Actions

Work Header

Mr. Sun

Chapter 2: Berjalan kebelakang

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

2 November 1969

Semua cerita tentang manusia biasanya diawali dengan suara tangisan bayi merah yang baru saja berjuang bersama sang Ibu untuk menghirup udara bersih bumi Pertiwi. Cara bibir mungil itu menyapa dunia melalui tangisan kencang dan bibir yang bergetar, tangisan yang terdengar pilu itu justru disambut dengan suka cita oleh keluarga Leba. Pernikahan yang terjadi 3 tahun lalu pada akhirnya dikaruniai seorang anak laki-laki yang suaranya sangat lantang dan keras terdengar hingga satu desa kecil. Malamnya tetangga sekitar serta kepala keluarga Leba mengadakan syukuran makan bersama atas kelahiran anak laki-laki yang mereka beri nama Lodu.

 


 

Proses pemotretan pre-wedding sepasang calon pengantin bernama Soonyoung dan Jihoon itu diakhiri dengan keduanya yang saling berhadapan berpelukan dalam balutan selendang tenun khas pulau Sumba berwarna dasar coklat dengan akses putih gading dan oranye. Cahaya matahari oranye yang memancar lembut dari kedua bola mata mereka serta semilir angin yang menarik-merayu rambut hitam kedua calon pengantin menambah kesan magis pemotretan sore hari itu, seolah Tuhan tengah memberkati kedua anaknya yang saling mencintai dan berjuang bersama sedari mereka belum merasakan sepenuhnya menjadi ‘manusia’.

Dengan jahilnya Soonyoung mengecup bibir sang tunangan di hadapan ketiga fotografer serta dua orang makeup artist membuat lelaki yang lebih pendek tersipu malu dan menyembunyikan wajahnya di dada sang calon suami dan perbuatannya membuat kedua makeup artist berteriak kaget karena takut makeup calon pengantin akan rusak.

“Kok malu gitu, perasaan udah sering dah?” Soonyoung menarik Jihoon lebih erat ke dalam dekapannya. Mengabaikan teriakan kedua makeup artist yang menjerit takut jika makeup Jihoon akan menempel di baju Soonyoung.

“Malu lah di depan temen kita” Mereka berdua terkekeh masih saling memeluk satu sama lain sembari tatapan keduanya teralihkan ke pemandangan yang melintang di hadapannya.

Wonwoo melangkahkan kakinya gontai menelusuri jalan setapak menuju tempat Mingyu dan kedua temannya bekerja sebagai fotografer. Percakapan setengah hari penuh mereka kemarin, cerita masa lalu Wonwoo serta rangkaian cinta satu malam yang mereka lakukan kemarin membuat keduanya perlahan terikat dan mendekat satu sama lain. Pagi tadi Mingyu mengecup bibirnya sebagai ‘balas dendam atas kejadian kopi hitam’ yang Wonwoo lakukan kepadanya, Mingyu juga mengatakan kepada Wonwoo untuk datang ke bukit setelah selesai dengan pekerjaannya di puskesmas serta setelah yakin tidak ada warga yang meminta bantuannya. Mingyu ingin memperkenalkan Wonwoo kepada teman-temannya, ia mengatakan kepada Wonwoo bahwa ini adalah salah satu bukti bahwa Mingyu serius untuk menjalin hubungan dengan Wonwoo meski mereka baru berkenalan kurang dari 24 jam.

Mingyu hari ini mengenakan tanktop berwarna putih dan jaket jeans berwarna biru serta celana pendek selutut berwarna coklat. Di kerah kaus tanpa lengannya tergantung kacamata hitam serta kilauan logam berwarna silver dari balik kerahnya, sebuah kalung rantai yang Wonwoo tau betul seberapa besar efek dari kalung itu kepada Wonwoo. 

Pandangan Wonwoo ia paksa untuk fokus kepada sepasang kekasih yang tengah saling memeluk dan salah satunya menyembunyikan wajahnya di dada kekasihnya, terdengar pula jeritan dari dua perempuan yang berdiri di belakang Mingyu. Mantan pasiennya di puskesmas lah yang menyadari kedatangannya terlebih dahulu, ‘jika tidak salah itu Minghao' . Lelaki yang memiliki potongan rambut mullet itu berjalan mendekati Wonwoo dan mengajaknya mendekat untuk menyapa yang lain. Wonwoo yang tidak tahu harus melakukan apa hanya bisa menuruti perkataan dari Minghao dan bertanya tentang kesehatannya.

“Mingyu, ada tamu nih” Minghao menepuk pundak Mingyu yang kini tengah berdiri menunduk mengamati hasil fotonya dan sesekali bergumam ‘ah, ISOnya kurang nih’

“Siapa tuh, Seok?” Kali ini Soonyoung yang menyikut lengan Seokmin yang tengah merapikan tripodnya dan melirik ke arah yang ditunjuk oleh Soonyoung.

“Gebetannya Mingyu, dokter puskesmas disini” Soonyoung hanya ber-oh ria karena tidak terlalu mengenal Mingyu diluar hubungan mereka sebagai client dan fotografer.

Mingyu tersenyum melihat sosok laki-laki manis bermata sipit, berhidung mancung dan bibir tipis merah muda berdiri di hadapannya. Wajahnya ia dekatkan kepada lelaki berkulit seputih susu itu dan diciumnya pipi sang kekasih.

“Hey, sudah selesai kerjanya pak dokter?” 

 


 

Mingyu dan Wonwoo duduk berdampingan di tempat yang sama seperti hari kemarin, kali ini mereka berdua saling menyelimuti diri dengan selendang yang sama seperti yang Soonyoung dan Jihoon gunakan sebelumnya. Wonwoo telah berkenalan dengan Minghao dan Seokmin, teman baik Mingyu sekaligus teman kerjanya. Jihoon yang terlihat mengintimidasi dan galak justru yang pertama kali membuka percakapan ketika Wonwoo berdiri sendiri menunggu Mingyu berbincang dengan Soonyoung perihal sesi foto terakhir.

“Hi, Wonwoo, benar?”

“Hi, iya benar, mas nya?” Jihoon mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Wonwoo.

“Jihoon. Bosen ya nungguin Mingyu?”

 


 

Lodu kecil berlarian di sabana hijau bersama kedua teman baiknya, mereka telah bersama semenjak ketiganya masih menyusu. Tiga serangkai yang dipimpin oleh Lodu itu seringkali menerima amarah dari warga lain yang merasa terganggu dengan kenakalan tiga anak laki-laki itu. Lodu, Mbolu, dan Nale hanya bisa tertawa sembari berlari menjauh dari kejaran ayah Mbolu yang marah karena tali yang mengikat kuda kesayangannya terlepas karena mereka bertiga. Beberapa warga yang melihat kejar-kejaran antara bapak dan anak itu hanya menggeleng dan sesekali berteriak memberi semangat kepada Lodu, Mbolu dan Nale agar bisa terlepas dari kejaran sang Ayah.

 


 

“Tadi habis dari mana sebelum kesini?”

“Kantor kepala desa, minta tolong pak Kades cari data lama”

“Ketemu?” Wonwoo menganggukan kepalanya dan meraih ponselnya dari dalam tas kerjanya, membuka kunci ponsel yang berlatar foto Bukit Wairinding di malam hari dengan jutaan bintang yang saling terikat membentuk rasi bintang.

“Ketemu data pribadi bapak tapi ya cuma gini aja, kata pak Kades besok aku mau diantar ke rumah bapak yang lama sebelum pindah dari Pambota Jara ke Waingapu”

“Mau aku temenin?” Dalam hidup Wonwoo, dia tidak pernah meminta, bahkan ketika Ibunya memberi pilihan kepada Wonwoo untuk memilih orang tuanya (menerima atau menolak sosok Om Lodu) Wonwoo tidak meminta Ibunya untuk meninggalkan sosok yang telah memenuhi relung hatinya, Wonwoo itu menerima. Dan ketika ia dihadapkan oleh sosok Mingyu yang tengah memijat kedua kakinya yang tergeletak diatas paha sang kekasih Wonwoo akhirnya mengatakan kata pintanya.

