Chapter Text
Wonwoo yang sedang membuat coklat hangat mengernyit saat mendengar tawa melengking Mingyu. Tawa yang menandakan bahwa teman serumahnya itu sedang antusias. Wonwoo terganggu. Bukan terganggu dengan kebahagiaan Mingyu, tetapi bagaimana bahagia itu terbentuk.
Wonwoo duduk di sebelah Mingyu sambil menyeruput coklat hangatnya pelan-pelan. Tatapan matanya yang tajam seperti milik kucing itu sengaja dia arahkan kepada Mingyu secara intens. Agar Mingyu terganggu. Agar Mingyu segera mematikan sambungan teleponnya.
Berhasil. Hanya satu menit kemudian dan Mingyu sudah jengah dengan tatapan mata Wonwoo.
"Babe, udah dulu ya. Aku mau siap-siap habis ini ada kelas." ucap Mingyu lembut kepada orang di seberang sambungan.
Wonwoo menyeringai saat dilihatnya Mingyu mematikan sambungan telepon dengan wajah kesal.
"Ngapain sih lo?" seru Mingyu dengan nada kesal.
"Irene apa Joshua? Terus tau nggak dia kalau kamu sebelumnya habis nelpon yang lain, pake ayang-ayangan." respon Wonwoo dengan tenang.
Mingyu hanya mencebik dan bangkit dari duduknya. Melangkah lebar-lebar ke kamarnya. Melarikan diri dari pertanyaan Wonwoo. Sementara yang ditinggalkan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sudah hampir dua bulan ini Mingyu sibuk. Sebagian waktunya untuk Joshua, anak dari beda kampus. Lalu sebagian waktu lainnya untuk Irene, masih satu kampus dengan mereka tapi beda fakultas.
Tidak lagi harus mengawasi dan menjaga Wonwoo yang patah hati sepertinya memberi Mingyu banyak waktu luang. Sampai bisa two timing seperti ini.
Sudah hampir satu tahun sejak Wonwoo ditinggalkan Jae Eon untuk menikahi Na Bi. Kabar yang beredar, Jae Eon dan Na Bi sekarang hidup menepi. Bekerja keras membesarkan anak mereka, yang katanya berjenis kelamin perempuan. Dua bulan setelah kehebohan itu, keduanya memang mengundurkan diri dari kampus.
Wonwoo tahu bahwa di minggu-minggu pertama patah hati, dirinya sangat kacau. Sehingga Mingyu harus ekstra mengawasi dan menjaganya. Itu semua membuat Wonwoo sadar bahwa dia berutang budi yang sangat besar pada Mingyu. Sehingga Wonwoo berusaha keras untuk membalas kebaikan Mingyu dengan menjalani hidup yang lebih baik.
Tidak ada lagi Wonwoo yang malas membersihkan rumah, yang tidak rapi menyimpan barang, yang lupa jadwal membuang sampah ke basement, dan meninggalkan rumah tanpa mengunci pintu. Wonwoo yang sekarang adalah Wonwoo yang membuat Mingyu bisa menarik nafas lega dan berkata, "Kayak gini kek dari dulu-dulu kan nggak senewen mulu guenya."
Tapi, sekarang gantian Mingyu yang membuat Wonwoo cemas. Sudah dua bulan Mingyu mulai bertingkah seperti Jae Eon. Sambar sana sini. Pepet kanan kiri. Sekarang, Joshua dan Irene yang Wonwoo tahu sedang didekati Mingyu dan diberi afeksi lebih. Tapi dari cerita teman-teman dekat Mingyu, sepertinya ada beberapa mangsa lain yang sudah menjadi korban.
Wonwoo tahu itu bukan sesuatu yang bisa dia kendalikan. Mingyu adalah manusia dewasa yang bisa mempertimbangkan sendiri baik buruk dari perbuatannya. Mingyu juga yang pada akhirnya akan menerima balasan saat perilakunya terbongkar dan berbalik menyerangnya. Jadi sebetulnya bisa saja Wonwoo menutup mata, tidak peduli apapun yang teman serumahnya itu lakukan.
Masalahnya, Wonwoo tidak bisa tidak peduli. Dia peduli pada Mingyu. Dia tidak ingin Mingyu yang waktu itu menolongnya untuk bisa sembuh dari laki-laki brengsek macam Jae Eon, perlahan malah bertransformasi serupa. Dia tidak ingin Mingyu menjadi orang jahat. Karena Mingyu yang dia kenal adalah manusia yang berhati hangat dan baik. Dia tidak mau dunia mengenal Mingyu dengan sebaliknya.
Menghela nafas panjang, Wonwoo masuk ke kamarnya. Memberi ruang bagi Mingyu agar bisa leluasa beraktivitas lagi. Karena kalau sudah begini, biasanya Mingyu akan kikuk berada di sekitar Wonwoo.
*****
"Di rumah lo lagi?" tanya Woozi pada Mingyu yang langsung dijawab dengan anggukan sepintas.
"Wonwoo masih nggak mau di kampus lama-lama, ya?" tanya Dokyeom.
Mingyu hanya mengangguk lagi, sibuk dengan ponselnya.
"Nggak heran, sih. Kadang masih ada aja yang suka ngomongin kasusnya Jae Eon sama Na Bi. Mungkin Wonwoo risih juga ya karena kemungkinan besar dia keseret-seret." kali ini Sooyoung yang bersuara.
Kepala Mingyu menoleh ke arah Sooyong dengan cepat. "Serius?"
Woozi dan Dokyeom berpandangan. Sementara Sooyoung hanya mengernyit memandangi Mingyu.
"Lo, serius nggak tau?" tanya Woozi kemudian.
Mingyu mengangguk. "Wonwoo nggak pernah cerita. Terakhir ya pas gue sampe harus nyamperin siapa tuh yang rambutnya biru."
"Aa…" Dokyeom mengangguk, seperti akhirnya memahami sesuatu. "Mungkin Wonwoo takut lo bereaksi kayak waktu itu. Dan orang lain juga takut ngomongin Ja Eon, Na Bi, dan Wonwoo di depan lo. Makanya lo nggak tau apa-apa gini…"
"Masuk akal." tanggap Sooyoung, yang disetujui Woozi.
Mingyu termenung. Dia pikir dia sudah cukup tahu tentang Wonwoo. Dia pikir satu-satunya alasan Wonwoo tidak mau ke kampus lama-lama karena sekedar tidak suka diingatkan tentang Jae Eon. Biar bagaimanapun, di sinilah pertama kali Wonwoo dan Jae Eon bertemu, pendekatan, dan akhirnya menjalin hubungan. Ada Jae Eon di setiap sudutnya bagi Wonwoo. Siapa sangka ternyata Wonwoo tidak mau lama-lama di kampus karena masih ada saja mulut jahat yang mengungkit-ungkit luka lama itu. Bajingan. Mingyu tidak tahan ingin menanyai Wonwoo siapa saja orang-orang itu biar bisa dia datangi dan amuk satu-satu seperti si rambut biru waktu itu.
"Lo nggak usah interogasi Wonwoo dan ngamuk lagi kayak waktu itu." tegur Woozi, dan terus terang itu mengagetkan Mingyu. Seolah Woozi bisa membaca pikirannya.
"Ya emang kenapa? Kalo nggak dikasih pelajaran, nggak berhenti tuh orang-orang."
Woozi dan Dokyeom berpandangan lagi. Saling mengedikkan kepala ke arah satu sama lain. Seolah sedang menyuruh satu sama lain untuk melakukan sesuatu.
"Apa?!" tuntut Mingyu kemudian, menyadari bahwa mereka sedang saling melempar tugas untuk mengatakan sesuatu kepada dirinya. "Ngomong aja. Gue nggak bakal ngamuk juga ke kalian."
"Menurut kita berdua aja nih ya," ucap Dokyeom hati-hati, sembari mengangkat kedua tangannya dalam gesture menenangkan, "Lo ngamukin si rambut biru itu sebenernya justru yang jadi trigger anak-anak masih ngomongin itu semua sampe sekarang. Bahkan bikin Wonwoo keseret-seret terus."
"Kok bisa?!" tuntut Mingyu, nadanya jelas terdengar kesal. Tidak terima.
"Setelah lo marah-marah ke si rambut biru, ada sebagian yang jadi spekulasi kalo Wonwoo sebenernya juga main gila di belakang Jae Eon."
"Bangsat! Darimana ceritanya?!"
"Ya dari elo. Lo yang membabi buta belain Wonwoo kayak gitu, bikin mereka mikir kalo Wonwoo main belakang sama lo." jawab Woozi sambil menjitak pelan kening Mingyu.
Mingyu tersedak ludahnya.
"Kok bisa mereka bilang gitu? Dan kenapa lo berdua nggak ngajakin gue diskusi tentang ini?" justru Sooyoung yang bertanya dengan mata memicing kesal ke arah Dokyeom dan Woozi.
"Pertama, kita butuh ada satu orang yang bisa jadi pengamat netral. Itu, elo." jawab Woozi sambil menunjuk ke arah Sooyoung. "Kedua, ya mereka bisa bilang gitu karena Mingyu sama Wonwoo tinggal serumah. Selama ini kalo ada apa-apa Wonwoo lebih sering minta tolongnya ke Mingyu bukan anjingnya itu."
"Ya kan karena gue serumah sama dia makanya paling cepet minta tolong ke gue, dan kita serumah juga karena udah temenan sejak kecil. Gimana sih?!" sambar Mingyu emosi.
"Orang kalau mau ngegosip, mau menghakimi, mana mau cari info dan cross-check fakta lebih jauh sih, Ming. Yang ada justru semakin cari-cari validasi buat pikiran jahat mereka itu." tanggap Dokyeom dengan tawa getir.
"Anjing." ucap Sooyoung lirih.
"Emang. Gue udah berapa kali sebenernya mau ngerujak mulut-mulut itu. Tapi kata dia," Woozi menunjuk Dokyeom, "…nggak usah. Daripada Wonwoo lagi yang kena. Padahal tangan gue gatel banget pengen kaplokin tu anjing-anjing." pungkas Woozi dengan seringai kejam.
Mingyu melepas ponselnya sembarangan dan memegang kepalanya sebagai ganti. Pening. Kepalanya seperti berputar dengan fakta yang baru dia ketahui ini. Wonwoo ternyata belum benar-benar terlepas dari kekacauan yang ditimbulkan mantan pacarnya yang brengsek itu. Dan Mingyu sendiri tanpa sadar justru menambah masalah bagi Wonwoo.
"Udah, nggak usah dipikir berat." Dokyeom menepuk pundak Mingyu pelan. "Yang penting sekarang kita pastiin aja Wonwoo nggak oleng lagi, biar dia bisa fokus jalanin kuliah. Mau diusahain kayak apa, satu-satunya jalan buat keluar dari semua ini ya emang segera lulus aja sih."
Mingyu mengangguk perlahan. Paham sepenuhnya dengan perkataan Dokyeom tapi masih berat digayuti perasaan bersalah pada Wonwoo. Siapa sangka tindakannya yang tanpa pikir panjang itu, meskipun diniatkan untuk kebaikan Wonwoo, malah menjadi senjata makan tuan dan menambah beban teman serumahnya.
*****
Mingyu langsung keluar kamar saat didengarnya Wonwoo pulang. Percakapan dengan anak-anak tadi masih mengganggu pikirannya dan dia ingin segera mencari tahu langsung dari Wonwoo. Dia berjanji tidak akan mengambil tindakan tanpa pikir panjang lagi, tapi setidaknya dia harus tahu siapa-siapa saja mulut yang sudah jahat kepada Wonwoo.
"Ada paket nih." sapa Wonwoo terlebih dahulu sambil mengulurkan bungkusan besar di tangannya.
Sambil lalu Mingyu menerimanya, dan langsung dia geletakkan begitu saja di atas rak sepatu. Pertanyaannya lebih mendesak.
"Dari Joshua, kan?" tanya Wonwoo.
"Ha?" tanggap Mingyu yang kaget karena keduluan Wonwoo.
"Itu paket dari Joshua, kan? Kamu masih two timing dia sama Irene apa gimana deh? Kemarin kamu masih jalan juga kan sama dia?" tanya Wonwoo lagi, membuat wajah Mingyu memerah. Entah karena malu, atau malah marah. Mingyu sendiri tidak yakin.
"Nggak usah berisik. Urusan gue sendiri."
Wonwoo mendengus sebal, "Ya emang. Aku juga nggak mau ikut-ikutan. Tapi jujur ya Gu, aku sebel liatnya. Nggak ada bedanya kamu sama Jae Eon tau, nggak?!"
Sekarang Mingyu yakin wajahnya memerah karena marah. Enak saja disamakan dengan manusia brengsek yang satu itu…
"Jangan lo samain gue sama si anjing itu, ya?!" seru Mingyu dengan nada tinggi dan jari mengacung ke wajah Wonwoo.
"Lah, jangan disamain gimana?" tanggap Wonwoo dengan seringai sinis, "Sama aja gitu kelakuannya."
Alis Mingyu menyatu dalam ekspresi tidak terima, "Beda lah! Gue masih pedekate jadi bebas mau sama siapa dan two at a time gini. Kalo si anjing kemaren kan udah jelas ada hubungan sama lo. Pacaran sama lo. Dan malah celup sana sini sampe ada yang bunting."
"Tapi nggak bener juga baperin anak orang sesuka hati gitu,ya, Gu. Dikira Irene sama Joshua nggak akan sakit hati kalo tau kamu pedekatenya two timing gini?"
"Siapa suruh pada baper dong, kalo gitu… Salah mereka nggak bisa ngontrol perasaannya sendiri."
Wonwoo diam beberapa saat, hanya memandangi Mingyu dengan mata rubahnya yang memicing tajam. Menatap teman serumahnya itu seolah sedang berusaha menembus tempurung kepalanya dan menguliti jalan pikirannya.
"Kalau pakai logikamu itu, waktu itu aku juga sama kayak Irene dan Joshua, nggak bisa mengontrol perasaanku sendiri. Udah tau banyak laporan Jae Eon main gila di luar, dan keanehan sikap dia sendiri, tapi aku masih aja nurutin perasaanku yang nggak mau melepas dia. Tapi, Gu, Irene dan Joshua nggak tau apa-apa. Mereka taunya kamu serius pedekate sama mereka sendiri aja. Irene nggak tahu ada Joshua, dan sebaliknya. Kalau sampai mereka tau, aku rasa mereka akan lebih sakit hati dibanding aku sih."
Mingyu diam. Tahu betul bahwa perkataan Wonwoo benar seratus persen, tetapi terlalu gengsi untuk sekedar menanggapi, apalagi menyetujuinya.
"Aku sampai hari ini masih takut lama-lama di kampus, padahal udah jarang yang bahas Jae Eon dan Na Bi di depanku. Tapi aku tau di belakangku, tiap mereka lihat aku, mereka masih ngomongin itu. Banyak dari mereka yang nolol-nololin aku karena waktu itu nggak bisa ngontrol perasaanku sendiri. Padahal yang salah ya yang selingkuh. Tapi aku sebagai korbannya masih ikut dihakimi."
Mingyu masih diam, jadi Wonwoo maju dan menepuk pundak Mingyu pelan, "Anyway, maaf aku cerewet gini. Aku nggak mau aja kalo sampe suatu hari orang ngomongin kamu seperti mereka ngomongin Jae Eon. Irene sama Joshua juga nggak seharusnya beresiko merasakan apa yang aku rasain kemarin-kemarin ini."
Dengan langkah cepat Wonwoo kemudian masuk ke kamarnya. Meninggalkan Mingyu yang terpaku di tempat. Tidak mampu bergerak karena kepalanya mendadak terlalu berat dengan banyak suara riuh yang saling bantah-berbantah.
Wonwoo benar.
Wonwoo tau apa…
Wonwoo hanya projecting ketakutannya sendiri pada hubungan Mingyu.
Wonwoo ingin menjaganya dari penghakiman.
Wonwoo..
Wonwoo…
…….dan Wonwoo.
*****
"Lo mau gimana ngomongnya coba?" tanya Woozi dengan alis mengernyit dalam. Pertanda bahwa dia menganggap ide tersebut aneh.
"Iya. Gue rasa nggak bijak, deh." tambah DK sambil mengangguk-angguk.
"Salah-salah Wonwoo malah mikirnya lo nuduh dia gila apa gimana. Kalo dia jadi marah sih gapapa lo konfron aja sekalian. Lah kalo anaknya cuma diem dan ngurung diri karena sakit hati? Mau gimana lo jelasin dan minta maafnya?" tanya Sooyoung bersemangat.
Mingyu baru saja menceritakan pada mereka tentang perkataan Wonwoo kemain dan kecemasannya sendiri. Dia pikir, sepertinya Wonwoo butuh konseling dengan psikolog. Untuk membantunya mengurai semua kusutnya kenangan dan pemikiran tentang Jae Eon. Juga untuk mencari cara menghadapi reaksi orang-orang yang masih menghakiminya.
Namun Mingyu tidak tahu bagaimana harus menyampaikan pemikirannya dan ajakannya. Sehingga dia bercerita pada ketiga temannya ini, berharap mendapat ide cemerlang. Tetapi rupanya teman-temannya ini pun juga sama bingungnya. Yah, mereka berempat sama-sama tahu bahwa Wonwoo terkadang bisa menjadi seseorang yang sangat halus dan rapuh hatinya.
"Tapi apa nggak lebih bahaya kalo dia telat cari pertolongan profesional?" tanya Mingyu lagi. "Ini aja udah berapa lama, dan dia masih nggak mau ketemu banyak orang. Masih nggak mau buka hati. Gue cuma takut semuanya udah terlalu telat."
Ketiga temannya mendengarkan sembari mengangguk-angguk, mulai memahami situasinya dari sudut pandang Mingyu.
"Coba aja lo tawarin baik-baik. Nggak usah lo bilang apa yang ada di pikiran lo. Cukup bilang aja kalo misal Wonwoo pikir dia butuh ke psikolog, lo mau nganterin atau cariin yang recommended." ucap Woozi setelah beberapa saat.
"Sekalian lo panas-panasin aja, Gyu. Lo bilang lo males kalo sampe suatu hari dia meledak dan elo yang harus ngurusin lagi." tambah DK.
Sooyoung langsung duduk tegak dengan mata berbinar, antusiasmenya naik tinggi. "Bener tuh! Tau sendiri si Wonwoo kan gengsinya gampang banget dimainan!"
Mingyu memandang ketiga temannya berganti-gantian. Oke, boleh dicoba.
Mingyu kemudian mengirim pesan kepada Wonwoo. Memberitahunya bahwa malam ini dia akan memasak nasi goreng kimchi favorit Wonwoo. Hanya dalam waktu beberapa detik dan balasan Wonwoo datang.
Ok! Thx Gu! The best emang!
Membuat Mingyu tersenyum tanpa sadar. Mood Wonwoo sepertinya sedang baik. Semoga setelah makan, mood-nya semakin membaik, jadi Mingyu bisa menyampaikan maksudnya tanpa disalahpahami.
Pada dasarnya Wonwoo bukan orang yang sulit diajak berdiskusi. Bertahun-tahun tinggal bersama, sebetulnya Mingyu dan Wonwoo sudah berkali-kali menemui problema yang mau tidak mau harus duduk didiskusikan. Dan biasanya mereka selalu berhasil mendapatkan solusi atas masalah-masalah tersebut.
Baru saat Jae Eon datang di kehidupan Wonwoo kemarin lah semua terasa sulit sekali bagi Mingyu. Maka dia juga merasa untuk kali ini harus ekstra berhati-hati. Selain tidak mau membuat Wonwoo menjadi sedih, Mingyu tidak mau jika nanti dirinya malah terpancing amarah seperti tiap mereka berdebat tentang Jae Eon dan berujung menyakiti Wonwoo dengan perkataannya.
Di dalam kepalanya, Mingyu menyusun berbagai variasi kalimat yang akan dia sampaikan kepada teman serumahnya itu beserta prediksi bagaimana Wonwoo akan menanggapinya. Setelah beberapa versi, akhirnya Mingyu menemukan satu yang menurutnya paling aman.
Oke, semoga nanti malam semesta berpihak pada kami. Rapal Mingyu dalam hatinya. Optimis bahwa dia akan berhasil dan masalah ini akan segera pergi dari kehidupan Wonwoo, juga kehidupannya sendiri.
Tapi siapa sangka hanya dua jam kemudian, bahkan belum sempat Mingyu pulang ke apartemen, Wonwoo meneleponnya dengan suara terbata-bata dan kentara sedang kebingungan.
"Gu.. Susul ke RSA. Jae Eon, Jae Eon nggak ada… Na Bi… Anaknya…"
Mingyu yang masih di kelas langsung berdiri dan meninggalkan pembelajaran. Tidak peduli teman-teman dan dosennya memanggil.
Menyusul Wonwoo ke RSA. Hanya itu yang bisa Mingyu pikirkan saat ini.
