Actions

Work Header

Marigold on Your Ring Finger

Chapter 2: Tekad Dunyarzad

Summary:

Dunyarzad ditemani Dehya untuk pertama kalinya menyaksikan Festival Sabzeruz secara langsung. Penyelenggaraan Festival Sabzeruz di tahun itu terlaksana seadanya dan membuat gadis tersebut bertekad bahwa ia akan memastikan atmosfer suka cita dan kemeriahan kembali memenuhi Grand Bazaar pada festival berikutnya .

Notes:

Latar waktu chapter ini (dan pertemuan pertama di chapter sebelumnya) merupakan 1 tahun sebelum Archon Quest chapter III dimulai.

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

27 Oktober merupakan hari saat seharusnya festival Sabzeruz dirayakan. Festival Sabzeruz merupakan festival tahunan untuk memperingati hari lahir sang Archon dendro, Lesser Lord Kusanali. Vihar teringat festival Sabzeruz di masa ia kecil masih memiliki sedikit kemeriahan. Namun tahun demi tahun penyelenggaraan festival semakin lama semakin tak mendapat perhatian dari otorita terbesar di negeri kebijakan ini membuat atmosfer suka cita semakin menipis di tiap tahunnya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, warga Grand Bazaar masih berusaha untuk mengajukan proposal permohonan dana penyelenggaraan festival Sabzeruz kepada Akademiya. Seperti tahun-tahun sebelumnya di bulan Agustus, Vihar menjadi utusan warga Grand Bazaar untuk menyampaikan proposal tersebut kepada Nizam. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya proposal tersebut kembali menjadi sekedar onggokan kertas yang memenuhi rak arsip Akademiya. Vihar sudah bosan mendengar jawaban Nizam yang ia tahu persis hanya alasan yang dibuat-buat untuk menutupi keengganan akademiya membiayai Festival Sebzeruz.

27 Oktober tahun itu, Festival Sabzeruz diselenggarakan dengan dana seadanya. Bahkan dari sekian warga Grand Bazaar, hanya segelintir orang yang antusias menghadapi Festival memperingati hari lahir archon mereka. Dengan dana minim, hari festival yang seharusnya meriah tak tampak istimewa. Perbedaan hari itu dengan hari-hari biasa hanyalah pembacaan syair dari beberapa seniman terdaftar. Tak ada dekorasi, tak ada tari-tarian, tak ada stan penjual makanan, tak ada maskot berkostum yang membagikan bunga dan manisan, tak ada anak-anak yang berlarian riang sambil mengunyah gula-gula. Hambar. Bahkan Vihar sebagai seksi repot, tak mampu mengusir rasa hambar yang memenuhi atmosfer Grand Bazaar di hari yang seharusnya penuh suka cita.

Tak lama pandangan Vihar menangkap sosok Dunyarzad, seketika Grand bazaar tampak seperti hamparan bunga warna-warni di matanya. Pujian yang dilontarkan gadis itu pada 27 September tempo hari menjadi katalis percakapan-percakapan mereka berikutnya. Pertemuan pertama yang canggung tak terasa berubah menjadi tegur sapa. Tegur sapa perlahan bermetamorfosis menjadi diskusi hangat tentang kebajikan dan welas asih sang Archon. Percakapan mereka hampir tidak pernah keluar dari topik mengenai Lesser Lord Kusanali, topik yang sangat Vihar kuasai karena setiap syair yang ia ciptakan tak luput dari bermalam-malam yang ia habiskan bersama buku terlarang akademiya. Namun terdapat hal yang tak ia kenali dan tak kuasa ia urai pada percakapan mereka, yakni hangat yang ia rasakan dalam hatinya setiap senyum terlukis pada paras lawan bicaranya.

“Dunyarzad...!” tanpa ragu, vihar memanggil gadis bergaun ungu itu

“Ahh... Vihar!” Dunyarzad melambaikan tangannya sambil tersenyum namun ekspresi gadis itu terlihat panik.

Seorang wanita berambut panjang yang tampak seperti mercenary memiringkan kepalanya dari balik sosok Dunyarzad. Wanita itu menengok ke arah Vihar lantas berkata kepada Dunyarzad sambil terkekeh “Tampaknya ini bukan pertama kali nona mengunjungi Grand Bazaar”

Vihar menyadari sesuatu, detik selanjutnya ia berulang kali meminta maaf kepada Dunyarzad dengan panik.

“Gak papa Vihar! Aku juga yang salah karena gak ngasih tahu kalo setiap kali kesini, itu aku menyelinap” jawab Dunyarzad sambil mengibaskan tangannya. Mercenary di sampingnya hanya tertawa melihat kedua sosok di hadapannya sama-sama terlihat panik.

“Tenang saja nona, sebenarnya saya sudah mengetahui kalau nona diam-diam menyelinap keluar. Setiap itu terjadi saya berniat menjemput nona jika nona tidak kembali dalam 30 menit. Namun nona selalu kembali sebelum 30 menit dengan senyum lebar yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Menjadi bodyguard nona adalah pekerjaan saya, maka menjaga senyum nona pun termasuk dalam lingkup pekerjaan saya.”

Dunyarzad menatap wanita di sampingnya dan berkata “Dehya, terima kasih ...”

“Vihar, kenalkan ini Dehya temanku. Dehya kenalkan ini Vihar, teman sesama pengikut Lesser Lord Kusanali”

“Tidak... saya hanya mercenary yang dipekerjakan tuan Homayani untuk menjaga nona Dunyarzad” Sahut Mercenary wanita bernama Dehya tersebut. Mendengar jawaban Dehya, Vihar dalam hati berkata “tebakanku benar”

“Menjadi temanku berarti menjaga senyumku, dan itu termasuk lingkup pekerjaanmu bukan?” jawab Dunyarzad, dengan nafas berat khas penderita Eleazar.