“Mingyu temani aku ya besok?”

 


 

“Mbolu kalau sudah besar mau jadi apa?”

“Guru, pendeta. Biar bisa cubitin anak-anak nakal”

Pendeta yang duduk bersila bersama tiga lelaki yang tengah duduk melingkar di bawah pohon samping gereja terkekeh mendengar jawaban dari Mbolu yang polos, diusapnya surai Mbolu yang kecoklatan karena terlalu banyak bermain di bawah sinar matahari dengan penuh kelembutan di setiap usapannya.

“Tidak boleh ya Mbolu, kalau mau jadi guru harus jadi guru yang baik dan selalu mengingat pesan Tuhan. Kalau Lodu mau jadi apa besar nanti?”

Lodu yang memakai baju berwarna merah berkerah dan celana coklat menunjukan gerak gerik seperti sedang berpikir, matanya menatap langit kesana kemari, bibirnya mengerucut dan telunjuknya ia letakan di dagunya.

“Mau jadi matahari”

“Emangnya ada cita-cita jadi matahari, aneh aja kamu Lodu!”

“Jangan marah-marah dulu Nale, kita dengar dulu ya alasan Lodu”

“Lodu mau jadi matahari soalnya Lodu mau semua orang terasa hidup ketika bersama Lodu”

 


 

Wonwoo dan Mingyu beserta rombongannya kembali turun menuruni Bukit karena hari semakin gelap dan mereka tidak mempersiapkan sesi foto di malam hari. Keenamnya turun dan bersama-sama duduk di dalam mobil SUV silver itu menuju warung makan yang menjadi tempat tiga serangkai biasa makan dan berbincang. Kedatangan mereka disambut meriah oleh Ibu warung dan semakin meriah ketika Ibu warung menemukan sosok Wonwoo yang berdiri di belakang tubuh Mingyu.

“Loh dokter Wonwoo ikut juga, sini-sini semuanya duduk disini. Lia bantu Ibu, ada dokter Wonwoo nih”

Sosok Lia yang mendengar namanya dipanggil oleh sang Ibu segera berjalan cepat menuju warung dan menepuk pundak Wonwoo untuk menyapanya seperti dua sosok yang sudah lama tidak berjumpa padahal sebenarnya mereka baru saja bertemu kemarin pagi.

“Kak Wonwoo, kenapa pesan Lia tidak dijawab?”

“Maaf ya Lia, tadi pulang praktek ada urusan di kantor kepala desa terus ke Bukit”

Keenamnya memilih menu makanan yang tersedia dan bersamaan memilih es teh manis sebagai pelengkap makan malam mereka hari itu. Raut wajah Mingyu sedikit kusam ketika melahap makanannya, bukan, bukan karena tidak enak, tapi karena cemburu melihat kedekatan sosok Lia dan Wonwoo sepuluh menit tadi. Betapa nyamannya Wonwoo berbincang bersama Lia dan betapa mudahnya Lia menyentuh tangan Wonwoo untuk menunjukkan video menarik yang ia temui di sosial media. Wonwoo itu sudah dewasa meski pengalaman percintaannya tidak terlalu lama dan banyak, ia tau cara pandang seseorang yang tengah dilingkupi api cemburu, dan ia melihat itu di mata Mingyu yang sesekali melirik dirinya ketika menyuap makanannya.

“Aku sama Lia ngga ada apa-apa, Lia sendiri yang bilang sama aku kalau dia minta dianggap sebagai adik perempuan”

“Kenapa kok gitu?”

“Soalnya Lia emang adik kak Wonwoo kok kak”

Lia yang membawa nampan berisi nasi tambahan untuk Seokmin dan Soonyoung memotong percakapan Wonwoo dan Mingyu sembari tangannya memberikan dua piring berisi nasi di hadapan Seokmin dan Soonyoung. Lia mempersilakan dirinya sendiri untuk duduk di samping Wonwoo dan tersenyum ke arah keduanya.

“Lia itu beneran adik kak Wonwoo, soalnya Ayah Lia dan Ayah kak Wonwoo itu bersahabat sejak kecil”

 


 

“Ayah punya sahabat, namanya Lodu”

“Arti namanya bagus, yah”

“Iya kan? pribadinya juga sesuai dengan namanya”

Kedua Ayah dan anak perempuan itu tengah duduk santai di depan warung setelah sang anak perempuan datang membawakan kopi hitam untuk Ayahnya yang tengah merokok memandangi jalan raya yang lenggang dan gelap minim pencahayaan. Ayahnya ini suka sekali bercerita tentang masa kecilnya dan masalah-masalah serta pelajaran hidup yang sudah pernah ia dapatkan.

“Lodu itu perwira, gagah, tapi masih sendiri. Kalau dia pulang ke Pambota Jara terus kami bertemu, kami pasti selalu bertanya kepadanya kapan akan menikah. Lalu laki-laki itu hanya akan menjawab dengan kata-kata yang sama ‘nanti kalau sudah waktunya’”

“Berarti sampai sekarang belum menikah Om Lodu nya?”

“Sudah, kalau Lia ingat ada dokter perempuan yang sering cerita anak laki-lakinya yang dokter juga, nah Lodu nikahnya sama dia”

“Terus Ayah ngga diundang ke nikahannya?”

“Memang tidak dirayakan, permintaan dari istri karena merasa tidak enak menikah lagi, dia punya anak laki-laki semata wayangnya”

“Itu pernikahan pertama Om Lodu kan, Ayah?”

“Iya”

 


 

“Ayah ceritanya udah lama, sewaktu Ibu dokter datang ke desa juga Lia masih kecil, tapi Lia inget Ibu dokter pernah bilang ke Ibu Lia kalau hari itu anak laki-lakinya ulang tahun tapi Ibu dokter ngga bisa pulang, Ibu dokter bilang nama anaknya Wonwoo. Makanya aku langsung tau kalau kak Wonwoo ini kakak aku, anaknya Om Lodu”

“Boleh ngga kalau kak Wonwoo ketemu sama Ayah Lia?” Ucap Wonwoo dengan mata yang penuh harap.

Melihat Lia yang mengangguk mengiyakan keinginan Wonwoo untuk bertemu dengan sahabat lama Bapaknya membuat Mingyu segera menjauhkan dirinya dan menemui Minghao dan Jihoon yang masih setia mengunyah nasinya yang tersisa di piring, kedua lelaki lain, Soonyoung dan Jihoon telah pergi menuju teras warung untuk membakar tembakaunya. Mingyu duduk tepat di samping Minghao, memberitahu bahwa dirinya akan pulang terlambat atau bahkan menginap untuk menemani Wonwoo karena ia sadar malam ini akan menjadi malam panjang bagi Wonwoo dan dia ingin hadir di sisinya sebagai bintang jatuh agar Wonwoo dapat berharap kepadanya.

“Nitip Wonwoo ya mas Mingyu, saya juga baru kenal tapi anaknya baik, dijaga ya” 

Kalimat yang keluar dari mulut Jihoon membuat Mingyu tersenyum karena merasa senang ada orang lain yang sudah mulai menyayangi Wonwoo meski pertemuan mereka belum genap dua puluh empat jam.

