Actions

Work Header

K o l a s e

Chapter 6: S: Soulmate

Notes:

Disclaimer: Kuroko no Basuke adalah hasil karya Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan materi yang saya dapatkan dari fanfiksi ini.

Warning: OOC, typo(s).

A/N: Terima kasih bagi kalian yang sudah membaca dan menikmati sampai chapter terakhir.

Chapter Text

“Aku penasaran, seberapa besar sih persentasi kita akan menemui soulmate di saat usia kita masih SMP?” Pertanyaan Kise Ryouta sukses menyita perhatian dari beberapa orang yang berada di sana. Dia meminum Pocari-nya dengan santai sembari menatap temannya satu-satu.

“Kise-kun ingin segera bertemu dengan soulmate Kise-kun?” Kuroko, pemuda berwajah datar, menyahut penasaran. Dia sendiri tidak terlalu penasaran, toh kalau sudah waktunya dia pasti akan bertemu dengan soulmate-nya.

“Bukan begitu, Kurokocchi,” dia menghabiskan tetes terakhir minuman isotoniknya sebelum menanggapi pertanyaan Kuroko, “aku hanya penasaran saja. Kalau kita bisa bertemu dengannya secepat mungkin bukankah lebih mudah? Setidaknya kita tidak membuang waktu kita di masa depan  untuk mencarinya.”

“Ucapan yang bagus dari orang yang terbiasa berkata-kata indah hmph,” pemuda berambut kuning itu menatap cemberut pada pemuda di ujung sana yang sedang membersihkan kacamatanya.

“Midorimacchi jahat!” Kise memanyunkan bibirnya sebal sebelum kembali angkat bicara, “Tapi benar nih kalian tidak bisa melihat tatoku? Jangan-jangan kalian bohong lagi karena tidak mau menjadi soulmate-ku.”

“Kise-chin berisik.”

“Murasakibaracchi!”

“Meskipun aku bisa melihatnya, aku akan berbohong sepanjang hidupku kalau kau orangnya, Kise.”

“Aominecchi!!”

“Sudah, sudah,” sang wakil kapten tim Teikou akhirnya turun tangan setelah dari tadi hanya mengamati. “Daripada ribut, lebih baik kalian mandi dan pulang, oke?”

Pemain lain langsung ke shower room tanpa aba-aba sedangkan Kise masih tetap duduk di bench dan malah menatap Akashi yang kini sedang membicarakan sesuatu dengan Momoi. Entah apa itu, sang model tak mau tahu—dan buat apa. Dia hanya tiba-tiba penasaran ketika satu pemikiran melintas di benaknya.

“Kenapa, Kise?” Akashi bertanya tiba-tiba, menyebabkan sang pemuda kuning itu terkejut setengah mati. Netra madunya mengedar sejenak sebelum akhirnya memutuskan bicara setelah memastikan hanya ada mereka berdua di gimnasium tersebut.

“Akashicchi,” sekali lagi dia mengedarkan pandangannya waspada, “bagaimana dengan kau sendiri? Apa kau sendiri sudah pernah bertemu dengan soulmate-mu?”

Tuan Muda Seijuurou itu menurunkan papan dada yang sedang dibacanya sebelum tersenyum kecil. “Sudah, dulu sekali. Mungkin dia juga tidak ingat aku.”

“Hee? Apa-apaan itu? Kenapa bisa?” Dia menaikkan alisnya heran. Tepat ketika dia ingin bertanya lagi, pintu gimnasium terbuka dan sosok kapten yang izin absen latihan hari ini muncul di sana. Tak mau kena amuk, Kise pun segera melesat menuju shower room.

“Bagaimana latihan hari ini?” tanya pemuda bertubuh tegap itu sembari menghampiri wakilnya. Masker berwarna putih menutupi sebagian wajahnya—sedang terserang flu.

“Latihan berjalan lancar,” Akashi menjawab lancar seperti biasanya, “bagaimana dengan keadaan Nijimura-san? Membaik?”

“Memburuk. Kepalaku pusing dan aku ingin segera sampai di rumah sebelum demamku bertambah tinggi.”

“Kenapa tidak ke UKS dan meminum obat?” Refleks, pemuda yang lebih muda setahun itu memegang dahi sang kapten dan membandingkan dengan dirinya sendiri. Matanya terbelalak lebar saat sadar tubuh orang di hadapannya terasa panas.

“Kalau aku minum obat, bisa-bisa aku ketiduran. Aku susah dibangunkan kalau sudah minum obat seperti itu,” tuturnya sembari membenarkan letak maskernya. Nijimura mengedarkan pandangannya sebelum fokus menatap Akashi yang sedang berdiri membelakanginya; mengubek-ngubek tasnya entah mencari apa.

“... kalau tidak salah ada plester penurun demam ...,” entah salah dengar atau apa, tapi itulah yang tertangkap oleh telinganya yang hari ini juga bermasalah.

Netra kelabunya fokus menatap bagian bawah tengkuk sang adik kelas. Sebuah tato bertuliskan ‘Ah, maaf aku tak sengaja’ terlihat samar-samar dari balik kaus Akashi yang basah oleh keringat.

“Oi, Obocchan.”

“Hm?” Akashi memutar kepalanya melewati bahu.

“Kau belum memberi tahu orang tuamu?”

Kedua ujung bibir pewaris tunggal perusahaan Akashi itu tertarik ke atas. “Kalau aku memberi tahu, nanti ayah dan ibu bisa ribut; antara memperbolehkanku berkencan dengan Nijimura-san atau tidak. Memangnya Nijimura-san sudah?”

“Belum sih. Aku takutnya nanti ayah berpikir aku bersenang-senang di atas penderitaannya. Yah, kau tahu, kan ayahku masih diopna—”

“Ketemu!” potong Akashi tiba-tiba. Dia berbalik dan tanpa basa-basi langsung memasang pleser penurun demam dengan hati-hati di kening kakak kelasnya itu.

[“Apa kau sendiri sudah pernah bertemu dengan soulmate-mu?”]

[“Sudah, dulu sekali. Mungkin dia juga tidak ingat aku.”]

Akashi Seijuurou tersenyum simpul mengingatnya. Iya, dulu—sekitar dua tahun yang lalu. Saat dia sedang menunggu sang ibu menjemput di taman dekat tempat lesnya. Dirinya yang masih bocah itu tak sengaja ditabrak seseorang—

“Ah, maaf aku tak sengaja,” seorang pemuda berambut pirang menunduk sekilas meminta maaf padanya. Akashi kecil hanya bisa terdiam sementara orang yang ditabraknya tadi langsung berlari seolah sedang mengejar sesuatu.

Bocah kelas enam SD itu meraba tengkuknya.

“Sama ....”

Owari

Notes:

Terima kasih bagi semua yang telah membaca fanfiksi ini!

Series this work belongs to: