Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-02-08
Updated:
2024-02-08
Words:
2,515
Chapters:
2/5
Kudos:
7
Hits:
181

URU HARA KESEHARIAN RENSHIN

Chapter 2: Kekhawatiran Ryushin Untuk Ulang Tahun Ren

Summary:

Ryushin harus menghadiahi apa kepada Ren di hari Ulang tahunnya?

Notes:

Selamat membacaaaaaa^^)//

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

5 menit berlalu, Ryushin menatap kosong pada meja dihadapannya. Hari ini hari liburnya dari kegiatan grup, tidak disangka libur sendirian seperti ini sangat membosankan dan membuatnya kesal.

Jam menunjukkan pukul 9 pagi. Sejak pagi dia sibuk membersihkan apartemennya, sekarang dia tidak tau harus melakukan apa lagi sendirian.

 

Drrtttt Drrtttt…

Bunyi getar dari ponsel yang sedang di cas memecah lamunan Ryushin dari posisinya. Buru-buru beranjak dari sofanya dan meraih ponsel yang bergetar karena selesai di cas sejak 2 jam yang lalu.

 

‘Ryushin, kamu bisa menyiapkan hadiah untuk Ren, kan?’

 

Sebuah notifikasi pesan dari ryoga sejak satu jam lalu membuat Ryushin berfikir keras. “Hadiah untuk apa?” guman Ryushin dalam hati.

Ryushin, memang bukan tipe yang suka mengobrol di ruang pesan lama-lama. Akan lebih cepat jika dia bertanya langsung lewat telpon.

 

“Halo.”

“Halo, Oh ya Ryushin ada apa?” suara Ryoga disebrang telfon terdengar dari speker telpon yang diaktifkan Ryushin.

“Kamu mengirimkan pesan tadi, Hadiah untuk apa yang kamu maksud?”

Suara tertawa kecil ryoga terdengar dari seberang telpon Ryushin. “Jangan bilang kamu lupa besok Ren ulang tahun?”

Ryushin segera menatap kalender di dinding Apartemennya. Benar saja, besok tanggal yang dia bulletin karena itu adalah ulang tahun Ren.

“Astaga…Aku melupakannya…Bagaimana ini?” Ryushin menatap bingung dan mengerjapkan matanya berkali-kali, Bagaimana dia bisa selupa ini untuk ulang tahun temannya itu.

“Ya sudah, Kamu belikan sesuatu saja untuk Ren sekarang. Kue tidak perlu, Seperti biasa manager pasti akan menyiapkan kue untuknya.”

Ryushin menatap Jam di dindingnya. Lalu, segera beranjak untuk memilih mantel dan topi hangat dan segera pergi mencari hadiah.

“Ryushin!”

Suara dari speker handphone memberhentikan gerakan Ryushin untuk berlalu meninggalkan ponselnya. Dia lupa menutup panggilannya dengan Ryoga.

“Iya Ryoga-san?’

“Jika kamu pergi membeli hadiah, aku titip Sebuah handuk seharga 5.000-8000 yen untuk Ren ya. Bungkus saja dengan totebag apapun. Hari ini aku ada rekaman dengan Weesa, jadi aku minta tolong ya.”

“Hmm…Baiklah.”

Panggilan berakhir dan Ryushin segera menyiapkan diri untuk mencari hadiah.

 

 

Sudah 2 jam dia memutari pusat perbelanjaan untuk mencari hadiah yang cocok untuk Ren. Handuk yang di titipkan Ryoga juga sudah dibelinya sejak tadi. Rasanya aneh jika Hadiah Ryoga untuk Ren mudah di temukan, tapi hadiah darinya untuk Ren hingga saat ini belum ada yang pas di hatinya.

Ren bukan tipe yang menggemari barang barang mahal, bukan juga yang menyukai sesuatu secara fanatik dan bukan seseorang yang suka dengan hal yang nyentrik.

 

“Jadi apa yang harus aku belikan untuknya?” gumam Ryushin.

 

“Eh?! Ryushin-kun?” Suara yang tidak asing membuat Ryushin yan fokus dengan ponselnya menatap seseorang dengan jaket tebal berwarna putih didepannya. “Kamu sedang membeli sesuatu?”

 

“Kokoro?” Sebuah pertemuan yang tidak disangka. Kokoro yang sedang menenteng sebuah totebag berwarna putih tersenyum cerah menatap Ryushin.

“Sedang membeli sesuatu?” ulang Kokoro kepada Ryushin. “iya, aku membeli handuk titipan Ryoga-san dan membeli hadiah lainnya.”

