan dulang di atas meja kerjanya—sepiring penganan dan segelas kopi panas yang masih mengepul. Tampak damai—firdaus mungilnya di tengah kekalutan dunia—lebih dari siapa pun. Ia menoleh dan tersenyum lembut padanya seperti biasa.

"Welkom, Ned. Kau sudah pulang?"

Tapi tidak. Kali ini tidak seperti biasanya. Karena dia bisa melihat, ada setitik keterpaksaan di sana—di sudut bibirnya. Dan di antara sorot mata meneduhkan itu, ada bayang-bayang benci—asap dari api nasionalisme yang dipaksa untuk berkobar tak kentara di depan tiraninya sebagai sang kolonialis.

"Ned?"

Pemuda itu menelengkan kepalanya—tampak polos, tak tahu apa-apa—sepertinya cemas akan kondisinya dan berjalan melintasi ruangan menghampirinya. Hah, sudah sejauh ini, masihkah ia bersandiwara?

"Cukup, Indië..."

Langkah kaki itu terhenti.

"SANDIWARA INI SUDAH CUKUP!"

Zamrud bersirobok dengan jati. Namun kali ini tidak dengan keteduhan yang membuat hutan mendesah iri. Kali ini ada friksi amarah juga terkhianati.

'Begitu, ya.' Pemuda itu memejamkan matanya sesaat—menyembunyikan manik jatinya di balik kelopak mata—sebelum kembali balas menatapnya. Dengan sorot mata yang tak pernah sekalipun terlintas di benaknya Indië-nya akan mungkin melakukan itu.

"Kau sudah tahu. Akhirnya."

Bukan pertanyaan retoris bodoh—itu kalimat pernyataan tegas yang diucapkan dengan penuh keyakinan dan kelegaan luar biasa yang sangat terasa di tiap silabelnya.

Sebendel dokumen dilempar kasar oleh si mata zamrud ke tengah ruangan. Kertas-kertas berstempel pemerintah Hindia Belanda melayang irregular di tengah ruangan. Dokumen peperangan dan pemberontakan di Hindia Belanda dalam kurun dua dasawarsa terakhir. Termasuk dokumen permohonan pengajuan pengesahan partai politik pertama di negeri ini dan... potret itu. Potret yang mengungkap semuanya.

"Sejak kapan?" Dingin, datar—jadi ini, Koninkrijk der Nederlanden sang kolonialis, sosok yang tak pernah ia perlihatkan padanya—tanpa setitik pun belas kasih, "Sinds wanneer je dit deed?(8)"

Tanpa gentar, sosok yang lebih kecil darinya itu menatapnya balik dan menyunggingkan senyum—pedih, "Weet je nog—kau ingat... Eduard Douwes Dekker?"

"Dat verdomde schrijver—penulis laknat itu," didesiskan dengan dosis kebencian di atas rata-rata.

Kalau nada suara yang ini, ia sudah biasa mendengarnya, "Beberapa tahun sebelum Max Havelaar terbit. Tepatnya, saat aku bertemu dengannya di sini."

"Hoe—?"

"Ceritanya panjang dan aku tahu kau tidak cukup sabar untuk mendengarnya sekarang."

Sang perinsanan kolonialis maju selangkah.

"Kenapa, Indië?"

Mendengus, sebelum tergelak bak orang kurang waras, "Kenapa, katamu? Kenapa?"

Tidak pernah—sekali pun tak pernah ia melihat Indië –nya seperti ini.

mampukah kau menerima kebenaran?

dan menafikan semua rasa yang ratusan tahun menjadi pihak ketiga—cinta?

"Al jaren, voor god damn driehonderd jaar, u en uw mensen zuigen ons bloed,(9)" diucapkan dalam bahasa yang ia ajarkan padanya—dengan kebencian terpatri di tiap suku kata, "Kau membunuhku perlahan tanpa aku sendiri sadari. Kau mempenjarakanku di sini, membuatku tak mengetahui apa pun tentang rakyatku sendiri, tanah airku sendiri!"

Kalimat berikutnya bak godam menghantam—sama sekali tak pantas diucapkan bibir ranum itu, "U klootzak, Ned—kau keparat."

Kasar, ia menyambar tubuh koloninya, sebelum merenggut napasnya paksa—ia muak mendengar semua ucapannya—dan memagut bibir delima yang baru saja merutuknya dalam kecupan beringas. Liar, brutal, tanpa sentuhan lembut yang menggelenyarkan sekujur tubuh seperti biasa.

Si mungil menolak, memberontak, melawan, namun lama kelamaan... logikanya lenyap.

Entah karena cinta, atau birahi semata, yang pasti…

... teriakan menderita rakyatnya, jerit kesakitan orang-orangnya. Caci maki para ambtenaar-nya, gusar amuk Ratu-nya nun di Eropa. Semua tiada. Seiring lidah tak lagi saling taut dalam tarian agresif dan kecup-gigit-jilat-hisap mulai merambati kulit sawo matang si mata jati.

Akal sehat diabaikan. Otak mati suri. Insting berjalan. Libido mengambil alih semuanya—

Pertanyaan bermunculan di sela semua kecup, peluk, sentuh, raba, erang, desah—kenapa, bagaimana bisa, bagaimana nanti—namun semua terlupa. Bahkan juga cawan kopi yang terlempar dari meja—yang mereka pilih tanpa sadar sebagai alas melakukannya—dan mendarat dengan dentang keras di lantai.

Hanya satu yang keduanya sadari. Lepas ini—setelah sesi yang tidak ada lembutnya sama sekali, setelah intrusi yang diakhiri dengan nama sebenarnya disebut satu sama lain dengan napas terbata ini

… meski cinta masih tersisa—setelah ini, hanya pedang dan senapan yang akan memungkinkan mereka bertemu kembali.

.

aku mencintaimu

Pagi datang dalam diam. Dan sang Nusantara-lah yang membuka mata pertama kali—demi mendapati ruang kerja yang biasanya rapi kini berantakan sama sekali—dengan tubuh polos tanpa sandang dan sekujur badan serasa remuk tak karuan. Si mata zamrud masih terlelap. Bagaimana pun, segala yang mereka lakukan semalam sangatlah menguras tenaga.

ik hou van jou

Ia tersenyum tipis melihat raut polos kolonialisnya itu. Jika begini, tiada yang akan menyangka dialah yang menyetujui sistem Tanam Paksa yang menimbulkan bilur luka di sekujur tubuhnya—dan nyeri di hati yang terasa mustahil bisa terobati. Perlahan, ia bangkit dan memunguti pakaiannya yang terserak. Dan begitu seluruh pakaiannya—yang masih cukup utuh, kancing kemejanya lepas semua karena semalam dirobek paksa—sudah ia pakai sempurna, ia menghampiri sosok yang masih tertidur itu.

"Mungkin ini akan menjadi ciuman selamat pagi terakhirku untukmu," ia berbisik di balik hembus napasnya.

tapi kini saatnya sudah tiba.

Bibir ranum itu mengecup lembut bibir sang kolonialis. Perlahan, selembut sepoi angin membelai kulit. Hampir tak terasa.

"Mulai hari ini, kita akan bersua sebagai seteru dan mungkin kau akan langsung menodongkan pistol padaku kala kita bertemu," terkekeh lembut, "Sebagai yang terjajah, aku takkan menyerah, Koninkrijk der Nederlander."

Kecupan terakhir dan mungkin untuk selamanya. Satu helaan napas—dan gravitasi mengambil peran.

Ada riwayat mengisahkan, konsentrasi air dalam tangisan hanya satu persen—sementara sisanya adalah kristal perasaan yang mencair…

"Tot ziens—sampai jumpa, Willem."

individu lindap, ambisi pribadi lenyap.

Tak lama berselang setelah pintu tertutup dan si manik jati pergi dari ruangan, sepasang zamrud terbuka perlahan. Tak mempedulikan kondisi sekitar yang hancur total—kertas dokumen yang berserakan; cangkir, piring pecah, dan dulang terbalik di lantai—ia melarikan jemarinya ke bibir.

tot ziens

Masih terasa, meski sama sekali tak teraba. Kecup terakhir darinya.

Satu ambisi tersulut. Ia bersumpah pada dirinya sendiri.

"Ik zal die kus niet als laatste kus(10), Raka," gumamnya perlahan.

sampai jumpa di medan perang—belahan jiwa.


Juli 1913

Surat kabar De Expres laris manis hari itu—13 Juli 1913—ribuan eksemplar dicetak, ribuan pula yang langsung habis didistribusikan. Dibeli borongan, diobral habis-habisan, diberikan gratisan, semua demi usaha menyebarluaskan satu tulisan yang pasti akan mengundang amukan pemerintah kolonial.

.

