Chapter Text
“Kamu yakin sudah baik-baik saja?” Zin dan Yamasho menatap Shogo yang sedang duduk diatas kasur rumah sakit dengan tatapan khawatir. Shogo sudah masuk rumah sakit selama seminggu setelah minggu lalu dia datang hujan-hujanan dengan koper besar ke Apartemen Yamasho.
“Tentu…” Wajah Shogo masih pucat tapi senyumnya lebih baik dari pada saat dia pertama kali di bawa ke rumah sakit.
.
.
.
Shogo bangun lebih awal setelah dia bertengkar dengan Riku semalam. Shogo memasukan semua barangnya kedalam koper dan membawa koper itu keluar dari Apartemennya dan Riku. Secara resmi dia menyatakan, dia berpisah dengan Riku semalam, itu sebabnya dia tidak ada kebutuhan kembali untuk tetap tinggal bersama kekasihnya di Apartemen tersebut.
Suasana diluar Apartemen hujan deras dan itu terlalu dini untuk mencari Apartemen baru. Dia menggulirkan ponselnya dan hanya memiliki 3 nomor disana. Tentu saja nomor Riku pengecualian untuk dia hubungi saat ini.
‘Yamasho’
Shogo menekan tombol telpon dan nada sambung terdengar dari ponselnya. “Terlalu dini untuk menelpon, baiklah aku akan kesana sekarang.” gumam Shogo sambil memperhatikan kendaraan yang dapat membantunya ke Apartemen Yamasho.
Sayang sekali, ini terlu pagi buta untuk mencari taksi. Ponselnya juga bukan yang biasa dia pakai, sehingga tidak memungkikan untuknya memesan taksi online sekarang.
Shogo menimbang pilihan untuk berjalan ke Apartemen Yamasho yang tidak terlalu jauh dari sini. Tapi dia sadar hujan masih terlalu lebat untuk dia lalui begitu saja.
Shogo menggenggam tarikan kopernya dan mengulum bibirnya dengan segala pertimbangan didalam otaknya.
Dengan mantap Shogo menarik kopernya dan membawanya melewati hujan untuk sampai di Apartemen Yamasho. Badannya basah kuyup namun ini tidak terlalu buruk untuk perasaannya yang sedang sedih.
Shogo menekan lift dan menemukan Apartemen Yamasho di lantai 3. Dia menekan intercom milik Yamasho dan menunggu respon pemilik menyaut dari dalam. Tubuh Shogo menggil dan bibirnya membiru, tidak dia sangka menerjang hujan yang lebat ternyata sedingin ini untuknya.
Jam masih menunjukkan pukul 3 dini hari dan Yamasho belum juga membuka pintu untuk Shogo. Shogo sudah berkali-kali terbangun dan terlelap di depan pintu Yamasho untuk dibukakan pintu.
Hampir 2 jam menanti dengan kondisi payah. Yamasho terkejut menatap Shogo yang terbaring lemah di depan pintu Apartemennya ketika dia berniat membuang sampah keluar.
“SHOGO! ASTAGA!” Yamasho menjerit dan membawa tubuh dingin Shogo masuk ke dalam Apartemennya.
Yamasho meletakkan Shogo di sofa dan memberikan 3 buah selimut untuk Shogo. Shogo menatap lemah Yamasho, “Tolong minta bantuan dengan Zin-san saja…aku tidak ingin membuat keributan.”
Setelah berbicara, Shogo pingsan dan membuat panik Yamasho dengan menelpon Zin untuk memintanya kemari.
.
.
.
.
“Keras kepalamu buruk sekali Shogo.” Ucap Zin sambil menatap Shogo yang kembali menyandar pada sanggahan di kasurnya.
Shogo terkekeh dan menatap Yamasho yang duduk di sisi kirinya. “Aku pikir kamu mati di depan Apartemenku.” Ucap Yamasho.
“Aku tidak selemah itu…” Shogo menghembuskan nafasnya dan menatap langit rumah sakit dalam diam.
“Jadi apa kata dokter? Kapan kamu akan pulang?” tanya Zin sambil memotong apel untuk dimakan.
“Besok.” Potong Yamasho sambil mengisi air dalam vas bunga pada nakas samping kasur Shogo.
Semua member THE RAMPAGE hanya mengetahui bahwa Shogo pulang ke rumah orangtuanya. Hanya Yamasho dan Zin yang tau bahwa sebenarnya pria itu sedang dirawat selama seminggu dirumah sakit. Baik Yamasho maupun Zin sebenarnya tidak setuju dengan ide Shogo yang tidak memperbolehkan yang lain tau mengenai sakitnya. Tapi mereka tau, pasti Shogo sedang menjaga sesuatu dan tentu itu berhubungan dengan Riku.
“Kamu tidak pulang ke rumah orangtuamu kan?” Hokuto mengcegah Shogo yang akan berjalan keluar dari ruang latihan.
Shogo membetulkan topinya dan menatap bingung kepada Hokuto. “Maksudmu?”
Hokuto menarik tangan kanan Shogo dan menunjuk sebuah lubang bekas jarum disana. “Kamu kira aku bodoh? Kenapa tidak bilang padaku?”
Shogo menepis tangan Hokuto dan berjalan kembali keluar Ruangan latihan, tidak sampai Riku menghalangi jalannya dan membuat Shogo menubruk dada Riku dan sedikit oleng kebelakang.
“Minggir.” Shogo menarik topinya lebih turun dan sedikit mendorong Riku untuk menjauh.
Riku memberi jalan dan terus menatap punggung Shogo yang menjauh darinya. “Kamu gila?!” Hokuto menarik kerah baju Riku dan menatapnya kesal.
“Kamu menyakitinya?! Apa yang ada di otakmu saat memilih berselingkuh hah?!” Amarah Hoku meningkat dalam bisikannya yang tepat di telinga Riku.
Riku hanya menunduk dan diam tanpa pembelaan. Dia tau akan dibenci jika mengambil tindakan seperti ini. Hokuto melepas cengkramannya dan berlalu mengejar Shogo.
Lamunan Riku terbang kepada hari terakhir nya di Saitama.
.
.
.
.
“Terimakasih telah kembali melihat sekolah Riku-chan.” Riku tersenyum malu menerima teh dingin yang disediakan Matsushita Sensei setelah semua kegiatan pembelajaran di sekolah selesai.
Riku tersenyum dan menatap teh dingin itu lamat. Dia rindu kembali ke Tokyo, tapi dia tidak tau harus melakukan apa.
“Ada yang sedang kamu pikirkan?” Matsushita sensei mendekati Riku dan memilih duduk dihadapan Riku.
“Sebenarnya aku kembali ke Saitama untuk menemukan jawaban dari masalahku.” Riku mengaduk teh dingin miliknya dan melihat pantulan wajahnya yang sendu.
“Percintaan?” celetukan Matsushita sensei sukses membuat Riku membulatkan matanya menatap senseinya.
“Jangan menatapku seperti itu, aku hanya menebak.” Matsushita sensei terkekeh pelan dengan reaksi Riku.
“A-no Sensei…” Riku menatap takut-takut kepada wajah Matsushita sensei.
“Hm..”
“Apa kamu ingin menikah kembali?” pertanyaan Riku sukses membuat Matsushita sensei tertawa.
“Kamu serius bertanya itu dengan wanita yang baru bercerai?” Riku menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Aku bisa menemanimu hingga akhir hidupku sensei…” Riku meletakkan gelas minumnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru merah dari kantungnya.
“Wow…kamu menyiapkan itu juga?” Matsushita sensei menatap kotak beludru merah dengan tatapan terkejut.
“Apa sensei mau menikah denganku?” Riku menatap malu-malu Matsushita sensei dengan bibir terkulum.
Dengan cepat sensei menutup kotak beludru itu kembali dan membantu Riku menyimpan kotak tersebut dalam saku bajunya kembali.
Riku menatap bingung wajah tersenyum Matsushita sensei dan kembali merogoh kotak beludru itu untuk kembali dikeluarkan.
“Tidak…Riku…” Matsushita sensei menahan tangan Riku dan membuat Riku berhenti bergerak.
“Kenapa? Apa aku kurang pantas melamarmu?” Riku membetulkan bajunya dan merapihkan rambutnya.
“Tidak.”
Riku menatap sendu dan melihat kotak beludru itu kembali.
“Apa sensei tidak suka hadiah lamarannya?”
“Tidak.”
Sensei tersenyum dan menyandarkan punggungnya menatap sinar matahari yang perlahan terbenam dari jendela.
“Kamu mencintai seseorang, Riku.” Sensei tersenyum lembut dan mengelus kepala Riku pelan.
Riku terdiam dan tidak bisa mengelak. Betul saja, pikiran dia sejak tadi penuh dengan Shogo yang sedang menunggunya dirumah dan tersenyum padanya saat tiba dirumah.
“Kamu baru saja menghianati cintanya…kamu tau itu jahat sekali.” Ucap Matsushita sensei sambil berdiri dan merapihkan barangnya untuk meninggalkan tempatnya.
“Sensei!” seru Riku yang berjalan cepat mengejar Matsushita sensei keluar ruangan. Matsushita sensei berbalik menatap Riku. “Kenapa?”
Riku menatap kotak beludru itu dan kembali menyodorkan kotak itu kepada Matsushita sensei. “Aku tidak memiliki pilihan selain menikahimu.”
Matsushita sensei mengulum senyuman dan mendekati Riku lebih dekat. “Apa yang membuatmu tampak putus asa seperti ini?”
Riku membungkuk dan memejamkan matanya, harga dirinya sudah jatuh. Tapi ini untuk kebaikan dirinya dan masa depannya.
Matsushita sensei mengelus rambut Riku halus. “Aku tau kamu pasti memilih tindakan seperti ini karena terdesak…”Riku perlahan menegakkan badannya kembali dan menatap Matsushita sensei yang tersenyum lembut kepadanya.
“Kemarilah…Aku berikan sebuah pelukan.” Matsushita sensei merentangkan tangannya dan menyambut Riku dengan sebuah pelukan singkat.
“Maafkan aku…sensei…” lirih Riku dalam dekapan.
.
.
.
.
Seorang siswa yang belum pulang melihat Matsushita sensei yang berpelukan dengan Riku. Dia memberikan informasi ini kepada temannya, sehingga hal ini membuat gempar media jepang. Banyak portal berita yang menanyakan kebenaran berita ini dan menunggu kebenaran berita dari LDH langsung.
Berita mengenai Riku dan Matsushita sensei sampai kepada Hiro-san. Kali ini Riku kembali di panggil menghadap Hiro-san.
“Aku tidak menduga kamu akan benar melakukannya.” Hiro-san menatap Riku dengan ekor matanya yang masih serius menatap jendela besar di ruangannya.
Tenggorokan Riku menjadi tercekat dan membuatnya sulit menelan salivanya sendiri.
“seperti biasa, pro dan kontra pengakuan hubungan yang tiba-tiba membuat gempar berita. Dan tentu kamu paham betul ya Riku.”
Hiro-san mendekati Riku dan memegang bahunya. “Bagaimana dengan Shogo? Ku dengar dia libur bekerja seminggu.”
“Dia berkunjung ke rumah orangtuanya.” Ucap Riku.
Hiro-san menatap ponselnya dan memperlihatkan beberapa percakapan disana. “Apa kamu berfikir begitu? Shogo tidak mungkin pergi tiba-tiba tanpa menghubungi manager.” Hiro-san mematikan ponselnya dan memasukkan-nya kedalam saku.
Hiro-san berdeham dan berjalan ketampat duduknya di depan ruangan. “Jadi apa berita itu benar? Kamu akan menikah?” Hiro menatap lekat Riku.
“Tidak…”
Hiro-san membulatkan matanya dan memundurkan punggungnya untuk bersandar di bangkunya. “Kenapa?”
Riku berdeham dan mengulum bibirnya untuk mempersiapkan kalimat kedepannya. “Aku masih mencintai Shogo…Tidak ada yang bisa aku jelaskan untuknya saat dia marah kepadaku, dan tidak ada yang bisa aku bantah ketika dia menangis menatapku mendengar berita itu..”
Riku menunduk dalam menatap ujung sepatunya. “Jujur aku tidak tau harus berbuat apa Hiro-san…”
Hiro-san berjalan mendekati Riku dan memeluknya dengan pelukan bangga.
“Aku suka kamu berterus terang. Inilah yang seharusnya pria lakukan…jangan melarikan diri, dan hadapi perasaanmu…”
Shogo menatap ponsel yang sudah dia perbaiki itu di tangannya. Berbagai pesan masuk memenuhi ruang obrolan miliknya. Matanya membulat ketika melihat banyaknya pesan yang ditinggalkan riku kepadanya. Bukankah Shogo juga mengirimkan pesan kepada Riku.
Shogo mengeluarkan ponsel lamanya dan mencocokan nomor riku pada kedua ponsel tersebut.
“Astaga…nomornya berbeda..” Shogo mengdongakkan kepala dan melihat sekitar mencari keberadaan Riku di ruang latihan.
Nihil, Riku tidak ada di ruangan itu.
Shogo kembali dengan ponselnya dan menggulirkan pesan terakhir dari Riku yang menarik perhatiannya. Pesan itu terkirim sore hari tepat sebelum Riku dan dirinya bertengkar di Apartemen.
Riku-san kekasihku
/Maafin aku yang mencoba menghianatimu. Aku tidak bisa berfikir jernih dan berfikir bahwa melindungimu dengan cara meninggalkanmu adalah yang terbaik. Aku pergi ke Saitama dan bertemu kembali dengan Matsushita sensei. Aku bertemunya namun jiwa ku melayang berfikir tentang kamu. Saat ini aku sudah berada di jalan pulang…sekali lagi maafkan aku…
Shogo mematikan ponselnya dan berlari keluar mencari Riku.
“Shogo-san mencari siapa?” Takuma berpapasan dengan Shogo yang sempat menabrak bahunya di depan pintu.
“Kamu tau Riku-san dimana?”
“Aku rasa sedang siaran weekend The Rampage?”
Shogo menepuk bahu Takuma dan berlari menuju siaran radio weekend The Rampage.
Shogo melihat dari balik kaca dan menatap Riku dan Zin yang sedang mengobrol didalam sana. Zin menangkap bayangan Shogo pada kaca dan memanggilnya memasuki ruangan, Riku yang semula tertawa, membalikkan badannya menatap Zin yang sedang memanggil seseorang dibaliknya.
“Shogo?” Batin Riku.
Shogo masuk dan mengambil tempat duduk disamping Riku. Selanjutnya dia bergabung dalam siaran dan menyapa para fans yang mendengarkan.
“Iwaya Shogo desu.” Ucap Shogo.
“Woa woa woaaa…inilah bintang tamu dadakan kita. Iwaya Shogo!” seru Zin sambil bertepuk tangan.
Riku ikut bertepuk tangan dan tersenyum tulus kepada Shogo yang menatapnya dengan senyuman tipis. “Kamu tidak sedang sibuk Shogo?” tanya Zin.
Shogo menggelengkan kepalanya pelan. “Aku sedang berlatih beberapa tarian tadi, dan memainkan ponsel ku yang baru saja diperbaiki.”
Shogo kembali menatap Riku yang tidak banyak bicara sejak dia disini. “Owww, hari ini siaran kami memiliki tema…kamu ingin ikut lanjut bergabung dalam obrolan kami?”
“Aku rasa itu menarik. Jadi apa tema-nya?” tanya Shogo.
“Memilih lagu cinta…Tema kita hari ini, itu…” ucap Riku memotong obrolan Zin dan Shogo.
Zin tersenyum menatap Riku yang mulai terlihat antusias dengan obrolan mereka. “Terakhir kami membacakan komentar untuk request pemutaran lagu putus cinta. Fans banyak memilih lagu ‘Over’ sebagai lagu utama untuk lagu putus cinta THE RAMPAGE.” Ucap Zin.
“Apa tidak ada yang mengusulkan ‘Invisible Love’ untuk lagu putus cinta?” tanya Shogo dalam siaran.
“Itu lagu dengan vote kedua terbanyak…itu lagu yang sangat menarik..” ucap Zin sambil menatap tab nya yg menampilkan data pendengar lagu mereka.
“Shogo ingin mengusulkan lagu cinta lainnya untuk kategori berikutnya?” Riku bertanya kepada Shogo dan menatap Shogo cukup lama.
“Apa aku bisa melakukannya?” tanya Shogo.
“Tentu saja.” Ucap Zin
Shogo menatap Riku dan Zin bergantian. “Bagaimana jika kategori lagu cinta yang menceritakan sang mantan yang masih dia sukai?” Tatapan mata Shogo berhenti lama pada Riku. Dia menatap Riku dan menelan ludahnya perlahan menunggu respon dari pria disampingnya.
Riku beralih menatap tabnya dan menggulir komentar fans tentang lagu yang berkaitan dengan rasa cinta untuk kembali bersama.
“Aku rasa bukankah lagu itu yang pasti banyak di pilih?” Zin melirik Riku yang pura-pura fokus menatap tabnya.
“Riku pasti mengetahui lagu ini lebih dari siapapun, mau kamu nyanyikan Riku?” Zin memberi kode dan membantu mic lebih mendekat kearah Riku.
