Actions

Work Header

Price of A Secret

Chapter 4: Did It Work?

Chapter Text

Mondstadt, seminggu setelah Serira mengorbankan diri

Diluc menghela nafas setelah berhasil mengalahkan gerombolan abyss mage. Lagi-lagi, disekeliling Mondstadt masih ada saja para Abyss dan slime yang berkeliaran.

Diluc baru saja akan meletakkan claymorenya saat merasakan ada orang yang berdiri di belakangnya. Diluc mengarahkan claymorenya ke leher orang itu, “siapa- oh, kau, Andrey.”

Andrey tersenyum, tetap tenang seperti tidak terjadi apapun, “selamat malam, Mr. Ragnvindr.”

“Kau memang sinting ya.” Diluc menggelengkan kepala melihat Andrey tidak bereaksi apapun bahkan saat ada claymore di lehernya. Diluc menarik claymore miliknya, “ada apa? Tidak mungkin kau datang kesini tanpa tujuan.”

“Seperti yang sudah saya duga dari Darknight Hero.” Andrey tertawa pelan, “Tuan saya meminta anda untuk ikut dengan saya ke Natlan. Ini soal Lady.”

Tubuh Diluc sedikit menegang saat mendengar nama Serira, “kau sudah punya Tuan baru?”

“Anda tau kalau Tuan yang saya layani hanya Lady Serira. Saat ini, saya melayani orang lain atas permintaan Lady.” Andrey menjawab dengan tenang, “Lord Capitano meminta anda untuk datang, Mr. Ragnvindr.”

“Entahlah. Aku sibuk. Pekerjaanku banyak. Lagipula,” Diluc menatap Andrey tajam, “kenapa aku harus menerima permintaan Fatui?”

Andrey menghela nafas, “maaf, saya lupa menceritakan apa yang terjadi. Permintaan Lord Capitano berhubungan soal Lady Serira.”

“Daritadi kamu terus menyebut nama orang yang sudah mati.” Ucap Diluc pelan, “kenapa?”

Andrey terdiam sebentar kemudian menjelaskan semua yang terjadi pada Diluc. Apa yang terjadi pada Serira, perang yang dimulai Capitano, dan percobaan yang ditemukan oleh Serira. Setelah mendengarnya, Diluc hanya bisa terpaku.

“Serira… mempercayakan setengah jiwanya padaku? Tapi… kenapa?” Suara Diluc bergetar. Kenapa? Kenapa Serira tetap mempercayainya?

Andrey tersenyum, “saya rasa, justru anda adalah satu-satunya orang yang dipercayai oleh Lady. Bahkan melebihi Kakaknya sendiri.”

Diluc rasanya ingin menangis, dengan suara tercekat, dia akhirnya mengiyakan permintaan Andrey, “berikan aku waktu untuk bersiap-siap. Kalungnya ada di rumahku. Akan kutemui kau di pelabuhan Mondstadt setelah aku selesai.”

Andrey mengangguk, “saya akan menunggu anda, Mr. Ragnvindr.” Setelah itu, Andrey berjalan pergi meninggalkan Diluc.

Diluc menarik nafas, berusaha menenangkan emosinya. Dia dengan cepat kembali ke Dawn Winery dan memanggil Adelinde dan Elzer untuk memberitahu mereka kalau dia harus pergi untuk sementara waktu.

“Kami akan menjaga Dawn Winery selama anda pergi, Master Diluc.” Adelinde mengangguk.

“Saya akan memberitahu Charles untuk mengurus Angel’s Share esok pagi.” Elzer ikut mengangguk.

“Terima kasih.” Diluc menepuk pundak keduanya dan membiarkan mereka pergi.

Diluc hanya membawa sedikit barang. Dia meraih kalung yang diberikan Serira pada hari dimana dia mengetahui Serira sudah tidak ada.

“Kamu… aku sungguh tidak mengerti apa yang ada dipikiranmu sampai sekarang.” Diluc menghela nafas, “tapi kalau ada satu, hanya satu saja kesempatan untuk membawamu kembali, akan kulakukan apapun.”

Diluc memandang foto dirinya, Serira, dan Ayahnya saat mereka masih remaja. “Aku sudah kehilangan Ayah, aku tidak akan kehilanganmu juga.” Diluc mengalungkan kalung itu dan segera beranjak menuju pelabuhan.

Tepat sebelum dia mencapai pelabuhan, Diluc melihat Venti yang sedang duduk di rerumputan, “Venti?”

Venti menoleh ke arah suara, “oh, Diluc! Mau pergi kemana malam-malam begini?”

“Ah… aku ada urusan. Selama aku pergi, jangan terlalu mabuk di bar.” Ucap Diluc yang dibalas tawa oleh Venti.

“Memangnya aku ini apa?! Tenang saja~” Venti melirik kalung yang digunakan Diluc, “itu kalung yang bagus!”

Diluc memegang kalungnya, “iya, kalung ini yang terbaik.” Diluc tersenyum tipis, “ah, aku harus segera pergi.”

“Tunggu sebentar!” Venti menghentikan Diluc yang sudah akan berlari pergi. Venti memegang kalung Diluc dan memberikan sedikit kekuatan angin pada kalung itu, dia menatap Diluc dan tersenyum, “semoga beruntung, Diluc.”

Diluc terdiam, “... Terima kasih, Lord Barbatos.” Setelah mengucapkan itu, Diluc segera berlari ke arah pelabuhan.

Venti memperhatikan Diluc pergi sambil tersenyum, “anak-anakku, raihlah kebebasan dan kebahagian yang pantas kalian dapatkan. Dan saat kalian mendapatkannya, angin akan merayakannya dengan penuh suka cita.”

***

Natlan, seminggu setelah Serira mengorbankan diri

Capitano, Traveler, dan Paimon tiba di Natlan, lebih tepatnya di stadion, dan langsung disambut oleh Kachina dan Kinich.

“TRAVELER! PAIMON!” Kachina berlari memeluk Traveler, “aku kangen sekali!”

Traveler tertawa, “halo, Kachina! Aku juga kangen!”

Kinich berjalan mendekat, “halo Traveler, Paimon. Cepat juga kalian kembali kesini.” Dia juga mengangguk pada Capitano, “dan kalian datang bersama Captain. Halo, Captain.”

Paimon mengangguk, “kami ada urusan penting! Apa Mavuika ada?”

“Justru dia sudah menunggu kalian. Ayo, aku antar. Kachina, kau pulang dulu.” Kinich menoleh pada Kachina yang mengangguk lesu, “Traveler, Paimon, jangan lupa mampir ya!”

Traveler dan Paimon tertawa dan mengiyakan permintaan Kachina, barulah setelahnya mereka berempat masuk ke dalam ruangan Mavuika.

Mavuika sedang berada di meja kerjanya saat melihat mereka datang, “aku sudah menduga kalian akan datang. Terima kasih ya, Kinich. Kamu boleh istirahat.” Mavuika mengangguk pada Kinich yang langsung paham dan segera pergi meninggalkan mereka.

Belum sempat Traveler, Paimon dan Capitano menyampaikan tujuan mereka, Mavuika sudah menyela, “aku tau. Serira sudah memberitahuku apa yang terjadi. Sejujurnya, aku masih ragu itu akan berhasil. Tapi,” Mavuika melihat ke arah ketiganya, “kalian sudah jelas tidak akan ragu.”

“Aku harus melakukannya. Serira,” Capitano terdiam sebentar, “masih ada banyak hal yang ingin dia lakukan. Kesempatan sekecil apapun akan kuambil.”

Traveler dan Paimon mengangguk setuju. Mavuika menghela nafas, “yah, aku mengerti soal kamu Captain. Tapi kalian berdua,” Mavuika melihat ke arah Traveler dan Paimon, “bukankah tujuan kalian adalah bertemu Tsaritsa? Untuk mendapat jawaban soal saudaramu, Traveler? Aku tidak melihat keuntungan dari kalian melakukan ini.”

Paimon melihat pada Traveler. Traveler terdiam sebelum menjawab Mavuika dengan yakin, “aku tidak bisa diam saja melihat Serira masih memiliki kesempatan untuk kembali. Aku… aku mengerti perasaan Capitano. Aku juga akan melakukan apapun untuk saudaraku. Aku bisa membantu, maka akan aku lakukan.”

Mavuika terdiam sebentar lalu tersenyum, “baiklah, kalau kalian semua sudah yakin. Aku sudah mengetahui ketiga syaratnya dari Serira. Api suci, sudah. Barang yang memiliki jiwa Serira?”

“Andrey sedang pergi menjemput Master Diluc di Mondstadt! Mungkin mereka sedang dalam perjalanan.” Jawab Paimon.

Mavuika mengangguk, “oke. Kalian juga pasti sudah membawa tubuh Serira kesini kan? Baiklah, yang terakhir, kekuatan dari orang yang paling dekat dengan Serira.” Mavuika melihat Capitano, “kau yang akan melakukannya? Meskipun kamu akan kehilangan sebagian kekuatanmu?”

Capitano mengangguk, “jika itu Serira, seluruh kekuatanku juga akan kuberi.”

“Baiklah. Aku akan menyiapkan tempatnya. Ada satu pulau di dekat suku warga mata air yang tidak ada penghuninya, jaga-jaga jika Serira tidak mengingat apapun. Setidaknya tidak akan ada korban jiwa. Kalian istirahat saja sekalian menunggu si Ragnvindr itu.” Mavuika memanggil staff untuk menunjukkan tempat istirahat mereka.

Capitano, Mavuika, dan Paimon baru saja akan melangkah keluar saat Traveler tiba-tiba berbicara, “eum… boleh aku tetap disini? Aku ingin membaca catatan Serira.”

Mavuika mengangguk, “tentu saja, Traveler.” Paimon baru saja akan menawarkan untuk menemani namun Traveler meminta waktu sendirian. Ketiganya akhirnya pergi meninggalkan ruangan.

Traveler duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan Mavuika dan membuka catatan Serira dan mulai membacanya.

‘Akhirnya aku kembali kesini. Padahal aku awalnya tidak ingin kembali. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus menjaga Diluc.

Pada akhirnya, takdir itu sulit untuk dihindari ya.’

‘Sudah lama sekali aku tidak melakukan misi dengan Kakak. Rasanya menyenangkan, sedikit demi sedikit, aku mulai menemukan kesenangan di Snezhnaya. Padahal aku pikir akan membosankan.

Tapi… tetap saja, aku merindukan Mondstadt.’

‘Arlecchino dan aku berteman. Aku juga berteman dengan Childe. Lucu. Aku kira tidak akan bisa akrab dengan siapapun disini. Tapi ternyata aku salah. Pasti akan sangat sedih meninggalkan mereka…’

‘Aku tidak tau apa yang dikatakan Dottore benar atau tidak, yang jelas, aku tidak akan membiarkan pengawasanku lengah lagi. Maafkan aku, Diluc.’

‘Pierro memintaku untuk pergi ke Natlan dan membantu Kakak. Sepertinya itu upaya terakhirnya agar kami menjadi dekat lagi.

Tapi… aku juga sebentar lagi akan mati. Apa perlu memperbaiki hubunganku dengan Kakak? Setidaknya saat aku mati, dia tidak akan sedih.’

‘Terima kasih untuk Mavuika, akhirnya aku menemukan cara untuk hidup kembali. Aku tidak tau apakah ini akan berhasil, tapi harus aku coba.’

‘Aku ingin egois. Apakah aku boleh egois? Sejujurnya, aku tidak mau mati. Aku tidak mau pergi. Aku tidak mau meninggalkan Kakak, aku tidak mau meninggalkan Diluc, aku tidak mau meninggalkan Arlecchino, aku tidak mau meninggalkan Childe, aku tidak mau meninggalkan Traveler.

Kenapa… kenapa baru sekarang aku merasa ingin egois?

Saat melihat Kakak pergi tadi, hatiku rasanya perih saat tau kalau saat dia kembali, aku tidak akan ada disini. Maaf, Kakak, aku benar-benar minta maaf.

…. Besok adalah harinya, apakah pada akhirnya aku akan bebas dan pergi bersama angin?’

Traveler menyadari adanya bekas tetesan air di halaman terakhir catatan Serira. Serira menangis.

Traveler menahan tangisannya dan mengusap catatan Serira, “kami akan membawamu kembali. Aku janji.”

Suara ketukan di pintu membuat Traveler terkejut dan mengatur emosinya, “ada apa?”

Kinich membuka pintu, “Mr. Ragnvindr dan Andrey sudah datang. Archon bilang kita akan langsung memulai ritual, dia memintaku memanggilmu.”

Traveler mengangguk, “ah… Master Diluc sudah datang? Oke. Ayo pergi.” Traveler beranjak dari kursi sambil memegang erat catatan Serira.

Kinich memperhatikan Traveler, “kamu tidak apa-apa?”

Traveler tersenyum, “iya, aku tidak sabar untuk bertemu Serira. Ini harus berhasil.”

Kinich mengangguk dan menepuk pundak Traveler, “pasti berhasil, ayo.”

Keduanya berjalan untuk menemui yang lain yang sudah berkumpul di lobi stadion. Traveler mengangguk pada Diluc yang ikut mengangguk.

“Baiklah, semuanya sudah berkumpul. Ayo kita lakukan.”

Pulau di dekat Suku Warga Mata Air, seminggu setelah Serira mengorbankan diri

Mavuika dan Capitano bersiap di peti mati Serira. Api suci sudah berkobar diatasnya. Yang lainnya menjaga jarak, bersiap-siap apabila terjadi sesuatu.

“Oke. Sekarang akan kita mulai. Dimana kalungnya?” Tanya Mavuika.

Diluc berjalan mendekat dan menyerahkan kalung pada Capitano. Capitano mengangguk, “ini akan berhasil.”

“Harus. Harus berhasil.” Diluc berjalan mundur dan berdiri di sebelah Traveler.

Capitano memberikan kalung itu pada Mavuika. Mavuika menatap kalung itu, “kembalilah pada kami, Serira.” Dia memasukkan kalung ke dalam api.

“Sekarang bagianmu, Captain.” Mavuika melihat Capitano yang mengangguk, sudah mempersiapkan diri.

Capitano melepas jubahnya dan mengarahkan tangannya pada api suci, bersiap menyalurkan kekuatannya pada api suci, “pulanglah, Serira!”

Capitano mengerahkan kekuatannya pada api suci. Mavuika terus mengamati pergerakan api suci, begitu juga dengan yang lain.

Beberapa menit setelahnya, api suci mulai bergejolak dan menunjukkan sosok manusia. “Itu.. itu Serira?!” Paimon menunjuk api suci.

Semuanya terus memperhatikan saat tiba-tiba sosok itu melompat keluar dari api suci. Capitano berhenti menyalurkan kekuatannya pada api suci, “Serira?”

Capitano benar. Itu adalah Serira. Masih dengan baju yang sama saat dia pergi. Namun, entah mengapa semua orang disana merasakan ada yang tidak beres.

“Serira… dia tidak mengenali siapapun.” Ucapan Diluc membuat semua orang langsung waspada.

“Serira?” Capitano kembali memanggil gadis itu, berharap dia menjawab.

Serira mengangkat tangannya dan secara tiba-tiba mengeluarkan electro dan menyerang mereka. Diluc dengan sigap mengeluarkan claymorenya, yang lain dengan segera mengeluarkan senjata mereka.

“Sial! Ini yang aku takutkan, semuanya, hati-hati!” Mavuika juga mengeluarkan senjatanya, bersiap untuk melawan.

Capitano berjalan mendekati Serira, “biar aku coba berbicara dengannya.” Dia berdiri di depan Serira, melepas topengnya, “Serira, ini aku.”

Serira tidak bergeming, justru bersiap untuk menyerang lagi. Mavuika berteriak, “dia tidak mengenalmu, Captain! Mundur!”

Namun Capitano tetap berdiri tegak, “Serira, ini semua salahku karena tidak menyadari apa yang terjadi.” Capitano mengulurkan tangannya, “kumohon, Serira.”

Serira tidak bergerak dan tetap menatap tajam Capitano. Tangan Serira terangkat dan akan menyerang Capitano, Traveler menyadarinya dan segera berlari ke arah Serira dan Capitano, “Serira, jangan!”

Tepat saat Traveler tiba, dia mendorong Serira sehingga serangan yang seharusnya ditujukan ke jantung Capitano berakhir di bahu kirinya.

“Lord Capitano!” “Capitano!” Andrey dan Paimon segera berlari mendekat.

“Kinich, bawa medis kesini!” Teriak Mavuika yang langsung dilakukan oleh Kinich.

Traveler dan Serira masih terduduk dan terengah-engah. Traveler menatap Serira, “Serira, dia Kakakmu! Apa kamu tidak mengenali kami?”

Serira masih diam, dia memandangi Capitano yang berlutut sambil memegangi bahunya. Mata mereka bertatapan. Saat itu, tiba-tiba Serira memegangi kepalanya dan berteriak kesakitan.

“Serira!” Diluc berlari ke arah Serira dan memegang bahunya, “Serira!”

Serira menatap Diluc, kemudian menatap Traveler, Paimon, Andrey, dan Mavuika. Dia menatap Capitano dan luka Capitano, “a-apa yang…” Serira menatap tangannya yang gemetar, “apa yang sudah aku lakukan…”

Serira berdiri, membuat pegangan Diluc dan Traveler terlepas. Dia berjalan mundur sambil menatap semua orang dengan panik. “Serira…” Capitano memanggil Serira, berusaha menghentikannya.

Serira menatap Capitano, luka Capitano, dan tangannya berganti, “a-aku…”

Saat itu, sebuah vision Anemo tiba-tiba saja muncul dan mendarat di tangan Serira. Serira melihat vision itu, kemudian melihat ke yang lainnya, “m-maaf…”

Diluc tau apa yang akan Serira lakukan dan bergegas mencoba menghentikan Serira namun terlambat, Serira sudah menggunakan kekuatan Anemonya dan menghilang dari pulau itu.

“Apa yang-! Anemo?! Bukankah Serira sudah memiliki Electro?” Paimon bertanya bingung.

Tidak ada yang bisa menjawab. Serira sudah kembali, namun dia menghilang lagi. Capitano mengepalkan tangannya.

Sekali lagi, dia gagal menghentikan Serira.

***

“Ah~ Anakku sudah kembali! Aku harap kamu menyukai hadiahku, nak! Dan jangan lupa, saat kamu sudah pulih, datanglah ke kota kebebasan, aku akan menunggu disini~”

Notes:

I write this before Capitano became a statue so... he will LIVES. Istg hoyo better make him playable before i get to their office and burn it down.

Anw, i made this out of fun lmao so pls forgive me if it's bad. Contact me at X: @lipacrush