Chapter Text
Change is inevitable
“Buka bajumu, Kak.”
Soonyoung menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan memasang ekspresi ketakutan, membuat Minghao menaikkan sebelah alisnya dan menghela nafasnya lelah. Pemuda yang lebih muda itu melemparkan punggungnya pada sandaran sofa dan meneguk isi kaleng sodanya sebelum meneruskan bicara dengan nada kesal.
“Berhentilah membuat drama. Kak Soonyoung sendiri yang pengen tau jenis bunga apa yang mekar di dadamu. Gimana caranya aku bisa foto dan ngasih ke Ibuku kalau bajunya nggak dibuka?”
Mereka sudah berada di topik ini selama hampir setengah jam dengan Soonyoung yang konsisten membuat ekspresi dilebih-lebihkan. Ibu Minghao pernah bekerja di sebuah arboretum di Shanghai selama beberapa tahun sebelum pindah ke Seoul—membuat wanita itu memiliki kecakapan dalam mengenali berbagai macam bunga. Soonyounglah yang membuka percakapan itu dengan meminta tolong pada Minghao, namun yang terjadi pada akhirnya seperti ini.
“Baiklah, foto sendiri aja deh nanti hasilnya kirim.”
Akhirnya Minghao memutuskan untuk menyerah, ia malas membuang waktunya untuk hal merepotkan seperti ini. Toh bukan dia yang butuh sebenarnya. Setelah kalimat terakhir itu keluar dari mulut yang lebih muda, Soonyoung memutuskan menarik kausnya ke atas. Ia menunjukkan tato berbentuk kuncup bunga dengan dua buah kelopak berwarna putih yang sudah mekar.
“Kamu sebaiknya liat juga, Hao. Bukannya tidak umum ya kelopak bunga seorang stamen mekar sebagian seperti ini?”
Minghao mengamati gurat kelopak kehijauan dan mahkota bunga putih gading berbentuk lengkungan oval dengan warna kuning pada benda di tengahnya yang terlihat seperti benang sari.
“Aku sedang tidak menghakimimu atau apa tapi aku tidak bisa mencium aroma apapun dari tubuhmu, Kak.”
Pemuda yang lebih muda dua tahun darinya itu seorang stamen dengan bunga ylang-ylang di dadanya—dan tentu saja tanpa perlu wewangian apapun, aroma floral, spicy, dan powdery yang kuat menguar darinya.
“Itu dia, harusnya walaupun bunganya baru sebagian mekarnya wanginya sudah bisa tercium.”
“Aku akan menanyakannya pada Ibuku kalau begitu. Ada ratusan ribu jenis bunga di dunia ini dengan keunikannya masing-masing. Kita sebaiknya tidak mengambil keputusan terlalu terburu-buru.”
Minghao mengambil beberapa foto bunga itu dengan detail dan mengirimkannya ke Ibunya.
“Terima kasih banyak, Hao.”
“Tidak masalah, nanti aku kabari lagi kalau sudah ada balasan.”
Hari sudah menjelang makan siang dan yang terpikirkan di otak Soonyoung adalah mengajak Jihoon makan siang bersama. Ia memiliki voucher makan dari kafe yang baru buka di seberang blok. Mereka berdua tidak sengaja ‘berteman’ setelah kejadian itu. Meskipun Jihoon sendiri sudah tinggal di kota ini cukup lama, namun keluarganya tidak tinggal di kota ini. Jadi Soonyoung dengan senang hati menemani pemuda yang lebih muda itu sekadar jalan-jalan, makan, atau kadang mengajaknya melihat anak-anak berlatih di studionya.
12:37 KST
From: Jihoon
Maaf aku lagi di Busan menemui Ibuku. Minggu depan vouchernya masih berlaku kan?
Soonyoung sedikit menekuk wajahnya saat membuka pesan itu, tapi saat dipikir ulang bukankah Jihoon yang kembali bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya adalah hal yang bagus? Ia memang belum mengenal lama pemuda itu tapi dua bulan ini membuatnya mengerti beberapa alasan yang membuat Jihoon hampir ingin mengakhiri hidupnya.
