Actions

Work Header

Pine Tree

Chapter 17: —Flashback

Summary:

17 tahun ia telah mencoba melupakan kenangan buruk di kehidupannya yang pertama. Selama itu pula ia mengubur perasaannya pada Pete, karena ia tau ia harus melanjutkan hidup. Kemungkinan akan ia bertemu Pete lagi sangatlah kecil, dan ia bersyukur atas itu. Bahkan ia sendiri tidak yakin kalau Pete akan bereinkarnasi di era yang sama dengannya.

Tapi, di sinilah ia.

Notes:

ini isinya kebanyakan isi hatinya earn/krit aja, but i still hope you guys enjoy this one. thank you for reading this work.

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

Bangkok, Thailand. 2023/2566.

 

Siang itu, cerah, langit berwarna biru dan hanya ada beberapa awan di atas sana.

Ia memasang TWS di kedua telinganya, memutar lagu untuk menunggu mamanya yang sudah berjanji akan menjemputnya dan mengantar ke suatu tempat.

Lagu favoritnya masih terputar dari playlist yang ia buat beberapa minggu lalu, menemaninya mengamati objek di jalanan sambil berpikir akan apa yang harus ia lakukan di first gathering hari ini.

“Semangat, semoga lancar, jangan lupa kabarin kalo udah selesai.”

Ucap mamanya sebelum ia ke luar dari mobil untuk menemui kawan barunya di dalam sana. Ia hanya mengangguk sambil mengacungkan jempol ketika mamanya memutar arah untuk kembali pulang.

Ia menatap sekeliling tempat itu, belum ada banyak orang di luar.

 

Entahlah, ia bahkan tidak yakin apakah orang-orang yang dijanjikan akan ia temui semua hari ini. Yang ia tahu, ia sudah datang tepat sesuai dengan waktu yang ada di jadwal.

Ruangan itu masih terbilang cukup sepi ketika ia masuk. Tapi setidaknya Progress dan Almond sudah ada di sana, dan beberapa staf yang sudah cukup ia kenal dekat.

Krit langsung bergabung di antara mereka sambil menunggu anak-anak lainnya.

 

Tidak berapa lama, anak-anak lain pun mulai berdatangan. Ruangan yang cenderung sepi itu langsung berubah riuh dengan berbagai suara dari total sekitar 30 anak, itu bahkan belum termasuk staf-staf yang mendampingi mereka.

Krit yang sejatinya introvert, dan kurang bisa berbaur dalam lingkup yang besar, memilih untuk tetap ada di dekat Pro dan Almond. Sedikit menepi dari yang lain, dan mencoba untuk tidak terlalu menonjol.

Ruangan itu masih dipenuhi oleh suara obrolan ringan, hingga salah satu staf meminta semuanya untuk tenang sehingga mereka bisa melakukan perkenalan satu per satu. Perkenalan itu dilakukan random mulai dari salah satu ujung paling kanan dari staf itu berdiri. Krit yang akan mendapatkan giliran di akhir, memainkan jemarinya dan terkadang berbisik dengan Almond dan Pro di sampingnya sambil memperhatikan sesi perkenalan dari anak-anak lain yang maju bergantian. Terkadang ia akan terdistraksi oleh beberapa hal random di sekitarnya, membuatnya tak selalu menaruh perhatian pada semua anak. Ia masih memainkan jemarinya dan menyadari bahwa kukunya perlu dipotong ketika sebuah suara membuatnya membeku di tempat.

“Namaku Poph, umur 18 tahun, lahir bulan Juli 2005...”

Ia mengangkat kepalanya untuk melihat rupa pemilik suara itu.

Waktu terasa berhenti ketika matanya mengarah pada sosok yang kini berdiri di tengah-tengah mereka. Seluruh rasa tenang tapi juga sebuah semangat di dalam dirinya untuk hari ini seketika buyar. Sesuatu yang telah ia susun rapi di dalam dirinya hancur.

Kenangan membanjirinya dengan sangat rusuh.

Mata rusa itu, suara itu, sorot mata teduh itu.

 

Pete?

 

Tangannya perlahan mulai gemetar, jantungnya berdebar kencang dan membuatnya sesak seakan ingin ke luar dari tulang rusuk yang ada di dadanya. Napasnya mulai tidak beraturan dan seluruh tubuhnya bagaikan kehilangan kekuatan.

