Chapter Text
Chapter 10
Perlahan ia menjauh, berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sedang menahan sakit. Tangan kirinya menekan pendarahan dibahunya.
'Hari ini mereka datang, aku tidak boleh terlihat berantakan seperti ini..' batin Rukia menguatkan dirinya untuk bertahan, ia harus segera menemui Urahara untuk penyembuhan yang lebih cepat.
"Rukia" suara Ichigo menahan langkah gadis itu.
"Kau mau kemana?"
"Ichigo, aku....."
'BUUUUUKKK' Luka yang sejak tadi ditahannya kini tidak mampu berkompromi lagi, tubuh ringkih itu tersungkur di pelukan Ichigo..
"RUKIAAAAA!"
===000===
'Teerrrrrsssssss...' walau samar, suara hujan yang jatuh dari langit Karakura cukup teralun baik di telinga pemuda bersurai orange yang sedari tadi menatap keluar dari balik jendela apartemen. Iris hazelnya terlihat sendu. Sementara itu, seorang wanita cantik dengan tubuh proposional bak model berjalan perlahan mendekatinya. Gadis berambut karamel ini tahu bahwa ada yang sedang mengganggu pikiran pemuda pujaannya tersebut.
"Kurosaki kun.." pria yang namanya disebutkanpun menoleh tanpa membalikkan badannya.
"Ah, Inoue.. Bagaimana keadaan Sho?"
"Untunglah dia manusia yang kuat jadi aku tidak begitu kesulitan menyembuhkan luka-lukanya. Sekarang Walcott san sedang tertidur pulas"
"Syukurlah" Ichigo tersenyum lega dan kembali menatap hujan dengan mata musim gugurnya yang lebih terlihat kosong.
"Ano Kurosaki kun... Apa kau mendapat kabar mengenai keadaan Kuchiki chan?" Inoue terlihat berhati-hati menanyakan perihal shinigami kecil yang tadi telah menyelamatkan nyawanya. Tidak ada suara yang keluar dari kerongkongan Ichigo. Mimik wajahnyapun semakin sendu.
"Aku menghawatirkan Kuchiki chan.. Seharusnya aku lebih kuat, seharusnya yang terluka itu..."
"Hentikan Inoue.." Ichigo memotong kalimat gadis imut itu dengan lembut tanpa tekanan dan suara yang sedikit serak.
"Tapi... Hiks.." Inoue tertunduk dalam, pipinya mulai basah diguyur airmatanya sendiri.
"Kuchiki chan hiks.. terluka karena aku.. Semuanya salahku Kurosaki kun.. Hiks.. Hiks.." Ichigo berbalik mendekati Inoue yang sedang terisak tangis. Tangannya diletakkan diatas kepala Inoue dan mengelus rambutnya lembut.
"Rukia akan marah jika mendengarmu berkata seperti itu Inoue.." mata kelabu Inoue membesar, ia sadar tidak seharusnya menangisi keberanian gadis yang sempat dianggapnya sebagai rival tersebut.
"Apa.. Kurosaki kun tidak ingin menyusulnya?" Inoue menatap Ichigo lekat sambil sesekali menghapus airmata di pipinya sementara yang ditanya hanya menarik nafas dalam dan kembali menatap hujan.
"Entahlah..."
Flash Back
Pintu senkaimon terbuka perlahan melepas kupu-kupu neraka yang baru saja menuntun dua shinigami ke dunia manusia. Mereka berjalan perlahan memasuki toko kelontong milik mantan kapten divisi 12 gotei 13.
"Selamat datang Kuchiki taichou, Abarai fukutaichou.. Terimakasih sudah memenuhi undanganku" senyum ramah Urahara dilayangkan guna menyambut kedua tamu yang sengaja diundangnya ini. Dua shinigami dengan perawakan berbeda. Seorang shinigami tampan ber-haori putih bertuliskan kanji enam dipunggung tampak sangat berkharisma dengan balutan emas kecil dan ringan di tepi kerahnya. Wajah putihnya memperjelas warna hitam malam dari rambut panjangnya yang jatuh tergerai. Mata abu-abunya menatap dingin menunjukkan ke-eleganan seorang bangsawan Kuchiki. Seorang lagi tampak sangat kontras dengan rambut merah menyala, garis wajahnya yang keras dan sejumlah tato disekujur tubuhnya membuat pria ini jauh terlihat lebih urakan. Lengan kirinya dibalut tanda pengenal yang menunjukkan jabatannya sebagai wakil kapten divisi 6.
Kuchiki Byakuya dan Abarai Renji, kakak angkat dan sahabat Rukia hari ini sengaja meluangkan waktu mengunjungi dunia manusia atas undangan Urahara. Selain untuk bertemu Rukia, Urahara mengundang mereka secara khusus untuk menjadi tester terakhir guna merampungkan penelitiannya mengenai gigai untuk para shinigami.
"Dimana Rukia?" Renji membuka suara, kepalanya mulai celingukan tidak sabar ingin bertemu sahabat yang sejak kecil sudah hidup bersama dengannya.
"Pagi tadi dia kesini, dia bilang akan membeli cake bersama Kurosaki kun untuk menyambut kalian. Masuklah dulu, aku yakin sebentar lagi mereka pasti datang" Urahara mempersilahkan tamunya masuk menuju ruang tamu yang tidak lebih besar dari kamar mandi di mansion Kuchiki. Baru saja akan melangkah, Byakuya merasakan adanya energi negatif yang tidak jauh dari tempatnya saat ini. Bukan karena adanya kekuatan hollow yang mengubah mimik muka Byakuya yang nyaris tanpa ekspresi menjadi lebih serius bercampur cemas, melainkan karena ia merasakan tekanan reatsu Rukia yang mendadak melemah.
"Rukia.." Renji yemg mendengar Byakuya bergumam pelan akhirnya menyadari ada yang tidak beres dari reatsu sahabat masa kecilnya itu.
"Taichou.. Rukia..." iris abu-abu Byakuya hanya menatap wajah Renji tajam seakan mengisyaratkan bahwa mereka sedang mendapat firasat yang sama. Tanpa berkata apa-apa lagi mereka berdua segera melesat dan ber-shunpo.
Tidak butuh waktu lama untuk melacak keberadaan Rukia. Setibanya di taman Karakura, Byakuya terbelalak melihat keadaan adiknya terkulai tak berdaya di pelukan seorang shinigami pengganti dengan bersimbah darah.
"Rukiaaaaa!!" teriakan Renji tak mampu dibendung mendapati gadis yang dikaguminya terluka parah. Dengan cepat ia menghampiri Ichigo berharap mendapatkan penjelasan dari apa yang tengah dilihatnya.
"Apa yang terjadi Ichigo?!!" panik, Ichigo tidak begitu menggubris kedatangan Renji. Ia kemudian bangkit dan menggendong Rukia dengan protektif.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, kita harus segera membawanya ke rumah Urahara san!!" baru saja Ichigo ingin ber-shunpo, tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan sebilah katana yang ditodongkan tepat di depan wajahnya. Ichigo terpaku, ia dapat merasakan reatsu kuat terpancar dari pria berwajah dingin di hadapannya.
"Byakuya..." gumam Ichigo tak menyangka akan bertemu kepala keluarga Kuchiki dalam situasi seperti ini. Tatapan Byakuya tajam menusuk kepercayaan diri Ichigo, ia tidak mampu bergerak, kuduknya merinding menghadapi kakak dari wanita dalam dekapannya.
Melihat reaksi Ichigo yang sepertinya mengerti akan tindakannya, Byakuya kembali menyarungkan katananya. Ia berjalan mendekati Ichigo dan mengambil alih Rukia, menggendong adik kesayangannya itu dengan lembut dan penuh perlindungan. Tanpa menunda waktu lagi, Byakuya segera membuka pintu senkaimon yang menjadi penghubung Soul Society dan dunia manusia.
"Abarai, tinggal dan selesaikanlah urusan bersama Urahara san. Aku akan membawa Rukia pulang ke Seireitei" Renji yang mendapat titah dari kaptennya hanya mengangguk pelan walau batinnya saat ini sangat ingin ikut dan menemani Rukia. Sebelum kembali ke Soul Society Byakuya menoleh ke arah Ichigo dan menatap lekat mata hazel pemuda itu.
"Kurosaki Ichigo.. Aku harap ada penjelasan atas kegagalanmu melindungi Rukia" setelah mengungkapkan rasa kekecewaannya Byakuya-pun berlalu dan menghilang bersama tertutupnya pintu senkaimon. Tidak ada protes ataupun pertanyaan yang terlontar dari mulut Ichigo, wajahnya tampak pucat berhiaskan bulir-bulir keringat. Ada beban besar atas rasa bersalah yang sedang menggerogoti dirinya saat ini.