12:39 KST
To: Jihoon
Tentu saja masih. Have a good time there :)
Minghao yang masih berada di sana dengan kotak bekalnya sedikit heran mengamati ekspresi Soonyoung yang tersenyum-senyum di depan ponselnya.
“Siapa? Kak Jihoon?”
Soonyoung menganggukkan kepalanya antusias.
*****
Sejak dua bulan yang lalu, Jihoon memutuskan untuk pulang ke Busan setidaknya dua atau tiga bulan sekali. Ia merasa sudah menjadi seorang anak yang jahat dengan membiarkan Ibunya tinggal sendiri setelah ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu dan hampir dua tahun tidak pulang ke rumahnya.
Hari jumat kemarin ia sampai di Busan saat hari sudah gelap. Musim semi di Busan sedikit lebih hangat daripada di Seoul, meskipun begitu ia masih membutuhkan jaket dan mantelnya mengingat rumahnya yang tidak terletak di tengah kota membuatnya harus menaiki beberapa kali perhentian metro. Deretan bunga cherry blossom berwarna merah muda mekar di sepanjang jalan menuju rumahnya, aroma wangi lembutnya memenuhi udara malam yang sejuk.
Pagi ini akhir pekan, ia memutuskan tidak pergi kemanapun. Ibunya berjanji akan memasakkan beberapa hidangan laut favoritnya siang nanti. Jihoon meletakkan dua cangkir kopi panas dan sepiring cookies hangat di meja teras dan duduk di salah satu kursi kayu yang tersedia. Ibunya sedang sibuk dengan gunting berkebun dan gembor di tangannya.
“Aku tidak pulang dua tahun, halaman kita sekarang sudah jadi hutan saja, Bu.”
Wanita di depannya hanya tertawa pelan.
“Aku seharusnya sudah mencoretmu dari kartu keluarga dan mengganti namamu dengan salah satu anggrek kesayanganku saja.”
Jihoon berdiri dari duduknya dan melihat-lihat aneka macam bunga yang sedang mekar di depannya. Pot berisi tanaman warna-warni itu tidak hanya ada di tanah, ada juga beberapa yang merambat dan menggantung di besi. Jemarinya hampir saja menyentuh kelopak bunga berwarna merah muda saat Ibunya menjauhkan tangannya dari sana.
“Jangan disentuh, nanti bunganya bisa mati, itu baru saja mekar.”
Jihoon tertawa menanggapi Ibunya yang terlihat kesal dengan kelakuannya.
“Maaf, Bu aku tidak tahu. Ini bukannya bunga mahal? Anggrek dari daerah tropis kan?”
Wanita di depannya menganggukkan kepalanya sebelum mencuci tangannya di kran air dan duduk di kursi menyesap kopi yang dibuatkan putranya.
“Iya, baru-baru ini mereka menemukan cara membuat anggrek ini bisa ditanam di sini tanpa harus menggunakan rumah kaca. Tapi jumlahnya terbatas, aku hanya bisa dapat yang warna merah muda ini saja.”
“Aku punya kenalan di Asia Tenggara, lain kali aku akan menanyakan siapa tahu dia bisa mengirimkannya untukmu. Apa namanya?”
“Dendrobium.”
Jihoon mencatat nama bunga itu pada notes di ponselnya sebelum mengambil cookies yang ada di atas piring.
“Bunga di punggungmu sudah tidak apa-apa, Jihoon? Aku dengar itu akan terasa sakit sekali.”
“Tidak apa-apa, Bu. Minggu lalu aku pergi ke dokter untuk memeriksanya, dokter bilang beberapa mahkota bunganya mulai layu jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Sang Ibu memperhatikan raut muka putranya dengan ekspresi yang sulit diartikan sebelum menghembuskan nafasnya yang terlihat seperti sedikit lega.
“Ibu bersyukur kau sudah bisa merelakan kepergian tunanganmu itu.”
Jihoon menaikkan sebelah alisnya.
“Maksudnya?”
