Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-11-18
Updated:
2023-12-18
Words:
10,746
Chapters:
9/?
Kudos:
37
Hits:
389

Baja Berbunga

Chapter 9: Onsen dan Katsudon Takayama

Chapter Text

“Aku senang kamu mau ikut sama aku, senang banget.” Sanji tersenyum lebar menatap Zoro yang duduk di sebelahnya saat mereka akhirnya duduk di kereta menuju Takayama. Zoro menjawab dengan senyuman ramah—susah payah karena sebenarnya ia sedang tersipu luar biasa. “Makasih juga udah ngajak.”

Anytime.” Sanji tersenyum manis.

Perjalanan terasa menyenangkan. Zoro bisa menghitung jari berapa banyak ia pergi ke luar kota. Kalau ada pun, pasti acara penting. Dari sekolah, atau dari lomba kendonya. Jadi pergi ke luar dengan seseorang—yang ia sukai—menemaninya membuat jantung Zoro berdegup semangat. Selama perjalanan, ia berusaha untuk meredakan semangatnya yang terlalu tinggi dengan tidur.

“Zoro, sebentar lagi stasiun pemberhentian kita,” bisik Sanji membangunkan Zoro. Zoro membuka kedua matanya nyaris seketika. Tapi akhirnya ia berhasil bangun dari tidurnya dengan tenang dan tidak kaget.

“Nanti dari stasiun kita jalan kaki aja yuk, ke penginapan. Enggak jauh kok,” ajak Sanji lembut. Zoro yang masih merenggangkan tubuhnya sebisa mungkin itu menjawab seraya mengerang, “Jauh pun nggak papa.”

“Kalo 3 kilo dari stasiun jauh nggak?” tanya Sanji santai. Zoro menggeleng. Setelah itu hening dan suara roda kereta api yang bertemu dengan rel sepanjang perjalanan mereka. Tapi akhirnya Sanji berbicara lagi, “Ah. Iya. Kamu keberatan nggak kalau nanti sekamar? Kalau kamu keberatan biar aku pesan lagi waktu kita di sana.”

Mendengar kata ‘sekamar’ sebenarnya membuat semburat merah mulai muncul di ujung telinga Zoro. Tapi ia langsung menggeleng. “Nggak masalah.”

“Syukur deh.” Senyum Sanji terulas dengan riang. Zoro mengangguk dan kembali melihat pemandangan di luar jendela. Seki ke Takayama mengambil waktu sebanyak tiga jam. Sanji banyak bercerita kepada Zoro mengenai hidupnya di Prancis. Tentang masa kecilnya di Jepang, dan restoran almarhum ayahnya di Prancis.

Semua itu membuat Zoro—walau dengan wajah datarnya—merasa bahagia. Apalagi ketika Sanji bercerita dengan senyum manisnya yang terulas lebar. Zoro bisa merasakan ada degupan gugup pada hatinya. Tapi ia berusaha mengabaikan debaran gugup itu dengan cara diam dan mendengarkan.

Begitu turun di stasiun pun mereka juga langsung berjalan ke penginapan sembari bercerita tentang masing-masing. Zoro juga berusaha terbuka dengan menceritakan sebagian kecil tentang orang tuanya. Meski Zoro lebih banyak mendengar daripada bercerita, tapi menyadari kalau ada orang yang mau berbicara kepadanya selain orang-orang yang ada di dekatnya membuat Zoro merasa bahagia.

Sesampainya di penginapan, Sanji berkutat dengan resepsionis sementara Zoro menunggu di belakangya seraya menoleh ke sekitar. Pegawai hotel tradisional itu langsung mengajak Sanji mengikutinya untuk ia antar pergi ke kamar yang Sanji pesan. Tapi wajah Zoro langsung merah padam melihat kasur yang ditata bersebelahan layaknya sepasang kekasih. Lagi-lagi, Zoro berusaha untuk mengabaikan hal tersebut dengan menarik kecil kerah sweaternya dan berdehum canggung dengan wajah yang dialihkan ke segala arah selain Sanji.

“Nah, Zoro!” Sanji berbalik semangat dan menghampiri Zoro yang masih dalam usaha menenangkan wajahnya yang memerah. Zoro menaikkan salah satu alisnya heran. “Apa?”

“Karena kita sampai sini sudah sore—rencana pertamaku adalah onsen!” Sanji menunjukkan cengirannya. Zoro menaikkan kedua alisnya tertarik. Semua pukulan pada pisau yang ia kerahkan demi pisau sempurna pesanan Sanji membuat beberapa bagian ototnya terasa pegal. Ia tidak bisa mengelak dari fakta bahwa ia juga membutuhkan air panas yang bisa merilekskan tubuhnya.

“Boleh.” Zoro mengangguk tertarik.

Akhirnya ketika mereka sudah berganti ke yukata hotel, Sanji langsung membawa Zoro pergi ke luar hotel dan berjalan menuju onsen yang berada tak jauh dari tempat penginapan mereka. Selama perjalanan, Zoro bisa melihat perempuan-perempuan di sekitar mereka memandang ke arah Sanji dengan heran, namun pandangan mata mereka jelas mengartikan kalau mereka tertarik dengan Sanji.
Zoro tidak bisa mengelak. Sanji adalah pria yang tampan. Menarik. Memesona.

Zoro paham betul bagaimana rasanya. Ingin terus berada di dekat Sanji. Bagaimana rasanya ingin terus menerus memandang Sanji. Bagaimana rasanya ingin terus menerus berjalan di sebelah Sanji. Bagaimana rasanya ingin menggenggam tangan yang dibuatnya memasak dan merokok itu.

Bau rokok yang biasanya ia benci itu ikut menjadi oksigen yang ingin ia hirup setiap saat. Sanji adalah orang pertama yang sanggup membuatnya menjadi sekacau ini. Dari dirinya yang membuat pisau secepat kilat hingga hati yang merindu ingin bertemu setiap saat.

Zoro mendengar jelas desahan yang keluar dari mulut Sanji ketika ia masuk ke dalam onsen yang mereka datangi. Malam itu, onsen seolah milik mereka berdua. Dengan lantunan lagu halus dan tiadanya pengunjung selain mereka. Zoro mengerjap pelan membiarkan suasana mengisi telinganya. Air mengalir hingga Sanji yang terdengar diam.

Intim. Zoro pikir.

Tak selang berapa menit, Zoro akhirnya ikut masuk untuk berendam. Musik halus yang mengalun di lobi onsen tradisional ini tak begitu terdengar begitu Zoro masuk ke dalam kolam. Kolamnya terbuka dengan papan bambu yang menjadi dinding tanpa atap di atas mereka. Ada beberapa lampu remang yang mengelilingi sekitar kolam. Malam itu dingin, karena penghujung musim gugur. Salju pasti turun sebentar lagi.

“Zoro,” panggil Sanji lembut.

Zoro yang bersandar di sisi lain tak jauh dari Sanji itu menoleh. Sanji mengangkat tangannya sebatas wajah dan mengayunkan jemarinya pelan meminta Zoro untuk mendekat ke arahnya. Zoro sempat mengerjap kebingungan, tapi pada akhirnya ia beringsut mendekat dan kini duduk di sebelah Sanji. Sanji tersenyum. “Apa kamu terpaksa ikut sama aku?”

“Hah?! Enggak! Enggak—! Kenapa kamu mikir gitu?” Zoro balas bertanya seusai menggeleng kencang.

Sanji sempat tersenyum sejenak sebelum mendehum panjang. “Gugup aja.”

“Kita baru kenal seminggu … tapi aku udah ngajak kamu jalan-jalan aja. Takutnya kamu mau ikut karena terpaksa, gitu,” tutur Sanji ragu. Zoro mendengarkan Sanji dengan seksama. Enggan memotongnya berbicara mengenai kekhawatirannya. Melihat Sanji yang sepertinya sudah melepaskan kekhawatirannya, akhirnya Zoro pun membalas, “Aku nggak terpaksa kok. Aku malah merasa ngerepotin langsung diajak jalan-jalan tanpa ada kontribusi biaya sedikit pun. Makasih ya.”

Sanji terkekeh manis sebelum mengusap belakang kepalanya, awalnya agak kencang, tapi usapan itu berakhir lembut. “Zoro lucu ya.”

Apa?

"Apa?" Zoro menoleh kebingungan, dan kaget di saat yang bersamaan. Tapi Sanji hanya menjawabnya dengan senyum tipis dan menggeleng. Pipinya memerah tapi Zoro pikir, mungkin itu karena mereka sudah nyaris sepuluh menit berendam di onsen ini.

"Zoro," Sanji berbisik lagi, memanggil halus Zoro yang sedang larut dalam lamunannya. Bisikan Sanji yang memanggil namanya itu hadirkan gelitik halus dari telinga Zoro sampai ujung jemari kakinya. Zoro mencoba untuk menepis pikiran-pikiran kotor yang mulai jadi awan kelabu di dalam otaknya. Zoro mengerling pada Sanji, mencoba untuk mengabaikan fakta bahwa wajahnya tengah memerah panas sekarang. Entah karena suasana, atau panasnya onsen yang mereka datangi.

Sanji betul-betul dekat, Zoro sadari. Mereka tak berjarak sejengkal dari satu sama lain. Zoro bisa melihat jelas helai pirangnya. Maupun kedua matanya yang biru selayaknya laut. Zoro mendeguk kasar. Sanji nampak ingin berbisik lagi dengan mulutnya yang terbuka.

"Kau...." Sanji mulai berbisik. Zoro mulai penasaran. Ia tak sadar menaikkan kedua alisnya halus demi mendengarkan apa yang ingin Sanji sampaikan. Jantungnya berdegup hanya karena ia jadi berpikir; "Aku kenapa?.

Namun, lamunannya pecah ketika Sanji berdiri dari posisinya setelah memutus kontak mata dari Zoro. "Makan malam paling enak jam segini apa? Pilihanmu, Zoro. Ayo!"

Hah?

Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang muncul di kepala Zoro tentang sikap Sanji kepadanya. Kenapa Sanji mau mengajaknya berjalan-jalan keluar atau kenapa Sanji bertingkah seperti orang luar negeri yang tak pernah ia pahami seperti biasanya. Sanji aneh hari ini. Dan hari itu berakhir dengan katsu don di dekat penginapan serta Zoro yang tak bisa tidur dengan Sanji yang tertidur di kamar yang sama dengannya.

Notes:

Thanks for reading sejauh ini! Aku harap kalian senang yah!
Kalian bisa ngasih tahu pendapat kalian mengenai cerita ini lewat komen langsung, atau sampaikan di tello gwerhj see youu!!