“Ah, sayang sekali kita baru bertemu sekarang, aku baru saja memesan mobil untuk pulang.”

“Tidak apa, aku bisa melanjutkan kegiatanku sendiri.”

“Baiklah, aku duluan ya Ryushin-kun.” Kokoro melangkah maju dan melambaikan tangannya meninggalkan Ryushin. Ryushin dengan sigap membalas lambaian Kokoro dan ikut melanjutkan jalannya.

 

Sebuah toko di ujung Lorong membuat Ryushin menghentikan langkahnya. Sebuah dompet yang dipanjang didepan toko memiliki desain simple dan berwarna maroon membuat dirinya terpana. “Ren pasti akan menyukai dompet maroon ini.” gumamnya.

 

Ryushin segera membeli dompet dan mendapatkan totebag berwarna putih yang berisikan sebuah dompet untuk Ren. Besok dia akan memberikan hadiahnya untuk Ren.

“Tuan, Apakah anda tidak ingin membeli salah satu benda yang kami jual promo di laci sebelah kanan?” kasir menawarkan Ryushin untuk membeli salah satu benda yang menjadi promo ditokonya. Lama melihat kearah tumpukan barang, Ryushin merasa alat penggaruk punggung berbentuk tangan menyita perhatiannya.

“Aku akan mengambil penggaruk punggung ini.”

“Baik tuan, apakah disatukan kedalam totebag?”

“Oke.”

 

 

8 Februri 2024

Ryushin membuka ruangan grup dan menatap sekekeling ruangan. Jimmy dan Tsurugi terlihat sedang asik dengan ponselnya. Manager-san sedang menyiapkan umbul-umbul untuk perayaan Ren bersama dengan Ryoga.

“Ren belum datang?” tanya Ryushin kepada Tsurugi dan jimmy.

“Belum, dia bilang akan datang telat bersama Kokoro.”

Ryushin menautkan alisnya bingung. Bukankah hari ini Ren libur? Kenapa dia bersama kokoro hari ini?.

Baru hendak bertanya kembali. Tiba-tiba pintu di belakangnya terbuka dan Weesa masuk membawa kue di tangannya. Baik Ryoga, Tsurugi, dan Jimmy segera menghambur kearah Weesa, lalu menuntunnya meletakkan kue yang berukuran 40cm x 30 cm itu diatas meja.

“Woahh! Kuenya tidak dibeli ya?” Ryushin mendekati kue itu dan mengamati dekorasi unik diatasnya.

“Kokoro dan Weesa yang membuatnya.” Celetuk Ryoga membuat Ryushin menjadi lesu. Kenapa mereka tidak mengajaknya membuat kue?

Walau perasaannya sedikit sendu, tapi Ryushin berusaha mengalihkan pikirannya dan segera membantu manager-san untuk membetulkan umbul-umbul ulang tahun Ren.

 

30 menit berlalu, Ren dan kokoro datang bersama dengan beberapa botol alcohol dikantong. Hari ini seperti merayakan hari besar, MV mereka tembus 4 Jt Viewers dan menjadi pencapaian yang baik untuk karir mereka.

 

Ren meniup Kue dan memotongnya dengan malu-malu. Rasanya seperti anak kecil saja ulang tahun jika dirayakan, ucap Ren sebelum memotong kuenya. Secara bergantian member memberikan hadiahnya untuk Ren. Tsurugi sebagai yang tertua segera memberikan hadiahnya duluan. Kacamata Rayband berwarna hitam hadiah dari Tsurugi segera dipasang Ren pada kedua matanya. Hadiah Handuk dari Ryoga, Topi dari Jimmy, dan Jam tangan dari Weesa.

 

Kini giliran Kokoro yang memberikan hadiahnya. Sebuah totebag yang mirip dengan Ryushin bawa.

“Eh, Aku fikir Ryushin membawa totebag yang sama dengan Kokoro?” celetuk Ryoga kepada Ryushin mengalihkan perhatian semua kearah totebag ditangan Ryushin. Benar saja, totebag ini sama persis dengan yang Kokoro berikan kepada Ren.

 

Rasanya Ryushin ingin menghilang saja dari ruangan itu. Firasatnya buruk, apa jangan jangan hadiahnya pun sama dengan Kokoro?.

 

Dompet Maroon yang sama persis dengan yang dibeli ryushin kini berada digenggaman Ren. Benar sudah Firasat Ryushin sekarang.

