Actions

Work Header

8 pages of 4 sheets

Chapter 5: Epilogue

Chapter Text

“Ini apa?"

Munjung menunduk. Ia menggeleng pelan sebagai respon reflek atas perasaannya yang bercampur aduk saat ini.

Park Gunwook pindah sekolah.

Setelah kejadian dua hari lalu, keesokan harinya, Gunwook beserta kedua orang tuanya datang untuk menyerahkan surat mengundurkan diri. Munjung bingung bukan main. Bagaimana bisa ia tidak sekolah sehari, tiba-tiba ia kehilangan teman terbaiknya di sekolah?

Just because he was gay?

Sebelum Gunwook benar-benar pergi, teman terbaiknya sempat berbincang padanya sambil menyerahkan satu paper bag yang berisikan buku dan amplop.

"Kasih ini ke Gyuvin atau Ricky, ya."

"Gunwook.. Lo beneran mau pindah sekolah?"

Gunwook tersenyum miring. "Iya. I came out to my parents and they said I had to be sent to seclusion, belajar homeschooling di kampung."

"...Gunwook.." Munjung menunduk. "You know what..? I don't care if you're gay or not. Lo tetep.. temen gue. Temen terbaik gue."

"I know, Munjung. Lo juga temen terbaik gue. But the world isn't easy on me," Napas Gunwook terdengar berat dan patah-patah kala ia menarik napas. "Karena lo temen terbaik gue, lo boleh baca dulu buku yang gue kasih ini. Bilang ke Gyuvin dan Ricky, it's all my fault."

Munjung menghargai Gunwook. Maka ketika ia diperbolehkan untuk membaca, ia membaca buku Gunwook yang ternyata adalah buku cerita fiksi yang ditulis tangan olehnya.

Dan pada cerita terakhir…

"I think you are willing to read these stories," Munjung tersenyum pahit kepada Gyuvin kemudian. "Ajak Ricky juga, ya. Gunwook bilang ini buat kalian berdua. Suratnya juga jangan lupa dibaca."

Kala Munjung hendak langkahkan kakinya pergi, Gyuvin menahan tangan Munjung. "Jung, Gunwook bilang ke lo?"

"Apa?"

"Kenapa dia ngebela gue sama Ricky di depan kelas? Kenapa dia nekat ngaku-ngaku homo sampai keluar sekolah?"

"Dia gak bilang apa-apa ke gue. Tapi gue yakin Gunwook nulis alasannya di suratnya dia."

Gyuvin tersandar lemas pada surat dari Gunwook yang baru saja ia baca. Tanpa sabar untuk menunggu Ricky datang, Gyuvin buru-buru membuka buku cerita Gunwook dan membaca cerits terakhir yang tertulis di sana.

How…

"Vin? Kok kamu nangis..?"

"Ricky," Gyuvin menatap Ricky nanar. Napasnys berderu seakan dadanya begitu sesak. "Are our feelings real?"

"What do you mean?"

"Read them."

Gyuvin mendorong surat dan buku cerita Gunwook kepada Ricky dan membiarkannya membaca kala ia masih mengusap air mata dan hidungnya kasar.

Mata Ricky melebar tak percaya. "What is this…"

"Gunwook wrote a story about us. 4 sheets, 8 pages, dan semuanya kejadian. Dia yang nulis supir kamu mogok, Ky! Dia yang nulis perasaan kita, cerita kita, kenapa kita bisa ciuman!"

"Vin," Ricky meremat surat dari Gunwook. "I.. I don’t know how Gunwook did that.. But.. I’m gay. I’m seriously gay. I know I am gay since then, and I know my feelings for you aren’t just fabricated from Gunwook’s writing. I know my feelings.." Ricky menunduk kemudian. "Walau emang benar, rasanya agak asing karena aku baru pindah sekolah.. and yet we develop feelings a little bit too fast. Tapi, Vin, my feelings are real."

Gyuvin menunduk sebelum menatap kembali Ricky yang berusaha menarik bahunya tegap. Ia tatap mata Ricky lamat-lamat, dan apa yang ia dapatksn sdalah keseriusan. Ricky didn't lie.

"I.. I know I'm most probably pansexual, and I also know my feelings. But I think we should take it slow, no?"

Ricky mengangguk. "Yes. Let's take things slow and steady, Vin. All we did was confessing and a little kiss, tau," ujarnya sambil tersenyum miring, tipis. "Aku gak tau kalau Gunwook suka sama kamu."

Gyuvin menghela napas. "Aku juga gak tau. He's my best friend, afterall."

"Are you sad that he left?"

"Of course.." Gyuvin menunduk. "Again, he is my best friend. Bahkan lebih? Dia kayak partnerku dalam segala hal. Dia wakilku di OSIS, dia teman yang baik di kelas, bank jawaban lah. Dia juga sering bantuin Wonyoung. Dia baik banget ke semuanya."

"He must be special," sahut Ricky pelan.

"Don't sound like you're jealous. Dibilang, dia sahabat aku."

"Kamu sayang dia, gak?"

"Ya sayang."

"So, how do you differentiate me and him?"

"Your question is so stupid, Ricky…" Gyuvin terkekeh pelan lalu memeluk Ricky dari samping. "Of course you're different. You're Shen Ricky, and he's Park Gunwook. I fond him as a best friend, and I cherish you as my lover."

"Sappy."

"Hey! That's the truth!"

Though the world despises the digression of common relationships, Ricky and Gyuvin choose to take the simplest path to reach their happiness: themselves .

 


Dear Gyuvin and Ricky.

Gue minta maaf.
I didn’t know what I should write in here, but I have to admit, I did something disgusting to both of you
I have a crush on both of you, truthfully. And the day Ricky did my heart jumping around, I wrote a story about both of you. I know, I must be out of my mind.

And fate despises me. They want me to take the karma right here, right now. Semua kekacauan kemarin adalah hasil yang gue buat dalam cerita gue. I’m actually kinda glad that I found my sexuality through these unfortunate events, and that’s why, to redeem myself, I choose to twist the story so neither two of you will end up bedridden.

8 pages, 4 sheets about you, the reason why I will never understand how to explain it to people. Semuanya salah gue. Maafin gue, ya? Semoga kalian bahagia selalu di sekolah. I will take my leave as another compensation, and I will never write stories again.

Be healthy, Gyuvin, Ricky. I'm so glad to be your friend.

Love, Gunwook.

Notes:

This is a crosspost from X! :)