Darah, hujan, tatapan mata kosong, tubuh yang mendingin—Krit masih mengingat dengan jelas bagaimana di kehidupan sebelumnya Tuhan telah merenggut cintanya dari genggamannya. Merebutnya ketika ia baru saja mau mengakui bahwa ia menyukai manusia itu.

Mestinya mereka akan berkencan. Mestinya mereka mengobrol soal kehidupan mereka, tentang kucing dan apa yang mereka makan untuk sarapan. Mestinya mereka diam-diam saling mengaitkan jemari satu sama lain di bawah meja, berbagi kehangatan di cuaca mendung sore kala itu.

Sebelum itu semua terealisasi, Krit telah lebih dulu dihantam oleh kenyataan bahwa seluruh mimpi itu tidak akan pernah terjadi. Mau ia teriak sekeras apapun pada dunia, Pete tidak akan pernah kembali. Ia sudah pergi jauh, jauh sekali.

Dan di kehidupannya yang ke dua ini, ia diberikan memori penuh atas apa yang terjadi di kehidupannya yang pertama. Ia tidak tau apakah itu sebuah pertanda buruk, ataukah sebuah anugerah, sehingga ia bisa lebih berhati-hati menjalani kesempatan hidup yang ke dua. Selama 17 tahun, ia lebih condong menganggap ini semua adalah anugerah, karena dengan begini ia tidak perlu pusing soal apa yang ia harus lakukan. Dengan ingatan yang ia miliki, ia tau bahwa semua orang punya jalannya masing-masing, dan tidak semestinya ia melanggar batas dari jalan itu. Jalan yang ia punya, dan terlebih jalan milik orang lain.

17 tahun ia telah mencoba melupakan kenangan buruk di kehidupannya yang pertama. Selama itu pula ia mengubur perasaannya pada Pete, karena ia tau ia harus melanjutkan hidup. Kemungkinan akan ia bertemu Pete yang juga bereinkarnasi sangatlah kecil, dan ia bersyukur atas itu. Bahkan ia sendiri sebelumnya tidak yakin kalau Pete akan bereinkarnasi di era yang sama dengannya.

Tapi, di sinilah ia.

Seluruh asumsinya salah. Bodohnya ia menganggap semesta ini begitu remeh. Bodohnya ia tidak berpikir bahwa kemungkinan kecil itu bisa seketika berubah drastis jika memang itu yang Tuhan mau.

Krit mencoba menenangkan diri, meskipun itu sepertinya mustahil. Tapi ia tetap mencoba. Tidak seharusnya ia mendapatkan serangan panik itu saat ini, di tempat ini. Tangan kanannya terus meremas kaus di bagian dadanya, dan ia terus menunduk sambil mengatur napas.

Pro yang ada di sebelahnya menangkap ada yang tidak beres darinya lantas bertanya, “Kak? Kenapa? Sakit?”

Tidak ada respon, Krit terlalu sibuk mengatur napasnya agar bisa kembali normal. Hal itu membuat Pro semakin khawatir, “Kak? Kak, sumpah, lo kenapa? Perlu gue panggilin staf? Kak?”

Masih tidak ada respon, Pro pun beranjak dari duduknya tapi seketika berhenti ketika tangan Krit memegang—dan mencengkeram—bahunya. “Nggak... aman kok... gue nggak papa.” Ucap Krit dengan suara agak tercekat dan senyum yang dipaksa.

Sial, ia mencoba untuk tenang, tapi bahkan dari suaranya saja yang mendengarnya bisa tau kalau ia sedang tidak baik-baik saja.

“Yakin? Lo keliatan sesek gitu, gue panggilin staf ya?“

“Nggak usah, nggak papa, abis ini juga balik normal lagi. Beneran.”

“Sumpah tapi lo keliatan—“

Krit menoleh dan tersenyum, napasnya sudah jauh lebih teratur. “Nggak papa... liat, gue udah baik-baik aja...”

Pro masih nampak sangsi atas jawaban itu, tapi kemudian Krit mengangguk, meyakinkan adiknya itu lalu menarik Pro untuk kembali duduk.

Pro masih menatap khawatir padanya, membuat Krit langsung memutar kepala anak itu untuk menengok ke depan dan menepuk-nepuk pelan pundaknya.

Krit menghela napas, sambil masih mencoba mengaturnya hingga benar-benar kembali normal. Ia mencoba mendongak untuk melihat lagi sosok itu.

Tapi mungkin karena pergerakannya dan Pro barusan yang nampak mencurigakan, Poph telah balik memandangnya dengan tatapan bingung. Krit langsung menundukkan kepala, menghindari tatapan itu. Mengabaikan Poph yang kini semakin dibuat bertanya-tanya, untungnya staf langsung memanggil namanya dan memintanya untuk duduk kembali sehingga Krit tidak perlu terlalu lama menghindar dari tatapan itu.

Di sela ia menunggu giliran, Krit sudah kembali bersikap biasa saja. Tapi pikirannya kini kacau. Ia tidak yakin, apakah arti tatapan tadi itu adalah sesuatu yang sama dengan yang ia rasakan, atau hanya murni karena Poph melihat Krit dan Pro nampak sibuk sendiri di pojokan.

Krit tidak mau berharap banyak, tapi fakta bahwa ia terlahir kembali dengan ingatan utuh, sedikit membuatnya berasumsi bahwa mungkin Poph juga mengingat sama banyaknya.

Tapi ketika ia mencoba untuk mengarahkan matanya lagi ke sosok yang ada di ujung yang berbeda, Poph tidak balik menatapnya dan justru fokus dengan Dedee yang kini sedang memperkenalkan diri.

Hal itu membuat Krit tertegun, dan mulai berpikir bahwa asumsinya salah.

Dan saat giliran ia yang maju ke depan untuk berkenalan, ia mencoba untuk mengamati semua yang ada di ruangan itu, mengarahkan sorot matanya terakhir pada Poph.

Tidak nampak gestur yang menggambarkan anak itu terkejut mendengar suaranya dan melihat wajahnya.

Poph hanya tersenyum teduh, sesekali menganggukkan kepalanya, sekadar bersikap sopan dan menghargai siapapun yang sedang berbicara di depan.

Krit sengaja mengunci pandangannya, meski jantungnya kembali berdebar dengan kencang seperti tadi. Ia mencoba mencari apakah tatapan teduh dari mata rusa itu akan menjelaskan sesuatu, atau setidaknya mengarah padanya sebagaimana Pete menatapnya dulu.

Tapi ia tidak menemukan apa-apa.

 

Poph tidak ingat, dia tidak punya ingatan itu.

 

Sorot mata itu hanyalah pandangan biasa, semua anak yang maju juga mendapat tatapan yang sama.

Krit mengalihkan pandangannya ke arah staf yang memanggil namanya barusan, kemudian ia hanya kembali duduk dengan perasaan sedikit kecewa.

 

Mereka bermain beberapa game, berdiskusi soal tema tertentu, unjuk bakat, dan sisanya staf memberikan briefing akan jadwal mereka selama beberapa hari ke depan.

Hari sudah larut, semuanya sudah cukup lelah dan kegiatan itu pun diakhiri.

Krit beberapa kali masih mengobrol dan bercanda dengan Pro, sebelum keduanya melangkah ke luar ruangan bersama yang lain. Krit yang kemudian menunduk untuk mengirim pesan pada mamanya, tak sengaja menabrak pintu ketika ia hendak ke luar.

“Kamu nggak papa?” Poph bertanya setelah melihat Krit yang mengerang kesakitan.

Krit seketika menoleh, “Hah? Nggak, nggak papa kok, aman, aman.”

Poph tertawa.

‘Anjing sialan.’, Krit sangat merindukan tawa itu.

“Lain kali hati-hati ya, dek.” Poph menepuk pundak Krit pelan beberapa kali sebelum melangkah ke luar duluan.

Menyisakan Krit yang hanya terpaku di tempat.

‘Dek?’

‘Gue dipanggil dek?’

Kesampingkan dulu perasaan sedih, senang, dan overwhelm yang sejak siang tadi menguasai hatinya; entah kenapa rasanya sangat aneh mendengar kata itu ke luar dari—oh iya, dia bukan Pete.

Krit menghembuskan napas kasar.

Ia ingin pulang dan masuk ke kamar sekarang juga.

Kegiatan first gathering hari ini begitu menguras perhatiannya sehingga ia tak sempat memproses emosinya yang terguncang sejak tadi.

 

 


 

Krit mendesah lega akhirnya bisa bertemu lagi dengan kasur, dan akhirnya ia bisa memikirkan hal gila yang terjadi hari ini.

Ia memandang poster bergaya vintage yang nampak mirip sebuah herbarium terpampang di atas meja belajar. Poster potrait berukuran 20 x 25 cm itu hanyalah potret pohon tusam tanpa warna di suatu kertas putih usang, seakan berasal dari sobekan halaman buku tua. Di bagian pojok kanan bawah terdapat identitas spesies, berikut taksonomi hingga habitat.

Krit mengusak rambutnya, menghembuskan napasnya kasar. Jantungnya kembali berdebar ketika menyadari fakta bahwa, Pete, juga bereinkarnasi, dan dia hidup di sini.

Dia ada di dekatnya, ada di depannya, menatapnya.

Tapi ia tak ingat apapun.

Pikiran Krit mengulang kejadian itu bagaikan gulungan film dengan kejam. Poph mengenalkan dirinya dengan begitu kasual, ia tersenyum sopan, nampaknya itu memang sifat alami. Dan sorot mata itu, Krit benar-benar tidak habis pikir, ia tak menemukan sama sekali ada sesuatu dari tatapan itu yang mengisyaratkan Poph pernah kenal atau bahkan bertemu dengannya.

Ia mencoba mengingat-ingat lagi. Tapi sekali lagi, tidak ada dalam kamusnya yang menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki ingatan itu akan bersikap sedemikian santai ketika bertemu dengan kekasihnya dari kehidupan yang dulu.

Emosi yang saling tercampur baur itu kini semakin diperparah oleh kenyataan bahwa mereka akan sering bertemu di waktu yang akan datang. Krit yang tadinya merasa kewalahan, kini dihantam fakta tersebut seakan seluruh emosi yang ia rasakan hari ini tidak cukup membuatnya menderita.

Bagaimana ia harus bersikap?
Bagaimana ia harus menanggapi seluruh interaksi ketika dirinya mengenal baik jiwa itu yang kini ada di raga yang berbeda?
Haruskah ia meredam semuanya seakan tidak terjadi apa-apa?
Seakan seluruh obrolan di bawah krei payung, ciuman dan sentuhan di taman, pelukan, dan bagaimana dengan jahatnya ia ditinggalkan; tidak pernah terjadi dalam hidup mereka?

Sesaat ia berpikir kenapa ia yang harus mengalami ini semua. Tatkala otaknya membawa kembali mimpi buruk yang kerap mendatanginya, suara ombak dan lautan itu, semuanya terasa masuk akal.

Tapi tetap saja, bukankah ini tidak adil?

Mata eboni itu naik untuk memandang potret pohon tusam itu.

Krit menatap sketsa kanopinya lalu tertawa getir, “Hidup kan emang nggak adil.”

Krit telah diberi kesempatan ke dua. Itulah satu-satunya fakta yang jelas di sini.

Jika ia diberi ini semua untuk memperbaiki kesalahannya, lalu apa yang Poph lakukan di dunia yang sama dengannya?

Apa yang mesti ia lakukan jika ia dihadapkan pada anomali seperti saat ini?

Apakah ia ditakdirkan dengan ingatan tapi tidak dengan Poph hanya untuk mengawasinya dari jauh?

Apakah ia diminta untuk mengingatkannya?

Atau untuk menerima fakta bahwa Poph tidak akan pernah mengingatnya?

Sehingga ia tetap harus hidup berdampingan dengan fakta bahwa kisah lampaunya yang menyakitkan itu ada di hadapannya, tapi hanya sebagai pengingat bahwa mereka tidaklah sama?

Sebagai pengingat bahwa ia harus memperbaiki sesuatu, bahwa ia melakukan kesalahan?

Dan ia tidak boleh mengulang kesalahan yang sama?

 

“Gue cuma bocah 17 tahun, ya Tuhan. Berat banget ujiannya.” Ia mengerang karena pikirannya yang kini semakin kusut.

Seluruh pertanyaan itu terus muncul dan Krit ingin sekali melepas kepalanya barang sedetik.

Semuanya terasa rumit dan membingungkan.

Tapi di satu sisi, ia menyadari sesuatu.

Semua ini tidaklah akan begitu rumit jika jauh di dalam hatinya, cintanya sudah habis.

Semuanya akan mudah jika saja ia benar-benar menyerap fakta bahwa Pete pergi dulu, kemudian menanamkan rasa benci sebagai reaksi akan fakta itu di dalam hatinya.

Ia memang benci fakta itu. Tapi ia juga tau, kebenciannya pada fakta itu adalah bukti bahwa cintanya masih sama.

Dan ia adalah bocah yang belum benar-benar selesai mengalami pubertas. Egonya begitu masif membuatnya ingin sekali memukul kepala Poph untuk membuatnya ingat. Hasratnya nyaris menguasai dan mengambil kendali atas logikanya untuk memberi tahu Poph bahwa mereka, pada kenyataannya, pernah terlibat dalam sebuah hubungan romansa.

Akan tetapi, Krit juga bukan orang yang tumbuh dengan bodoh. Bagian dirinya tetap menyisakan ruang untuk berpikir rasional bahwa hidup ini—meski ia memiliki ingatan penuh akan kehidupannya dulu—sudah berbeda. Dan bahwa, memaksakan masa lalu pada Poph tidaklah adil.

Mungkin juga, salah satu pertanyaan yang sempat terngiang dalam pikirannya itu benar.

Bahwa Pete hadir kembali dalam raga yang berbeda hanya untuk membuatnya selalu ingat bahwa ia tidak boleh membuat kesalahan yang sama.

Krit kini berbaring, menatap langit-langit kamar. Tatapan itu masih terasa nyata. Sama, mata rusa itu sama, suara itu sama, frekuensinya sama. Dan sekali lagi Krit ingin berteriak bahwa ia menolak melepaskannya. Tapi hidup ini begitu tidak adil, sehingga yang ke luar dari bibirnya hanyalah,

“Nggak, nggak boleh, gue juga nggak bisa langsung mutusin sekarang.”

Mereka baru bertemu hari ini. Hanya satu yang Krit sudah putuskan, ia akan menjalani hidup seperti biasa. Berjalan dan melakukan pekerjaan barunya sebagaimana yang diminta. Dan membangun batas.

Krit mengembuskan napasnya pelan.

Tidak peduli akan seberapa sakit, seberapa kuat egonya ingin menyebut nama itu lagi. Pete sudah memiliki hidup baru, dan nama baru; ia juga.

Krit akan memilih bersikap seolah tidak ada yang pernah terjadi di antara mereka.

Mereka hanya akan jadi rekan kerja, tidak lebih.

Dia akan berbincang, bercanda, bersikap kasual, dan mencoba untuk tidak membiarkan mereka terlalu dekat. Dia akan berpura-pura. Tidak peduli seberapa besar ego dan hasrat itu akan menguasainya, ia harus melakukan itu. Jika ia membiarkan dirinya sendiri tergelincir—jika dia membiarkan dirinya dikuasai hasrat dan kemudian berharap—ia sedikit takut itu akan merusak hidup mereka, lagi.

Tak apa dia hanya bisa melihat dari kejauhan, jika itu artinya hidup yang ia miliki, dan hidup mereka akan baik-baik saja.

Notes:

sebenernya draft aslinya lebih banyak, tapi aku putusin buat hapus beberapa adegan (beberapa karena rasanya cringe, beberapa karena hal lain). part ini penting, aku beberapa kali mikirin buat ngeeksekusi adegan mereka pertama kali ketemu (lebih ke krit yang pertama kali ketemu karena dia doang yang inget), dan berakhir mutusin buat aku bikin begini aja. im so sorry kalo pertemuan mereka maybe ga sesuai ekspektasi.
sekali lagi, makasih banyak yang udah baca ini, sampai chapter ini.

mungkin bisa leave comment kalo ada bagian cerita yang pengin kalian tau, aku akan berusaha ngasih dan akan aku tambahkan chapter baru lagi.

Notes:

feel free to reach out to me on X (@oblivioncarrot) or ig (secondonethe6)

in case masih ada yg bingung.
jadi krit di sini, sejak dia lahir, dia udah punya ingatan soal kehidupan dia yg dulu. dan karena dia mikir kalo pete mati karena dia (soalnya kejadiannya mirip sama apa yg menimpa ayahnya), makanya ketika dia reinkarnasi, dia emang belum bisa move on tapi di sisi lain dia berharap gak ketemu reinkarnasi dari pete (karena takut kejadian itu terulang lagi).
tapi dia malah ketemu reinkarnasi dari pete (poph), makanya dia jadi bener-bener bikin 'batas', dan sesuai di chapter 10 "boundaries", dia beneran nggak mau 'ke luar batas/jalur' dia sendiri karena dia setakut itu kalo sampe ada kejadian buruk lagi.
dia aslinya seneng ketemu reinkarnasi dari pete, tapi dia bener-bener nggak mau poph ini 'deket' dia, karena takut poph kena bencana lagi. itu jelasin kenapa dia sangat amat tsundere di sini. (dia sering jaga jarak, tapi alam bawah sadarnya kadang bikin dia peduli)

sementara, poph nggak punya ingatan itu, dia baru inget pas abis insiden krit kena serangan panik yg ke dua (chapter 13 "sorry").