Actions

Work Header

Apa boleh sekali saja?

Chapter 2: Candu

Summary:

Jika saja salah satu dari mereka tidak dibuat candu oleh rasa dari buah terlarang tersebut, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi. Tapi kalau dari Kun ataupun Ten sama-sama menginginkannya, hal apalagi yang harus didustakan?

Notes:

Hii! This is the part 2 for 'Apakah Boleh Sekali Saja?' happy reading reader-nim! :333

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

Kun tidak bermaksud untuk berdiam lebih lama di apartemen Ten, dia berencana pulang setelah menghabiskan satu drama picisan yang disuguhkan oleh Ten—tapi Kun yakin drama itu bukan tipikal film yang Ten sukai, mungkin saja hanya sekedar rekomendasi dari seseorang.

Tapi ketika tubuh Ten yang hangat berada di atasnya, bibir Ten yang meraup bibirnya dalam ciuman yang memabukkan—membuat Kun menarik kembali keputusannya untuk pergi setelah drama picisan yang masih berlangsung; yang bahkan sebenarnya tidak mereka perhatikan sama sekali dari awal.

Setelah ciuman barusan, Ten masih menyembunyikan wajahnya pada dada bidang milik Kun; seolah menolak untuk menatap Kun setelah kejadian kecap kecup dibarengi dengan bersilat lidah barusan. Kun juga tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui alasan sebenarnya Ten sampai-sampai tidak mau menatapnya. Toh tidak masalah, jujur saja Ten yang seperti ini malah terlihat lucu dan menggemaskan. 

Kapan lagi dia bisa melihat seorang Ten luluh di hadapannya? 

Tapi kalau boleh jujur, Kun sendiri’pun masih tidak bisa melupakan sensasi persilatan lidah mereka. Dia ingin merasakannya lagi; jika saja reaksi Ten tidak seperti ini mungkin saja Kun akan menjamah lagi bibirnya seperti tadi. Hanya saja melihat Ten yang malu-malu begini sepertinya tidak buruk juga. Tangannya mengusap puncak kepala Ten dan tubuh Ten’pun perlahan mulai rileks akan sentuhan tersebut—ia dapat merasakannya dari hembusan napas Ten yang menerpa tubuhnya yang masih terbalut pakaian.

Tetapi sepertinya tidak hanya Kun yang berpikir untuk melanjutkan kegiatan barusan ke jenjang yang lebih berbahaya. Tiba-tiba saja Ten bangun, lalu perlahan ia mendekatkan lagi bibirnya kepada bibir Kun—tapi sebelum sempat bibir mereka berjumpa lagi, Ten memanggil namanya dengan lirih “Kun..” Kun tidak perlu mendengar pertanyaan apa yang akan Ten lontarkan, justru dia hanya mengangguk sebagai jawaban; seolah sudah mengetahui apa yang akan lelaki tersebut inginkan.

Ten meneguk ludah sebelum pada akhirnya ia menempelkan bibirnya pada bibir Kun; benda kenyal itu saling bertabrakan secara halus dan saling menghantarkan hangat.

Awalnya ciuman itu terkesan polos, namun sama seperti tadi—tidak ada satu’pun dari mereka yang sebenarnya cukup bersabar setelah mengetahui rasa buah terlarang yang seharusnya tidak mereka makan. Lagi-lagi Kun menaruh satu tangannya pada kepala bagian belakang Ten; mendorong kepalanya dan mengusap-usapnya pelan. Ten yang menerima perlakuan lembut dari Kun perlahan meleleh dikarenakannya; jujur ia suka, tapi rasanya ingin berdusta karena malu.

Lidah Kun yang menimpa lidahnya, bahkan sesekali mendorong dan menjilatinya secara memutar mampu membuat pikiran Ten kalang kabut. Sebelum melepas pagutannya, Kun memberikan hisapan terakhir pada lidahnya, dan itu berhasil membuat Ten meremas erat kemeja yang Kun kenakan. 

