Chapter Text
Ashi tidak tahu apa itu cinta. Ashi tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan cinta yang baik karena bagi Ashi, cinta adalah hal yang semu, tidak nyata. Ashi tidak mempercayai hal itu sampai suatu hari, Phutatchai menawarkan cinta itu padanya.
Ashi penasaran, maka dari itu dia menerima. Ashi menerima cinta dari Phutatchai karena Ia penasaran bentuk dari cinta itu sendiri. Mungkin, dari Phutatchai lah Ashi bisa belajar apa itu cinta.
Satu bulan bersama Phutatchai, Ashi merasa aneh. Ia tidak merasa nyaman. Kata orang, he should be at ease when it comes to love, when you’re loved, you’ll feel at ease and comfort. You’ll be the happiest.
Tapi, apa yang Ashi rasakan adalah sebaliknya. Ashi didn’t feel comfortable around Phutatchai. He didn’t feel the ease, he didn’t feel the comfort as he should (based on what he read on the internet).
Phutatchai adalah orang yang baik, kelewat baik bagi Ashi dan Ashi tahu Ia tidak bisa mengembalikan apa yang telah Phutatchai beri padanya. Semua perlakuan baik Phutatchai, semua waktu yang sudah Phutatchai berikan adalah hal yang membuat Ashi tidak nyaman.
Di sisi lain, Ashi dapat melihat senyum lebar yang Phutatchai selalu berikan hanya padanya. Ashi menyadari hal itu, perbedaan Phutatchai saat bersama orang lain dan bersamanya. Oleh karena itu, satu hal yang Ashi bisa lakukan adalah tetap bertahan di sisi Phutatchai meskipun dirinya tidak mau. Hanya hal itu yang bisa menghilangkan rasa bersalah karena Ashi tidak bisa mengembalikan semua yang Phutatchai berikan padanya. Setidaknya Ashi masih disebelah Phutatchai dan Ashi tahu, Phutatchai sudah cukup senang dengan keberadaannya sekarang.
Jangan katakan Ashi tidak pernah mencoba karena sesungguhnya sudah banyak hal yang Ashi lakukan untuk benar-benar jatuh cinta dengan Phutatchai. Ashi tahu semua orang bisa dengan mudah jatuh cinta dengan sosok seperti Phutatchai. Phutatchai adalah sosok yang hangat, pengertian, Ia sangat menjaga Ashi dan perasaannya. Phutatchai akan melakukan semua hal sebaik mungkin apalagi jika itu untuk Ashi. He’s a man of his words, perkataan dan perlakuan Phutatchai akan selalu selaras. Ashi knows Phutatchai will be his biggest loss and he’s ready for that, he saw the vision that it would happen, sooner or later.
Tapi, semakin besar perasaan itu dipaksakan, semakin besar keinginan Ashi untuk segera pergi dari kehidupan Phutatchai.
Di tahun kedua hubungan mereka, jika tadinya Ashi berusaha berjalan maju dengan Phutatchai, kali ini Ashi berjalan mundur dengan Phutatchai yang melangkah kedepan seorang diri. Satu tahun pertama, Ashi masih mengiyakan ajakan Phutatchai untuk pergi kesana kemari, untuk sekedar makan selesai kelas seperti orang berpacaran pada umumnya. Berkunjung ke tempat satu sama lain, menghabiskan akhir minggu bersama dengan banyak kencan, tapi, kali ini Ashi akan berusaha mencari-cari alasan agar semuanya batal, agar Ia tidak perlu bertemu Phutatchai.
Ashi semakin dihantui perasaan bersalah, apalagi sejak perayaan hari jadi mereka ke satu tahun. Ashi masih ingat malam itu saat Phutatchai menciumnya di bibir, Ashi masih ingat rasanya. Ashi juga masih ingat bagaimana rasa bersalah itu seketika menghantui, saat hatinya yang tidak pernah berdegup dengan cepat saat bersama Phutatchai, malam itu rasanya seperti sedang diremas habis-habisan oleh tangan sebesar tangan raksasa.
Ashi masih ingat senyum lebar yang terlukis diwajah Phutatchai saat Phutatchai melepaskan ciuman mereka. Ashi tersenyum, membalas senyuman itu. Ah, siapapun yang bisa melihat mereka kala itu pasti berpikir bahwa keduanya sedang jatuh cinta. Fakta bahwa Ashi berhasil mengelabui Phutatchai tentang perasaannya selama satu tahun hubungan mereka membuat Ashi tidak bisa tidur malam itu.
Paginya, masih dengan perasaan yang berantakan dan tubuh lelah karena belum tidur malam sebelumnya, Ashi pergi ke apartemen Phutatchai tanpa diundang. Pikir Ashi, Phutatchai pasti akan senang melihat keberadaannya di pagi hari, bukan?
Benar saja, Phutatchai menyambut Ashi dengan senyuman yang lebar. Setelahnya, Ashi langsung membawa Phutatchai ke dalam pelukannya. Phutatchai kaget, tentu saja. Ashi tidak pernah menginisiasi skinship dalam hubungan mereka. Phutatchai selalu meminta izin untuk memeluk Ashi dan selalu Phutatchai yang memulai semua itu. Ini adalah pertama kali Ashi melakukannya dan Ashi bisa merasakan jantung Phutatchai yang berdegup kencang disana, kontras dengan jantungnya yang berdetak normal.
Setelahnya, Ashi menatap wajah Phutatchai, menyentuh pipi yang tidak pernah Ia sentuh meskipun sudah satu tahun bersama. Ini adalah kali pertama Ashi menatap wajah Phutatchai dari jarak yang sangat dekat, menatap mata Phutatchai yang selalu berbinar setiap melihatnya, ada moles yang menghiasi wajah Phutatchai dengan cantik, bibir yang selalu memberikan senyum terbaiknya.
Ashi tersenyum melihat wajah sosok didepannya tersebut. Mungkin ini adalah senyum terbaik yang bisa Ashi berikan selama mereka bersama.
“Kamu kenapa?” tanya Phutatchai, merasa ada yang aneh dari pacarnya.
Ashi menggeleng, “gak apa-apa, udah lama gak liat kamu aja,” jawabnya.
Phutatchai tertawa, “kita baru makan malem kemarin buat rayain anniversary kita?”
Ashi mengedikkan bahu nya, “kangen aja,” jawab Ashi. Oh, Ashi, kau menjadi pemain opera handal sekarang.
Ashi mengelus pipi Phutatchai, “can I kiss you, Phu?”
Ashi adalah orang yang menginisiasi ciuman tersebut. Setelah Phutatchai mengangguk, Ashi membawa Phutatchai ke dalam ciumannya, melingkarkan kedua lengannya di leher Phutatchai. Kali ini bukan hanya sekedar kecupan seperti biasanya, Ashi menekan leher Phutatchai agar ciuman mereka semakin dalam, memaksa lidahnya untuk masuk ke dalam mulut Phutatchai dan mengeksplor mulut Phutatchai dengan lidahnya. Saat oksigen diantara keduanya menipis, barulah Ashi melepaskan ciuman itu, meski dengan sedikit perasaan tidak rela, he got the best kiss today. Phutatchai’s lip is so goddamn good for him and he wants to taste it a little bit more.
Ashi menatap mata Phutatchai, “can I have more?” dan setelahnya Phutatchai mencium Ashi. Ciuman kali ini didominasi oleh Phutatchai, satu tangannya berada di leher Ashi, menekan leher Ashi untuk memperdalam ciuman mereka dengan satu tangannya yang lain melingkar di pinggang Ashi.
Ciuman itu terlepas dengan Ashi yang melepaskan ciuman antara mereka terlebih dahulu. Ashi menenggelamkan kepalanya pada leher Phutatchai, “aku ngantuk..” katanya.
Phutatchai terkekeh, “mau aku temenin bobo nya?”
Ashi kembali menatap Phutatchai, “boleh?”
“It's seven in the morning,” ucap Phutatchai. “I don't mind accompanying my boyfriend to sleep at this hour.”
Ashi tersenyum, entah kenapa, Ashi tidak tahu, hanya saja Ia ingin tersenyum kepada Phutatchai detik ini, “thank you.”
Phutatchai mengangguk, setelahnya merangkul Ashi dan mengajaknya ke dalam kamar Phutatchai. Ashi berbaring di sebelah kiri Phutatchai dengan tangan kiri Phutatchai sebagai bantal, keduanya dalam satu selimut yang sama dengan tangan kanan Phutatchai memeluk Ashi dengan sayang.
Phutatchai mengelus kepala Ashi, “sleep tight, sayang.”
Tidak lama setelah itu, Ashi tertidur dalam pelukan Phutatchai.
Ashi terbangun saat jam mengarah ke angka 12. Cukup lama Ashi tertidur dan menurut Ashi, ini adalah tidur ternyenyaknya setelah bertahun-tahun Ashi selalu mengalami susah tidur dan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ashi merasakan tangan yang masih memeluk pinggangnya, Phutatchai tidak beranjak dari posisinya. Ashi menatap Phutatchai yang sedang tertidur pulas, wajahnya terlihat tenang dan damai, Ashi mengarahkan jarinya untuk mengelus wajah Phutatchai, teringat bahwa yang Ia lakukan selama satu tahun adalah sebuah pura-pura.
Mengingat itu Ashi melepaskan tangannya dari Phutatchai, melepaskan pelukan Phutatchai dari pinggangnya. Ashi harus lari. Setelah hari ini, Ashi semakin tersadar bahwa Ia tidak bisa. Ia tidak bisa jatuh cinta dengan Phutatchai meskipun sudah keras mencoba.
