Chapter Text
.
.
.
.
.
.
??? POV
Walaupun tubuhku tidak sekuat dulu, tetapi aku bisa menebas iblis iblis ini dengan mudah. Keroco keroco sialan ada yang masih hidup disini. Yang kutebas tak ada habisnya, sialan.
"MINGGIR SIALAN" Aku menebas salah satu iblis didepanku, mereka semakin banyak datang kearahku
"Sanemi, kita harus beristirahat, bertarung terus menerus akan membuat kita mati konyol" Ucap temanku yang ikut bersamaku
"Aku tahu Giyuu, tapi ugh, kenapa iblis masih berkeliaran?!" Ucapku sambil menebas mereka
"Mungkin kita melakukan kesalahan kalkulasi, kita melakukan penyelidikan secara setahun penuh untuk melihat apakah iblis iblis masih hidup, tetapi nihil, bisa saja mereka selama ini bersembunyi dan baru keluar, pokoknya kita mundur" Ucapnya sambil menusuk salah satu iblis dan menendangnya ke kerumunan iblis didepan dan berputar balik untuk lari.
"Ok" Ucapku mengikutinya
"Untung saja kita membawa pedang kita walaupun kita hanya akan berkunjung ke oyakata-sama" Ucap Giyuu sambil berlari
"Belok kiri, itu adalah kediaman salah satu pembasmi iblis, kita berlindung dibawah wisteria nya saja" Ucapku kepada Giyuu
"Baiklah" Katanya mengikuti perintahku
.
.
.
.
Ubuyashiki Kiriya POV
Satu demi satu pertumpahan darah terjadi. Aku harus mencegah beberapa agar tidak terjadi kedepannya, tetapi aku takut bahwa perubahan itu akan membawa demon slayer ke kekalahan mengalahkan Muzan. Apapun itu aku hanya harus tetap diam terkait semua insiden yang terjadi kedepannya.
"Pura pura tidak tahu itu menyebalkan" Ucapku sambil mengelap salah satu patung dirumahku
"Kak? Apa? Mengerjakan pekerjaan rumah itu menyebalkan?" Tanya Kuina
"Tidak! Grrrr aku tidak bilang begitu! Aduh!" Aku hampir marah ke adikku karena salah sangka tetapi saat aku mengibaskan tanganku, pergelangan tanganku sakit akibat sayatan yang kemarin
"Tch" Ucapku sambil memandangi pergelangan tangan kiriku
"Kak... Kalau masih sakit dan tidak kuat bilang saja, ibu tidak membiarkanmu sendiri karena itu" Ucap Kuina penuh khawatir
"AKU BILANG TIDAK APA! BERHENTI SALAH SANGKA, ITU MENYEBALKAN!" Ucapku sambil setengah berteriak, aku tidak berniat berteriak kepada adikku sendiri tetapi lama kelamaan menjadi menyebalkan.
Sayang sekali disaat seperti ini ibu masuk, mungkin mendengar teriakanku
"Ada apa ini? Kenapa kau berteriak pada adikmu?" Tanya ibu padaku
"Ah... Itu... Tidak apa apa, maaf sudah berteriak" Ucapku sedikit menyesal
"Tidak apa apa kak, jika kau stres dan ingin berteriak, lakukan saja" Kata Kuina salah sangka
"SUDAH KUBILANG BERHENTI SALAH SANGKA" Ucapku tambah kesal dan meraih bahunya sambil menggoyangkannya tapi "aduh!" Ucapku lagi saat pergelangan tanganku masih terluka
"Haish sudah sudah, jangan bertengkar, kemarilah Kiriya, aku akan melihat kondisi tanganmu" Ucap ibu sambil menjulurkan tangan nya, dan ku ambil tangan ibu dengan tangan kanan dan mengikutinya ke kamar
"Ini akan baik baik saja ibu, tidak masalah" Ucapku masih mengikuti ibuku
"Ibu yang menentukan keadaan tanganmu baik baik saja atau tidak" ucapnya, aku merasa pergelangan tangan kanan ku dielus oleh ibu dengan ibu jarinya, dan aku merasa sedikit tenang, ibuku sudah tidak ada, jadi apakah aku harus menikmati dimanja ibuku sedikit?