“Apa?” Riku menatap pura-pura bingung kearah Zin.
“Nyanyikan lagumu.” Ucap Zin.
Shogo terkekeh pelan dengan sikap Zin yang agak ‘heboh’ pada siaran hari ini. “Maksudmu lagu apa?” tanya Riku pada Zin.
“My prayer.”
Riku menatap singkat Shogo yang sedang tersenyum manis kepadanya. Perlahan Riku mendekatkan mic untuk lebih dekat kearahnya.
Afurete kuru kono omoi wo
Perasaan ini terus meluap
Tomerarenai mune no kodou wo
Debaran ini tak terhentikan
Ima, me no mae ni kimi ga iru
Sekarang kau ada di hadapanku
Kono guuzen wa kitto unmei dakara
Kuyakin kebetulan itu adalah takdir
.
.
.
.
To you...
Kepadamu...
Teokure ni natte shimau mae ni
Sebelum semuanya menjadi terlambat
Tada kimi wo aishiteru to
Aku ingin berkata aku mencintaimu
Sore dake wo kimi ni tsutaetai
Aku hanya ingin mengungkapkan itu padamu
My prayer…
Harapanku…
Zin dan Shogo bertepuk tangan dengan nyanyian yang dilakukan Riku. Shogo mendekatkan mic dihadapannya dan terus tersenyum manis menatap Riku. “Suara yang menakjubkan Riku-san…Apa aku bisa menganggap lagu itu untukku Riku-san?”
Zin tersenyum dan menatap kedua temannya yang saat ini saling menatap.
Riku mengulum bibirnya dan mengangguk pelan. Dadanya bergemuruh dan diluapi emosi positif disana.
“Apa sudah saat nya semua mengetahui tentang kita?” tanya Shogo.
Riku menatap Zin dan diberikan anggukan oleh Zin. “Ekhem…Terimakasih fans, member, dan agensi yang membantu segala kemudahan untuk mendukung mimpi kami bersama. Aku ragu-mengucapkannya…namun kalian tau bahwa aku membawa mimpi baru bersama orang yang aku cintai dengan setulus hati.” Riku memberi jeda dan menatap Shogo yang menatapnya dengan tatapan menunggu.
“Aku tidak bisa membiarkan seseorang menyakiti dirinya, walau pada kenyataannya…aku sempat membuatnya menangis kemarin.”
Shogo meraih tangan Riku dan menggenggamnya diatas meja.
“Aku mencintai Iwaya Shogo dan berharap membawa cinta untuknya dalam waktu yang panjang….Aku minta maaf telah menyakiti hati dan cintanya dengan berbagai scandal yang aku yakin memenuhi isi pikirannya.”
Zin menutup mulutnya dan menyimak pengakuan Riku dalam diam. Tidak ada senyuman yang Shogo tampilkan, dia menatap Riku dengan serius.
“Aku minta maaf padamu, Shogo…” Riku menatap Shogo dengan sedikit air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
“Aku tidak menyangka kamu akan mengatakan semua itu dihadapanku seperti ini…Kamu tau, mungkin ini akan berat kedepannya…tapi aku tidak punya pilihan dan akan tetap memilih untuk bersamamu walau kita menghadapi waktu yang sulit…tolong tetap bersamaku…”
Zin memberikan tepuk tangan heboh sambil menatap keduanya yang berpelukan. “Selamat Shogoriku…semoga hubungan kalian selalu menemukan kebahagiaan.”
Zin mengatakan kepada Riku dan Shogo mengenai berkumpulnya semua member THE RAMPAGE diruang latihan setelah mengetahui siaran radio Weekend The Rampage.
Zin mengatakan berbagai telpon dan email memenuhi pesannya menanyakan kebenaran dari siaran radio tersebut. Zin tersadar dan mengatakan bahwa kedepannya masalah ini tidak hanya menjadi masalah mereka saja, tapi menjadi masalah grup dan agensi.
Shogo dan Riku berjalan di belakang Zin dengan tangan terpaut. Jujur saja keduanya takut, namun mereka memutuskan mengambil konsekuensi ini bersama. Setidaknya mereka memiliki satu sama lain untuk memperbaiki masalah.
Zin membuka pintu ruang latihan dan semua member THE RAMPAGE yang tersisa menatap Riku dan Shogo dalam diam. Wajah Likiya kusut dan dia hanya duduk sambil menunduk memperhatikan lantai.
