Actions

Work Header

it's not a secret we try to hide

Chapter 2: 2. Siapa pacar Kuroo?

Summary:

“Pacar Bang Kuroo siapa, sih?”

“Bukannya Bang Kuroo paling deket sama bang Yaku, bang Kai, sama Kenma doang?” Fukunaga berspekulasi. “Bang Yaku sama bang Kai, nggak mungkin, sih.”

“HAH BERARTI SAMA LO, KEN?” Yamamoto kini beralih mengganggu Kenma. “Nggak heran kalau iya sih, soalnya lo sama bang Kuroo udah temenan dari kecil, sih.”

Yang kegiatan bermain gamenya terusik karena obrolan tidak bermutu ini menghela nafas kesal. “Berisik, Kuroo kan emang punya.”

Notes:

All characters belongs to Furudate Haruichi

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

Lobi penginapan terasa hidup sejak anak-anak dari tim voli SMA Nekoma datang. Meski baru menginap dia malam, para remaja itu agaknya sudah menganggap penginapan milik kerabat dari Pak Nekomata— sang coach — ini kayaknya markas kedua mereka.

Pertandingan kedua kualifikasi nasional berlangsung cukup lancar, walau Kenma sempat hampir tumbang lantaran kelelahan tadi. Semua anggota tim tak sabar menanti hari esok. Kalau kata Pak Nekomata, pertandingan besok adalah : “Hari yang telah dijanjikan.” Terdengar seperti istilah rohani tentang akhir dunia, tapi yah, begitulah adanya. Untuk menghilangkan kegugupan sekaligus debar semangat, semua orang menyibukkan diri dengan melakukan hal-hal yang kiranya dapat membuat mereka relaks dan rileks.

Tak terkecuali sang kapten, Kuroo Tetsurou, yang memilih untuk duduk di sofa lobi dan mengobrol bersama anak-anak kelas tiga lainnya.

“Bang Kuroo,” Lev Haiba tiba-tiba datang dari arah kamar sambil menyerahkan sebuah ponsel. “Ada telepon masuk, udah bunyi beberapa kali dari tadi.”

Kuroo yang sedang tertawa bersama Yaku dan Kai, langsung berubah serius. Dia ingat kalau ponselnya tengah di-charge di kamar tadi. Kala melihat nama yang terpampang di layar ponsel, dia refleks terkekeh kecil.

“Makasih Lev.” Kata Kuroo seraya bangkit berdiri. Tak lupa ia berpamitan pada dua temannya untuk menjawab telepon. “Jawab telepon dulu ya bro.”

“Oh, dari dia ya?” Kai menyeringai iseng.

“Dih pacaran mulu lo, males bener.” Yaku menambahkan sambil tertawa.

“Berisik. Sirik aja lo pada.” Kuroo hanya melambaikan tangan sambil lalu, sama sekali tidak menyangkal ledekan Yaku.

Sementara itu, kepergian Kuroo dari lobi meninggalkan pertanyaan besar bagi si anak kelas satu bertubuh jangkung itu.

“EHH? BANG KUROO PUNYA PACAR?”

***

Gagal mengorek informasi dari Yaku dan Kai, Lev melangkahkan kaki kembali ke kamarnya dengan raut kesal. Shibayama yang peka kalau pasti ada apa-apa dengan temannya itu langsung bertanya khawatir.

“Kenapa Lev?”

“Bang Yaku sama Bang Kai pelit ih, males banget.”

“Huh? Pelit kenapa?”

“Lo ngeselin kali, makanya mereka nggak mau ngasih?” Yamamoto yang tadinya sedang asyik membaca manga menyeletuk.

“Bang Tora nggak usah ikut-ikutan deh.”

“Huhh?” Manga diletakkan, lengan baju disingkap hingga ke siku. Seraya memasang raut apa-lo-berani-sama-gue, Yamamoto sudah siap melompat dan bergulat dengan adik kelas jangkungnya itu. Namun, sebelum melakukan itu, sebuah kalimat yang Lev ucapkan membuat kamar mendadak hening.

“Pacar Bang Kuroo siapa, sih?”

Hening. Bahkan Inuoka yang sudah menarik futon hingga kepala, langsung bangkit dan menoleh.