Kun menjilati bibir bawahnya, jika saja ia tahu begini rasanya berciuman dengan Ten, mungkin saja sudah ia raup bibir yang lebih muda sedari dulu. Rasanya amat candu, membuat jiwa Kun terbang melayang ke langit ke-tujuh, bahkan tangannya sedari tadi tidak bisa diam dan ingin terus menjamah Ten; ingin membuat pemuda itu mendesahkan namanya.

Ten berusaha melepaskan pelukan Kun, tapi tenaganya tentu saja kalah saing dengan sang leader , bahkan kala ia menghalau bibir yang berusaha meraup dan membawanya kembali terbang tinggi, bibir Kun malah dengan santainya menyerang tiap jengkal lehernya. Tangan Kun yang awalnya hanya menggenggam erat pinggul Ten kini perlahan naik; mengelus pelan tubuh Ten—membuat pemuda berzodiak pisces itu mengerang kecil.

Lidah Kun itu panas, selalu berusaha mencari tiap titik yang tak berhasil dijamah meski tangan Ten terus-terusan berusaha menghalaunya. 

Sejujurnya, Ten ingin sekali—ia sudah sangat haus hanya dengan ciuman memabukkan di awal, rasanya candu, ia ingin terus-terusan berada dalam kungkungan Kun. Tapi pikirannya menolak, tidak seharusnya dia menunjukkan kelemahannya seperti ini, tapi setiap sentuhan Kun pada tubuhnya perlahan membuat dirinya mengkhianati pikirannya sendiri. Ia ingin Kun dan itu bukan suatu dusta namun kalimat yang tak mampu terucap.

“Ten,” rasanya Ten ingin meledak saat ini juga, ia sudah sering mendengar bagaimana suara pemuda capricorn itu—di atas panggung, di ruang latihan, di manapun mereka bertemu, tapi untuk saat ini? Suara itu terdengar dalam, serak, dan amat menggoda. Sekali saja, untuk hari ini saja Ten ingin rakus. 

Apakah boleh bibir ini berdusta kalau ia tidak menikmatinya?

Atau…

Apakah boleh bibir ini justru berterus terang tentang keinginannya?

Namun belum sempat Ten mengambil keputusan, tiba-tiba saja Kun sudah menyingkapkan baju yang ia kenakan, lalu menjilati putingnya yang sudah menegang, “Aku tidak pernah bilang aku menyetujui— ah …!” hisapan kuat Kun pada putingnya membuat tubuh Ten terhentak kaget. Untung saja Kun menahannya pinggulnya agar tidak terjatuh, kalau tidak? Mungkin saja dia sudah terjungkal karena saking kagetnya.

“K-kun, ini tidak—” bibirnya diam, seolah dikunci saat ia merasakan kejantanan Kun yang sepertinya sudah mulai mengeras mengenai miliknya yang baru saja perlahan mulai naik akibat gejolak napsu. Belum sempat Ten protes mengenai tindakan Kun, tiba-tiba saja pemuda itu mendorongnya—mengganti posisi mereka dan membuat tubuh Ten berada di bawahnya, “Bodoh! Aku kaget sekali, dasar Kun idiot—” Kun seolah tidak mendengar protesannya sama sekali, ia lebih fokus untuk menyerang setiap titik kelemahan Ten. Seperti saat ini, ia masih fokus menjilati puting Ten dan salah satu tangannya menekan-nekan tonjolan yang menegang itu.

Jujur, Kun tidak ingin berhenti. Tapi setidaknya, satu kata saja—mau itu berhenti, stop, hentikan, apapun yang keluar salah satunya dari mulut Ten, Kun sudah pasti akan langsung berhenti. Tapi yang ia dengar sedari tadi hanya celotehan—merdu—dari pemuda itu, yang entah mengapa membuat Kun semakin ingin menggerayangi tubuh Ten. Omelan yang tidak begitu ia suka dengar kini malah terdengar merdu di telinganya.

Harusnya juga, Kun menanyakan hal seperti ‘Katakan jika kau ingin berhenti.’ tapi ia sangat tahu bagaimana karakter Ten, jika Ten tidak menyukai hal ini sudah pasti dia akan menyuruh Kun berhenti. Tapi nyatanya? Ten tetap menerimanya. Sejenak Kun berhenti menjilati puting Ten dan beralih ke lehernya lagi, lalu meraup bibir pemuda yang lebih muda itu. Tangannya dengan cepat bergerak ke bawah lagi, memainkan ujung celananya; menarik-nariknya seolah mengancam akan menelanjanginya—meski memang kenyataannya itulah yang akan Kun lakukan.

Tangan Kun menyelinap ke dalam, lalu melepas celana yang Ten kenakan. Sementara itu Ten hanya meresponnya dengan meremas kemeja yang Kun kenakan; ia membiarkan dirinya tenggelam dalam ciuman memabukkan yang Kun tawarkan padanya. Ah, mungkin Ten lama-lama bisa jadi gila karena ini. Tapi nyatanya Kun tidak berhenti sampai sana, tangan itu dengan kurang ajarnya berusaha menarik boxer yang ia kenakan, membuat Ten memukul-mukul pelan dada Kun.

Kun yang menyadarinya segera berhenti, lalu melepas ciumannya “Ten,” suaranya terdengar serak dan.. lebih berat dari biasanya “Apa kau ingin aku berhenti?” tangan Kun bergerak mengelus paha Ten, sampai mendekati kejantanannya yang masih tertutup oleh boxernya. Ten menggigit bibir bawahnya, lalu menggelengkan kepalanya—ia tidak ingin Kun berhenti. Tapi Kun butuh konfirmasi yang lebih dari sekedar gelengan kepala semata, tangannya bergerak lagi—mendorong, seolah mengancam akan membuat Ten berteriak saat itu juga jika ia tidak menjawabnya dengan sungguh-sungguh, “Ten, lihat aku.”

Ten sama sekali tidak mau melihatnya, ia tidak bisa memperlihatkan wajahnya yang memerah dan ekspresinya yang kacau kepada Kun. Meskipun Kun memang tidak mempermalukannya, tapi ia merasa dipermalukan oleh dirinya saat ini. Tapi saat jemari Kun semakin mendekati pusatnya, Ten segera menatap Kun lalu menggenggam lengannya erat “...ngan…” Kun perlahan menunduk, berusaha menangkap suara Ten “Jangan berhenti.” Ten sedikit menyeringai puas untuk melindungi harga dirinya “Disamping itu, aku juga tidak mungkin membiarkanmu keluar dengan keadaan seperti ini—”

Entah sudah kali keberapa Kun memotong ucapannya dengan mengajaknya bersilat lidah, bukannya Ten menolak, tapi setidaknya bisakah Kun memberikan aba-aba daripada menyosornya secara langsung seperti ini?

“Ten, ada yang ingin aku lakukan.” setelah berabad-abad Ten diserang, akhirnya Kun menanyakan sesuatu kepadanya “Dalamanmu,” belum sempat Ten bertanya, Kun sudah melepas dalamannya lalu melemparnya ke sembarang arah; memperlihatkan milik Ten—yang tidak sebesar punya Kun—yang sudah menegang. Belum sempat Ten protes, tubuhnya sudah dibalik oleh Kun. Lagi, protesnya terpotong saat ia merasa cairan hangat yang asing mengenai lubangnya. Kun mengumpulkan salivanya, lalu membuangnya tepat pada lubang Ten.

“Idiot, apa yang—hei! Berhenti! Di sana kotor— ah !” lidahnya menjilati pintu lubang Ten, seolah itu adalah es krim. Ten merasa asing dengan sentuhan lidah Kun pada lubangnya, ia tidak sampai sejauh itu berekspektasi Kun akan melakukannya, “K-kun—berhenti! J-jangan, di sana itu—” sebenarnya Kun tidak bermaksud menampar pantat Ten, ia ingin melebarkannya lebih lebar lagi, tetapi Ten merasa sentuhan itu bagai tamparan kecil yang mengunci mulutnya untuk berbicara lebih lanjut lagi.

“Tes kesehatanmu ,” ucap Kun “Yang di atas meja, yang tumben kau taruh dengan sembrono itu menunjukkan hasilnya tidak seburuk itu. Bahkan jauh dari kata buruk.” Kun memberi tamparan lembut pada pantatnya, membuat Ten cukup terkejut “Mungkin aku juga perlu memberitahumu kalau aku juga ‘aman’. Jadi kau tidak perlu khawatir.”

Seketika Ten menyadari tes kesehatan yang ia lakukan hanya karena dirinya ingin tahu apakah nyalinya sebesar itu untuk memancing Kun—yang pada kenyataannya ternyata berkata sebaliknya. Jika Kun tidak menyerangnya, mungkin apa yang Ten inginkan hanya akan menjadi angan-angan saja.

Gerakan lidah Kun semakin liar di bawah sana, terutama saat daging tak bertulang itu melesak masuk ke dalamnya “ Oh— K-kun—” tubuh Ten berhasil menegang, terutama saat Kun menggerakkan lidahnya ke atas dan ke bawah, lalu memutar dan mendesak masuk lebih dalam menginvasi sempitnya lubang Ten.

Jika itu hanya lidah Kun saja, mungkin Ten masih bisa tahan. Beda ceritanya kala Kun memasukkan jarinya ke dalam sana. Hanya dengan satu jari itu saja, Ten merasa dirinya sudah penuh—bahkan tanpa ia mengerti, ia bisa menerima jari Kun yang masuk ke dalamnya, memberikan akses yang lebih mudah bagi Kun untuk memporak porandakan kewarasannya. Kejantanannya juga berkedut kala jemari Kun menekan-nekan dinding rektumnya, mengirimkan sensasi asing yang nikmat ke otak Ten.

Satu tangan Kun meremas lembut pantat Ten, sesekali menepuk-nepuknya pelan—karena Ten beberapa kali mengencangkan dirinya di bawah sana saat Kun menyentuh dan menepuk pantat dan pahanya. Kun tersenyum kecil sampai pada akhirnya ia menarik keluar lidahnya, meludahi lubang Ten dan meninggalkan kecupan. 

Tanpa pegangan dari Kun, tubuh Ten langsung terhempas di atas sofa ruang tamunya. Rasanya ia ingin mengubur diri sekarang juga, tapi sepertinya tindakan tidak senonoh ini akan masih berlanjut. Karena mereka berdua sama-sama belum puas. Lagi, Kun membalikkan tubuhnya, lalu menatap wajah Ten. Namun Ten tentu saja menolak menatap balik sang leader , ia malu tapi tidak ingin mengakuinya. Tidak ada sepatah kata selain jemari Kun yang diam-diam masuk ke dalam lubangnya—tapi kali ini bukan hanya satu, tapi dua “Apa yang—” satu tangan Kun melebarkan kaki Ten untuk memudahkan akses keluar masuknya. Ten juga sepertinya tidak punya pilihan lain selain menerimanya, jujur rasanya sesak—terbangnya terasa ditahan jika Kun tidak menyentuhnya.

Gerakan jarinya yang awal mula perlahan itu kini mulai meningkatkan kecepatannya, bahkan dari dua jari saja kini sudah menjadi tiga dan tengah menggempur Ten di bawah sana; secara sengaja mengenai prostatnya beberapa kali. Hal itu berhasil membuat Ten beberapa kali merapatkan lubangnya sampai membuat Kun cukup kewalahan karena jemarinya yang susah bergerak di dalam sana. Tapi Kun beberapa kali mengecup pipi dan lehernya, satu tangannya yang luang mengelus paha Ten untuk menenangkannya; agar ia tetap rileks dan untung saja sentuhan-sentuhan itu berhasil menenangkan tubuh Ten yang menegang. Meski beberapa kali Ten kembali menegang lagi akibat Kun yang meludahi lubangnya beberapa kali untuk melancarkan aksinya.

Kun menjilat bibir bawahnya, seharusnya sudah cukup. Ia menarik keluar jemarinya. Matanya terfokus pada lubang Ten yang berkedut dan kejantanannya yang sudah mengeluarkan cairan praejakulasinya—yang sepertinya sudah siap untuk meledak kapan saja. Kun tidak membuang waktunya lebih lama lagi, jujur saja ia juga merasa sangat kewalahan dan cukup kagum dengan kontrol dirinya yang tidak menyerang Ten secara ugal-ugalan. Ia bergegas melepas sabuknya, membuka kancing celananya dan menurunkan resleting celananya. Terakhir, ia sedikit menurunkan dalamannya, mengeluarkan kejantanannya yang sudah menegang sedari tadi.

Napas Ten terasa berhenti kala melihat ukuran Kun— apakah benda itu akan muat? —begitu pikirnya “Ten,” suara Kun mengalihkan perhatiannya “aku akan memasukkannya.” Ten diam dan mengangguk, tapi konfirmasi sekecil itu tidak cukup bagi Kun. Seketika ia terpikirkan untuk menjahilinya sedikit saja “Tatap aku dan katakan sesuatu, Ten.” ia menangkup pipi Ten, membuat pemuda itu menatap tepat ke pupil matanya.

“L-lakukan sesukamu—”

“Itu bukan konfirmasi yang aku ingin dengarkan.”

Ten meneguk ludahnya, “Masukkan.. Saja…” Kun tidak dapat menahannya, ia meraup bibir Ten lagi lalu perlahan mendorong masuk kejantanannya ke dalam. Berkat ciuman itu, desahan Ten dapat diredam. Tapi jujur saja, Ten terlalu ketat dan Kun sudah berada di ujung. Hanya dengan beberapa hentakan saja, Kun sepertinya akan keluar. Namun saat Kun berusaha menarik keluar dirinya, Ten justru menahan pinggul Kun dengan kedua kakinya.

Mendapatkan izin yang tak terucap dari Ten, membuat Kun menggerakkan pinggulnya lebih cepat lagi sampai ia mencapai tingginya dan menyemburkan semua benih-benihnya di dalam lubang Ten. Keningnya sedikit berkerut di saat Ten mengetatkan lubangnya, meremas tiap tetes dari cairan Kun yang memenuhi lubangnya. Sementara itu Ten menghela napas lega mendapati hangatnya cairan Kun di dalamnya.

Masing-masing individu masih berusaha mengatur napasnya, sampai pada akhirnya Ten yang berbicara duluan “Hanya segitu saja? Aku bahkan belum keluar sama sekali, lho?” ucapnya, meremehkan “Aku pikir kau akan bertahan lebih la—” Ten sepertinya masih lupa dengan fakta kejantanan Kun masih tertanam di dalamnya dan…. belum mengendur sama sekali. Kun langsung menggerakkan pinggulnya lagi, membuat Ten meloloskan desahan yang cukup kencang, “Ah—hhah! K-kun! S-sebentar..!” tapi Kun tidak mendengarkannya sama sekali. Jika Ten memang pada dasarnya memutuskan untuk menantang Kun, bukankah ia harus menerima tantangannya dan memperjelas kepada Ten bahwa dia bisa lebih dari sekedar ejekan Ten padanya? 

Kun memejamkan matanya erat saat Ten merapatkan lubangnya, seolah menahan akses masuknya lagi. Sepertinya ia mengenai titik yang selama ini ia cari-cari, titik nikmat Ten yang mampu membuat pemuda pisces itu mendesah kencang. Tangannya bergerak ke bawah, lalu menggenggam milik Ten dan mengocoknya perlahan “K-kun!” Ten berusaha menghentikannya, tetapi kali ini tubuhnya mengkhianatinya. Hentakan kejantanan Kun pada rektumnya dengan kocokan tangannya pada milik Ten membuat dirinya mabuk kepayang. Sentuhan itu tentu saja menjadi pendukung handal yang membuat Ten mencapai tingginya secara instan.

Cairan Ten membasahi telapak tangan Kun, dan Kun tidak terlalu memperdulikan cairan itu mengotori tangannya; malah ia membawanya ke mulutnya dan menjilatinya sampai tidak tersisa. Lalu Ten yang melihatnya? Ia sudah dibuat lemas dan kali ini lunglai akibat adegan yang dipertontonkan Kun padanya.

Tapi terlalu cepat bagi Ten untuk merasa lega, karena Kun sendiri belum mencapai tingginya. Lagi, pemuda capricorn itu menghentakkan pinggulnya kencang untuk mengejar tingginya yang sebentar lagi akan ia capai. Kun menggenggam erat pinggul Ten, lalu perlahan menunduk untuk mempertemukan bibir mereka lagi dan menciumnya—mengajaknya untuk bersilat lidah dan pada akhirnya Kun menumpahkan semua cairannya di dalam Ten. Ia membuat penuh pemuda di bawahnya untuk kali kedua. 

Kun memberikan waktu selama beberapa menit lalu perlahan menarik keluar kejantanannya dari dalam lubang Ten, dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah bagaimana kacaunya ekspresi Ten dan cairannya yang keluar membasahi sofa ruang tamu; ditambah bagaimana ruam merah keunguan pada tiap jengkal leher Ten sampai pundaknya, Kun benar-benar menatap Ten seperti karya seni yang baru saja ia pahat dan ia kagumi. Tapi belum sempat Kun bertindak, Ten tiba-tiba saja memintanya untuk membantunya duduk. Kun tidak mengerti, tapi perlahan ia membantunya bangun ke posisi duduk, dan Ten hanya menatapnya sejenak sebelum pada akhirnya ia menunduk ke bawah lalu melahap kejantanan Kun yang masih tersisa bekas cairannya.

“Ten…” napas Kun tercekat saat ten menjilati dari ujung sampai pangkalnya, sesekali memberikan kecupan manis pada puncaknya; menjilati bahkan menghisapnya pelan. Tapi yang Ten tidak mengerti, bagaimana bisa milik Kun masih bisa berdiri seperti ini setelah dua kali ejakulasi berturut-turut? Tidak mungkin ini akan berlanjut, bukan? Selagi menepis pikirannya, Ten tetap memberikan lumatan pada kejantanan Kun sampai benda itu benar-benar bersih, lalu Ten memberikan kecupan terakhir pada ujungnya sebelum pada akhirnya ia bangkit lagi untuk kembali ke posisi semula. Kun yang mendapat aksi oral dadakan dari Ten hanya bisa menghela napas lega saat Ten menarik jauh dirinya dari kejantanan Kun, tetapi bohong kalau dirinya tidak merasa kecewa permainan itu hanya berlangsung sebentar saja.

Jika boleh berharap Kun ingin mengharapkan kali kedua untuk hal yang mereka lakukan hari ini, tetapi mulutnya tak mampu untuk mengucapkan permintaannya.

“Sebaiknya kita—” belum sempat Kun menyelesaikan ucapannya, ia melihat Ten yang berusaha berdiri dengan menggunakan sandaran pada sofanya, lalu ia melotot tajam ke arah cairan miliknya yang berceceran turun dari lubang Ten “..melanjutkannya lagi.”

“Orang.. gila!” Ten memukul pelan kepalanya, namun ia dengan cepat kehilangan keseimbangannya. Jika saja Kun tidak cepat menangkapnya, mungkin dia sudah terjatuh saat ini “M-mandi..! Mandi sekarang. Lalu sofanya kita pikirkan nanti. Jika anak-anak ingin kemari, kau bilang saja kita mau tidur. Aku tidak tahu dimana aku akan menaruh wajahku jika mereka tahu hal ini terjadi—”

“Kau menyesal, Ten?”

Pertanyaan Kun membuat bibir Ten terkunci, “Idiot.” dan kata itu yang pertama keluar dari mulutnya “Tentu saja…. Tidak.”

Kun yang melihat rona merah pada wajah Ten dan nada suaranya yang malu-malu hanya bisa tertawa kecil dan menghela napas lega, ia perlahan menggendong Ten lalu mengajaknya ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka akibat kegiatan barusan. Meski ia beberapa kali mendengar Ten yang mengomel, sepertinya omelan itu kali ini.. atau mungkin berlaku untuk hari ini saja, kini tidak terdengar begitu buruk.

Notes:

Thank u for reading, reader-nim!! Semoga kalian terpuaskan dengan asupan KunTen yang aku tulis :33 and shoutout for my client to make this wonderful plot :3!! See u in another book!

Notes:

Thank u so muchh for reading! While this is a commission I do, actually I enjoy to write it! I'm not that familiar with WayV, but I hope I can know them more better than now! Lots of love again, reader-nim!!

Series this work belongs to: