Chapter Text
sepertinya hari ini dunia sedang tidak berpihak dengan jungwon, semua kurir lagi tidak tersedia, entah karena jam sudah malam jadi pada mengakhiri shift mereka, atau mereka sedang beristirahat. dalam kata lain—jungwon lah yang harus mengantarkan pesanan customer satu itu.
customer tadi... namanya riki, kurang ajar sekali. bisa-bisanya mereka kepikiran untuk menelepon saat melakukan hal yang tidak senonoh?! bagaimana mereka bisa menahan malu itu?! sangat tidak pantas!!—pikir jungwon yang sedang menatap kontolnya yang masih agak tegang, masih kepikiran kejadian itu. mesum.
dengan berat hati (atau senang hati?), jungwon berangkat mengantar pesanan customernya, berdoa semoga mereka sudah selesai dengan kegiatan yang dilakukan oleh mereka.
jungwon sudah sampai di depan kediaman mereka, meneguk ludah cemas, ia rasa ia akan mengganggu kegiatan dua orang di dalam rumah itu. mencengkram plastik makanan di satu tangan, dan satunya lagi untuk mengetuk pintu tiga kali.
setelah ditunggu beberapa detik, jungwon masih belum mendapat jawaban dari dalam, maka ia ketuk lagi pintu itu, namun belum ada jawaban lagi. jungwon berpikir untuk meninggalkan makanannya di depan pintu saja, mungkin mereka masih sibuk di dalam. saat jungwon ingin menaruh plastiknya, tiba-tiba pintu terbuka, terdorong ke depan.
yang pertama kali jungwon notis adalah seorang pria—rambutnya panjang belah tengah, matanya kecil dan bibir tebal yang bengkak—oh. pria itu memakan sweater yang kebesaran di tubuh kecilnya, dan lehernya terpampang jelas ada kiss mark dimana-mana, benar-benar keterlaluan.
kalau jungwon tak sadar, muka pria itu memerah dan berkeringat, tak lupa desahan dan desis kecil yang ia lontarkan, dan badannya yang terkejut-kejut. are they serious right now??? right in front of me????
"ahah— makasih banyak mas—" pria itu tiba-tiba menutup mulutnya dengan telapak tangannya, menahan suara tidak pantas agar tidak keluar, tidak di hadapan pekerja restoran itu. tubuhnya bergetar tak tahan, lenguhan kecil terdengar. this is not what jungwon thinks it is, right?
tiba-tiba satu tangan muncul dari dalam rumah, mengambil plastik makanan dari jungwon yang tak bisa berkata-kata. tak butuh waktu lama untuk pemilik tangan tersebut untuk menampakkan diri ke luar.
"thanks mas, tadi udah saya transfer ya." namun jungwon abai akan perkataan orang itu, karena— dua orang ini ngentot di hadapannya.
jungwon tak bisa abaikan badan pria yang dibawah—sangka jungwon, dialah yang bernama riki—sedang maju mundur mengeluarkan desahan yang agak nyaring, sampai pria yang di atas menutup mulutnya dengan tangannya. jungwon tak bisa abai dengan badan kedua orang di hadapannya bergerak dengan tempo kasar dan cepat, pria yang di atas mempunyai kuasa penuh kepada riki, sedang riki hanya bisa mendesah kencang, yang tertahan dengan tangan pria pihak atas.
how could they be this shameless?!
pria pihak atas membisikkan sesuatu ke riki, yang tak sengaja jungwon dengar, "sayang, do you want a guest for our special birthday show? wanna see him watching you getting wrecked by me?" bisiknya sambil menyunggingkan senyumnya memperlihatkan gigi taringnya.
jungwon blank.
sumpah...?!???!
jungwon gak tau how did things escalate this quickly.
sekarang dia berada di dalam kamar seseorang yang baru saja bertemu, di antara kaki panjang riki yang terbuka lebar, di depan kedua orang yang bercinta di depan dirinya. jungwon juga tak paham kenapa ia malah ikut-ikut saja dengan ucapan si sunghoon—pria yang baru saja ia ketahui namanya karena riki yang mendesahkan namanya sesekali.
"ammh— hoonie-"
"sssh, diem dulu sayang. kita tunjukkan dulu cara mainnya ke audience baru kita."
penis sunghoon yang daritadi masih tertancap di dalam vagina riki mulai bergerak lagi, membuat yang dimasukin merengek lelah, harus bermain dengan permainan pria yang daritadi mengerjai tubuhnya
tangan nakal sunghoon tertuju kepada bibir vagina riki, membukanya dengan dua jari menampakkan pemandangan surgawi kepada jungwon, lubang merah yang basah dan licin.
"masukkan kontol lo di dalam, tapi gak boleh keluar ke dalam rahim dia. only i can di that, ngerti?"
jungwon ngangguk tanpa sepatah kata, seperti membisu, dia masih gak percaya dia bisa ada di situasi seperti ini. maka tanpa basa-basi ia mulai memasukkan penisnya yang daritadi tegang—ingat bahwa saat di restoran pun dia sudah tegang.
"AANHH!! gaahk— keluariin!! g-gak muat—"
gimana gak gila, dimasukin dua penis aja sudah gak masuk akal. tapi tentu saja kedua orang yang menggagahinya malah abai. mereka saling bergantian menubruk titik manis riki, kedua matanya berputar ke belakang melihat bintang disana.
jungwon bisa rasakan bahwa kedua orang di depannya sudah sering melakukan hal ini. jungwon mulai membayangkan berapa kali riki disodok seperti ini— dibuat enak sampai jadi tolol.
ah, jungwon mungkin tak sampai lama. tapi dia tetap ingin berlama-lama lagi di dalam lubang hangat ini. pandangannya ia bawa ke bawah, kepada pria cantik yang lidahnya menjulur keluar, air liurnya bleberan kemana-mana, mukanya yang basah entah karena keringat, liur, atau air mata yang tak bisa ia bendung. matanya terlihat lelah namun semakin memantik nafsu jungwon, melihat riki yang kelojotan dibuatnya (dan sunghoon).
"AH! aahn! hnggh— udah p-please—! I'm sorr—ry hoonie! hhiks.." sunghoon menangkup pipi riki dan mengarahkan mukanya untuk melihat dirinya.
"pintar, udah bisa minta maaf. i hope there won't be a next time. sekarang kamu enjoy aja dulu hukumannya."
"a-aah—"
mendengar desahan indah dari mulut riki sedari tadi bikin jungwon semakin sange. jungwon dikit lagi akan sampai ke puncaknya.
"ugh— bentar lagi gue sampai-"
"keluarin kontol lo sekarang." balas sunghoon dingin.
jungwon hendak memisahkan dirinya dengan riki namun riki malah menjepit tubuhnya agar semakin mendekat dengannya.
"riki— lepasin gue, tolong, gue mau keluar—"
"nnghhh— di dalem ajaah—!"
sunghoon membelalakkan matanya, "sayang ngapain sih?! mau ya dikasarin mulu sama aku. lepasin sekarang juga." tegas sunghoon.
namun, jungwon yang sudah pusing mengeluarkan spermanya ke dalam riki, masuk sampai pintu rahimnya.
"hyaaa-h! penuhh bangeth..." ucap riki sambil melihat perutnya yang menonjol tidak normal, isinya ada dua penis dan sperma milik jungwon yang juga banyak.
jungwon menggosok itil riki membuat riki kaget dan vaginanya langsung mengeluarkan cairan deras—squirt, lubangnya tak sengaja menjepit lebih sempit kedua penis di dalamnya yang membuat sang pemilik menggeram. sehabis itu, suara yang bisa didengar di dalam kamar itu hanya helaan nafas kasar sehabis kegiatan tadi.
entah apa yang merasuki jungwon, tiba-tiba dia mencium bibir riki yang bengkak, memasukkan lidahnya kedalam yang membuat riki tersedak. sunghoon hampir gila.
"what the hell?! lu ngapain anjing! pergi bangsat!" sunghoon menarik rambut jungwon kasar dan mencoba menjauhkannya dari riki, namun riki malah semakin mendekatkan jungwon ke dirinya dan juga jungwon yang semakin mabuk menciumi riki, keduanya seperti abai akan sekitarnya. riki yang masih dimasukin dua penis di dalam vaginanya mendesah ribut saat keduanya malah mulai bergerak lagi, sunghoon juga kepalang nafsu melihat kedua orang di depannya berciuman dengan basah.
sunghoon memeluk tubuh riki yang kecil dan jungwon yang memegang panggulnya mulai bergerak secara kasar lagi, riki semakin kewalahan. jangan lupa kalau dia masih berciuman dengan pegawai restoran yang baru saja ia temui tadi.
what felt like an hour, akhirnya mereka sampai di puncaknya juga. riki yang pipis membasahi jungwon dan sunghoon maupun kasurnya, dan jungwon serta sunghoon yang keluar ke dalam rahim riki memenuhinya. riki rasa perutnya mengembung berisi sperma kedua orang itu, bisa jadi ia bakal hamil kedua anak mereka.
"you did well, sayang." sunghoon membubuhi riki dengan ciuman penuh cinta ke seluruh muka riki, riki juga balas menciumnya. jungwon yang berada di depan mereka hanya bisa diam melongo, melihat sepasang kekasih di depannya membuatnya merasa seperti orang yang menyelundup ke dalam rumah orang asing (ya, emang sih).
saat jungwon ingin memisahkan diri dari persetubuhan ini, riki memeluk jungwon tiba-tiba sehingga jungwon jatuh lagi, menghimpit riki di antara tubuh lebar jungwon dan tubuh besar sunghoon.
"mmh, jangan pergi dulu, sini aja bobok."
kalau mereka sadar, muka jungwon sekarang memerah total. dipeluk orang cantik dan diperbolehkan melihat pemandangan sunghoon dan riki yang tertidur. sunghoon juga memeluk jungwon yang membuat mereka semakin lekat, jungwon mau meleleh aja.
tolong ingatin jungwon, kalau restorannya belum ia tutup, bos nya bakal marah apabila mengetahui akan hal ini, apalagi bila ia tau alasan yang sebenarnya.
ya sudahlah, biarkan aja. biarkan jungwon menikmati waktu ini barang sebentar.