Suasana ruangan latihan menjadi tegang dan sunyi. Tentu mereka terus menatap Riku dan Shogo dengan berbagai pandangan.
“Shogo…” Kenta memanggil Shogo dan mendekatinya dengan bibir terkulum. “Bisa kamu jelaskan apa yang terjadi?” tanya Kenta.
Riku membawa Shogo dibelakangnya untuk menutupi Shogo dari tatapan mengintimidasi seluruh member. “Tolong jangan memarahinya. Aku juga melakukan kesalahan.” Ucap Riku mantap menatap Kenta. Kenta cukup terkejut namun dia memiliki diam dan kembali duduk di bangkunya.
“Aku minta maaf semua…semua siaran itu murni aku yang memulai.” Riku membungkuk dan terus menggenggam tangan Shogo di punggungnya.
“Riku-san hentikan ini!” Shogo menarik Riku untuk kembali tegak namun Riku tidak kunjung merubah posisinya.
Shogo melihat kembali seluruh member dan kembali memaksa Riku untuk berdiri tegak. Dia tidak ingin hanya kekasihnya yang mengambil tanggung jawab ini.
“Riku-san!” Shogo berteriak keras dan membuat seuruh mata menatapnya berupaya menegakkan tubuh Riku.
“BERHENTI TERUS MENGAMBIL TANGGUNG JAWAB INI SENDIRI! AKU BERJANJI DISAMPINGMU!...KUMOHON JANGAN MEMBUATNYA SEPERTI INI…” Shogo terduduk di lantai dan mendongakkan kepalanya menatap Riku yang sejak tadi air keringatnya mengalir di dahinya.
Prok…prok..prok..prok
Tepuk tangan kencang membuat semua interupsi menatap langsung pada sumber suara. Likiya tersenyum lebar dan terus bertepuk tangan menghampiri Riku yang perlahan kembali menegakkan tubuhnya.
“Shogo bangunlah…” Likiya mengulurkan tangannya dan membuat Shogo kembali berdiri.
“Apa kami menakuti kalian?” Likiya terkekeh dan menatap Riku.
Riku dan Shogo saling menatap satu sama lain dengan tatapan bingung.
“Baiklah, pertanyanku sebagai leader…coba kamu jelaskan apa yang terjadi secara singkat.”
Shogo menahan tangan Riku dan menatap Riku untuk memberinya kesempatan berbicara. “Kami berpacaran sejak 6 bulan yang lalu…Akhir-akhir ini kami memiliki masalah dan sampai kepada Hiro-san, Riku memilih mengambil tanggung jawab itu sendiri. Intinya kami sempat bertengkar namun aku menemukan kebenaran bahwa semua itu hanya salah paham…”
“Riku-san apa yang kamu lakukan? Kamu tidak menganggap kami keluarga kah? Kamu bisa mendiskusikannya dulu bersama kami…” Saut Hokuto.
“Ini menjadi kondisi yang sulit bagi Riku… Hokuchan, aku mohon kamu mengerti..” sanggah Shogo menatap Hokuto selembut mungkin.
“Wawwwwwwww!” Likiya berseru dan terus bertepuk mendekati keduanya yang terkejut. Likiya mendekat dan memeluk Shogo dan Riku bersamaan.
“Apa yang kalian takutkan? Ini luar biasa! Aku suka kalian berterus terang seperti tadi di siaran.” Likiya tersenyum lebar dan merangkul keduanya semakin erat.
Melihat Shogo yang mulai sesak dengan pelukan Likiya, Rui datang dibalik Likiya dan menariknya Likiya untuk berganti posisi. “Selamat untuk kalian…” ucap Rui sambil memeluk keduanya erat.
Secara bersamaan semuanya menghampiri Rui yang tengah memeluk Shogo dan Riku. Sehingga semuanya berpelukan dengan bentuk saling menumpuk. Shogo dan riku menatap semuanya dengan mata yang berkaca-kaca…bukahkan ketakutan mereka selama ini ternyata hanya khayalan mereka saja?.
Satu persatu melepas pelukan dan menatap keduanya dengan tatapan senang. Riku semakin erat menggenggam tangan Shogo dan membuat Shogo tersenyum kearahnya.
“Terimakasih telah memberikan kami cinta.” Riku cukup tersentuh dengan apa yang dilakukan member lain. Bahkan Air mata yang menumpuk sebagian sudah turun dan membuat Riku menangis.