"Ibu..." Ucapku sedikit sendu
"Ya sayang?" Ucapnya membalas masih melihat kedepan kearah tujuan kita
"Maaf... Aku tidak cukup... Aku akan mengembalikan anakmu..." Ucapku masih membuntutinya dan kita sampai didepan kamarku
"Duduklah" Ucapnya sambil menyuruhku duduk, ibuku mengambil perban dan obat di kotak obat
Aku masih diam tanpa berkomentar, keheningan sementara terbentuk di ruangan ini "Kiriya..." Ucapnya sambil mulai memeriksa luka ku dan akan mengganti perban ku, aku masih memandang kearah tanganku sampai ibuku berkata "lihat ke ibu sayang" Ucapnya dengan lembut
"Ya?" Ucapku menjawab sambil memandang ibuku. Wajah ibuku terlihat sangat sedih dan seperti akan menangis. Tiba tiba aku juga merasa sedih "Walaupun kau bukan dari waktu ini, kau tetaplah anak ibu, anak kebanggaan ibu, kau telah mengalahkan Muzan dan mengatur Demon Slayer Corps tetap berjalan dengan baik, ibu mana yang tidak menyayangimu?" Ucapnya sambil tersenyum.
"Ibu..." Balasku tanpa sadar air mata telah mengalir di pipiku, tanpa kusadari pergantian perbannya telah selesai, lalu aku melompat memeluk ibuku "Maaf ibu, aku tidak bisa menyelamatkanmu" Tangisku dalam pelukan ibuku.
"Kiriya... Maaf telah meninggalkanmu dengan tanggung jawab yang begitu besar" Ucap ibuku balas memelukku, dan aku mendengar ibuku juga sedang terisak "Ibu sangat menyayangimu Kiriya, bagaimanapun dirimu, umurmu, ibu akan menyayangimu dan saudara saudaramu" Ucap ibuku
"Hm" Balasku masih memeluk ibuku
.
.
.
.
.
[Malam Harinya]
Aku mendengar suara orang diluar jendela ku, dua orang, dan tidak mungkin itu orangtuaku, ayahku tidak bisa berjalan secepat ini, aku mengeluarkan pisauku dibawah bantal yang ku sembunyikan dari ibuku lalu menodongkannya ke arah jendela
"Whoa" Ucap suara yang kukenal
"Sanemi-san?" Ucapku melihatnya bersama Giyuu-san
"Oh Oyakata-sama, maaf tidak sopan" Ucap Sanemi menatapku
"Kalian juga kemari?" Tanyaku padanya
"Ini gawat tuan, para iblis masih hidup" Kata Sanemi masih menatapku
"Bukan para iblis yang hidup kembali, kita yang berpindah ke masa lalu, lihat aku" Ucapku sambil menunjuk diriku
"Kau semakin pendek tuan?" Tanya Sanemi sambil menerjapkan mata
"Itu yang menarik perhatianmu?!" Ucapku setengah marah
"Apa kita beneran pindah ke masa lalu?" Tanya Sanemi sambil menggaruk kepalanya "ini gawat, kita tidak bisa bertarung dengan iblis sebaik dulu, bahkan Giyuu hanya menggunakan tangan kirinya" Ucap Sanemi
"Aku memerintahkan kalian untuk tidak menghadapi iblis secara langsung, jadilah seperti ninja" Ucapku sambil berpikir
"Sesuai perintah anda tuan, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Sanemi padaku
"Gunakan ini" aku memberikan mereka berdua topeng kitsune yang biasanya aku pakai untuk festival "jangan tunjukkan muka kecuali keadaan genting, dan tolong selidiki gunung yang sebelumnya terdapat kecurigaan" Kataku menjelaskan pekerjaan mereka seperti sebelumnya
"Dan darimana anda tahu mungkin penyebabnya sama?" Tanya Giyuu yang daritadi diam
"Perasaanku saja" ucapku masih menatap dalam mereka
Sanemi dan Giyuu saling menatap satu sama lain lalu tersenyum, "baiklah tuan, sesuai perintah anda" Jawab Giyuu dan mereka pergi dengan cepat, aku harap kita segera pergi dari sini untuk menghindari pertumpahan darah yang tidak bisa kucegah lagi
.
.
.
.
.