“Woah, Kokoro dompetnya sangat bagus. Cocok sekali dengan selera Ren.” Weesa terlihat bertepuk tangan dan mengacungkan jempolnya ketika melihat dompet dengan desain simple dari Kokoro.

 

Ryushin yang tidak tau harus apa, hanya menggenggam totebagnya dalam diam. Lama-lama tangannya menjadi refleks memundurkan totebag putih ditangannya kearah punggung.

“Hadiahku mana?” Suara Ren membuat Ryushin menunjukkan cengirannya dengan canggung. Masa dia mau memberikan hadiah yang sama dengan Kokoro?

 

“Aku tinggalkan dirumah ternyata.”

Ryoga menatap aneh Ryushin dengan cepat. Jelas-jelas anak itu membawa totebag putih tadi. “Itu dibelakang punggungmu, Hey.” ucap Ryoga.

 

Weesa yang disamping ryushin membantu Ryushin untuk mengambil Totebag yang berada di punggungnya. “Ini kamu bawa Ryushin-san.”

 

Panik hadiahnya ditemukan, membuat Ryushin menyentak dirinya dengan berdiri lebih cepat. “Itu sama dengan milik Kokoro!”

Hening seketika membuat kecanggungan diantara mereka, Ryushin rasanya ingin menangis saja jika taunya jadi begini.

 

Ren yang semula bingung dengan keadaan perlahan mengambil totebag putih dari Weesa, lalu tersenyum kearah Ryushin dengan lembut. “Ryushin-kun kamu boleh duduk dulu, aku tidak apa serius.” Ucapan lembut dan sumringah Ren membuat Ryushin dengan perlahan kembali duduk ditempatnya.

 

“Jadi ini benar hadiah untukku, nih?” Ren mengakat totebag putih itu dan tertawa kecil kearah Ryushin.

“Tapi, aku tidak ingin itu diterima olehmu.” Lirih Ryushin yang mukanya sudah merah padam.

 

Ren mengintip Totebag itu dan menemukan dompet yang sama dari kokoro didalamnya. Ren ingin sekali tertawa, tapi muka melas ryushin lebih lucu lagi ketika tau hadiahnya sama. “Sepertinya hadiahnya tidak sama, tuh.”

 

Mendengar ucapan Ren membuat Ryushin menatap bingung kearah Ren. Ren merogoh isi dalam Totebag dan menemukan penggaruk punggung sebagai barang lain didalam totebag. “Lihat! Katamu barangnya sama dengan miliki Kokoro.” Ucapan ren dengan tangan menyembulkan sebuah penggaruk punggung berbentuk tangan keluar dari totebag putih itu. Penggaruk dengan desain ketinggalan zaman membuat Tsurugi tertawa kencang.

 

Ryushin menghadiahi Ren penggaruk punggung untuk orang tua, Hahahaha.

 

Keadaan yang semula canggung perlahan cair dan perhatian mulai teralihkan kepada hal lain.

Kokoro yang memainkan gitar serta Weesa yang bernyanyi membuat semua orang terfokus kepada mereka, bahkan hiburan dari manager-san membuat acara menjadi lebih meriah.

 

 

“Terimakasih hadiahnya.” Ucap Ren yang menghampiri Ryushin yang sedang duduk setelah memakan kentang goreng ditangannya.

“Aku tidak tau dompetnya akan sama dengan pemberian Kokoro.” ucap Ryushin

Ren tertawa kembali dan mencoba penggaruk dari Ryushin. “Rasanya enak kok digaruk dengan ini.” candaan Ren membuat Ryushin tertawa. Setidaknya dia bersyukur bahwa dia memutuskan membeli barang lain selain dompet itu.

 

“Kamu mau mencobanya?” Ren menawarkan penggaruk punggung itu kepada ryushin. Ryushin sedang tidak gatal, untuk apa dia mencobanya?.

“Tidak, kamu saja.”

Semakin ditolak, semakin membuat Ren menjadi iseng. Ren dengan cepat menggaruk punggung Ryushin dan membuat Ryushin menggelinjing geli. Tidak tahan karena geli, Ryushin berlari dari duduknya dan menghindari Ren yang masih ingin menjahilinya.

Notes:

Saya Senang Hari Ini Ren Ulang Tahun!!!
Semoga Psychic Fever semakin dikenal orang dan sering mengunjungi kami di Indonesia<3

aku mencintai kalian Psychic fever<3 <3 <3
^^)//

Notes:

Aku akan terus membuat cerita yang lainnya^^

terimakasih telah membaca kisahnyaaa^^