 


 

Tubuh lelaki berumur 54 tahun masih terlihat gagah di mata Mingyu, bahunya lebar dan bidang, matanya berwarna hitam legam yang kemudian ia turunkan ke anak perempuannya. Rambut ubannya sudah tumbuh lebih banyak dari yang hitam, keriput-keriput yang menjadi bukti pengalaman hidup dan usia yang dimakan waktu terlihat jelas di sudut mata dan dahi lelaki itu, kuku jarinya berwarna kuning, menandakan berapa banyak nikotin yang telah ia bakar. Nama Ayah dari sosok perempuan manis yang selalu menyapa Wonwoo disetiap perjalanan pagi menuju Puskesmas itu adalah Mbolu, sahabat terdekat dari bapaknya.

“Lodu menjadi yang paling sukses di antara saya dan Nale. Dia berhasil menjadi orang gagah yang berhak memegang senjata, dia berhasil mengangkat nama keluarga Leba. Bapakmu orang yang hebat”

Matanya menatap ke atap teras yang diterangi oleh lampu kuning berdaya 5 watt, melihat cahayanya dengan penuh senyuman sembari isi kepalanya memutar kenangan tentang tiga serangkai pembuat onar. Ia melanjutkan ceritanya lagi.

“Tapi dia tidak pernah berhasil dalam hal percintaan, ditinggalkan calon pengantin atau dikalahkan pemuda desa sebelah. Mungkin karena memang Lodu cocoknya sama Ibu dokter Kartika, Ibumu”

 


 

Lodu datang dengan membawa berbagai macam oleh-oleh yang ia pikir tidak bisa ia bisa temukan di desanya. Ia berdiri di hadapan rumah berpagar besi lama yang sudah mulai terlihat karat dan sisa cat berwarna oranye. Rumah berwarna abu-abu dan putih itu adalah rumah salah satu sahabat terbaiknya yang setia mengarungi lautan untuk membawa barang-barang yang telah dititipkan kepadanya, Lodu memanggilnya ‘Si Pelaut’. Matanya melihat sosok anak perempuan yang mengintip dari balik gorden ruang tamu, matanya mirip sekali dengan sahabatnya itu, Lodu kemudian menyunggingkan senyum dan menggerakkan tangannya untuk menyapa, yang disapa menutup kaca jendela dengan gorden putih dan membuka pintu rumahnya.

“Om siapa ya?”

“Oh iya ngga pernah ketemu ya kita? Saya Lodu, teman bapakmu. Mbolu ada di rumah?”

“Oh bapak ada, sebentar ya, sini om duduk dulu”

Lalu anak perempuan itu pergi setelah mempersilahkan lelaki berumur 50 tahunan untuk duduk dan menunggu di teras rumah sederhananya. Lima menit kemudian sosok yang ditunggu datang membawa sebungkus rokok dan secangkir kopi hitam.

“Tumben kau kesini, memangnya hari ini hari libur?”

Lodu adalah sahabatnya, teman sepermainannya yang gemar melepas tali yang terikat di pohon dan membuat kuda-kuda milik warga hilang. Lodu adalah sahabatnya yang siap melindunginya dari amukkan sang bapak karena memilih untuk menjadi pelaut daripada menjadi tentara. Lodu yang tidak menangis ketika calon istrinya memutuskan pertunangan mereka dan pergi dengan lelaki lain yang tidak lebih baik dari Lodu. Lodu yang bersungguh-sungguh untuk meminang Ibu dokter yang datang ke desa mereka dan bertugas selama dua tahun lamanya. Lodu yang menceritakan bagaimana baiknya seorang Kartika yang berperan menjadi Ibu tunggal untuk anak semata wayangnya.

“Anaknya baik kan?”

“Baik, aku hanya perlu membuatnya nyaman saja dengan kehadiranku. Tidak perlu lah itu aku dianggap Bapak oleh dia, kejadian masa lalu dan umurnya yang sudah besar pasti sulit untuk menerima orang asing sebagai keluarganya. Dia nyaman denganku yang tinggal di rumah ya sudah cukup”

“Namanya siapa?”

“Wonwoo, aku sudah pernah lihat fotonya. Tampan anak itu, indah dan baik hati seperti Kartika, sekarang sedang menyelesaikan kuliahnya sebagai dokter”

“Sudah dapat restu dari anaknya?”

“Sudah, ini aku datang kesini karena mau kasih undangan buatmu dan Nale. Kalau mau datang bisa kabari aku, nanti aku yang bayar tiket pesawatnya”

“Ah tidak ah, aku lebih suka laut daripada langit”

Malam itu keduanya berbincang mengenang cerita-cerita bodoh mereka serta kondisi desa yang akan ditinggalkan oleh Lodu sepenuhnya karena tak ada lagi keluarga yang tersisa di desa itu. Secarik kertas undangan sederhana Lodu berikan kepada sahabatnya itu, hanya ada nama calon pengantin serta akad yang berlangsung selama satu jam, tidak ada perayaan maupun pesta. Pernikahan pertama dan terakhir Lodu merupakan pernikahan paling sederhana yang Mbolu tau.

 


 

“Tapi saya tidak bisa datang ke pernikahan sahabat saya karena saya terjebak badai ketika membawa barang dan saya telat pulang. Malam itu pertemuan terakhir kami, saya sudah dengar dari Nale kalau Lodu sudah pergi terlebih dahulu meninggalkan kami, Kartika dan kamu. Yang sabar ya nak”

Wonwoo menangis terisak mendengar semua cerita yang diceritakan oleh sahabat Bapaknya itu. Dalam pelukkan hangat dan menenangkan sang kekasih, Wonwoo merutuki waktu yang terlalu sebentar untuknya dan sang Bapak, Wonwoo memukul dan mencengkram lengan Mingyu tanpa sadar untuk menyalahkan dirinya sendiri yang telah membuang waktu yang berharga. Mingyu hanya bisa mengusap punggung lelaki yang masih bergetar dan terisak itu, ia mengecup kepala Wonwoo dan membisikan kata-kata penenang jika semua ini bukan kesalahan Wonwoo maupun Tuhan. Setelah dua jam bersama keluarga Lia, Mingyu dan Wonwoo mengundurkan diri untuk kembali ke rumah kontrak Wonwoo. Jempol milik Mingyu tidak pernah berhenti mengusap lembut tangan yang sedang ia genggam hingga keduanya tiba di tujuan akhir.

 


 

“Seok, bilangin Hao ya gue mau stay sehari lagi disini. Nanti file fotonya gue kirim lewat email sekalian gue edit beberapa, kemarin Soonyoung udah sempet pilih sedikit”

Mingyu memutuskan sambungan teleponnya dengan Seokmin yang saat ingin tengah mempersiapkan kepulangan mereka untuk kembali ke Jakarta dan melanjutkan proyek pekerjaan mereka dengan Jihoon dan Soonyoung. Kemarin malam Seokmin telah diberi kabar oleh Minghao tentang keinginan Mingyu untuk bersama Wonwoo dan menemani pria yang kini masih berada di atas kasurnya dan menatap langit biru dengan awan yang berjalan perlahan dari jendela kamarnya. Tatapan Wonwoo kosong, pikirannya penuh tapi dia tidak tahu harus darimana ia membenahi pikirannya itu. Mingyu yang setia menemaninya kini kembali memeluk tubuh Wonwoo seperti semalam, diusapnya lengan Wonwoo yang tertimpa tangan besarnya seraya pipi tembam itu ia kecup.

“Aku jahat ya Mingyu”

“Kata siapa ah? Kok mikirnya gitu? Harusnya kamu mikir aku orang jahatnya, masa baru kenal udah ngajak tidur gini”

Mingyu terkekeh mendengar candaannya sendiri, ia tahu bahwa saat ini Wonwoo butuh orang yang selalu menjaganya dan menuntun dirinya untuk berjalan kembali seperti Wonwoo yang lalu. Semalaman penuh Wonwoo menangisi kisah yang bisa dibilang mengharukan dari sosok Lodu. Wonwoo tau bahwa Bapak sambungnya itu sangat menyayangi Ibunya dan dirinya, Wonwoo masih tidak percaya betapa ikhlasnya sang Bapak memilih untuk tidak mengadakan pesta pernikahannya dengan Ibunya hanya karena merasa tidak enak kepada Wonwoo. Wonwoo seperti sudah merenggut kebahagian orang paling baik yang ia temui.

“Harusnya Bapak ngga usah peduliin aku, Mingyu. Harusnya Bapak sama Ibu bikin pesta pernikahan yang meriah, itu kan pernikahan pertama dan terakhir Bapak. Tapi gara-gara aku..”

“Ngga sayang, ini semua karena Bapak emang sayang sama kamu makanya dia peduli sama perasaanmu”

Wonwoo kembali menangis dalam pelukannya hingga bunyi telepon dari ponsel Wonwoo berdering dan membuat Mingyu berdiri untuk mengambilnya. Ada nama Pak Kades yang muncul di layar ponsel Wonwoo dipukul sembilan pagi itu. Segera Mingyu memberikannya kepada Wonwoo mengingat janji yang telah mereka buat kemarin.

“Halo dok Wonwoo, bapak sudah selesai urusannya, kamu mau bapak temani jam berapa?”

“Halo pak Kades. Jam sepuluh boleh pak?”

“Dengan senang hati”

 


 

Hari Minggu pukul sepuluh pagi biasanya menjadi hari bermalas-malasan untuk Mingyu ketika ia di Jakarta. Dia akan bangun ketika matahari mulai memancarkan panasnya untuk bumi, dan saat itu lah Mingyu akan memulai kegiatannya. Tapi hari Minggu ini berbeda baik untuk dirinya maupun Wonwoo, tidak ada bunyi toaster yang berdenting ketika roti bakarnya telah matang sempurna dan tidak ada acara travelling yang ia tonton untuk teman makan. Minggu pagi untuk Wonwoo biasanya ia habiskan dengan menemui pasien-pasiennya dan mengecek keadaan mereka, tak jarang juga ia akan berbincang santai dengan kepala keluarga atau bermain bola dengan anak-anak. Kali ini di Minggu pagi ini keduanya sama-sama berjalan menyusuri jalan setapak untuk berkunjung ke rumah pak Kades yang dengan senang hati membantu Wonwoo menemukan apa yang ia cari selama ini. Pintu kayu berwarna coklat itu telah terbuka lebar dan pak Kades sudah menunggunya di pintu, wajahnya menampakan senyum bapak-bapaknya, tubuhnya mengenakan kemeja putih yang sudah mulai tampak menguning dengan kain sarung bercorak khas Sumba yang melilit pinggangnya.

“Mau langsung saja dok?”

“Boleh pak, saya ajak Mingyu ya”

“Silakan saja”

Ketiganya berjalan bersama dengan dipimpin oleh Kepala Desa Pambota Jara dan diikuti sepasang kekasih yang masih berumur dua hari itu. Mereka menyusuri jalan yang cukup jauh dari rumah pak Kades dan berhenti di sebuah rumah khas dengan halaman yang luas di depannya, di samping rumah itu ada kandang yang penuh dengan rumput hijau, terdapat kepulan asap hitam yang membumbung dari bagian belakang rumah.

“Sepertinya Roku ada di belakang rumah sedang membakar sampah, kita langsung ke belakang saja ya”

Melewati kandang kosong dan pagar yang terbuat dari ranting pohon pinus pak Kades membawa mereka untuk masuk lebih dalam ke rumah kelahiran Bapaknya 54 tahun yang lalu, rumah ini adalah saksi bisa masa kecil Bapaknya dan mungkin saksi pertemuannya dengan sang Ibu.

“Roku ada tamu, keponakanmu”

Laki-laki bernama Roku yang tengah mengumpulkan sampah dedaunan kering serta plastik itu seketika membalikan badan dan menatap ketiga orang yang datang mengunjunginya. Wajahnya tampak kaget dan keheranan hingga akhirnya kedua mata Wonwoo dan Roku saling bertatapan.

“Loh, Wonwoo bukan? Anaknya Kartika?”

Roku membuang bawaannya sembarangan dan memeluk Wonwoo yang masih mematung di samping Mingyu. Ia memeluknya dengan erat dan Wonwoo secara perlahan membalas pelukan dari keluarga Bapaknya itu.

“Kamu pasti kaget ya kok saya bisa kenal kamu? Dulu Lodu seringkali mengirimi foto keluarga kalian dan fotomu ketika memancing bersama Lodu. Kemarin kata Nale kamu sudah tinggal disini hampir satu tahun ya? Maaf ya saya tidak sempat mengunjungi kamu, saya juga baru pindah kesini satu bulan yang lalu”

Roku adalah sosok yang mudah berbaur, ia selalu dapat memulai perbincangan terlebih dahulu tanpa ada rasa canggung tapi masih tetap sopan dan santun. Roku adalah seorang guru dan baru saja ditugaskan untuk bekerja sebagai guru di desa sebelah, untuk menghemat biaya ia memutuskan untuk tinggal di rumah mendiang sepupunya di desa Pambota Jara. 

“Lodu itu lebih tua dari saya tiga tahun, dia sudah seperti kakak kandung bagi saya, tapi dia tidak mau dipanggil kakak. Diminum dulu kopinya Wonwoo, Mingyu, Nale”

Melihat pak Kades yang sudah mengambil gelas kopinya terlebih dahulu membuat Mingyu mengikutinya dan menyesap kopi hitam itu, sedangkan Wonwoo masih menatap Roku seakan meminta penjelasan dan cerita lebih lanjut tentang Bapaknya.

“Dulu saya kalau main kesini sering sekali main sama Bapakmu dan teman-temannya, kita sering sekali dimarahi Kakekmu karena nakal dan iseng. Tapi Lodu itu sering sekali yang maju dan melindungi kami kalau sekiranya kenakalan kami kelewat batas. Kami sering sekali membahas cita-cita tidak masuk akal kami. Bapakmu itu dulu sering sekali main di Bukit karena dia bisa melihat ufuk matahari dengan lebih jelas. Kamu harus bertemu Mbolu buat cerita lainnya, saya kan sewaktu itu kesini kalau hari libur atau ada acara keluarga. Mbolu pasti lebih tau”

“Kemarin saya sudah bertemu pak Mbolu, kalau pak Nale sekarang dimana ya? Masih di Sumba atau?”

“Loh, itu bapak-bapak di sampingmu kan Nale, teman Bapakmu”

Kedatangan Wonwoo hampir satu tahun yang lalu disambut oleh seorang pria berbadan kurus tapi memiliki wibawa yang kuat, meski hanya sebagai Kepala Desa auranya dapat membuat Wonwoo segan saat perjumpaan pertama mereka. Pak Kades memang sudah pernah memperkenalkan dirinya, mengucap nama aslinya, tapi mungkin saja saat itu hanya Seungkwan yang mendengarnya karena Wonwoo sendiri sibuk melihat desa tempat kelahiran Bapaknya. Setelahnya pak Kades yang bernama Nale itu lebih sering dipanggil pak Kades oleh semua warga dan juga pendatang seperti Seungkwan, maka wajar saja jika Wonwoo tidak mengenalnya sebagai Nale, sahabat Bapaknya.

 


 

Dering telepon kabel di kantor Kepala Desa Pambota Jara yang sudah jarang sekali berdering di siang hari itu berbunyi beberapa kali sebelum sekretaris Desa mengangkatnya dan berbicara dengan sosok wanita yang jauh di Pulau sebrang. Dua menit percakapan keduanya berlangsung hingga sang sekretaris berjalan masuk untuk menemui atasannya.

“Pak, ada telepon, katanya dari Ibu dokter Kartika”

 


 

“Ibumu menelpon saya dan menitipkanmu kepada saya”

Pak Kades atau pak Nale kini kembali menyesap kopi hitamnya dan menyodorkan gelasnya seolah mengajak Mingyu dan Wonwoo untuk ikut meminum jamuan sederhana yang telah disiapkan oleh Roku.

“Saya pikir kamu kesini karena memang mau bekerja saja seperti Ibumu dulu, tapi Ibumu sering menelpon saya menanyakan kabar anaknya. Jujur dok Wonwoo, saya juga penasaran tujuanmu kemari untuk apa karena melihat Ibumu yang justru menanyakan kabarmu kepada saya”

Kali ini Wonwoo ikut meminum kopi hitamnya, berbeda dengan seleranya tapi dia tidak masalah, dia hanya ingin menghilangkan rasa kering di tenggorokannya sesaat setelah mendengar perkataan pak Kades.

“Saya kesini mau lebih mengenal Bapak saya pak, saya bukan anak yang baik buat Bapak saya. Saya menyesal belum bisa mengenal Bapak. Setelah Bapak pergi saya hancur lebih hancur daripada saat ditinggalkan oleh Ayah kandung saya. Saya mau cari Bapak dan kenangannya disini”

“Seperti yang sudah kamu dengar dari Roku dan Mbolu kemarin malam, Bapakmu itu sosok yang luar biasa, mungkin jabatannya di TNI tidak begitu tinggi, hartanya tidak banyak, tapi rasa sayang untuk orang disekitarnya teramat besar. Contohnya seperti kamu saat ini, dalam waktu tiga tahun mengenalnya membuatmu datang kemarin setelah kepergiannya. Bapakmu sering cerita tentangmu kepada saya karena diantara kami bertiga hanya saya yang memiliki anak laki-laki. Dia berharap dapat mendapatkan saran serta masukan dari saya untuk menghadapi anak laki-laki. Bapakmu itu ya, padahal dia punya banyak anak didik sewaktu masih aktif di militer dulu, tapi dia masih bertanya kepada orang lain bagaimana caranya menjadi orang tua yang baik, sampai akhir hayatnya dia terus belajar. Kamu bukan anak yang durhaka, itu adalah tindakan yang wajar setelah apa yang kamu dan Ibumu alami dulu, Wonwoo. Bapakmu justru sedih kalau melihat anak laki-laki kebanggaannya itu menyalahkan dirinya sendiri. Lebih baik sekarang kamu coba rengkuh kenangan yang masih ada sembari mencari kenangan lain yang tertinggal disini, saya bantu. Tapi pertama-tama Wonwoo harus ikhlas dulu ya?”

 


 

Setelah 3 hari singgah sementara di desa Pambota Jara dan menemukan banyak hal, ia harus segera kembali ke Ibukota untuk pekerjaannya. Dengan senang hati ia ingin tinggal dan menetap untuk menemani Wonwoo, tapi tanggung jawab dan keluarga yang menunggu kepulangannya di rumah membuat Mingyu harus memilih.

“Aku pulang dulu ya, kalau urusan kerjaan udah selesai nanti aku kesini lagi temani kamu”

“Iya Mingyu, kan kamu bisa temani aku lewat telepon atau video call nanti”

“Janji ya kalau ada apa-apa harus bilang ke aku? Kalau urgent minta tolong sama Lia, pak Mbolu atau pak Nale ya? Janji sama aku? Nanti aku juga minta nomornya Seungkwan biar pastiin kamu makan siang”

“Iya Mingyu aduh kok bawel banget kamu”

Minggu malam itu Wonwoo mengantar Mingyu ke Bandara menggunakan mobil milik kekasih Seungkwan yang sedang berkunjung. Sebelumnya Mingyu telah menitipkan Wonwoo kepada Seungkwan dan pak Kades seolah-olah Wonwoo akan mudah terluka jika ia tidak berada di sisinya. Mereka berdua, baik Wonwoo dan Mingyu, tidak pernah merasa jatuh cinta pada pandangan pertama dan memutuskan untuk mencoba membangun hubungan mereka dari awal hanya dalam waktu yang singkat, satu hari. Bahkan hal itu terjadi setelah mereka menghabiskan malam bersama. Mingyu takut Wonwoo akan berpikir jika Mingyu seperti lelaki buaya yang hanya memanfaatkan keadaan, nyatanya Mingyu serius dengan Wonwoo dan mau membawa hubungan mereka lebih dalam lagi, bahkan Mingyu ingin segera mengenalkan Wonwoo kepada bundanya.

“Aku udah 27 tahun, aku tahu apa yang aku mau, sekarang aku mau sama kamu. Kamu gimana? Kalau kamu ngga mau sama aku ya ngga masalah Mingyu, aku juga ngga terpaksa melakukannya bersamamu semalam kalau kamu mau menganggap kita hanya teman satu malam saja”

Tentu Mingyu segera menepis kalimat terakhir Wonwoo yang ia ucapkan pagi kemarin ketika mereka menikmati sarapan di rumah Wonwoo. Mingyu yakin perasaan yang mulai berkembang di hatinya itu akan seutuhnya mekar hanya untuk Wonwoo.

“Kalau aku udah sampai nanti aku telpon ya? Semangat terus ya Wonwoo”

Sosok pria bertubuh tinggi, besar dan berkulit coklat yang bersinar di bawah sorotan sinar matahari dan rembulan pergi meninggalkannya dengan harapan dan semangat baru di pulau Sumba. Lelaki asing yang tiba-tiba mengetuk pintu hatinya dengan sepatu conversenya dan tangan yang menjulur menawarkan bantuan.  Mungkin ini adalah rintangan pertama mereka sebagai sepasang kekasih, diberi jarak yang jauh, perbedaan waktu serta lingkungan untuk keduanya sama-sama saling merenung akan keputusan satu malam, apakah mereka sebenarnya sudah yakin atau belum sembari dirinya menyusun kepingan-kepingan cerita di Pulau Sumba itu.

 


 

Seminggu setelah kepulangan Mingyu kembali ke Jakarta membuat mereka sepenuhnya beradaptasi dengan keadaan dan waktu. Keduanya sudah sama-sama dewasa untuk mengerti mana yang harus didahulukan dan mana yang dijadikan prioritas. Pagi hari mereka akan diawali dengan ucapan selamat pagi serta foto selfie dari Mingyu atau pemandangan dari Wonwoo, kehidupan Wonwoo yang dimulai lebih dulu satu jam sebelum Mingyu membuat Mingyu seringkali cemburu karena selalu Wonwoo yang mengabarinya terlebih dahulu, salahkan juga jam tidur yang berantakan itu yang membuat Mingyu tidak akan pernah bisa bangun lebih pagi dari ayam berkokok. Siang harinya giliran Wonwoo yang menunggu Mingyu, jam makan siangnya mundur satu jam karena menunggu panggilan telepon atau video call dari sang terkasih.

“Won kenapa sih harus nungguin Mingyu, aku kan jadi ngga ada temen gosip kalau makan siang”

Itu adalah Seungkwan yang tengah mengomel karena secara tidak langsung sesi ‘diskusi makan siang’ nya terganggu karena Wonwoo sudah memutuskan untuk makan siang tepat pukul satu, tepat ketika ponselnya berbunyi dan ada nama Mingyu terpampang.

Malam harinya pukul delapan waktu Sumba dan tujuh waktu Jakarta, keduanya akan memulai waktu berbagi cerita mereka tentang hari itu. Terkadang Wonwoo bisa melihat bahwa Mingyu masih berada di studionya, ia belum pulang dan selesai dengan pekerjaannya tapi masih menepati janjinya.

“Ya ngga apa-apa, lagian yang punya studio juga aku”

“Jadi pacarku hari ini ngapain aja? Seungkwan tadi bawel ke aku lagi gara-gara dia ada gosip tapi kamunya masih sibuk cek data pasien”

Sudah tiga hari, setiap pulang dari puskesmas, ia akan mengecek keadaan setiap pasiennya termasuk Ibu Litinau yang kemarin lusa ia bantu proses bersalin. Wonwoo yang biasanya datang ketika mendapat pesan atau panggilan, mulai tiga hari kemarin ia mengunjungi rumah ke rumah, mengetuk setiap pintunya dan menanyakan keadaan warga di desa atau sekadar mengecek tensi darah, cara ini ia lakukan karena ia ingin mengenal lebih dekat lingkungan tempat Bapaknya tumbuh dan tinggal, orang-orang yang mengasihinya dan mungkin teman kecil Bapaknya. Wonwoo akan bertanya kepada mereka apakah mereka mengenal Lodu atau mungkin Ibu dokter Kartika sembari tangannya mencari detak nadi di tangan pasiennya. Ada beberapa dari mereka yang mengenal Ibunya, ada beberapa juga yang pernah mendengar nama Lodu, bahkan ada juga yang mengetahui kisah cinta Bapak dan Ibunya.

“Dulu ketika Ibu kamu sedang mengecek keadaan nenek seperti kamu sekarang ini, Lodu datang dan Ibumu tersipu malu, lucu sekali seperti masih remaja”

Wonwoo menceritakan beberapa temuan cerita barunya tentang kisah sang Ibu dan sang Bapak dari beberapa warga kepada Mingyu setiap harinya selama hampir dua minggu lamanya. Sudah banyak kepingan yang ia temukan ketika ia mulai membuka diri dan mengulang perkenalannya kepada warga desa sebagai Wonwoo anak dari Ibu dokter Kartika dan Bapak Lodu. Hatinya semakin penuh karena setiap cerita yang ia dapatkan selalu cerita manis, seringkali Wonwoo mengulang pertanyaannya tentang kebaikan Bapaknya yang ia rasa tidak masuk akal dalam artian semua cerita yang ia dengar selalu tentang kebaikan Bapaknya.

“Lodu ngga sempurna dok Wonwoo, banyak kurangnya, tapi kalau ke kita dia memang baik sampai kami tidak bisa mengingat satupun kesalahan Lodu. Kecuali waktu kecil dia memang sering curi mangga”

Pak Kades alias Nale teman baik Bapak selalu menemani kemanapun anak laki-laki sahabatnya itu pergi melangkah. Selalu ada pak Kades yang berada disisinya ketika Wonwoo mengunjungi setiap rumah untuk bersilaturahmi, memperkenalkan siapa dia sebenarnya dan meminta doa untuk Bapaknya yang telah tiada.

“Ibu sama Bapakmu sudah menitipkanmu kepada saya, saya juga janji mau bantuin kamu nak nah ini cara saya memenuhi janji saya kepada kedua orang tuamu dan kamu. Saya temani kamu cari Bapakmu itu ya”

 


 

10 Januari 2016, Pambota Jara

Kedatangan tiga dokter baru di puskesmas merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi warga desa mengingat mereka kekurangan tenaga ahli medis untuk membantu mereka. Pak Yohanes, kepala Desa dan sekretarisnya pak Nale datang menyambut mereka di puskesmas dengan membawa dua sisir pisang hijau yang mereka panen dari kebun belakang kantor kepala Desa yang kebetulan sudah matang saat kedatangan tiga dokter itu. Salah satu dari dokter yang akan bertugas adalah Kartika, wanita yang memiliki mata yang akan menghilang setiap kali tersenyum, wanita berumur empat puluh lima tahun, satu-satunya dokter senior yang datang yang kemudian hari akan melukis cerita tersendiri di desa Pambota Jara.

11 Januari 2016, Pambota Jara

Kartika memulai hari pertamanya sebagai dokter di Puskesmas tepat di hari Senin yang cerah dengan perut yang cukup kenyang berkat pemberian ikan goreng dari tetangga sebelah rumah kontraknya beserta dua rekan sejawatnya yang lain. Baru satu malam datang, Kartika sudah bisa berbaur dengan Ibu-Ibu di sekitarnya karena memiliki umur yang sepantaran serta kecemasan yang sama sebagai seorang Ibu. Menjawab pertanyaan dari setiap Ibu alasan mengapa seorang dokter beranak laki-laki menerima untuk diberi tugas jauh dari sang anak, apakah suaminya tidak masalah? Kartika menjawab semua pertanyaan dengan senyum khasnya, nada ikhlas terdengar jelas di setiap kata dan kalimat Kartika ketika menceritakan bahwa ia telah bercerai dari suaminya.

Kartika yang tengah menyapa para pegawai Puskesmas yang nantinya akan menjadi teman kerjanya selama dua tahun kedepan bertemu dengan sosok Lodu dengan seragam hijaunya di depan meja pendaftaran. Lelaki berdarah Sumba dan wanita berdarah Sunda jatuh cinta pada pandangan pertama mereka diumur keduanya yang tak lagi muda, tapi cinta adalah hal magis yang mampu mengubah semuanya, termasuk detak jantung Kartika yang kembali berdetak seperti dua puluh lima tahun lalu, ketika ia pertama kali mengenal cinta.

 


 

Lodu kemudian memiliki alasan untuk datang ke desa di setiap minggu atau hari liburnya, yaitu untuk bertemu Ibu dokter Kartika. Semua warga sudah mengetahui tabiat Lodu yang tiba-tiba datang membawa ikan goreng atau kue manggulu dalam jumlah yang banyak. Lodu akan mengaku bahwa ia sengaja membelinya untuk dibagikan kepada tetangganya yang lain pada kenyataannya ia ingin memberikannya kepada Ibu dokter Kartika yang setiap Minggu paginya akan duduk di teras depan rumah kontraknya sembari berbincang dengan orang yang tengah ia ukur tensi darahnya.

Setelah satu bulan berusaha mencuri hati sang pujaan hati, Lodu memutuskan untuk mengajak Kartika ke tahap yang lebih serius. Lodu dengan yakin menerima semua keadaan dan kondisi Kartika, anak semata wayang Kartika dan masa lalu Kartika. Hubungan Kartika dan Lodu bukanlah sepasang kekasih, keduanya merasa aneh jika harus berpacaran di umur yang sudah di kepala empat.

“Aa, nanti kalau ketemu Wonwoo aku boleh ngga kenalin Aa jadi temen aku dulu? Aku takut”

“Boleh neng, sebaiknya gimana aja neng, aku percaya kok sama kamu”

Lodu yang orang asli pulau Sumba itu memilih memanggil Kartika dengan panggilannya semasa gadisnya dan mempersilahkan Kartika untuk memanggilnya Aa. Menurut Lodu, Kartika itu cocok sekali dipanggil ‘neng’ karena pipinya akan merona acap kali ia memanggilnya.

Semua warga sudah tau bahwa hubungan dokter dan tentara itu sudah semakin dekat dan akan segera meresmikan hubungan mereka di tali pernikahan. Warga akan dengan sengaja menggoda mereka untuk melangsungkan pernikahan di Pambota Jara setelah menikah di Jakarta. Mereka dengan senang hati akan menyiapkan segala kebutuhan pernikahan jika keduanya bersedia menikah di desa.

“Nanti nikahnya disini aja ya Lodu, bu dok. Ini kan pernikahan pertama Lodu, nanti kita rayakan seperti kita merayakan pernikahan Nale dan Mbolu. Gimana gimana?”

Keduanya tersipu malu mendengar godaan dari nenek Yohana yang tengah mengunjungi rumah kontrak Kartika karena mengeluh sakit perut.

