Chapter Text
"Ko Will, jadinya lo mau lanjut ke mana?"
Kusuma Wilson Sadewo yang tengah mengutak-atik soal integral di buku persiapan UN-nya segera menoleh pada arah suara barusan. Adiknya, Richard, ternyata adalah sumber suara tersebut. Will menghela napas pelan, ketika mengingat tentu saja adiknya yang akan bertanya, karena di rumah ini hanya tinggal ia dan Richard saja.
"Electrical Engineering. Kali. Entah," jawab Will sekenanya, bahkan agak-agak tak acuh. Sin dan cos di depannya masih perlu ia urus, dan ia tidak mau hitungannya buyar hanya karena menjawab pertanyaan adiknya.
Richard memutar bola mata mendengar jawaban kakaknya. Awal semester, kakaknya bilang mau ke Teknik Mesin. Tidak lama berselang, pindah haluan lagi cari-cari tahu soal Teknik Metalurgi. Sekarang, di penghujung semester, malah mau Teknik Elektro. Yang mau kuliah kakaknya, yang ikut lelah jadi adiknya….
Sambil melanjutkan mengeringkan rambut sehabis mandi tadi, Richard menghampiri kakaknya. Ia menarik kursi di samping kursi kakaknya, kemudian duduk di situ. Will masih fokus dengan hitungan panjangnya, tampak sama sekali tidak tertarik membahas soal masa depan saat ini. Terpaksa, sambil menunggu kakaknya selesai, Richard menyambar novel Agatha Christie di meja belajar Will. Ia sudah sampai di halaman kedua puluh dari novel yang baru kakaknya beli, ketika akhirnya sang kakak menamatkan satu paket buku pendalamannya.
"Kok masih di sini? Ga belajar, Rick?" tanya Will dengan sebelah alis terangkat naik sembari melepas kacamata belajarnya. Seingatnya, adiknya tryout di saat yang bersamaan dengan tryout-nya.
"Udah kelar, Ko. Tryout gue kan ga barengan sama mapel US. Cuma mapel UN aja."
Will mengangguk-angguk tanda mengerti. Rupanya ia memang lupa, kalau Richard sudah menyelesaikan empat mapel tryout-nya. Enak juga jadi anak SMP yang US tryout-nya hanya sedikit, tidak sebanyak di SMA, huh.
Sang siswa SMA menutup bukunya, kemudian merapikan alat tulisnya. Ia berdiri, dan mulai memasuk-masukkan buku ke rak di dekat meja belajarnya. Will memutuskan untuk mengakhiri belajarnya sampai di sini dulu, lagipula ia sudah mulai lapar.
"Udah makan belum, Rick?"
Richard menggeleng seraya menepuk-tepuk pelan perutnya. Will tertawa kecil melihat tingkah adiknya di hadapannya.
"Itu udah melendung, dah. Udah makan kali lo, Rick," kelakar Will sambil tetap menyelipkan tawa di antara kata-katanya. Muka Richard mendadak datar, disusul dengan novel Agatha Christie yang terlempar dari tangannya. Sayang, refleks Will yang adalah mantan kapten voli membuat lemparan Richard sia-sia. Muka Will masih tetap di atas rata-rata, tidak penyok kena timpuk novel yang baru dibelinya.
Richard memandang kakaknya bete, kesal atas ejekan tersirat yang ditujukan padanya. "Makasih atas hinaannya, oh Kakakku yang Kusayangi."
"Siapa suruh kagak mau olahraga. Dibilangin juga kalau mau kurus, ya, gerakin badan. Gue kan juga pernah kayak lo," ujar Will, kali ini dengan tenor yang lebih menyiratkan kepedulian dibanding sebelumnya.
Richard tetap diam saja, tak tertarik untuk membalas perkataan Will sama sekali. Will menghela napas, lalu mengambil dompet di pojok mejanya.
"Tadi pas gue ngerjain soal, lo nyanyi, kan? Nyanyi buat apa? Pensi?"
Richard menggeleng, setelah selesai mengeringkan rambutnya. "Bukan buat pensi, tapi buat uprak."
"Cepet juga udah belajar buat uprak, Rick."
Sang adik tersenyum tipis, kemudian menjawab kakaknya, "Maklum. Gue sadar kemampuan gue, Ko Will. Gue kan ga kayak lo yang serba bisa."
Will dengan cepat meledakkan tawa nyaring, dan mengacak-acak rambut adiknya yang baru saja dikeringkan. "Gue ga bisa musik, ah. Itu kan bagian lo," kata Will setelah tawanya cukup reda, menyisakan seberkas senyum saja di wajahnya.
Richard memandangi kakaknya, Kusuma Wilson Sadewo yang sedang berdiri di hadapannya. Tinggi, proporsional, mantan kapten voli, jago berbahasa Mandarin, otak jauh lebih encer darinya, dan hobi sekali menggambar. Satu-satunya hal yang Will tidak begitu kuasai hanyalah area seni musik dan suara.