End of Flash Back
Gorden sebiru samudra berayun lembut diterpa angin yang menyusup dari pintu balkon apartemen mewah. Sinar mentari pagipun ikut menerobos masuk melukis siluet seorang pemuda bersurai coklat gelap yang sedang berdiri disisi balkon meneguk segarnya sebotol air mineral. Kemeja putih yang tidak terkancing mengekspos tubuh atletisnya yang terbalut perban menyelimuti sebagian dari dada bidang dan punggungnya.
"Rukia...." telinga pemuda bermarga Walcott ini menangkap samar suara bariton yang berasal dari sofa maroon miliknya. Alisnya mengernyit diikuti langkah kakinya menuju sumber suara yang tak asing lagi. Seorang pemuda bersurai orange terlihat gelisah dalam tidurnya. Tentu saja kenyamanan sofa berbahan bulu angsa dibalut beludru buatan Paris itu tidak patut untuk disalahkan.
"Rukiaa.." kali ini si pria orange mulai terlihat tegang-masih-dengan mata terpejam. Dahinya mengucurkan keringat.
"Rukiaaaa!!"
'CEEERRRRSSSS...' guyuran dari sebuah botol air mineral akhirnya sukses membawanya kembali ke alam nyata. Mata dengan iris hazel itu terbelalak mendapati rambut dan wajahnya tengah basah kuyub.
"SHO?!!"
"Good morning strawberry"
"Kau mengguyurku?!" Sho tersenyum sembari menutup botol air mineralnya, ia kemudian berjalan menuju kamarnya, mengambil sebuah handuk kecil dan melemparnya kearah Ichigo.
"Maaf tapi aku tidak tahan mendengarmu menyebutkan nama angel kesayanganku berkali-kali dalam tidurmu Kurosaki san.." Ichigo memutar bolamatanya sembari mengusap-usap handuk ke surai orangenya.
"Rukia??" Ia memastikan nama yang dimaksud Sho, sementara yang ditanya hanya mengangguk meng-iya-kan.
"Apa masalahmu gaijin? Mana bisa aku mengontrol mulutku saat tidur!!" salah tingkah, Ichigo berteriak kesal menutupi rasa kikuknya.
"Mana Inoue?"
"Sudah kuminta seorang supir mengantarnya pulang. Badannya lemas dan matanya terlihat sangat kelelahan." Ichigo hanya ber'oh' pelan, ia tahu temannya Inoue kehabisan tenaga mengobati Sho semalam suntuk.
Sho duduk disebelah Ichigo, ia mengambil remote dan menyalakan tv seukuran tembok didepannya. Sebuah senyum kecil terkembang melihat video chappy yang sedang menari. Untuk beberapa detik, suasana berubah hening.. Baik Ichigo maupun Sho larut dalam pikiran mereka masing-masing. Bukan karena terkagum-kagum oleh lenggak-lenggok makhluk bertelinga panjang itu, mereka tahu ada satu orang yang akan sangat gembira bila menonton tayangan ini.
"Inoue sudah menceritakan semuanya padaku.." Sho mulai memecah keheningan. Ichigo membatu, ia baru saja teringat bahwa pria disampingnya ini telah melamar Rukia. Mungkin itu sebabnya Byakuya dan Renji datang ke dunia manusia untuk menemui Pria yang disukai Rukia. 'Apa ini yang ingin disampaikan Rukia? Apa mereka benar-benar memiliki hubungan khusus?' batin Ichigo terus saja bertanya-tanya. Apakah ia harus mengantar Sho ke Soul Society untuk menemui Rukia? Pikirannya semakin berkecamuk.
"Kau tidak ingin menyusulnya Kurosaki?" Ichigo melongo bodoh.
"Aku???" satu telunjuk diarahkan ke wajahnya sendiri.
"Yes strawberry"
"Bukankah pertanyaan itu untukmu? Kau ingin aku mengantarmu menemui Byakuya untuk membicarakan hubunganmu dengan Rukia kan?" Bingung, Sho mengangkat satu alisnya.
"Bya.. Siapa?"
"Kuchiki Byakuya, kakak angkat Rukia.. Bukankah kau melamar si pendek itu??"
"Wah Rukia menceritakannya padamu ya? aku memang tidak suka berbelit-belit Kurosaki.. Rukia terlalu berharga hanya untuk sebuah ungkapan cinta. Bukankah lamaran jauh menunjukkan keseriusanku? Aku bahkan rela menjadi roh andai bisa hidup bersamanya. Sayangnya aku tidak seberuntung dugaanku." Sho mendengus, air mukanya berganti muram.
"Tunggu.. Andai? Sayangnya?"
Flash Back
Malam itu Sho terlihat berjalan dengan penuh kehati-hatian, kedua telapak tangannya melingkar menutupi mata seorang gadis mungil bersurai hitam, menuntunnya menyusuri anak tangga menuju atap gedung restoran ternama Karakura Town.
"Apa kita sudah sampai Sho?" gadis itu meyakinkan kaki mungilnya yang terdiam.
"Yes Ruki chan, akan kuhitung sampai 3 dan bukalah matamu." Rukia Mengangguk mengerti.
"One.. Two.. Three.." kelopak dengan bulu mata lentik Rukia terbuka perlahan, sepasang iris violetnya seketika beberbinar-binar melihat atap gedung disulap menjadi sebuah ladang hewan bertelinga panjang kesukaannya. 100, 300, 450... Entah ada berapa banyak. Rukia tidak sanggup menghingtung kelinci-kelinci putih yang jumlahnya mencapai ratusan itu.
"Sho ini....." masih terpana, Rukia berdiri terpaku tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan pria tampan ini untuknya.
"Ini luar biasaaa!! Mereka imut sekaliiiiii.." Rukia berputar memperhatikan kelinci-kelinci disekelilingnya. Beberapa kelinci mengerumuni dan menggelitik kaki Rukia dengan kumis dan bulunya yang lembut. Tidak tahan lagi, Rukia berjongkok memeluk dan mengelus mereka dengan riang.
Sho masih berdiri di belakang Rukia, menatap gadis yang sudah merebut hatinya sejak pertama bertemu. Kulit putih Rukia seakan menyatu dengan gumpalan-gumpalan makhluk berbulu putih yang sedang meloncat-loncat disekitarnya membuat gaun merahnya tampak semakin mencolok bagai setangkai mawar yang mekar di tengah salju.. Rambut hitamnya berayun diterpa angin malam, dan yang menjadi favorit Sho adalah sepasang violet yang mampu menghipnosis siapapun yang melihatnya. Saat ini dua violet itu menangkap satu keganjilan, dalam kerumunan ratusan kelinci berwarna putih, tidak jauh darinya ada seekor yang berwarna coklat gelap. Tertarik, Rukia berjalan meraih kelinci mungil itu. Dilehernya terdapat pita berwarna ungu yang menggantung sebuah kotak beludru berwarna selaras. Rukia mengambil dan membuka kotak tersebut. Tercengang, ia menemukan sebuah cincin dengan kristal amethyst. Warna yang senada dengan iris cantiknya. Masih mengagumi keindahan cincin tersebut, tiba-tiba saja dua tangan terjulur dari belakang mengambil cincin untuk memasangkannya di jari manis Rukia dan seketika memeluk tubuh mungil itu dari belakang. Terkejut atas tindakan Sho yang tiba-tiba, Rukia hanya terdiam. Ini kali pertama baginya mendapatkan perlakuan romantis dari seseorang. Belum pernah ada yang memberikan kejutan-kejutan seperti yang dilakukan Sho, terlebih karena pria tersebut baru dikenalnya sebulan belakangan ini.
"Aku serius dengan kata-kataku, aku ingin bersamamu, Rukia.. Menikahlah denganku" Rukia memegang kedua tangan Sho dan melepaskannya perlahan, kemudian berbalik menatap lekat mata samudra yang masih sedang menunggu jawaban.
"Arigatõ Sho.. Aku senang sekali. Dua hari ini kau sangat memanjakanku" Rukia berbicara begitu lembut dengan senyum yang terkembang. Sho-pun membalas senyum manis itu. 'apakah ini sebuah pertanda positif?' batinnya masih menerka-nerka karena sepertinya gadis ini masih ingin mengutarakan isi hatinya.
"Aku selalu percaya siapapun yang dikirim oleh Kami-sama di kehidupan kita memiliki tempatnya tersendiri disini" Rukia menunjuk area jantungnya. "terlepas dia baik ataupun buruk, membahagiakan ataupun mengecewakan, mereka tidak akan hilang dengan mudah.. Aku senang Kami-sama telah mengirimmu untuk menjadi salah satu dari bagiannya, kau sudah memiliki tempat itu Sho, tapi..." Rukia menunduk mengelus kristal violet di jari manisnya dan melepasnya perlahan. Memasukkan cincin tersebut kembali kedalam kotak.
"Maaf.. Aku tidak bisa membawamu lebih dari itu, Sho" Rukia menggenggam kuat tangan Sho, mengembalikan kotak berisi cincin yang indah itu.
Kembali menunduk, raut wajah Rukia memancarkan kecemasan. Ia khawatir hal ini akan merusak persahabatannya dengan pria yang juga menjadi guru bahasa asingnya. Sho mendengus pelan melihat raut wajah gadis kesayangannya.
"Waah, aku kecewa angel.." Rukia terlihat semakin sendu, ia tahu Sho akan membencinya.
"Tapi.... Hanya jika kau tidak mampu meyakinkanku kenapa aku tidak bisa bersamamu" Sho sedikit membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan Rukia.
"Aku tidak akan mundur sebelum menemukan alasan yang tepat darimu angel.. Yah setidaknya biarkanlah aku berjuang" Rukia menghela nafas panjang. Ia tahu, pria ini terlalu baik untuk dikecewakan.
"Aku yakin kau tahu kalau kita ini berbeda, aku.."
"Kau adalah shinigami, aku tahu.." Rukia terbelalak
"Ah, maaf aku salah.. Kau adalah shinigami cantik yang telah menyelamatkan nyawaku" sambung Sho diikuti senyuman jahilnya. Rukiapun ikut menyunggingkan ujung bibirnya.
"Kalau kau sudah tahu, lalu kenapa..."
"Dimana letak perbedaan itu jika aku tetap bisa melihatmu baik dalam bentuk roh ataupun manusia? Hal seperti itu tidak akan berlaku bagiku angel, asal kau mau menerimaku, tidak ada yang mustahil di dunia ini" Rukia tak bergeming, semua yang dikatakan Sho masuk akal, bahkan ayah dan ibu Ichigo yang berbeda duniapun bisa bersatu dalam ikatan pernikahan.
"Aku sangat menghargai perasaanmu Sho, hanya saja.."
"Apa kau menyukai orang lain? Apa kau mencintai Kurosaki? Kalian berdua sangat dekat, apa kalian yakin nakama adalah kata yang tepat untuk mewakili kedekatan itu? Lagipula sepertinya Kurosaki menyu.."
'TAP!'
"Ouuuch!!!!" Sho harus rela sepatu rancangan designer Paris miliknya lecet setelah salah datu dari kaki mungil beralas high heel Rukia mendarat dengan kasar di kakinya.
"Itu hukuman untukmu tuan Walcott!" Rukia berkacak pinggang. Ia memadang dengan raut kesal dan menggembungkan kedua pipinya.
"Apa salahku angel?"
"Pertama, sejak tadi kau terus saja memotong perkataanku Sho.. Kedua..." wajah Rukia berubah jauh lebih serius.
"Tolong jangan libatkan Ichigo dalam hal ini"
"Baiklah jika itu maumu angel. Ck.. Sepertinya dia memang sangat spesial"
"Sho..!!"
"Iya.. Iyaa sorry. Jadi... Alasanmu tidak menerima tawaranku adalah....??" Sho mengangkat satu alisnya.
"Apa pendapatmu tentang Inoue san?"
"Eh.. Kenapa tiba-tiba.."
"Jawab saja!" perintah Rukia
"Hmm.. She is a good girl, dia juga cantik, tapi tidak secantik kau angel" Rukia mendengus
"Jika Inoue menyatakan cinta padamu, apa kau akan menikahinya?"
"Tentu saja tidak angel, aku menyukaimu.."
"Walau Inoue tulus dan rela berkorban untukmu?"
"Mengubah perasaan tidak semudah melontarkan pertanyaan angel"
"Lalu apa yang akan kau katakan untuk menolaknya?"
"Aku...." Sho terdiam, tanpa ia sadari, Rukia telah membawanya kepada situasi yang sama persis dengannya.
"Aku mengerti Sho, terimakasih.. Tapi.. Ini bukan soal Ichigo atau siapapun, ada banyak hal yang tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata. Aku juga tidak ingin memberimu harapan melalui jawaban-jawaban klise. Aku yakin kau bisa menerimanya.." senyap.. Sho mencerna kata-per-kata yang terlontar. Ia sadar, obsesinya terhadap Rukia memaksanya untuk terus mencari cara agar gadis ini tetap disisinya.
"Jika kau terus mencari alasan agar bisa bersamaku, itu bukan cinta tuan Walcott, itu kompromi.. Bukankah itu sedikit egois?" Sho terkejut seolah Rukia mampu membaca pikirannya. Kembali, Rukia menyerahkan kotak cincin itu kepada Sho. Tidak ada sanggahan ataupun argumen berbau tantangan lagi, Sho menerimanya dengan pasrah. Tangan tangguhnya terangkat perlahan menyentuh pipi porselan Rukia.
"Sorry angel..." terlihat binar yang tulus dari mata samudra milik Sho.
"Tapi bukan berarti aku menyerah terhadap perasaanku angel.. Akan sulit bagiku melupakan mata violetmu itu" Rukia terkekeh mendengar pengakuan Sho.
"Arigatou.."
End of Flashback
'TING!' bunyi toaster memanggil Sho untuk menyediakan sarapan sekadarnya. Ia mengambil beberapa roti panggang dan meletakkannya di atas meja tepat didepan sofa lengkap dengan selai coklat favoritnya.
"Silahkan Kurosaki" Sho mempersilahkan tamunya sambil mengolesi roti untuk dirinya sendiri.
"Maaf aku sedang tidak berselera" tolak Ichigo sopan namun Sho tidak menggubris, ia sedang sibuk mengisi perutnya setelah pingsan semalaman.
"Jadi.. Benarkah Rukia menolak lamaranmu?" Ichigo kembali memastikan.
"Bisakah kau jangan membahasnya dulu? Selera makanku sedang bagus Kurosaki"
"Aku anggap jawabanmu 'ya'" Sho mendengus kesal atas kesimpulan Ichigo yang seenaknya.
"Aku heran kenapa kau begitu peduli Kurosaki?"
"A.. Aku hanya memastikan baka! Kemarin kalian terlihat mesra di depan Chappy cafe dan melakukan adegan tak senonoh itu"
"Tak senonoh?"
"Kau memeluk dan men..mencium si pendek itu 'kan?"
"Hahahahahahha... Kau cemburu Kurosaki?" Sho memicingkan kedua matanya, menatap Ichigo penuh curiga.
"Bu.. Bukan urusanmu!!" wajah Ichigo tak terselamatkan oleh rona merah yang melekat di pipinya. Ia yang tadinya tak berselera kini menyambar roti di tangan Sho, mengunyahnya hingga habis dan meneguk sebotol air mineral diatas meja. Sho tertawa kecil memperhatikan tingkah bodoh pahlawan Karakura ini.
"Waktu itu aku menemui Rukia berharap ia akan berubah pikiran, tapi ia bilang akan kembali ke dunia roh hari itu juga. Dia mengatakan akan menemuimu di cafe untuk berpamitan"
'jadi itu yang ingin dikatakannya?' batin Ichigo memgingat kembali pesan singkat yang dirimkan Rukia.
"Aku memeluknya sebagai salam perpisahan, yah mesti kuakui aku tidak ingin melepasnya saat itu dan.. ciuman yang kau katakan itu tidak pernah terjadi Kurosaki" aku Sho.
"Tidak pernah terjadi katamu?! Jelas-jelas aku..."
"Kau melihatnya dari seberang jalan kan? Pada waktu itu aku mendekatkan wajahku dan berbisik di telinganya; 'strawberry sedang mengawasi kita'. Dari tempatmu berdiri pastinya posisi tubuhku terlihat seperti sedang mencium Rukia" Ichigo terdiam mendengar penjelasan Sho. Ia mengutuk dirinya sendiri untuk semua pertanyaan-pertanyaan bodoh di batinnya selama ini.
"Kenapa tidak kau akui saja?"
"Mengakui apa?!"
"Perasaanmu tuan Kurosaki, bukti-buktinya sudah lebih dari cukup" Ichigo menelan ludah
"Percayalah hubungan antara pria dan wanita itu rapuh, istilah nakama hanyalah mitos. Kenyataannya, cinta akan tumbuh baik dihati keduanya ataupun salah satu diantaranya. Jika kalian berdua tidak saling mencintai berarti yang memungkinkan memiliki perasaan itu adalah kau" Sho menunjuk hidung Ichigo.
"Jangan seenaknya memberikan kesimpulan gaijin!!"
"Well.. Sebagai pria normal jika aku jadi kau maka tidak ada alasan untuk tidak jatuh cinta pada gadis seistimewa Rukia. Don't you?"
"Justru karena dia istimewa aku tidak ingin merusak segalanya.." Ichigo menunduk dalam
"Wah aku baru tahu kalau shinigami sehebat dirimu ternyata seorang pengecut"
"Apa!?"
"Life is a combat dude. I may cry for one defeat after every endeavor but better than a remorse since been a chicken for ignoring the battle"
000===000
Renji's POV
Setelah membantu Urahara san menyelesaikan penelitiannya kaki-kaki jenjangku saling berkejaran, menyeretku pergi, bergerak semakin cepat menemui Ichigo, pria orange yang tinggal bersama Rukia beberapa minggu belakangan ini.
Aku benar-benar ingin tahu apa yang menyebabkan Rukia terluka. Gadis ini sangat berarti bagiku. Dia adalah segalanya, nakama? Bukan.. Lebih dari itu, perasaanku berubah seiring kami tumbuh bersama. Dia menjadi daftar pertama orang paling berharga yang harus aku lindungi dalam hidupku karena aku.. menyayangi gadis ini.
"Abarai kun!" aku menoleh mengenali suara dari gadis berambut karamel. Benar itu Inoue san. Teman sekolah Ichigo.
"Mau ke rumah Kurosaki kun?" aku hanya mengangguk. Tidak ada waktu untuk berbasa-basi.
"Gomen!" aku terkejut ketika Inoue tiba-tiba membungkuk dalam.
"Aku mohon maaf atas apa yang terjadi pada Kuchiki chan. Salahku yang terlalu lemah hingga Kuchiki chan harus mengorbankan dirinya untuk melindungiku."
Akhirnya kami duduk bersama di sebuah bangku taman. Inoue menceritakan kronologis kejadian secara detail. Jantungku berdebar hebat mendengarkan tindakan heroik Rukia. Kagum bercampur rasa cemas. Rukia memang kerap kali melibatkan dirinya dalam bahaya demi apapun yang bisa ia lindungi.
Segera, aku berdiri dan berpamitan pada Inoue untuk kembali ke Soul Society. Rasanya tidak sabar ingin melihat keadaan Rukia.
"Ano.. Abarai kun tidak ingin mengajak Kurosaki kun?"
"Ichigo? Dia bisa pergi sendiri jika ia memang peduli pada Rukia"
"Bukan begitu, saat ini Kurosaki kun sangat terpukul atas kegagalannya melindungi Kuchiki chan.. Tadi waktu bertemu Abarai kun-pun aku sedang menuju rumah Kurosaki kun memastikan ia akan menjenguk Kuchiki chan."
"Kenapa harus terpukul? Bukankah ia sama sekali tidak bersalah dalam kejadian ini?"
"Tentu tidak jika itu bukan orang yang dikasihinya.." aku semakin tidak mengerti arah pembicaran dari gadis cantik ini. Alisku hanya bisa mengernyit menunggu penjelasan selanjutnya.
"Kurosaki kun mencintai Kuchiki chan Abarai kun.. Dan aku rasa begitu pula sebaliknya"
'APA?!!!!' batinku menjerit tak percaya. Aku mulai tidak nyaman dengan percakapan ini.
"Mereka memang tidak pernah mengakuinya, tapi.. Tidak ada ikatan yang lebih kuat dari hubungan mereka berdua. Saling percaya, melindungi, mereka bahkan mampu berkomunikasi tanpa saling berbicara. Mereka berdua..."
"CUKUP!" tanpa sadar aku menghentikan gerak bibir Inoue. Tidakkah ia tahu jika dadaku terasa sesak mendengarkan ocehannya?. Ia tampak terkejut oleh suaraku yang lantang.
"Ah, maaf Inoue san, a..aku harus pergi sekarang." aku berlari membuka senkaimon dan menjauh tanpa menoleh ataupun melambaikan tangan.
End of Renji's POV
Kediaman Kuchiki..
Seorang pelayan tampak berhati-hati melingkarkan perban di area pundak majikannya. Balutan terakhirpun di gunting dan diikat perlahan-lahan.
"Nah, sudah selesai Rukia sama"
"Arigatou" gadis bangsawan Kuchiki ini tersenyum dan mengenakan kembali pakainnya yang tadi dibuka setengah.
"Ah.. Ano.. Tolong siapkan shihakusho milikku ya" Rukia meminta satu bantuan lagi untuk menyiapkan pakaian formal shinigaminya sebelum sang pelayan pergi.
"Eh.. Rukia sama mau kemana? Bukankah Rukia sama masih harus beristirahat?"
"Ssssstt...!! Jangan ribut, nanti nii sama dengar" Rukia membekap mulut pelayan pribadinya.
"Aku sudah baikan kok!" bela Rukia sambil menggerak-gerakkan lengan disamping pundaknya yang terluka.
"Tapi kata Byakuya sama...."
"Ssssst... Ah kau ini, aku bilang'kan jangan ribut, mengerti?" sang pelayan mengangguk paham.
"Aku bosan di kamar terus. Aku hanya pergi sebentar kok.."
'SREEG!' Rukia dan pelayannya terkejut mendengar suara pintu kamarnya yang tiba-tiba dibuka. Spontan ia dan pelayannya melirik ke arah pintu.
"Nii sama.."
"Byakuya sama.." sang pelayan menunduk dalam dan segera meninggalkan kamar Rukia setelah mendapat kode perintah dari kepala keluarga Kuchiki walau hanya melalui tatapan matanya yang tajam.
"Mau kemana?"
"Ano.. Ichigo dan keluarganya belum tahu kalau misiku di dunia manusia sudah selesai, mungkin aku harus.."
"Tidak perlu berpamitan, Ichigo melihatku membawamu pulang, jika ia peduli seharusnya ia datang melihat keadaanmu"
"Aku sangat mengenal Ichigo nii sama. Seperti sebelum-sebelumnya dia selalu merasa bersalah jika tidak mampu melindungi teman dan keluarganya. Aku yakin dia merasa tidak enak padamu karena hal ini, jadi ku mohon nii sama..." Byakuya menghela napas panjang.
"Pulanglah sebelum makan malam.." Senyum di wajah Rukia terkembang.
"Domo arigatõ nii sama"
"Berhati-hatilah, kondisi tubuhmu masih belum stabil, jika bertemu hollow jangan melakukan tindakan bodoh"
"Baik nii sama.." Rukia menunduk dalam, pipinya merona merah, di dalam hati ia sangat senang mendapat perhatian dari kakak kesayangannya.
"Oh ya, mintalah Ichigo mengantarmu pulang dan kali ini pastikan dia benar-benar menjagamu"
"Nii sama.."
Setelah mendapat izin dari kakaknya, tanpa berlama-lama lagi Rukia bergegas menuju dunia manusia sebelum Byakuya berubah pikiran.
Sementara itu disaat yang sama Ichigo-pun tengah bersiap-siap menuju Soul Society untuk melihat keadaan Rukia. Di kamarnya ia meminta Kon masuk kedalam raganya dan menggantikannya selama ia pergi. Setelah Kon menjadi 'Ichigo', Roh Ichigo melompat dari jendela kamar dan menghilang dengan shunpo.
'Tok..tok..tok' Tidak lama berselang, terdengar suara ketukan dibalik pintu kamar Ichigo.
"Masuklah.." Kon memulai perannya sebagai 'Ichigo'.
"Konnichiwa.. Kurosaki kun"
"Ah.. Inoue san.. Lama tidak berjumpa......." Seperti biasa, Kon tidak bisa mengendalikan dirinya saat bertemu gadis cantik, ia pun melompat dan memeluk Inoue.
"Kyaaaaa... Kau bukan Kurosaki kuuuuunnn" sadar akan keganjilan sikap 'Ichigo' Inoue berusaha lepas dari pelukan Kon.
"Heheh maaf ini aku Kon, Inoue san" Kon melepas pelukannya dengan terpaksa.
"Kemana Kurosaki kun?"
"Dia baru saja pergi. Katanya mau ke Soul Society"
"Begitu ya.. Syukurlah" Kon memegang kedua pundak Inoue dan menatapnya gently.
"Tenanglah Inoue san, biar aku yang menjagamu disini" Inoue terkekeh kecil melihat sikap Kon.
"Hihi.. Kau ini terlalu manis sebagai Kurosaki kun" Inoue mengelus rambut Ichigo (Kon) lembut.
Gerbang senkaimon terbuka tepat di depan jendela kamar Ichigo. Rukia yang memang bermaksud menggunakan jendela tersebut sebagai akses terfavorit untuk menyapa nakamanya langsung melompat masuk kedalam kamar.
"Yo Ichi....." mendadak Rukia membelalakkan kedua violet indahnya mendapati pemandangan-yang dianggap-mesra yang sedang dilakukan 'Ichigo' dan Inoue.
"go.. Eh.. Ng.. Gomen.. Aku mengganggu ya.. Haha.." Kon dan Inoue melongo bodoh.
"Ja.. Jangan hiraukan aku.. Haha.. A.. Aku pergi, jaa ne.." Rukia kembali melompat dari jendela dan bershunpo pergi meninggalkan dua makhluk lemot yang masih terdiam.
"Itu..." Inoue dan Kon saling menatap.
"AH!" mereka berteriak hampir bersamaan.
"RUKIA NEE SAN..!!"
"KUCHIKI CHAN..!!"
Rukia berjalan dengan cepat tak tentu arah. Sesekali memegangi pundaknya yang masih terasa nyeri.
'baka! Kenapa aku malah kabur?' batinnya menggerutu tak karuan. Dari pundak, tangannya turun memegangi area jantung.
'Lagi.. Aku merasakan ketidaknyamanan itu lagi. Rasanya.. Kenapa lebih sakit dari luka di bahuku?'
'BUGH!'
"Ouch!" tubuh kecil Rukia menabrak sesuatu. Kini tangannya mengelus-elus jidadnya yang terbentur.
'aku tidak ingat ada tembok disekitar sini..' Rukia mendongak, dan betapa terkejutnya ketika yang disangkanya tembok adalah seekor hollow besar menyerupai komodo.
"GROOOAAARR"
"Aaah.. Bisakah hari ini tidak lebih buruk lagi!!?" Rukia mengeluarkan katananya dan bersiap menyerang. Baru saja ia akan melompat, ekor besar hollow tersebut mengibas dan mengenai Rukia hingga terjungkal jauh. Dengan nafas tersengal Rukia bangkit dengan memegangi pundaknya yang semakin terasa nyeri dan basah..
"Kusho! Lukaku terbuka lagi.. Aku lupa kalau kondisiku belum stabil" Rukia bergumam pelan. Batinnya terus saja bermonolog, seandainya ia mendengarkan kata-kata Byakuya untuk tidak pergi menemui Ichigo mungkin saat ini ia sedang tidur pulas di kediamannya. 'ya.. Ini semua karena Ichigo' pikirnya. Disaat Rukia larut dalam pemikirannya sendiri, ia tidak menyadari kalau hollow dihadapannya akan melakukan serangan berikutnya. Kaki depan hollow tersebut akan menginjak tubuh Rukia yang terlihat seperti semut.
"Baka Ichigooooo!!!!" Rukia berteriak melampiaskan kekesalannya. Pasrah, tenaganya melemah bahkan untuk berlari menghindar.
'SET!' badannya tiba-tiba saja terangkat. Beruntung ia tidak harus menjadi kerupuk karena injakan seekor hollow. Butuh semenit baginya untuk menyadari bahwa saat ini ia berada dalam gendongan seseorang. Badan yang tegap dan tangan kokoh sedang memegangnya erat serta wangi yang tidak lagi asing di indra penciumannya, wangi sakura..
"Nii sama.." sedikit tak percaya, lagi-lagi ia merepotkan kakak tercintanya. Byakuya tidak menjawab sepatah katapun. Mata tajamnya sedang terfokus pada hollow yang telah berani melukai adiknya. Byakuya mengeluarkan katananya tanpa harus mengubahnya kedalam bentuk zenbon sakura. Masih dengan memeluk Rukia erat ia melenyapkan hollow hanya dalam sekali tebasan. Bagi Byakuya hollow biasa seperti itu tidak lebih dari seekor serangga kecil.
"Nii sama kenapa.."
"Dengan kondisimu, tadinya aku hanya ingin memastikanmu baik-baik saja"
'jadi nii sama menyusulku?' batinnya tak percaya betapa beruntungnya ia menjadi bagian dari keluarga ternama Kuchiki diluar tanggung jawab besarnya sebagai seorang bangsawan. Ia juga merasa bersalah telah membuat Byakuya khawatir hingga kapten divisi 6 ini harus turun ke dunia manusia hanya demi dirinya yang bersikeras menemui Ichigo. Air mata Rukia tak terbendung lagi, tangisnya pecah di pelukan kakaknya.
"Daijoubu Rukia?!" Byakuya panik dan memeriksa keadaan adiknya. Cepat-cepat Rukia menggeleng dan menghapus airmatanya.
"Daijoubu desu nii sama.. Arigatou.." Byakuya bernafas lega walau ia menyadari ada yang salah dari adiknya ini. Rukia adalah gadis yang kuat. Ia bukan tipe gadis cengeng. Hari ini ia melihat Rukia menumpahkan airmatanya pastilah ada hal yang tengah membebani pikirannya.
"Kita pulang, Rukia.."
Ichigo berlari penuh peluh di tanah Seireitei. Senyumnya terkembang sesaat setelah melihat seorang pria berambut merah menyala berjalan menuju gerbang kediaman Kuchiki. Ichigo mempercepat lajunya, melambai dan menyapa si rambut merah.
"Yo Renji!!"
"Ichigo? Sedang apa disini? Kau berlari seperti kesetanan, keringatmu itu lho.."
"Ah, aku ingin bertemu Rukia. Bagaimana keadaan si midget itu?"
"Oh.."
"OH??!" kening Ichigo mengernyit sementara ekspresi wajah Renji berubah datar.
"Pulanglah, Rukia baik-baik saja."
'pulang?' Ichigo mengecek kembali pendengarannya. Rasanya ada yang aneh. Ini kali pertama Renji bersikap dingin padanya.
"Ada apa.. Renji?"
"......." tidak menjawab Renji memalingkan wajahnya. Tangannya mengepal erat. Ia tidak bisa berlama-lama menatap wajah Ichigo mengingat pemuda ini mungkin akan merebut Rukia dari sisinya.
"Ichigo apa kau.. Menyukai Rukia?" hening, kedua hazel Ichigo membesar mendapat pertanyaan yang begitu mendadak dari teman masa kecil Rukia.
"Aku..."
"Buka gerbangnya Renji!" kedua pemuda berambut mencolok itu dikejutkan oleh suara bariton Byakuya yang berjalan tergesa-gesa sambil menggendong seseorang.
"Rukia!!" kedua pemuda itu berseru serentak setelah menyadari gadis mungil dalam gendongan itu adalah 'nakama' mereka.
"Kuchiki taichou, Rukia.."
"Apa yang terjadi? Rukia daijoubu?!?" Byakuya berhenti sejenak, dengan tatapan tajam yang sama ia menoleh kearah Ichigo. Lagi, pria bersurai orange itu bergedik merasakan aura yang sama sejak pertemuan terakhirnya dengan kepala keluarga Kuchiki ini. Walau demikian Ichigo tidak begitu peduli, saat ini yang ingin diketahuinya hanyalah kondisi Rukia yang terlihat berantakan.
"Oi Rukia, jawablah! Kenapa kau..."
"aku tidak apa-apa, pulanglah Ichigo!" Rukia menjawab dingin.
"Tidak apa-apa?, kau terluka begini bagaimana aku..." "AKU TIDAK BUTUH KAU ADA DISINI!" Rukia meremas erat baju Byakuya, menahan agar tangisnya tak pecah.
"Nii sama tolong bawa aku masuk"
'DEG!' bagai terkena serangan jantung, Ichigo benar-benar shock. Ekspresi wajahnya menunjukkan seribu pertanyaan yang menggantung. Kali ini apalagi kesalahan yang diperbuatnya. Ia hanya bisa mematung melihat punggung Byakuya yang mulai menjauh. Ichigo menoleh kearah Renji tanpa bersuara. Renji berjalan mendekat dan menepuk pundak Ichigo.
