Chapter Text
Chenle sudah tertidur nyenyak sambil memeluk boneka lumba-lumbanya. Bocah kecil itu tidur sangat nyenyak hingga Haechan bisa mendengar dengkuran halus dari bibir mungilnya.
Tangan Haechan masih menepuk bokongnya pelan. Sesekali ia mengecup dahi dan kepala Chenle. Ia sayang anaknya. Chenle adalah hidupnya.
Haechan bisa mendengar mobil Mark masuk ke halaman rumah mereka. Pagar besar ditutup perlahan oleh satpam dan pintu rumah telah dibuka oleh bibi yang memang sudah Haechan beri pesan untuk menunggu Mark.
Haechan masih di puncak amarahnya. Kepalanya masih sangat pusing dengan segala emosi yang berputar. Ia merasa dadanya masih sangat nyeri dan rasa mual yang ia rasakan juga masih sangat menyakiti perutnya.
Haechan sebenarnya lebih ingin tidur di kamar Chenle malam ini. Tapi, ia bahkan belum mengganti bajunya. Tidak mungkin ia tidur dengan baju yang sudah seharian ia gunakan. Ia juga perlu membersihkan dirinya, setidaknya itu bisa menyegarkan kepalanya.
Mark terlihat duduk di ujung kasur ketika Haechan masuk ke dalam kamar mereka. Pria itu menatapnya dengan penuh harap. Berharap Haechan mau bicara dengannya. Berharap suaminya mau memaafkan dan mendengarkan penjelasannya. Tapi, semua itu tidak terjadi.
Haechan bergegas masuk ke kamar mandi setelah sebelumnya mengambil baju tidur di dalam lemari mereka. Ia tidak mengatakan apapun. Tidak menimbulkan suara apapun, kecuali suara pintu lemari dan kamar mandi yang ia buka dan tutup.
Suara gemericik air tidak lama terdengar. Haechan tengah membersihkan diri. Mark menyadari bila ia juga belum membersihkan diri. Segera ia berjalan ke kamar mandi, mencoba peruntungannya. Haechan punya kebiasaan untuk tidak mengunci pintu kamar mandi setiap pria itu di dalam.
Bingo! Pintu tidak terkunci. Mark perlahan menggeser pintu kamar mandi dan berjalan masuk ke dalamnya. Ia bisa melihat Haechan yang tengah berdiri di bawah pancuran air. Pria itu tidak menyadari Mark yang telah masuk ke dalam kamar mandi.
Haechan tengah membilas badannya ketika merasakan sepasang lengan memeluk pinggangnya.
“Mark?! Apa yang kau lakukan? Keluar dari kamar mandi!” Bentak Haechan yang bukannya membuat Mark mundur, justru semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang suaminya.
“Maafkan aku sayang. Semua yang kamu lihat itu cuma kebohongan. Semua hanya tipu muslihat Angela. Aku tidak mungkin mengkhianatimu.” Suara Mark terdengar sangat lirih. Ada nada memohon yang bisa Haechan tangkap.
Haechan membalikkan badannya pelan. Mark sudah ikut basah bersamanya. Lihatlah bagaimana menyedihkannya pria itu. Bajunya masih lengkap, belum ada satupun yang ia lepas.
Haechan menghela nafas pelan. “Kembalilah ke dalam kamar. Bajumu basah, kau bisa sakit kalau begini terus.”
Mark tidak bergeming. Tangannya masih berada di pinggul Haechan. Sejujurnya, Haechan mulai kedinginan. Pancuran air belum ia matikan, hanya lebih pelan dari sebelumnya. Ia merasa putingnya mulai tegang karena tubuhnya kedinginan.
“Kenapa putingmu tegang? Kau tegang melihatku basah?” Pertanyaan Mark sontak membuat Haechan memukul tangannya keras. Bisa-bisanya pria itu berpikiran jorok setelah apa yang terjadi pada mereka malam ini?
“Aku kedinginan tuan Mark Lee yang terhormat! Sebelum kita berdua sakit karena bermain air terlalu lama, alangkah baiknya bila kau kembali ke kamar dan biarkan aku menyelesaikan acara mandiku.” Mark mengangkat kedua tangannya pasrah. Ia berjalan meninggalkan kamar mandi dan segera berganti pakaian.
Beberapa menit kemudian, Haechan keluar dari kamar mandi menggunakan piyamanya. Ia segera naik ke atas kasur, bergabung dengan Mark.
“Tidak mau mandi dulu?” Mark menggeleng mendengar pertanyaan Haechan.
“Jadi, apa yang harus aku dengar?” Mark meraih tangan Haechan, ia genggam tangan lembut itu erat. Mengatur nafasnya, sebelum memulai penjelasan yang harus Haechan terima.
“Aku tidak tahu Angela disana. Aku sedang di restoran, menunggu kalian semua datang. Angela datang secara tiba-tiba, masuk ke dalam restoran dan langsung memeluk tanganku. Aku terkejut, begitu juga dengan semua orang disana. Kami bingung, restoran sudah dipesan sepenuhnya, tapi bagaimana bisa ia masuk?”
Haechan masih diam. Ia merasa genggaman Mark di tangannya lebih erat dari sebelumnya. Haechan hanya mengelus punggung tangan pria itu lembut.
“Aku sudah berusaha melepas pelukannya, ia tetap memaksa. Bahkan ia beberapa kali mencoba memelukku lebih erat, walaupun aku bisa mengelak. Semua terjadi begitu cepat, aku belum sempat mengusirnya ketika kalian semua datang.”
Haechan mendengarkan dengan diam. Ia mendengarkan dengan seksama setiap kata dan kalimat yang keluar dari bibir suaminya. Mengingat bagaimana kejadian tadi sore sedikitnya mengguncang kepercayaannya. Hatinya sakit, dadanya sesak, kepalanya pusing.
Tapi, dari penjelasan suaminya, bukankah sudah membuktikan bahwa suaminya tidak bersalah? Wanita itu yang memulai semuanya. Bukan salah suaminya.
“Mark …” Belum selesai Haechan melanjutkan kalimatnya, Mark sudah menyela dia. “Hubby. Panggil hubby, bukan Mark.” Haechan tersenyum mendengarnya.
“Hubby, terima kasih sudah menjelaskan semuanya. Terima kasih karena sudah berusaha meyakinkan semuanya. Ya, aku sakit hati. Aneh rasanya justru jika aku tidak marah atau sakit hati bukan?”
Mark mempererat genggaman mereka. Haechan tersenyum, ia balas menggenggam tangan Mark erat. “Iya, wajar kamu sakit hati. Tapi, jangan cuek padaku. Aku tidak bisa jika kau dan baby cuek padaku. Kalian hidupku, apa artinya aku tanpa kalian?”
Haechan tertawa. “Gombal.”
Mark menarik Haechan pelan dan memeluknya erat. “Percayalah, hatiku hanya untukmu. Aku tidak mungkin berpaling dari manisku ini. Kau bisa pegang janjiku.” Haechan tidak menjawab. Hanya anggukan kecil dan kecupan di bahu Mark sebagai jawabannya.
Ia percaya dengan Mark. Walaupun sakit mungkin akan datang padanya karena hal lain di masa depan, ia akan selalu percaya pada pria itu. Mark Lee, suaminya, pria yang jadi ayah dari putranya, semoga dia akan selalu memegang janjinya.