Di mata teman-temannya di sekolah, Richard adalah seseorang yang hanya bisa cuek, atau marah di saat ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Jauh di dalam dirinya, Richard tahu, ia lebih buruk dari apa yang teman-temannya lihat. Richard menganggap kakaknya sebagai teladannya, sekaligus selalu merasakan iri yang teramat ketika melihat Will selalu berhasil di bidang apapun.
Tentu saja hal ini hanya dan hanya Richard saja yang mengetahuinya.
"… Ngapain ngambil dompet?" Alih-alih mengomentari kata-kata kakaknya tadi, Richard mengalihkan topik pembicaraan. Will tampak tidak curiga sama sekali dengan perpindahan topik yang tiba-tiba. Ia malah nyengir sedikit ke arah adiknya.
"Gue traktir KFC buat makan malem. Tapi janji, ya, Sabtu pagi jogging bareng gue keliling komplek."
Richard baru saja mau protes dengan syarat yang diberikan kakaknya, tapi apa daya, ia tidak bisa menolak makan gratis. Uang sakunya mulai menipis karena memfotokopi rangkuman Sejarah yang tak habis-habisnya. Ia terpaksa berpasrah, dan mengangguk setuju untuk berjanji pada kakaknya.
"Oh, iya, sekalian bawa aja buku lo, kalo-kalo mau belajar. Atau bawa papan catur sekalian," kata Will, diakhiri dengan kekehan singkat, sebelum melanjutkan lagi, "kita bakal sampe malam."
Si remaja SMP berkacamata menampilkan ekspresi bingung sejenak di wajahnya.
"Kenapa, Ko Will?"
Wilson melangkah duluan, memunggungi Richard dan beberapa langkah di depan Richard, sebelum akhirnya menjawab,
"Karena hari ini mereka bakal pulang cepet. Mending gambar Gundam daripada ngeliatin gelas pecah."
.
Pada akhirnya, selama apapun Richard dan Will bertahan di KFC, cleaning service tempat makan itu tetap menang. Oleh karena restoran cepat saji itu mau tutup, maka dua bersaudara itu harus kembali ke rumah. Setidaknya mereka bisa mengulur waktu selama yang mereka bisa.
"Inget, ya, Sabtu kita jogging."
Richard memutar bola mata mendengar nada setengah memaksa kakaknya. Ia kadang tidak mengerti, kenapa kakaknya tetap bersikeras dalam proyeknya, "Upaya Menguruskan Teguh Richard Sadewo". Richard sendiri merasa badannya akan tetap segini-segini saja, apapun metode diet dan olahraga yang ia lakukan.
"Iya, Ko, iya."
"Lo jangan anggap usaha-usaha lo itu bakal sia-sia," ucap Will, seolah-olah ia bisa membaca pikiran Richard. "Lupa, kalau gue dulu lebih parah dari lo obesnya?"
Richard ingat, tapi mencoba lupa, lagipula itu sudah lewat hampir tiga tahun yang lalu.
Mungkin juga, alasan Richard tidak mau mencoba, adalah karena ia tidak mau menjadi semakin terlihat mengikuti kakaknya, semakin terlihat kecemburuannya pada kakaknya.
"Coba. Jangan nyerah duluan. Jangan pasif. Jangan kayak gue."
Justru gue pengen banget kayak lo, Wilson, pikir Richard, tapi mungkin yang ada di pikirannya beda dengan yang ada di pikiran kakaknya sekarang. Mungkin Wilson sedang mereferensikan dirinya dulu, yang melepas gadis yang sangat ia sukai ke tangan sahabatnya sendiri, karena pasif dan takut untuk mencoba.
Atau mungkin Wilson sedang mereferensikan suatu masa yang telah lampau, ketika kakaknya itu melihat ada yang tidak beres dengan kondisi rumah, dan membiarkan masalah berlarut-larut tambah parah, serta tidak mencoba menengahi ketika ia masih punya kesempatan mencegah.
Richard menatap lurus ke jalan, tidak dalam kondisi memberikan balasan atas kalinat Will.
"—Mau kuliah di mana? Gue tanya tempat, bukan jurusan."
Kali ini, Will yang mengambil jeda lama, diam tanpa menunjukkan tanda akan menjawab selama semenit lebih. Richard hampir saja menyerah, melepas saja pertanyaannya ke udara kosong tanpa mengharapkan jawaban, ketika tiba-tiba ada suara yang keluar dari sisi kirinya—
"Tiongkok. Bukan di sini," ucap Will tegas, tanpa keraguan sedikit pun.
Richard tahu alasan kakaknya, tahu betul kakaknya adalah yang paling terpengaruh dengan kondisi kacau di rumah mereka sekarang. Mungkin karena kakaknya merasa sudah lebih dewasa, atau mungkin karena Richard sendiri yang masih belum terlalu mengerti ketika semua ini dimulai.
Suasana sunyi dipecah oleh kalimat tambahan yang datang dari mulut Wilson, "Dan gue berharap banget lo bisa ikut dengan gue."
Richard sejenak teringat pada impiannya, yang tidak akan bisa terwujud bila ia mengikuti kakaknya ke Negeri Tirai Bambu. Kendati demikian, Richard memilih untuk berbohong, dan mengatakan:
"… Ya."
.
(bersambung)