—
Ada hal yang membuat Ashi merasa aneh, hal ini sudah Ia pikirkan matang-matang tapi Ia tidak tahu apa. Menurut Ashi semua kehidupannya berjalan lancar, kelas selalu Ia datangi, tugas selalu Ia kerjakan, makan selalu di jam yang sama dan teratur, kehidupannya sangat normal sampai sore itu Ashi sedang berselancar di aplikasi chatting miliknya, Ia menyadari, tidak ada notifikasi dari Phutatchai. Ashi melihat kapan terakhir kali mereka berbicara dan itu adalah dua minggu yang lalu, dengan Ashi yang menolak untuk bertemu karena suatu alasan yang tidak bisa Ia jabarkan – karena sesungguhnya alasan itu tidak ada, Ashi hanya tidak ingin.
Aneh, sangat aneh bagi Ashi. Kepalanya memikirkan hal buruk yang mungkin terjadi pada Phutatchai dan apakah Ia adalah orang yang terakhir kali dihubungi Phutatchai? Ashi takut jika tiba-tiba Ia dimintai pernyataan oleh pihak terkait. Jika dipikir lagi, memang dua minggu ini Ashi tidak pernah mendengar apapun dari Phutatchai, Ia baru sadar hal ini sekarang. Pantas saja rasanya ada yang aneh.
Tanpa berpikir panjang, Ashi melangkahkan kakinya menuju apartemen Phutatchai. Apapun yang Ia akan lihat nanti, semoga itu bukan hal yang buruk. Ashi menghela nafas lega saat melihat Phutatchai membukakan pintu apartemennya. Setidaknya Phutatchai tidak apa-apa, pikir Ashi.
Awalnya Ashi ingin langsung pulang saat selesai memastikan bahwa Phutatchai tidak apa-apa, tapi tubuhnya membeku saat Ia mendengar pertanyaan dari Phutatchai, “ngapain kamu disini?” dengan nada yang tidak ramah, tidak seperti Phutatchai yang biasa Ia temui.
“Ngapain kamu disini? Udah bosen sama kehidupan kamu yang gak ada aku itu? Gimana rasanya hidup kamu yang gak ada aku? Lebih enak, kan? Udah seneng-seneng sama siapa aja?”
Ashi marah mendengarnya. Mengapa Phutatchai seperti sedang menyalahkannya akan sesuatu? Memang apa yang Ashi telah lakukan sampai Phutatchai marah dengan dirinya? Tidak masuk akal bagi Ashi.
“Phu,” Ashi ingin membela dirinya, tapi Phutatchai memotong ucapannya, “Kenapa? Kamu marah? Yang berhak marah disini itu aku. Aku yang kamu tinggalin, kamu yang selalu menghindar dari aku seakan-akan aku ini hama di hidup kamu. Atau memang benar selama ini aku cuma hama di hidup kamu yang indah itu ya?”
Ah, Ashi sedikit paham sepertinya. Ini semua pasti karena Ashi yang menolak untuk bertemu Phutatchai sampai Phutatchai mendiamkannya selama dua minggu ini. Ashi memutar otak, apa yang harus Ia lakukan sekarang? Sepertinya membela diri bukanlah ide yang bagus. Pilihan terakhir bagi Ashi adalah mengalah meskipun egonya berkata bahwa ini bukan salahnya. Pada akhirnya, Ashi mengesampingkan egonya dan mengalah untuk Phutatchai, pertama kalinya.
“I’m sorry,” ucap Ashi. Phutatchai mendengus, “wow, finally the word sorry comes out from your mouth, but, sorry for what, Ashi? Kamu minta maaf untuk apa?”
“I’m sorry for being an ass, I didn’t mean to,” ucap Ashi. “I was just clearing my mind, sorry, I should’ve told you earlier.” Dalam hati Ashi merutuki dirinya sendiri. Bukan Ashi yang salah, harusnya Ashi tidak perlu minta maaf seperti ini.
Phutatchai terdiam, diam-diam Ashi berdoa semoga Phutatchai luluh. “Come in,” ucap Phutatchai. Gotcha. Tebakan Ashi benar, ternyata kuncinya adalah mengalah dengan Phutatchai. Ashi tersenyum, “thank you,” ucapnya. Setidaknya kemarahan dalam diri Phutatchai sudah sirna, bukan?
Hening menyelimuti mereka berdua di dalam apartemen Phutatchai, Ashi merutuki lagi momen ini. Ashi benci keheningan seperti ini, Ashi benci saat Phutatchai menjadi hening karena artinya Phutatchai sedang marah kepadanya dan ini benar-benar pertama kalinya Phutatchai marah pada Ashi.
Ashi berdeham, “Hm.. Phu, can I talk?” Phutatchai mengangguk, “go on.”