Saya ingin, dapat kiranya sebentar menjadi seorang Belanda, bukan seorang "Staatsblad-Nederlander", tetapi seorang putra Nederland Besar yang tulen, sama sekali bebas dari cacat-cacat asing. Alangkah gembiranya aku, apabila nanti di bulan November datang hari yang sebegitu lama ditunggu-tunggu, hari perayaan kemerdekaan. Kegembiraan hatiku akan meluap-luap melihat bendera Belanda berkibar sesenang-senangnya dengan secarik Oranje di atasnya. Suaraku akan parau ikut serta menyanyikan lagu "Wilhelmus" dan "Wien Neerlands Bloed", apabila nanti musik mulai berbunyi.

.

Als Ik Een Nederlander Was—Andai Saya Seorang Belanda. Tulisan satir karya Suwardi Suryaningrat yang satu itu sudah membuat pemerintah kolonial berang. Luar biasa gusar. Betapa tidak? Tiap lariknya mengandung sindiran tajam. Tiap barisnya menyampaikan sinisme terang-terangan. Siapa pula yang takkan geram?

.

Apakah kita tidak harus memikirkan, bahwa budak-budak yang sial itu juga ingin mencapai suatu ketika, yang mereka seperti kita sekarang dapat mengadakan suatu pesta yang serupa? Atau apakah kita menyangka, bahwa kita dengan politik kita yang lama terus-menerus menindas semangat yang hidup sudah membunuh segala perasaan kemanusiaan dalam jiwa bumiputera? Kalau begitu kita akan menipu diri sendiri, karena bangsa-bangsa yang sebiadab-biadabnya pun menyumpahi tiap-tiap bentuk penjajahan. Apabila saya seorang Belanda, saya tidak akan mengadakan pesta kemerdekaan dalam suatu negeri sedangkan kita menahan kemerdekaan bangsanya.

.

Terlebih negara, yang disindir dengan lagak sok polos oleh sang sentono Pakualaman, itu sendiri. Sang personifikasi sudah meremat koran di tangannya hingga tak berbentuk.

Ia marah. Kesal. Berang. Geram. Selepas kepergian Indië dari kediamannya, pergerakan para inlander ini makin merajalela. Tulisan kritis, sinis, satir bahkan sarkas di berbagai majalah dan surat kabar pun makin menjadi-jadi. Dan puncaknya, pagi ini.

Daripada ditulis sang priyayi, ia lebih yakin jika separuh tulisan ini didiktekan Indië pada pemuda itu. Baginya, setiap kata-kata yang tertulis di sana seolah berubah menjadi nada yang disuarakan pemuda bermanik jati itu dan diteriakkan keras-keras di telinganya.

Ia menggelengkan kepalanya. Gila. Tampaknya ia sudah gila.

Ia melirik keluar dari jendela kantornya di salah satu sudut pusat kota Batavia. Jalanan di bawah sana, riuh oleh orang-orang—penjaja koran, warga pribumi, rakyatnya—yang berlalu lalang dengan eksemplar De Expres baru di tangan. Menyebalkan.

Ia sudah akan menutup tirai—muak ia melihat semua euforia jajahannya ini—tatkala matanya menangkap sosok yang mematung di tengah jalanan. Sosok yang mustahil ada di sana. Sosok yang teramat dirindukannya. Dan sosok itu tengah menatap lurus ke jendela kantornya.

Mata zamrudnya melebar, bibirnya membisikkan satu nama, "Indië…"

Di seberang sana, sosok itu menatapnya tajam. Kokoh jati bertemu teduh hijau dedaunan—harusnya rerindang hutan pun akan iri bukan? Namun kenapa... hanya kobaran api yang terasa?

Satu tatap terakhir, sebelum sosok itu berbalik dan berjalan pergi.

Sungguh, ia harus bersyukur ada gerak refleks dalam sistem sarafnya. Karena bahkan sebelum ia sendiri sadari, kakinya sudah membawanya berlari keluar kantornya, keluar gedung dan menyeberangi jalanan yang penuh dengan orang dan kendaraan simpang siur—mengejar sosok yang tak seharusnya ada di sana.

Namun sosok itu sudah pergi. Lenyap tanpa jejak.

bahkan ilusimu pun pergi dariku

sedalam itukah kau membenciku?

Ia tertawa—menertawakan diri sendiri—dan sudah keburu merasa dirinya berdelusi tatkala matanya menangkap selebaran yang ditempel ke tiang lampu jalanan.

