Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2015-01-26
Completed:
2016-05-28
Words:
14,410
Chapters:
6/6
Comments:
14
Kudos:
21
Bookmarks:
1
Hits:
575

Blue Sun

Chapter 6: Crumbling Sun

Notes:

Author bangkit dari kubuuuuur~! #digeplak. Singkat kata, chapter kali ini terinspirasi dari episode... 7? 8? Pokoknya episode ketika pedang kesayangan Abang Megane kita tercinta patah jadi dua setelah duel heroiknya melawan Paman Ayam *jangan ubah panggilan karakter seenaknya, hoi.* Sebelumnya, terima kasih banyak bagi para pembaca dan reviewer setia yang masih--dengan setianya pula--menagih hutang tulisan-tulisan author. Dan kepada masamune11-sama, ditunggu kelanjutan terjemahan fanfiksi ini ke dalam bahasa Inggris untuk chapter-chapter selanjutnya~! *kedip genit* *author lantas kabur sebelum ditimpuk mendoan*

Chapter Text

“Yang membuatmu jatuh dan mematahkan asamu… adalah ini. Bukan begitu, Munakata?”




Biru di antara sapuan putih yang mengepungnya. Mengungkung. Karena untuk kesekian kalinya, dan untuk berkali-kali lagi ia akan menemukan dirinya di belantara padang salju. Di antara sunyi senyap. Di tengah-tengah kristal-kristal es memerangkap gedung-gedung kokoh hingga bergulir-gulir nyawa, yang seharusnya ditangguhkan di atas pundaknya, yang juga berakhir membeku oleh kedua tangannya.

Sementara bongkah biru di atas kepalanya meraung. Garang. Murka. Pedang raksasanya yang meruntuh. Gemuruh lantas memekak hingga dasar jiwanya. Menggetarkan tubuhnya. Meremang bulu kuduknya. Tidak lagi ia bisa memungkiri takut yang menjelma, merebak layaknya virus menyerang di setiap sel-sel organnya.

Napasnya tersengal. Putus-putus. Embun berat terhembus dari mulutnya yang menggigil, memucat. Hujam rasa sakit di dadanya, terlalu ngilu untuk dibawanya hingga ke alam mimpi. Seakan membutakan inderanya. Melumpuhkan logikanya.

Ia bahkan sudah tidak tahu lagi batas antara mimpi dan kenyataan.

“Kau hanyalah anak kecil yang tidak pernah mengecap pahitnya kegagalan.”

“Hanya orang bodoh sepertimu yang menilai kekuatan Dresden Slate serendah itu. Sementara aku, yang memiliki impian paling dekat dengan inti kekuatan itulah yang berhak atasnya.”

“Sedikit petuah dariku untuk amatiran sepertimu. Jangan kau gantungkan harapanmu terlalu tinggi, Munakata. Semakin tinggi harapanmu, semakin sakit dan terpuruk pula rasanya ketika kau terjatuh dan tersadar bahwa kau tidak memiliki kekuatan untuk menjangkau mimpi itu.”

Menggeram. Egonya terusik. Meski perih kata-kata itu menghujam jauh lebih dalam dari yang diperkirakannya. Seolah tanah yang dipijaknya tengah merekah dan terbelah, siap menenggelamkannya sekali telan. Tanpa ampun. Tanpa kuasanya untuk melawan. Tanpa kesempatan keduanya untuk berdiri tanpa goyah pada jalan yang ditempuhnya.

“Kalau kau memilih untuk menyerah, aku berhenti bekerja untukmu.”

Sapuan badai salju di sekelilingnya mengganas. Memburamkan pandangan. Dingin yang semakin menihilkan rasa di setiap jengkal tubuhnya. Ia merasakan gravitasi yang semakin menariknya. Kedua kakinya yang seakan dipaksa untuk tidak lagi sanggup menopang berat tubuhnya. Seolah jatuh bukan menjadi hal yang lebih buruk dibandingkan tetap bertahan.

Meski untuk satu kata menyerah… apakah memang semudah itu menjatuhkan diri dan membuang segalanya? Berpaling dan menutup matanya? Menyandarkan jatuh tubuhnya pada tanah yang mungkin segan pula menerimanya kembali?

