Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2016-02-28
Completed:
2016-02-28
Words:
3,076
Chapters:
2/2
Comments:
3
Kudos:
42
Bookmarks:
2
Hits:
2,634

Rantai Kata yang Menyiksa

Chapter 2

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Boboiboy terdiam tiba-tiba, membuat Ochobot dan yang lainnya berharap cemas pada Boboiboy. Boboiboy menurunkan lengannya dan tertunduk lesu. Gopal menopang Boboiboy yang melemas. Boboiboy memandang Gopal dan langit di atasnya. Boboiboy mendorong Gopal sejenak, ia kembali bergerak membentuk pose khasnya sebelum berpecah menjadi tiga. Boboiboy melompat ke atas menuju lingkaran cahaya emas yang keluar dari jam tangannya.

Boboiboy berpecah menjadi lima dengan ketiga elemen pertama mode level satu. Boboiboy Angin segera berubah menjadi Taufan dan menangkap sesosok tubuh yang terlihat tidak bereaksi apapun dengan Hoverboardnya. Boboiboy Petir dan Tanah mendarat lalu memandang sosok tubuh yang ikut mendarat bersama mereka. Boboiboy Air. Taufan mendarat dan segera menurunkan posisi Hoverboardnya. Boboiboy Api terlihat tertidur di atas Hoverboard itu. Petir dan Tanah berubah menjadi Halilintar dan Gempa. Air hanya membentuk bola air dan naik ke atasnya seraya meminum iced choco buatan kakeknya yang entah sejak kapan ada di tangannya.

“Apa Api baik-baik saja, Taufan?” Tanya Gempa. Taufan tidak menjawab.

“Tumben kau peduli pada orang ini, Gempa.” Ucap Air sedikit kesal. Gempa mengernyitkan keningnya dan berbalik memandang Air yang terlihat santai di atas bola airnya.

“Orang? Dia ini Boboiboy juga lah!” Ucap Gempa.

“Si penjenayah ini, Boboiboy juga? Huh, bukannya hanya peniru saja?” Ucap Halilintar lebih sarkastik. Gempa berbalik memandang Halilintar yang duduk dengan angkuh di salah satu kursi kedai milik kakeknya. Halilintar melipat tangannya dan terlihat tidak peduli pada sosok yang masih tertidur di atas Hoverboard Taufan.

“Jangan bicara seperti itu Hali! Kau dan Air membuat Api semakin melemah saja!” Bentak Taufan dengan mata berkaca-kaca. Ia langsung menggendong Api begitu mendadak berubah menjadi Angin kembali. Taufan adalah emosi keceriaan Boboiboy, begitu ia menjadi sedih ia akan kembali ke level pertamanya. Angin memandang Api, ia berusaha ceria kembali untuk kembali menjadi Taufan. Taufan menidurkan Api di atas Hoverboardnya.

“Dia itu setan! Menyusup ke dalam Boboiboy dan membentuk peniru itu!” ucap Halilintar. Taufan menggeram kesal.

“Kalau begitu kau pun setan, Halilintar!” Bentak Taufan.

“Apa katamu?” Halilintar berdiri dari kursinya lalu memandang Taufan bermusuhan. Air menjentikkan jarinya.

“Api memang setan. Mana pernah Boboiboy ceroboh sampe buat kebakaran.” Ucap Air. Taufan berbalik.

“Jangan membela Hali, Air! Kau itu sama seperti Api! Kau ni elemen baru!” bentak Taufan.

Gempa menjauh dari pertengkaran ketiga sosoknya yang lain. Ia memandang Api yang tertidur. Dengan posisi menutup kedua telinganya. Gempa meurunkan tubuh Api, memposisikannya berdiri. Api membuka matanya perlahan memandang Gempa. Gempa membuka mulutnya membentuk suatu kalimat tanpa suara. Api melepaskan tangannya dari telinganya lalu tersenyum senang pada Gempa.

“Hahaha!” tawa Api membuat Taufan, Halilintar, dan Air berhenti berdebat. Api memainkan bola apinya dengan riang dan Gempa yang duduk di kursi tanah yang dibuatnya dan menontonnya.

“Tengok nih.” Ucap Api seraya membentuk gegelung api dan memutarnya dengan kedua tangan dan salah satu kakinya. Gempa bertepuk tangan seraya melirik Fang. Fang mendekati Api dan membentuk bayangan harimau.

“Harimau Bayang!” Api melompat, menyatukan gegelung apinya lalu membuatnya melayang sedikit di atas tanah. Fang menggerakan Harimau bayangnya untuk memasuki gegelung api itu. Api tertawa senang.

“Terbaik, Fang! Coba ini!” Ucap Api. Gopal merasa de javu ketika Api melempar gegelung apinya sedikit ke atas dan kembali memisahkan gegelung apinya. Fang merubah harimau bayangnya jadi elang bayang dan melewati gegelung api tersebut satu persatu. Api tertawa senang. Meski tak lama gegelung api itu menghilang bersama dengan terduduknya Api. Gempa menghampiri Api yang terlihat begitu kelelahan.

“Api? Kau baik-baik saja?” tanya Gempa. Api mengusap hidungnya lalu tersenyum seolah tak terjadi apapun.

“Tidak apa!” Ucap Api lalu berdiri lagi. Gempa menopang tubuh Api yang terlihat limbung. Gempa berubah menjadi tanah dan melepas sarung tangan tanahnya. Ia mengusap cairan merah yang mengalir dari hidung Api. Taufan segera mengambil tisu dan mendekati Tanah dan Api. “Aku bilang aku tidak apa!”

“Aku akan percaya seandainya cairan ini berhenti dari hidungmu!” ucap Taufan. Api diam dan mengambil tisu dari tangan Taufan. Ia mengelap darah yang mengalir dari hidungnya. Tanah kembali menjadi Gempa setelah melihat Api bisa menyeka darahnya sendiri. Ochobot berinisiatif untuk segera memindai Api. Kondisi Api stabil, tetapi kekuatannya kini meledak tak terkendali dalam tubuhnya. Membuat Api terluka di dalam tubuhnya sendiri.

“Kenapa gak mau berhenti? Uuh!” Keluh Api lalu memposisikan dirinya untuk tiduran di atas rumput, menggunakan kedua tangannya menjadi bantalan untuk melihat langit. Ochobot terbang di atas kepala Api.

“Kau harus melepaskan tekanan itu, Api.” Ucap Ochobot. Api tertawa.

“Takkanlah tertekan. Ada Air yang suka rilek-rilek, kan?” Ucap Api. Gopal mengernyitkan keningnya.

“Sudah aku duga. Sebelum pingsan tadi Api yang berbicara.” Gumam Gopal. Yaya dan Ying memandang Gopal meminta penjelasan. “Matanya sebelum pingsan tadi berwarna sama dengan warna mata Api yang jingga.”

“Tapi kau tertekan Boboiboy, err..., maksudku Api!” Ucap Fang. Api tertawa semakin kencang hingga terbatuk dan memuntahkan cairan merah yang sama. Api mendudukkan dirinya.

“Tidak, Fang! Semua baik-baik saja, Boboiboy tidak tertekan lagi lah!”

“Jangan menyangkal dirimu Api!” Ucap Yaya.

“Yalo! Boboiboy memang tak tertekanlah! Yang tertekan itu kau sendiri!” Tambah Ying.

“Aku? Aku tidak tertekan..., jangan mengarang cerita deh.” Ucap Api seraya mengusap mulutnya. Gempa memeluk Api dari belakang.

“Kau juga ‘Boboiboy’. Kau bisa membohongi mereka, tapi tak bisa membohongi ‘Boboiboy’ yang lain.” Ucap Gempa. Api mendengus.

“Yah, baiklah.” Ucap Api. Ia mendorong Gempa hingga agak jauh. Gempa yang terdorong hingga menabrak pohon langsung berusaha melihat Api. Api membentuk bola api yang besar di atas tanah lalu masuk ke dalamnya.

Bola api itu berkobar tetapi seperti ada rantai yang mengikatnya hingga tak begitu kuat kobarannya. Gempa memandang asal mula rantai-rantai itu, berasal dari berbagai tempat. Salah satunya, masing-masing tubuh orang yang ada di sana. Papa Zola, Tok Aba,Yaya, Ying, Gopal, Fang, Halilintar, Taufan, dirinya, dan Air bahkan Ochobot. Ketebalan masing-masing rantai berbeda. Miliknya dan milik Taufan begitu tipis seperti sebuah tali. Sementara milik Halilintar dan Air begitu tebal layaknya pipa besi.

“Ha! Bersembunyi lagi, kau ni memang setan yang pantas mati!” Ucap Halilintar sarkastik. Rantai yang berasal dari Halilintar terlihat menebal dan semakin menghimpit kobaran bola api itu.

“Hentikan Halilintar! Dia thu Boboiboy juga! Sama seperti kau dan aku!” Bentak Taufan. Rantai yang berasal dari Taufan semakin menipis.

“Sama? Dia hanya peniru Taufan!” bela Air. Sama seperti Halilintar, rantai milik Air juga semakin menebal.

“DIAM!” Bentak Gempa dan membuat semuanya memandang Gempa. “AKU PAHAM SEKARANG!” Gempa mencoba mengambil rantai yang berasal darinya. Halilintar, Taufan, Air, dan yang lainnya bingung dengan gerakan Gempa. Mereka sepertinya tidak dapat melihat rantai yang dipegang olehnya. Gempa berusaha memutuskan rantai itu.

“Awalnya ‘Boboiboy’ tertekan karena keinginan penduduk desa yang menjadikan ‘Boboiboy’ pahlawan di usia semuda ini. ‘Api’ mengambil semua tekanan ‘Boboiboy’ agar ‘Boboiboy’ tepatnya ‘Halilintar’, ‘Taufan’, dan aku tetap dapat menjadi pahlawan yang diinginkan penduduk desa. Tapi, tekanan terus datang memenuhi pemikiran ‘Boboiboy’ dan ‘Api’ akhirnya jenuh dengan semua tekanan yang diambilnya. Akhirnya berinisiatif untuk melepaskannya. Namun, ketika melepaskan tekanan ‘Boboiboy’ muncul tekanan baru yang lebih berat dari ‘tekanan Boboiboy semata’.

“Tekanan baru ini tidak menekan ‘Boboiboy’ seperti biasanya. Tekanan baru itu, kini langsung menyerang ‘Api’. Kemunculan ‘Air’ memperparah tekanan pada ‘Api’. ‘Boboiboy’ menyalahkan ‘Api’ dan tekanan yang dibawanya. Padahal tekanan yang dibawa ‘Api’ adalah tekanan ‘Boboiboy’ sendiri. ‘Api’ tersiksa. Inisiatifnya untuk melepaskan tekanan ‘Boboiboy’ membuat ‘Boboiboy’ menyalahkan dirinya. ‘Api’ berhenti untuk melepaskan tekanan ‘Boboiboy’ dan membuat ‘Api’ tersiksa akan tekanan ‘Boboiboy’ dan tekanan pada dirinya sekaligus. ‘Api’ tak bisa melepaskan tekanan yang menumpuk dalam dirinya, trauma akan keadaan ketika ia melakukan inisiatifnya. Akhirnya..., tekanan itu ‘menyerang Api’ dari dalam. Kuasa api yang dibahan bakari oleh ‘dua tekanan besar’, membakar tubuhnya sendiri dari dalam. Itu kan, yang kau ingin ceritakan..., Api?

“Maukah kau memaafkanku ‘Api’? Aku akan..., Ah! ‘Aku’ sudah berhenti menyalahkanmu, kalau perlu kau tidak perlu mengambil tekanan dari’ku’ lagi. ‘Aku’ akan menjalaninya sendiri, ‘Api’. ‘Aku’ mohon ‘Api’.” Ujar Gempa panjang lebar. Gempa mendudukkan dirinya membiarkan rantai yang tak putus itu kini teruntai di tanah.

Gempa memandang rantainya yang tiba-tiba menghilang. Gempa memandang rantai-rantai yang awalnya ada pada tubuh masing-masing dari orang-orang yang ada di sana. Rantai itu menipis dan perlahan menghilang. Gempa mengangkat kepalanya dan memandang Api yang tersenyum di dalam bola api itu. Api menggerakan kedua tangan dan kakinya, Bola Api itu pecah dan memunculkan mengeluarkan Api dalam versi yang lain.

“Gempa!” sosok Api yang itu berlari memeluk Gempa, menenggelamkan wajahnya di dada Gempa. Gempa mengusap punggung Api. “Blaze minta maaf. Blaze memang salah. Blaze seharusnya tidak mengambil milik Gempa dan yang lainnya.”

“Aku yang harusnya minta maaf, Api. Ah, Blaze....” Blaze melepaskan pelukannya. Ia duduk di depan Gempa dan tersenyum kekanakan.

“Gempa gak salah kok.”

“Jangan menyangkal lagi. Aku juga salah karena membiarkanmu mengambilnya.” Ucap Gempa seraya mengusap kepala belakangnya.

“Kau bodoh, Blaze. Lain kali kau harus bilang padaku kalau mau mengambil sesuatu dariku!” ucap Taufan yang mendekat pada Blaze. Ia menyentil kening Blaze. Blaze menutup keningnya dengan kedua tangan. Sedikit meringis lalu tersenyum lebar pada Taufan. Halilintar menyentuhkan pedang Halilintarnya ke kaki Blaze yang tanpa perlawanan. Blaze melompat kesakitan akibat tersetrum. Halilintar mendengus dan berbalik. Blaze tertawa lantang mengerti maksud tingkah Halilintar. Air melempar bola air ke wajah Blaze. Blaze mengusap air di wajahnya.

“Kalau kau bilang padaku soal itu, aku tentu takkan ikut memperparah keadaanmu. Mending aku tidur-tidur saja, ya.” Ucap Air lalu merebahkan diri di bola air besarnya. Blaze menaikkan salah satu sudut bibirnya. Ia melompat ke atas bola air milik Air dan langsung memeluk Air erat.

“Aah..., aku beri kau tekananku deh. Supaya kau tidak tidur-tidur mulu dan jadi bulat lagi.”

“Aku sudah gak bulat!”

~...~...~...~

“BANGUN BOBOIBOY!” Pekikan Ochobot yang ikut mengguncang dirinya membuat Boboiboy terbangun dari tidurnya. Boboiboy mencoba memfokuskan matanya. Boboiboy memandang sekitar dan memandang dirinya.

“Ini hari apa?” Tanya Boboiboy.

“Adoi..., Hari ini minggu lah! Sudah siang tau, tak! Meski tidak sekolah setidaknya bantu aku dan Atok berjualan di kedai donk!”

“Mi, minggu?” Boboiboy memandang kalender dan jam tangannya. Boboiboy menopang kepalanya yang begitu berat. “A, aku mandi dulu deh Ochobot.”

“Ya sudah, cepat sana.” Ochobot melayang pergi dari kamar Boboiboy. Boboiboy duduk di pinggir ranjang lalu memandang jam kuasanya.

“Mimpi yang terasa begitu nyata....” Gumam Boboiboy. Boboiboy memegang dadanya sendiri, perasaannya memang sudah lebih hangat dan tenang. Boboiboy tersenyum ia membentuk pose. “Boboiboy kuasa....”

“BOBOIBOY CEPAT MANDINYA!” teriak Ochobot. Boboiboy terjatuh di lantai dan mengusap dagunya. Boboiboy tertawa sendiri.

“Lain kali saja, deh.” Ucap Boboiboy lalu mengambil handuknya dan bersiap untuk mandi lalu membantu Tok Aba dan bola kuasa itu bekerja.

END

Notes:

Ada yang bertanya kapan Boboiboy mulai bermimpi?
Entahlah, disesuaikan saja dengan pemikiran pembaca.

Notes:

Ide cerita ini entah kenapa muncul ketika sedang ke pusat perbelanjaan dan melihat beberapa manekin tak terpakai yang diikat dengan rantai dan tali dengan maksud supaya tidak ada yang berniat mencuri manekin tersebut.
Ada yang merasa cerita ini aneh? Ya, sudah abaikan saja.
Thank for reading.