"Tidak akan kuserahkan Rukia dengan mudah pada siapapun" Renji lalu berlari kecil menyusul sang kapten diiringi gerbang utama kediaman Kuchiki yang tertutup perlahan. Ichigo benar-benar frustasi. Ia belum pernah merasa sekacau ini. Sangat jelas di telinganya Rukia berteriak tak menginginkannya berada disini. Tubuhnya terasa lemas, jantungnya berdetak tak karuan serasa akan meledak.
"Kushooooooooo!!"
===000===
3 bulan kemudian...
Tiga serangkai Chad, Mizuiro dan Keigo sedang bertengger di kamar sulung Kurosaki. Wajah mereka tampak serius mengerjakan tugas yang di berikan guru bahasa Jepang di sekolah tadi kecuali Keigo yang mulai terlihat bosan.
"Haaaah.... Tugas membedah novel ini membosankan, bagaimana kalau kita istirahat dulu"
"Kita baru saja mulai" sambar Mizuiro mengingatkan.
"Ck.. Kau terlalu kaku Mizuiro! Iya kan Chad?" cepat-cepat Keigo menatap pria berbadan besar disampingnya untuk mendapatkan dukungan.
"Hm.. Ceritanya bagus" Keigo bersungut
"Apa menariknya membaca legenda yang belum tentu benar? Oi Ichigo, katakan kalau kau sependapat denganku!" pria berkepala orange tidak menjawab, ia asyik memainkan pulpen di tangannya.
"Oi I-chi-go..." Keigo berbisik lembut tepat di telinga Ichigo membuat kuduk temannya ini berdiri jijik.
"APA-APAAN KAU!?"
'BLETAKK!' sebuah benjolan muncul dengan indah di kepala Keigo.
"Lagi-lagi kau sibuk dengan duniamu sendiri Ichigo" protes Keigo sambil mengelus-elus kepalanya.
"Ah maaf.. Mengenai novel ini aku baru akan membacanya" Ichigo memegangi belakang lehernya yang sempat merinding akibat perbuatan Keigo. Mizuiro menghela nafas panjang, mungkin hanya ia yang sedang benar-benar tertarik pada tugas ini.
"'Akai Ito' novel yang terinspirasi dari legenda 'unmei no akai ito' atau the string of fate bercerita tentang benang takdir yang jauh hari telah mengikat jempol kita, para pria dengan kelingking wanita yang akan menjadi masa depan kita. Sejauh atau seberbeda apapun kita dengannya maka takdir akan tetap membawanya pada suatu ikatan yang kuat. More than love at first sight, more than simply two soulmates destinied to be together, the red string of fate is some perceivable clue that identifies your destenied true love."
'Prok.. Prok.. Prok!!' Keigo bertepuk tangan dengan semangat.
"Wuuuuaaaah hebat.. Ternyata kau tau banyak Mizuiro"
"Aku tau karena aku membacanya! Lagipula ini legenda yang sangat terkenal, makanya jangan habiskan waktumu hanya untuk bermain dan mengejar gadis-gadis"
"Benar juga.. Suatu hari wanita yang telah diikat benang merah denganku pasti akan datang"
"Akai ito..." Ichigo bergumam pelan.
"Ne Ichigo, apa Kuchiki chan tidak pernah main kemari? Sudah tiga bulan, ia bahkan tidak pamit"
"Kenapa tanya padaku?" Ichigo berusaha menjawab cuek.
"Entahlah.. Aku jadi merasa kalau Kuchiki chan terikat benang merah dengan dunia kita"
"Begitu ya.." hazel Ichigo berubah sendu, melirik jendela dimana untuk pertama kalinya kupu-kupu neraka terbang mengantar Rukia masuk kedalam hidupnya.
Malam semakin larut namun Ichigo tampak betah menatap novel di tangannya. Sejak teman-temannya pulang sore tadi ia begitu serius membaca legenda asal Cina yang menjadi bahan untuk presentasi mereka di kelas besok.
'More than love at first sight, more than simply two soulmates destinied to be together, the red string of fate is some perceivable clue that identifies your destenied true love'
Kalimat-kalimat yang-untuk saat ini-sangat menarik perhatian Ichigo. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan mengikuti gerak lehernya yang mengarah ke lemari besar tempat dimana Rukia dulu menghabiskan malam di rumahnya. Sudah tiga bulan sejak terakhir kali ia menemui Rukia. Tidak sekalipun ia melihat dan mendengar omelan gadis itu lagi. Rindu? Hal tersebut tidak perlu dijabarkan lagi. Bukannya Ichigo tidak ingin menemui Rukia, tapi gadis itu sendiri yang mengatakan tidak membutuhkannya disana. Bagi Ichigo, menunggu adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan saat ini. Pertemuannya dengan gadis bermata violet itu adalah takdir dan jika mereka harus berpisahpun bukan haknya mencegah takdir.
'aku jadi merasa kalau Kuchiki chan terikat benang merah dengan dunia kita'
Ichigo teringat dengan apa yang dikatakan Keigo. Ia lalu memperhatikan jemari tangannya dan mengepalkannya perlahan..
"Hanya sampai disinikah, Rukia.."
000===000
Langit begitu pekat malam ini, bulan bahkan terlihat redup. Rukia menghela nafas panjang. Tidak ada hal menarik yang bisa ia temukan di taman kediaman Kuchiki, hanya angin yang menyelimuti tubuh mungilnya.
"Yo Rukia!" gadis bersurai hitam itu menoleh. Manik ungunya menangkap pria tegak yang sangat familiar dalam hidupnya.
"Renji.." pria itu berjalan mendekat ke arah paviliun dimana Rukia sedang duduk. Ia mengambil tempat terbaik tepat di samping Rukia.
"Mungkin kau harus menemuinya.."
"Haah??"
"Haah??" Renji ikut-ikutan meniru gaya Rukia.
"Tidak lucu Renji.."
"Apa kau sedang memikirkan si kepala jeruk itu?"
"Jangan sembarangan.. Mungkin kepala nanasmu yang sedang memikirkannya. Oops aku lupa kalau kalian satu spesies"
"Ha-ha-ha.. Tidak lucu!" Rukia terkekeh geli membayangkan Ichigo yang berkepala jeruk dan Renji dengan kepala nanasnya. Bagaimana bisa ia memiliki dua nakama berkepala buah-buahan. Renji memperhatikan wajah Rukia lekat, pipinya bersemu karena tertawa.
"Rukia.."
"Ya?"
"Jujurlah sebenarnya ada masalah apa antara kau dan Ichigo? Sejak kejadian tiga bulan yang lalu kau tidak pernah lagi mengunjungi kota Karakura."
"Ti.. Tidak ada apa-apa, kami baik-baik saja. Lagipula tidak ada misi yang mengharuskanku kesana kan?" Renji memicingkan mata curiga. Tampaknya Rukia tidak ingin berbagi cerita kali ini.
"Haaah kau ini memang keras kepala Rukia, tidak ada yang berubah darimu sejak pertama kita bertemu"
"Masa-masa itu ya.." Rukia mendongak ke arah bulan, mengingat beberapa kenangan masa kecilnya bersama Renji. Mengingat betapa kerasnya perjuangan mereka dulu untuk bertahan hidup di Rukongai.
"Aku menyayangimu Rukia" lamunan gadis itu buyar mendengar pernyataan Renji. Irisnya sedikit membesar. Rukia memandang wajah nakama disampingnya tampak santai tersenyum ke langit.
"Renji..."
"Di Rukongai kita adalah yatim piatu yang menghabiskan masa kecil dengan bertahan hidup. Dari dulu, aku selalu kagum dengan dirimu yang optimis. Setelah kita memutuskan untuk mengikuti akademi shinigami, sejak saat itulah aku berjanji untuk tidak kehilanganmu sebagai satu-satunya yang kumiliki bahkan disaat keluarga Kuchiki mengadopsimu aku berusaha mati-matian agar bisa masuk ke divisi 6 dan menjadi fukutaichou dari Kuchiki Byakuya taichou, kakakmu, hanya agar bisa tetap berada di dekatmu." Renji menghela nafas panjang dan memandang Rukia.
"Renji aku.. Ma.. Maaf aku.."
"Hahahahah ada apa dengan wajahmu itu? Kau terlihat bodoh hahah"
"Renji!!"
"Haha maaf Rukia, aku tidak bermaksud apa-apa. Tolong jangan salah paham. Aku sangat menyayangimu. Lebih dari nakama.. kau adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki"
"Renji.." mata Rukia berkaca-kaca menahan haru.
"Makanya, jika si jeruk itu berani menyakitimu dia akan berhadapan langsung denganku."