“Kau tahu ayahmu seorang stamen dan aku sendiri seorang pistil. Blossoming dan bonding itu—sesuatu yang sulit dijelaskan. Sampai sekarang mahkota bunga apple blossom milik ayahmu masih mekar di punggungku.”
“Oh ya? Selama ini kukira jika stamennya meninggal memang bunganya perlahan layu.”
Wanita di depannya menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum samar.
“Memang kebanyakan begitu, tapi kalau ikatannya dalam dan memang salah satu pihak tidak rela melepaskan, maka bunga itu akan terus mekar di punggungnya. Dan pada kasusku, aku memang memutuskan untuk menjadikan ayahmu sebagai pemberhentian terakhirku. Tapi Ibu harap kau masih memiliki pemberhentian lain, Jihoon-ah. Hidupmu masih panjang.”
Mata Jihoon menatap jauh pada jalanan, pepohonan, dan kompleks bangunan perumahan yang ada di depannya. Selama ini ia salah, ia kira dengan membiarkannya menjalani hidupnya yang seperti jalan di tempat ini semua akan baik-baik saja. Nyatanya semua hal memang butuh diakhiri dengan baik sebelum memutuskan menapaki sesuatu yang baru. Ibunya benar, mungkin ia masih bisa memiliki pemberhentian lain.
Suara denting pesan masuk di handphonenya membuat Jihoon tersadar dari lamunannya. Kwon Soonyoung mengajaknya makan siang bersama—yang tentu saja harus ia tolak kali ini. Mereka terpisah tiga ratus kilometer sekarang. Pesan balasan terakhir yang menyelipkan emotikon senyum itu membuat kedua ujung bibirnya sedikit terangkat.
“Siapa itu Jihoon? Pacarmu?”
Jihoon menggelengkan kepalanya sebelum memasukkan handphonenya ke dalam saku celana pendeknya.
*****
Dua minggu setelahnya, rencana makan siang Soonyoung dan Jihoon akhirnya terlaksana. Bukan sesuatu yang romantis mengingat saat ini mereka berada di restoran Junhui dengan tiga orang lain di meja yang sama. Wen Junhui, Lee Seokmin, dan Xu Minghao. Minghao akhirnya diterima sebagai pekerja part-time di restoran itu dengan usahanya sendiri karena Soonyoung yang terus melupakan pertanyaannya.
Jjajangmyeon, jjampong, tangsuyuk, mapo tofu, terong goreng tepung, dan dumpling. Semuanya traktiran dari Soonyoung, sebuah agensi saja menerima koreografi yang ia kirimkan untuk debut idola baru mereka. Down payment-nya baru saja cair di rekening Soonyoung pagi ini, jumlah yang cukup besar. Jauh lebih dari cukup bahkan untuk mengganti kasur lamanya dengan empat buah yang lebih besar dan lebih empuk.
“Bersulang untuk calon koreografer sukses kita.”
Seokmin mengawali mereka mengangkat gelas-gelas yang sudah dipenuhi somaek. Mabuk di siang hari di akhir pekan sepertinya tidak akan menjadi masalah. Minghao mengangkat handphone-nya dari atas meja saat sebuah notifikasi muncul dari layarnya yang semula mati. Ia membaca pesan yang ditulis si pengirim beberapa kali sebelum menepuk bahu Soonyoung.
“Kak, Ibuku sudah menemukan jenis bungamu.”
Soonyoung mengalihkan perhatiannya pada Minghao dengan mata yang berbinar.
“Apa katanya?”
“Dendrobium nobile. Bunga itu memang tidak memiliki aroma.”
“Dendrobium? Anggrek kan?”
Kali ini Jihoon yang membuka suaranya.
“Kamu tahu bunga itu, Ji?”
Jihoon menganggukkan kepalanya. “Ibuku punya beberapa di kebunnya—Itu termasuk jenis bunga yang cukup langka kalau di negara ini.”