Di atas kertas putih, tertulis selarik kata dalam tinta semerah darah :

Merdeka atau mati. Apa pun yang terjadi, akan kurebut kemerdekaanku darimu.
– dari R untuk W

Ia tersenyum. Terkekeh. Makin keras hingga tergelak bak orang gila dan dipandang aneh oleh orang-orang yang lalu lalang.

kalau begitu, persetan dengan aksimu

Begitukah? Jadi ini surat tantangan dari Indië untuknya? Begitu, ya? Indië mungilnya sudah berani menantangnya, hah? Indië-nya yang itu—dan kelebatan imaji bernama memori melintas cepat dalam benaknya...

Kecup lembut yang membangunkannya dari alam mimpi. Senyum manis yang membawanya menyambut hari. Secangkir kopi teruntuk dirinya setiap pagi. Pelukan hangat yang menyambut kedatangannya. Halus ikal mayang menyentuh lengan yang menemani malam-malamnya.

Satu gelengan pelan dan semua memori kembali mengendap—seperti ampas hitam yang terlalu pahit untuk disesap.

Seringai tersungging di bibirnya—seringai sang Koninkrijk der Nederlanden nan adidaya.

"Kalau ini maumu, Indië, akan kuturuti."

tak peduli meski kita seteru

selamanya, Kasih, kau milikku

.

Sejarah tak pernah sekadar mengisahkan baku hantam heroik, Kawan.

Juga tak cuma menceritakan konspirasi yang ditutup-tutupi.

Kalau kau mau sedikit memicingkan mata,

Kau akan menemukannya di sana :

cinta tak tergapai, kasih tak sampai,

pecinta yang memilih untuk saling tikam

karena eksistensi 'cinta' yang sama sekali berlainan—

kasih murni yang mengikat tetes darahmu

pada tanah tempatmu berpijak dan guyuran air yang membasuh tubuhmu.

Kumohon, Kawan.

Jangan pernah memejamkan mata dan menafikan ini semua.

Demi mereka, yang menghantarkan masa hingga ke tangan kita.

TAMAT


memangnya kau percaya

ada kisah yang benar-benar berakhir?

17 Agustus 2012

Sosok itu baru saja selesai membeli penganan untuk berbuka puasa. Sebenarnya dia diundang oleh atasannya untuk berbuka puasa bersama sekalian merayakan ulang tahunnya—ya, hari ini ia berulang tahun yang ke-67—tapi dia menolak. Dia tak mau mengganggu reuni keluarga besar atasannya itu. Bagaimana pun tiga hari lagi Lebaran dan ini saatnya berkumpul bersama keluarga. Orang luar sepertinya tak sepantasnya hadir dan masuk ke lingkaran kecil itu.

Eh, apa? Heran kenapa ada orang yang berulang tahun ke-67 tapi berwajah 17 tahun? Jangan keburu berteriak, Kawan, dia memang bukan manusia, kok.

Dia menghentikan motornya—bukan motor bebek, apalagi yang matic, ia lebih suka model yang lebih garang meski ia tak mau mengendarai moge tertentu produksi negara yang perinsanannya maniak junk food itu—di depan rumahnya di kawasan pinggiran Jakarta sana. Dan ia tertegun ketika manik jatinya mendapati sosok yang tak asing berdiri dengan jumawa di depan pagar rumahnya.

Sesosok berambut pirang jabrik dengan mata sehijau daun pandan yang ditanamnya di halaman. Syal belang biru putih melingkari lehernya, pipa berasap menempel di bibirnya dan koper beremblem House of Orange Nassau diletakkan di sebelah kakinya. Beruntunglah ia, keluarga dengan anak-anak kecil di lingkungan rumahnya sudah pulang kampung semua. Jika tidak, ia pasti akan risih ditanya-tanyai anak-anak yang rasa ingin tahunya tak terbatas itu—atau sebaliknya, karena bagaimana pun juga kan dia pecinta anak kecil.

Sosok tinggi besar itu—ini yang membuatnya dongkol, ratusan tahun berlalu, dan kenapa ia tak bisa setinggi itu?—menoleh saat mendengar deru motornya mendekat. Menghentikan motornya di depan pagar rumahnya, tepat di hadapan si dia, si mata jati melepas helmnya—menampakkan rambut hitam ikalnya yang barusan dicukur ulang demi penampilan yang lebih segar.

"Aku heran kenapa satpam kompleks tak melarangmu masuk," gerutuan yang terdengar sangat meyakinkan—meski kalau kau sudah mengenalnya kau akan bisa mendeteksi sekelumit nada senang di dalamnya.

"Bukan itu yang harusnya kau ucapkan pada orang yang jauh-jauh datang hanya untuk menemuimu, Raka," diucapkan dengan datar untuk mengungkapkan rasa kesal—tapi kenapa yang terdengar malah nada sayang?