 


 

“Tapi semuanya tidak pernah terjadi, Mingyu. Bapak dan Ibu hanya menikah di hadapan Tuhan saja, tak ada sorakan selamat dari tetangga maupun teman”

 


 

“Halo, Ibu”

Wonwoo merasakan tenggorokannya bergetar, jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia bisa mendengarnya di dalam kamarnya yang gelap, nafasnya tertahan agar tangisannya tidak terdengar. Hari ini setelah satu bulan ia ditemani sahabat Bapaknya dan Mingyu yang selalu hadir di akhir harinya, Wonwoo memiliki keberanian untuk menghubungi wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini, menjaga dan menimangnya, memberikan semua cinta dan memberinya kesempatan kedua untuk merasakan rasanya memiliki seorang Bapak.

“Ibu.. maafin Wonwoo.. Ibu.. maaf..”

Tangis yang sudah ia tahan, isak yang ia telan dan air mata yang terus ia usap akhirnya pecah menyatu dan melebur menjadi satu ketika ia mendengar suara lembut milik Ibunya setelah beberapa bulan tidak ia dengar. Ibunya yang mendengar tangisan anaknya dan ucapan permintaan maafnya meminta Wonwoo untuk berhenti meminta maaf dan mengatakan ‘ngga apa-apa sayang, yang penting kamu baik’ . Ibu dan anak itu semalaman suntuk saling berbagi cerita apa saja yang belum diceritakan oleh Wonwoo termasuk kehadiran Mingyu yang menuntunnya kembali ke jalan yang sedari awal hendak ia lalui. Pertemuannya dengan pak Mbolu dan adik perempuannya bernama Lia, pak Nale yang selalu menemani langkahnya dan warga desa yang menyambut kehadirannya serta titipan salam untuk Ibu dokter Kartika, Ibu Wonwoo.

“Wonwoo kangen Ibu”

“Kan Ibu selalu sama Wonwoo”

“Ibu ngga disini”

“Kata siapa? Wonwoo tau ngga arti nama Ibu apa?”

“Apa?”

“Bulan”

 


 

Seluruh proyek pekerjaannya bersama Soonyoung dan Jihoon telah sepenuhnya rampung, tersisa pekerjaan terakhir di hari pernikahan keduanya di awal tahun depan. Ada beberapa pekerjaan dan proyek yang masih dapat Mingyu kerjakan dari jauh karena posisinya di studio miliknya dan kedua temannya sebagai fotografer dan editor, sedangkan Minghao yang mengatur jadwal serta berhubungan langsung dengan client . Mingyu masih mengingat janjinya kepada Wonwoo bahwa dia akan datang menemuinya setelah semua pekerjaannya di Jakarta telah usai. Email berisi tiket elektronik pesawat keberangkatannya menuju Sumba telah masuk lima menit yang lalu, kali ini Mingyu membawa banyak perlengkapan serta kebutuhan karena dirinya ingin mengunjungi Wonwoo selama mungkin, selama yang ia bisa, dan akan selalu ia usahakan untuk bisa.

Wonwoo nya itu, dokter Wonwoo yang ia lihat pertama kali di depan warung milik Lia terlihat tampan dengan balutan kemeja serta celana bahan, badannya tinggi berisi, wajahnya cantik meski dari samping, persis seperti tipe idealnya (menurut Seokmin). Kemudian bertemu lagi di puskesmas sebagai dokter, jas dokternya menambah wibawa dirinya, caranya bertutur kata dan senyum ramah penuh formalitas mampu menghipnotis Mingyu untuk kedua kalinya. Lalu ketika ia melihat sosok itu menjatuhkan jas dokternya, tubuhnya yang menunduk menangis memegangi kedua lututnya di pinggir jalan secara magis menarik perhatian Mingyu yang tengah menyetir mobil sewaannya untuk berhenti mendadak dan meminta Seokmin kembali sendirian. 

Semakin Mingyu mengenalnya, semakin yakin perasaannya kepada sosok pria yang ia temui di tanah Sumba itu. Jarak yang memisahkan mereka selama satu bulan tidak mengurangi perasaannya sama sekali, selalu ada tarikan magis terpancar dari tubuh, wajah, serta suara Wonwoo yang mampu membuat Mingyu tertahan pada posisinya, tidak ingin menjauh justru ingin semakin cepat untuk bisa merengkuh tubuh itu. Esok lusa Mingyu akan menemui cintanya, menggenggam tangan lembut dan lentik itu dan menemaninya dalam suka maupun dukanya.

Kedatangannya ke pulau Sumba kali ini memiliki tujuan yang jelas, ia paham betul kemana ia harus menentukan alamat yang akan ia tuju menggunakan bus umum. Mingyu tidak memberitahu Wonwoo sebelumnya jika ia akan kembali untuk menemuinya, biarkanlah kedatangannya menjadi sebuah kejutan dan hadiah atas kerja keras Wonwoo selama satu bulan ini, Mingyu siap jika kali ini giliran dirinya yang harus mencari Wonwoo di desa Pambota Jara.

 


 

Langit sudah menunjukan rona gelap dengan sedikit cahaya ungu dan oranye di ufuknya, jam menunjukan waktu masuk makan malam, angin malam mulai berhembus meniup kemeja yang tidak ia kancing. Mingyu melangkahkan kakinya menuju puncak bukit Wairinding, lokasi pertama dan terakhir pencariannya. Seperti dugaannya, lelaki yang ia cari tengah memeluk kedua kakinya dan duduk di rumput hijau yang mulai terkikis karena sering terinjak langkah manusia. Setengah jam lalu Mingyu telah sampai di desa dan segera bergegas menuju rumah kontrak Wonwoo dan mendapati rumah itu kosong, tanpa pikir panjang Mingyu meletakan koper abu-abunya sembarangan dan berlari menuju bukit Wairinding.

“I found you”

Lelaki yang tengah menatap bulan yang mulai memperlihatkan cantiknya terkejap mendengar suara yang selama ini hanya bisa ia dengar dari panggilan jarak jauh, badannya berbalik dan segera berlari untuk memeluk kekasihnya itu.

You’re here , Mingyu”

Direngkuhnya tubuh yang lebih kecil seerat mungkin, diciumnya ceruk leher sang kekasih dan diusap punggung serta pinggangnya. Keduanya berpelukan hingga matahari sepenuhnya hilang dan digantikan bulan yang menyinari keduanya.

I’m always here, Wonwoo

Suara jangkrik menemani malam mereka di bukit Wairinding yang dingin karena terpaan angin malam serta sebuah lampu parafin yang dibawakan oleh pak Kades untuk menemani malam pertemuan mereka kembali. Dengan sebuah selimut tipis yang dibawa oleh pak Kades, mereka saling berbagi kehangatan tubuh mereka dengan Mingyu yang duduk dan memeluk Wonwoo dari belakang sembari keduanya menatap semua pemandangan menakjubkan yang ada di sekeliling mereka. Gundukan bukit hijau yang menggelap, kunang-kunang yang terbang kesana kemari, serta bintang dan bulan yang siap mendengarkan cerita yang akan mereka ceritakan.

“Lucu ya Mingyu”

“Apanya?”

“Hidupku”

Kepala sang fotografer ia letakkan di pundak kanan sang dokter, sesekali mengecup pipi dan lehernya penuh cinta serta kasih. Mingyu sesekali menghirup parfum beraroma sandalwood milik Wonwoo yang telah ia rindukan sejak hari pertama kakinya menapak di bandara Soekarno-Hatta. Jika sebulan yang lalu tugas Mingyu adalah untuk membantu sepasang kekasih mengabadikan momen romantis mereka dalam sebuah foto pra-pernikahan, kini kembalinya Mingyu ke tanah sumba untuk membantu kekasihnya melepas yang lalu dan mencoba memeluk yang masih ada dan bersamanya.