Satu detik berlalu.

“BANG KUROO PUNYA PACAR??!”

Yamamoto langsung menggoncang bahu Lev, mencari informasi lebih lanjut. “Jangan ngaco lo, Lev! Mana bisa bang Kuroo punya pacar?”

“Bukannya Bang Kuroo paling deket sama bang Yaku, bang Kai, sama Kenma doang?” Fukunaga ikut berspekulasi. “Bang Yaku sama bang Kai, nggak mungkin, sih. Apalagi sama bang Yaku berantem mulu.”

“HAH BERARTI SAMA LO, KEN?” Yamamoto kini beralih mengganggu Kenma. “Nggak heran kalau iya sih, soalnya lo sama bang Kuroo udah temenan dari kecil, sih.”

Yang kegiatan bermain gamenya terusik karena obrolan tidak bermutu ini menghela nafas kesal. “Berisik, Kuroo kan emang punya.”

“Sama lo??” Yamamoto masih ngotot, dan dibalas Kenma sambil melotot. “Ngawur.”

“Emang kak Kenma ada angkat telepon sebelum ini?” tanya Lev.

“Enggak tuh, kenapa emang?”

“Tadi bang Kuroo ditelepon pacarnya — kata bang Yaku. Terus dia pergi sambil ketawa-ketawa. Iris Lev menatap Kenma yang masih menampilkan raut kesal di wajahnya. “Bukan kak Kenma, dong? Yah.”

“Kok ‘yah’? Maksud lo apa?” Sebal, Kenma meletakkan PSP secara kasar ke atas tatami. “Siapa juga yang mau pacaran sama modelan Kuroo??”

“Ya pacar bang Kuroo, sih.” Inuoka terkekeh. “Eh tapi lo tahu bang Kuroo punya pacar sejak kapan, Ken?”

“Gue baru tahu kemarin, sih, belum lama.” Kenma menghela napas, “Tapi kata Kuroo udah mau jalan setahun.”

“KOK KITA NGGAK ADA YANG TAHU?”

“Gue, sama anak-anak kelas tiga tahu tuh.”

“SELAIN LO PADA, IH.”

“Nggak ada yang tanya, sih.” Kenma mengangkat bahu, “Lagian apa untungnya buat Kuroo buat bilang-bilang kalau dia punya pacar? Palingan nanti bikin lo iri doang, Tora.”

“Lo — ”

Tora segera ditahan oleh Fukunaga agar tidak terlanjur bertengkar dengan sang setter. Selain itu, tidak bisa bohong kalau sebenarnya dia juga ikut penasaran. Habis, seorang Kuroo Tesurou, yang kepalanya hanya berisi voli dan belajar itu pandai sekali menyembunyikan fakta sampai rekan timnya tidak tahu. “Lo kenal pacarnya bang Kuroo nggak, Ken?”

Yang ditanya menggeleng, “Enggak kenal, tapi tahu aja.”

“Anak voli?”

“Iyalah.”

“EH, JANGAN-JANGAN BANG BOKUTO?” Lev entah dari mana mendapat gagasan itu.

“KAPTEN FUKURODANI ITU? IYA, AKRAB SIH MEREKA.” Yamamoto balas berseru, “Dah deket dari kelas satu juga, ‘kan?”

“Bang Bokuto sama Bang Kuroo selalu latihan bareng waktu camp musim panas waktu di Shizen.” Lev memuji diri sendiri karena mengingat fakta itu.

“Tapi gue kira mereka sahabatan aja, nggak kayak orang pacaran.” Fukunaga menimpali, yang diperkuat oleh anggukan Kenma, “Bukan bang Bokuto. Mereka mah kayak saudara beda orangtua aja.”

“Yakali si Daisho? Tapi dia udah punya pacar cewek.” Yamamoto mulai mencari-cari orang yang terlihat dekat dengan sang kapten. “Lev, waktu summercamp bang Kuroo latihan sama siapa aja dah?”

Lev menggaruk dagunya yang tidak gatal. “Sama gue, bang Bokuto sama setternya, Hinata, sama Tsukki.”

“Tsukki?”

Middle blocker Karasuno yang pakai kacamata itu.”

“Oh, yang ngeselin itu ya.”

“Bang Kuroo nggak akrab sama setter Fukurodani deh. ”

“Akaashi,” koreksi Kenma. “Ya bukan dia juga sih. Bang Bokuto galak juga.”

“Hinata yang kecil itu ‘kan? Nggak mungkin dia juga. Apa si megane? gue lihat bang Kuroo kadang godain si megane itu.”

Mendengar ucapan Yamamoto, Kenma jadi ikut kepikiran. Eh, apa iya si kacamata Karasuno itu, ya? Kuroo memang beberapa kali membicarakan dia. Sempat juga bilang kalau Tsukki menarik, makanya Kuroo menganggu anak itu terus. Tapi bukan ah —

Di saat yang lain masih meributkan siapa-pacar-Kuroo dan Kenma yang malah tenggelam ke dalam pikirannya sendiri, Inuoka pada akhirnya menanyakan hal yang seharusnya sejak tadi ditanyakan.

“Memangnya gimana cara bang Kenma tahu bang Kuroo punya pacar? Bang Kuroo yang ngasih tahu sendiri? atau bang Ken mergokin?”

Oh, iya. Kenma tersadar dari pikirannya. Waktu itu kan —

***

Karasuno pergi ke nasional! Sampai jumpa di Tokyo!

Kala itu, Kenma tengah duduk di shinkansen dalam perjalanan pulang bersama Kuroo, seperti biasa. Karena mereka memang bertetangga sejak kecil, sudah ibarat jadwal rutin mereka akan berangkat dan pulang sekolah bersama.

Mendapat kabar menyenangkan dari Hinata, tampaknya Kuroo menyadari perubahan emosi yang terjadi pada Kenma.

“Kenapa? Ada game baru?” Kuroko melirik Kenma yang masih menunduk menatap layar ponsel.

“Bukan.” Kenma menoleh, “Karasuno maju ke nasional.”

“Lawan mereka, Shiratorizawa?”

Kenma kira, reaksi Kuroo akan seperti perkiraannya. Dan setelah ia pikir, Kuroo memang tidak memiliki hubungan personal sedekat itu dengan anak-anak Karasuno, seperti halnya Kenma dan Hinata. Kuroo memang berteman baik dengan Daichi — kapten Karasuno — dan sering mengisengi Tsukishima. Ditambah, pertarungan di tempat sampah pada akhirnya hanyalah ambisi lama dari para pelatih mereka, meski Kenma cukup yakin kedua tim memang benar-benar ingin mewujudkan keinginan itu. Namun terlepas dari hal itu—

Huh, tapi apa-apaan ekspresi itu?

***

“PACAR BANG KUROO ANAK SHIRATORIZAWA?!” Lev dan Yamamoto berseru bersamaan, membuat Kenma sampai bergeser menjauh lantaran telinganya sakit.

“Shiratorizawa….” Shibayama bergumam, “Ushijima Wakatoshi?”

“U-ushiwaka?” Sekujur tubuh Yamamoto tiba-tiba merinding membayangkan kaptennya dan kapten Shiratorizawa berpacaran.

“Bukan,” Kenma menepuk dahi. Kuroo mana tahan berpacaran dengan orang kaku modelan Ushijima. “Tapi setternya.”

Inuoka menimpali, “Kalau nggak salah, setternya anak kelas dua. Lucu sih, anaknya, yang poni miring itu.” Shiratorizawa memang sering masuk majalah olahraga remaja, wajar kalau mereka cukup dikenal.

“Shirabu?” Shibayama kembali menyebutkan sebuah nama. Ingatan anak itu memang bisa diandalkan, “Shirabu Kenjiro, yang sudah jadi setter tim utama sejak kelas satu?”

“Shirabu … shirabu ….” Kenma mencoba mengingat nama yang pernah Kuroo sebutkan sekali. Sepertinya bukan itu. Sadar temannya tengah kebingungan, Fukunaga langsung mencari foto orang yang mereka maksud di internet dan menunjukkannya kepada Kenma.

“Ini orangnya?”

Kenma menyipitkan mata, lalu menggeleng. “Bukan.” Dia pernah tidak sengaja mengintip isi galeri di ponsel Kuroo, dan Kenma sangat yakin fotonya berbeda dengan yang Fukunaga tunjukkan dari internet. “Rambutnya abu-abu, ash-blonde gitu.”

“Tapi setter Shiratorizawa si Shirabu ini….”

Duh, Kenma jadi mendadak pening. Dia sangat yakin Kuroo berkata kalau orang itu adalah seorang setter. Bahkan sang kapten Nekoma itu sempat berkata, “Kenapa gue selalu berakhir tertarik ke para setter?”

“Nggak tahu, pusing. Tanya Kuroo sendiri aja sana.” Kenma mengambil kembali PSP miliknya, malas meneruskan membicarakan hal yang nantinya akan menambah beban pikiran. Sedetik kemudian, dia kembali menghela napas. Karena boleh dikata, Kenma sebenarnya juga penasaran. Pasalnya Kuroo tidak pernah benar-benar memberitahunya perihal ini. “Lev, tanya bang Yaku aja sana.”

“Tadi udah tanya,” Lev cemberut, “Tapi malah ditendang bang Yaku, suruh tanya ke bang Kuroo sendiri. Nggak berani.”

“Tora — ”

“Skip, mana berani gue sama bang Kuroo.”

Sekali lagi, Kenma menghela napas. Gawat. Kalau sudah penasaran begini, bisa-bisa dia jadi susah tidur. Padahal, besok adalah pertandingan penting mereka melwan Karasuno. Sambil terus merutuk dan mengeluarkan sumpah serapah di dalam hati, Kenma meletakkan PSPnya dan bangkit berdiri.

“Mau ke mana, Ken?” tanya Fukunaga, agak heran.

“Mau ke Kuroo,” Jawab Kenma tanpa menyembunyikan intonasi jengkelnya, “Mau tanya pacar dia siapa.”

***

“Lagi apa, Tetsurou?”

“Tadi sih, ngobrol-ngobrol sama Yaku sama Kai. Udah selesai latihan malam dan mandi makan segala macam juga, emang lagi nyantai aja. Kamu?” Kuroo memilih untuk pergi ke beranda lantai dua. Selain sepi, dia juga memastikan agar pembicaraan mereka tak akan terganggu oleh anak-anak lain yang bisa jadi sangat berisik kalau sedang bercanda.

“Lagi kangen.”

Kuroo terdiam. Senyum yang tak luntur sejak menerima panggilan telepon itu mendadak sirna. Dia mengusap wajah yang mendadak terasa panas secara abnormal.

Eita, jangan mancing.”

“Nggak mancing, ini bener kok.” Tawa ringan terdengar dari ponsel. “Tadi aku lihat pertandingan kamu. Selamat ya, keren banget emang Nekoma jago receive semua. Tapi tadi kasihan settermu sampai sempoyongan begitu. Kenma nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa dia mah juga langsung sembuh kalau main game.” Kuroo teringat betapa ketatnya pertandingan tadi siang. “Emang anak-anak Shiratorizawa nggak latihan? Bisa nonton Haru-ko begitu.”

“Tadi sih, Shirabu sama yang lain nobar Haru-ko di ruang ekskul.”

“Loh kamu enggak ikut?”

“Mm-mm,” Kuroo dapat membayangkan pacarnya sedang menggelengkan kepala, “Mereka nonton Karasuno, sedangkan aku lihatnya pertandingan kamu. Jadi ya … aku nonton sendirian.”

Ah iya, Kuroo jadi teringat kalau Shiratorizawa dan Karasuno berasal dari perfektur yang sama. Kalau boleh jujur, sebenarnya dia juga mixed-feeling soal ini. Di satu sisi, Kuroo sungguh ingin berhadapan dengan kekasihnya sendiri di laga sungguhan. Di sisi lain, hubungan persahabatan timnya dengan anak-anak Karasuno membuatnya juga tidak sabar untuk bertemu di pertandingan asli sekaligus mewujudkan ‘pertarungan di tempat sampah’ yang selalu mereka mimpikan.

Namun, takdir memang tidak mempertemukan mereka. Tahun lalu, Shiratorizawa maju hingga semifinal Haru-ko sedangkan Nekoma bahkan tidak lolos babak kualifikasi. Tahun ini — tahun terakhir mereka — malah sebaliknya.

“Berarti besok nonton sendirian lagi dong? Besok timku lawan Karasuno soalnya.” Kuroo menyeringai iseng. “Nggak lucu kan, ketika yang lain kesel karena Nekoma dapat poin, kamu malah teriak seneng sendiri. Nanti kesannya kayak pengkhianat prefektur Miyagi. Duh, kasihan banget ya pacarku.”

“Apasih, Tetsurou.”

Seringai Kuroo makin lebar. Sudah hampir satu tahun mereka berkencan, Semi Eita — kekasih Kuroo itu — tetap saja bereaksi lucu tiap Kuroo goda.

Mendengarnya, Kuroo malah terkekeh kencang. “Lucu banget kamu, pacar siapa sih? Pacar Kuroo anak Nekoma itu ya? Duh, pingin aku rebut aja.”

Diem atau kupukul?” Nah nah, kan, Semi memang suka salah tingkah begini. Badan doang besar, digodain sedikit langsung malu.

“Takut ah, kamu kalau service serem. Apalagi kalau mukul orang.”

Males sama Tetsurou. Aku tutup ajadeh.”

“EIT — JANGAN, JANGAN DITUTUP, MAAAFF!” Kuroo langsung terburu-buru meminta maaf. Masih sambil menyemburkan tawa, dia kembali menghidupkan percakapan. “Eita kenapa? Lagi capek ya?”

“Iya, sedikit.” Ada jeda sejenak. “Tadi sebenarnya udah mau tidur, tapi tiba-tiba kangen, jadi aku telepon.”

Bohong kalau hati Kuroo tidak menghangat. Habis, bagaimana bilangnya ya? Meski sama-sama lelaki, tutur kata Semi jauh lebih baik darinya. Bisa jadi salah satu alasannya adalah mereka berasal dari perfektur yang kulturnya jauh berbeda. Tokyo yang merupakan distrik metropolitan mana bisa dibandingkan dengan Miyagi yang jauh lebih damai dan asri. Alasan lainnya? Mungkin karena perangai Semi saja yang sudah sangat baik dari sananya.

Kuroo kembali tersenyum. Dia pernah beberapa kali berpacaran, dan semua mantan kekasihnya adalah tipikal orang yang enggan mengatakan keinginan mereka untuk kemudian menunggu Kuroo memahami tiap tindakan yang mereka perbuat. Pemuda itu pernah berpikir apakah dia ditakdirkan untuk terus berjodoh bersama orang-orang tsundere— termasuk Kenma — kalau benar terjadi, tidak bisa dibayangkan betapa hidupnya akaan menjadi sangat melelahkan. Oh ayolah, Kuroo juga manusia.

Di saat Kuroo mulai berpikir untuk berhenti menarik perhatian teman masa kecilnya, di sanalah Semi datang dan memutus rantai kutukan. Lewat beberapa kali pertemuan, tahu-tahu mereka sudah menjadi sepasang kekasih saja.

“Mau video call?”

“Eh, jangan.”

“Kenapa? Tadi katanya kangen?”

“Ada papaku di ruang sebelah. Takut tiba-tiba masuk.”

Kuroo mengangguk-angguk paham. Setahu pemuda itu, kedua orangtua Semi bercerai dua tahun lalu, ketika mereka duduk di bangku kelas satu. Hak asuh Semi jatuh ke tangan sang ibu yang bekerja sebagai dokter dan menetap di Miyagi. Sedangkan ayahnya — kalau Kuroo tidak salah ingat — adalah seorang jaksa yang tinggal di ibukota.

Eh?

“Kamu lagi sama papamu?”

“Iya.”

“Di Tokyo, dong? Atau papamu yang ke Miyagi?”

“Iya, di Tokyo.”

“Sejak kapan?”

“Baru sampai tadi sore. Masih agak pusing karena sepanjang perjalanan nonton Haru-ko lewat ponsel. Hehe, kaget ya?”

“Kaget, lah.” Genggaman Kuroo pada ponselnya mengerat. “Ayo ketemuan besok.”

.

.

[END]

Notes:

terima kasih yang sudah membaca! kritik dan saran sangat berarti bagiku ^^

Notes:

aku tahu ini crackship, tapi, aku bener-bener cinta kuroosemi hwhwhsjs.