Actions

Work Header

RETURN OF THE GAME

Chapter 3: BAB 3; Desa Mariana

Chapter Text

BAB 3; Desa Mariana [Distrik Anaheim]

 

***

 


 

Phuwin mendorong tubuh Po menjauh saat ia merasa semua yang disekitarnya sudah berhenti bertransisi. Otaknya mendadak malfungsi saat melihat Po yang terdiam di depannya. Maksudnya, gila! Ini pertama kali Phuwin mencium seorang lelaki dan ia masih mengingat jelas bagaimana kenyal lembut bibir Po menempel langsung di bibirnya. Baru memulai game saja sudah buat dia gila. Tak mau terlalu lama memikirkan hal itu, Phuwin memilih memutar badannya dan berjalan lebih dulu meninggalkan Po yang diam-diam tersenyum tipis melihatnya dari belakang.

Phuwin masih berdecak kagum saat ia melihat bangunan-bangunan kuno yang ia dan Po lewati. Desa Mariana sangat indah bila dilihat langsung seperti ini. Setiap bermain game The Saviors, Phuwin selalu bertanya-tanya bagaimana perasaan penduduk desa ini yang hidup dalam ketakutan. Dan kini semua terasa nyata. Phuwin merasakan langsung perasaan takut dan was-was setiap kali ada bising lain di sekitarnya.

kryukk....~

Suara perut Phuwin memecah keheningan. Ia menelan ludah saat Po melihat kearahnya. Semburat merah muda halus mewarnai kedua pipinya.

"Sorry.... Gue kira karena udah mati jadi nggak laper."

"Mati? Tapi kamu berhasil aku selamatkan di hutan."

Phuwin menghela napas. "Ya technically gue sebenernya belum mati juga sih. Kalo mati harusnya udah di neraka, bukan di dunia game!"

"Kenapa neraka? Kamu gak mau masuk surga?"

"Dosa gue kebanyakan deh kayaknya."

Po tertawa. Dia menepuk pundak Phuwin dan berjalan mendahului Phuwin ke sebuah bangunan dengan pintu kaca yang ada tanda 'CLOSED' tertempel di sana. Phuwin mengekori langkah Po masuk ke dalam. Ini sepertinya sebuah restoran yang sudah lama tak disinggahi. Ada beberapa kursi yang masih berantakan dan belum sempat dibereskan. Po mendekat ke freezer di pojok ruangan. Mengeluarkan beberapa bungkus daging beku dari sana. 

"Ayo makan," ucapnya pada Phuwin.

"Lu kayaknya tau banyak soal desa ini." Phuwin memperhatikan Po yang mengutak-atik dapur restoran itu. Mengambil panci, pemantik api, dan beberapa bumbu lainnya yang tak Phuwin mengerti apa.

"Tentu saja. Ini adalah kampung halamanku."

"LU ASLI DARI DESA MARIANA!?" kejut Phuwin.

Po mengangguk. "Ya. Kukira kamu tau."

"Terus kenapa lu ada di Pocako? Kenapa gak di sini aja? Kenapa game ini kelihatan lebih rumit di aslinya?"

"Tanya satu-satu, Phuwin." Po terkekeh. Ia mengusak rambut Phuwin gemas yang lalu dihadiahi tatapan sinis karena Po baru saja selesai mengupas bawang bombai.

"Kita tidak punya tomat atau cabai di sini. Rasanya mungkin kurang nikmat."

Po dan Phuwin kemudian duduk berhadapan di meja. Daging-daging yang sudah dibumbu kemudian dimasukkan ke dalam panci berisi kuah yang wanginya semerbak. Walau alakadarnya, Phuwin berani taruhan kalau rasanya pasti nikmat. Daging yang berbentuk irisan tipis itu memudahkan keduanya menyantap karena cepat matang dan empuk.

"Hmmmm! Enak bangett!" Phuwin memuji dengan mulut setengah penuh.

"Makan yang banyak," ucap Po sembari tersenyum.

Phuwin mengunyah sembari melihat keadaan sekitar. Poster-poster band rock n roll ditempel di dinding. Ada mesin minuman dingin di dekat pintu yang sudah tidak berfungsi. Ingatkan dia untuk mengacungi jempol pada developer The Savior karena telah membuat detail sebagus ini. Walau di game yang biasa ia mainkan, bangunan ini bersifat statis dan tidak bisa dimasuki.

"Dulu ini adalah restoran daging terkenal di Anaheim. Mereka harusnya menyediakan bir. Tetapi kurasa kita tidak di waktu yang tepat untuk mabuk," jelas Po. Mungkin ia menyadari Phuwin yang bertanya-tanya dari bagaimana caranya mengamati sekitar.

"Ini di Anaheim?" tanya Phuwin selesai ia menegak air minumnya.

Po mengangguk. "Kukira kamu tau. Kamu bilang sudah pernah memainkannya."

"Gue belum buka maps sejak kita masuk desa."

Po menyingkirkan gelas-gelas mereka. Kemudian mematikan kompor dan memindahkan panci kecil ke meja sebelah. Lelaki itu sempatkan untuk mengelap bersih meja mereka sebelum kembali duduk di kursinya.

"Ayo buka petamu," pintanya pada Phuwin.

Phuwin bergegas mengambil tasnya dan mengeluarkan gulungan peta dari sana. Ia membuka gulungan itu di atas meja.

"Hmm... Kita sekarang di sini. Kalau kamu berniat mengalahkan mereka, kita perlu melewati jalan memutar karena Mariana daerah tenggara sedang dalam pembantaian. Kamu cukup mengeluarkan senjata jarak dekat yang kamu punya karena mereka yang ditugaskan hanya membawa senjata tajam seperti pisau dan sejenisnya. Kamu bisa kan?"

Phuwin terdiam sebentar, sebelum ia mengamati lamat-lamat wajah Po,

"Siapa lu sebenarnya, Po?"

 

***

 

Dorr!

Suara letupan senjata terdengar di balik gedung terbengkalai yang baru saja dilewati Po dan Phuwin. Phuwin spontan awas terhadap apa yang ada di sekitarnya. Ia mengeluarkan salah satu senjata yang ada di kantong celananya. Bersiap untuk melawan.

"PHUWIN AWAS!"

Dorr!

Phuwin membuka mata saat merasa mulutnya dibekap oleh sebuah telapak besar. Po membawa telunjuknya ke depan wajahnya. Mengisyaratkan Phuwin untuk diam sejenak. Malam makin dingin di distrik Anaheim karena mereka tidak punya listrik yang tersisa. Gedung-gedung yang gelap ini seolah jadi kotak pandora yang bisa kapan saja mencelakai Phuwin atau Po. Phuwin mengeratkan pelukannya pada tas ransel yang ia taruh di depan. Ketakutan dan gelisah mulai menyelimutinya saat mendengar langkahan kaki mendekati mereka.

"Sepertinya tidak ada yang tersisa."

"Kau yakin?"

"Ya. Ayo kita pergi dari sini sebelum markas utara ditutup."

Langkah kaki kedua orang itu semakin menjauh. Phuwin akhirnya bisa bernapas lega saat Po mengangguk padanya begitu lelaki itu menoleh ke luar gedung. Pertanda keadaan sudah kembali aman.

"Gue punya persediaan senjata yang cukup, kenapa gak kita lawan aja sih tadi?" tanya Phuwin ketika ia dan Po kembali berjalan. Kali ini, lebih waspada dan hati-hati.

"Kamu harus menyimpannya untuk pesta nanti."

"Pesta?"

Po mengangguk.

Phuwin mengekori Po saat lelaki itu berjalan masuk ke sebuah rumah yang pagarnya sudah usang. Halaman rumah itu luas dengan sebuah pohon di sudutnya. Walau benaknya bertanya-tanya, Phuwin memilih bungkam dan membantu Po yang kesulitan saat membuka pintu rumah tersebut. Setelahnya, keduanya masuk ke dalam rumah yang terlihat rapih. Sangat berbeda dengan restoran yang disinggahi Phuwin dan Po tadi.

Po menjelajahi seisi rumah dengan penglihatan didalam gelap yang seadanya. Setelah menemukan yang ia cari, Po kembali mendekati Phuwin yang masih berdiri di depan pintu.

"Kamu punya pemantik api yang tadi aku minta bawa dari restoran?"

"Ada, sebentar." Phuwin membongkar isi depan tasnya. "Ini," ucapnya memberikan sebuah alat pemantik api pada Po."

Nampaknya yang ada di tangan lelaki itu adalah lilin. Kedua mata Phuwin berbinar saat ia melihat cahaya lilin yang menyala. Ia menurut ketika Po memintanya membuka sepatu dan masuk ke dalam. Hanya ada sofa dan sebuah lemari buku besar. Po membuka pintu di dekat lemari yang ternyata adalah sebuah kamar tidur.

"Malam ini kita tidur di sini. Kamu boleh pakai kamarnya. Aku di sofa saja," ucap Po mempersilakan.

"Kenapa lu gak tidur di dalam aja? Kasurnya cukup kok buat kita berdua," protes Phuwin.

Kamar itu walau tak cukup besar, muat untuk mereka. Ada sebuah lemari kecil yang sebelum Phuwin buka, ia lebih dulu meminta izin pada Po. Seolah Po adalah pemilik kamar ini. Di dalam lemari ada banyak baju laki-laki yang sepertinya cukup dikenakan oleh Phuwin dan Po untuk berganti baju. Phuwin memilih yang lebih besar untuk Po dan melempar sepasang kaos dan celana pendek ke arah Po.

"Phuwin mandilah dulu. Aku akan berjaga-jaga."

Terlalu lelah untuk berdebat, Phuwin akhirnya menyetujui usulan Po dan bergegas mandi sembari membawa sebatang lilin yang menyala tadi. Pun akhirnya bergantian dengan Po hingga keduanya selesai bersih-bersih dan kini tertidur di kasur. Menatap ke langit-langit kamar yang lampunya tak menyala. Larut pada pikiran masing-masing yang entah apa isinya.

"Lu belum jawab pertanyaan gue," kata Phuwin memecah keheningan.

"Kamu masih saja pakai sebutan itu," balas Po.

"Apa?"

"Lu-gue. Bahasa distrik mana itu?"

Phuwin bergeser dan membalikkan tubuhnya menghadap Po. Satu tangannya ia lipat dan jadi pangkuan untuk menopang wajahnya agar bisa melihat jelas lelaki yang ada di sebelahnya.

"Kan udah gue bilang, gue tuh harusnya gak di sini!"

"Terus lu mau kemana?" Kali ini Po ikut-ikutan menggunakan frasa lu-gue seperti Phuwin. Phuwin mendengus geli saat mendengarnya.

"Gak cocok ah lu pake lu-gue."

"Yaudah pake aku-kamu saja seperti aku, Phu."

Entah ada angin darimana, Phuwin mengangkat tangannya yang satu lagi untuk menyentuh garis rahang Po. Lelaki itu punya bentuk wajah yang nyaris sempurna. Hidungnya mancung dan matanya berwarna cokelat. Phuwin membuat pola absurd dengan jari telunjuknya di pipi Po.

"Aku-kamu kalo di dunia gue tuh cuma dipake sama orang yang udah deket, atau orang yang lebih tua. Lu kayaknya gak beda jauh umurnya sama gue."

"Berarti kalau aku mau dengar Phuwin pakai aku-kamu, kita harus jadi dekat?"

Ekhm!

Phuwin berdehem. Ingatan tentang ciuman mereka saat pindah kemari mendadak muncul di ingatan Phuwin.

"Ha–harusnya lu jawab dulu gak sih pertanyaan gue? Lu sebenernya siapa?" tanya Phuwin berusaha mengalihkan topik.

"Kenapa gak Phuwin yang lebih dulu menjelaskan maksud kedatangan kamu kemari?"

Phuwin menghela napas panjang. Ditariknya tangannya menjauh dari pipi Po. Ia kembali ke posisi terlentang menatap ke atas."Gue gak tau sebenernya gue ngapain. Tapi yang jelas, gue pengen bebasin Mariana dari musuh yang mau ngabisin seluruh desa ini. Entah setelahnya gue kembali ke dunia gue, atau kembali ke alam baka. Satu hal yang gue tau, gue gak mau mati lagi di sini dan bikin gue ngulang kematian di dunia gue yang sebenarnya–,"

Phuwin mengambil jeda dan menoleh ke arah Po yang juga ternyata sedang menatapnya.

"–rasanya sakit banget. Sekujur tubuh gue ngerasa ngilu saat ingat kecelakaan-kecelakaan yang gue alami, tapi pas bangun malah ada di gubuk lu. Gue cuma pengen kalau harus mati, kembali ke tempat seharusnya gue pergi."

"Aku akan bantu kamu, Phu."

Phuwin tersenyum tulus. "Makasih. Sekarang gue tau kenapa gue gak bisa ke desa kalau lu gak ikut."

"Kita tim sekarang?" tanya Po. Tangannya diangkat ke udara. Yang kemudian diterima Phuwin. Telapak mereka saling menggenggam erat.

"We're team for playing this game," jawab Phuwin lantang.

Keduanya saling menyungging senyum sebelum akhirnya Phuwin memutar badannya membelakangi Po. Rasa kantuk sudah melanda dan Phuwin hanya bisa terpejam ketika ia merasa tubuhnya dipeluk dari belakang oleh Po.

"Aku izin memelukmu karena kamu terlihat kedinginan," ucap Po yang masih samar-samar didengar Phuwin sebelum ia benar-benar jatuh terlelap.

 

***

 

Phuwin terbangun saat ia merasa sinar matahari yang masuk melewati jendela menyorot tepat ke arah wajahnya. Ia mengucek matanya sebelum akhirnya terbangun ketika merasakan sisi sebelah kasurnya yang kosong.

"PO!!?" panggil Phuwin ketika ia menyadari Po benar-benar tidak ada di sampingnya. 

Phuwin melihat seisi ruangan dan menyadari kalau tas isi senjata yang ia letakkan di meja kamar itu tak ada di sana. Ia bergegas bangun dari kasur dan mengambil sebuah pisau yang ia letakkan di atas nakas tadi malam. Berjalan dengan awas keluar dari kamar.

"Po....?"

 


 

***

 

(bab 3/?)

 

 

 

 

Notes:

CERITA INI TERTAUT DENGAN THREAD TWITTER @hilaphobic
link : https://x.com/hilaphobic/status/1844340144104763624?t=fc4Pu2fTCvJ7nJ4l8oAR1g&s=19