“Bisa dibilang aku mati-matian menahan rindu karena kangen Bapak dan Ibu, mencari jawaban atas pertanyaan dan keinginanku, menahan diri untuk tidak menangis, menahan ego untuk tidak meminta tolong. Ternyata semuanya bisa selesai dalam waktu satu bulan saja. Dalam satu bulan aku bisa menyusun kepingan puzzle tentang Bapak yang terlambat aku kumpulkan ketika Bapak masih hidup”

Air mata Wonwoo kembali menetes dari kedua mata beningnya yang terlindungi dengan kacamata kesayangannya itu. Kali ini Mingyu tidak ingin menghentikan butiran air yang turun, ia biarkan agar air mata dari seorang anak yang merindukan sosok Bapaknya itu bisa tersampaikan oleh tanah Sumba, tempat kelahiran sang Bapak kepadanya secara langsung.

“Aku cari-cari Bapak, aku terus bertanya, dimana ya aku bisa menemukan Bapak? Ternyata Bapak itu ada dimana-mana dan selalu menemani aku Mingyu. Seperti sekarang, Bapak saat ini sedang menyinari bulan yang terus menemaniku setiap malam, bapak juga ada waktu pagi hingga petang”

Kini tangan kanan Wonwoo melepaskan diri dari pelukan Mingyu dan menunjuk ke arah bulan yang saat itu tidak menampilkan bentuknya secara sempurna, tapi ia bersinar paling terang diantara bintang-bintang.

“Dengan sinarnya, bapak sedang menyampaikan kasih dan sayangnya melalui bulan, dan bulan yang saat ini aku tinggalkan jauh disana mengirimkan raganya yang lain untuk menemaniku. Ibu, si bulan itu, dengan seluruh cinta yang ia terima dari Bapak kini tengah membagikan cinta itu kepadaku”

Mingyu yang belum terlalu mengerti maksud dari perkataan sang kekasih yang masih menatap bulan diatas sana hanya terdiam dan turut mengamati bulan yang perlahan tertutup awan dan kembali sepenuhnya terlihat lagi.

“Lodu.. Bapak itu matahari, arti nama Lodu itu matahari, Mingyu. Dan sang matahari telah bertemu dengan bulannya. Orang tuaku selalu ada untukku di setiap jamnya”

Kali ini Mingyu tersenyum ketika dirinya melihat ke langit malam yang ramai akan bintang yang tengah menemani rembulan di atas sana. Ia teringat akan sesuatu ketika Wonwoo memulai membahas arti nama kedua orang tuanya itu, dan ingin sekali ia menyampaikan kepada Wonwoo bahwa bukan hanya Bapak dan Ibunya saja yang selalu menemaninya, ada Mingyu, sang bintang.

“Mingyu”

“Iya Wonwoo?”

“Katanya, kalau orang meninggal itu nanti jadi bintang, aku tau mereka mengatakan itu untuk menghibur orang yang sedang berkabung. Tapi setiap malam setelah Bapak pergi meninggalkanku, aku selalu menatap ke arah langit, dan aku merasa kosong, aku seperti tidak bisa menemukan bintang yang menurut aku itu bintang bapak. Tidak ada bintang yang bersinar sangat terang”

“Wonwoo, sayang.. the sun is also a star sayang

Tangisan Wonwoo semakin keras dan air matanya turun semakin deras setelah satu tahun perjalanannya mencari sosok Bapak dengan menahan perasaan yang ia rasakan pada akhirnya terlepas semua. Wonwoo meraung, memanggil nama sang Bapak dan menangis mengucap rindu kepada sang Ibu, Wonwoo terisak, tidak ada kalimat yang bisa Mingyu dengar dengan sempurna. Wonwoo akhirnya berhenti setelah setengah jam menghabiskan tenaga untuk mengeluarkan semua perasaan terpendamnya.

Wonwoo, now you have the sun, moon, and me, Mingyu who is a star, we will always be there for you day and night. Please be happy, my baby

“Mingyu, aku mau pulang, kangen Ibu”

“Iya Wonwoo, kita pulang ya?”

 


 

Perjalanan Wonwoo kembali ke masa lalu akhirnya telah usai, kakinya melangkah menuju tempat yang tidak pernah ia datangi sebelumnya. Satu tahun yang lalu Wonwoo datang dengan perasaan yang tidak menentu, marah kepadanya dirinya sendiri, sedih karena kepergian sang Bapak, cemas karena harus meninggalkan Ibunya seorang diri di Jakarta, bingung karena tidak tahu harus memulai darimana.

Selama satu tahun Wonwoo terus berdoa kepada Tuhan untuk diberikan petunjuk dimana dan kapan dia harus memulai perjalanan menuju masa lalu sang Bapak, hingga akhirnya ia bertemu sosok Mingyu sang bintangnya yang bisa ia peluk dan kecup. Mingyu merupakan perpanjangan tangan dari Tuhan, melalui Mingyu ia diberi petunjuk serta dituntun untuk kembali ke rencana awalnya, bersama Mingyu ia bisa menemukan sang Bapak, bersama Mingyu ia belajar mengikhlaskan, bersama Mingyu ia kembali pulang.

Meski butuh waktu satu tahun lagi untuk menyelesaikan pengabdiannya, Wonwoo menyelesaikannya dengan hati yang lapang dan langkah kaki yang ringan. Jika setahun yang lalu orang-orang melihatnya sebagai sosok yang pendiam, setahun berikutnya mereka melihat Wonwoo sebagai sosok dokter muda yang ceria dan penuh tawa. Hubungan Mingyu dan Wonwoo mengalami ujian dimana mereka harus berhubungan jarak jauh dengan perbedaan waktu serta lingkungan, hubungan mereka tidak semulus hari pertama mereka menjadi sepasang kekasih, tapi komunikasi serta pelajaran cinta yang Wonwoo dapatkan dari kedua orang tuanya bahkan dari ayah kandungnya membuatnya paham dan mengerti hal yang seharusnya dilakukan oleh sepasang kekasih.

Percaya dan komunikasi.

Hari ini Wonwoo kembali menjadi salah seorang yang akan merasakan hiruk pikuk Ibukota, dua buah koper besar yang berisi pakaian serta beberapa oleh-oleh menemani Wonwoo menunggu keberangkatan pesawatnya di lounge bandara. Akhirnya, Wonwoo bisa kembali dengan hati yang penuh serta sepenuhnya ikhlas menerima kepergian sang bapak, Lodu.

Panggilan pesawatnya telah terdengar, tubuhnya berdiri dari duduknya dan menggenggam sebuah koper berwarna hitam metalic dan membiarkan koper berwarna merah tidak tersentuh sembari menunggu sang pemilik kembali dari kamar mandi. Kekasihnya, pujaan hatinya, cintanya, dan bintangnya, Mingyu.

“Wonwoo, pulang kan sama aku?”

“Iya, pulang sama Mingyu”


The End

Notes:

Hai! Terima kasih yang udah baca ini dari awal Mr. Sun terbit, buat yang baru baca juga terima kasih banyak atas waktunya ngebut sehari. Cerita ini punya latar tempat yang asli, tapi untuk nama dan kejadian sepenuhnya fiksi. Maaf jika ada salah-salah nama, nama tempat, dan peristiwa ya, semua kritik dan saran aku terima melalui curiouscat aku di akun twitter aku x.com/mingyoori.

Mr. Sun sendiri punya cerita extended cut (mature) dan masih dalam progres pembuatan, buat lebih lanjutnya bisa di cek di twitter aku ya! Sampai jumpa di cerita selanjutnya.

- C

Notes:

Awalnya aku ingin menyelesaikan cerita ini dan menguploadnya sekaligus, tapi ternyata sudah terlalu banyak yang aku tulis dan aku memutuskan untuk membaginya menjadi dua bagian. Aku amat sangat menerima kritik serta saran dan tanggapan kalian untuk cerita ini karena kudos serta comment kalian begitu berharga bagiku untuk melanjutkan cerita ini.