Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-11-04
Completed:
2023-11-04
Words:
1,965
Chapters:
2/2
Kudos:
9
Hits:
250

One of these Nights

Chapter 2: Jaehyun's side

Summary:

Jaehyun yang memilih pindah ke rumah baru setelah satu tahun lamanya tidak bertemu dengan Doyoung. Siapa sangka jika tetangga barunya adalah sosok yang dicarinya selama ini?

Notes:

[Song fic, jaedo au]
From 'One of these nights' by Red Velvet

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

Aku tak bisa melupakannya dengan mudah.

Satu bulan lalu, aku memilih meninggalkan rumah itu, rumah yang pernah menjadi saksi kita saling berbagi perasaan satu sama lain.

Sedangkan hari ini aku akhirnya bisa pindah ke tempat baru. Setelah satu bulan lamanya menumpang di tempat teman, sambil mencari yang sesuai keinginan, akhirnya aku memilih salah satu rumah atas saran dari teman kerjaku.

Aku berharap, kenangan yang kita lalui dapat terlupakan jika aku pergi dari rumah yang pernah kita tinggali bersama itu.

Doyoung,

Perasaanku padamu tidak bisa dihapus begitu saja. Asal kau tahu, itu sungguh sulit. Jika aku harus memulai lembaran baru dengan berusaha membuang segala bayang tentangmu, tentu saja tidak bisa. Karena saat ini, rasa rindu itu telah kembali menyelubungi hati ini tanpa permisi.

“I miss you so bad, Doyoung.”

Bahkan jika waktu telah berlalu, aku masih di tempat yang sama.

Satu tahun, bukan waktu yang singkat. Selama itu pula aku melalui hari tanpamu. Jika dulunya bisa setiap hari melihat wajahmu yang penuh senyum, penuh canda tawa, saling menjahili satu sama lain, kini tidak lagi. Aku pun tidak tahu kemana kau pergi setelah malam itu terjadi. Bahkan nomor ponselmu tidak dapat terhubung. Malam itu aku membuat hubungan kita hancur karena kesalahanku, Doyoung.

Seandainya kau mau menunggu sedikit saja, aku pasti akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Hari saat kau pergi, kembali muncul dalam ingatan ini.

Jika saja…

Semua itu hanya berakhir menjadi kata “jika saja…”

Jika saja aku bisa menjelaskan itu, apa kau masih berada di sini bersamaku saat ini?

Aku masih di sini, Doyoung. Di tempat yang sama, dengan perasaan yang masih sama.

Kau dan aku, masih berada di tempat yang sama bukan?

Tidak masalah jika aku hanya melihatmu dalam mimpiku.

Aku ingin sekali bertemu denganmu. Walau itu hanya mimpi, aku tidak masalah.

Bahkan aku sudah berdoa kepada Tuhan agar kau bisa hadir dalam mimpiku, tapi ternyata hanya kehampaan yang aku dapatkan.

Sekali lagi,

“I miss you so bad, Doyoung.”

Suatu malam, satu dalam setahun .

Karena aku sudah terbiasa untuk menunggu.

Pindah rumah ternyata cukup membuatku repot. Rumah yang ku sewa ini berada jauh dari rumahku sebelumnya. Tapi aku suka suasananya. Dengan banyaknya tanaman yang tumbuh di halaman, dilengkapi dengan gerbang berwarna putih, menambah suasana asri yang sejuk. Cukup membuat nyaman.

Aku mengedarkan pandanganku, melihat keadaan sekitar rumah yang baru aku tempati ini.

Di sebelah kanan rumahku terdapat sebuah rumah berwarna biru — dengan gerbang yang juga berwarna biru — yang tertutup rapat. Aku rasa aku harus menyapa orang yang tinggal di sana nanti, karena bisa dipastikan pemilik rumah tidak ada sekarang.

Beberapa jam beristirahat, cukup membuat tubuh ini kembali segar. Aku lihat di depan rumah tetanggaku itu sudah ada mobil yang terparkir rapi. Tidak perlu menunggu, aku-pun bersiap diri untuk pergi ke sana dan menyapa orang yang tinggal di sana. Sebagai tetangga baik, sudah harusnya kita saling mengakrabkan diri bukan?

Aku menekan bel yang ada di samping pintu gerbang itu. Kemudian sambil menunggu respon pemilik rumah, aku membenarkan tatanan rambutku yang tadi hanya ku sisir dengan asal. Satu kantong makanan ringan di tangan ini akan kuserahkan, berharap dapat memberi kesan pertama yang baik.

“iya, sebentar.”

Tunggu!

Entah karena aku terlalu rindu denganmu, rasanya aku seperti mendengar suaramu, Doyoung. Tetangga baruku ini suaranya mirip sekali denganmu.

Mari kita bertemu lagi.

Akhirnya pintu itu terbuka, dan aku menyadari betapa jenakanya skenario hidup ini.

Kenapa kau yang muncul di sana? Doyoung, itu benar kau bukan?

Seketika aku dapat melihat kau yang menatapku dengan mata terbuka dengan lebar, begitu pula denganku. Rasa terkejut kita tidak dapat disembunyikan. Sejenak kita saling mematung melihat satu sama lain.

“Jaehyun?”

“Doyoung, bagaimana kau bisa ada di sini?”

Kita tidak langsung menjawab, karena sama-sama masih termenung menahan perasaan yang membuncah dengan cepat. Kau dan aku, saling mengunci tatapan satu sama lain, disertai dengan rindu yang sama-sama kau dan aku rasakan. Di tempat yang sama, kita dipertemukan kembali.

Kesempatan itu ternyata masih ada. Keajaiban itu memang sungguh ada. Di saat aku dengan susah payah memutuskan untuk melupakanmu, nyatanya semesta malah mendekatkan kita kembali.

Jadi, mari kita berjumpa lagi,

“Jaehyun — maafkan aku.”

“Ku mohon, jangan minta maaf.”

“Tidak, maafkan aku, Jaehyun — karena aku sudah pergi meninggalkanmu.”

Detik itu juga, kau dan aku saling merengkuh. Melampiaskan segala rasa rindu yang akhirnya terobati. Kau dan aku akhirnya disatukan kembali.

“Doyoung, aku yang harus minta maaf. Tolong dengarkan aku, jangan salah paham lagi, ya.”

Aku merasakan kepalamu yang bergerak mengangguk di pundak-ku. Meninggalkan sensasi geli karena rambut halus-mu yang menyapu leherku. Aku senang sekali, Doyoung.

Sangat senang.

Aku janji, kesempatan yang kau berikan ini tidak akan ku sia-siakan begitu saja.

“Sudah jauh-jauh aku pergi ke rumahmu, ternyata kau malah ada di sini.”

Kau tertawa, kali ini kau terkekeh dengan sedikit jejak air mata yang berhenti di sudut matamu.

“Kau pergi ke rumahku?”

“Tentu saja, aku tidak bisa menahannya lagi, setengah mati aku merindukanmu. Aku datang dengan berharap kau masih berada di tempat yang sama denganku. Jadi sekarang aku tanya, apa kau sudah punya pacar baru?”

Kali ini aku tergelak, kau bertanya dengan raut wajah yang mengundang rasa gemas, ingin sekali aku menangkup wajahmu dan mendaratkan kecupan yang banyak di bibir yang mengerucut lucu itu.

“Bagaimana mungkin aku bisa menjalin hubungan baru, sedangkan hubungan kita saja tidak pernah selesai.”

“Jadi, coba jelaskan padaku siapa orang yang mengantarmu pulang waktu itu?!”

One of these nights.

Pada akhirnya, kau pun mengerti jika yang terjadi malam itu hanyalah salah paham.

“Aku sungguh minta maaf, Doyoung. Bisakah kita kembali seperti dulu?

Dalam waktu yang sama, di tempat yang sama, kau dan aku, masih dalam perasaan yang sama.

Terimakasih, Doyoung.

 

 

 

Notes:

Thnak you guys for reading this song fic.

Notes:

Sorry jika pemakaian bahasa di sini sungguh memusingkan.