“My mind was a mess these past few weeks, I couldn’t think straight, that's why I need to take some time alone. Sorry, I should’ve told you earlier so you didn’t accuse me of anything. Maaf, Phu,” ucap Ashi.
Bohong. Sesungguhnya dua minggu tidak dihubungi Phutatchai adalah waktu yang baik untuknya. Ia tidak perlu memikirkan cara untuk menghindar, menyibukkan diri dengan tugas dan hal lain agar Ia punya alasan untuk menghindari Phutatchai.
“Udah? Gitu aja? Gak mau bikin alasan lain yang pinter dikit?” Ashi sedikit tersentak mendengar pertanyaan Phutatchai, tidak menyangka ternyata Phutatchai sudah tidak mudah mempercayai omongannya, Ashi harus memutar otak.
“Phu, aku serius.”
Phutatchai tertawa, “then why are you here?”
Ashi mengerutkan keningnya, “to see you, of course.” Kalau yang ini, Ashi tidak berbohong. Dua minggu menghilang adalah hal yang aneh untuk Phutatchai lakukan. Ashi takut, takut Phutatchai kenapa-kenapa, takut hal yang tidak diinginkan terjadi.
“So you’re finally seeing me? Kamu sadar kalau aku ada?”
Ashi menggeleng, tidak bisa mengerti maksud dari omongan Phutatchai, “kamu ngomongnya kemana-mana, Phu. Kamu marah?”
“Kamu mikir lah, orang mana yang gak marah diperlakuin kayak gitu, Ashirakorn?”
Ashi terdiam, Phutatchai sudah memanggilnya dengan nama lengkap, tandanya Phutatchai sudah sangat serius, “kan udah aku bilang, aku minta maaf.”
“So you think that's enough?”
“Then what should I do, Phutatchai?”
Ashi bingung. Kali ini dia bingung dengan dirinya, bingung dengan Phutatchai. Bingung dengan semua yang ada dan apa yang harus Ia lakukan kedepannya.
Ashi meringis dalam hati saat merasakan cengkraman Phutatchai pada wajahnya, sakit. Sepertinya Phutatchai tidak dalam kontrol diri yang baik. Ada kilatan marah di mata Phutatchai. Binar yang selalu Ashi lihat setiap Phutatchai menatapnya kini berubah, Ashi benar-benar takut.
“Now look at me, Ashi. Do you ever love me?”
Tidak. Itulah jawaban yang Ashi ingin teriakkan dengan keras. Sebuah hal yang selalu Ashi usahakan tapi Ia sendiri tidak bisa menemukan maksud dari cinta itu, yang membuat Ashi bingung dengan dirinya sendiri, mengapa Ia tidak bisa mencintai Phutatchai seperti Phutatchai mencintai dirinya?
Mata mereka masih bertatapan dengan Ashi yang semakin merasa takut melihat kemarahan yang ada di mata Phutatchai.
“Say it, Ashi. Do you love me?”
Ashi benci berbohong. Ia tidak pernah menjawab pernyataan cinta dari Phutatchai karena Ia tidak suka mengatakan kebohongan itu, tapi, sore ini Ia harus. Maka Ia ucapkan sebuah kebohongan, kebohongan yang akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, “I do, Phu.”
“Aku sayang kamu, Phu.”
Kalimat itu akhirnya keluar, sebuah kebohongan besar yang Ashi tidak pernah mau lakukan akhirnya Ia lakukan sore ini, demi menyelamatkan dirinya sendiri.
Kilatan marah itu perlahan menghilang. Ashi menghela nafas, setidaknya sore ini Ia bisa melewati kemarahan Phutatchai, dan semoga tidak ada hari lain Ia harus melewati kemarahan Phutatchai lagi.
Malam ini, sesuai permintaan Phutatchai, Ashi bermalam di tempatnya. Sebelum tidur, awalnya Phutatchai hanya mencium Ashi di kening, lalu beralih ke pipi dan diakhiri dengan ciuman di bibir.
Ciuman itu hanya ciuman biasa, sampai akhirnya Phutatchai terus menekan tubuh mereka dan pagutan mereka terasa semakin intens, disaat itu lah Ashi sadar, sampai detik ini Phutatchai masih marah kepadanya.
Ciuman Phutatchai beralih dari bibir ke leher Ashi, disana Phutatchai menghirup leher Ashi dengan sangat dalam, “kamu punya aku, Ashi.. kamu cuma punya aku,” bisik Phutatchai di telinga Ashi.
“Kamu bilang kamu gak akan pergi kemana-mana, jadi, jangan pergi lagi, ya. Aku bisa gila beneran kalau enggak ada kamu,” bisik Phutatchai lagi lalu kembali mencium bibir Ashi.