Apakah memang tidak ada lagi yang tersisa baginya untuk ia perjuangkan, di tengah belantara salju yang tidak pernah letih untuk membinasakannya, semenjak hari itu?

“Aku tidak akan membenci Reishi. Mikoto… hal inilah yang pada akhirnya Mikoto inginkan. Meski aku juga tidak berterima kasih pada Reishi.”

“Memang tidak mudah… untuk kehilangan seorang teman.”

Sementara di sudut benaknya, harapnya berbisik. Di suatu ujung dunia beku yang mungkin tak mampu terjangkau olehnya, asanya mengiba. Pada merah marun yang meletup. Pada merah bara yang menggelegak. Pada merah jiwa yang merayap dalam senyap, berarak meninggalkan kenangannya. Derak menggelora yang seakan merasuk, melesak hingga ke dalam sendi-sendinya. Seakan sanggup melalap beku mengungkungnya, meski setiap saat ia menjatuhkan lelahnya pada hangat itu, bara yang sama lantas menguap, alih-alih menjadi yang tertelan dalam pusaran biru menggarangnya. Meski di alam nyatanya, merah itu kini menjelma pula menjadi sepasang sayap terbentang begitu cantik, tetap saja ia tidak bisa menemukan bulu-bulu memercik itu di antara deru saljunya.

Saat itu juga, ia ingin menutup matanya. Berpaling dari jerat es menusuk tangan dan kakinya. Membentang erat kedua lengannya, seluas hatinya berusaha memeluk pedang raksasa yang siap meluncur dari langit hitamnya.

“Maaf karena kau harus melakukan pekerjaan kotor ini.”

“Sudah. Sudah cukup, Munakata. Jangan katakan apa-apa lagi.”

Jerit melengking di dada yang menggema, namun suara yang sama tidak pernah mampu terhempas meninggalkan rongga tenggorokannya. Dan selalu, mimpinya akan berakhir serupa. Tanpa akhir. Tanpa ampun.

Meski tak pernah pula ia menemukan pengadilan sang matahari biru di ujung tidurnya.


__________________________________________________


“Kapten.”

Reishi membuka matanya. Rasa sakit yang menyengat di sekujur tubuhnya, terlebih pada bagian abdomennya akibat hantaman popor senapan sang raja yang tidak pernah diperkirakannya akan berhasil hidup setelah melewati insiden Kawah Kagutsu. Nyeri yang tidak juga mereda, tidak peduli sekencang apapun perban terbebat pada perut dan pinggangnya, ataupun usahanya kembali menyelaraskan aliran darah serta denyut nadinya. Seolah ujung senapan itu masih bertengger di sana, melesak meninggalkan jejak. Dan tidak juga dirinya dapat memungkiri ngilu menusuk di seluruh sendi-sendinya. Bahkan untuk sekedar menegakkan punggung dan menoleh ke arah pintu mobil van tempat dirinya mendapatkan pertolongan pertama saja, seluruh tenaganya seolah terhisap, lari menjauh meninggalkan otot-ototnya.

Sementara letnan ayunya, Awashima Seri, berdiri tegap serta membungkuk hormat dari luar pintu van.

“Raja Merah datang untuk menemui Anda. Apakah Anda bersedia untuk bertemu dengannya? Jika tidak, akan saya sampaikan bahwa Anda—”

“—tidak perlu, Awashima-kun. Persilakan Raja Merah untuk masuk.”

“Baik, Kapten. Lalu… mengenai Fushimi….”

Jeda singkat. Gamang yang kentara mengambang. Membangunkan raung gedor membutakan mata dalam kepalanya yang mati-matian tak ingin diacuhkannya.

“… aku tidak akan memintamu untuk tidak mengkhawatirkannya, Awashima-kun. Sejak awal, Fushimi-kun memang kuberikan kebebasan untuk melakukan apapun yang diinginkannya. Dan apabila keluar dari Scepter 4 juga merupakan keputusannya, maka aku tidak akan memaksa, tidak pula memiliki hak untuk menahannya lebih lama di tempat yang tidak lagi dibutuhkannya.”

