Actions

Work Header

Siblings Problem

Chapter 4: Good Enough, I think?

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Padahal ia berniat mengajak Kaji untuk berjalan-jalan dan membelikan beberapa camilan, tapi akhirnya adik kelasnya itu malah berakhir di klinik lagi. Dia tidak menyalahkan Tsubaki, ini semua di luar kendali dan mungkin Kaji sedang tidak dalam mode waspadanya. Hiiragi membersihkan Headphone milik Kaji dari debu, ia tersenyum sedih saat melihat headphone pemberiannya masih sangat terawat. Kaji sangat pintar menjaga barangnya, tapi sayang ponsel yang di temukan Hiiragi di depan gudang tadi layarnya retak karena terjatuh.

Ia mengeluarkan ponsel Kaji dari saku celananya dan membuka ponsel tersebut, membuka ruang percakapan milik Kaji dengan Kusumi juga Enomoto. Meminta keduanya untuk datang ke klinik dan membawakan baju ganti untuk Kaji, Hiiragi tentu saja tidak ingin Kaji keluar dari Klinik dengan hoodie berlumur darahnya sendiri.

“Terimakasih,”

Hiiragi tersenyum kecil dan mengangguk kala Uryu berbicara padanya, walaupun jedanya cukup panjang. Tapi tidak perlu menganggapnya sebagai sesuatu yang serius, selagi semua orang bisa mengucapkan kata-kata ajaib.

“Bukan masalah,”

Lalu jeda cukup lama kembali dengan sendirinya, Hiiragi yang memang cukup lelah juga Uryu yang tidak banyak bicara. Jadi mereka kembali diam hingga Umemiya dan Tsubaki kembali juga Enomoto serta Kusumi yang ikut datang membawa barang-barang yang di minta Hiiragi.

“Yo, karena sepertinya masi cukup lama jadi kita makan di sini dulu.” Umemiya duduk di lantai dan langsung bersila di ikuti oleh Tsubaki.

Hal ini membuat Enomoto dan Kusumi bingung, apa yang sebenarnya terjadi di sini, kenapa Kaji harus kembali ke sini dan kenapa semua senpai mereka terlihat kotor dan terluka? Tatapan bertanya itu di arahkan pada Hiiragi dan laki-laki itu hanya menghela nafas sambil memasukkan roti ke dalam mulutnya, berniat untuk menunggu waktu yang tepat saat Kaji sudah sadar nanti.

“Kusumi, Enomoto, ambillah beberapa.”

Keduanya mengangguk saat Umemiya menyodorkan kantong plastik berisi makanan dan mengambil masing-masing satu, wajah bingung keduanya tidak hilang sejak tadi dan membuat Umemiya ingin bertanya.

“Kenapa? Kalian bingung kenapa kami ada di sini?”

“Y-ya.. kami tidak mengerti kenapa Kaji meminta kami ke sini, tapi sepertinya yang memanggil kami itu Hiiragi-san.. jadi.. Kaji terluka lagi?” Enomoto menggaruk pipinya canggung, cukup aneh mengatakan kata ‘lagi’ untuk Kaji, dimana terluka itu bukan karena Ketua Kelas mereka lemah.

Umemiya hendak menarik nafas untuk mengeluarkan kalimatnya sebelum Tsubaki berlutut untuk memiinta maaf pada keduanya, Enomoto juga Kusumi reflek terjengit saat Tsubaki berlutut di depan mereka dan cepat-cepat mengatakan tidak apa-apa sebelum akhirnya Uryu juga ikut berlutut meminta maaf pada dua wakil kapten Kaji.

“Tsu-Tsubaki-san, Uryu-san tidak.. tidak perlu sampai seperti ini, kami benar-benar bingung,” Enomoto sedikit menurunkan volume berbicaranya karena mereka sedang berada di klinik, Kusumi di belakangnya juga mengangguk-angguk panik.

“Maaf, aku tidak seharusnya meminta Ren-kun yang masih dalam keadaan cedera untuk mencari Seiryu.” Tsubaki menunduk sedih, dia tidak menyukai gagasannya tadi, dia terlalu sembrono.

“Berhentilah meminta maaf, Kaji tidak akan senang mendengar mu terus-terusan mengoceh tentang hal-hal yang menyebalkan,” Hiiragi akhirnya bersuara, ia jengkel juga lama-lama karena Tsubaki ini terlalu tidak enak dengan semua kejadian hari ini.

“Pertama, semua ini di luar kendali dan Kedua, Kaji melakukan permintaan mu karena tau kalau Seiryu tidak mungkin dalam keadaan baik-baik saja. Kondisi kita terdesak sebelum Umemiya datang dan hanya Kaji yang bisa pergi untuk mencarinya, jadi berhentilah meminta maaf.”

“Ragi-chan tapi tetap saja kalau aku tidak meminta Ren-kun pergi dia akan baik-baik saja.”

“Lalu? kau mau memutar waktu? Kau bisa apa dengan semua kejadian yang sudah terjadi Tasuku Tsubakino?” Hiiragi menggeram, entah kenapa dia kesal sekarang.

Tsubaki sudah meminta maaf tadi dan itu sudah cukup, tidak mungkin dia atau Kaji masih marah dan menyalahkannya. Kaji melakukan semuanya secara sadar dan itu sudah cukup bagi Hiiragi untuk memastikan kalau lawan yang di hadapi mereka kali ini berbeda dari yang biasanya.

“Maa maa, kalian berdua sudahlah tidak perlu bertengkar. Tsubaki, yang di katakan Hiiragi benar.. Kaji melakukan semuanya demi kamu, demi Uryu dan Seiryu.. demi kalian agar tidak terpisah. Aku tau Kaji itu sebelas dua belas sifatnya seperti Hiiragi, dia juga sama seperti Sugishita yang sudah ada bersama kita saat masih duduk di bangku sekolah menengah. Dia juga pasti sudah memperhatikan kita dari lama, dan mungkin dia tau bagaimana cara mu mencintai dua wakil kapten mu juga dia mungkin tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang berharga. Dia.. adik kelas kita yang masih terus belajar itu ternyata sudah sangat berkembang ya, aku jadi bangga sekali dengannya,”

Umemiya tersenyum bangga, jujur dia memperhatikan Kaji terlebih setelah Kaji memberikan arahan pada Sakura setelah perkelahian mereka dengan Keel. Semua perkataan Kaji membuatnya salut, semua perumpaan sederhana dengan makna dalam. Kaji benar-benar sudah terlihat seperti Hiiragi dan itu membuatnya semakin yakin kalau pilihan Kaji kali ini memang sudah bulat dan dia tidak akan menyukai Tsubaki yang terus-terusan merasa bersalah dan meminta maaf padanya.

“Ren-kun...” Tsubaki terisak, manis sekali. Dia tidak pernah sadar kalau Kaji selalu memperhatikan mereka selama ini.

“Tsubaki-san, kami masih belum mengerti tapi yang di katakan Umemiya-san sangat benar. Kaji tidak suka kalau kau seperti ini,”

“Kau tau, aku tidak pernah mengajarkan dia untuk abai terhadap perasaan. Dia cukup peka dan aku hanya memberinya sedikit perasa, dan Kaji yang kau liat di depan mu itu adalah Kaji yang mengerti perasaan takut di wajah mu tadi,” Hiiragi menyilangkan kedua tangannya di dada.

Ingatkan Hiiragi kalau Tsubaki kembali meminta maaf lagi dia akan memukulnya tepat di wajah, Hiiragi sudah muak jujur, persetan dengan make-up Tsubaki yang akan menempel di tinjunya nanti. Lalu Umemiya melirik Uryu, tidak ada kalimat yang keluar dari bibirnya dan Umemiya memaklumi hal itu. Setelah itu pintu ruangan terbuka dan menampilkan Seiryu yang di papah oleh perawat, Uryu dengan cepat berdiri dan menyambut saudara kembarnya.

Mengambil Seiryu dari perawat itu dengan perlahan, kepalanya berpikir kalau Seiryu pasti menolak untuk rawat inap. Sudah jelas orang gila ini tidak akan mau berdiam diri di ranjang pesakitan, dia alergi sepertinya.

“Yo,” sapanya akrab.

“Bodoh, kenapa kamu tidak meminta rawat inap saja?!” Tsubaki ingin memukul kepalanya tapi sebelum tangan kekar itu menghantam kepala Seiryu, Uryu dengan cepat mundur sambil menahan berat tubuh Seiryu. Tolong jangan sakiti saudaranya lagi, dia sudah cukup ketakuan saat terpisah dari Seiryu tadi siang.

“Malas sekali, aku mau cepat-cepat melihat adik ku,”

Uryu mengabaikan kalimat godaan itu dan lebih memilih untuk membawa Seiryu duduk di kursi tunggu, kali ini Hiiragi yang berdiri di depan pintu ruangan. Kenapa lama sekali menangani Kaji, apa lukanya seserius itu? Namun kekawahtirannya berakhir begitu pintu kembali di buka, seorang perawat meminta perwakilan keluarga dan Hiiragi langsung menyeret Umemiya untuk masuk bersama nya.

Sampai di dalam ternyata di hadapkan oleh Kaji yang tengah duduk di atas tempat tidur, bertelanjang dada karena hoodienya sudah tidak layak di pakai lagi. Rambut platinanya sedikit kusam dan masi ada bercak darah di beberapa helainya, wajah Kaji masi terlihat sangat lelah dan bingung juga pucat hingga membuat Hiiragi menggigit bibirnya cukup kuat.

Mereka bertemu pandang pada akhirnya, Kaji tersenyum ke arah Hiiragi dan laki-laki itu menghampirinya dengan perasaan lega. Sedangkan Umemiya tengah berbicara dengan dokter yang menangani Kaji untuk mengetahui apa saja yang harus di perhatikan selama masa penyembuhan tambahan untuk adik tingkatnya itu.

“Bagaimana keadaan mu?”

“Bisa di bilang cukup baik? Entahlah, aku bingung Hiiragi-san,”

“Sesuatu mengganggu pikiran mu?”

“Mungkin, tapi aku tidak ingat sebagian tentang apa yang barusan terjadi.”

Kedua alis Hiiragi berkerut, ia menghela nafas panjang. Mungkin Kaji masi dalam keadan shock atau apapun itu penyebutannya, tidak heran kalau dia bingung.

“Yo Kaji, bagaimana perasaan mu?” kali ini Umemiya bergabung dengan dua orang lainnya, pembicaraannya dengan dokter sudah selesai dan sepertinya hari ini akan di tutup dengan sebuah kemenangan(?)

“Cukup baik.”

“Apa yang di bicarakan dokter, Umemiya?”

“Tidak ada yang terlalu serius, luka Kaji tidak fatal. Dia sudah bisa pulang setelah infusnya habis, aku akan menebus obatnya terlebih dulu. Gunakan waktu kalian,” Umemiya melenggang pergi begitu saja dan kembali membuat momen awkward di antara keduanya.

Kaji menghela nafas dan menarik infusnya hingga terlepas, ia menatap Hiiragi dengan tatapan lucu dan memohon.

“Anak nakal, sudah di bilang tunggu habis.”

“Aku tidak betah, apakah kau tidak berniat meminjamkan gakuran mu?”

Hiiragi menggeleng dan dengan cepat mengambil hoodie dari dalam paperbag yang sebelumnya sudah di bawa Enomoto dan Kusumi, ia membantu Kaji memakai hoodie tersebut hingga adiknya itu terlihat senang karena Hiiragi bisa melihat Kaji menarik sedikit bibirnya ke atas.

“Ayo naik, akan ku antar pulang,”

“kau mau menggendong ku? Tapi aku bukan anak kecil lagi, Hiragi-san,”

“Sudahlah, anggap saja balasan ku karena kau berhasil menolong Seiryu,”

“Tapi aku tidak?”

“Naiklah!” kali ini nadanya sedikit keras dan Kaji akhirnya mengalah, ia mengalungkan tangannya di leher Hiragi dan mereka mulai keluar dari ruangan.

Kaji sedikit mendesis saat tubuhnya terangkat ke atas punggung Hiiragi, hal itu tentu saja terdengar jelas di rungu Hiiragi hingga dia mengutuk dirinya sendiri di dalam hati karena membuat Kaji kesakitan. Mereka akhirnya keluar ruangan dan langsung di sambut Tsubaki dan dua wakilnya juga Enomoto serta Kusumi yang menatap kaget ke arah Kaji yang di gendong Hiiragi.

Keduanya punya niat untuk menggoda, tapi urung karena sepertinya tidak tepat.

Tsubaki reflek berdiri bersama Uryu, sebenarnya Seiryu juga ingin berdiri tapi ia masih cukup lemas dan juga Uryu melarangnya. Jadilah Seiryu hanya tersenyum seperti biasanya sambil bersender di tembok begitu melihat Hiiragi yang akhirnya keluar, jujur saja tadi saat dia tengah di obati, dia tidak bisa memusatkan pikiranya dan hanya menatap wajah pucat Kaji yang terbaring lemah.

“Ren-kun!! Yokatta... ma—“

“Tsubaki, aku sudah berjanji akan memukul wajah mu kalau kau mengatakannya lagi,” Hiiragi sudah muak.

“Mooo Ragi-chan jahat! Aku kan mau minta maaf langsung dengan Ren-kun!!” Tsubaki merengek, entah kenapa Hiragi jadi jahat sekali dengannya.

“Lebih baik kita pulang saja, hari ini sudah larut. Dua pasien kita masih butuh istirahat,”

Dan akhirnya Tsubaki mengangguk, dia langsung mengkode Uryu untuk merangkul Seiryu. Enomoto menawarkan untuk menggendong Kaji karena tidak enak melihat Hiragi yang sepertinya juga masih lelah, tapi Hiragi menolak dan lebih memilih untuk menebus kesalahannya hari ini. Hal itu tentu membuat Kaji tersenyum tipis yang sialnya tertangkap basah oleh Kusumi, untungnya Kusumi tidak se-liar Enomoto dan membiarkan rahasianya tertutup rapih.

Notes:

Seharusnya sudah selesai, tapi gila ternyata aku lumayan sibuk juga akhir-akhir ini.

Notes:

I tried something new about the Sakaki Siblings fighting, but with a little bit of drama and worry. I also put Kaji as the Main actor here because he's my favorite hehe, still thinking about putting the ship or not because it seems like this story will focus on the Jikoku team :]

Im sorry, my english not that good hehe peace.