Dalam ciuman itu Ashi berteriak. Ia tidak ingin berada disini, Ia tidak ingin terus terbelenggu dengan Phutatchai. Ashi menyesal, harusnya Ia memutuskan hubungannya dengan Phutatchai sejak awal, sejak saat Ashi tahu bahwa Ia tidak bisa membalas cinta Phutatchai.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas dan Phutatchai sudah terlelap seraya memeluk Ashi. Sedangkan Ashi, dirinya masih terlarut dalam pikirannya sendiri, Ia tidak bisa tidur. Kepala Ashi semakin dipenuhi rasa bersalah atas dirinya yang tidak bisa membalas perasaan Phutatchai.
Ashi tidak memiliki contoh tentang cinta. Selain karena cinta adalah hal yang semu bagi Ashi, konsep cinta sangat tidak masuk akal baginya. Bagaimana caranya kita memiliki sebuah perasaan nyaman dengan orang lain? Membagi kehidupan kita dengannya? Melakukan apapun untuk orang yang kita cinta? Bukankah pada akhirnya semua orang akan pergi? Untuk apa memberikan segalanya untuk sementara sebelum ditinggalkan? Pada akhirnya, kita hanya punya diri kita sendiri, bukan?
Jika dipikir, hal itu lah yang selalu Phutatchai lakukan untuknya. Terkadang Ashi bertanya-tanya, mengapa Phutatchai melakukan hal itu semua untuknya? Menjemput dan mengantar Ashi kemanapun, menemani Ashi bahkan disaat Ashi bisa sendiri. Terkadang Ashi juga bertanya-tanya mengapa Phutatchai bisa jatuh cinta kepadanya? Ashi bahkan tidak tahu apa yang dilihat dari Phutatchai tentang dirinya.
Ashi melepaskan pelukan Phutatchai pada dirinya, Ashi ingin ke toilet. Tapi saat Ia baru bangun dari kasur, Ia mendengar notifikasi dari hp Phutatchai secara beruntun. Ashi bukan orang yang penasaran, tapi kali ini, Ia mencoba mengecek, mungkin penting.
Thai
Gimana? Udah ngobrol sama cowok lu belum?
Thai
Ngapain sih Phu, bertahan sama orang yang ngeliat lu aja enggak. Semua lu lakuin sendiri, dia diem doang. Hubungan kan dua arah.
Thai
Putusin aja sih, cari yang emang mau berjuang kayak lu perjuangin dia dengan keras.
Thai
Hubungan kalian juga gak akan bertahan lama kalau bukan karena lu.
Ashi sedikit tertawa membaca notifikasi yang muncul. Ashi juga berjuang. Ashi mencoba dengan keras untuk bisa memiliki rasa pada Phutatchai meskipun hasilnya nihil, sampai sekarang Ia tidak bisa.
Atau mungkin memang Ashi yang belum berjuang dengan keras? Mungkin selama ini dirinya kurang. Setelah semalam suntuk berpikir, Ashi memutuskan untuk mencoba mengembalikan apa yang Phutatchai lakukan padanya. Tidak akan sulit, kan…?
—
Ashi benar-benar mencoba untuk berubah. Ia melakukan apa yang selalu Phutatchai lakukan. Mengajak kencan, membuat rencana terlebih dahulu, menunjukkan inisiatif, tidak jarang juga Ashi yang menginisiasi skinship mereka. Ashi benar-benar berusaha agar rasa sayang yang Ia pikir akan muncul itu benar-benar muncul.
Nyatanya nihil. Yang Ashi terima hanyalah sesak. Sesak karena Ia melakukan hal diluar keinginannya, sesak saat melihat binar mata Phutatchai yang semakin terang saat bersamanya. Ashi takut Phutatchai akan semakin jatuh kedalamnya sendirian sedangkan Ashi masih berada di tepi, mencoba untuk jatuh, tapi tidak pernah bisa.
One thing Ashi never knew is, love can't be forced. He should let himself fall, naturally. What Ashi did was always forcing himself to fall for Phutatchai, to love Phutatchai when his heart can't. He can't love Phutatchai. Phutatchai is not the person his heart chooses to love and it's a hard pill to swallow because Ashi could tell how much Phutatchai loves him.
Pada akhirnya, Ashi kembali menjadi dirinya yang sebenarnya. Ashi lelah berpura-pura jatuh cinta dan memaksa dirinya untuk jatuh. Maka itu, Ashi menyerah. Biarlah dirinya yang menjadi jahat di cerita Phutatchai. Karena sejatinya, dari awal Ashi sudah jahat sejak Ia menerima Phutatchai karena penasaran dan bertahan karena kasihan. Tidak ada yang memintanya untuk melakukan itu semua dari awal.
—
Phutatchai bilang, hari ini mereka akan cafe hopping. Ashi sedikit tergelak saat mendengar itu, Phutatchai ingat keinginannya. Ashi pernah membicarakan hal itu sekitar dua bulan lalu, sebelum Ashi kembali menghindari Phutatchai.
Tidak ada yang aneh dari kencan mereka hari ini, pertemuan mereka berjalan normal, Phutatchai menanyakan hal-hal umum tentang kehidupan Ashi, bahkan Phutatchai masih membantu Ashi membawa barangnya.
Semua terasa normal sampai sebuah pertanyaan keluar dari mulut Phutatchai, sebuah pertanyaan yang ternyata menjadi bom bagi keduanya. “Kamu sebenernya sayang gak sih sama aku?” pertanyaan itu dilontarkan dengan tenang, seraya Phutatchai meneguk kopinya.
Tubuh Ashi menegang. Ashi memang sudah mengetahui tentang kemungkinan Phutatchai menyadari semuanya, kemungkinan dirinya kehilangan Phutatchai, tapi, Ia tidak menyangka jika hari ini sudah tiba depan mata.
Ashi mencoba tenang, “kamu kenapa tiba-tiba nanya gitu?” Sandiwara lain Ashi coba mainkan. Selama ini, Ashi sudah berhasil berpura-pura bodoh, mengelabui Phutatchai tentang perasaannya. Ashi akan lakukan sekali lagi, seperti yang sudah-sudah. Selama ini kan Ashi selalu berhasil.
Hening yang menyelimuti mereka membuat Ashi ingin lari. Ashi benci suasana ini. Ashi benci saat dirinya merasa kecil, tidak berdaya. Ashi selalu percaya diri dalam bermain peran selama hampir dua tahun ini, tapi kali ini Ashi ketakutan, dan kalimat yang dikeluarkan Phutatchai setelah ini sama sekali tidak membantu dirinya.
“I actually never feel the love you gave me, if you really did, tho.”
Ternyata Phutatchai tidak sebodoh yang Ashi pikirkan. Phutatchai bukanlah orang yang se naif itu. Entah sejak kapan Phutatchai sadar, mengapa Ia tidak pernah menanyakannya pada Ashi sejak awal?
“So, how long do you feel that way?”
“Since the beginning of our relationship.”
Oh betapa Ashi ingin meleburkan dirinya sendiri saat mendengar itu. Selama ini Ashi selalu berusaha, berpura-pura bahwa Ia memiliki perasaan yang sama untuk Phutatchai.. dan Phutatchai menyadari semuanya? Mengapa Phutatchai melakukannya?
“And it's been almost two years of our relationship. How could you endure something painful for that long?”
Kepala Ashi berputar dengan pertanyaan yang Ia tidak bisa temukan jawababannya. Mengapa Phutatchai harus menahan sakit selama itu? Mengapa Phutatchai tidak mengakhiri hubungan mereka sejak awal jika Ia telah tahu? Mengapa Phutatchai harus menyakiti dirinya sendiri dan juga hatinya? Satu hal yang Ashi dapatkan sore ini adalah, cinta itu menyakitkan.
Ashi masih mencoba untuk terlihat tenang. Ia sudah tidak bisa apa-apa sekarang. Keinginannya untuk lari sudah hilang, Ashi bahkan tidak tahu apakah Ia masih memiliki keseimbangan untuk bangun dari duduknya atau tidak.
“Jadi, kamu pernah sayang aku atau tidak selama ini? Have you ever felt something towards me? Have you ever… See me?”
Ashi tahu jawaban dari semua itu. Jawaban itu sudah Ia teriakkan berkali-kali di kepalanya, hatinya pun menyuarakan hal yang sama. Tidak.. tidak.. tidak.. jawaban yang tidak pernah berubah seberapa keras Ashi berusaha, memaksa dirinya untuk mengubah tidak menjadi iya.
Ashi sudah lelah bersandiwara di panggungnya sendiri. Ia harus melepas belenggu yang mengikatnya dengan Phutatchai, demi dirinya, demi Phutatchai sendiri. Ia mau membebaskan keduanya. Mereka berdua harus bebas hari ini.
Maka kali ini, Ashi memilih jujur.
“I've tried, Phu. Many times. But the more I tried, the more I felt uncomfortable around you. Aku gak nyaman ada kamu disisi aku, aku rasanya gak pengen liat kamu, tapi kamu yang terus ada di samping aku.”
Dalam hati Ashi berdoa, memohon Phutatchai untuk mengerti. Phutatchai harus pergi dari hidupnya, Ashi pun akan dengan senang melangkah dari kehidupan Phutatchai, melepas belenggu yang mengikat keduanya.
“Aku ngelakuin itu semua karena aku sayang kamu, Ashi. Aku mau ada di samping kamu, aku mau nemenin kamu, aku mau bikin kamu seneng.. masa gitu aja kamu gak paham?”
Ashi know it damn well what Phutatchai means. He understands it better than anyone else because Ashi is the one who gets all the love Phutatchai gives. No matter how he tried to change everything, his heart doesn't want it, his body refused to accept everything from Phutatchai and it's killing him inside.
“Aku gak pernah minta, Phutatchai, dan kamu juga gak pernah nanya mau aku apa yang sebenarnya.”
Ashi mengucapkan fakta. Nyatanya semua yang Phutatchai lakukan adalah atas dasar inisiatifnya sendiri. Ashi tidak pernah meminta apapun, semua Phutatchai lakukan atas kesadaran dan kemauannya sendiri. Untuk hal ini, tidak seharusnya Ashi disalahkan. Hal ini bukan hal yang bisa Ashi kontrol, mengapa pula hal ini menjadi kesalahannya? Ashi benci disalahkan atas hal yang diluar kontrolnya.
“Terus kenapa waktu di apartemen aku kamu bilang kamu sayang aku? Why did you come to my apartment that evening?”
Ah, hari itu. Hari dimana Ashi datang setelah Phutatchai menghilang tanpa kabar selama dua minggu. Ashi datang atas dasar kemanusiaan, tidak lebih. Mungkin memang salahnya datang hari itu dan memberi perhatian lebih yang seharusnya tidak Ia beri untuk Phutatchai. Untuk bagian Ashi mengatakan sayang, saat itu Ia diintimidasi. Phutatchai sedang marah besar dan hanya ada mereka berdua disana. Ashi hanya ingin menyelamatkan dirinya, maka dari itu kebohongan Ia sampaikan. Memang sudah seharusnya Phutatchai tahu seluruh kebenaran, biar saja Phutatchai akan membenci Ashi setelah ini. Memang seharusnya begitu sejak awal.
“I just want to make sure you're alive because you didn't text me like you used to,” Ashi menegakkan tubuhnya, “and also, don't you remember you're the one who's looking at me fiercely, what am I supposed to do? Saying I hate you when I could feel you could hurt me any time? Of course I said that for you to let go of me.”
“And why did you being so nice to me and acting you love me?”
“To make the Ashi in your head come true. How does it feel when you're loved by me? Itu kan sosok Ashi yang selama ini kamu inginkan?”
Ashi ingat pesan yang masuk dari Thai, teman Phutatchai, mengatakan bahwa hanya Phutatchai lah yang berjuang di hubungan mereka, mereka bisa sampai titik ini karena Phutatchai saja, tanpa mengetahui bahwa Ashi juga berusaha mati-matian, secara literal, Ia mematikan dirinya sendiri, melakukan hal yang berbalik dengan semua teriakan di otak dan hatinya. Mengabaikan semua teriakan di kepala untuk berhenti. Bahkan disaat Ashi bisa berhenti karena Ia tahu semua akan sia-sia, Ashi mengulang kembali. Ashi berusaha dari nol lagi, berusaha menyeimbangi Phutatchai walau kembali dengan hasil yang nihil karena lagi-lagi, Ashi terlalu memaksakan diri padahal Ia tahu, dirinya tidak akan pernah bisa.
Phutatchai terdiam mendengar perkataan Ashi. Run, Phutatchai. I’m not the person who deserves your love, your love suffocates me, Run. You’ll find someone who has the love for you because I don’t, and will never be, teriak Ashi di kepalanya.
“If I run from your life, will you come to me?”
Ashi sedikit nyaris terbahak saat mendengarnya. Tentu tidak, dirinya akan bersorak. Selama ini Ashi lah yang selalu menginginkan kepergian Phutatchai dari hidupnya karena Ia tidak bisa berlari begitu saja dari Phutatchai, tidak setelah cinta yang tidak bisa Ashi balas itu Phutatchai berikan.
“Try, Phutatchai,” jawab Ashi. “But remember, you’re the one who’s entering my life, I’ve never tried to enter your life.”
Setelahnya, Phutatchai bangun dari duduknya, meninggalkan Ashi dengan dua gelas kopi dan pastry yang tersisa setengah. Saat punggung Phutatchai sudah tidak terlihat, saat itu lah Ashi menjatuhkan kepalanya ke atas meja, mencengkram dirinya sendiri, menggigit bibir, menahan seluruh sesak yang akan keluar, menahan teriakan yang sudah lama Ia tahan.
Pada akhirnya, Phutatchai benar-benar pergi atas dorongan Ashi. Ia berhasil mendorong pergi Phutatchai dari hidupnya, seperti yang selama ini Ia inginkan.
Malam itu, dunia Ashi kembali berwarna hitam. Ashi tersenyum melihat kelam itu, sudah hampir dua tahun Ashi tidak melihat warna itu dan kini, Ia kembali.
—
Biasanya Ashi akan menyelesaikan pekerjaannya dengan lambat, tapi entah apa yang merasukinya kini, Ashi bisa mengerjakan pekerjaan itu dengan sangat cepat. Ashi yang biasanya merasa lelah saat usai bekerja meskipun kerjanya sekarang berada di rumah, kini masih memiliki energi untuk melakukan banyak hal.
Ashi terus berselancar dalam laptop nya sampai Ia menemukan sebuah folder di bagian desktop dan tertulis dengan jelas sebuah nama yang sudah lama tidak Ia lihat.
Phutatchai Limpanyakul
Tubuh Ashi menegang. Ia sempat melupakan eksistensi folder itu, tapi yang Ia lakukan sekarang adalah membuka isi folder tersebut. Tangannya terus berselancar sampai dirinya menemukan satu video, dan Ashi memainkannya.
Phutatchai sedang berlarian di dekat sebuah danau, Ia berteriak, “sini, Ashi! Lari! Ayo kejar aku!” dan setelahnya, Ashi berlari mengejar Phutatchai. Phutatchai tertawa melihat Ashi yang berlari ke arahnya.
“Lucunya pacarku, sini,” ucap Phutatchai lalu tangannya mengarah ke Ashi, entah apa yang Phutatchai lakukan sampai ada suara, “sakit, Phu!” ujar Ashi. Ashi tebak, pasti Phutatchai mencubit pipinya.
Phutatchai tersenyum ke arahnya, “cantik banget sih pacar aku,” ucapnya dengan senyum yang sangat lebar.
Entah bagaimana reaksi Ashi saat itu disana, tapi Ashi dapat mendengar sebuah suara tawa kecil yang berasal dari dalam dirinya di video tersebut.
“Tuh kan, kamu makin cantik lagi kalau ketawa gini,” ucap Phutatchai lalu mengarahkan tangannya pada Ashi untuk mengusak kepalanya.
Ashi mengecek tanggal kapan video itu diambil, awal-awal mereka baru berpacaran. Saat itu Ashi masih bisa menerima Phutatchai, Ashi belum mengetahui bahwa dirinya tidak bisa, bahwa dirinya tidak merasa berhak atas cinta yang Phutatchai beri.
Butuh waktu satu tahun sampai Ashi menyadari bahaa cinta yang Phutatchai beri adalah cinta yang sangat indah, the most beautiful love and Ashi knows he wouldn't find it anywhere and from anyone, because Phutatchai is born differently, he's an angel for Ashi and Ashi is just.. human. Ashi always feels he doesn't deserve all the love Phutatchai gave him, a pure love, a love that will make him happy and feel safe — and Ashi wouldn't find that kind of love ever again.
Video itu berakhir dengan Phutatchai yang tiba-tiba memeluk Ashi entah untuk alasan apa. Setelahnya Ashi kembali berselancar dalam folder itu, folder yang penuh dengan sosok Phutatchai. Ada Phutatchai yang sedang tersenyum, Phutatchai sedang cemberut, Phutatchai dengan pemandangan, tidak jarang juga foto mereka berdua. Sampai akhirnya, foto terakhir di folder itu adalah dua gelas kopi dan pastry yang tersisa setengah, hari dimana hubungan mereka berakhir.
Ashi terdiam menatap foto-foto didepannya. Ashi benar-benar lupa dengan eksistensi folder itu. Ia bahkan sudah tidak menyentuh kamera miliknya lama sekali. Dulu, hal yang selalu Ia lakukan adalah memotret Phutatchai kemanapun mereka pergi, mengabadikan Phutatchai dengan berbagai momen.
Kali ini, semua hanyalah kenangan. Ashi sudah kehilangan muse terbaiknya —satu-satunya, bahkan— air matanya perlahan menetes. Sesak itu kembali, tidak akan pernah hilang, bahkan setelah lima tahun, hatinya masih meneriakkan Phutatchai.
Ashi kembali melihat sosok Phutatchai yang berada di laptop nya, sosok yang seperti malaikat di hidup Ashi, yang tidak bisa Ashi lupakan. Ashi tertawa saat mengingat hal itu, tidak, Phutatchai bukan hanya seperti malaikat, sekarang Phutatchai lah malaikat itu. Sosok itu sudah menjadi malaikat di langit sana, meninggalkan Ashi empat tahun lalu. Phutatchai benar-benar pergi bukan hanya dari hidup Ashi, tapi dari dunia, satu tahun setelah hubungan mereka berakhir.
Air mata Ashi perlahan turun semakin deras, mengingat hari saat Ashi datang ke tempat terakhir sang malaikat sebelum ke langit. Ada Thai disana, menyampaikan surat dari Phutatchai yang berisi ribuan kata maaf dan sayang. Semenjak hari itu, Ashi membenci dirinya sendiri lebih dari apapun — dan Ia semakin yakin, bahwa dirinya tidak pernah berhak atas segala bentuk cinta yang ada di dunia.
♡
What died didn't stay dead, Phutatchai is still alive in Ashirakorn's life, and will always be. In Ashi's head, Phutatchai is going somewhere far and one day, when the time is right, they will meet again.
And when they finally met, Ashi is ready to love Phutatchai, wholeheartedly, like Phu always did.