"Oh benarkah? Bukankah spesies buah-buahan akan saling membela?" Rukia melirik jahil.
"Rukia!!"
"Hahahah" suasana malam tak lagi pekat dengan tawa sepasang nakama yang memecah keheningan.
Seorang pelayan berjalan menghampiri Rukia. Ia menyampaikan pesan dengan kepala yang menunduk dalam.
"Rukia sama, Byakuya sama memanggil anda"
"Eh? Nii sama memanggilku?"
"Ichiiiiiiigooooooo......" Keigo berlari penuh semangat di sepanjang koridor sekolah. peluhnya sudah bertebaran di permukaan dahinya. Ichigo yang hendak pulang seusai jam pelajaran terakhir terpaksa menghentikan langkahnya mencari tahu penyebab namanya dipanggil begitu kencang. Begitu berbalik, tangannya ditarik begitu saja agar turut serta berlari bersama Keigo.
"BAKA! Kau mau membawaku kemana? Oi Keigo!!?" "Ikutlah Ichigo, kau tidak akan percaya dengan apa yang kulihat."
"Memangnya apa yang kau lihat? Hollow?" Keigo tidak menjawab ia terus berlari menyeret Ichigo menuju taman belakang sekolah. Disana cukup terkejut Ichigo mendapati seorang gadis mungil bersurai hitam tengah asyik bermain bersama seekor kucing liar.
"Ne Ichigo, bukankah itu Kuchiki chan?" tunjuk Keigo pada gadis tak berseragam di depannya.
"Rukia..?" tampaknya sang gadis cukup peka menyadari dirinya sedang diperhatikan. Mata violet gadis tersebut berbinar terang melihat sang pemuda bersurai orange.
"Ichiiigooo..." si gadis melompat kegirangan dan memeluk Ichigo erat.
"Ru.. Rukia??"
"Senangnya pyon bisa bertemu Ichigo sama.." alis Ichigo mengernyit hidungnya mencium bau kejanggalan. Ia lalu melepas pelukan mereka
"Tunggu... Tadi kau memanggilku apa? Ichigo sama?? Kau bukan Rukia, kau.." si gadis mengangguk bersama senyum lebarnya.
"Aku mod soul, Chappy pyon" Ichigo menggaruk kepala, seharusnya ia sudah tahu Rukia tidak akan seagresif tadi memeluknya. Memangnya Rukia mau memeluknya? Ok, sekarang Ichigo berfikir terlalu jauh.
"Wah.. Yakin dia bukan Kuchiki chan? Mirip sekalii" Keigo mulai menarik Ichigo dari lamunannya.
"Ah Chappy, apa yang kau lakukan disini?"
"Ng.. Ano pyon.. Ichigo sama sebenarnya Rukia sama..."
Flash Back
Laki-laki berperawakan tinggi besar menyuguhkan secangkir teh hijau di atas meja.
"Arigatõ Tessai san" Asisten Urahara yang lekat dengan celemeknya ini tak mengeluarkan sepatah katapun pada tamunya. Dia hanya ber-'hmm'-ria dan pergi meninggalkan ruangan.
"Jadi apa yang bisa aku lakukan untukmu geta boshi? Semalam nii sama bilang kau membutuhkan bantuanku"
"Hahahaha.. Kau terlalu serius Kuchiki chan, nikmatilah teh itu dulu"
"Cepatlah agar aku bisa segera pulang"
"Ada apa Kuchiki chan? Setelah tiga bulan tidak terlihat bukankah ini moment yang tepat untuk ber-reuni? Kau boleh mengunjungi Kurosaki kun dulu kalau kau mau" goda Urahara dengan tatapan misterius dan kipas yang menutupi setengah wajahnya.
"Tidak terimakasih, aku sedang buru-buru"
"Hahaha.. Wah sedang marahan dengan Kurosaki kun ya?"
'BUGH!' tinju Rukia cukup keras membuat hidung Urahara mengeluarkan cairan merah.
"Kejamnyaa.. Gadis memang sensitif bila menyangkut perasaan" tidak kapok, Rukia memberikan death glare. Tangannya tengah bersiap menyerang untuk kedua kali jika Urahara tetap berbicara yang tidak-tidak.
"Baiklah.. Baiklah.. Aku ingin kau mengisi questionnaire dari penelitian tiga bulan yang lalu. Gigai terakhir yang kau pakai belum ada laporannya Kuchiki chan"
Rukia ber-oh-ria. Ia baru ingat belum sempat merampungkan laporannya karena Byakuya membawanya pulang setelah terkena serangan hollow. Tanpa harus berlama-lama, Rukia segera mengisi beberapa lembar kertas yang diberikan Urahara. Keningnya mengkerut saat melihat kolom bertuliskan 'halusinasi'.
"Ano.. Urahara san, apa maksud dari kolom ini?" jari telunjuknya merujuk ke kolom tersebut.
"Oh.. Apa selama menggunakan gigai itu kau pernah berhalusinasi atau bermimpi aneh?" Rukia memutar bola matanya..
"Hmm.. Entah bisa disebut halusinasi atau bukan, aku memang sering melihat pita merah terjuntai panjang.."
"Benar-benar bekerja rupanya"
"Bekerja? Memangnya itu gigai jenis apa?" Rukia memicingkan mata. Sepertinya ada yang disembunyikan oleh pemilik toko kelontong ini.
"Ano.." gugup, Urahara bertingkah bodoh melihat mata Rukia yang semakin menyempit.
"Ayo katakan! Jangan bilang kau sudah lupa pernah memberiku gigai penghisap energi dan menaruh hõgyoku yang berbahaya padaku ya" Rukia memojokkan Urahara mengingat ia pernah menjadi kelinci percobaan yang berakhir pada pertarungan besar di Soul Society.
"Apa aku tidak bilang kalau gigai itu spesial?" Rukia terdiam sejenak. Ya, Urahara pernah mengatakan jika itu adalah gigai spesial yang dibuat khusus untuknya.
"Sebenarnya itu adalah penemuan terbaruku, gigai penghubung jiwa"
"Gigai penghubung.. jiwa?"
"Gigai ini berfungsi menghubungkan jiwa si pemakai dengan orang yang terikat benang merah dengannya. Dengan kata lain kau bisa masuk kedalam jiwa orang yang ditakdirkan bersamamu"
"Oh..... Pantas saja aku sering melihat.. Tunggu dulu, tadi kau bilang 'ORANG YANG DITAKDIRKAN BERSAMAKU?!!" Urahara mengangguk kencang sementara Rukia mendadak pusing, ia sedikit memijat pelipisnya.
"Apa kau melihat orang itu Kuchiki chan? Orang yang menjadi takdirmu hn..?" kembali alis Urahara naik turun menggoda si bungsu Kuchiki. Rukia tersenyum miris, tidak mungkin ia mengatakan kalau orang yang dilihatnya adalah...
"Rukia nee saaaaaa....n!!!" sebuah boneka singa berlari kearah Rukia dan melompat berniat mendarat tepat di dada gadis pujaannya. Sayangnya mimpi boneka berisi mod soul itu harus kandas ketika menerima tendangan maut Rukia.
"Dasar! Sifat mesummu itu tidak pernah berubah Kon!!" Kon meringis memegangi perutnya.
"Kon?? Maaf.. Apa tendanganku terlalu kuat?"
"Hwaaaaaa aku kangen Rukia nee san.. Apa Rukia nee san marah padaku?" Kon menangis sejadi-jadinya, sesekali ia menyeka airmatanya.
"Marah? Kenapa aku harus marah padamu?"
"Habisnya, sejak nee san melihatku bersama Inoue san di kamar Ichigo, nee san tidak lagi kembali ke kota ini.."
"Melihatmu dan Inoue di kamar Ichi.. AH! Jadi yang waktu itu aku lihat adalah kau??"
"Tenang saja Rukia nee san, walau Inoue san sangat sexy, tapi hatiku hanya untuk Rukia nee san seorang"
"Samasekali tidak ada hubungannya denganmu Kon!!"
Setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya dari Kon, Rukia memakai gigai untuk menemui Ichigo dan meminta maaf. Tentu saja ia tidak akan mengatakan penyebab kemarahannya. Rukia berjalan menunduk sambil memegangi dagunya.
'Bagaimana bisa aku begitu bodoh tidak mengenali Kon pada waktu itu? Kesalahpahaman ini bahkan berlangsung selama tiga bulan!! Apa iya aku.. Cemburu?' cepat-cepat Rukia menepis dugaannya dengan menggeleng-gelengkan kepala.
