Actions

Work Header

Wedlock

Chapter 3

Notes:

so, this is the last chap. thank you for reading <3

Chapter Text

Jay tidak pernah menyangka kalau dirinya akan menikah di usia yang terbilang masih muda. Jujur, dia sama sekali tidak ada pikiran untuk menjalin bahtera rumah tangga dalam waktu dekat, itulah kenapa dirinya sama sekali belum memiliki kekasih.

 

Dia tidak pernah memusingkan hal itu, toh menurut Jay hidup tanpa pasangan saja sudah membuatnya bahagia, dia sama sekali tidak merasa kesepian. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sampai-sampai tidak terpikir untuk mencari kekasih, ditambah teman-temannya selalu mengajaknya keluar di akhir pekan, jadi Jay merasa kehidupannya sudah menyenangkan.

 

Sampai akhirnya ibu dan ayahnya menjodohkannya dengan seseorang yang bahkan Jay tidak kenal.

 

Tadinya Jay sangat menentang hal itu, dia tidak mau hidup selamanya dengan orang yang tidak dia kenal, dia tidak mau serumah dengan orang dan merasa canggung setiap hari. Bukan ‘kah pernikahan itu dilandasi oleh dua orang yang saling mencinta? Bukan ‘kah itu harus dari kesepakatan dua belah pihak?

 

Sungguh, Jay tidak mengerti dengan jalan pikiran kedua orangtuanya itu.

 

 


 

 

 

Sampai akhirnya dia bertemu dengan Jungwon.

 

Jungwon—suaminya sekarang ini—terlihat begitu bingung sama seperti Jay, mereka berdua ditempatkan di posisi yang sama, sama-sama tidak mempunyai pilihan. Jay hanya bisa mentertawai nasib mereka berdua.

 

Keduanya tak punya waktu yang banyak untuk mengenal satu sama lain, dan Jay sama sekali tidak mengenal Jungwon. Ayahnya bilang kalau Jungwon orang yang baik, terbaik dan paling cocok menjadi jodoh Jay. Sang ayah benar-benar mengelukan Jungwon, membuatnya penasaran sebaik apa Jungwon ini.

 

Pernikahan mereka berjalan begitu cepat, hanya beberapa teman dekat yang Jay undang, sisanya kolega kantor dan teman-teman ayahnya saja. Kalau itu dibilang hari yang membahagiakan untuk Jay, mungkin jawabannya adalah tidak. Hampir seluruh pernikahan itu diatur oleh orangtuanya dan orngtua Jungwon, tapi untungnya resepsinya berjalan dengan baik, itu bisa jadi salah satu momen yang berkesan dalam hidup Jay.

 

“Saya mau belajar buat ngenal kamu lebih jauh, Jungwon.”

 

Itulah yang dia katakan pada Jungwon. Jika dia harus menghabiskan sisa hidupnya dengan Jungwon, dia harus mau mengenal suaminya itu lebih baik lagi, dia tidak mau selamanya menjadi orang asing dengan Jungwon. Harapannya adalah Jungwon juga memiliki pemikiran yang sama dengannya.

 

Beruntungnya Jungwon menerima tawarannya dengan tangan yang terbuka lebar. Kehidupan pernikahan mereka tidak akan canggung lagi setelah ini—Jay berharap.

 

 


 

Hidup dengan Jungwon bukanlah suatu hal yang sulit, malah Jay cukup menikmatinya. Jungwon bukanlah orang yang banyak bicara berbanding terbalik dengan Jay, dia tipe orang yang lebih banyak mendengarkan, berbanding terbalik dengan Jay. Walau begitu, Jungwon selalu merespon apa yang Jay tanyakan atau ceritakan padanya.

 

Menikah dengan Jungwon bukanlah hal yang buruk.

 

Di sela kesibukan mereka, keduanya masih bisa menyempatkan diri untuk makan malam bersama dan menceritakan apa saja yang mereka lakukan di hari itu. Di pagi hari Jungwon akan membantu menyiapkan semua kebutuhan Jay sementara Jay akan memasak sarapan untuk mereka berdua. Sungguh dia tidak pernah mengira kalau pernikahan mereka akan berjalan lancar.

 

Walau mungkin Jay terkadang masih sedikit canggung tapi tak masalah, mereka baru memiliki waktu untuk saling mengenal setelah menikah, jadi ini memang hal yang wajar.

 

“Gimana rasanya menikah dengan orang yang gak kamu kenal?” pertanyaan itu keluar dari bibir Jay secara spontan. Dia langsung menutup mulutnya saat mendengar pertanyaan ity.

 

Bodoh. Rutuknya pada diri sendiri. Dari sekian banyak pertanyaan kenapa Jay harus menanyakan hal itu. Jungwon bisa saja merasa tidak nyaman dan Jay tidak mau pemuda itu merasa tidak nyaman. Matanya dengan takut-takut melirik pada Jungwon yang duduk di sampingnya, berharap dia tidak menemukan tatapan kesal ataupun tidak nyaman.

 

“Hm, gimana ya?” Jungwon menggumam.

 

Keduanya saat ini sedang berada di ruang tamu, malam minggu yang mereka nikmati berdua dengan maraton film seri pilihan mereka berdua; Alice in Borderland, bukan film yang romantis untuk ditonton tapi mereka sama-sama menikmatinya. Waktu sudah menunjukan pukul satu pagi tapi belum ada satupun dari mereka yang merasa mengantuk, malah keduanya menyandarkan diri dengan nyaman di sofa nyaris terlentang, selimut menutupi kaki mereka.

 

Terlihat begitu domestik dan ini membuat hati Jay menghangat.

 

“Maaf, kamu ga perlu jawab itu.” Jay merasa sungkan, dia tidak mau mereka semakin canggung nantinya.

 

Jungwon malah menatap Jay dengan kedua bola mata yang begitu dia sukai; bulat dan berbinar, tajam namun polos, seperti anak kucing. Ya, baginya Jungwon terlihat seperti anak kucing. “Kalau Kak Jay sendiri gimana? Apa rasanya nikah sama aku yang jelas-jelas orang asing dalam hidup Kakak?”

 

“Saya,” Jay terdiam, berpikir sejenak tentang apa yang dia rasakan dua bulan belakangan ini terhadap Jungwon. “Saya pikir bakal sulit, menikah karena perjodohan, terdengar konyol ‘kan? Kita sama-sama ga kenal dan ga tau karakter masing-masing.”

 

“Awalnya saya putar otak gimana caranya pernikahan kita baik-baik aja walau kita disatukan dengan cara yang begini. Saya mau pasangan saya juga punya pemikiran seperti saya; kalau pernikahan hanya sekali seumur hidup. Untungnya kamu setuju dengan tawaran saya waktu itu.” Jay tersenyum pada suaminya itu. “Saya jadi lega, padahal saya tadinya takut kamu minta cerai seminggu setelah kita nikah.”

 

Jungwon tertawa mendengarnya. Cantik, dia begitu cantik di mata Jay. “Ih, Kak Jay pikirannya jelek banget!”

 

“Ya maaf, saya kadang kurang percaya diri aja gitu.” Jay tersenyum canggung. “Semuanya terasa lebih mudah dan ga seburuk yang saya pikirin. Mungkin karena saya menikah sama kamu jadi semua terasa lebih ringan dan menyenangkan.”

 

Jungwon diam menatapnya, senyum yang tadi tersungging di bibir pemuda berparas manis itu luntur. Jay bisa melihat Jungwon dalam kegelapan yang minim ini, walau hanya biasan cahaya dari televisi yang menerangi mereka. Jantungnya berdebar, mendadak Jay merasa takut kalau dia salah bicara.

 

“Jungwon—”

 

“Aku juga ngerasa begitu.” Jungwon memotong, tidak membiarkan Jay bicara lebih dulu. “Aku pikir semua bakal terasa berat tapi ternyata engga. Aku bersyukur karena Kak Jay lah yang jadi suamiku sekarang. Makasih ya, Kak.”

 

Jay tidak yakin apa yang membuat Jungwon berterimakasih padanya, harusnya dialah yang berterimakasih. Pemuda itu mau menghabiskan sisa hidupnya dengan Jay yang belum dia cintai—belum, Jay berharap kalau suatu saat nanti Jungwon akan mencintainya balik.

 

Karena dia sudah jatuh cinta dengan Yang Jungwon.

 

Jay meremat tangannya sendiri, merasakan perasaan yang begitu membuncah untuk seorang Yang Jungwon. Si manis tersenyum padanya seolah menawarkan Jay untuk jatuh lebih dalam lagi, untuk terpikat oleh pesonanya lebih jauh lagi.

 

Malam itu dia berandai, butuh waktu berapa lama untuk Jungwon agar menyukainya?

 


 

Kalau boleh jujur Jay begitu lelah hari ini.

 

Ada dua meeting dan dia harus mengecek laporan keuangan yang diberikan oleh pegawainya, itu sangat menguras tenaga. Sejak tadi siang dia hanya ingin pulang, tidur dan bertemu dengan suami kecilnya.

 

Dia menawarkan diri untuk menjemput Jungwon yang sedang berkumpul dengan teman-temannya, rasa lelah itu hilang terganti dengan kesenangan kalau dia akan segera bertemu dengan kekasih hatinya itu.

 

Jay tidak sabar bertemu dengannya.

 

Saat Jay sudah tiba di tempat yang dia tuju, dia langsung masuk dan mencari keberadaan Jungwon. Mata elangnya menangkap pemuda itu sedang duduk di dekat jendela bersama dengan seorang pria yang tidak asing baginya. Sepertinya orang itu pernah datang ke pernikahan mereka.

 

Satu langkah, dua langkah, Jay berjalan mendekati Jungwon. Saat dia berdiri sekitar dua meter dari Jungwon, dia menghentikan langkahnya.

 

“Gue pas suka sama Kak Heeseung langsung sadar sama perasaan gue ya, sekarang kok rasanya lama banget buat mastiin kalau gue suka sama Kak Jay beneran atau engga.”

 

Heeseung? Nama yang asing, sosoknya tidak Jay kenal. Mendengar kata suka dan Heeseung dalam satu kalimat yang Jungwon katakan membuat Jay menarik kesimpulan kalau orang itu adalah orang yang Jungwon sukai. Ada sedikit perasaan sakit yang tiba-tiba datang dan itu membuat Jay tidak nyaman.

 

Tidak ada yang salah kalau Jungwon menyukai orang lain, toh pernikahan mereka tidak dilandasi dasar saling suka apalagi saling cinta. Mereka hanya dua sosok asing yang dipaksa tinggal bersama dan terbiasa satu sama lain. Jay menarik napas dalam, itu terasa begitu menyesakan, tapi itulah kenyataannya.

 

Mendengar obrolan Jungwon dan temannya itu membuat Jay tahu kalau Jungwon pernah menyatakan cinta pada pria bernama Heeseung tapi sayangnya cintanya tertolak. Sungguh, dia merutuki kebodohan Heeseung, bagaimana orang itu menolak orang yang sempurna seperti Jungwon?

 

Kalau Jay yang diberikan kesempatan itu, dia tidak mungkin membuat Jungwon patah hati.

 

Ujungnya, dia tidak tahan lagi mendengar percakapan keduanya tentang Heeseung. Cukup, Jay merasa cemburu, dia tidak mau Jungwon membahas pria itu lagi atau mengingat perasaannya pada Heeseung lagi. Jadi dia memutuskan untuk memotong obrolan mereka.

 

“Heeseung?”

 

Keduanya terlihat begitu kaget dengan kehadiran Jay, bahkan Jungwon saja terlihat pucat seperti dia baru saja melakukan dosa yang tidak seharusnya orang-orang ketahui.

 

“Hai.” dia menyapa Jungwon lalu beralih ke temannya yang sama pucatnya dengan Jungwon. “Kamu Sunoo ‘kan, temen kerjanya Jungwon? Akhirnya kita ketemu lagi.”

 

Sunoo terlihat tidak enak hati saat melihat Jay, sama merasa bersalahnya dengan Jungwon. Jay hanya tersenyum, dia tidak membawa-bawa lagi obrolan tentang Heeseung di depan mereka berdua.

 

"Jungwon, suami lo udah dateng. Kalau gitu gue pulang ya!" Sunoo terlihat begitu terburu-buru, mengambil tasnya dan berdiri bersiap untuk pergi.

 

"Loh kok pulang? Gapapa di sini dulu aja, nanti saya sama Jungwon anter kamu pulang."

 

Sunoo menolak tawarannya dan meninggalkannya berdua dengan Jungwon. Ketika pemuda itu pergi, tidak ada yang bicara diantara mereka berdua. Jay terlalu larut dengan pikirannya sendiri, mengingat tentang Jungwon dan Heeseung juga perasaan suaminya pada pria itu.

 

Kalau seandainya Jungwon masih memendam rasa untuk Heeseung—walau dia sudah ditolak—apakah mungkin Jungwon akan menceraikannya? Jay tidak mau itu terjadi, dia ingin hidup selamanya bersama Jungwon dan mencintai pemuda itu sepenuhnya.

 

Dia juga ingin Jungwon balik mencintainya.

 

"Kakak mau pulang sekarang aja?" Jungwon memecah keheningan diantara mereka

 

“Kamu mau pulang sekarang? Itu kopi sama kue kamu belum habis."

 

"Aku udah kenyang. Sebenernya tadi aku sama temen-temen yang lain udah makan malam."

 

Dengan teman-temannya yang lain katanya, mungkin ada Heeseung di sana. Jay tidak tahu kalau dirinya bisa secemburu ini dengan orang yang bahkan tidak pern "Sama temen-temen kantormu yang lain?"

 

"Iya."

 

Jay tidak berani bertanya lebih jauh lagi. Dia larut dalam pikirannya, apakah ada kesempatan baginya untuk memenangkan hati seorang Yang Jungwon? Jay bahkan tidak tahu bagaimana perasaan pemuda itu padanya. Memang benar Jungwon menerima tawarannya, tapi bukan berarti Jungwon secara instan langsung menyukai Jay.

 

Sementara Jay di sini, dia sudah jatuh hati dan siap memberikan cintanya pada Jungwon.

 

"Tadi itu, kalian ngomongin siapa?" Jay terkaget sendiri mendengar apa yang baru saja dia tanyakan. Gila, tadi dia sedang melamun dan meratapi kisah cintanya yang tragis ini, tanpa sadar mulutnya malah mengatakan itu. "Maaf, tadi saya ga sengaja denger kalian ngomong. Tapi kalau kamu ga mau jawab gapapa." Ia langsung menambahkan, sedikit merasa panik.

 

“Lagi ngomongin Kak Heeseung.” jawab pemuda manis di depannya. Jay tidak tahu kalau dirinya bisa sekesal ini saat mendengar nama orang itu keluar dari bibir Jungwon.

 

Sudah terlanjur membawa topik orang itu, Jay langsung saja bertanya lagi. "Heeseung itu, pacar kamu dulu?"

 

Jungwon menggeleng singkat, "Bukan, dia sepupunya Sunoo, temen aku juga sih."

 

Jungwon terlihat tidak nyaman ketika dia membincarakan tentang Heeseung. "Ga usah cerita kalau ga mau, Won. Saya ga keberatan kok. Maaf ya tadi malah nanya begitu." kata Jay, dia tidak ingin memaksa Jungwon untuk bercerita lebih jauh lagi.

 

"Engga kak, gapapa." Jungwon tersenyum padanya. "Kak Heeseung itu—gimana ya aku ceritanya, dulu aku sempet suka sama Kak Heeseung."

 

Jay diam, membiarkan Jungwon melanjutkan ceritanya. "Aku sempet confess ke dia, karena aku pikir dia juga suka sama aku. Tapi ternyata aku salah ngartiin kebaikan dia, Kak Heeseung cuma nganggep aku adeknya, dan dia juga udah punya pacar."

 

Jay mengernyit, "Kok begitu? Kalau dari awal dia emang udah punya pacar, harusnya dia ga kasih mixed signal ke kamu."

 

Jungwon terkekeh, "Aku aja yang salah ngartiin, Kak. Tapi ya udah itu kejadian juga udah dua tahun lalu, udah lama."

 

Jay tidak mengerti dengan orang bernama Heeseung ini, bisa-bisanya dia menolak Jungwon. Tapi kalau dipikir kembali, jika Heeseung tidak menolak Jungwon waktu itu mungkin sekarang dia tidak akan bersama Jungwon, tidak akan menikahi pemuda di depannya ini.

 

"Tadi kamu ketemu sama dia lagi dong?" tanyanya. Ah, benar saja Jungwon kembali bertemu dengannya. "Kamu... masih suka sama dia?"

 

Jay takut dengan jawaban Jungwon nanti, kalau seandainya Jungwon menjawab iya lalu apa yang akan dia lakukan? Sekarang tubuhnya menegang, tanpa sadar dia duduk dengan tegak menanti jawaban Jungwon yang membuat dadanya berdebar kencang.

 

"Heh? Engga, aku udah engga suka sama Kak Heeseung. Lagian itu udah lama, Kak."

 

Jay tanpa sadar bernapas lega, seperti beban yang ada di pundaknya tadi terangkat semua. Senyuman kembali tersungging di bibirnya, lebih lebar dari sebelumnya. Hati Jungwon tidak lagi diisi dengan pria bernama Heeseung itu, Jay bisa mengisinya tanpa ada rasa khawatir kalau Jungwon akan mendorong perasaannya menjauh.

 

"Mau pulang ke rumah sekarang?" tawarnya. Dia tidak sabar pulang ke rumah dan mengobrol tentang hari ini dengan suami kecilnya itu.

 

"Ayo pulang, Kak. Aku mau mandi, gerah banget."

 

Pulang ke rumah mereka, tempat yang paling Jay sukai selama tiga bulan ini dan untuk seterusnya—mungkin selamanya. Karena disanalah dia dan Jungwon sarapan bersama, juga tempat di mana mereka bercerita di tengah malam sebelum akhirnya mengantuk dan memutuskan untuk tidur. Tempat itu seperti kopi hangat di pagi hari atau tawa saat menonton film di malam hari.

 

Rumah mereka.

 

Jay berdiri, dia mengulurkan tangannya pada Jungwon, berharap Jungwon menerima genggamannya. Jungwon untuk sesaat memperhatikan telapak tangan lebar milik Jay, lalu beralih pada wajah tampan suaminya itu.

 

Jay tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat Jungwon menerima uluran tangannya dan balas menggenggam tangan Jay. Dia meremat tangan Jungwon yang terasa pas di tangannya, lembut, lebih kecil dari telapak tangannya yang lebar, Jay tidak akan pernah bosan menggenggam tangan ini.

 

Malam ini dia merasa senang karena akhirnya dia bisa menggenggam tangan Jungwon dengan perasaan bangga, melewati kerumunan orang-orang tanpa melepas tautan tangan mereka.

 


 

“Kamu mau pakai madu ga di kopi kamu, Kak?”

Jay menghentikan kegiatannya memotong sayuran dan mengalihkannya pada Jungwon yang sedang membuatkannya kopi di pantry. Dia tersenyum melihat suami manisnya yang masih dalam balutan piyama kucing kebesaran miliknya, itu hadiah yang Jay berikan di awal-awal pernikahan mereka.

 

“Boleh, tambahin dua sendok aja ya.” jawabnya. Jungwon mengacungkan ibu jari padanya, lalu kembali sibuk membuat kopi untuk mereka berdua.

 

Hari ini hari ke 279 pernikahan mereka, terdengar bodoh tapi Jay menghitungnya. Hampir satu tahun dan hubungan mereka masih baik, tidak ada kemajuan tapi baik-baik saja. Jay terkadang larut dalam pikirannya sendiri, bertanya-tanya sebenarnya apa yang dia inginkan dengan Jungwon? Apakah dia puas hanya dengan seperti ini?

Karena jauh di lubuk hati Jay mengharapkan sesuatu yang masih abu-abu. Jay takut memulai, dia takut melewati batas yang sudah dia buat dengan Jungwon. Memang sekarang mereka berdua sudah lebih dekat—sangat malah kalau Jay bisa bilang—tapi masih ada sesuatu yang kurang.

 

Jay ingin bisa memeluk Jungwon saat mereka menonton film bersama, dia mau mengecup bibir merona milik suami kecilnya, dia mau melakukan sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Jay ingin Jungwon, dengan segala kata cinta di dunia ini, dia ingin memiliki Jungwon sepenuhnya.

 

Dia ingin dicintai oleh Jungwon.

 

Di hari sabtu pagi ini keduanya sama-sama tidak bekerja jadi mereka bangung saat matahari sudah berada di atas kepala. Tadinya mereka hanya ingin bermalas-malasan di ruang tengah sambil menonton drama yang belum tuntas mereka tonton sejak semalam, tapi ternyata tubuh mereka butuh makanan, jadi keduanya mau tidak mau beranjak.

 

Saat Jay sudah selesai membuat sarapan, dia membawa dua piring ke meja makan. Di sana sudah ada Jungwon yang duduk dengan manis menanti makanan tiba sambil memainkan ponselnya. Dua cangkir kopi yang masih panas juga sudah ada di atas meja.

 

“Ayo makan, Jungwon.”

Jungwon langsung menaruh ponselnya, matanya berbinar saat mengambil masakan Jay. “Wah, makasih ya, Kak Jay.” dia mencium aroma makanannya. “Mmmm! Wanginya enak banget. Emang ga perlu diragukan lagi kalau Kak Jay yang masak.”

 

“Kamu belum coba, makan dulu baru dibilang enak.” Jay terkekeh, mendengar pujian itu tentu membuat hari Jay menghangat dan penuh akan rasa percaya diri.

 

Jungwon cemberut menatapnya, “Ga usah, aku udah tau Kak Jay jago masak dan masakan Kakak enak semua.” balasnya. “Lagian ini bukan pertama kalinya aku makan masakan Kakak.”

 

Jay bisa merasakan pipinya memanas, pujian dari Jungwon terasa begitu natural. Sekarang kalau dipikir lagi dia memang sering memasak untuk Jungwon—padahal dia dulu tidak sesuka ini dengan memasak—walau tidak setiap hari tapi Jay berusaha meluangkan waktu membuatkan sesuatu dengan Jungwon.

 

Karena dia suka melihat binar di mata Jungwon dan senyum lebar nan manis saat Jay menyajikan sesuatu untuknya. Jay menyukai perasaan yang mengatakan kalau dia bisa membuat Jungwon senang, dia menyukai setiap Jungwon memujinya.

 

Jungwon sudah menyantap sarapannya terebih dulu, meninggalkan Jay yang masih asyik memandanginya. Debaran di dada Jay tidak pernah hilang, selalu ada di sana saat melihat Jungwon, berdegup dengan cepat.

 

“Jungwon,” panggilnya dengan hati-hati.

 

Jungwon menatapnya dengan kepala yang dimiringkan. Menggemaskan. Jay menahan diri untuk tidak mencubit pipi itu. “Hm?”

 

“Kamu kira-kira bisa ambil cuti ga buat satu minggu?”

 

Jungwon menatapnya dengan kebingungan, “Kenapa aku harus ambil cuti?” si manis mengernyit. “Ada sesuatu ‘kah?”

 

Jay mengetuk-ngetuk jarinya di meja makan—pertanda kalau dia sedang gugup. Dia sebenarnya sudah lama memikirkan ini, namun tidak berani saja untuk menanyakannya pada Jungwon. Pernikahan mereka sudah hampir berjalan selama setahun tapi keduanya masih belum berbulan madu.

 

Mungkin hubungan mereka masih belum ada pada fase romantis, Jay tahu itu. Mungkin dengan berbulan madu akan membuat romansa tumbuh di hati Jungwon dan si manis akan jatuh cinta padanya. Jay sudah sangat siap untuk membuat Jungwon mencintainya.

 

“Aku mau ngajak kamu jalan-jalan.” ini adalah jawaban yang bagus, Jay secara implisit mengajaknya bulan madu tapi ini tidak akan membuat Jungwon merasa canggung.

 

“Huh? Jalan-jalan? Kemana?”

 

Jay berpikir ada baiknya untuk mengajak Jungwon keliling eropa, dia ingin sekali menjelajahi Londong bersama Jungwon. Itu terdengar romantis memang, tapi ada satu yang Jay lebih inginkan.

 

“Ke Seattle.”

 

Yaitu membawa Jungwon ke kampung halamannya, tempat dia menghabiskan masa kecilnya. Dia ingin Jungwon melihat betapa indahnya tempat Jay tumbuh, lagipula pemuda manis di depannya ini selalu menanyakan tentang Seattle padanya.

 

Tentu Jungwon kembali terkejut, namun ada pancaran penuh kebahagiaan di wajah cantik yang membuat Jay jatuh cinta itu. “Beneran?!” tanyanya begitu antusias. “Kita mau liburan ke Seattle?”

 

Jay menangguk, “Iya.” jawabnya dengan senyuman lebar. “Waktu itu aku janji buat bawa kamu ke Seattle buat nemuin keluarga aku di sana sambil jalan-jalan.” dia bisa melihat Jungwon yang melompat kecil dalam duduknya. “Gimana, kamu mau?”

 

“Mau! Mau banget!”

 

Melihat Jungwon yang begitu antusias, dia merasa kalau pilihannya mengajak Jungwon pergi ke Seattle adalah hal yang benar. Dia jadi membayangkan menjelajahi kota tempat kelahirannya bersama dengan orang terkasihnya, mengenalkan Jungwon pada saudara dan teman-temannya di sana.

 

Jay jadi tidak sabar.

 


 

 

Mereka baru saja tiba di Seattle, sebuah kota yang penuh kenangan bagi Jay. Udara dingin yang segar menyapa mereka saat mereka keluar dari bandara, dan Jay tidak bisa menyembunyikan senyum kecil yang terukir di wajahnya. Seattle adalah rumah, dan membawa Jungwon ke sini terasa seperti langkah pertama menuju hubungan yang lebih dalam dan hangat.

 

Mereka menginap di sebuah hotel mewah dengan pemandangan menghadap ke Elliott Bay, air laut yang berkilauan di bawah sinar matahari musim semi. Jay ingin membuat perjalanan ini tak terlupakan bagi mereka berdua. Meskipun pernikahan mereka dimulai dengan kecanggungan, Jay bertekad untuk mengubah itu. Dia ingin Jungwon merasa nyaman, dicintai, dan yang terpenting, dia ingin Jungwon mulai membuka hatinya.

 

Jay menggenggam tangan Jungwon dengan lembut, ibu jarinya mengusap punggung tangan kekasihnya. Di sampingnya Jungwon tersenyum lebar, satu es krim di tangannya dan dia dengan jenaka menunjuk pertokoan yang mereka lewati.

 

Bulan madu mereka terasa seperti kencan pertama mereka. Sebelumnya Jay dan Jungwon tidak pernah berjalan berdua seperti ini, paling hanya sekedar makan malam keluar atau berbelanja. Menggenggam tangan Jungwon membuat Jay merasa ada di atas dunia, dia tidak ingin melepaskan tangan Jungwon, dia ingin terus menggenggam tangan Jungwon.

 

“Kak Jay, makanan kesukaan Kakak di sini apa?” tanyanya.

 

Jay pura-pura berpikir, membiarkan Jungwon menunggu dengan penasaran. Habisnya Jungwon terlihat begitu lucu, memiringkan kepalanya sambil menanti jawaban Jay. “Aku suka Cinnabon, dari dulu itu makanan kesukaanku.”

 

“Ih, emang itu enak?”

 

“Enak kok. Kamu mau coba?”

“Mau!”

 

Melihat Jungwon yang begitu antusias tentu saja Jay tidak mungkin menolak permintaan si cantik. Dia membawa Jungwon ke tempat jajan favoritnya semasa kecil, rasanya begitu menyenangkan bisa mengajak Jungwon menjelajahi kenangan masa kecilnya.

 

Begitu mereka masuk ke dalam toko, aroma kayu manis dan gula yang menguar di udara langsung membuat Jay tersenyum lebar. “Kamu harus coba ini, Jungwon,” kata Jay antusias. “Ini jajanan fioavoritku pas aku lagi kecil. Setiap kali ke sini, aku pasti minta beli satu.”

 

Jungwon tertawa kecil, terhibur oleh semangat Jay yang begitu antusias. “Kamu benar-benar suka makanan manis, ya?”

 

Jay mengangguk dengan penuh semangat. “Aku tidak bisa hidup tanpa yang manis-manis.”

 

Mereka memesan dua gulungan kayu manis besar yang dilapisi dengan lapisan frosting yang tebal dan menggiurkan. Saat pesanan mereka disajikan, Jay tidak bisa menahan diri untuk mencicipinya lebih dulu, matanya hampir menutup saat ia merasakan rasa manis yang membangkitkan kenangan masa kecilnya.

 

“Mmm, enak. Rasanya masih kayak yang aku inget dulu.” gumam Jay dengan mata berbinar. “Aku ga tau apa ini nostalgia atau memang rasanya yang enak, tapi aku selalu ngerasa bahagia setiap kali makan ini.”

 

Jungwon tersenyum, lalu mengambil sepotong dari gulungannya sendiri. Setelah gigitan pertama, matanya melebar sedikit. “Ini enak banget!” katanya sambil mengangguk setuju.

 

Jay memandang Jungwon dengan senyuman penuh arti. “Tuh, kan? Aku bilang juga apa. Sekarang, kamu bisa ngerasain sedikit dari masa kecilku.”

 

Jungwon menatap Jay, tersenyum kecil sebelum berkata, “Aku seneng bisa berbagi ini sama kamu, Kak. Mungkin sekarang ini juga akan jadi salah satu makanan favoritku.”

 

Jay merasa hatinya meleleh mendengar kata-kata Jungwon. Ada sesuatu yang sangat berarti dalam momen sederhana ini—berbagi bagian dari masa lalunya dengan orang yang sangat dia cintai. Tanpa berpikir panjang, Jay mengambil sepotong kecil dari gulungan Jungwon dan menyuapkannya ke mulut Jungwon dengan senyum lebar.

 

“Kalau kamu suka, aku janji kita akan sering ke sini,” kata Jay sambil tertawa kecil.

 

Jungwon mengangguk sambil mengunyah, bibirnya melengkung dalam senyuman hangat. “Aku pegang janji kamu, Kak.”

 

Melihat Jungwon menikmati makanan kesukaannya membuat Jay merasa lebih dekat dengan Jungwon, seolah-olah mereka perlahan-lahan mulai membuka diri satu sama lain. Jay merasa ini adalah langkah kecil tapi penting dalam perjalanan mereka menuju hubungan yang lebih hangat. Di setiap tawa dan senyum yang mereka bagi, Jay semakin yakin bahwa dia ingin menghabiskan sisa hidupnya membuat Jungwon bahagia.

 

…..

 

Setelah seharian menjelajahi Seattle, Jay dan Jungwon memutuskan untuk mengakhiri malam mereka dengan santai di kamar hotel. Mereka duduk berdua di sofa yang nyaman, dengan TV menayangkan film lama yang mereka putar hanya sebagai latar belakang. Lampu kamar sengaja diredupkan, menciptakan suasana yang hangat diantara mereka. Jungwon duduk bersandar pada Jay, kepalanya nyaman di bahu Jay, sementara Jay memeluknya dengan lembut. Mereka berdua merasa nyaman dalam keheningan yang hanya diisi oleh suara film yang samar-samar terdengar.

 

Jay tidak pernah membayangkan bahwa pernikahan yang awalnya merupakan hasil dari perjodohan akan membuatnya merasa sedalam ini. Dari awal, Jay berpikir bahwa mungkin mereka hanya akan menjalani pernikahan ini sebagai kewajiban, tanpa ada perasaan yang sebenarnya. Namun, seiring berjalannya waktu, setiap momen yang mereka lalui bersama membuat Jay semakin sadar akan sesuatu yang jauh lebih dalam. Dia benar-benar jatuh cinta pada Jungwon—bukan hanya sebagai pasangan hidup, tetapi sebagai seseorang yang dia ingin habiskan sisa hidupnya bersama.

 

Malam itu, dengan kehangatan tubuh Jungwon di sisinya, Jay merasa sudah saatnya untuk mengungkapkan perasaannya. Dia merasakan debaran halus di dadanya, kombinasi antara kegugupan dan cinta yang mendalam. Dengan lembut, Jay menarik Jungwon sedikit lebih dekat, hingga mereka saling berhadapan.

 

“Jungwon,” Jay memulai dengan suara lembut, sedikit bergetar, “Boleh aku ngomong sesuatu?”

 

Jungwon menggumam, “Kak Jay mau ngomong apa?”

 

Jay menarik napasnya dalam, berusaha untuk tenang saat ingin mengungkapkan perasaannya pada Jungwon. Harapannya begitu besar, berharap Jungwon bisa merespon dengan baik apa yang dia rasakan. “Aku ga pernah menyangka kalau pernikahan kita, yang awalnya cuma sebuah perjodohan, berujung pada aku yang merasakan hal ini.”

 

Jungwon mengangkat matanya, menatap Jay dengan pandangan yang tenang namun penuh perhatian. Jay merasakan dorongan kuat untuk melanjutkan.

 

“Aku... Aku sadar kalau perasaanku buat kamu tumbuh lebih dari yang pernah aku bayangkan. Setiap hari, aku merasa semakin ingin bersamamu, semakin ingin melindungi dan membuat kamu bahagia,” Jay melanjutkan, suaranya penuh dengan ketulusan. “Aku mau kamu tau kalau aku cinta sama kamu, Jungwon. Dan bukan cuma cinta yang sekadar kata-kata, tapi cinta yang ingin aku buktikan setiap hari. Aku mau kita ga hanya sekadar menjalani pernikahan ini, tapi benar-benar menjalani hidup bersama, sebagai pasangan yang saling mencintai.”

 

Jay berhenti sejenak, merasakan hatinya berdebar lebih kencang saat melihat Jungwon yang tetap diam, seolah mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan. “Aku ga mengharapkan kamu langsung merasa yang sama, aku ga berharap kalau kamu langsung cinta sama aku.” Jay melanjutkan, kali ini suaranya sedikit lebih pelan. “Tapi aku berharap, pelan-pelan, kamu mau membuka hati kamu buat aku. Karena aku ingin, lebih dari apapun, kita bisa bersama selamanya.”

 

Dalam keheningan yang mengikuti, Jay menatap Jungwon dengan penuh harap, menunggu responnya. Detik-detik berlalu, dan akhirnya, Jungwon mengulurkan tangan untuk mengelus pipi Jay dengan lembut. Sentuhan itu membuat Jay merasakan getaran lembut yang menyenangkan menyebar di seluruh tubuhnya.

 

Jungwon tersenyum kecil, penuh kehangatan dan itu membuat Jay merasakan hatinya berdesir. “Kak Jay, aku juga ngerasain hal yang sama. Mungkin butuh waktu, tapi aku juga mau kita bisa bahagia bersama Kak Jay. Aku mau mencoba... buat cinta sama Kakak, sama seperti Kakak cinta sama aku.”

 

Mendengar kata-kata itu, Jay merasa lega dan bahagia, seolah-olah beban besar yang selama ini menghantui pikirannya telah terangkat. Dia tersenyum, baginya ini sudah cukup, baginya Jungwon yang siap belajar mencintainya sudah lebih dari cukup.

 

“Jungwon,” dengan hati-hati Jay usap pipi suami kecilnya, matanya menatap Jungwon dengan penuh harap. “Saya boleh cium kamu?”

 

Jungwon diam dan Jay menanti. Satu anggukan malu-malu dari Jungwon membuat Jay mengumpulkan keberaniannya. Dia mendekatkan wajahnya ke Jungwon, bibir mereka bersentuhan dalam ciuman lembut. Ciuman itu bukan hanya sekadar kontak fisik, tapi juga pengukuhan akan perasaan mereka yang semakin tumbuh.

 

Jay merasa hatinya meluap dengan kebahagiaan saat Jungwon membalas ciumannya. Si manis menggantungkan tangannya pada leher Jay, matanya terpejam menikmati sentuhan dari Jay. Sentuhan ini terasa seperti surga dunia baginya, ini adalah hal terintim yang pernah mereka lakukan selama mereka menikah hampir setahun. Selama ini, Jay telah berharap, berdoa, dan merindukan momen di mana Jungwon akan membuka hatinya sedikit demi sedikit. Dan sekarang, di sini mereka, saling mengungkapkan perasaan yang tulus.

 

Saat ciuman mereka terlepas, Jay menatap Jungwon dengan penuh keharuan, matanya sedikit berkaca-kaca karena bahagia. Dia merasa seolah-olah dunia yang selama ini tampak abu-abu perlahan-lahan mulai dipenuhi oleh warna-warna cerah. Ciuman lembut yang baru saja mereka bagikan masih terasa hangat di bibirnya, menguatkan perasaan cinta yang membara di dalam hatinya.

 

Jay menarik napas dalam-dalam, seolah berusaha menenangkan debaran jantungnya yang begitu cepat. "Jungwon..." suaranya sedikit serak, tercekik oleh emosi, "Kamu ga tau betapa bahagianya aku dengan hal ini. Aku... aku ga pernah merasa seutuh ini sebelumnya."

 

Dia merasakan dorongan untuk memeluk Jungwon lebih erat, seolah-olah ingin memastikan bahwa momen ini nyata dan bukan sekadar mimpi. "Aku janji, aku akan melakukan apapun untuk membuat kamu bahagia. Kamu ga usah terburu-buru, aku siap buat nunggu kamu jatuh cinta sama aku, Jungwon. Aku cuma mau kamu tau kalau aku akan selalu ada di sini untuk kamu."

 

Jay mengelus pipi Jungwon dengan lembut, jemarinya menyapu rambut halus di pelipis Jungwon. Tatapannya penuh dengan cinta yang dalam, tanpa keraguan. "Aku cinta sama kamu, Jungwon," lanjut Jay, kali ini dengan senyuman yang tak bisa ia tahan lagi. "Dan aku mau kamu tau kalau aku akan mencintaimu setiap hari, lebih dan lebih lagi."

 

Reaksi Jay adalah campuran dari kebahagiaan, rasa syukur, dan cinta yang mendalam. Dia merasa seolah-olah seluruh beban yang pernah dia rasakan selama ini telah hilang, digantikan oleh perasaan ringan yang membuatnya ingin tertawa dan menangis sekaligus. Dia merasa telah menemukan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang telah dia cari-cari sepanjang hidupnya—cinta sejati yang dia temukan dalam diri Jungwon.

 

Malam itu, di bawah cahaya redup ruangan yang mereka tinggali, Jay merasa seperti pria paling beruntung di dunia. Dia tidak pernah membayangkan bahwa pernikahan yang dimulai dengan perjodohan akan berkembang menjadi sesuatu yang begitu indah dan penuh harapan. Dan dengan pelukan Jungwon yang erat di tubuhnya, Jay merasa yakin bahwa mereka akan mampu menghadapi apa pun yang ada di depan mereka. Dan dia siap menunggu Jungwon untuk membalas perasaannya secara penuh.

Notes:

hope you enjooooooyyy this one. aku suka banget sama slowburn and kinda think this one will be slowburn juga (because jungwon is bad at feelings, dia ga sadar sadar sama perasaannya rip)

you can talk to me, lets hype about jaywon with me