Ada raut getir yang kentara melintas di wajah cantik itu. Dan Reishi tahu alasannya. Sejenak ia menarik napas seraya mengalihkan pandangan. “Meski begitu, aku tidak menyangkal pentingnya mengetahui keberadaan Fushimi-kun, terutama apa yang akan dilakukannya setelah ini. Jika kau berkenan, Awashima-kun, bisakah kau mencari informasi tentang pergerakan Fushimi-kun, dan laporkan padaku hal yang kau temukan, sekecil apapun itu?”

Wanita itu lantas mengangguk dan sekali lagi membungkukkan tubuh. “Terima kasih atas pertimbangan Anda, Kapten. Kalau begitu, saya permisi untuk memanggil Raja Merah.”

Sunyi yang mengepung. Tidak peduli samar-samar irama sirine mengetuk gendang telinganya, Reishi tetap terjebak dalam ruang kosong yang hampa. Hanya sakit yang menemani. Diikuti gemuruh dalam otaknya, menggema di balik punggungnya. Bayang Pedang Damocles-nya yang meretak dahsyat bersamaan dengan bilah kesayangannya, Tenrou, yang kini patah menjadi dua. Seolah terbelahnya Tenrou membawa satu kehampaan lain dalam benaknya. Mengundang ribuan rasa untuk menggenang jauh di dasar jiwanya.

“Reishi.”

Lantas ia menoleh. Sang Raja Merah, dengan surai putih tergerai tertiup angin dan sepasang bola mata merah menyala cantik di antara gelap malam, menatap tepat pada kedua ungunya. Reishi memaksakan seulas senyum di bibir sebelum mempersilakan gadis kecil itu menaiki van-nya. Hingga sang gadis cilik tiba di sisinya, berdiri sejenak untuk kemudian beranjak ke hadapannya, kedua tangan kecil yang meraih jubah seragamnya dan berusaha mengancingkannya.

“Di luar dingin. Ada baiknya bila Reishi memakai pakaian yang hangat.”

Selalu, polah polos sang raja kecil yang berhasil menyita pikirannya. Mencuri hati dan satu lengkung bibirnya, diiringi tawa yang tergelincir dari mulutnya. Sebuah rasa yang kemudian menghangatkan raga. Namun juga melahirkan rindu yang memerih di dada.

“Orang dewasa tidak mudah masuk angin seperti anak-anak seusiamu, Anna.”

“Tapi tubuh Reishi akan semakin dingin jika seperti ini terus.”

Terdiam. Lidahnya yang kelu. Kata-kata dari suara lirih itu yang menyeruak, memerih hingga sukmanya. Karena Reishi mengetahuinya. Reishi mengerti makna lain di balik “dingin” yang dituturkan Anna. Bukan hanya sekedar berkata mengenai hawa di sekitar. Bukan pula sangkut-pautnya dengan musim dingin tanpa salju yang tengah menggelayut menyelimuti langit dataran Jepang. Bukan sekedar perbedaan suhu dan perpindahan kalor yang berangsur membuat kulit pucatnya menjadi sedingin es.

Karena dingin itu berasal dari dalam tubuhnya sendiri. Dari kekuatannya. Dari perisai energi yang tak sanggup lagi ia kendalikan seutuhnya, dan kini berbalik mengancam nyawanya. Elemen es yang semula adalah sekutu terkuatnya, berganti menjadi ribuan jarum berarak yang tengah bersiap membekukan laju aliran darahnya.

“Pedang Reishi… patah.”

Menengadahkan kepala, dan tatapan sang raja mungil tak lagi tertuju padanya. Alih-alih sorot sendu itu tertancap pada pedang bersarung biru bergagang emas yang kerap tersampir di pinggangnya. Pandangnya yang lantas berpaling pula pada bilah kebanggaannya, sarat arti impian akan dunia yang ingin diciptanya, digenggamnya. Meski ironi yang tak lekang mengikatnya, adalah ketika bilah yang sama juga menjadi saksi atas merah darah milik siapa yang pernah menggenang di sana, mengalir turun dari ujung hingga pangkal, memercik jatuh mewarnai gundukan salju putih di hari itu.

Tenrou yang kini terbelah menjadi dua, seakan bilah pedang itu tak lagi sanggup membantunya memikul bebannya. Sisa asanya. Harapnya. Mimpinya.

Juga pengampunan yang ditunggu dari dosa yang ditanggungnya.

Tenrou sudah bersamaku tidak lama setelah aku terpilih menjadi Raja Biru. Aku sudah melewati begitu banyak pertarungan dengannya. Dan ketika aku harus kehilangan pedang berhargaku di saat penting seperti ini….”

“… yang terpenting bukanlah raganya. Karena yang patah dari pedang ini bukan Tenrou, melainkan Reishi. Yang terbelah dan tidak lagi berdiri tegak adalah keyakinan Reishi sendiri. Reishi… apa yang Reishi pikirkan saat itu, ketika Reishi berdiri berhadapan dengan Raja Abu?”

Untuk kesekian kalinya ia terdiam. Kata-katanya yang menguap dari jalinan sel-sel dalam otaknya. Maupun pita suara yang terasa segan untuk menggetar patah-patah kalimat demi menjawab pertanyaan sang raja kecil. Apa yang berkelebat dalam kepalanya di medan pertempuran itu awalnya tak lebih dari sebentuk ironi terhadap sosok seorang raja, yang berkuasa pada masanya, yang memiliki anugerah serta kemampuan untuk menciptakan surga di bawah kaki langit, namun juga yang membuang kejayaan itu hanya karena tragedi tragis semata (atau mungkin bagi Reishi, insiden Kawah Kagutsu memang tidak bisa dijadikan alasan bagi seorang Ootori Seigo untuk memangkiri tanggung jawab sebagai raja, tidak peduli sebesar apa kegagalan sang Raja Abu untuk menghentikan Kagutsu Genji saat itu). Sementara hal-hal yang menyeruak setelahnya adalah pernyataan demi pernyataan, pembenaran demi pembenaran yang bahkan sanggup menggigilkan bulu kuduknya sendiri. Tentang idealismenya. Tentang potongan dunia yang ingin dirancangnya. Tentang peraturan dan kepatutan dalam ketenteraman yang didambakannya. Tentang semesta yang begitu luas dan berat, yang saat itu Reishi tahu bahwa dirinya tak lagi memiliki segenap kekuatan untuk menyokong apa yang menjadi mimpinya.

Tidak ketika setengah dari kuasanya lantas terenggut paksa darinya. Menjadi konsekuensi dari hal yang tidak pernah ingin dilakukannya. Menjadi bayaran dari apa yang tidak bisa dilakukannya. Dan membunuh Suoh Mikoto telah menjadi akhir yang sempurna bagi segala bentuk rupa angannya. Damocles raksasanya yang meretak. Aura birunya yang berontak. Hingga keteguhan hatinya yang terkoyak. Sementara memikirkan sang Raja Abu hanya membuat pangkal lidahnya terasa pahit. Memaksanya tertawa dalam getir. Raja Abu boleh saja kehilangan seluruh pengikut klannya, maupun seorang teman yang tidak berhasil diselamatkan. Namun bagaimana dengan dirinya? Bagaimana ketika yang hilang darinya adalah sepasang tangan untuk menopang dunia yang telah terlanjur menari di atas kedua telapaknya? Bagaimana ketika kedua tangannya pun sama-sama tidak memiliki kuasa untuk menyelamatkan, dan hanya bisa mengakhiri, tanpa adanya pilihan untuk sekedar diam terpaku dan mengawasi?

Karena tidak mudah… untuk mencabut nyawa seorang teman…

… teman yang terkasih….

“Reishi… apakah Reishi berpikir, semua ini tidak adil?”

Ia mendongak. Kalimat yang begitu mengusik, seolah telinganya sendirilah yang tengah menipu pikirannya. Manik ungunya melebar, untuk kemudian mencari di dalam rubi merah itu. Bukan untuk mencari jawabannya, melainkan mencari arti dari pertanyaan sang raja kecil baru saja.

“Raja Abu… sama-sama memiliki kesempatan untuk mengakhiri seorang teman di tangannya. Namun Raja Abu tidak melakukannya, dan kini Raja Abu hidup dalam persembunyian, dalam tenang dan tenteramnya yang hanya sebatas ilusi dan pelarian masa lalunya. Bagaimana dengan Reishi sendiri? Apakah membunuh Mikoto di hari itu… masih menjadi suatu penyesalan bagi Reishi, meskipun Reishi tahu bahwa hal itulah yang Mikoto harapkan?”

Sorot matanya melunak. Begitu pun sang raja di hadapannya. Sepasang tangan mungil itu kemudian terjulur, mendekapnya begitu dekat. Begitu lekat. Meski hangat yang mengalir hingga ke bawah kulitnya terasa menyesak di dada. Pilu yang lantas kembali dikecap sukmanya. Reishi memejamkan matanya. Ingatannya kembali melayang pada detik di mana Tenrou terbelah dua, lalu beralih pada tetes warna darah menggelap yang sejenak ditemuinya, seolah mengaliri bilah pedang tersebut. Damocles-nya yang lantas turut meretak, berguguran menampakkan serpih-serpih kecil mengangkasa, mengitari pedang sang simbol kekuatannya.

Dingin menusuk yang kemudian datang menyerbu. Membangunkannya dari kilasan-kilasan gambar dalam kepalanya. Ngilu meremang di sekujur tubuhnya. Bahkan Reishi tidak lagi sanggup menahan satu erang kecil yang lantas meluncur dari pita suaranya.

“Reishi…!”

Aura merah yang lantas menguar dari tubuh Anna, meski dengan cepat Reishi menangkap tangan gadis itu seraya menggeleng. Bibirnya yang berusaha melukis sebuah senyum, yang ia tahu terlalu lemah untuk meyakinkan sang raja kecil bahwa dirinya tidak membutuhkan hangat itu untuk menyesap dalam jiwanya.

“… jangan khawatir, Anna. Aku akan baik-baik saja.”

Satu anggukan dari gadis itu. Tampak enggan, namun Reishi tahu sang raja mungil mengerti. Karena Kushina Anna tidak pernah memaksakan apapun padanya. Gadis itu akan dengan begitu mudahnya membaca, saat di mana Reishi tidak membutuhkan pertolongan, maupun saat ketika merah itu diperlukan tubuhnya agar paru-parunya sendiri tetap menghirup dan menghembus napas.

“Tapi… Reishi harus beristirahat. Malam ini adalah malam yang berat bagi Reishi. Kumohon… meski hanya untuk satu hari, Reishi—”

“—pelayan masyarakat sepertiku tidak mengenal hari libur, Anna.”

“Reishi…!”

Ia tertawa. Gelak yang menggelincir ditemani sepenggal lega dari ujung kalbunya. Seolah berat yang membebani punggungnya, meski hanya sedikit, namun terangkat begitu saja. “Baiklah jika kau memaksa, Tuan Putri. Aku akan mempertimbangkan saranmu untuk mengambil satu hari libur dan beristirahat.”

Senyum manis yang Reishi tahu lantas menghiasi wajah Anna, ditemani satu sorot mata penuh kelembutan dari sepasang rubi yang tidak pernah lelah mengawasi ungunya. Sang gadis kecil yang kemudian melepaskan genggamannya, diiringi satu ketukan terdengar dari ambang pintu van-nya. Pandanganya yang kemudian beralih, menemukan Awashima Seri telah berdiri di sana, ditemani seorang pria bersurai pirang dan kacamata hitam, melengkung senyum padanya dengan raut lelah yang begitu kentara di mata Reishi.

“Malam yang berat rupanya, Munakata-san? Anda baik-baik saja?”

Reishi mengangguk, menaikkan kacamatanya seraya balas tersenyum. “Akan menjadi lebih berat apabila Klan Merah memutuskan untuk tidak bekerja sama dan memberikan bantuannya dalam misi kali ini. Sebagai Raja Biru maupun secara pribadi, izinkan aku menyampaikan rasa terima kasihku, Kusanagi Izumo.”

“Tidak, tidak. Ucapan itu seharusnya kau sampaikan pada Anna,” ujar pria itu lagi sembali melambaikan tangan di depan wajah. Kusanagi Izumo lantas berpaling pada sang raja di sampingnya. “Anna, kau mau tinggal di sini, atau ikut pulang bersamaku?”

Anna kemudian menatapnya. Begitu dalam. Seolah memintanya untuk menjawab pertanyaan itu alih-alih dijawab oleh gadis itu sendiri. Namun sontak ia menggeleng. “Kekalahanku malam ini adalah bukti bahwa aku perlu memikirkan ulang apa yang menjadi dasarku dalam menghadapi semua pertarungan ini. Aku akan membutuhkan waktu untukku sendiri, Anna. Dan kau tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja.”

Un. Tapi besok pagi, izinkan aku mengunjungi Reishi?”

Lengkung senyum di bibirnya, terasa begitu hangat hingga sukmanya sendiri. Anggukan kepalanya yang hanya menjadi jawab atas permintaan Anna. Sementara sepasang irisnya yang terpancang pada punggung gadis kecil itu, lekat mengawasi sang raja yang melangkah menjauh, kembali meninggalkannya dalam sunyi. Dalam sepi.

Bersama gemuruh memekak sang pedang raksasa yang terus terdengar, menggaung mengisi rongga kepalanya. Tanpa henti. Tanpa letih.


__________________________________________________


“Kau tahu bahwa bukan dasarmu yang tengah kau cari dan pertanyakan ketika pedangmu itu terbelah menjadi dua.”

Reishi membuka matanya. Tidak ada dingin yang menyerbu. Tidak ada deru salju yang menyeruak. Tidak ada dingin es yang menerpa. Ia lantas menengadah. Tidak ada matahari biru menggantung di langit malam kelam di atas kepalanya. Hanya perempatan pusat kota di sekelilingnya. Gemerlap lampu jalan. Kerlip lampu gedung pencakar langit. Manusia-manusia di sekitar yang berjalan dan melangkah, namun begitu transparan dan tidak bisa disentuhnya. Seolah keramaian pusat kota hanyalah sebatas hiruk-pikuk kota para hantu…

… tidak.

Mungkin pada kenyataannya, dirinyalah yang menjadi hantu dalam riuh-ramai itu. Tak tersentuh. Tak terlihat. Tak diacuhkan keberadaannya.

Lalu sepasang derap langkah, terdengar begitu nyata di indera pendengarannya. Mengurai jarak dari balik punggungnya. Meski tidak pula ia ingin menoleh. Ia tidak ingin melihat sosok yang tengah berjalan ke arahnya.

Karena ia tahu, sosok itu akan menghilang ketika ia membalikkan tubuhnya dan berusaha merentangkan tangan, menjangkau bayangan itu.

‘Suoh….’

“Kau tahu kau tidak akan pernah ragu melangkah. Kau tidak pernah menyangsikan omong kosongmu akan hukum dan peraturan yang semata-mata dibuat untuk melindungi keamanan dan ketenteraman umat manusia.

“Kau tahu… bukan itu yang mengusikmu.”

Kalimat terakhir menggelitik di daun telinganya. Degup jantungnya yang kemudian berlari. Sesak yang menusuk di dadanya. Dan merah yang seolah memeluknya, membungkus tubuhnya. Derak tarikan napas yang terdengar begitu nyata. Wangi tubuh menginvasi indera penciumannya seolah tembakau manis yang hampir terlupa dari sudut ingatannya. Mengundangnya untuk sekedar berpaling. Untuk sekedar menemukan garang di dalam sepasang iris merah keemasan yang tidak pernah lagi menyapanya.

“Suoh….”

“Yang membuatmu jatuh dan mematahkan asamu… adalah ini. Bukan begitu, Munakata?”

Satu tusukan di dada. Nyeri teramat sangat yang bahkan membungkam jeritannya. Memburamkan matanya. Tubuhnya yang melunglai, gemetar. Perlahan ia menunduk, menemukan bilah Tenrou menancap, menembus dadanya. Merah yang mengalir turun dari ujung pedang itu. Membasahi seragamnya. Menetes menggenangi kedua kakinya. Sakit yang semakin menjelma di antara tarikan napasnya.

“Yang membuatmu gentar dan tidak bisa memaafkan dirimu sendiri… adalah harapmu akan pembenaran dari tindakanmu membunuhku, bukan begitu, Munakata?”

Ia terbatuk. Substansi kental mengalir dari mulutnya. Napasnya yang semakin tersengal. Tubuhnya yang kemudian rebah, jatuh pada dekap sosok di punggungnya.

Namun ia tersenyum. Tidak. Ia tertawa. Parau.

Perih.

Jadi… seperti inikah rasanya ketika pedangku menancap, menembus tubuhmu?

Jawab aku, Suoh….

Notes:

... read and review, please? *dihajar*