'tidak Rukia tidak.. Itu bukan cemburu, itu hanya refleks dan itu normal!' putri Kuchiki mulai bergumam sendiri. Tidak berselang lama langkahnya terhenti. Ia merasakan adanya aura buruk tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Hollow.." Rukia merogoh sakunya dan mengeluarkan soul candy. Setelah menelan benda bulat berwarna hijau itu, roh Rukia pun keluar dari gigai yang kini dinaungi oleh mod soul bernama Chappy.
"Chappy tetaplah disini, aku akan segera kembali setelah membasmi hollow"
"Baik pyon! Rukia sama tenang saja pyon" Chappy menempelkan tangan di pelipisnya memasang pose hormat ala tentara. Segera Rukia bershunpo dan meninggalkan Chappy seorang diri. Mod soul yang sedang memakai gigai milik Rukia berdiri tegap menunggu tuannya kembali. Sayangnya itu tidak bertahan lama ketika seekor kucing liar melintas di depan matanya. Manik violet Chappy membesar dan berbinar.
"Wah Konnichiwa pak kucing pyon.." terkejut oleh jeritan Chappy, sang kucingpun berlari ketakutan. Tentu saja Chappy yang kegirangan ikut mengejar hewan lucu berekor panjang itu.
End of Flashback.
Rukia berdiri di ujung tiang listrik berharap dari ketinggian dapat menemukan jejak Chappy yang menghilang setelah ia menunaikan tugasnya sebagai seorang shinigami. Rukia tersenyum, sepertinya usahanya berhasil. Seorang gadis kembarannya namun dalam versi-menurut Rukia-kebanyakan minum sake, sedang melambai penuh keceriaan padanya.
"Rukia sama...." Rukia melompat turun dan menghampiri Chappy.
"Kemana saja kau? Tadi kan kuminta untuk menungguku" omel Rukia kesal.
"Gomen Rukia sama, untunglah aku bertemu dengannya pyon dan membantu melacak reatsumu pyon"
"Dengannya? Siapa?"
"Yo Rukia.." seorang pemuda bersurai orange yang sedari tadi mengekor di belakang Chappy menghampiri Rukia.
"Ichigo.." Rukia masuk kedalam gigainya dan menonaktifkan Chappy kembali dalam bentuk soul candy.
"Lama tidak berjumpa.. apa kabar Rukia?"
"A.. Aku baik-baik saja" Rukia memalingkan wajahnya, ia mengutuk jantungnya yang-entah kenapa-berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya.
"Begitu ya.. Syukurlah"
Suasana diantara mereka begitu kikuk, keduanya terlihat canggung untuk melanjutkan obrolan. Beberapa menit berlalu dalam diam.
"Maaf" sepasang nakama ini berbicara hampir bersamaan.
"Eh?" Rukia memiringkan kepalanya.
"Ano.. Aku minta maaf tidak bisa melindungimu pada waktu itu" Ichigo memutuskan untuk memulai lebih dulu. Rukia terkekeh pelan.
"Baka.. Aku terluka karena kecerobohanku sendiri. Tidak ada yang pantas disalahkan jeruk, justru aku yang seharusnya meminta maaf, tidak seharusnya aku mengusirmu dan berkata sekasar itu padamu. Aku.. Senang kau datang menjengukku" pipi Ichigo merona merah. Kembali keduanya terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing. Rukia memutar otak mencari topik untuk memecah kebisuan diantara mereka.
"Ano.. Bagaimana kabar Sho?"
"Si gaijin itu sudah kembali ke negaranya dua bulan yang lalu kalau mau tahu kabarnya tanyakan saja sendiri!" mood Ichigo berubah buruk.
"Kau ini kenapa jeruk? Apa salahnya menanyakan kabar seorang teman?"
"Tidak apa-apa nona Kuchiki. Oh aku lupa, aku juga hanya seorang 'NAKAMA' jadi apa peduliku terhadap hubungan bodohmu dan pria barbie itu?" Rukia terhenyak,
'Nakama..' yah, hubungan mereka memang hanya sebatas nakama.
"Maaf sudah mengganggu harimu Ichigo" Rukia berbalik melangkah pergi sebelum pertengkaran mereka semakin melebar. Ichigo mengepalkan tangan menutup rapat matanya.
'Life is a combat dude. I may cry for one defeat after every endeavor but better than a remorse since been a chicken for ignoring a battle'
Ia kembali teringat dengan kata-kata Sho. Spontan dengan cepat tangannya bergerak meraih tubuh mungil Rukia dan memeluknya dari belakang.
"Jangan pergi lagi.." Ichigo berbisik lembut, suaranya terdengar parau. Ichigo menyandarkan dahinya pada surai hitam Rukia.
"...." tidak ada respon dari gadis itu, ia terlalu shock untuk berkomentar.
"Maaf karena aku.. Cemburu.."
"Ichigo.."
"Tolong jangan marah!" Ichigo semakin mempererat pelukannya seolah Rukia akan terbang dan meninggalkannya.
"Aku tahu tidak seharusnya aku seperti ini, tapi inilah yang aku rasakan. Kenapa hanya kau yang bisa membuat duniaku berputar? Kenapa Kami sama begitu baik mempertemukan kita? Dan kenapa aku begitu takut si gaijin itu membawamu jauh dariku?. Haruskah kusebut hubungan kita 'nakama'?! Kau.. Terlalu berharga Rukia.."
"Lepaskan.."
"Rukia.."
"Tolong lepaskan tanganmu Ichigo" walau enggan, Ichigo tetap menuruti perintah Rukia. Perlahan-lahan ia melepas pelukannya. Badannya gemetar menghadapi kenyataan jika nanti Rukia akan pergi menjauh dan membencinya atas pengakuan tadi. Rukia berbalik menghadap Ichigo dan..
'PLAK!!' sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ichigo. 'berakhir sudah..' batin Ichigo berduka. Seharusnya ia tahu kalau Rukia...
"JERUK BODOH! RANGKULANMU ITU MEMBUATKU SESAK BAKA!" Rukia berkacak pinggang kesal sementara Ichigo masih nyaman mengelus pipinya yang terasa panas dan nyeri.
"Di Chappy cafe kau bertanya apakah aku sangat suka strawberry.." Rukia bergerak selangkah berdiri sejengkal di hadapan Ichigo. Ia lalu menjulurkan tangannya ke atas meraih pipi dan mengganti mengelus tanda merah berbentuk telapak tangannya yang tertinggal disana.
"Jika kau tanya pendapatku.." Rukia mendongak keatas, kakinya berjinjit mengangkat tubuh mungilnya mendekat kewajah Ichigo.
'Cup' sebuah kecupan lembut mengobati pipi yang menjadi korban amukannya.
"Aku lebih suka Jeruk.." manik amethyst dan amber itu beradu, saling menyelami perasaan masing-masing dan sekali lagi, seakan ada magnet yang menarik mereka untuk meng-eleminasi jarak, keduanya mulai merasakan hembusan nafas yang terasa hangat menerpa. Rukia menutup matanya perlahan mengatur detak jantung dan denyut nadi yang kian tak berirama. Tangan Ichigo menempel dipipi porselen si mungil, menuntunnya semakin mendekat. Ia pun ikut menutup mata saat dirasakannya sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.
'Manis..' batin Ichigo berargumen, bagaimana bisa bibir cerewet yang selalu mengomel ini terasa begitu manis.. Sayangnya Rukia mengakhiri ciuman mereka ketika Ichigo mulai terhanyut. Sebuah ciuman yang lembut menyalurkan perasaan-perasaan yang telah lama bersemayam. Perasaan yang tersembunyi dibalik status nakama..
Rukia tertunduk malu, wajahnya memerah begitu pula Ichigo yang masih tampak terkejut dengan apa yang baru saja mereka lakukan.
Mereka lega, walau tidak ada deklarasi secara langsung namun Ichigo dan Rukia mengerti bahwa mereka saling membutuhkan. Ada ikatan kuat untuk saling melindungi. Tidak satu kata pun yang mampu menggambarkan hubungan mereka. Sekilas Rukia kembali melihat juntaian pita berwarna merah sedang mengelilingi mereka samar-samar.
"Oi midget.."
"Ya?"
"Lain kali tidak usah repot-repot berjinjit, biar aku yang membungkuk untukmu"
"BAKA ICHIGO! DASAR JERUK MESUM!!" Ichigo menyeringai jahil pada gadis yang tentu saja bukan lagi berstatus nakama terbaiknya...
The End