Dehya kembali tertawa lebar sambil menutup mulutnya dengan tangan kanan berbalut sarung metal, badannya bergetar membuat rambut dengan gaya meruncingnya melambai. Vihar merasa tak asing dengan tangan dan gaya rambut itu, ia menggali setiap halaman ingatannya dan bingo!

“Bukankah Anda Flame mane? Mantan anggota Corps of Thirty?” tebak Vihar dengan mengandalkan sedikit ingatannya.

“Eh kamu tahu?” mata Dehya melebar kemudian kembali tertawa

“I mean ... kemampuan dan kecerdasan Anda yang melampaui eremite rata-rata pasti membuat Anda dikenal seantero Sumeru” jawab Vihar “berbeda dengan seniman jalanan kelas rendahan seperti saya” lanjutnya dalam hati.

“Vihar! Vihar! “ Dunyarzad memecah lamunannya, Vihar tak sadar termenung cukup lama hingga kawan bicaranya memanggilnya berulang.

“Ahh maaf, iya gimana?”

“Kami pamit mau ngobrol dengan Nilou” Jawab Dunyarzad, selanjutnya ia berbisik “aku baru beberapa hari ini mengenal Nilou, kayaknya kita bertiga bisa berkumpul membahas Lesser Lord Kusanali bersama” Vihar mengacungkan jempol, kedua wanita tersebut pun melangkah pelan menjauhi titik pijaknya.

Matahari bergerak perlahan menenggelamkan diri sebagai pertanda tugasnya menyinari hari itu selesai. Vihar membuka kembali catatan rundown festival, pembacaan syair akan dimulai pada pukul 7 malam. Vihar -sang seksi repot- memberikan kode kepada Sheikh Zubayr bahwa puncak festival dimulai kurang dari 1 jam lagi. Sudut matanya memperhatikan Dunyarzad ditemani Dehya masih berdiskusi dengan Nilou. Tak lama kemudian kedua wanita itu menepi mempersilakan Nilou melangkah menuju panggung utama mempersiapkan acara puncak.

Acara puncak berjalan dengan sukses, tepuk tangan meriah memenuhi Grand bazaar baik dari orang yang memang berniat menonton maupun dari pedagang dan pembeli yang sekedar lewat. Festival Sabzeruz tahun itu resmi selesai dengan nuansa yang tak semeriah festival di masa yang lalu.
Selesai pertunjukkan, Vihar menghampiri Dunyarzad yang masih duduk di kursi Grand Bazaar. Dehya sedikit menepi mempersilakan pemuda di hadapannya berbicara pada nona yang ia jaga.

“Jadi ini Sabzeruz Festival” kata Dunyarzad, menarik nafas yang kian berat.

“Ya inilah Festival Sabzeruz, tapi jujur tahun ini tak se-meriah festival Sabzeruz di zaman aku masih kecil” jawab Vihar tanpa pikir panjang.

Tak lama kemudian Nilou bergabung dalam percakapan mereka. “Ya Festival Sabzeruz dulu jauh lebih meriah” katanya sambil menganggukkan kepala. Nilou dan Vihar secara bergantian menceritakan meriahnya festival di masa lalu. Adanya tari-tarian dari kelompok penari yang sengaja diundang dari negeri lain karena saat itu belum ada kelompok teater lokal seperti Zubayr teater, maskot -Knight of flowers- yang membagikan permen Yalda dan mahkota bunga, serta anak-anak yang berlarian dengan memakai mahkota bunga sambil menggenggam gula-gula.

“Di festival selanjutnya, kamu harus tampil Nilou” sambung Dunyarzad.

Nilou tersipu dan melanjutkan “ya semoga tahun depan kita bisa mewujudkan Festival yang lebih meriah dari festival-festival sebelumnya”

Dunyarzad menyimak cerita mereka dengan mata berbinar, dalam hati ia berdoa di masa mendatang ia bisa mewujudkan festival penuh suka cita. Ia membayangkan senyum dan tawa anak-anak yang berlarian, bunga warna-warni yang menghiasi Grand Bazaar dan tari-tarian yang menambah suasana meriah. Nafas Dunyarzad kian berat, Dehya yang menyadari hal itu menyampaikan salam pamit kepada Vihar dan Nilou.

“Kita harus segera pulang Nona” Ucap Dehya sesaat setelah Nilou dan Vihar beranjak. Dunyarzad mengangguk, ia mengatur nafas dan meraih tangan Dehya.

Notes:

Sejujurnya saya galau untuk tetap mencantumkan tag ship lain. Fokus fic ini memang pada pasangan Vihar dan Dunyarzad, namun sejak awal saya berencana akan menyelipkan kisah Dehya dan AlHaitham. Setelah 2 chapter berlalu saya merasa cerita tentang mereka rasanya akan semakin jauh, berhubung saya ingin memperdalam latar belakang hubungan ship utama dalam fic ini.

Notes:

Ini pertama kali saya menulis di platform ini, semoga teman-teman semua bisa menikmati fic narasi ini. Awalnya ingin saya lanjutkan dulu sampai selesai sebelum publish, namun berkaca dari WIP - WIP sebelumnya lebih baik saya publikasi lebih dulu sebagai motivasi saya melanjutkan chapter berikutnya.