"Huh," mendengus, ia turun dari motornya dan membuka kunci pagar rumahnya.

Sudah biasa dengan reaksi coretsokcoret dingin pemuda itu, si mata zamrud dengan cueknya melingkarkan lengannya ke pinggang si mata jati—sebelum ditepis dengan satu gerakan silat nan efektif.

"Bulan puasa, tahu! Jaga tanganmu! Mana ini belum buka puasa juga..."

Omelan itu disambar satu kalimat yang sukses mendiamkan si mata jati begitu diucap, "Gelukkigeverjaardag, Indonesië—selamat ulang tahun, Raka."

Benar. Ulang tahunnya. Si pirang ini datang untuk merayakan ulang tahunnya. Dan mengingat itu membuat rona merah menjalari wajahnya tanpa permisi.

"Um. Terima kasih."

Gerendel pagar akhirnya berhasil ditaklukkan dan si mata jati kembali ke motornya—hendak menuntunnya masuk—tak mempedulikan si pirang yang tersenyum mendapati pipinya merona merah.

"Kau beli apa saja untuk berbuka?"

"Tempe mendoan, kolak, soto betawi, lalu...," yang terakhir sengaja digantung begitu rupa—agak malu mengungkapkan rupanya—sebelum diucapkan dengan wajah yang lebih memerah, "... poffertjes dan klapertaart."

Motor sudah diparkir dengan selamat sentosa, sekarang saatnya kembali mengunci pagar—silakan dianggap sebagai usaha menghindar dari pemandangan si pirang yang terkekeh mendengar pengakuan barusan.

"Akan lebih enak kalau ada kopi."

Si mata jati mendesah, "Kalau cuma kopi, kau kan bisa pergi ke rumah Feli dan Lovi—mereka punya 14 jenis kopi berbeda."

Hening sesaat dan itu membuat si rambut hitam yang sudah beralih posisi ke depan pintu rumahnya berasumsi dia telah mengucapkan sesuatu yang salah.

"Kau tahu aku paling suka kopi buatanmu."

Bukan rayuan gombal—dia tahu itu dengan pasti. Karena senyum di bibir si pirang menunjukkan itu—ada setitik kepedihan di sana. Pedih yang ia tahu karena luka yang ia torehkan padanya.

karena dalam cangkir itu tak hanya ada kopi semata

ada kisah yang tak kumau lagi mengingatnya

"Oke, oke. Masih lima belas menit ini sebelum waktunya buka. Masih cukup waktu untuk menjerang air dan membuat dua cangkir kopi," cengiran disunggingkan—seolah bilang untuk melupakan masa silam.

Senyum bertambah lebar seiring gagang pintu diayunkan, "Welkom, Willem."

.

Bukan lagi dua negara, bukan lagi penjajah dan koloninya, bukan lagi seteru di medan perang.

Hanya dua individu, dua cangkir kopi—dan cinta sebagai pihak ketiga.

.

tak ada kisah yang benar-benar berakhir

.

.

Catatan :

(1) Tanam Paksa yang jadi trademark coretKDRTcoret kekejaman Belanda akan Hindia Belanda mulai diterapkan oleh Van den Bosch di tahun 1830.

(2) Poetri Hindia (1909): usaha penerbitan untuk kaum perempuan. Surat kabar Al-Munir (1911)surat kabar pertama di Padang. Majalah Het Tijdschrifc dan surat kabar De Expres : dua media massa yang penerbitannya dipimpin E.F.E. Douwes Dekker.

(3) Statistiknya saya utak-atik sedikit sebenernya, menurut Wikipedia, sampai 1930 hanya 8% anak usia sekolah di Hindia Belanda yang mendapat pendidikan. Pendidikan memang sangat 'mahal' di masa itu.

(4) I'm deeply in love with you—Aku sungguh-sungguh mencintaimu. (Dutch)

(5) Panggil Tack kemari (Dutch)

(6) Dismiss—Kau boleh pergi. (Dutch)

(7) Selamat datang. (Dutch)

(8) Sejak kapan kau melakukan ini? (Dutch)

(9) Bertahun-tahun, demi Tuhan selama tiga ratus tahun ini, kau dan orang-orangmu menghisap darah kami! (Dutch)

(10) Takkan kubiarkan ciuman ini menjadi ciuman terakhir. (Dutch)

Notes:

Fuuh... selesai! XD

Comment, please

Luv,

sherry

Notes:

Baru chapter satu~ cliffhanger pula~ =w= #dibantaimassa

Comment, please

Luv,

sherry