Pembicaraan mereka mengenai hal itu tidak bergerak lebih jauh setelah itu mengingat diantara mereka berlima tidak ada yang betul-betul menguasai topik mengenai bunga. Soonyoung menepati janjinya untuk mentraktir Jihoon di sebuah kafe (tidak dengan voucher, karena masa berlakunya sudah habis, tetapi hal ini tentu saja di luar pengetahuan Jihoon), tapi kali itu makan malam, bukan makan siang.
(+1) Carving you and me into us
Bagi Soonyoung dan Jihoon mengawali suatu hubungan itu bukanlah sesuatu yang mudah, meskipun itu hubungan yang berbentuk platonis seperti pertemanan. Soonyoung dengan insecurity-nya sedangkan Jihoon yang sering tenggelam dalam prasangkanya. Kedekatan mereka hingga seperti sekarang terasa seperti sebuah lompatan yang jauh—bahkan di mata orang-orang yang mengenal mereka. Kapan lagi melihat keduanya membuka hari dengan saling mengirim ucapan selamat pagi dan menutup hari dengan saling mengucapkan selamat malam atau selamat tidur?
Pagi itu Jihoon memutuskan ingin menemani Soonyoung mengantarkan minuman probiotik. Keduanya secara tidak sengaja menggunakan kaus dan celana hitam—membuat para ahjumma yang mengantri di depan gudang penyimpanan tersenyum penuh arti dan mengedipkan matanya.
“Soonyoung-ah, kau punya mata yang bagus. Untunglah putriku tidak jadi bercerai.”
Soonyoung terkekeh pelan mendengar kalimat yang keluar dari wanita setengah baya di depannya. Soonyoung membiarkan Jihoon menyetir sepeda motornya pagi itu. Pemuda itu memang sudah lama ingin mengendarai sepeda motor, tetapi tidak memiliki cukup keberanian untuk melakukannya di jalanan yang ramai di siang hari.
Soonyoung meletakkan dagunya di pundak Jihoon memberi petunjuk arah sambil menutup matanya menikmati angin sejuk di pagi hari musim panas. Ujung telinga dan kedua pipi Jihoon bersemu merah mendapat perlakuan seperti itu. Untungnya matahari belum tinggi dan sepertinya Soonyoung tidak menyadari hal itu. Jihoon menggeser dagu Soonyoung dari bahunya pelan.
“Singkirkan dagumu dari situ, geli tau.”
Soonyoung terkekeh geli tapi tetap tidak menyingkirkan dagunya dari sana.
“Jihoonie, aku menyukaimu.”
Ia membisikkan kata-katanya pelan setengah berbisik di dekat telinga Jihoon, membuat Jihoon mengerem mendadak dan memaksanya memarkirkan motor di pinggir jalan. Beruntung jalanan masih lengang dan mereka sekarang berada di kompleks perumahan yang sepi.
Jihoon masih tidak berkata apa-apa setelah itu. Ia memasukkan uang koin di vending machine di dekat mereka dan mengambil dua kaleng kopi dingin yang keluar dari mesin itu—memberikan salah satunya pada Soonyoung. Keduanya duduk di kursi kayu di samping sebuah halte bus.
“Aku membawa bunga seorang venom stamen. Hubungan ini nggak akan pernah bisa berjalan dengan baik, Soonyoung.”
“Ji, aku sudah memikirkan itu sebelum mengatakan kalau aku menyukaimu.”
Jihoon menunduk menutupi wajahnya yang sudah bersemu merah. Ia berusaha mengatur ekspresinya senormal mungkin sebelum membalas kalimat Soonyoung,
“Memikirkan apa? Mau mati bersamaku? Lalu untuk apa kau menyelamatkanku saat itu?”
“Kalau aku bilang mau mati bersamamu apa kamu akan berhenti menolakku?”
“Aku nggak akan bisa biarin kamu mati, Soonyoung.”
Soonyoung memainkan kaleng dingin di tangannya sebelum menarik nafas panjang.
“Jihoon-ah, kamu percaya takdir?”
“Tergantung takdir yang kamu maksud itu seperti apa.”
“Kamu ingat percakapan kita di restoran Jun beberapa bulan yang lalu? Tentang jenis bunga yang tumbuh di dadaku?”
Jihoon berusaha mengingat-ingat kembali apa yang ia dengar saat itu.
“Anggrek dendrobium?”
Soonyoung menganggukkan kepalanya.
“Bungaku dendrobium nobile. Mahkota bunganya berwarna putih—hampir transparan malah menurutku. Kupikir aku kelainan saat tidak mencium aroma apapun dari tubuhku sementara jelas-jelas dari tato bunga itu aku seorang stamen.”
Jihoon masih memperhatikan pemuda di sampingnya—membiarkan Soonyoung menjelaskan semua hal yang menurutnya sedikit membingungkan.
“Jadi minggu lalu aku memutuskan pergi ke dokter spesialis. Dan kamu tahu Ji apa yang ia bilang? Dokter itu bilang aku seorang anti-stamen, dia bilang kebanyakan anti-stamen memang late bloomer.”
Jihoon membulatkan matanya mendengar kalimat yang meluncur dari mulut Soonyoung. Ia tidak mungkin tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan anti-stamen. Seorang anti-stamen bisa menetralisasi racun dan bonding seorang pistil yang membawa racun venom stamen. Jumlah mereka tidak banyak, mungkin hanya sekitar satu persen dari keseluruhan populasi stamen.
“Tidak mungkin—”
“Kamu pernah bilang padaku kalau kelopak nightshade yang mekar di punggungmu perlahan layu, Ji. Setelah kupikir ulang waktunya bertepatan saat kita bertemu dan saat itu juga kelopak bungaku mulai mekar.”
“Soonyoung, aku—”
“Aku nggak masalah kalau kamu nggak mau jawab sekarang. Mungkin kamu masih membutuhkan waktu untuk berpikir.”
Jihoon sedikit panik saat mendengar kata-kata itu.
“Tidak-tidak bukan begitu. Aku masih sedikit tidak menyangka. Maksudku aku dulu pernah menyukaimu, saat kita masih SMA.”
Soonyoung tersenyum, kali ini ia harus berterima kasih pada ingatan Wen Junhui.
“Aku tahu, Jihoon.”
“Kamu tahu?”
“Temanku yang memakan cokelat valentine darimu—maksudku saat itu aku benar-benar tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun jadi aku memang tidak memakan satupun cokelat itu.”
“Ya Tuhan, aku benar-benar malu.”
Jihoon mengusap wajahnya yang memerah.
“Jadi gimana, Jihoonie? Kamu masih menyukaiku sekarang?”
“Mungkin—iya?”
Soonyoung menaikkan sebelah alisnya lalu menarik bahu Jihoon agar mereka saling berhadapan.
“Mungkin? Katakan dengan benar.”
“Iya, aku menyukaimu Kwon Soonyoung. Jangan buat ini menjadi semakin sulit.”
Jihoon mengalihkan tatapan matanya ke arah lain, menghindari menatap langsung pemuda berambut hitam di depannya.
Soonyoung berdiri dari duduknya, menggenggam tangan Jihoon yang terpaksa ikut berdiri lalu membawa genggaman tangan keduanya tepat ke depan dadanya.
“Terima kasih Tuhan, hari ini aku menjadi kekasih Lee Jihoon.”
Jihoon menghela nafasnya, ia bisa gila kalau terus seperti ini.
“Jihoonie, aku boleh menciummu?”
“Kalau kamu mau cepatlah, kita ada di tempat umum sekarang.”
Soonyoung tersenyum senang dan menundukkan wajahnya—menangkup kedua pipi Jihoon dengan kedua telapak tangannya sebelum mendaratkan sebuah kecupan pelan di bibir merah muda sosok indah di depannya. Sebuah bus berwarna putih terlihat dari kejauhan dan sepertinya akan berhenti di halte dekat mereka. Soonyoung melepaskan ciumannya dan menarik Jihoon ke arah sepeda motornya terparkir.
Keduanya masih bergantengan tangan, kali ini Soonyoung yang menyetir sepeda motornya—dengan kedua lengan Jihoon yang memeluk pinggangnya.