“Ayolah bung, aku tau ke khawatiran mu.”Likiya menepuk punggung Riku dan mengusapnya perlahan.
“Kami senang mendengar berita ini Shogo..” Yamasho memeluk kembali Shogo dan tersenyum senang.
“Aku tidak menyangka kalian akan seperti ini…Kami berdua larut dalam ketakutan, dan hal ini sangat buruk bagi kami berdua. Seandainya aku tau akan seperti ini…mungkin aku akan melakukannya lebih awal…” Ucap Shogo.
Kenta tertawa dan merangkul Shogo dengan cepat. “Maaf ya aku menakutimu…Bagaimana pun kalian, kalian tetap keluarga kami.” Ucap kenta sambil mengusap kasar rambut Shogo dengan gemas.
Semua tertawa dan bercengkrama satu sama lain. Ini cukup membuat Riku dan Shogo tertegun melihat reaksi mereka yang berubah dan membuat suasana kembali menjadi hangat seperti biasanya.
“Riku-san membuatku kecewa…kenapa tidak menceritakannya dari dulu?” Itsuki menghampiri Riku dan memberikannya sebotol air ke Riku.
“Arigatou…Tapi ini tidak mudah tau… Banyak yang kami pertimbangkan.” Ucap Riku sambil menatap minuman ditangannya.
“Aku kira kita cukup dekat..tapi tidak apa, Aku bersyukur kalian bisa melewatinya bersama…” ucap Itsuki yang tersenyum menatap Riku sambil merangkul pundaknya.
Kazuma menatap Hokuto yang masih menatap Riku dengan perasaan tidak suka. “Hey cukup…kamu tidak bisa seperti itu…Shogo sendiri kan sudah menjelaskannya tadi…” Kazuma menarik tangan Hokuto dan membuat Hokuto menatap Kazuma dengan pipi tergembung.
“Jangan salah paham…tentu saja aku senang Shogo dan Riku senang, tapi ada sesuatu yang perlu aku pastikan.” Hokuto berjalan menuju Riku dan Shogo yang sedang mengobrol dengan Itsuki dan Kenta.
“Jadi kalian kembali bersama?” Hokuto menatap Shogo dan Riku bergantian.
Riku menatap Shogo dan beralih merangkul bahu kekasihnya dengan erat. “Tentu saja.”
Semua berseru dan bersorak untuk pasangan itu. “Ayo tratir kami!!” Takahide berseru meminta traktiran dan diikuti dukungan dari Shohei dan Makoto. “Tunggu!!” Zin menghentikan sorakan dan mengeluarkan ponselnya.
“Biar aku yang traktir.” Sedetik kemudian Semuanya datang kepada zin dan memilih menu.
Hokuto tidak tertarik dengan member lain yang sedang sibuk memilih menu, dia lebih mendekati Shogo dan Riku.
“Shogo…kamu tau aku khawatir sekali.” Hokuto melembutkan tatapannya pada Riku dan Shogo.
“Terimakasih…Tolong restui kami ya…” Shogo tersenyum dan memegang lengan atas Hokuto.
“Tentu saja…Riku-san tolong jaga Sahabatku..” Hokuto menatap Riku dan membawa kedalam pelukannya.
“Terimakasih…Hokuchan…”
Hokuto melepaskan pelukannya kepada Riku dan kembali duduk dengan Kazuma yang menatapnya senang.
Shogo lelah berdiri dan memilih duduk di bangku dekat jendela sambil menatap rintik hujan yang tertahan di jendela.
“Aku minta maaf Shogo…” Riku mengambil duduk disamping Shogo dan membuat Shogo beralih menatap Riku.
“Aku maafkan…dan aku mau berterimakasih juga karena telah berterus terang dalam siaran tadi. Kamu tau pendapat fans diluar sana akan semakin beragam tentangmu?.” Ucap Shogo menatap khawatir kekasihnya.
“Yahh…Tentu saja…tapi aku yakin waktu yang akan menyembuhkannya…lagipula semua itu hanya masalah waktu.” Ucap Riku sambil merangkul bahu Shogo disampingnya.
Shogo tersenyum kearah Riku dan menyandarkan kepalanya ke dada Riku. “Meski semua akan sulit…mari kita hadapi bersama…”
“Terimakasih Shogo…”Ucap Riku dengan senyuman manis kepada Shogo.
